Langsung ke konten utama

KIPRAH KAUM MUDA: 90 Pemuda Menjadi Penyangga Bangsa

Pergerakan tanpa pemuda adalah kemustahilan. Pada pemuda inilah jiwa bebas yang memompa semangat perubahan menjadi motor utamanya. Dalam setiap masa selalu ada kaum muda yang berperan penting dalam menentukan narasi masa itu.

Demikian pula dalam sejarah Indonesia. Tonggak penting peran pemuda yang menopang perjalanan bangsa ini ditancapkan di Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Kesepakatan tekad bersama untuk bersatu dalam Tanah Air, bangsa, dan bahasa yang sama yaitu Indonesia tertuang dalam Sumpah Pemuda. Sejak saat itu hingga saat ini, kiprah generasi muda bagai sinar terang yang mengarahkan gerak negeri.

Para peringatan ke-90 Hari Sumpah Pemuda tahun ini, Kompas memanggungkan 90 figur pemuda, yang tidak selalu satu orang, berusia di bawah 40 tahun yang memiliki peran luar biasa pada zamannya. Dalam tubuh mudanya, mereka memiliki gagasan dan pencapaian yang besar bagi negerinya. Kaum muda ini berkiprah dalam berbagai bidang, sebagai sosok negarawan, pejuang kemerdekaan, seniman, olahragawan, aktivis, hingga inovator.

Soekarno pada usia 27 tahun, misalnya, sudah mendirikan dan memimpin Partai Nasional Indonesia (PNI). Sementara Adam Malik ikut merintis kantor berita Antara pada usia 20 tahun. Selain itu, ada nama Mohammad Hatta, yang tidak hanya sebagai Proklamator bersama Soekarno, tetapi juga berkiprah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari Belanda, menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia saat masih berusia kurang dari 30 tahun, dan diwujudkan kembali menjadi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Baru saat ia kembali ke Tanah Air pada 1932.

Wahid Hasyim dan Abdul Kahar Muzakir ikut merumuskan dasar negara Indonesia saat masih berusia 30-an tahun pada 1945. Di sisi lain, Supriyadi, Bung Tomo, I Gusti Ngurah Rai, dan Sudirman mengangkat senjata, memimpin perlawanan terhadap penjajah ketika mereka masih berusia kurang dari 30 tahun.

Negeri ini juga melahirkan ilmuwan muda yang menandai era baru negeri, seperti Sumitro Djojohadikusumo, BJ Habibie, dan Anto Tri Sugiarto. Selain itu, negeri ini juga banyak melahirkan aktivis yang ikut mengubah sejarah negara, tidak hanya mereka yang berdiri sendiri, tetapi juga bersama-sama, seperti saat mahasiswa beraksi pada 1966, 1974, ataupun Gerakan Reformasi pada 1998. Ada pula sejumlah aktivis buruh dan wirausaha yang mewarnai arah negeri ini.

Sejarah mencatat posisi strategis mereka bagi bangsa seiring bertambahnya usia. Kini, saat Indonesia ada pada era digital yang kompetitif, ada sosok William Tanuwijaya, Nadiem A Makarim, Achmad Zaky, Ferry Unardi, dan M Alfatih Timur yang tampil ke depan. Semuanya berusia di bawah 30 tahun saat mendirikan bisnis dan gerakan sosial berbasis teknologi digital tersebut.

Tak mudah memilih dan memilah kaum muda dengan nama besar di negeri ini untuk dimasukkan dalam 90 pilihan ini. Pasti ada yang terlewat. Namun, selama pemuda bergerak demi bangsanya, bukan untuk dirinya semata, jayalah Indonesia. 

(LITBANG KOMPAS/SGH/TRA)



Kiprah 90 Pemuda Indonesia Tahun 1928-2018

1928
1 Soegondo Djojopuspito (23, pejuang kemerdekaan) pemimpin Kongres Pemuda Indonesia II yang melahirkan Sumpah Pemuda.
2 Soekarno (umur 27 tahun, Pejuang Kemerdekaan) Pemimpin Partai Nasional Indonesia yang berpengaruh dalam mempersatukan Indonesia dan gerakan pemuda.
3 Muhammad Yamin (25, pejuang kemerdekaan) perumus Rancangan Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda Indonesia II.
4 Soejatin Kartowijono (21, pejuang kemerdekaan) salah seorang penggagas Kongres Perempuan Indonesia pertama dan kini diperingati sebagai Hari Ibu.
5 Wage Rudolf Soepratman (25, pejuang kemerdekaan), pada Kongres Pemuda II di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928, melantunkan lagu ciptaannya, Indonesia Raya.

1930
6 M Husni Thamrin (36, pejuang kemerdekaan) menggagas dan memimpin Fraksi Nasional yang bertujuan mencapai kemerdekaan dalam waktu dingkat.

1931
7 S Sudjojono (18, pelukis) ditugaskan Ki Hajar Dewantara membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1931. Dijuluki Bapak Seni Rupa Idonesia.

1932
8 Mohammad Hatta (30, Pejuang Kemerdekaan) Ketua Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru). Ketua Perhimpuan Indonesia 1926 di Belanda.
9 Mohammad Natsir (24, pejuang kemerdekaan) pendiri Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.

1933
10 Sutan Takdir Alisjahbana (25, seniman-sastrawan) dan Tengku Amir Hamzah (22, seniman-sastrawan) pendiri majalah Poedjangga Baroe yang menyuarakan pembaharuan sastra.

1936
11 Tan Malaka (39, pejuang kemerdekaan) orang Indonesia yang mendirikan sekolah bahasa Inggris dan Jerman di Pulau Amoy, China.

1937
12 Adam Malik (20, pejuang kemerdekaan) salah satu perintis kantor berita Antara.

1945
13 Supriyadi (22, pejuang kemerdekaan) pemimpin perlawanan tentara Pembela Tanah Air (Peta) terhadap Jepang di Blitar.
14 Wahid Hasyim (31, pejuang kemerdekaan) dan Abdul Kahar Muzakkir (38, pejuang kemerdekaan), anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan yang merumuskan dasar negara Indonesia.
15 Chaerul Saleh (29, pejuang kemerdekaan) salah satu penggerak peristiwa Rengasdengklok.
16 Sukarni (29, pejuang kemerdekaan) mengusulkan agar Soekarno-Hatta menandatangani naskah proklamasi.
17 Sutan Sjahrir (36, pejuang kemerdekaan) Menteri Penerangan pertama Indonesia.
18 Amir Syarifuddin (38, pejuang kemerdekaan) Menteri Penerangan pertama Indonesia.
19 Tahi Bonar Simatupang (25, pejuang kemerdekaan) turut bergerilya bersama Jenderal Soedirman dan menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI 1948-1949.
20 Soedirman (29, pejuang kemerdekaan) terpilih sebagai Panglima Besar TKR. Memimpin pasukan gerilya.
21 Latief Hendraningrat (34, pejuang kemerdekaan), tentara PETA, pengibar bendera Merah Putih setelah proklamasi kemerdekaan RI.
22 Frans Mendur (32, pejuang kemerdekaan), fotografer, yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI serta pengibaran bendera Merah Putih.
23 Fatmawati (22, pejuang kemerdekaan) perajut bendera Merah Putih yang dikibarkan usai proklamasi.
24 Sayuti Melik (37, pejuang kemerdekaan) pengetik naskah proklamasi.
25 Chairil Anwar (23) sastrawan "Angkatan 45"
26 Sutomo/Bung Tomo (25, pejuang kemerdekaan) pemimpin perjuangan pertempuran Surabaya.
27 Juanda Kartawijaya (34, pejuang kemerdekaan) pemimpin gerakan pemuda mengambil alih Jawatan Kereta Api Bandung dari Jepang. Pencetus Deklarasi Juanda.
28 Mas Isman (23, pejuang kemerdekaan) inisiator dan Komandan BKR/TKR Pelajar Surabaya.
29 Ismail Marzuki (31, seniman) komponis lagu perjuangan Indonesia seperti Gugur Bunga, Sepasang Mata Bola, dan Rayuan Pulau Kelapa.

1946
30 Muhammad Yasin (26, pejuang kemerdekaan) perintis Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian RI.
31 I Gusti Ngurah Rai (29, pejuang kemerdekaan) pemimpin pasukan "Ciung Wanara" saat Revolusi Nasional di Bali.

1948
32 Sjafruddin Prawiranegara (37, pejuang kemerdekaan) Pimpinan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
33 Abdul Haris Nasution (30, pejuang kemerdekaan) Wakil panglima besar angkatan perang RI.
34 Soeharso (36, dokter) pendiri tempat pembuatan kaki dan tangan palsu (prostesis) di RS Umum Surakarta.

1949
35 Mochtar Lubis (27, sastrawan) jurnalis pendiri Harian Indonesia Raya. Sempat dipenjara karena terlalu keras mengkritik pemerintahan Soekarno.
36 Supeno (32, pejuang kemerdekaan) Menteri Pembangunan dan Pemuda yang gugur tertembak tentara Belanda saat masa revolusi.

1950
37 Sumitro Djojohadikusumo (33, pejuang kemerdekaan) ekonom yang pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Riset.
38 A J Mokoginta (29, pejuang kemerdekaan) Ketua Komisi Militer dan Teritorial Indonesia Timur yang menerima penyerahan kekuasaan dari Belanda (KNIL).
39 Usmar Ismail (29, Seniman) Pelopor perfilman Indonesia yang melahirkan film Darah dan Doa, Tiga Dara, dan Djam Malam.
40 Yap Thiam Hien (37, aktivis) membuka kantor pengacara bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmaja, dan Komar. Seorang aktivis pembela HAM.

1955
41 Burhanuddin Harahap (37, pejuang kemerdekaan) Perdana Menteri Indonesia yang menyelenggarakan Pemilu pertama 1955.

1958
42 BJ Habibie (22, ilmuwan) Ketua Pelajar Indonesia di Aachen, Jerman, yang menggagas seminar pembangunan bagi seluruh mahasiswa Indonesia di Eropa.
43 Ahmad Yani (36, pejuang kemerdekaan) menjalankan Operasi 17 Agustus 1958) untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat.

1966
44 Arif Rahman Hakim (23, Aktivis) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang tewas saat demonstrasi menuntut Tritura.

1969
45 Soe Hok Gie (26, aktivis) penulis yang kritis terhadap pemerintahan Orde Lama. Meninggal dalam pendakian Gunung Semeru.

1970
46 Adnan Buyung Nasution (36, aktivis) pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum yang membantu masyarakat kurang mampu untuk mengakses hukum.

1972
47 Charles (Charlie) Depthios (32) atlet angkat besi yang pertama kali memecahkan rekor dunia. Pada Olimpiade di Muenchen, Jerman.

1973
48 Arief Budiman (32) aktivis '66 yang kritis terhadap pemerintah, baik Orla maupun Orba. Bersama kawan-kawannya mencetuskan Golongan Putih.

1974
49 Hariman Siregar (23, aktivis) Ketua Dewan Mahasiswa UI yang memimpin demonstrasi pada peristiwa Malari.

1976
50 Rudy Hartono (27) atlet bulu tangkis peraih gelar juara All England terbanyak di nomor tunggal (delapan kemenangan).

1984
51 Liem Swie King (28, atlet) peraih tiga kali gelar juara Piala Dunia bulu tangkis berturut-turut sejak 1984.

1985
52 Ellyas Pical (25) orang Indonesia pertama penyandang gelar juara dunia tinju kelas super terbang IBF.
53 Aminoto Kosin (25, seniman) pemusik Indonesia peraih Jazz Master Award dan penerima hadiah Oscar Peterson Award di Boston, AS.

1988
54 Nurfitriyana Saiman (26), Kusuma Wardhani (24), Lilies Handayani (23) (atlet) tiga srikandi atlet panahan meraih medali pertama (perak) untuk Indonesia di Olimpiade Seoul.

1992
55 Susy Susanti (21, Atlet) Peraih medali emas Olimpiade pertama bulu tangkis tunggal putri.
56 Alan Budikusuma (24, atlet) peraih medali emas olimpiane pertama bulu tangkis tunggal putra.

1993
57 Marsinah (24, Aktivis) Aktivis buruh pada masa Orde Baru yang meninggal beberapa hari setelah melakukan aksi mogok.
58 Ananda Sukarlan (25, seniman) pianis peroleh hadian ketiga ajang prestisius perlombaan internasional musik klasik dan kontemporer Gaudeamus Concours di Belanda.

1994
59 Garin Nugroho (33, seniman) sineas film Surat untuk Bidadari yang meraih film terbaik di Forum Des Jungen Films.

1996
60 Budiman Sudjatmiko (26) aktivis yang kritis terhadap orde baru. Pendiri sekaligus ketua pertama Partai Rakyat Demokratik.
61 Rexy Mainaky (28) dan Ricky Subagja (25) atlet peraih medali emas ganda putra pertama bulu tangkis di Olimpiade (Atlanta).

1997
62 Asmujino (25) orang Indonesia pertama yang mencapai puncak Everest.
63 Yayuk Basuki (26, atlet) petenis pertama Indonesia dan putri Asia kedua yang menembus ke perempat final Wimbledon.

1998
64 Aksi Mahasiswa (22-24, Aktivis) Aktivis gerakan mahasiswa. Dikenal sebagai pahlawan reformasi.
 
1999
65 Munir Said Thalib (33, Aktivis) Pejuang HAM yang dinobatkan sebagai satu dari 20 pemimpin politik muda Asia oleh majalah Asiaweek.
66 Teten Masduki (36) aktivis anti korupsi yang menerima penghargaan Suardi Tasrif Award pada 1999 karena dedikasinya dalam melawan korupsi di Indonesia.
67 Andrew Darwis (20, wirausaha) bersama Ronald dan Budi mendirikan Kaskus, komunitas daring terbesar di Indonesia kala itu.

2002 
68 Anto Tri Sugiarto (30) ilmuwan yang mendapatkan penghargaan Masuda Awards sebagai peneliti muda terbaik dari Institute of Electrostatics Japan.

2004
69 Butet Manurung (32, Aktivis) Aktivis pendidikan Suku Anak Dalam yang menjadi salah satu pahlawan Asia menurut majalah Time.

2005
70 Taufik Hidayat (24, atlet) juara dunia Badminton World Federation di Anaheim, AS, dan menjadi pebulu tangkis pertama yang mencapai level ini.
71 Johny Setyawan (30, ilmuwan) ketua tim peneliti di MPIA, Jerman, penemu planet pertama yang mengelilingi bintang baru TW Hydrae.

2006
72 Khoirul Anwar (28) ilmuwan yang menggagas teori pemanfaatan dua FFT dalam modulasi untuk komunikasi jaringan pita lebar nirkabel (teknologi LTE).

2008
73 Irene Kharisma Sukandar (16, atlet) memperoleh gelar Grand Master Wanita pertama Indonesia.

2009
74 William Tanuwijaya (28, Wirausaha) pendiri E-Dagang Tokopedia yang tahun 2017 sukses menjadi startup unicorn.

2010
75 Nadiem Anwar Makarim (26, wirausaha) pendiri perusahaan Ojek Daring Go-Jek yang kini telah ekspansi ke empat negara di Asia Tenggara.
76 Achmad Zaky (24, wirausaha) pendiri E-Dagang Bukalapak dan penerima Satyalancana Wira Karya 2016 dari Presiden

2012
77 Ferry Unardi, Albert Zhang, dan Derianto Kusuma (24, wirausaha) pendiri Traveloka yang telah diunduh 6 juta kali dan melebarkan bisnis ke enam negara.

2013
78 Tex Saverio (29, seniman) desainer Indonesia pertama yang tampil di Paris Fashion Week dan karyanya digunakan selebriti dunia, seperti Lady Gaga dan Kim Kardashian.
79 Muhammad Alfatih Timur (22, wirausaha) pendiri website crowdfunding kitabisa.com. Kini lebih dari 1 juta orang telah bergabung menjadi donatur dan 14.999 kampanye terdanai.

2014
80 Gamal Albinsaid (25, wirausaha) dokter peraih penghargaan The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur dari Unilever dan Cambridge University Inggris.
81 Livi Zheng (25) sutradara dan produser film "Brush With Danger" yang menembus Hollywood.

2015
82 Joey Alexander Sila (12) musisi Indonesia pertama yang masuk dalam 200 chart Billboard AS dan mendapat nominasi Anugerah Grammy tahun 2016.
83 Leonika Sari (22, Wirausaha) Mendirikan Reblood dan masuk ke dalam perempuan inspiratif BBC 100 Women dari seluruh dunia tahun 2016.

2016
84 Lilyana Natsir (30) dan Tontowi Ahmad (29) atlet peraih emas pertama dalam ganda campuran bulu tangkis Olimpiade (Rio de Janeiro, Brasil).
85 Wregas Bhanuteja (23) sutradara film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes.
86 Surya Sahetapy (23, aktivis) wakil Indonesia di sejumlah kongres dunia seperti Global IT for Youth with Disabilities di Bangkok.
87 Peggy Hartanto (27) salah satu desainer muda Asia yang berpengaruh di bidang seni menurut Forbes.

2017
88 Kevin Sanjaya (21) dan Marcus Gideon (26) (atlet) memenangi tujuh gelar juara super series sepanjang tahun 2017.

2018
89 Lalu Muhammad Zohri (18, atlet) sprinter pertama Indonesia peraih medali emas lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U20 IAAF.
90 Samantha Edithso (10, atlet) juara dunia kejuaraan catur FIDE World Championship 2018 U-10 di Minsk, Belarusia.

Sumber: Litbang Kompas/DEW/ERN/GRH/KPP/RTA/XNA/L04/L07, diolah dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Arsip Nasional Republik Indonesia edisi 61/Mei-Agustus 2013, buku Adam Malik: Profil Seorang Pejuang (1978), Album 97 Pahlawan Nasional dan Sejarah Perjuangannya (1985), Indonesiasi: A Historical Survey of the Role of Politics in the Institution of a Changing Economy from the Second World War to the Eve of the General Elections (1959), Catatan BM Diah: Peran "Pivotal" Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-45 (2018), Kongres Perempuan Pertama (2007), Menteng 31, Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45: Membangun Jembatan Dua Angkatan (1996), Mohamad Roem: Karier Politik dan Perjuangannya (2002), Rebellion to Integration: West Sumatra and The Indonesian Polity (1999), Risalah Gerakan Pemuda (1952), Riwayat Hidup dan Perjuangan Muhammad Husni Thamrin (1980), S.K. Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia (2016), Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah (2002), Sejarah Indonesia Modern (2008), Sejarah Nasional Indonesia Jilid V (2010), Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI (2010), Seratus Tahun Bung Hatta (2002), Wage Rudolf Soepratman: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia "Indonesia Raya" dan Pahlawan Nasional (2001), Wahid Hasyim: untuk Republik dari Tebuireng (2011), Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir (2012), Adam Malik: Mengabdi Republik (1978), Pemberitaan Kompas, Antara, Kontras, laman academia.edu, dan kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id.



Sumber: Kompas, 28 Oktober 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Stovia

Tulisan berjudul "Stovia yang Melahirkan Kebangsaan" ( Kompas , 28/5) telah menyadarkan kita tentang arti penting nilai-nilai kebangsaan yang dibangun para tokoh Indonesia. Untuk menyempurnakan tulisan tersebut, perlu diluruskan beberapa hal dari sisi sejarah. Stovia sebagai sekolah pendidikan dokter Hindia Belanda, sebenarnya tidak mendadak muncul pada zaman politik etis. Sekolah itu lahir sebagai sekolah dokter Jawa 1851, dengan program dua tahun. Tahun 1864 pendidikan menjadi tiga tahun. Tokoh dr Wahidin Soedirohoesoedo lulus dari program tiga tahun itu. Menurut A de Waart (1936), sejak 1872 sekolah itu mulai menyandang nama Stovia. Pada 1902 lama sekolah menjadi sembilan tahun (termasuk tiga persiapan). Dr Soetomo, masuk 1903, dapat disebut sebagai generasi pertama Stovia dengan kurikulum sembilan tahun. Artinya, pendiri Boedi Oetomo bukanlah generasi pertama Stovia, karena lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa sudah muncul pada 1853. Keterangan "Orang-orang idealis b...

Berburu Keberuntungan di Trowulan

T anpa terasa sudah hampir dua pekan hari-hari puasa terlewatkan. Dan sudah hampir dua pekan pula Trowulan dikunjungi banyak tamu. Memang, di setiap bulan Ramadhan, Trowulan--sebuah kecamatan di kabupaten Mojokerto--sekitar 50 km barat laut Surabaya, selalu dikunjungi banyak pendatang. Apa yang bisa dilakukan pengunjung di Trowulan di setiap Ramadhan? Menurut banyak orang yang pernah mengunjungi Trowulan, banyak yang bisa dipelajari dan diperhatikan secara saksama di kota bersejarah itu. Trowulan adalah bekas kota kejayaan Kerajaan Majapahit. Di kota itu hingga kini masih banyak peninggalan bekas kejayaan kerajaan Majapahit, salah satu di antaranya adalah Kolam Segaran. "Selain itu, juga ada situs kepurbakalaan kerajaan Majapahit. Ada Candi Tikus, Candi Brahu, makam Ratu Kencana, makam Putri Campa, dan yang paling banyak dikunjungi pendatang adalah makam Sunan Ngundung," ujar Suhu Ong S Wijaya, paranormal muslim yang tiap Ramadhan menyempatkan berziarah ke makam-makam penyeba...

Peradaban Islam Nusantara (Barus)

Budi Agustono Sejarawan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara B ARUS merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Sebelum dimekarkan menjadi beberapa kecamatan, wilayah Barus relatif luas. Mula-mula Barus dipecah menjadi dua kecamatan, Sorkam dan Manduamas, kemudian menjadi tiga kecamatan, Andam Dewi, Barus Utara dan Sirondorung. Saat ini Barus hanya menjadi salah satu kecamatan dari 20 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Sebelumnya, Barus adalah kota tua yang namanya melegenda hingga ke mancanegara pada abad ke-7 sampai ke-18. Barus masa lampau bagian dari Nusantara yang dikenal sebagai kota dagang di Pantai Barat Sumatra. Pada masa itu di pesisir Pantai Barat Sumatra tumbuh kota yang kehidupannya mengandalkan laut. Laut menjadi sumber peradaban. Peradaban itu memproduksi teknologi nautika sebagai kompas dalam lalu lintas perdagangan satu kota ke kota lain dan satu wilayah ke wilayah mancanegara lainnya. Dengan teknolog...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...

Petisi Soetardjo: Kesempatan yang Disia-siakan Hindia Belanda

Oleh: A. C. Ton PENGANTAR: A. C Ton, seorang sejarawan dan penerbit dari negeri Belanda menulis mengenai Petisi Soetardjo dan Volksraad yang dimuat di NRC Handelsblad tepat 50 tahun ulang tahun Petisi Soetardjo. Judulnya "Petitie-Soetardjo, 15 Juli 1936,: een gemiste kans voor Nederlands-Indie". Pandangan A. C Ton mengevaluasi peristiwa itu sangat menarik karena dibuat pada masa kini. Di bawah ini terjemahannya.  -- Redaksi TEPAT 50 tahun yang lalu di Volksraad, Nederlandsch Indie, terjadi sesuatu yang luar biasa. Pegawai Pamong Praja Soetardjo pada tanggal 15 Juli 1936 mengajukan usul di perwakilan rakyat dengan maksud memberikan kemerdekaan kepada Nederlandsch Indie dalam jangka waktu 10 tahun: Indie, sebagai dominion dalam Kerajaan Belanda. Dua tahun lamanya usul tersebut yang menjadi terkenal sebagai "Petitie Soetardjo" berhasil memikat perhatian orang di Indie. Petisi tersebut tidaklah bersifat revolusioner atau pun radikal. Kalau dibandingkan dengan perjuangan...

Harun Nasution: Ajarah Syiah Tidak Akan Berkembang di Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): Ajarah Syiah yang kini berkembang di Iran tidak akan berkembang di Indonesia karena adanya perbedaan mendasar dalam aqidah dengan ajaran Sunni. Hal itu dikatakan oleh Prof Dr Harun Nasution, Dekan pasca Sarjana IAIN Jakarta kepada Suara Karya  pekan lalu. Menurut Harun, ajaran Syiah Duabelas di dalam rukun Islamnya selain mengakui syahadat, shalat, puasa, haji, dan zakat juga menambahkan imamah . Imamah artinya keimanan sebagai suatu jabatan yang mempunyai sifat Ilahi, sehingga Imam dianggap bebas dari perbuatan salah. Dengan kata lain Imam adalah Ma'sum . Sedangkan dalam ajaran Sunni, yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia berkeyakinan bahwa hanya Nabi Muhammad saja yang Ma'sum. Imam hanyalah orang biasa yang dapat berbuat salah. Oleh karena Imam bebas dari perbuatan salah itulah maka Imam Khomeini di Iran mempunyai karisma sehingga dapat menguasai umat Syiah di Iran. Apapun yang diperintahkan oleh Imam Khomeini selalu diturut oleh umatnya....

Maluku Tahun 1922 (1) Lagu Kebangsaan Marseillaise Dimainkan Orkes Suling Murid Sekolah Zending

Oleh: H ROSIHAN ANWAR SALAH SATU perjalanan jurnalistik yang saya lakukan dan memberikan banyak pelajaran berharga untuk mengenal lebih akrab keadaan tanah air ialah kunjungan ke Maluku, khususnya ke daerah Ternate, Tidore, dan Bacan pada awal tahun 1948. Waktu itu Letnan Gubernur Jenderal Belanda Dr. H. J. van Mook telah membentuk apa yang dinamakannya Negara Indonesia Timur (NTT) dan Maluku. Saya wartawan Republikein yang pertama mengunjungi daerah NTT tersebut berkat perantaraan anggota parlemen NTT Arnold Mononutu yang bersikap pro Republik Indonesia. Dalam perjalanan itu saya berbicara dengan Sultan Ternate Mohammad Jabir Syah, Sultan Tidore Zainal Abidin Alting dan Sultan Bacan Mokhsin Kamarullah. Dengan menumpang kapal kecil dari Ternate saya sampai di Soa-Sio, ibukota kesultanan Tidore, di mana saya melihat sisa-sisa tembok sebuah benteng yang didirikan beberapa abad sebelumnya. Karena pengalaman ini dapatlah dimengerti mengapa dengan lebih daripada minat biasa saya membaca sua...