Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 1984

Perjalanan Sulit Menyelamatkan YBJ 6 Diulang Kembali

RUTE gerilya perjuangan pemancar YBJ 6 sepanjang lk 95 km di pedalaman Sumatera Barat tahun 1948 lalu yang ditempuh kembali oleh peserta Napak Tilas perjuangan pemancar YBJ 6 tersebut selama 5 hari sejak tanggal 19 s/d 23 Desember lalu, dirasakan oleh para peserta cukup berat. Namun demikian, jalan kaki masuk kampung keluar kampung, mendaki bukit menurun lurah dan memasuki rimba belantara itu, berkat tekad yang membara dan semangat tinggi, rute itu telah mereka tempuh dan selesaikan dengan baik tanpa kurang suatu apa. Pada tanggal 19 Desember 1984 peserta yang berjumlah 79 orang itu dilepas keberangkatannya menuju Alang Lawas Halaban oleh Menteri Parpostel Achmad Tahir, Gubernur Sumatera Barat, Ir. H. Azwar Anas Dt. Rajo Suleman serta para Kepala Daerah Tk. II se-Sumatera Barat dan undangan lainnya dalam suatu acara di lapangan Korem Wirabraja Bukittinggi. Hari Minggu tanggal 23 Desember, para peserta dalam jumlah yang lengkap disambut kepulangannya oleh Dirpegtel H. Eem Rachmat Bc. TT...

Tanggal 17 Desember 1984: 50 Tahun Wafatnya HOS Tjokroaminoto

Oleh Soebagijo I. N.  TIDAK kurang dari Bung Karno, Proklamator sendiri, yang menyatakan, bahwa semasa mudanya dia bersimpuh di bawah kaki Haji Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto untuk menimba ilmu dan pengalamannya. Bung Karno tanpa tedeng aling-aling mengakui, bahwa HOS Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam, adalah gurunya dalam politik, gurunya dalam berpidato, guru dalam mempengaruhi rakyat. Ke mana Oemar Said pergi, Bung Karno selalu mengikutinya. Dan akhirnya Bung Karno mampu berpidato, mahir berbicara di hadapan massa dengan gaya Tjokro, dengan cara Tjokro. Bung Karno dalam autobiografinya menyebutkan, bahwa Haji Oemar Said Tjokroaminoto "kemudian mengubah seluruh kehidupannya". Sedangkan pihak Belanda menyebutnya sebagai "Raja Jawa yang Tak Dinobatkan"; de ongekroonde Koning van Java . Menurut silsilah, Oemar Said leluhurnya adalah Raden Mas Adipati Tjokronegoro, Bupati Ponogoro, dan dia ini adalah anak laki-laki dari Kyai Bagus Kasan Besari, sesepuh sekalig...

Kisah Sebuah Pemancar Saat Perang Kemerdekaan: YBJ-6 Lolos dari Pemboman Belanda dan Hubungi India, Siarkan Perjuangan RI

OLEH: DIDIN D BASUNI (Wartawan "PIKIRAN RAKYAT") DALAM sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya pada masa perang kemerdekaan, PERUMTEL yang pada masa itu dikenal bernama Jawatan PTT (Pos, Telegrap, dan Telepon) mempunyai andil dalam mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Salah satu andilnya antara lain perjuangan dan peranan pemancar YBJ-6 yang ikut bergerilya di kawasan Gn. Sago, Bukittinggi di Sumatra Barat. Pemancar YBJ-6 adalah sebuah pemancar yang dapat dipergunakan untuk hubungan telegraphi, telephoni, dan siaran (broadcast), antara lain untuk menyiarkan berita pertempuran, pengumuman, dan propaganda anti Belanda. Oleh karenanya Belanda lewat mata-matanya selalu berusaha mengikuti kegiatan YBJ-6 dan berusaha untuk menghancurkannya di mana pun pesawat tersebut berada. YBJ-6 Luput dari Pemboman 19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi II terhadap Negara RI dengan melakukan pemboman di seluruh wilayah RI di antaranya Bukittinggi di mana kantor-kantor/Stasiun R...

Bagaimana Westerling Bisa Lolos dari Indonesia (2) Menyamar sebagai "Sersan Ruitenbeek" dengan Paspor Palsu Mendarat di Singapura

Oleh: H ROSIHAN ANWAR Malam tanggal 9 Februari 1950 Komisaris Tinggi Belanda, Dr. Hirschfeld mengadakan jamuan menghormati Staatssecretaris van Oorlog dari Belanda yang dihadiri oleh PM RIS Mohammad Hatta dan Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono. Kedua orang ini pada suatu kesempatan terpisah berbicara dengan Dr. Hirschfeld dan mengatakan jikalau Westerling jatuh ke tangan Belanda, mereka akan menuntut penyerahannya agar diajukan ke mahkamah pengadilan karena percobaannya melakukan kudeta di Bandung tanggal 23 Januari 1950. Adapun ucapan Presiden Sukarno yang berasal dari sebelum tanggal 23 Januari tidak lagi berlaku. Penegasan pendirian Indonesia ini berarti suatu perubahan dari reaksi-reaksi pribadi mereka yang pertama. Maka Komisaris Tinggi Belanda lalu mengambil jarak dari rencana pelolosan Westerling. Karena RIS menuntut agar Westerling diserahkan apabila dia jatuh ke tangan Belanda, maka ditekankan oleh Komisaris Tinggi bahwa anggota-anggota angkatan bersenjata Belanda dalam...

Bagaimana Westerling Bisa Lolos dari Indonesia (1) Jenderal Didatangi Wanita Misterius Jembangan Bunga sebagai Tanda Rahasia

Oleh : H ROSIHAN ANWAR TAHUKAH Anda apa arti tanggal 11 Desember 1946? Hari itu hari berkabung. Sebab pada hari itulah Kapten Raymond Pierre Westerling dari tentara KNIL, dikenal dengan julukan "De Turk" (orang Turki, karena ibu Westerling warga Turki) mulai melaksanakan aksi pembersihannya terhadap orang-orang Indonesia yang pro Merdeka di Sulawesi Selatan. Tiga bulan lamanya aksi militer itu berlangsung, dan kl. 30.000 orang tak berdosa mati terbunuh (baca " Ensiklopedi Umum ", 1973). Karena keganasan itu Westerling dipecat dari dinas kemiliteran Belanda pertengahan tahun 1948, tetapi dia terus bercokol di Indonesia melakukan aksi-aksi gelap. Westerling sangat anti kemerdekaan Indonesia dan dia mempersiapkan terbentuknya suatu tentara partikelir yang dinamakannya Angkatan Perang Ratu Adil atau APRA. Republik Indonesia Serikat (RIS) yang lahir sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag belum berusia dua minggu, tahu-tahu Westerling mengirimkan sebuah ul...