Langsung ke konten utama

Rangkaian Peristiwa Bandung Lautan Api (3) Pasukan RI Mengadang Konvoi Inggris

Oleh AH Nasution

Prolog Bandung Lautan Api

Bulan Maret 1946 terjadilah hal-hal yang kita khawatirkan semula yang membawa kita kepada peristiwa sejarah "Bandung Lautan Api", korban-korban yang tak bisa dielakkan dalam kondisi politik dan militer dewasa itu. Namun bagi kemerdekaan dan kedaulatan tiada korban yang terlalu mahal.

Inisiatif yang menjuruskan kita ke Bandung Lautan Api itu datang dari kedua pihak. Di satu pihak Inggris menuntut kebebasan untuk mengambil pasukan-pasukan Jepang dan menginternir diri di daerah Lembang dan Sukabumi. Pemerintah pusat logis menyetujuinya, tapi pemuka-pemuka rakyat dan TKR tak mungkin dapat menyetujuinya.

Di pihak kita panglima komandemen memerintahkan gangguan-gangguan supaya ditingkatkan terhadap konvoi-konvoi Inggris antara Puncak-Bandung, yang meliputi daerah div. saya. Kebetulan mobil beliau telah tersasar dengan tidak berdaya di tengah-tengah konvoi-konvoi Inggris yang melewati Puncak. Saya dipanggil ke Purwakarta dan mendapat perintah untuk memperhebat pengadangan-pengadangan.

Saya pilih tempat-tempat pengadangan di antara Puncak-Cianjur dan antara Ciranjang-Rajamandala-Padalarang, yakni dalam kompleks-kompleks pegunungan. Jika konvoi terhenti, rakyat harus menebang di pohon-pohon di depan dan belakang konvoi untuk merintangi jalan.

Dilarang mengadang di daerah kampung dan kota, mengingat jawaban musuh yang lazim membalas membabi-buta dengan artileri dan pesawat tempur terhadap kampung-kampung.

Diperhitungkan bahwa musuh mungkin akan membalas terhadap Sukabumi dan Bandung Selatan, tempat basis-basis kita. Bandung Selatan dipersiapkan, termasuk persiapan-persiapan tembakan mortir terhadap markas-markas musuh terkuat di Bandung Utara, seperti Gedung Sate (markas div. 23), DVO (bekas Dep. Peperangan Belanda), dll. Akan digunakan pertama kali kompi mortir-moritr dari batalyon Beruang Merah (May Abd. Saleh) dan peleton mortir batalyon Sukanda di Lembang.

Tgl. 8 Maret 1946 panglima Inggris, Jenderal Hawthorn berpidato radio. Katanya ribuan interniran Belanda dan Jepang telah dibunuh oleh ekstremis-ekstremis Indonesia. Divisinya telah bertindak di Semarang dan Surabaya untuk menyelamatkan interniran itu. Katanya korban divisinya sudah 1.200 orang, jumlah yang lebih besar daripada korbannya di medan perang Imphal dulu melawan Jepang.

Tgl. 10 Maret 1 batalyon tim pertempuran Inggris, diantar oleh pesawat-pesawat udara menyerbu Lembang, menerobos ke Ciater, mengambil interniran AL Jepang di bawah Laksamana Maeda. Batalyon Sukanda tentulah tak dapat merintangi.

Sesudah 1 batalyon diperkuat pula menyerbu dari Bogor ke Sukabumi untuk mengambil interniran Jepang di Ubrug. Di sini tentara Inggris dapat perlawanan sengit sepanjang jalan dari rakyat bersama TRI res 3 di bawah Letkol Edy Sukardi. Setelah satu setengah hari lawan bisa sampai Sukabumi dengan korban jiwa dan alat yang berarti, a.l. 9 truk dan 2 jeep jatuh di tangan kita dan 2 perwira serta 26 tamtama gugur. Tapi pada kita gugur 60 orang.

Inggris menembaki dari udara sepanjang jalan Cibadak-Sukabumi. Panglima Inggris memberi ultimatum, hentikan pertempuran dalam 48 jam. PM Syahrir tak bisa menolak. Kol. Hidayat harus berunding dengan Inggris, seorang kolonelnya menyambutnya di markas besar dengan ucapan "kamu berani melawan tentara Inggris yang telah masyhur ini," Kol. Hidayat bersama perwira Inggris diterbangkan ke Sukabumi dengan pesawat piper yang mendarat di lapangan sepakbola untuk meneruskan pelaksanaan ceasefire order.

Pertempuran melanjut dengan mundurnya Inggris ke Cianjur, dan datangnya bantuan dari Bandung serta Bogor. Terjadilah pertempuran-pertempuran dari antara Bandung sampai Bogor.

Atas perintah Jakarta dari pemerintah RI dan dari markas besar Inggris diusahakan penghentian tempur di Sukabumi. Tapi tak dapat segera berhasil. Serangan yang meluas terhadap Inggris di Sukabumi membahayakan mereka, sehingga datang bantuan mereka dari Bogor dan Bandung. Mereka korban 3 perwira Inggris, 1 orang perwira India, dan 37 orang tamtama.

Maka datanglah ultimatum Inggris: Jika serangan tidak dihentikan, Inggris akan menggerakkan segala kekuatan "dengan tidak ampun lagi".

Maka Inggris terus menembaki lagi dari udara sepanjang jalan Cibadak-Sukabumi. Telepon dan listrik terputus. Rakyat kocar-kacir. Pada hari ke-4 Inggris meninggalkan Sukabumi ke jurusan Cianjur. Di Sukaraja mendapat serangan lagi, Inggris terpaksa bermalam di Selatan Kota Cianjur dan esoknya masuk kota.

Sementara itu bantuan dari Bandung dapat hadangan pula di berbagai tempat selama hari-hari itu, di kompleks Cisokan, Citarum, dan Purabaya, juga bantuan via Puncak diserang sehari di Cugenang. Inggris kemudian dapat masuk terrein dan menyerang basis kita dikontrak Gedeh. Korban kita 10 orang. Begitu pula di daerah Padalarang musuh melakukan pembersihan jauh ke dalam, di antara yang ditawannya, termasuk kepala staf resimen 9 TRI. 

Berangsur-angsur Inggris membersihkan kembali jalan raya di daerah Cianjur untuk pengamanan jalan Puncak-Cianjur. Ia batalkan maksudnya untuk menduduki Kota Sukabumi.

Berangsur-angsur ia teruskan kegiatan itu di daerah Rajamandala dan Padalarang. Cianjur diduduki oleh 1 batalyon. Sepanjang jalan ia tempatkan pos-pos penjagaan, dan udara di atas dipatroli pula terus.

Lebih kurang 2 minggu musuh perlukan untuk membuka kembali dan mengamankan jalan konvoi Bogor-Bandung. Tgl. 17 Maret 1946 panglima besar Inggris mengundang pemerintah RI di Jakarta untuk merundingkan pengantaran konvoi Bogor-Bandung.

Sementara daerah Citarum sampai Bandung masih ada insiden-insiden dan pesawat-pesawat udara Inggris masih bergiat, maka pertempuran justru menghangat di sekitar Andir, bagian barat Kota Bandung.

Ultimatum Inggris

Jadinya rencana Sekutu untuk dengan paksa mengambil pasukan-pasukan Jepang dari daerah Sukabumi, terutama sekitar Ubrug telah gagal dengan korban-korban yang tak sedikit. Rencana mereka tersebut telah tertumpuk pula kepada rencana serangan umum kita terhadap konvoi-konvoi sepanjang Puncak-Bandung. Karena didahului oleh peristiwa Sekutu itu, maka rencana kita pun tak terlaksana. Namun kita telah berada dalam persiapan tempur, terutama di Bandung Selatan, a.l. dengan rencana penggunaan secara mendadak untuk pertama kali mortir-mortir dari Bandung Selatan dan Lembang.

Akibat pertempuran-pertempuran konvoi antara Sukabumi-Cianjur-Bandung, maka div Inggris/India ke-23 melakukan penjagaan yang ketat  di mana-mana, lebih-lebih di daerah Cimahi-Andir, sehingga mereka lebih dalam masuk daerah-daerah kita. Hal ini mengakibatkan clash di Fokkerweg dengan satuan-satuan dari batalyon Punjab. Maka di pihak kita secara otomatis dilaksanakan secara penembakan terhadap Bandung Utara dengan sasaran-sasaran utama ialah DVO (Dept. Peperangan dan Gedung Sate, kini kantor Gubernur Jawa Barat) sebagai markas besar div. 23.

Penembakan-penembakan mortir ini, yang belum secara terlatih dan belum punya alat-alat membidik yang semestinya, ke sasar balasan sampai puluhan meter, sehingga mengenai rumah-rumah Belanda sekitar jaarbeurs dan kamp Rapwi di Jalau Riau dengan korban-korban sipil yang disayangkan sekali.

Kemarahan Inggris memuncak, apalagi setelah pengalaman di Sukabumi.

Div. 23 dengan mendadak melepaskan selama 20 menit tembakan-tembakan artileri ke Bandung Selatan dengan sasaran asrama batalyon Sumarsono/Bat II di Tegallega. Tapi kebanyakan peluru mengenai kompleks PTT, dengan korban lebih kurang 30 orang, ditambah dengan korban clash lain jadi l.k. 50 orang.

Radio musuh mengumumkan bahwa tembakan-tembakan itu adalah untuk menghajar steling-steling mortir-mortir kita.

Ketika tembakan-tembakan berlangsung, lewat di atas pos komando div. di Regentsweg kami agak lengkap hadir di markas. Kepala staf sedang di kamar kecil. Tanpa ingat keadaannya, ia lari ke luar dan terus ke telepon untuk meminta laporan ke batalyon dan resimen. Baru kemudian ia sadar, bahwa ia tak sempat menyelesaikan pakaiannya. Perlu dicatat, bahwa di pos komando ada pula kerja seorang tukang ketik wanita. Kami tertawa gelak-gelak kemudian.

Kami perkirakan susulan dengan serbuan, tapi tidak terjadi. "Rupanya markas besar Inggris di Jakarta mengoper persoalan, yakni mengultimatum pemerintah RI," supaya Bandung Selatan dikosongkan oleh TRI sejauh garis 10-11 km. Pemerintah sipil RI boleh tetap dalam kota, dan dilarang bumi hangus.

Rupanya div. 23 menggunakan kesempatan itu. Sudah lama mereka ingin bertemu dengan saya, tapi selalu saya tolak. Hanya gubernur, residen, dan terutama walikota serta pimpinan Barisan Api yang sering bertemu.

Walikota Syamsurijal pernah melaporkan, bahwa Jenderal Hawthorn berkata: "I don't trust col Nasution." Kapt. Clark, penghubung yang berbahasa Belanda memberi komentar, setelah saya lakukan perlucutan terhadap Api: "Sutojo ditangkap, karena ia teman saya!"

Selalu jadi soal yang mereka hendak bicarakan kepada saya ialah: Pertama, untuk mengembalikan regu prajurit-prajurit India yang melarikan diri ke pihak kami dengan truk, beserta alat-alat radio dan senjata ringan. Juga mereka ingin, supaya kami perkenankan rakyat menjual makanan, terutama sayuran kepada penduduk Belanda yang ada 10-`15.000 orang di Bandung.

PM Syahrir memutuskan di Jakarta supaya TRI memenuhi tuntutan, dengan pertimbangan bahwa memang div 23 Inggris bukan tandingan bagi TRI yang serba kurang. Karena itu supaya TRI diselamatkan. Tentang kota diharapkan kembali nanti sebagai hasil perundingan, di mana pihak sana toh mengakui di fakto RI di seluruh Jawa. Karena itu diinstruksikan supaya pemerintah sipil dan polisi tinggal di kota, dan jangan bumi hangus.

Tanggal 23 Maret 1946 diutuslah Menteri Syafrudin Prawiranegara ke Bandung beserta Jend. Kartasasmita melalui fasilitas Inggris. Tapi Jend. tersebut tidak boleh ikut ke Bandung Selatan, karena rupanya Inggris mencurigai sekali kita bisa berkomplot.

Pertemuan dengan menteri diadakan di rumah penghulu, mertua dr. Sugandi, di jalan Dalem Kaum. Di pihak kami ikut gubernur, residen, walikota dan Kepala Polisi.

Inggris menjamin de fakto pemerintah RI di Bandung, seperti keadaan walikota Suwiryo di Jakarta, walikota Mr. Iksan di Semarang dan residen Supangkat di Bogor.

Residen Ardiwinangun berpendapat, bahwa hal itu takkan berhasil di Bandung dan bahwa pemerintah RI di tempat-tempat tersebut juga lumpuh. Semua ajukan keberatan "teknis", bahwa tak mungkin mengungsikan belasan ribu tentara dan lasykar dalam waktu begitu singkat dan keberatan "psykologis" bahwa rakyat sebagian besar akan mengikuti TRI ke luar.

Alhasil kita perlukan meminta panglima Kartasasmita untuk menemui panglima Hawthorn, kiranya bisa ditunda atau diubah isi ultimatum.

Kami bertolak ke Bandung Utara. Bagi saya baru kedua kalinya masuk daerah lawan itu. Pertama kali dahulu ke markas batalyon Punjab di gedung residen Priangan, dan kini div 23.

Panglima Inggris "tidak dapat segera" menerima kami. Kami dibawa ke tempat mes perwira (di Jalan Siliwangi) dan makan siang di situ. Dari mes itu kami melihat ke taman yang bersampingan Kebun Binatang. Kampung pinggir Cikapundung sudah kosong. Walikota mengeluh, melihat taman yang indah di bawah dan berkata: "Dulu kalau hari Minggu saya berjalan-jalan di situ dengan anak-anak saya."

Kami ditanya, makan nasi atau roti. Maka kami dapat nasi, dicampur dengan selei, yang betul-betul asing bagi lidah kami.

Rupanya kami diikat dan disibukkan di daerah Inggris, untuk terpisah dari pasukan-pasukan dan rakyat. Pihak sana sementara itu menyiarkan melalui radio tentang ultimatum yang terjadi tanpa panglima ketahui, karena "kegiatan-kegiatan pihak Indonesia baru-baru ini di daerah Bandung-Sukabumi, dan serangan-serangan pada kamp 'interniran'".

Maklumat Panglima

Diumumkan maklumat panglima tertinggi Serikat di Jawa sbb: 

"Untuk menghalangi terulangnya insiden-insiden yang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan bangsa Indonesia bersenjata di daerah Bandung, Sukabumi, akan diambil tindakan-tindakan seperlunya.

Beberapa hari yang paling akhir di daerah Sukabumi dan Bandung telah terjadi ulangan insiden-insiden yang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan Indonesia bersenjata. Kota Bandung sebelah utara di mana ada kamp Rapwi, telah ditembaki dengan mortir secara luas, di mana perempuan dan anak-anak menjadi korban, konvoi Rapwi yang hanya membawa makanan dan obat-obatan telah ditembaki dengan senapan mesin rumah-rumah telah dibakar. Dalam waktu 14 hari yang paling akhir Rapwi dan tentara Indonesia telah menderita kecelakaan lebih dari 100 orang.

Pimpinan tertingi tentara Serikat di Jawa telah memutuskan bahwa penembakan dan pembakaran secara tak bertanggung jawab ini harus diberhentikan dengan segera. Karena itu ia telah memerintahkan kepada komandan div untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk mencapai maksud itu.

Komandan daerah telah memutuskan membersihkan daerah Bandung Selatan dari orang-orang yang bersenjata. Di mana mungkin tidak dengan pertumpahan darah dan dibolehkan mempergunakan "gas air mata", sebagai diketahui gas ini tidak merusakkan dan akibatnya hanya sebentar.

Bersama dengan pengumuman ini kita telah memberitahukan maksud-maksud kita kepada orang-orang yang bersenjata dan penduduk di Bandung Selatan. Untuk memperingatkan mereka itu kita mempergunakan surat-surat selebaran, radio dan penerangan-penerangan, orang-orang yang bersenjata kita persilahkan meninggalkan kota dan penduduk umum kita minta supaya tetap tenang dan jangan keluar dari jalanan dalam waktu 40 jam yang akan datang ...."

Sampai sore kami disibukkan di Bandung Utara dengan diantar keliling kota, dieskort oleh polisi Nica. Diperhatikan tank-tank dan artileri sekitar dan truk-truk berjajar di Jalan Sumatra. Kata Kapt Clark "persiapan operasi" kalau saya menolak ultimatum.

Yang saya rasakan berat ialah, waktu saya tiba-tiba dibawa masuk rumah Belanda, di mana ada putrinya tewas akibat tembakan mortir kita. Saya dihadapkan kepada famili yang kemalangan itu.

Baru sesudah acara-acara tersebut kami diterima oleh Jend. Hawthorn, seorang perwira tinggi Inggris yang berbadan tinggi dan tidak sekali pun tersenyum waktu pertempuan itu.

(Waktu saya tahun 1950 ke New Delhi, saya dapat penjelasan dari Kepala Staf Umum AD India, Jend. Kalwant Singh, bahwa ia adalah seorang komandan yang berwibawa. Kol. Singh pernah jadi komandan kompi dalam batalyon Hawthorn.)

Ia tidak mau berbicara langsung dengan Jend. Kartasasmita atau saya. Ia hanya berbicara kepada Menteri Syafrudin dan Walikota Syamsurijal. Ia tidak bersedia mempertimbangkan kembali isi ultimatum.

Katanya, rakyat akan tetap tenang di tempat kalau tidak dihasut oleh TRI.

Kami berunding, dan panglima komandemen memutuskan, supaya kami, terutama saya sebagai petugas setempat, langsung minta perhatian dan perantaraan PM Syahrir di Jakarta.

Maka kami boleh ikut pesawat dakota Inggris ke Jakarta. Inilah saya pertama kali naik pesawat terbang. Melalui residenan saya titipkan pesan kepada staf TRI untuk mempersiapkan segala sesuatu.

Kami mendarat di Kemayoran dan diantar dengan mobil, yang disetir oleh seorang wanita Belanda, ke rumah seorang pegawai Republik untuk tempat bermalam. Malamnya saya diterima oleh PM Syahrir di kediamannya di Pegangsaan Timur, Gedung Proklamasi, sambil ikut makan malam. Sebagai nyonya rumah bertindak sekretarisnya, yang kemudian menjadi nyonya Syahrir. PM menasihatkan, untuk melakukan saja sebagaimana dipesankan sebelumnya melalui Menteri Safrudin.

Saya pulang ke tempat menginap, kepada panglima komandemen minta putusan. Katanya: bertindak menurut keadaan. Kalau sampai pecah pertempuran supaya diberi tahu, dan ia akan datang. 

Kol. Hidayat menelepon saya dari Purwakarta: "Nas, kamu mulai ikut diplomasi." Ia baru selesai dari penyelesaian peristiwa Sukabumi.

Esoknya saya bangun dan mendengar dentuman-dentuman artileri Inggris yang sedang meladeni pertempuran di Jakarta Timur jurusan Klender. Menurut mereka di Jakarta, "bunyi-bunyian" demikian terjadi hampir tiap hari.

Baru esok siangnya saya dapat kesempatan tempat di pesawat terbang untuk pulang ke Bandung. Saya disertai oleh seorang letnan Inggris dalam satu dakota yang penuh orang-orang Belanda. Saya dapat rasakan pandangan-pandangan mata mereka kepada seragam TRI saya yang penuh rasa permusuhan.

Di Bandung saya dibawa ke markas div. 23 Inggris. Kol. Hunt menanyakan putusan yang saya bawa. Ia tegaskan, bahwa TRI hari Ahad itu juga harus keluar dari Bandung Selatan. Ia tawarkan 100 buah truk untuk mengangkut kami.

Kami katakan tak mungkin saya menerima tawaran itu, dan saya yakin bahwa akan terjadi insiden-insiden tempur, dan bahwa rakyat akan mengikuti TRI. Tapi ia berkata, bahwa rakyat ingin tenteram, kecuali kalau diintimidasi oleh tentara. Ia jelaskan, bahwa Bandung Selatan telah diberitahukan segala sesuatu. Pamflet-pamflet telah dijatuhkan hari Sabtu sore, waktu saya ke Jakarta, dan akan menenangkan rakyat dengan suatu pidato radio.

Saya menyeberangi garis demarkasi, dijemput oleh perwira penghubung resimen 8, Letnan Sugiharto (jaksa Agung RI di masa Orde Baru). Ia tunjukkan lobang-lobang di jalan, di mana telah ditanam bom-bom batok bekas Knil. (Bersambung).



Sumber: Pikiran Rakyat, 26 Maret 1992



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Stovia

Tulisan berjudul "Stovia yang Melahirkan Kebangsaan" ( Kompas , 28/5) telah menyadarkan kita tentang arti penting nilai-nilai kebangsaan yang dibangun para tokoh Indonesia. Untuk menyempurnakan tulisan tersebut, perlu diluruskan beberapa hal dari sisi sejarah. Stovia sebagai sekolah pendidikan dokter Hindia Belanda, sebenarnya tidak mendadak muncul pada zaman politik etis. Sekolah itu lahir sebagai sekolah dokter Jawa 1851, dengan program dua tahun. Tahun 1864 pendidikan menjadi tiga tahun. Tokoh dr Wahidin Soedirohoesoedo lulus dari program tiga tahun itu. Menurut A de Waart (1936), sejak 1872 sekolah itu mulai menyandang nama Stovia. Pada 1902 lama sekolah menjadi sembilan tahun (termasuk tiga persiapan). Dr Soetomo, masuk 1903, dapat disebut sebagai generasi pertama Stovia dengan kurikulum sembilan tahun. Artinya, pendiri Boedi Oetomo bukanlah generasi pertama Stovia, karena lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa sudah muncul pada 1853. Keterangan "Orang-orang idealis b...

Berburu Keberuntungan di Trowulan

T anpa terasa sudah hampir dua pekan hari-hari puasa terlewatkan. Dan sudah hampir dua pekan pula Trowulan dikunjungi banyak tamu. Memang, di setiap bulan Ramadhan, Trowulan--sebuah kecamatan di kabupaten Mojokerto--sekitar 50 km barat laut Surabaya, selalu dikunjungi banyak pendatang. Apa yang bisa dilakukan pengunjung di Trowulan di setiap Ramadhan? Menurut banyak orang yang pernah mengunjungi Trowulan, banyak yang bisa dipelajari dan diperhatikan secara saksama di kota bersejarah itu. Trowulan adalah bekas kota kejayaan Kerajaan Majapahit. Di kota itu hingga kini masih banyak peninggalan bekas kejayaan kerajaan Majapahit, salah satu di antaranya adalah Kolam Segaran. "Selain itu, juga ada situs kepurbakalaan kerajaan Majapahit. Ada Candi Tikus, Candi Brahu, makam Ratu Kencana, makam Putri Campa, dan yang paling banyak dikunjungi pendatang adalah makam Sunan Ngundung," ujar Suhu Ong S Wijaya, paranormal muslim yang tiap Ramadhan menyempatkan berziarah ke makam-makam penyeba...

Peradaban Islam Nusantara (Barus)

Budi Agustono Sejarawan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara B ARUS merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Sebelum dimekarkan menjadi beberapa kecamatan, wilayah Barus relatif luas. Mula-mula Barus dipecah menjadi dua kecamatan, Sorkam dan Manduamas, kemudian menjadi tiga kecamatan, Andam Dewi, Barus Utara dan Sirondorung. Saat ini Barus hanya menjadi salah satu kecamatan dari 20 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Sebelumnya, Barus adalah kota tua yang namanya melegenda hingga ke mancanegara pada abad ke-7 sampai ke-18. Barus masa lampau bagian dari Nusantara yang dikenal sebagai kota dagang di Pantai Barat Sumatra. Pada masa itu di pesisir Pantai Barat Sumatra tumbuh kota yang kehidupannya mengandalkan laut. Laut menjadi sumber peradaban. Peradaban itu memproduksi teknologi nautika sebagai kompas dalam lalu lintas perdagangan satu kota ke kota lain dan satu wilayah ke wilayah mancanegara lainnya. Dengan teknolog...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...

Petisi Soetardjo: Kesempatan yang Disia-siakan Hindia Belanda

Oleh: A. C. Ton PENGANTAR: A. C Ton, seorang sejarawan dan penerbit dari negeri Belanda menulis mengenai Petisi Soetardjo dan Volksraad yang dimuat di NRC Handelsblad tepat 50 tahun ulang tahun Petisi Soetardjo. Judulnya "Petitie-Soetardjo, 15 Juli 1936,: een gemiste kans voor Nederlands-Indie". Pandangan A. C Ton mengevaluasi peristiwa itu sangat menarik karena dibuat pada masa kini. Di bawah ini terjemahannya.  -- Redaksi TEPAT 50 tahun yang lalu di Volksraad, Nederlandsch Indie, terjadi sesuatu yang luar biasa. Pegawai Pamong Praja Soetardjo pada tanggal 15 Juli 1936 mengajukan usul di perwakilan rakyat dengan maksud memberikan kemerdekaan kepada Nederlandsch Indie dalam jangka waktu 10 tahun: Indie, sebagai dominion dalam Kerajaan Belanda. Dua tahun lamanya usul tersebut yang menjadi terkenal sebagai "Petitie Soetardjo" berhasil memikat perhatian orang di Indie. Petisi tersebut tidaklah bersifat revolusioner atau pun radikal. Kalau dibandingkan dengan perjuangan...

Harun Nasution: Ajarah Syiah Tidak Akan Berkembang di Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): Ajarah Syiah yang kini berkembang di Iran tidak akan berkembang di Indonesia karena adanya perbedaan mendasar dalam aqidah dengan ajaran Sunni. Hal itu dikatakan oleh Prof Dr Harun Nasution, Dekan pasca Sarjana IAIN Jakarta kepada Suara Karya  pekan lalu. Menurut Harun, ajaran Syiah Duabelas di dalam rukun Islamnya selain mengakui syahadat, shalat, puasa, haji, dan zakat juga menambahkan imamah . Imamah artinya keimanan sebagai suatu jabatan yang mempunyai sifat Ilahi, sehingga Imam dianggap bebas dari perbuatan salah. Dengan kata lain Imam adalah Ma'sum . Sedangkan dalam ajaran Sunni, yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia berkeyakinan bahwa hanya Nabi Muhammad saja yang Ma'sum. Imam hanyalah orang biasa yang dapat berbuat salah. Oleh karena Imam bebas dari perbuatan salah itulah maka Imam Khomeini di Iran mempunyai karisma sehingga dapat menguasai umat Syiah di Iran. Apapun yang diperintahkan oleh Imam Khomeini selalu diturut oleh umatnya....

Maluku Tahun 1922 (1) Lagu Kebangsaan Marseillaise Dimainkan Orkes Suling Murid Sekolah Zending

Oleh: H ROSIHAN ANWAR SALAH SATU perjalanan jurnalistik yang saya lakukan dan memberikan banyak pelajaran berharga untuk mengenal lebih akrab keadaan tanah air ialah kunjungan ke Maluku, khususnya ke daerah Ternate, Tidore, dan Bacan pada awal tahun 1948. Waktu itu Letnan Gubernur Jenderal Belanda Dr. H. J. van Mook telah membentuk apa yang dinamakannya Negara Indonesia Timur (NTT) dan Maluku. Saya wartawan Republikein yang pertama mengunjungi daerah NTT tersebut berkat perantaraan anggota parlemen NTT Arnold Mononutu yang bersikap pro Republik Indonesia. Dalam perjalanan itu saya berbicara dengan Sultan Ternate Mohammad Jabir Syah, Sultan Tidore Zainal Abidin Alting dan Sultan Bacan Mokhsin Kamarullah. Dengan menumpang kapal kecil dari Ternate saya sampai di Soa-Sio, ibukota kesultanan Tidore, di mana saya melihat sisa-sisa tembok sebuah benteng yang didirikan beberapa abad sebelumnya. Karena pengalaman ini dapatlah dimengerti mengapa dengan lebih daripada minat biasa saya membaca sua...