Langsung ke konten utama

Malapetaka Hiroshima dan Ancaman Perang Nuklir

Oleh: Yop Pandie

TANGGAL 16 Juli 1945. Dunia masih diliputi perseteruan dan kemelut Perang Dunia Kedua. Sudah jutaan tewas di Eropa, Afrika Utara, Laut Tengah, Samudra Atlantik, Pasifik, Asia Tenggara atau di mana saja orang-orang yang bermusuhan itu bertemu. Sudah ribuan pesawat gugur dari angkasa, sudah ribuan kapal terkubur di dasar laut, sudah ribuan ton mesiu dihabiskan, Nazi Jerman sudah menyerah, tetapi perang belum juga usai. Diperlukan senjata pembinasa yang dahsyat dan bukan sekadar keberanian prajurit serta strategi dan taktik perang konvensional. Hari itu, di padang pasir Alamogordo di New Mexico, Amerika Serikat bagian selatan, sebuah senjata pembinasa musuh dicoba. Ledakan dahsyat membahana di wilayah gurun yang sepi tapi dikawal ketat itu. Robert Oppenheimer, sarjana fisika kenamaan yang berbulan-bulan menangani percobaan membuat bom atom pertama itu puas sekali. Tidak ada lagi yang bisa menandingi bom atom.

Yakin pada keampuhan bom atom sebagai senjata paling dahsyat waktu itu, Presiden AS, Harry S. Truman mengirim ultimatum kepada Jepang supaya menyerah. Tapi bangsa kulit kuning itu, yang pernah mengalahkan bangsa kulit putih, Rusia, ternyata tidak mudah didesak bertekuk lutut. Akhirnya keputusan besar dalam sejarah dunia pun diambil. Bom atom harus digunakan. Dan pada tanggal 6 Agustus 1945, ketika penduduk kota industri Hiroshima di bagian barat Jepang memulai kesibukan mereka hari itu, tepat pukul 8 lewat 15 menit dan 17 detik bom atom yang diberi julukan jinak, "Little Boy" (Bocah Cilik) lepas dari perut bomber B-29, Enola Gay.

Bom atom yang dibuat dari Uranium 235 dan beratnya 4 ton meledak lebih-kurang 50 meter di atas kota Hiroshima. Bola api raksasa memancarkan cahaya kilat dan suhu panas yang sangat tinggi serta-merta membuat kota berpenduduk 400.000 jiwa menjadi neraka yang porak poranda. Mayat-mayat hangus bergelimpangan di mana-mana. Gedung-gedung megah terbakar, hangus dan rontok bagai mainan kardus. Kota Hiroshima yang cantik itu boleh dibilang rata dengan tanah.

Seratus ribu jiwa tewas seketika karena sebuah bom atom dengan nama yang sama sekali tidak menyeramkan itu. (Jumlah korban berbeda-beda menurut beberapa versi.)

Dua ratus ribu menderita luka bakar akibat pancaran sinar kilat. Sekitar 300.000 lagi yang masih sempat melalui masa sekarat beberapa menit, beberapa jam, atau beberapa hari. Tetapi banyak pula yang tewas antara lain karena leukemia, kanker darah yang sangat ditakuti itu, beberapa tahun kemudian. Semuanya karena bom atom, karena cahaya panas yang dipancarkan ledakannya maupun karena radiasi.

Tiga hari setelah Hiroshima, sebuah lagi bom atom dengan julukan yang jenaka, "Fat Man", (Pak Gemuk) yang dibuat dari Plutonium 239 dijatuhkan di atas kota Nagasaki. Bom atom kedua itu meminta korban jiwa 70.000 orang. 

Enam hari setelah senjata dahsyat kedua itu menghancurkan Nagasaki, tanggal 15 Agustus Jepang menyerah. Orang-orang Amerika mengatakan, karena bom atom mereka. Tapi orang-orang Rusia menganggap, yang membuat Jepang akhirnya menyerah adalah pernyataan perang Rusia terhadap Jepang dua hari setelah pemboman Hiroshima. Mana yang benar? Mungkin dua-dua ada benarnya ....

***

Bagaimana sebetulnya malapetaka karena bom atom itu? Orang-orang Amerika bisa panik hanya karena berita tentang reaktor nuklir buatan mereka sendiri bocor. Atau bahkan hanya karena menonton film tentang malapetaka senjata nuklir itu. Tapi orang Jepang lebih bisa bercerita tentang dahsyatnya senjata bom atom itu.

Di Museum Peringatan Hiroshima, mata manusia bisa menyaksikan kedahsyatan senjata pembinasa yang disebut bom atom itu, yang bila dibanding dengan senjata-senjata pembinasa mutakhir, kehebatannya sudah kalah jauh. Di Rumah Sakit Bom Atom Hiroshima hingga hari ini pun masih terbaring sisa-sisa korban "Little Boy" 39 tahun silam. Banyak di antara mereka hanya menunggu ajal, direnggut leukemia.

Tiap hari ribuan orang Jepang maupun pengunjung dari berbagai negeri datang menjenguk Museum Peringatan Hiroshima. Di situlah setiap orang bisa melihat sendiri berbagai peragaan tentang kedahsyatan bom atom. Manusia bahkan pepohonan yang jauhnya beberapa kilometer dari pusat ledakan hangus sekejap. Panas yang dipancarkan ledakan bom atom yang sampai 5.000 derajat Celcius bahkan mencairkan bebatuan granit beberapa ribu meter dari pusat ledakan. Sedangkan batu saja bisa mencair, apalagi daging dan tulang manusia.

Orang Amerika sendiri, yang menggunakan senjata nuklir itu pertama kali dalam sejarah, tampaknya baru benar-benar tersentak kaget bulan November tahun lalu ketika lebih 100 juta penduduk negara adikuasa (superpower) itu menyaksikan film "The Day After" produksi stasiun televisi, ABC. Film tersebut (yang juga sudah beredar di Indonesia) menggambarkan betapa dahsyatnya senjata nuklir yang dijatuhkan musuh di Kota Kansas. Manusia dan segala macam produk peradabannya dihancurkan oleh senjata nuklir. Yang masih beruntung lolos dari lubang jarum, masih sempat bernapas pun bukannya berarti selamat karena radiasi nuklir masih terus meracuni sisa hidupnya dengan pelbagai penyakit aneh, fisik maupun mental. Itu dalam film, yang dibuat bukan asal buat, asal dramatis, mengerikan, tetapi berdasarkan penelitian tentang akibat suatu serangan senjata nuklir.

Bahaya perang nuklir itu bahkan digambarkan lebih mengerikan lagi oleh astronom Amerika yang kesohor, Carl Sagan. Pada konferensi perlucutan senjata nuklir di Stockholm, Swedia, beberapa pekan lalu, Sagan mengingatkan, bila pecah perang nuklir kehidupan di bumi ini akan berakhir. Ledakan bom-bom nuklir dewasa ini yang kekuatannya ribuan kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, akan membuat sinar matahari terhalang, bumi akan gelap. Temperatur bumi turun drastis di bawah nol derajat. Manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang masih beruntung selamat pada saat terjadi ledakan nuklir harus menghadapi akibat ekologis yang lebih mengerikan. Air tidak bisa lagi diminum, makanan pun demikian, bahkan udara yang harus dihirup setiap detik sudah sangat tercemar. Berbagai macam penyakit, termasuk penyakit mental akhirnya juga memusnahkan sisa manusia dari perang nuklir itu. Carl Sagan bukan bermaksud menakut-nakuti manusia, tapi itulah yang dapat dia beberkan setelah bertahun-tahun meneliti kemungkinan akibat dari suatu perang nuklir.

Satu hasil penelitian terbaru dari Inggris yang disiarkan bulan Juli lalu juga membeberkan gambaran yang sama mengerikan seperti yang diungkapkan Carl Sagan. Penelitian yang dilakukan Lembaga Pengkajian Perdamaian Universitas Bradford itu, serangan nuklir berkekuatan 200 megaton (sama dengan 100.000 kali kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima) akan membunuh dua per tiga dari 57 juta penduduk Inggris hanya pada serangan awal. Tetapi sisa yang beruntung selamat, hanya sekitar 15 juta orang itu, sebagian besar pun akan mati kelaparan karena serangan nuklir membawa juga bencana bagi tanah, lingkungan tempat manusia memperoleh kebutuhan makanannya. 

Hasil pengkajian yang dibuat George Crossley, mahasiswa dari bidang studi perdamaian itu mengambil angka 200 megaton-nuklir dengan memperhitungkan penggunaan 10% dari kekuatan senjata nuklir jarak jauh Uni Soviet berdasarkan persepsi Crossley terhadap strategi Soviet (Blok Timur) dalam perang nuklir melawan Blok Barat.

Dengan menggunakan data statistik British Medical Association, Crossley memperkirakan, bila serangan itu dilakukan di musim panas (Juni-Agustus), hanya 15 juta penduduk Inggris masih sempat hidup. Sedangkan bila serangan nuklir itu terjadi bukan dalam musim panas, masih mungkin lebih 40 juta dari 57 juta penduduk Inggris bertahan hidup untuk sementara.

Akibat serangan nuklir satu megaton saja (50 kali bom atom Hiroshima), hampir segala jenis pepohonan di wilayah seluas 88 km persegi akan musnah, rata dengan tanah. Sedangkan panas ledakan dan kebakaran akan menghancurkan panen pertanian dalam radius 210 km dan membunuh segala jenis ternak yang sedang merumput sampai radius 126 km dari pusat ledakan. Bencana dari satu megaton senjata nuklir itu belum berhenti di situ. Dalam beberapa pekan atau bulan kemudian debu radio aktif, menyebabkan kerusakan hebat pada tanah-tanah pertanian seluas 35.000 km persegi.

Gambaran malapetaka yang sama bisa terjadi di Amerika Serikat, Jerman Barat, atau Uni Soviet. Sehingga walaupun para pemimpin politik dan panglima militer sempat berlindung di bunker atau benteng-benteng tahan ledakan nuklir, tetapi ketika serangan usai mereka muncul kembali dari persembunyian hanya akan menyaksikan tanah yang gersang akibat radioaktif, udara, dan air yang juga dicemari radioaktif. Apa yang harus dimakan dan diminum? Mungkin negara-negara maju yang jadi korban serangan nuklir terpaksa minta kiriman makanan dari negara-negara berkembang yang miskin, yang tidak terlibat langsung dalam perang nuklir. Tapi bagaimana bila skala perang nuklir itu demikian luasnya sehingga boleh dibilang hampir seluruh penghuni bumi menderita bencananya? Inilah yang ditakutkan Carl Sagan.

***

DUNIA sebetulnya baru memasuki abad atom tahun 1911 ketika sarjana fisika Inggris, Ernest Rutherford menemukan bahwa setiap atom terdiri dari netron dan proton yang dikelilingi elektron. Sebelumnya, manusia hanya mengenal atom sebagai bagian yang terkecil, yang tidak bisa dipecah lagi dari suatu unsur. Demikian kecilnya atom itu sehingga 150.000.000 atom bila dijejerkan hanya mencapai panjang 3 cm.

Setelah penemuan Rutherford yang kemudian disusul lagi oleh penelitian Niels Bohr, ahli fisika Denmark, barulah dunia lebih mantap memasuki abad atom (nuklir). Penelitian-penelitian lebih lanjut di Eropa dan Amerika menemukan bahwa elektron yang meninggalkan inti atom merupakan sinar dan unsur yang mengeluarkan sinar itu adalah radioaktif. Disibak lebih lanjut, tenaga yang berlebihan meninggalkan unsur radioaktif merupakan energi. Dan jika banyak tenaga yang berlebihan itu secara serentak dan mendadak lepas maka timbullah ledakan dahsyat. Itulah fenomena yang merupakan kunci tenaga nuklir dan bom atom pembinasa itu.

Hanya dalam waktu tiga dasawarsa semenjak penyingkapan rahasia atom itu, manusia telah berhasil mengembangkan senjata atom yang dahsyat. Tetapi beberapa tahun kemudian ternyata pula bom atom Hiroshima dan Nagasaki sudah bukan lagi senjata terhebat yang pernah dimiliki manusia. Bom atom "Little Boy" diciptakan untuk membinasakan kota berpenduduk ratusan ribu jiwa tetapi sebuah bom hidrogen masa kini mampu membinasakan metropolitan mana pun di muka bumi ini yang berpenduduk 10 juta jiwa. Dan kini diperkirakan, di arsenal-arsenal Amerika Serikat dan Uni Soviet tersimpan 10.000 bom pemusnah seperti itu, yang bila sebagian saja digunakan mungkin manusia musnah dari muka bumi.

Kedua negara adikuasa Amerika Serikat dan Uni Soviet bukannya tidak menyadari ancaman bahaya perang nuklir. Melewati berbagai pembicaraan, ketegangan, kecam-mengecam, dan ancam-mengancam, tanggal 22 Mei 1972 di Mokswa, Presiden AS, Nixon dan pemimpin Soviet, Brezhnev, menandatangani Persetujuan Pembatasan Senjata-senjata Strategis, SALT I yang antara lain memberikan batas waktu lima tahun 1977, produksi 2.358 ICBM (Intercontinental Ballistic Missile) bagi Uni Soviet dan 1.710 bagi Amerika Serikat. Perbedaan angka produksi ICBM ini karena AS sudah memiliki rudal nuklir dengan sistem MIRV (Multiple Independently Targetable Reentry Vehicle) sedangkan Soviet belum.

Tapi SALT I hanya menghasilkan pembatasan rudal nuklir jarak jauh. Sementara itu AS dan Soviet sama-sama terus saja mengembangkan senjata-senjata strategis baru. Soviet mengembangkan rudal nuklir SS-16, SS-17, SS-18, SS-19, dan SS-20 dengan sistem MIRV pesawat pembom jarak jauh Backfire dengan jangkauan terbang 5.600 km. Sedangkan Amerika Serikat meningkatkan kemampuan rudal-rudal antarbenua jenis MX dan mengembangkan rudal Cruise.

Tujuh tahun kemudian, juga setelah melalui pembicaraan-pembicaraan, kecam-mengecam dan saling memata-matai, 18 Juni 1979 di Istana Hofburg, Wina, Austria. Presiden Carter dan Brezhnev menandatangani SALT II. Berdasarkan persetujuan untuk menghindari bencana perang nuklir itu, kedua negara adikuasa, masing-masing dibatasi hanya boleh memiliki 2.500 peluncuran missil, kapal selam, dan pesawat pembom yang dapat membawa bom nuklir. Jumlah ini dikurangi menjadi 2.250 pada tahun 1981. Kemudian AS memiliki 464 ICBM dengan sistem MIRV sedangkan Soviet 820. AS akan menambah SLBM (Sea Launched Ballistic Missile) dengan sistem MIRV menjadi 736 sedangkan Uni Soviet menjadi 352. Pembom berat AS dengan ALCM (Air Launched Cruise Missile) menjadi 150 sedangkan Uni Soviet tetap kosong. ICBM non-MIRV milik AS tetap 504 sedangkan Uni Soviet akan tinggal 369. Kemudian Uni Soviet akan tetap memiliki SLBM non-MIRV sebanyak 624 sedangkan Amerika Serikat tidak. Dan nanti Amerika Serikat masih tetap memiliki 225 pembom berat non-ALCM sementara Uni Soviet 90 pesawat. Jadi jumlah persenjataan strategis masing-masing pada tahun 1985 nanti adalah Amerika Serikat 2064 dan Uni Soviet 2246.

Tapi sementara itu kedua negara malah akan menambah koleksi kepala nuklir mereka. Milik AS dari 9.200 menjadi 12.000 sedangkan Uni Soviet dari cuma 5.000 kepala nuklir menjadi 10.000.

"Bencana nuklir masih menggantung di atas kita," kata Presiden Carter setelah menandatangani persetujuan SALT II dan kemudian bertempel-tempelan pipi mesra dengan Brezhnev. Pemimpin Soviet itu sebelumnya dalam pidato menyambut penandatanganan itu mengatakan: "Kita sedang berusaha membela hak paling suci setiap manusia, yakni hak hidup!" Tapi ternyata SALT II yang di Amerika Serikat dinilai merugikan Amerika Serikat tidak pernah diratifikasi Senat AS.

Perlombaan persenjataan jalan terus. Pegelaran rudal nuklir SS-20 Soviet yang diarahkan ke Eropa Barat, membuat AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, merasa perlu meningkatkan kemampuan pertahanan di Eropa. Penempatan 572 rudal nuklir jenis Pershing-2 dan Cruise di Eropa malah membuat Soviet menarik diri dari perundingan pengawasan senjata nuklir di Jenewa tahun lalu dan merasa perlu melakukan perimbangan kekuatan dengan memperbanyak rudal-rudal baru SS-20 dan SS-22 dengan sasaran Eropa Barat dan AS. Presiden Chernenko bahkan kemudian mengatakan, tidak perlu ada perundingan pembatasan senjata nuklir dengan Amerika selagi negara-negara NATO terus menggelarkan rudal-rudal AS, walau Presiden Reagan bersedia menghentikan bahkan membatalkan pemasangan rudal-rudal AS di Eropa Barat.

Jalan menuju perundingan pengawasan senjata nuklir kedua negara adikuasa, seperti pada masa-masa yang lalu, kini pun tetap penuh liku-liku dengan saling kecam, saling ancam. Beberapa pekan lalu Menteri Pertahanan Uni Soviet, Dmitri Ustinov mengirim ancaman baru, dengan mengatakan bahwa Soviet telah meningkatkan jumlah kapal selamnya yang dipersenjatai rudal-rudal nuklir di lepas pantai Amerika Serikat. Uni Soviet akan selalu meningkatkan jumlah peluru kendalinya setiap kali rudal-rudal baru Pershing-2 dan Cruise digelarkan di Eropa Barat. Ustinov juga mengingatkan, rudal-rudal nuklir yang disiapkan di lepas pantai AS dapat menghancurkan kota-kota dan sasaran-sasaran militer di Amerika Serikat dalam waktu 8 atau 10 menit, waktu yang sama dengan yang dibutuhkan Pershing-2 di Eropa Barat mencapai sasaran di Uni Soviet. Bahkan dengan tegas, Ustinov mengingatkan, bila terjadi serangan nuklir terhadap Mokswa, Uni Soviet tidak hanya menyerang sumber serangan itu tetapi juga sumber perintah serangan itu yakni Washington.

Hampir bersamaan dengan datangnya ancaman dari Soviet, dari AS juga muncul berita keberhasilan besar uji coba penghancuran rudal dengan menggunakan rudal yang akan terus dikembangkan dengan senjata laser yang berpangkalan di angkasa luar. Untuk menghadapi senjata satelit di angkasa luar yang juga diperkirakan akan dimiliki Soviet dalam dua dasawarsa ini, AS juga akan mengembangkan senjata antisatelit, yang merupakan pengembangan sistem pertahanan "Star Wars". Memang tampak seperti cerita fiksi "Star Wars" tapi bukan sesuatu yang mustahil untuk beberapa dasawarsa mendatang. Bayangkan, senjata-senjata pembunuh yang dahsyat itu bukan cuma berpangkalan di bumi tetapi mengapung jauh di angkasa luar dengan sasaran tetap manusia di muka bumi.

Sistem pertahanan "Star Wars" memang masih dalam pengembangan. Tapi yang jelas, sebelum sampai pada tahap itu saja, senjata-senjata nuklir kedua negara adikuasa sudah dalam jumlah yang mampu memusnahkan bumi dan segala isinya. Menurut Departemen Pertahanan AS, Uni Soviet kini memiliki persediaan kepala nuklir sampai sebanyak 41.000, sedangkan AS sendiri diperkirakan memiliki antara 25.000 sampai 26.000 buah. Soviet membantah dengan balik menuduh AS memalsukan angka-angka untuk tujuan agresif. Memang sulit memastikan angka-angka kekuatan seperti itu, apalagi dialog soal senjata nuklir antara kedua negara lagi mandek, membiarkan bencana nuklir tetap menggantung di atas kepala manusia.

***

SATU hari di bulan Agustus hampir sepuluh tahun silam, di sebuah restoran mungil tidak jauh dari Taman Perdamaian, Hiroshima, saya terlibat obrolan santai dengan kenalan pemuda Jepang dan pelaut Afrika. Topiknya malapetakan Hiroshima 1945 dan ancaman perang nuklir. Si Afrika mengaku tidak punya gagasan apa-apa untuk mencegah suatu malapetaka Hiroshima baru yang bisa terjadi atas Mokswa atau Washington atau Bonn. Tapi, yang jelas, katanya, sebagai pelaut yang sering beringas, anehnya dia bisa merasakan sesuatu yang mendamaikan hatinya di Hiroshima (setelah mengunjungi Taman Perdamaian dan menyaksikan peragaan di Museum Peringatan Hiroshima).

Dari mulut saya waktu itu terlontar gagasan gila. Bagaimana kalau orang-orang yang antiperang nuklir membentuk pasukan teroris membunuh para ahli senjata nuklir dan memusnahkan rumus-rumus fisika nuklir, dan segala macam teori yang membimbing manusia ke arah itu. Singkatnya, jadikan manusia kembali bodoh dalam hal nuklir. Kedua kenalan tertawa keras mengagetkan tamu-tamu yang lain.

Kenalan yang Jepang penduduk Hiroshima, lahir beberapa tahun setelah malapetaka Hiroshima tidak punya gagasan baru. Dia hanya berharap, dari Hiroshima manusia selalu diingatkan agar tidak mengulang tragedi yang sama. Lebih banyak orang datang melihat Hiroshima mungkin lebih baik. Sekaligus untuk pariwisata Hiroshima, katanya, lalu terbahak.

Di akhir acara makan, saya janjikan kepada kedua kenalan, setelah pulang ke tanah air saya akan buat tulisan dan buku tentang malapetaka Hiroshima. 

Sebuah buku kecil saya dengan judul "Hikayat Bom Atom" menggunakan nama samaran YP Sangguana sudah terbit dan dibeli Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengisi perpustakaan sekolah-sekolah. Artikel-artikel tentang Hiroshima sudah beberapa kali saya buat, dan tanggal 6 Agustus, hari pemboman Hiroshima selalu saya kenang khusus. Tulisan ini hanyalah cara saya tidak melewatkan hari malapetaka itu.

Mudah-mudahan, banyak orang lain, terutama para pemimpin dunia, juga tidak lupa bahwa pada tanggal 6 Agustus 1945 terjadi pembunuhan terbesar manusia dengan satu senjata tunggal, bom-atom, sejak manusia belajar membunuh dari Kain, anak Adam dan Hawa, yang membunuh adiknya sendiri Habel, hanya karena iri hati pasal hewan kurban. Semoga. ***



Sumber: Suara Karya, 6 Agustus 1984



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Stovia

Tulisan berjudul "Stovia yang Melahirkan Kebangsaan" ( Kompas , 28/5) telah menyadarkan kita tentang arti penting nilai-nilai kebangsaan yang dibangun para tokoh Indonesia. Untuk menyempurnakan tulisan tersebut, perlu diluruskan beberapa hal dari sisi sejarah. Stovia sebagai sekolah pendidikan dokter Hindia Belanda, sebenarnya tidak mendadak muncul pada zaman politik etis. Sekolah itu lahir sebagai sekolah dokter Jawa 1851, dengan program dua tahun. Tahun 1864 pendidikan menjadi tiga tahun. Tokoh dr Wahidin Soedirohoesoedo lulus dari program tiga tahun itu. Menurut A de Waart (1936), sejak 1872 sekolah itu mulai menyandang nama Stovia. Pada 1902 lama sekolah menjadi sembilan tahun (termasuk tiga persiapan). Dr Soetomo, masuk 1903, dapat disebut sebagai generasi pertama Stovia dengan kurikulum sembilan tahun. Artinya, pendiri Boedi Oetomo bukanlah generasi pertama Stovia, karena lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa sudah muncul pada 1853. Keterangan "Orang-orang idealis b...

Berburu Keberuntungan di Trowulan

T anpa terasa sudah hampir dua pekan hari-hari puasa terlewatkan. Dan sudah hampir dua pekan pula Trowulan dikunjungi banyak tamu. Memang, di setiap bulan Ramadhan, Trowulan--sebuah kecamatan di kabupaten Mojokerto--sekitar 50 km barat laut Surabaya, selalu dikunjungi banyak pendatang. Apa yang bisa dilakukan pengunjung di Trowulan di setiap Ramadhan? Menurut banyak orang yang pernah mengunjungi Trowulan, banyak yang bisa dipelajari dan diperhatikan secara saksama di kota bersejarah itu. Trowulan adalah bekas kota kejayaan Kerajaan Majapahit. Di kota itu hingga kini masih banyak peninggalan bekas kejayaan kerajaan Majapahit, salah satu di antaranya adalah Kolam Segaran. "Selain itu, juga ada situs kepurbakalaan kerajaan Majapahit. Ada Candi Tikus, Candi Brahu, makam Ratu Kencana, makam Putri Campa, dan yang paling banyak dikunjungi pendatang adalah makam Sunan Ngundung," ujar Suhu Ong S Wijaya, paranormal muslim yang tiap Ramadhan menyempatkan berziarah ke makam-makam penyeba...

Peradaban Islam Nusantara (Barus)

Budi Agustono Sejarawan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara B ARUS merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Sebelum dimekarkan menjadi beberapa kecamatan, wilayah Barus relatif luas. Mula-mula Barus dipecah menjadi dua kecamatan, Sorkam dan Manduamas, kemudian menjadi tiga kecamatan, Andam Dewi, Barus Utara dan Sirondorung. Saat ini Barus hanya menjadi salah satu kecamatan dari 20 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Sebelumnya, Barus adalah kota tua yang namanya melegenda hingga ke mancanegara pada abad ke-7 sampai ke-18. Barus masa lampau bagian dari Nusantara yang dikenal sebagai kota dagang di Pantai Barat Sumatra. Pada masa itu di pesisir Pantai Barat Sumatra tumbuh kota yang kehidupannya mengandalkan laut. Laut menjadi sumber peradaban. Peradaban itu memproduksi teknologi nautika sebagai kompas dalam lalu lintas perdagangan satu kota ke kota lain dan satu wilayah ke wilayah mancanegara lainnya. Dengan teknolog...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...

Petisi Soetardjo: Kesempatan yang Disia-siakan Hindia Belanda

Oleh: A. C. Ton PENGANTAR: A. C Ton, seorang sejarawan dan penerbit dari negeri Belanda menulis mengenai Petisi Soetardjo dan Volksraad yang dimuat di NRC Handelsblad tepat 50 tahun ulang tahun Petisi Soetardjo. Judulnya "Petitie-Soetardjo, 15 Juli 1936,: een gemiste kans voor Nederlands-Indie". Pandangan A. C Ton mengevaluasi peristiwa itu sangat menarik karena dibuat pada masa kini. Di bawah ini terjemahannya.  -- Redaksi TEPAT 50 tahun yang lalu di Volksraad, Nederlandsch Indie, terjadi sesuatu yang luar biasa. Pegawai Pamong Praja Soetardjo pada tanggal 15 Juli 1936 mengajukan usul di perwakilan rakyat dengan maksud memberikan kemerdekaan kepada Nederlandsch Indie dalam jangka waktu 10 tahun: Indie, sebagai dominion dalam Kerajaan Belanda. Dua tahun lamanya usul tersebut yang menjadi terkenal sebagai "Petitie Soetardjo" berhasil memikat perhatian orang di Indie. Petisi tersebut tidaklah bersifat revolusioner atau pun radikal. Kalau dibandingkan dengan perjuangan...

Harun Nasution: Ajarah Syiah Tidak Akan Berkembang di Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): Ajarah Syiah yang kini berkembang di Iran tidak akan berkembang di Indonesia karena adanya perbedaan mendasar dalam aqidah dengan ajaran Sunni. Hal itu dikatakan oleh Prof Dr Harun Nasution, Dekan pasca Sarjana IAIN Jakarta kepada Suara Karya  pekan lalu. Menurut Harun, ajaran Syiah Duabelas di dalam rukun Islamnya selain mengakui syahadat, shalat, puasa, haji, dan zakat juga menambahkan imamah . Imamah artinya keimanan sebagai suatu jabatan yang mempunyai sifat Ilahi, sehingga Imam dianggap bebas dari perbuatan salah. Dengan kata lain Imam adalah Ma'sum . Sedangkan dalam ajaran Sunni, yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia berkeyakinan bahwa hanya Nabi Muhammad saja yang Ma'sum. Imam hanyalah orang biasa yang dapat berbuat salah. Oleh karena Imam bebas dari perbuatan salah itulah maka Imam Khomeini di Iran mempunyai karisma sehingga dapat menguasai umat Syiah di Iran. Apapun yang diperintahkan oleh Imam Khomeini selalu diturut oleh umatnya....

Maluku Tahun 1922 (1) Lagu Kebangsaan Marseillaise Dimainkan Orkes Suling Murid Sekolah Zending

Oleh: H ROSIHAN ANWAR SALAH SATU perjalanan jurnalistik yang saya lakukan dan memberikan banyak pelajaran berharga untuk mengenal lebih akrab keadaan tanah air ialah kunjungan ke Maluku, khususnya ke daerah Ternate, Tidore, dan Bacan pada awal tahun 1948. Waktu itu Letnan Gubernur Jenderal Belanda Dr. H. J. van Mook telah membentuk apa yang dinamakannya Negara Indonesia Timur (NTT) dan Maluku. Saya wartawan Republikein yang pertama mengunjungi daerah NTT tersebut berkat perantaraan anggota parlemen NTT Arnold Mononutu yang bersikap pro Republik Indonesia. Dalam perjalanan itu saya berbicara dengan Sultan Ternate Mohammad Jabir Syah, Sultan Tidore Zainal Abidin Alting dan Sultan Bacan Mokhsin Kamarullah. Dengan menumpang kapal kecil dari Ternate saya sampai di Soa-Sio, ibukota kesultanan Tidore, di mana saya melihat sisa-sisa tembok sebuah benteng yang didirikan beberapa abad sebelumnya. Karena pengalaman ini dapatlah dimengerti mengapa dengan lebih daripada minat biasa saya membaca sua...