Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Pembantaian di Sumedang (5-Habis) Seandainya Ada Penuntut

D INAS Sejarah TNI Angkatan Darat (Disjarahad) mengaku tak memiliki banyak dokumen ihwal peristiwa sejarah di Sumedang. Menurut Kepala Subdivisi Bidang Dokumentasi dan Perpustakaan Disjarahad Cik Ryda Legawana, hanya ada beberapa catatan tentang peristiwa di Sumedang yang sudah dibukukan. "Antara lain, Sejarah Jawa Barat Suatu Tanggapan dan Bahasan, Siliwangi dari Masa ke Masa, Perang Kemerdekaan II, Riwayat Singkat Batalyon 11 April, Laporan Penelusuran Perjuangan di Sumedang, dan majalah Simpay Siliwangi ," katanya. Dari semua buku itu, hanya Siliwangi dari Masa ke Masa dan Riwayat Singkat Batalyon 11 April yang relevan dengan peristiwa di Sumedang. Kedua sumber itu pun cenderung punya isi yang serupa. Tak ada dokumen spesifik mengenai peristiwa pembakaran desa di Legok, pembantaian di Tomo, dan serangan bom udara di Situraja.  Semua dokumen yang ada hanya berbicara seputar peristiwa 11 April 1949 yang menewaskan Mayor Abdul Rachman, Kapten Edi Sumadipraja, dan regu pengaw...

Pembantaian di Sumedang (4) Karena Kesal, Belanda Membabi Buta

SERANGKAIAN serangan pasukan Belanda, termasuk pengeboman desa-desa di Sumedang, kemungkinan dipicu oleh terbunuhnya Kepala Staf Brigade Stoottroeper Divisi VII December (FC) Letnan Kolonel Malta pada 11 Maret 1949. Dalam serangan balasan Belanda, tentara Indonesia kehilangan Mayor Abdul Rachman, Kapten Edi Sumadipraja beserta regu pengawalnya. Mereka gugur di medan perang. Serangan balas dendam Belanda begitu membekas dalam ingatan Kolonel (Purnawirawan) Setia Syamsi yang saat itu tergabung dalam Batalion II/Tarumanegara. Soalnya, serangan itu meluas, termasuk peristiwa-peristiwa yang dialami oleh A Kasim, E Narpi, Anah, Utin, K Sasmedi, Apo, dan Otoy. Saat itu, ujar Syamsi, tentara Belanda mulai memasuki wilayah Sumedang untuk kemudian menuju Cirebon. "Jalan tercepat menuju Cirebon dari Bandung adalah melewati Sumedang karena sudah ada Cadas Pangeran. Mulai dari Cadas Pangeran itu, kami bersiap-siap menghadang tentara Belanda," kata Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia J...

Pembantaian di Sumedang (3) Dibom dari Udara, Legok Luluh Lantak

DI dalam foto itu, sepuluh atau lebih tentara Belanda sedang memandangi desa yang terbakar. Mereka asyik sekali. Sampai-sampai, kesan yang ditulis di belakang foto itu pun begitu ceria, "Kebakaran yang sungguh indah dan sangat menyenangkan melihat kampung terbakar". Foto itu beredar di dunia maya, melalui laman 7mei.nl/eerherstel3 milik Max van der Werff, seorang Belanda yang peduli terhadap persoalan kejahatan kemanusiaan di Indonesia. Foto tersebut diambil seorang veteran Belanda yang bertugas di kawasan Legok. Tak ada catatan resmi mengenai peristiwa itu. Namun, ingatan Otoy (89) dapat menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Pria tunawisma itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi pada desanya yang dikenal dengan sebutan Riung Gunung. Beberapa orang meyakini, rakyat Indonesia sendiri yang sengaja membakar desa agar tak diduduki Belanda. Namun, dengan haqqulyaqin , Otoy mengatakan bahwa Belandalah yang membakar desa di Kecamatan Legok itu. "Saat itu, t...

Pembantaian di Sumedang (2) Merah Darah Sungai Cilutung

PAGI itu, 64 tahun lalu, A Kasim muda berjalan menuju Sungai Cilutung yang membelah Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, tempatnya tinggal. Ia mengaku lupa hendak apa waktu itu. Namun, satu hal yang diingat, ia harus waspada karena tentara Belanda sedang mengejar pasukan Republik. Dari kejauhan, Sungai Cilutung mulai terlihat. Kasim terdiam ketika melihat air sungai--yang biasanya jernih--berubah menjadi merah. Kasim memperhatikan situasi dan matanya terpaku pada sesosok tubuh dengan luka tembak. Rupanya, merah air sungai itu berasal dari darah. Kasim menghampiri tubuh itu, membawanya ke sisi sungai, lalu menguburnya. "Saya kubur seadanya saja karena memang kondisinya seperti itu," kata Kasim yang kini berusia 83 tahun. Pengalaman itu tak membuatnya kaget. Bahkan, ia tak lagi ingin bertanya ihwal siapa yang membunuh orang itu dan apa alasannya. Semua orang yang tinggal di daerah itu sudah tahu jawabannya. Pria yang tubuhnya mengambang itu sudah pasti tahanan tentara Belanda ya...

Pembantaian di Sumedang (1) Lembaran Foto Menguak Misteri

ELMA Verhey, redaktur senior Evangelische Omroep (EO), stasiun televisi nasional Belanda, mendapatkan beberapa foto lama yang mengganggu perasaannya. Foto-foto itu ia dapatkan dari situs web 7mei.nl, milik seorang blogger Belanda, Max van der Werff. Di salah satu foto, terlihat beberapa serdadu Belanda sedang menyaksikan terbakarnya sebuah kampung. Di balik foto itu, terdapat tulisan tangan, "Kebakaran yang sungguh indah dan sangat menyenangkan melihat kampung terbakar". Lalu, Elma menghubungi Max, pemilik laman itu, yang memang getol menelisik berbagai kejahatan perang yang dilakukan tentara Belanda selama periode "aksi polisionil" di Indonesia, tahun 1945-1950. Max memberi tahu, foto-foto itu milik seorang veteran Belanda bernama Con Frencken yang sudah meninggal dunia. Pada 1948-1950, Con Frencken bertugas di Sumedang, tetapi foto-foto yang menunjukkan kekejian itu tidak memiliki catatan mengenai tempat dan tahun.  Dengan bantuan Max, Elma diperkenalkan kepada Xe...

Sekali Peristiwa di Bojongkokosan (2-Habis) Ironi di Bekas Lokasi Pertempuran

KEMARIN , semburat kesedihan tertampak jelas di wajah Satibi. Saat itu, ia tengah mengikuti peringatan Hari Juang Siliwangi di Lapangan Palagan Bojongkokosan, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Pria 94 tahun itu merupakan salah satu pelaku sejarah peristiwa heroik yang berlangsung 68 tahun silam. Ingatan Satibi melayang jauh ke belakang. Ia mengenang kawan-kawan seperjuangan yang telah mendahuluinya. Kenangan itulah yang membuat Satibi sedih. Namun, ia mencoba tegar. "Walaupun kadang lupa, kenangan pertempuran Bojongkokosan masih teringat. Kami melakukan penghadangan di sekitar tebing Bojongkokosan hingga ke Kota Sukabumi. Di sini, sejumlah teman dan saudara seperjuangan gugur," katanya. "Kami tidak rela tanah air ini kembali diinjak-injak Belanda." Beberapa hari sebelumnya, "PR" sempat menemui Satibi di kediamannya yang bersahaja di salah satu sudut Museum Bojongkokosan. "PR" juga menyambangi Sholeh, salah satu pelaku sejarah pertempuran ...

Sekali Peristiwa di Bojongkokosan (1) Sekutu Keok di Tangan Pejuang

S EPERTI biasa, suasana tenang dan udara sejuk mewarnai daerah tanjakan-turunan di Desa Bojongkokosan, jalur Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Di sana, terdapat sebuah tikungan yang populer dengan monumen mobil tua bekas tabrakan. Belakangan, monumen itu menjadi "ikon" jalur yang menghubungkan Sukabumi-Bogor tersebut. Namun, 68 tahun lalu, di tempat itulah terjadi peristiwa heroik yang mencengangkan dunia. Tepat pada 9 Desember 1945 (yang kini juga dijadikan peringatan Hari Juang Siliwangi), terjadi pertempuran dahsyat dan kontak senjata langsung antara para pejuang Indonesia dengan pasukan sekutu yang dipimpin Inggris. Ketika itu, Indonesia memasuki periode "Masa Bersiap".  Pada masa itu, di jalur Sukabumi-Bogor, terjadi pembumihangusan sejumlah tempat, mulai dari bangunan, perkebunan, hingga sarana perekonomian. Ini sebagai perlawanan para pejuang republik terhadap pasukan sekutu (yang diketahui dibonceng Belanda untuk mencoba menguasai kembali tanah air)....

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

Gelar Haji

Dadan Wildan Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara RI PROSESI ibadah haji tahun 1434 Hijriah telah selesai. Sepulangnya dari Tanah Suci Mekkah, para jemaah yang telah menunaikan rukun Islam kelima itu biasanya disebut Pak Haji atau Bu Hajah. H AL itu bagi masyarakat di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, Brunei, Darussalam, dan Thailand Selatan, seolah menjadi kewajiban.  Siapa sesungguhnya orang yang pertama kali menggunakan gelar haji di nusantara ini? Di Tanah Sunda, Naskah Carita Parahiyangan  mengisahkan bahwa orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji dari nusantara adalah Bratalegawa, putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, penguasa Kerajaan Galuh. Ia memilih hidupnya sebagai saudagar yang biasa berlayar ke Sumatra, Tiongkok, India, Iran, hingga ke Tanah Arab. Ia menikah dengan seorang Muslimah dari Gujarat. Melalui pernikahannya inilah, ia memeluk Islam dan sekitar tahun 1330, ia menunaikan ibadah haji. Sekembalin...

TRAGEDI WESTERLING: Belanda Meminta Maaf atas Pembunuhan Massal

JAKARTA, KOMPAS--Pemerintah Belanda secara resmi meminta maaf kepada keluarga korban pembunuhan massal yang dilakukan Kapten Raymond Pierre Paul Westerling dalam kurun wktu 1945-1949. Permintaan maaf tersebut disampaikan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan di Jakarta, Kamis (12/9). "Atas nama Pemerintah Belanda, saya ingin menyampaikan permintaan maaf atas kejadian itu. Saya juga meminta maaf kepada para janda dari Bulukumba, Pinrang, Polewali Mandar, dan Parepare," kata De Zwaan. Permintaan maaf itu terungkap di depan sejumlah kalangan, terutama para janda korban dan sejumlah keluarga mereka yang mendampingi. Menurut De Zwaan, waktu itu, tentara Belanda telah melakukan kekerasan di Sulawesi Selatan. Kekerasan tersebut menyebabkan banyak korban yang tidak berdosa dan penderitaan. Beberapa tahun terakhir, ibu-ibu dari Rawagede, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan yang suaminya tewas dalam tragedi itu mendatangi pengadilan Belanda. Mereka menuntu...

Korban Westerling Tolak Permintaan Maaf Belanda

JAKARTA, (PR),- Hubungan diplomatik Indonesia-Belanda dinilai ilegal. Soalnya, baik secara internasional maupun nasional, tidak ada dasar hukumnya. "Coba, apa landasan hukum hubungan Indonesia-Belanda. Ini perlu dipertanyakan dan dikaji oleh pakar hukum tata negara," kata sejarawan Anhar Gonggong dalam diskusi bertajuk "Permintaan Maaf Belanda atas Kasus Westerling" bersama anggota Dewan Perwakilan Daerah Abdul Aziz Kahhar Mudzakkar dan Ketua Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Batara Hutagalung di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/9/2013). Sampai saat ini, kata Anhar, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dan hanya mengakui Indonesia merdeka tanggal 27 Desember 1949. Begitu pula dengan Indonesia yang bersikukuh bahwa kemerdekaannya diproklamasikan 17 Agustus 1945. "Artinya, Belanda memang tak pernah ikhlas terhadap Indonesia. Karena sejak Indonesia merdeka, Belanda kehilangan lumbung ekonomi dan politik," tambah guru besar se...

Permohonan Maaf Belum Lengkap: Keluarga Korban Westerling di Tasikmalaya & Ciamis Harus Berani Bicara

BANDUNG, (PR).- Walau Pemerintah Belanda dikabarkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas kejahatan tentaranya, Kapten Raymond Westerling, selama masa periode pendudukan di Indonesia antara tahun 1946-1947, tetapi persoalan itu belum sepenuhnya selesai. Diduga masih banyak kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Westerling selama di Indonesia, bukan hanya di Sulawesi Selatan tahun 1946-1947, tetapi juga terindikasi dilakukan pula di Jawa Barat selama kurun waktu Januari-November 1948. Pengamat sejarah dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Dr Reiza Dienaputra, di Bandung, Senin (12/8/2013), menyebutkan, disinyalir ada kejahatan kemanusiaan lainnya yang dilakukan pasukan Belanda yang dipimpin Westerling terhadap warga sipil di Kab. Tasikmalaya dan Kab. Ciamis selama tahun 1948. Namun, sejauh ini, keluarga korban belum ada yang melapor sehingga ulah Westerling di Tasikmalaya dan Ciamis belum terungkap.  "Diharapkan pihak keluarga korban Westerling di Tasikmalaya dan Ciamis dap...

Belanda Meminta Maaf Atas Ulah Westerling

BANDUNG, (PR).- Pemerintah Belanda menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas kejahatan yang dilakukan tentaranya selama masa periode pendudukan di Indonesia antara tahun 1946-1947. Mereka juga memberikan ganti rugi terhadap keluarga korban pembantaian yang dilakukan tentara mereka di Indonesia para periode tersebut. Dikutip dari bbc.co.uk, Minggu (11/8/2013), dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis (9/8/2013) waktu setempat, permintaan maaf secara terbuka oleh pemerintah Belanda terkait kasus pembantaian rakyat Indonesia oleh tentara Belanda di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling di Sulawesi Selatan tahun 1946-1947. "Duta Besar Belanda di Indonesia yang mewakili negara ini akan menyampaikan permintaan maaf," bunyi pernyataan tersebut. Namun, belum disinggung soal ulah pembantaian oleh pasukan yang dipimpin Westerling lainnya, dalam peristiwa penembakan terhadap pasukan Siliwangi di Jln. Lembong, Bandung. Ini terjadi pada peristiwa pembantaian oleh Angkatan Pe...

Hari Kebangkitan Nasional

Oleh DAOED JOESOEF J ika katak tercemplung ke dalam baskom berisi air mendidih, langsung melompat ke luar, maka ia selamat. Jika tercemplung ke dalam baskom berisi air dingin dan air berangsur-angsur dipanaskan, ia akan tetap berenang ria di baskom, merasa kebutuhan alaminya diperhatikan, sampai akhirnya mati sebagai rebusan konyol, sebab ketika sadar bahwa air semakin mendidih, ia tidak kuasa lagi melompat ke luar dari baskom karena kekuatannya sudah habis dikuras gerakan renang ria. Nasib kita akan sama dengan keadaan katak dalam kasus kedua itu, terbuai oleh kekeliruan dari kebijakan penguasa negeri di hampir semua bidang kehidupan. Dampak kekeliruan itu mudah dipahami dalam konteks suhu yang berangsur-angsur memanas. Ia tak begitu tragis dari hari ke hari, tetapi beda antara prareformasi dan pascareformasi, bahkan antara sekarang dan masa depan, sungguh tragis. Sisa-sisa kesadaran Maka, mari bangkit di Hari Kebangkitan Nasional. Sebelum terlambat kumpulkan sisa-sisa kesadaran, jang...