Langsung ke konten utama

Pembantaian di Sumedang (1) Lembaran Foto Menguak Misteri

ELMA Verhey, redaktur senior Evangelische Omroep (EO), stasiun televisi nasional Belanda, mendapatkan beberapa foto lama yang mengganggu perasaannya. Foto-foto itu ia dapatkan dari situs web 7mei.nl, milik seorang blogger Belanda, Max van der Werff. Di salah satu foto, terlihat beberapa serdadu Belanda sedang menyaksikan terbakarnya sebuah kampung. Di balik foto itu, terdapat tulisan tangan, "Kebakaran yang sungguh indah dan sangat menyenangkan melihat kampung terbakar".

Lalu, Elma menghubungi Max, pemilik laman itu, yang memang getol menelisik berbagai kejahatan perang yang dilakukan tentara Belanda selama periode "aksi polisionil" di Indonesia, tahun 1945-1950. Max memberi tahu, foto-foto itu milik seorang veteran Belanda bernama Con Frencken yang sudah meninggal dunia. Pada 1948-1950, Con Frencken bertugas di Sumedang, tetapi foto-foto yang menunjukkan kekejian itu tidak memiliki catatan mengenai tempat dan tahun. 

Dengan bantuan Max, Elma diperkenalkan kepada Xeni Frencken, cucu Con Frencken. Xeni, perempuan berusia 22 tahun, menunjukkan album foto warisan kakeknya kepada Elma. Album itu berisi foto-foto serupa dengan yang dilihat Elma. Akan tetapi, lagi-lagi, tak ada catatan jelas di mana dan kapan foto-foto itu diambil, kecuali sebuah foto bertuliskan "Legok".

Beruntung, bersama album itu, terdapat buku agenda tahun 1949 yang berisi catatan Con Frencken tentang nama dan alamat teman-temannya sesama veteran perang. Elma pun mencari para veteran yang tercatat di buku agenda itu. "Beberapa dari mereka masih hidup. Ternyata, salah satu dari mereka punya foto yang sama dengan yang ada di album. Yang berbeda hanyalah tulisan tanggal dan tempat di balik foto itu," ucap Elma saat kami berbincang melalui pos elektronik, November 2013 lalu.

**

DARI wawancaranya dengan para veteran, Elma mendapat informasi bahwa foto-foto itu diambil di daerah Sumedang, Jawa Barat, tempat Con Frencken dan kawan-kawan pernah bertugas. Namun, tidak pernah ada referensi tertulis tentang aksi pasukan Belanda di Sumedang sehingga tidak dapat diketahui dengan jelas dalam rangka apa pembakaran kampung itu.

Untuk mendapatkan informasi lebih jauh, Elma kembali meminta bantuan Max. Elma pun dihubungkan dengan Ady Setyawan, peneliti Komunitas RoodeBrug Soerabaia. Ady membantu Elma dengan melakukan penelitian di wilayah Sumedang. Penelitian Ady menunjukkan sebuah fakta baru yang tidak pernah tertulis di catatan sejarah resmi: serangan udara tentara Belanda di Situraja, Sumedang.

"Saya sama sekali tidak tahu soal pengeboman. Kemudian saya membaca koran beberapa waktu lalu yang memuat wawancara dengan Louis Zweer, peneliti yang sedang menulis tesis mengenai sensor tertulis pada enam bulan pertama 1949. Dia menyebutkan, setidaknya terdapat 1.200 pengeboman di desa dan kampung di Jawa saja. Desa dan kampung tersebut diserang dengan menggunakan bom dan artileri. Ketika mendengar kabar adanya pengeboman, saya langsung menghubungi salah satu veteran. Dia mengakui (pengeboman) itu," tutur Elma.

Demi mendapatkan kebenaran yang lebih utuh, Elma menugaskan tim peliput ke Sumedang. Mereka adalah Klaas van Kruistum (presenter), Dirk-Jan van den Aardweg (sutradara), Rene Wolf (soundman), dan Johan Dijkstra (kamerawan). Xeni Frencken, cucu Con Frencken, pun ikut terbang sejauh 11.505 kilometer dari Belanda ke Indonesia.

Xeni membawa foto-foto warisan kakeknya. Dia memperhatikan lebih detail foto-foto itu. Foto-foto yang menggambarkan dengan jelas bagaimana tentara Belanda menyaksikan pembakaran sebuah desa. Juga foto-foto yang memperlihatkan puing-puing rumah yang telah hangus terbakar. Gambaran asap yang mengepul, tiang-tiang yang rapuh, dan tentara Belanda bertubuh tinggi seperti asyik menonton sebuah pertunjukan, membuat wanita muda itu merasa tertampar. Bagaimana tidak, Xeni tersadar bahwa kakeknya terlibat dalam sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan.

**

DI Sumedang, Xeni bersama tim peliput EO, bertemu dengan para saksi hidup serangan Belanda. Kesaksian orang-orang yang sudah renta itu membuat emosi Xeni campur aduk. Terlebih ketika dia mendengar cerita Utin, perempuan renta di Situraja, mengenai gadis-gadis yang saat itu dibawa pergi oleh tentara Belanda. Seketika, wajah Xeni menegang. Ia tak kuat membayangkan apa yang terjadi dengan para gadis itu.

"Tanpa perlu dijelaskan lagi oleh Nenek Utin, kami tahu apa yang terjadi. Sebelumnya, kami sudah bertanya kepada para veteran di Belanda dan itu bukan sesuatu yang menyenangkan," kata Xeni. Ia terlihat begitu terpukul.

Ia tak lagi mampu menahan perasaan ketika melihat sebongkah mortir di sudut taman sekolah dasar, tak jauh dari Alun-alun Situraja. Tangisannya pecah. Bayangan kekejaman yang dilakukan Belanda membuat hati wanita berambut pirang itu tersayat. "Dari awal, saya sudah ingin menangis, tetapi saya tahan. Saya tak ingin menangis di hadapan mereka (tim). Tapi, kali ini, saya tak bisa lagi menahan," kata Xeni sambil terus menyeka air matanya dengan tisu.

Tekanan batin perempuan itu belum berakhir. Di Tomo, dia termenung memandangi puing-puing jembatan. Warga setempat berkisah, di bawah jembatan itu, banyak orang Sumedang dieksekusi tentara Belanda.

Walau pemandangan yang dilihatnya tak menyenangkan, mengunjungi Sumedang bagai sebuah ziarah bagi Xeni. Ingatannya menerawang kepada sosok sang kakek. Ia membayangkan sosok sang kakek. Ia membayangkan bagaimana Con Frencken bertugas di tanah  ini dan mempertaruhkan nyawa demi tugas yang dibebankan oleh negaranya.

Perasaannya bercampur aduk. Di satu sisi, Xeni merasa semakin dekat dengan sosok kakeknya. Namun, di sisi lain, ia merasa ikut menanggung rasa bersalah dengan apa yang terjadi pada rakyat Indonesia selama masa pendudukan Belanda.

Perasaan serupa mendera Klaas van Kruistum, presenter EO. Bahkan, ia berani memastikan, aksi tentara Belanda di wilayah itu sebagai kejahatan perang. "Dengan mengeksekusi dan membuang mayat korban ke sungai, itu sudah jadi kejahatan perang. Terlepas dari apakah itu perintah atasan atau bukan, para tentara yang melakukan eksekusi seharusnya mengubur mayat korban dengan layak. Bukan membuangnya ke sungai begitu saja," tutur Klaas.

Kenyataan yang ia lihat dan kisah-kisah yang ia dengar mendorong Xeni untuk melakukan tindakan yang mungkin tak akan berani dilakukan orang lain. Dia menelepon Liesbeth Zegveld, seorang pengacara Belanda yang giat membela korban-korban kejahatan perang.

Xeni berpikir, sudah seharusnya isu kejahatan perang itu diangkat dan para pelakunya dituntut atas apa yang telah mereka perbuat. Meski itu artinya dia harus menyaksikan kakek serta para veteran lain di negaranya dituntut di pengadilan. "Dengan terungkapnya kenyataan ini, Pemerintah Belanda beserta pasukan yang terlibat saat itu bisa dituntut karena telah melakukan kejahatan perang," ujar Xeni.

Berkaca dari kasus Rawagede yang berakhir dengan kemenangan pihak penggugat, kasus yang terjadi di Sumedang ini juga sangat berpotensi untuk dibawa ke pengadilan Hak Asasi Manusia. Aksi tentara Belanda tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Hal tersebut dipertegas dengan pernyataan Liesbeth Zegveld yang memang menangani kasus Rawagede.

Saat wawancara beberapa waktu lalu, Liesbeth mengatakan, sangat mungkin peristiwa yang terjadi di Sumedang dikategorikan sebagai kejahatan perang. "Tapi kita butuh lebih banyak bukti. Bukti berdasarkan fakta sangat penting," katanya.

Profesor hukum kemanusiaan internasional di Universitas Leiden itu juga mengatakan, bukti-bukti bisa berupa pernyataan saksi dan bukti tertulis. Satu hal penting untuk bisa membawa kasus itu ke pengadilan adalah adanya penuntut. Tidak adanya penuntut akan menutup kemungkinan berlanjutnya kasus tersebut. "Untuk bisa membawa kasus ini ke pengadilan, harus ada korban yang meminta saya untuk melakukan penuntutan. Jadi, harus ada dari Indonesia yang tertarik untuk membawa kasus ini ke pengadilan," ujar Liesbeth yang juga anggota Departemen Hukum Internasional dan Hak Asasi Manusia di Böhler itu. (Andra Oktaviani, penulis lepas)***



Sumber: Pikiran Rakyat, 16 Desember 2013



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PSII, Sang Pelopor

DATA BUKU Judul : Partai Syarikat Islam Indonesia: Kontestasi Politik hingga Konlik Kekuasaan Elite Penulis : Valina Singka Subekti Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia Cetakan : I, 2014 Tebal : xxii + 235 halaman ISBN : 978-979-461-859-2 OLEH AHMAD SUAEDY T idak bisa dimungkiri, Syarikat Islam (SI) yang sebelumnya bernama Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhoedi di Solo tahun 1905 merupakan pelopor nasionalisme Indonesia. Ketika itu SDI berorientasi pada perdagangan. Mereka ingin melawan monopoli para pedagang Tiongkok dan Timur Asing lainnya yang diberi kemudahan oleh Belanda. Sebaliknya, para pedagang Muslim dan pribumi mendapatkan diskriminasi. Kemudian HOS Tjokroaminoto mengubah semuanya, dari yang hanya perdagangan, sosial, dan keagamaan menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada 1929. Dengan perubahan itu maka agenda politiknya menjadi kian jelas, yaitu kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan Belanda (Islam and Politics in the Thought of Tj...

Minggu Ini 40 Tahun Lalu: Teriakan "Merdeka" oleh Tentara Jepang Mengecoh Banyak Pemuda Pejuang

Lolos dari Maut Karena Tertindih Mayat Teman Sendiri Markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) itu terletak di kaki sebuah bukit kecil, yang oleh warga Kota Semarang dikenal sebagai kompleks mugas, menghadap utara ke arah Jalan Pandanaran. Di situlah pemuda-pemuda kita bergabung. Mereka pada umumnya berasal dari bekas tentara PETA (Pembela Tanah Air) yang telah mendapat latihan kemiliteran dari pasukan Jepang sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Di antara mereka adalah Abidin , berpangkat Budanco (setingkat Sersan). Sebelum bergabung dengan rekan-rekannya di markas BKR Semarang, Budanco Abidin bermarkas di Desa Dayakan, Weleri, Kendal, yakni di markas Daini Daidan (Batalyon II) Peta. Setelah ia bersama rekan-rekannya semarkas dilucuti Jepang gara-gara pemberontakan Supriyadi  di Blitar (Jatim) sekitar 1943, ia kembali ke rumahnya di Semarang, dengan memperoleh bekal pakaian, uang, dan lain-lain, kecuali senjata. Selama kurang lebih dua tahun, Abidin sebagai pemuda pejua...

Makna Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Oleh: H. Anton DJAWAMAKU CSIS Realita kita sebagai suatu masyarakat majemuk menyebabkan persoalan mengenai persatuan dan kesatuan bangsa, akan tetap aktual sepanjang sejarah Bangsa dan Negara. Dewasa ini kadar aktualitas persoalan persatuan dan kesatuan bangsa terasa semakin meningkat, oleh karena sebagai bangsa, kita semua berada dalam suatu proses penataan kembali seluruh kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan kita sesuai kehendak konstitusi 1945. Dalam pada itu muncul kekhawatiran di sementara kalangan masyarakat kita. Mereka beranggapan bahwa membangun masyarakat Indonesia yang majemuk berarti memberikan kemungkinan sebesar-besarnya kepada kemajemukan itu untuk berkembang. Anggapan ini sebenarnya mengabaikan hakikat masyarakat kita: masyarakat "bhinneka tunggal ika". Berkaitan dengan hal itu kiranya perlu ditelaah apa makna persatuan dan kesatuan bangsa atau persatuan Indonesia, sila ketiga Pancasila. Makna Persatuan dan Kesatuan dalam Kebangkitan Nasional Masa kebangkit...

92 Tahun Syarikat Islam: Tonggak Kebangkitan Nasional yang Makin Terlupakan

Ketika Republika  menghubungi seorang kenalan di Banjarnegara, Jawa Tengah ihwal rencana meliput HUT ke-92 SI (Syarikat Islam) di Alun-alun "Kota Gilar-Gilar" ini, kawan itu justru keheranan. "Lho, masih hidup tho , Syarikat Islam? Saya kira sudah mati," ucapnya serius. Tentu itu pertanyaan yang menyiratkan kian kurang dikenalnya organisasi yang pernah mengharubirukan perpolitikan nasional zaman Hindia-Belanda. Pertanyaan serupa muncul pula dari sejumlah aktivis ormas Islam yang sempat ditemui Republika  dalam perjalanan ke kota itu. Agaknya, hanya di Banjarnegara lah SI punya pengaruh cukup besar. Ini diakui sejumlah fungsionaris DPP SI yang dikonfirmasi Republika  di sela-sela acara itu. Jumlah anggota SI sendiri, tutur Sekretaris Panitia Nasional ke-92 SI, H Barna Soemantri, kini sekitar 3,6 juta orang. Jumlah anggota yang relatif tak terlampau besar dibandingkan misalnya NU atau Muhammadiyah. Perhatian media massa juga tak banyak. HUT SI tingkat nasional yang di...

Sarekat Islam dalam Sejarah Kemerdekaan

P erpecahan di tubuh Partai Sarekat Islam Indonesia selayaknya tidak disertai surutnya ingatan akan perjuangan organisasi Islam terbesar pada zamannya ini. Melalui penulisan sejarah, generasi kini dan mendatang bisa mengapresiasi sumbangan mereka yang amat besar bagi terbentuknya Republik Indonesia. Dalam buku Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945 (Pustaka Pelajar, 2012), Nasihin memaparkan, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) merupakan perkumpulan rakyat bumiputra, terutama dari kalangan Islam yang berupaya bersatu melawan praktik kolonialisme Belanda. Terbentuknya Sarekat Dagang Islam pada 1909, sebagai awal terbentuknya PSII, dilandasi semangat gerakan Pan Islamisme di Timur Tengah pada awal abad ke-20. Gerakan ini dimaknai sebagai bentuk penyatuan seluruh umat Islam dalam satu ikatan dan rasa persaudaraan. Semangat Pan Islamisme yang dibawa ke Indonesia oleh tokoh-tokoh pergerakan seusai beribadah haji ini disambut hangat. Islam dianggap mampu menjadi lokomotif gerakan bumiput...

Maluku Tahun 1922 (1) Lagu Kebangsaan Marseillaise Dimainkan Orkes Suling Murid Sekolah Zending

Oleh: H ROSIHAN ANWAR SALAH SATU perjalanan jurnalistik yang saya lakukan dan memberikan banyak pelajaran berharga untuk mengenal lebih akrab keadaan tanah air ialah kunjungan ke Maluku, khususnya ke daerah Ternate, Tidore, dan Bacan pada awal tahun 1948. Waktu itu Letnan Gubernur Jenderal Belanda Dr. H. J. van Mook telah membentuk apa yang dinamakannya Negara Indonesia Timur (NTT) dan Maluku. Saya wartawan Republikein yang pertama mengunjungi daerah NTT tersebut berkat perantaraan anggota parlemen NTT Arnold Mononutu yang bersikap pro Republik Indonesia. Dalam perjalanan itu saya berbicara dengan Sultan Ternate Mohammad Jabir Syah, Sultan Tidore Zainal Abidin Alting dan Sultan Bacan Mokhsin Kamarullah. Dengan menumpang kapal kecil dari Ternate saya sampai di Soa-Sio, ibukota kesultanan Tidore, di mana saya melihat sisa-sisa tembok sebuah benteng yang didirikan beberapa abad sebelumnya. Karena pengalaman ini dapatlah dimengerti mengapa dengan lebih daripada minat biasa saya membaca sua...

Maluku Tahun 1922 (2) Sultan Bacan Gadaikan Kebun Kelapa Buat Bayar Hutang pada Orang Cina

Oleh: H. ROSIHAN ANWAR KETIKA  mengunjungi daerah TTB (Ternate, Tidore, Bacan) bulan April 1948, saya tidak melihat ada pengusaha swasta Belanda di sana. Akan tetapi pada tahun 1922, tatkala Dr W Ph Coolhaas menjadi Kontelir Bacan, di tempat itu terdapat beberapa orang Eropah dari Batjan - maatschappij. Perusahaan ini didirikan tahun 1881 oleh Jonkheer Elout van Soeterwoude yang mendapat hak monopoli dari pemerintah Hindia Belanda menggarap semua logam galian, hutan, lahan liar, dan persemaian mutiara di daerah itu untuk masa 75 tahun. Pendiri Batjan - maatschappij mengira Bacan akan menjadi "Deli kedua", tetapi harapan itu tidak terwujud. Lahan di Bacan jelek adanya, emas tidak banyak tersimpan dalam tanahnya. Penduduk Bacan tidak mau bekerja sebagai kuli di onderneming, sehingga harus didatangkan tenaga kuli dari pulau Jawa yang memakan banyak ongkos. Sultan Punya Empat Isteri DIBANDINGKAN dengan Soa Sio, ibu kota Tidore, maka tempat tugasnya yang baru yaitu Labuha, ibukota...