Pengantar Periode penting dalam sejarah bangsa kita berlangsung dari tahun 1944 hingga sekitar 1949. Tahun-tahun sebelum kemerdekaan dan beberapa tahun sesudahnya tercatat sebagai bagian yang penuh dengan peristiwa penting, yang menentukan kelanjutan hidup negara dan bangsa Indonesia. Sebagian besar tokoh-tokoh perjuangan kita saat ini sudah tiada. Yang masih hidup pun barangkali sudah dalam keadaan uzur dan sulit untuk mengingat kembali setiap peristiwa secara akurat. Untunglah banyak juga di antara para tokoh yang terlibat langsung dengan perjuangan kemerdekaan itu yang memiliki catatan untuk diterbitkan, atau menyusun buku kenang-kenangan. Aboe Bakar Loebis adalah satu di antara banyak tokoh pejuang yang sudah menuliskan memoarnya. Aboe Bakar Loebis turut serta dalam berbagai kegiatan persiapan proklamasi kemerdekaan dan selama satu tahun menjadi staf Biro Perjuangan, Kementerian Pertahanan. Ia juga ikut mendirikan dan menjadi wartawan surat kabar Berita Indonesia. Aboe Bakar b...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...