JUWONO SUDARSONO. Pengajar pada Jurusan Ilmu Politik dan Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Memperoleh gelar Ph.D. dari London School of Economics, Inggris, dengan disertasi berjudul Indonesia--United States Relations 1966-1975: A Political, Economic and Security Study (1978) . Diplomat Angkatan 45 menjalankan perang propaganda dengan teknologi media sederhana: dari mesin stensil sampai cat tembok. Mengapa kini politik luar negeri Indonesia kurang berhasil mengangkat citra bangsa? I P OLITIK luar negeri Indonesia adalah wajah yang kita tampilkan di medan internasional. Wajah itu mencerminkan segala yang ada di dalam sanubari bangsa: harapan, kekecewaan, kegusaran, tantangan, dan kembali lagi ke harapan. Tujuan pokok politik luar negeri selalu dirumuskan sama: untuk kepentingan nasional. Tapi, kita tahu, interpretasi kepentingan nasional itu selalu berbeda--sesuai dengan siapa yang memegang kendali pemerintahan, sifat dan corak tatanan int...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...