P ada abad ke-18, tercatat nama sastrawan besar Raja Ali Haji yang karya-karyanya sarat dengan muatan sejarah sehingga menarik perhatian banyak kalangan, termasuk sarjana asing untuk dijadikan bahan studi. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah Tuhfat al-Nafis yang ditulisnya bersama dengan ayahnya, Raja Ahmad Haji. Tuhfat al-Nafis merupakan epik penting tentang sejarah Bugis di dalam Kesultanan Malaka. Sesuai dengan latar situasi yang dialami Raja Ali Haji pada masa itu, tak mengherankan jika tema Tuhfat al-Nafis erat berkaitan dengan hukum dan peperangan; dan secara sangat mengesankan ia mengangkat sejarah tentang kiprah orang Bugis di Kalimantan, Kepulauan Riau dan Semenanjung Malaka pada abad ke-17 dan abad ke-18. Selain itu, Tuhfat al-Nafis juga berisi silsilah raja-raja Melayu, Bugis, Siak, Johor, sampai didirikannya Singapura oleh Raffles. Setiap peristiwa disertai tarikh dan juga sumber-sumber yang digunakannya. Dari perspektif sejarah, apa yang m...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...