NISHIJIMA SHIGETADA . Datang ke Indonesia pada 1936. Bekerja pada Toko Serba Ada Chiyoda Hyakatten, Surabaya, sampai Perang Dunia II meletus, dan giat dalam gerakan bawah tanah. Kemudian bertugas di dinas Angkatan Laut Jepang di Jakarta. Ia menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Tulisannya tentang pengalamannya sebagai saksi sejarah dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dimuat dalam buku The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942-1945 terbitan Ohio University, AS (1986). Sekelompok perwira Angkatan Laut Jepang mendirikan Sekolah Kemerdekaan untuk menggembleng pemimpin-pemimpin Indonesia. Siapa saja mereka? Apa peran mereka di hari-hari menjelang Proklamasi? Inilah catatan pengalaman perwira AL Nishijima Shigetada. T IDAK terlalu lama sebelum Jepang menyerah, ada beberapa kelompok yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Adam Malik, dalam bukunya, Riwayat dan Perjuangan Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 , menyebutnya sebagai "kekuatan-kekuatan r...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...