Oleh Moh Hari Soewarno K etika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan di Jakarta, 17 Agustus 1945, semua orang menyambut gembira. Mereka merasa sudah terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Namun perasaan merdeka itu segera terusik. Ketika terdengar lewat radio, bahwa pasukan Sekutu (Inggris) tiba di Surabaya yang diboncengi pasukan Belanda, kita pun rasanya cukup khawatir, namun tetap tegar akan mempertahankan kemerdekaannya. Ketika itu saya sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sekolah tertinggi di kabupaten-kabupaten. Sekolah saat itu juga merupakan pelopor perjuangan, tentu saja bersama Tentara Rakyat (TRI) yang sebelumnya dikenal sebagai Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bentukan Urip Soemoharjo yang meminta Bung Karno-Hatta agar segera disusul pembentukan pasukan perlawanan terhadap musuh yang sudah mulai membahayakan kemerdekaan kita yang baru saja diproklamasikan. Di sekolah kita memperoleh buku tipis dari kertas merang yang berisi rama...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...