Oleh : H. ROSIHAN ANWAR KONTELIR Drs. A. Visser, setelah memutuskan menetap tinggal di Kota-Baroe, mengadakan peninjauan di Poeloe-Laoet bersama opseter Pekerjaan Umum. Dengan menggunakan sebuah truk, mereka pergi ke tambang batu bara. Tatkala tentara Sekutu mulai membom Poeloe-Laoet, maka Jepang menyembunyikan semua barang yang dapat dipindahkan di bawah pohon-pohon sekitarnya, akan tetapi bombardemen Sekutu begitu tuntas, sehingga tambang batu bara rusak berat. Yang masih tersisa dibiarkan berkarat di bawah rumput tinggi. Ada beberapa punggung pasir yang disuruh gali oleh Visser. Keluarlah dari situ blok silinder yang retak, gigi roda yang disembunyikan, rel yang masih utuh, bahkan kereta-kereta kecil pengangkut barang. Yang merupakan masalah yang lain sifatnya ialah rumah sakit. Gedungnya utuh. Pimpinannya berada dalam tangan baik seorang mantri jururawat Jawa yang sangat cerdas, yang memang tidak menyembunyikan dia adalah pro Soekarno, tetapi menganggap sebagai kewajibannya berada ...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...