Dari Bangsa ke Negara S EPERTI Sumpah Pemuda pada 1928, Proklamasi bukan saja menyimpulkan suasana historis, tetapi juga segera menancapkan diri sebagai paradigma baru. Perdebatan bisa terjadi, tetapi pengingkaran terhadap validitas Proklamasi adalah suatu pengkhianatan. Validitas Proklamasi sebagai paradigma baru didukung oleh peristiwa-peristiwa historis sesudahnya. Jika rapat raksasa di Ikada (September 1945) adalah pengesahan akan wibawa pemerintah baru di mata rakyat, Peristiwa 10 November di Surabaya (Hari Pahlawan) adalah simbol yang teramat keras akan tekad yang pantang beranjak dari Proklamasi. Dalam semangat kepahlawanan ini, Bandung tercinta jadi "lautan api", dan "Saaman", adik bungsu dari Keluarga Gerilya , memberikan segala-galanya, termasuk dirinya, demi perjuangan. Demikian hebat keterlibatan dalam perjuangan yang seakan-akan menempuh " Jalan tak ada ujung ", sehingga "guru Isa", yang penakut, mendapatkan kejantanannya kembali. D...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...