SEMASA Perang Kemerdekaan Indonesia, khususnya agresi militer I Belanda "Operasi Produk", 21 Juli s.d. 5 Agustus 1947, kawasan Purwakarta pun diduduki pasukan Belanda. Salah satu sarana vital yang direbut Belanda adalah Stasiun Kereta Api Purwakarta, selaku penghubung Bandung-Jakarta serta dari Cikampek percabangan ke Subang dan Cirebon. D I kawasan utara tersebut, selain sebagai sumber produksi padi, simpang jalur Purwakarta-Cikampek menghubungkan sejumlah kawasan perkebunan karet, sisal, kapuk, dll. Karena itulah, utara Jawa Barat dari titik Karawang-Cikampek-Purwakarta menjadi sasaran utama Operasi Produk oleh pasukan Belanda. Titik tersebut terkoneksi oleh jalur kereta api, di mana jatuhnya Stasiun Purwakarta pada Jumat, 25 Juli 1947, menjadi perhatian media asing di kawasan Australia dan Singapura yang memberitakan berlangsungnya Operasi Produk Pasukan Belanda itu. Kabar jatuhnya Stasiun Kereta Api Purwakarta diberitakan secara serentak oleh tiga surat kabar pada Sabtu ...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...