P ENINGGALAN sisa-sisa jalur kereta api dan hamparan pohon kelapa masih menjadi suasana khas lintasan Banjar ke Pangandaran. Itulah peninggalan kejayaan kawasan tersebut, yang semasa Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 lalu, juga menjadi salah satu upaya pendudukan kembali oleh pihak Belanda. Berdasarkan sejumlah catatan "PR", pada zaman kolonial sampai tahun 1942 lalu era pendudukan pasukan Belanda tahun 1946-1949, Pangandaran merupakan pantai yang merupakan salah satu kawasan teluk yang disebut Mauritsbaai. Nama Pangandaran sebenarnya merupakan nama sebuah perkebunan yang mengusahakan tanaman kelapa, yang sejak sekitar tahun 1995 - 1998 sudah musnah berganti menjadi kawasan wisata pantai. Informasi dari Nationaal Archief Belanda, pada bulan Oktober 1947, pasukan Belanda mendaratkan pasukan menggunakan sebuah kapal landing ship tank (LST) bernama "Pelikaan" di Pangandaran. Pasukan Belanda tersebut langsung menguasai jalur rel kereta api, jembatan, ruas jalan ut...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...