Benarkah Indonesia telah merdeka? Begitulah kira-kira keraguan masyarakat Tegal ketika terdengar santer tentang Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta. Kesangsian itu timbul karena sistem komunikasi yang belum sempurna waktu itu dan pihak penguasa Jepang yang selalu merahasiakan kejadian yang sebenarnya. Pada 19 Agustus 1945, berita tentang proklamasi semakin santer dan ramai dibicarakan oleh para pemuda Tegal. Keragu-raguan itu sedikit reda setelah para prajurit Heiho dan Peta saling berdatangan kembali ke rumah masing-masing karena telah dibubarkan oleh penguasa Jepang di daerah Tegal. Dalam situasi perjuangan yang belum menentu dan belum diketahui secara pasti, muncul 4 orang pemuda masing-masing Moh Yusup, Iding Rana keduanya bekas Sodhanco Peta, Sumarna, dan Kadarisman. Mereka berempat mempelopori para pemuda dan mendatangi Walikota Tegal R Soengeb Reksoatmodjo, mendesak agar segera mengumumkan/menyatakan kemerdekaan yang telah diproklamasika...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...