Oleh: Drs RIYONO PRATIKTO SENIN 15 Oktober 1984 genap 39 tahun pecahnya pertempuran lima hari di Semarang yang terkenal. Dengan kata lain hari Senin 15 Oktober 1945 yang lalu, pertempuran itu berkobar. Namun repro fotokopi "Warta Indonesia", sebuah koran tahun 1945 yang sudah dua kali kita simak, bertanggal 22 Oktober 1945. Selama pertempuran lima hari di Semarang itu, "Warta Indonesia" tidak terbit, yaitu sejak 15 Oktober sampai dengan 20 Oktober 1945. Baru hari Senin 22 Oktober 1945 terbit kembali, dengan halaman depan sebelah kiri atas memuat surat yang ditujukan kepada rakyat Semarang dari Gubernur Jawa Tengah, Mr. Wongsonagoro. Juga halaman depan sebelah kanannya memuat maklumat-maklumat Gubernur Jawa Tengah itu. Itulah sebabnya sekali ini repro fotokopi itu mengenai tanggal seminggu yang akan datang 39 tahun yang lalu. Pertempuran Semarang merupakan salah satu dari rangkaian berbagai pertempuran yang terjadi di Tanah Air kita setelah Proklamasi Kemerdekaan, y...
P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...