Langsung ke konten utama

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita.

Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 1945 diumumkan oleh Pemerintah RI tentang pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dengan tugas menyelenggarakan keamanan dan ketertiban di dalam negeri; dan dalam perebutan kekuasaan dari tangan Jepang. Pembentukan BKR mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat di mana-mana, khususnya para pemuda.

Khusus di Jakarta, Pemerintah RI pada tanggal 1 September 1945 telah menetapkan M. Moefreini Moe'min sebagai Ketua/Pimpinan BKR Jakarta. Waktu itu kita belum cukup mempunyai pemuda-pemuda yang berpendidikan militer, tetapi kaya dengan pemuda-pemuda yang mempunyai semangat dan hasrat yang menyala-nyala.

Beruntung, karena pemuda-pemuda bekas PETA, HEIHO, KAIGUN, SEINENDAN, KEIBODAN, dan SUISINTAI serta para pemuda bekas KNIL yang memiliki semangat kemerdekaan, telah dapat dimanfaatkan tenaga-tenaganya untuk membina pemuda-pemuda lainnya dalam bidang kemiliteran, terutama dalam mewarisi penggunaan tehnik-tehnik senjata api, sehingga dalam waktu sangat singkat para pemuda sudah dapat menggunakan senjata-senjata api yang dapat dirampasnya dari serdadu-serdadu Jepang atau Belanda. 

Di samping itu, didapati organisasi perjuangan yang lain seperti: Angkatan Pemuda Indonesia (API), Angkatan Muda (AM), Pemuda Putri Indonesia (PPI), Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) dan lain sebagainya. Meskipun berlainan organisasi, tetapi tekad semua pemuda adalah berontak untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang dan bersedia mengorbankan jiwa-raga untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan/negara RI.

Rapat Raksasa di lapangan Ikada (sekarang lapangan Monas Jakarta) tanggal 19 September 1945 merupakan suatu ujian pertama bagi BKR dan Badan-badan Perjuangan di Jakarta, karena pihak Jepang dengan senapna sangkur terhunus telah mengepung para peserta rapat. Senjata-senjata perang dan kendaraan-kendaraan berlapis baja ditunjukkan seolah-olah akan menghabisi rakyat/pemuda kalau tetap ingin merdeka. Tetapi para pemuda tidak patah semangatnya, malah kejadian tersebut semakin membakar semangat cinta tanah air dan kemerdekaan, sehingga kemudian terjadi perebutan-perebutan senjata Jepang.

SESUDAH RAPAT RAKSASA IKADA

Dalam usaha menghimpun suatu kekuatan serta agar pimpinan perjuangan ada di bawah satu komando, maka pada tanggal 31 September 1945 lahirlah Badan Koordinasi dari Badan-badan Perjuangan tersebut. Di samping itu keluarlah Dekrit Presiden RI tanggal 5 Oktober 1945 yaitu dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR), maka Negara RI mempunyai tentara yang akan menegakkan kekuasaan Pemerintah RI.

Sesudah peristiwa Rapat Ikada 19 September 1945, timbullah peristiwa-peristiwa kepahlawanan pemuda, di mana Badan-badan Perjuangan Bersenjata tersebut terjun ke medan pertempuran melaksanakan tugas suci untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan dan Negara RI.

Pada tanggal 30 September 1945 para pemuda pejuang berhasil merampas gudang senjata api di Seksi IV (Kepolisian) Prapatan, setelah terjadi kontak senjata sebelumnya. Dua hari sesudahnya tanggal 2 Oktober 1945 para pemuda pejuang tidak membiarkan tindakan teror sepasukan serdadu Belanda yang mengganggu di daerah Kramat, Senen, Tanah Tinggi, Bungur, dan Kepuh, yang dibantu oleh serdadu-serdadu Jepang. Sehingga terjadilah pertempuran di sana, yang berakibat jatuhnya korban di pihak lawan dan beberapa pucuk senjata dapat dirampas para pemuda kita.

Di tempat lain, sejumlah Angkatan Muda, Barisan Pelopor Pasar Minggu, Kemayoran, Kebonjeruk sekitar jam 07.00 berhasil menggerebek rumah-rumah orang Jepang dan merampas sejumlah senjata dan menawan 27 orang serdadu Jepang. Juga di Tanjung Priok para pemuda yang tergabung dalam BKR Laut dan Badan-badan Perjuangan lainnya berhasil menangkap 3 orang serdadu Belanda yang hendak menurunkan bendera Merah Putih. Akibat dari kejadian itu sebuah truk jam 17.00 sore yang berisi tentara Belanda mendatangi rakyat/pemuda di sana dengan suatu ancaman.

Serdadu-serdadu Belanda dari Bataliyon X yang terkenal buas dan kejam pada tanggal 5 Oktober 1945 melakukan penyerangan ke Kebayoran, Klender, Cawang, Pondok Gede, dan Pasar Minggu sehingga terjadi pertempuran hebat dengan para Pemuda Pejuang kita. Kemudian serdadu-serdadu Belanda menembaki rakyat sekitar Gang Kernolong, Gang Listrik di seputar Kramat. Pertempuran itu berlanjut pada tanggal 11 Oktober 1945, karena serdadu-serdadu Belanda melakukan penyerangan kembali, tetapi keesokan harinya tanggal 12 Oktober 1945 para Pemuda Pejuang menghajar serdadu-serdadu Belanda di sekitar Jalan Thibault.

Semangat para pemuda/rakyat semakin meluap-luap dan melancarkan penyerangan terhadap kedudukan-kedudukan serdadu Belanda di Kemayoran, yang banyak menimbulkan korban. Sehingga serdadu-serdadu Belanda melakukan serangan balasan ke Jaga Monyet dan Harmoni tanggal 4 Nopember 1945 dengan membakar rumah-rumah dan langgar di Petojo Binatu. 

Serangan Badan-badan Perjuangan yang mengakibatkan tergoyahnya kedudukan Sekutu dan Belanda, akhirnya Inggris secara licik mempergunakan politik diplomasi sehingga pada tanggal 19 Nopember 1945 TKR dan lasykar-lasykar Perjuangan di Jakarta harus keluar dari Jakarta, meskipun hal itu sangat menekan batin setiap pejuang, tetapi karena sebagai instruksi dari Pemerintah RI, terpaksa Jakarta ditinggalkan.

Kekuatan TKR sebelum keluar instruksi Pemerintah RI tanggal 19 Nopember 1945, ada di Jakarta Timur yang dipimpin oleh M. Muffreini Moekmin, setelah itu TKR Jakarta terbagi dua yaitu yang mengundurkan kedudukannya ke sebelah barat (Tangerang) dipimpin Daan Yahya, Kemal Idris, Daan Anwar, dan Singgih. Waktu itu Singgih berpangkat Mayor ditetapkan oleh Pimpinan TKR sebagai Komandan Resimen IV TKR, sedangkan Mayor M. Moeffreini Moekmin terus menuju Cikampek, dengan enam bataliyonnya yang berkedudukan di Krawang (Yon I), Cikarang (Yon II), Cikampek (Yon III), Dawuan (Yon IV), Bekasi (Yon V), dan Cibarusa (Yon VI). Sedangkan Komando Pertempuran ditempatkan di Lemah Abang dengan pertempuran meliputi daerah-daerah Krawang sampai ke Kelapa Nunggal, kurang lebih jarak 60 km.

TUJUH PERTEMPURAN

Peristiwa-peristiwa pertempuran yang membuktikan kepahlawanan para pemuda pejuang Jakarta selama masa Perang Kemerdekaan (revolusi fisik) penting sekali dikemukakan di sini dan perlu pewarisannya kepada Generasi Penerus. Tujuh peristiwa pertempuran tersebut meliputi pertempuran di daerah Menteng, Tanah Tinggi, Kali Baru, Gang Sentiong, Kramat, Jatinegara, dan Cilincing.

Pada tanggal 18 Nopember 1945 terjadi pertempuran yang hebat di sekitar Menteng (antara Menteng - Prapatan), di mana sehari penuh terjadi tembak-menembak antara para Pemuda Pejuang bersama API (Angkatan Pemuda Indonesia - yang didirikan pada tanggal 1 September 1945) dengan serdadu-serdadu NICA. Serdadu NICA dari Bataliyon X menunjukkan keganasannya, banyak rakyat yang menjadi korban, tetapi pihak serdadu NICA pun banyak pula yang mati dalam pertempuran itu. Sesudah pertempuran tanggal 18 Nopember 1945 kontak senjata dengan pihak musuh hampir setiap hari. Pemimpin-pemimpin API yang terkenal pada waktu itu ialah Chaerul Saleh, Wikana, Adam Malik, Sutan Akbar, Sukarni, dan lain-lain, yang tergabung dalam Komite van Aksi. Tanggal 11 Desember 1945 tentara Sekutu dan Belanda melancarkan aksi bersama dengan menduduki tempat-tempat yang penting dan strategis di dalam dan di sekitar kota Jakarta, dan salah satu tempat yang diincarnya yakni Gedung Menteng 31. Pertempuran berkobar semakin hebat, namun pada hari itu usaha Sekutu/Belanda gagal. Sesudah berkali-kali melakukan penyerbuan dan saling serang-menyerang akhirnya Gedung Menteng 31 dapat diduduki tentara perang Sekutu.

Setelah kejadian pertempuran di Menteng tersebut, tentara Sekutu dan Belanda selalu melakukan gerakan untuk menghancurkan Kesatuan Perjuangan kita dengan melampiaskan kekejamannya. Dengan instruksi Pemerintah RI 19 Nopember 1945 API sebenarnya ingin tetap bertahan di Jakarta untuk melakukan aksi-aksi gerilyanya, terpaksalah API meninggalkan kota Jakarta meskipun agak terlambat (permulaan 1946) yang sementara mengundurkan pasukannya ke Klender dan Krawang. API Klender hampir setiap malam melakukan penyerbuan terhadap kedudukan tentara Inggris dan Belanda ke kota Jakarta dengan bergerilya, dan melakukan pembakaran gudang mesiu musuh. Dalam melakukan gerilyanya API selalu mendapat bantuan dari rakyat, sehingga berhasil membunuh musuh, merampas perlengkapan perang musuh dan sebagainya.

Semangat anti dominasi bangsa asing dan cinta kemerdekaan, menggelora pula di daerah Tanah Tinggi Jakarta, di sana para pemuda dipimpin oleh Imam Syafe'i dan dibantu para pemuda wakil dari kelompok-kelompok perjuangan di daerah itu. Imam Syafe'i adalah seorang pemuda yang berjiwa militan, yang sejak permulaan revolusi selalu membina para pemuda di daerah Tanah Tinggi dan di antaranya menyatakan turut dalam Barisan Berani Mati yang dibentuknya. Kerelaan berkorban, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, sanggup menderita dan ikhlas mengorbankan segala harta benda dan jiwa untuk keberhasilan perjuangan, dan memiliki tekad hidup atau mati untuk membela bangsa dan negara, adalah senjata yang ampuh dalam berjuang menurut Imam Syafe'i. 

Dalam melakukan aksi perlawanan terhadap musuh, dilancarkanlah dua siasat yaitu dengan Psywar atau dengan serangan langsung (baik frontal atau dengan sabotase dan atau dengan penculikan terhadap musuh). Penghadangan terhadap musuh sering dilakukan di sekitar Senen dan Pos Grand, di mana serdadu-serdadu Jepang, Inggris, maupun Belanda merasa kewalahan dengan taktik gerilya Imam Syafe'i. Korban di pihak musuh berjatuhan, banyak senjata yang dirampas, tetapi pelaku-pelakunya tidak pernah tertangkap.

Pihak Belanda dan Inggris terpaksa melakukan aksi bersama dengan mengerahkan segala unsur kekuatannya, untuk menumpas kegiatan para pemuda Tanah Tinggi dengan menggempurnya pada tanggal 28 Nopember 1945.

Pertempuran berlangsung dengan hebat sampai menjalar ke Kramat dan Senen.

Serangan Belanda tanggal 28 Nopember 1945 memakan 36 orang rakyat gugur (ada yang disembelih dan ada yang ditembak), 16 orang menderita luka-luka dan banyak harta rakyat yang dibawa oleh musuh. Tetapi pihak Belanda pun banyak pula menderita korban, di mana 20 orang mati. Dengan korban Belanda yang banyak itu, tanggal 29 Nopember 1945 Belanda melakukan serangan udara dengan membabi buta menembaki penduduk dan melempari granat dari udara, sehingga banyak rakyat yang menjadi korban dan banyak rumah terbakar. Bala bantuan Belanda dan Inggris terus berdatangan, tetapi pemuda pejuang Tanah Tinggi tetap nekat pula, dan korban di kedua belah pihak berjatuhan. Demi penyelamatan rakyat yang semakin banyak korban, akhirnya para pemuda memutuskan untuk mengundurkan diri dari daerah Tanah Tinggi dengan berpencar-pencar menuju Cempaka Putih, Kampung Rawa, dan Kuburan Cina.

Para Pemuda Pejuang Kalibata Timur (Senen) juga tidak mau ketinggalan, darah muda mereka tersirap dan meluap karena melihat kekejaman para serdadu Jepang, Inggris, dan Belanda terhadap rakyat kita yang telah merdeka. Karena itulah, para pemuda di Kalibaru yang terdiri dari bermacam-macam suku bersatu dengan menggalang satu kekuatan yang besar yang bernama Persatuan Rakyat Jakarta untuk menunjukkan kepada pihak lawan, bahwa kita tidak sudi dijajah.

Persatuan Rakyat Jakarta dipimpin oleh pemuda-pemuda di daerah Kalibaru sendiri: Itjang, Njunsang, dan Mas'ud dengan mendapat bantuan kawan-kawannya dari Banten. Organisasi pemuda ini dalam melakukan aksinya selalu bahu-membahu dengan seluruh Pemuda Perjuangan lainnya, teristimewa dengan para pemuda Tanah Tinggi. Dengan senjata tradisional dan bambu runcing serta senjata semangat yang ampuh, di samping berhubungan dengan para pemuda Imam Syafe'i yang berada di Gang Sentiong dan di Jatinegara.

Pada mulanya baik Jepang, Inggris, maupun Belanda, mengira bahwa penculikan-penculikan dan serangan-serangan itu dilancarkan para pemuda pejuang Tanah Tinggi, maka serangan balasan selalu ditujukan ke Tanah Tinggi, bahkan pernah juga dilakukan penggranatan dan pemboman dari udara atas daerah Tanah Tinggi. Pihak musuh akhirnya juga mengetahui bahwa yang melakukan semuanya itu adalah anggota-anggota Persatuan Rakyat Jakarta sehingga Patroli Belanda segera dikirim ke Kalibaru.

Pada momen tersebut Itjang menunjukkan keberanian yang luar biasa dengan menyerang patroli itu, karena anak buahnya sudah terkurung, Itjang benar-benar mengorbankan jiwa raganya untuk keselamatan anak buahnya.

Itjang dapat ditangkap oleh para serdadu Belanda yang langsung dibawa ke tangsi Batalyon X, di mana ia mendapat penyiksaan hingga menderita luka-luka berat. Karena serdadu-serdadu Belanda menginginkan informasi lebih lanjut dari Itjang, maka untuk sementara Itjang dititipkan di RSUP (Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta), tetapi waktu diperiksa di Batalyon X ia tetap bungkam, tidak mau mengkhianati perjuangan bangsanya.

Waktu Itjang dititipkan di RSUP, kesatuan-kesatuan Pemuda Pejuang yang terhimpun beberapa kelompok melakukan penyerbuan, ke tangsi Batalyon X dengan maksud membebaskan Itjang yang dikira masih berada di tangsi tersebut. Tetapi setelah mengetahui Itjang dititipkan di RSUP segera diadakan usaha penyelamatan. Berkat usaha Sidik dengan menyamar seorang dokter dengan dibantu juru rawat RSUP yang berjiwa pejuang, Itjang dapat dibawa keluar dengan melalui got-got yang ada di sekitar RSUP. Untuk menghindari pengejaran Belanda, markas Persatuan Rakyat Jakarta dipindahkan ke Cempaka Putih dan di markas yang baru ini Itjang kembali melakukan siasat untuk menggempur kedudukan-kedudukan serdadu-serdadu Belanda, Inggris melancarkan serangan ke Tangsi Penggorengan.

Sehubungan dengan instruksi Pemerintah RI tanggal 19 Nopember 1945, pasukan Persatuan Rakyat Jakarta mengundurkan diri ke Krawang. Akhirnya tahun 1948 Itjang bersama 17 orang anak buahnya gugur dalam rangka penumpasan pemberontakan PKI Madiun.

Barisan Pelopor adalah suatu organisasi kesatuan pejuang yang didirikan menjelang kapitulasi Jepang kepada Sekutu, telah banyak andilnya dalam perjuangan bangsa, antara lain pada waktu Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 melakukan pengawalan dalam keadaan siap tempur. Begitu pula waktu berlangsung Rapat Raksasa Ikada 19 September 1945, para pemuda Pelopor ditugaskan untuk memata-matai dan mengincar serdadu-serdadu Jepang kalau perlu menerkamnya dan mengambil senjatanya. Tugas yang berat dan merupakan tugas berani mati untuk membela bangsa dan negara. Barisan Pelopor waktu itu dipimpin oleh Mr. Mohammad Roem dan bermarkas di Gang Kernolong, dengan nekad melakukan penyerobotan terhadap tempat-tempat yang didiami serdadu Jepang, dengan melakukan perlucutan senjata untuk memperlengkapi persenjataan pasukannya, sehingga persenjataan semakin lengkap.

Sewaktu beberapa daerah di Jakarta telah dikuasai oleh para serdadu Inggris dan Belanda, Barisan Pelopor  bekerja sama dengan BKR dan Badan-badan Perjuangan lainnya melakukan penyerbuan ke tangsi-tangsi Inggris dan Belanda, yang berlanjut dengan terjadinya pertempuran di mana-mana. Kemudian terjadi penggabungan kekuatan antara Barisan Pelopor Gang Kernolong dengan Cabang API setempat, dipimpin oleh Adnan yang bermarkas di Landre Enzon, tetapi markas sementara berkedudukan di Gang Sentiong dengan Kepala Markas adalah pemuda R. Ked, sedangkan perbekalan dipegang oleh pemuda Mistor dan Tobing.

Dari markas Gang Sentiong lah dilakukan penyerbuan ke tangsi Penggorengan. Sebagai pembalasan serdadu-serdadu Inggris dan Belanda melancarkan serangan untuk menumpas para pemuda pejuang, maka terjadilah pertempuran di Gang Sentiong, Paal Putih, Senen, dan Grand.

Para pemuda pejuang KRIS dipimpin Palar Cs membantu perlawanan Pasukan Pelopor dan API itu. Suatu serangan yang berhasil gilang-gemilang oleh para pemuda pejuang waktu itu, terutama serangan di Gedung Fafa, di mana seorang pemuda bernama Mundari melempar granat sehingga gedung berantakan dan para serdadu di dalamnya mati yang ternyata ada yang berpangkat Kolonel dan Mayor.

Dengan kekalahan itu, para serdadu Belanda dan Inggris melakukan serangan balasan langsung ke Gang Sentiong dan sekitarnya, yang dikira sebagai tempat pertahanan para pemuda pejuang kita. Sehingga tanggal 28 dan 29 Nopember 1945 terlihatlah pertempuran di sana, di mana pihak musuh dengan pesawat-pesawat terbangnya menembaki penduduk. Tanggal 6 Desember 1945 adalah serangan musuh yang terhebat oleh para serdadu Batalyon X dengan mengepung daerah pertahanan pemuda kita dengan tank-tank dan dihantam granat dan bom-bom pembakar dari udara, sehingga penduduk banyak menjadi korban.

Akhirnya pemuda kita mundur ke Kampung Rawa dan Cempaka Putih dengan menyusun kekuatan pertahanan kembali di sekitar Kuburan Cina, sedangkan yang mengundurkan diri ke daerah Senen bergabung dengan pasukan KRIS (di bawah pimpinan Said), yang ketika itu sebagai pasukan yang kuat pula. Waktu itu seorang Kampung Rawa bernama Ma'i, dapat dibanggakan karena berusaha menyediakan dapur umum untuk para pemuda pejuang tersebut, tanpa pamrih.

Sebagaimana kesatuan-kesatuan pejuang lainnya, karena Jakarta harus dikosongkan, maka akhir tahun 1945, mereka menuju Krawang dan banyak bergabung dengan Pasukan Istimewa (PI), dengan tetap berjuang untuk menghancurkan perbekalan Belanda/Inggris dan melakukan penyusupan ke kota Jakarta, dan setelah berhasil kembali ke induk pasukannya.

Di daerah Kramat Jakarta juga terjadi ketegangan dan kontak senjata pada tanggal 2 Oktober 1945 malam hari (dan beberapa daerah lainnya di Jakarta Pusat), bermula dengan terganggunya ketenteraman oleh gerombolan para serdadu Belanda Interniran dengan Jepang. Kebetulan di daerah Kramat memiliki potensi pemuda pejuang yang tangguh dan merupakan daerah BKR Jakarta Pusat yang dipimpin oleh Sadikin (Bekas Panglima Divisi Siliwangi). Selain anggota-anggota BKR yang terdapat di sektor Kramat, juga terdapat pemuda-pemuda pejuang dari berbagai kesatuan seperti: Pasukan Pelopor, API, Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS), Hisbullah, dan lain-lain. Memang ke dalam mereka mempunyai pasukan-pasukan sendiri, tetapi dalam menghadapi Jepang, Inggris, dan Belanda, mereka merupakan satu kekuatan yang kuat. Secara serentak dan bahu-membahu mereka dapat mengurung musuh dan melakukan penggerebegan/perampasan senjata-senjata musuh. Dalam pertempuran sengit melawan serdadu-serdadu NICA di daerah Kramat (Gang Kernolong dan Gang Listrik) mereka dapat memukul mundur serdadu-serdadu NICA dan merampas senjatanya. Pertempuran selanjutnya juga terjadi pada tanggal 18 Nopember 1945.

Sesudah kejadian itu, serdadu-serdadu NICA yang diperkuat oleh serdadu-serdadu Inggris sering melakukan serangan ke daerah Kramat. Akhirnya pertempuran hebat berlangsung pada tanggal 28 dan 29 Nopember 1945, di mana musuh mengerahkan kekuatan yang besar dan dengan pesawat-pesawat terbang. Tanggal 29 Nopember 1945 antara lain jam 12.00 - 18.00 daerah Kramat Pulo dihujani peluru-peluru mortir yang meminta korban penduduk 24 orang meninggal. Banyak penduduk mengungsi dan dalam kesempatan itu para serdadu NICA merampas harta benda penduduk.

Meskipun demikian para pemuda pejuang tetap dengan gigih mempertahankan daerah Kramat, maka serdadu-serdadu NICA (terutama dari Batalyon X) terus melancarkan serangan-serangannya dan tanggal 6 Desember 1945 terjadi tembak-menembak yang seru.

Selanjutnya serdadu-serdadu Batalyon X yang diperkuat kendaraan-kendaraan lapis baja, tank, dan sebagainya pada tanggal 8 Desember 1945 mengepung daerah Kramat. Pesawat terbang musuh memuntahkan roket-roket dan bom-bom pembakarnya, tetapi para pemuda pejuang tetap bertahan mati-matian.

Perlu diketahui bahwa sesudah tanggal 19 Nopember 1945 TKR harus meninggalkan Jakarta, berarti yang mempertahankan daerah Kramat adalah para pemuda dari berbagai kalangan yang terutama Barisan Pelopor, API, dan KRIS (para pemuda pejuang yang tangguh dan berani mati dalam setiap pertempuran). Pada tanggal 21 Desember 1945 terjadi lagi tembak-menembak antara para pemuda pejuang melawan serdadu-serdadu Belanda dan banyak jatuh korban di antara keduanya. Akhirnya para pemuda pejuang terpaksa mengundurkan diri dari daerah Kramat, karena gempuran-gempuran musuh yang semakin hebat dan makin aktif, kemudian bergabung dengan pasukan Sumilat dari Cempaka Putih, dan kemudian menuju Klender, Bekasi, dan Krawang.

Cilincing

Pertempuran di sekitar Cilincing/Tanjung Priok juga menunjukkan kepahlawanan para pemuda pejuang kita. Usaha untuk mempertahankan kemerdekaan melahirkan berbagai Pasukan Pemuda perjuangan di daerah sekitar pelabuhan Tanjung Priok di antaranya: Barisan-barisan Pemuda, Barisan Pegawai/Buruh, Barisan Para Bekas Peta, Seinendan, Kaigun, Heiho, Hizbullah, dan Sabilillah. Semua kegiatan diarahkan untuk pembelaan daerah pantai Jakarta dari kekejaman Jepang dan melakukan perebutan senjata dari Jepang. Di samping kesiap-siagaan menanti kemungkinan datangnya tentara Sekutu.

Potensi perjuangan semakin kokoh dengan terbentuknya BKR Tanjung Priok tanggal 22 Agustus 1945 yang bermarkas di Bar Monteyn daerah Koja, dengan pemimpin-pemimpinnya yang terkenal: M. Pardi (pelaut), Hasibuan, B. Sitompul, Edy Martadinata. Ternyata tiba pula tentara Sekutu di Tanjung Priok dengan Kapal Canbera tanggal 16 September 1945. 

Sikap para serdadu Inggris dan NICA yang membonceng sangat angkuh dan tidak menghargai aparatur pelabuhan RI, maka terjadilah bentrokan dengan para pemuda pejuang kita di sekitar menara air, stasiun, dan mess pelaut.

Jenderal Christison baru mendarat tanggal 19 September 1945 beserta para serdadunya dan perlengkapan perang, tetapi para pemuda kita menunjukkan kejantanannya, maka terjadi kontak senjata di luar pelabuhan di Jalan Sulawesi (Koja), Jembatan Tinggi, dan Jalan Sungai Bambu. Di samping itu serdadu Belanda mulai berdatangan tanggal 4 Oktober 1945, yang disambut dengan tindakan-tindakan tegas dari para pemuda, karena ternyata membawa malapetaka di mana-mana. Karena kemudian tanggal 21 Oktober 1945 mereka melakukan teror terhadap rakyat di sekitar Tanjung Priok dan menduduki pelabuhan Kemayoran, sedangkan pasukan musuh ditempatkan di Sunter. Sehingga terpaksa TKR Laut di bawah komandan Mayor Hasibuan dan Kepala Staff Kapten Sitompul, memindahkan markasnya ke Yachtclub (Bahtera Jaya) dan bersama rakyat setempat yang dipimpin Wedana Hindun Witawinangun serta para Pemuda Pejuang Jawatan Pelabuhan yang dipimpin Sugondo dan Barisan Buruh Maritim yang dipimpin Citrawiguna, melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Tekanan dari pihak musuh semakin terasa, serdadu-serdadu Gurkha (Sekutu) dan NICA tanggal 10 Nopember 1945 melakukan serangan besar-besaran ke daerah Koja, Jembatan Tinggi, dan Pasar Ikan. Terpaksa Pasar Ikan ditinggalkan TKR dan para pemuda pejuang untuk mengatur siasat lebih lanjut dan dalam suasana pertempuran itu Wedana Hindun tertangkap dan gugur tanggal 5 Desember 1945 di Kamp Polonia (kamp musuh) akibat kebiadaban musuh.

Selanjutnya tanggal 9 Desember 1945 serdadu-serdadu Baret Merah Inggris, India Sikh, dan NICA melakukan serangan lagi ke daerah Koja, Jembatan Tinggi, Lagoa Terusan, dan Cilincing; pertempuran yang berjalan seru itu makan korban di kedua belah pihak, di mana markas TKR Laut terpaksa dipindah ke Gang Z di Kantor Jawatan Pelabuhan.

Pertempuran seru juga terjadi pada tanggal 13 Desember 1945 yang meluas ke daerah Tenggara dan Selatan Jakarta dan sampai ke Bekasi, sehingga Bekasi seolah-olah terbakar karena musuh dengan membabi buta membakar rumah-rumah penduduk. Adanya perintah pengosongan daerah Tanjung Priok terpaksa ditolak oleh para pemuda pejuang dan akan tetap bertahan dan bertempur sekuat tenaga, kecuali NICA membebaskan Komandan TKR Mayor Hasibuan (yang tertangkap sama-sama Wedana Hindun Witawinangun), bersama para pejuang lainnya yang ditawan Belanda, dan tanggal 15 Desember 1945 mereka dibebaskan dari kamp tawanan. Mayor Hasibuan akhirnya memindahkan markas TKR Laut ke Karang Congok (sebelah utara Bekasi).

Serdadu-serdadu NICA melucuti senjata-senjata Polri di asrama Jalan Dobo Tanjung Priok tanggal 29 Desember 1945 dalam usaha melemahkan pihak RI, tetapi sebagian anggota Polri dapat terlepas dari kepungan Belanda dan terus bergabung dengan TKR di Tanah Merdeka. Pihak Belanda tidak terhenti sampai di sini, setelah mendapat tambahan kekuatan 800 orang marinir, tanggal 30 Desember 1945 melakukan serangan ke Tanah Merdeka sampai ke Marunda dan Tugu, meskipun Belanda berkekuatan besar tetapi tidak dapat membersihkan daerah Cilincing dari TKR dan para pemuda pejuang, karena di sana medannya sangat menguntungkan pihak RI.

Selaras dengan kegiatan para pemuda pejuang Jakarta di Jatinegara pun para pemuda giat memasuki Badan-badan perjuangan. BKR Jatinegara dipimpin oleh Sambas Atmadinata, Ramli, dan yang terkenal yaitu Haji Darip, keberaniannya terkenal sampai ke pelosok-pelosok daerah Jatinegara, Klender, Bekasi dan hal ini diakui oleh pihak lawan karena aksi yang dilakukannya selalu dapat mengacaukan pihak lawan dengan banyak korban.

Perjuangan Haji Darip dan anak buahnya rupanya menarik simpati para serdadu dari India yang beragama Islam, sehingga Haji Darip banyak mendapat senjata api, di samping senjata rampasan dari musuh dalam pertempuran. Keberhasilan Haji Darip, karena berkat dukungan dari seluruh Kesatuan Pejuang, di samping kemahiran menanamkan kesadaran para pemuda pejuangnya untuk cinta kepada tanah air, rasa kebangsaan dan membangkitkan semangat untuk berjuang melawan kebiadaban penjajah. Pertempuran yang paling hebat terjadi di sekitar Stasiun Rawa Bangke, di mana Kesatuan BKR dan Haji Darip benar-benar melakukan pertempuran satu lawan satu.

Waktu itu BKR Jatinegara berkedudukan di Pabrik Es (sebelah asrama Brimob Cipinang sekarang) sedang kesatuan Haji Darip terpencar di seluruh Jatinegara. Pertempuran lainnya terjadi tanggal 19 Desember 1945 di mana para serdadu Belanda yang dibantu oleh Inggris dengan berpuluh-puluh truk melakukan serangan ke Cipinang, dengan tujuan membebaskan para serdadu Belanda yang ditahan di penjara Cipinang. Usaha musuh dapat digagalkan, karena gempuran hebat dari pasukan-pasukan Pemuda Pejuang. Tanggal 1 Januari 1945 dari Jatinegara para pemuda pejuang berbondong-bondong/bahu-membahu dengan kesatuan dari daerah-daerah lain melancarkan serangan terhadap kedudukan tentara Inggris di Cililitan, serangan ini sebagai serangan yang mempunyai aspek politik. Setelah kedudukan musuh diobrak-abrik, pasukan pejuang kembali ke tempat semula. Tetapi pada siang harinya serdadu-serdadu Inggris dan Belanda melakukan serangan balasan dengan membakar rumah-rumah penduduk di Jatinegara, Gang Ambon di Jalan Lokomotip, dengan pertempuran di sekitar Pisangan Baru, Pasar Mede.

Sesudah kejadian itu, daerah Jatinegara dioperasi terus oleh serdadu Belanda maupun Inggris dengan pembersihan hampir setiap kampung. Karena itu Haji Darip beserta sebagian anggota pasukannya mengundurkan diri ke Klender, sedangkan sebagian lagi tetap tinggal di Jatinegara dan aktif melaksanakan tugas spionase untuk kepentingan perjuangan kita. Selanjutnya pada tahun 1946 Haji Darip dengan rela membubarkan pasukannya untuk digabungkan dengan TKR, dan di antaranya ada yang bergabung dalam API dan PESINDO.

Demikianlah kisah perjuangan perlawanan para pemuda dan rakyat Jakarta terhadap dominasi penjajah, telah menunjukkan ciri kepahlawanannya, sehingga memengaruhi dan berhasil menambah kebangkitan semangat perjuangan pemuda di daerah lain. *****



Sumber: Suara Karya, 26 November 1982



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aksi Corat-coret Sesudah Proklamasi 17-8-1945

Oleh H. SOEWARNO DARSOPRAJITNO RUPANYA  corat-coret di sembarang tempat yang dapat menarik perhatian umum, sudah menjadi salah satu kegemaran sebagian anak yang beranjak dewasa. Corat-coret memang sudah ada sejak zaman prasejarah, dan sekarang pun masih banyak ditemukan di mana saja, termasuk di tugu yang menjadi tanda tempat bertemunya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa di Jabal Rahmah, Arafah. Memang banyak corat-coret yang sifatnya vandalistik karena merusak keindahan tataan alam, atau bangunan yang sebenarnya bermanfaat untuk kepentingan umum. Akan tetapi, corat-coret yang pernah dilakukan oleh para remaja usia belasan tahun yang masih duduk di bangku sekolah SLTP atau SMU, sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, merupakan corat-coret yang bersejarah. Corat-coret yang dilakukan tanpa direkayasa, ternyata dapat membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan untuk menggalang kekuatan agar negara Republik Indonesia yang sudah diproklamasikan oleh Sukarno-Hatta tetap berdiri...

Nassau Boulevard Saksi Perumusan Naskah Proklamasi

G edung berlantai dua bercat putih itu masih nampak megah, sekalipun dibangun 80 tahun lalu. Nama jalan gedung ini pada masa pendudukan Belanda, Nassau Boulevard No 1, dan diubah menjadi Meijidori pada pendudukan Jepang. Untuk selanjutnya menjadi Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat sekarang ini. Gedung yang diapit oleh Kedutaan Besar Arab Saudi dan Gereja Santa Paulus dibangun dengan arsitektur gaya Eropa, yang hingga kini masih banyak terdapat pada gedung-gedung di sekitar kawasan Menteng. Pemerintah kolonial Belanda membangun gedung ini bersamaan dengan dibukanya 'kota baru' Menteng, pada 1920, saat kota Batavia, sebutan Jakarta waktu itu, meluas ke arah selatan. Gedung yang kini diberi nama Museum Perumusan Naskah Proklamasi memang pantas dilestarikan oleh pemerintah, karena mempunyai nilai sejarah yang amat penting. Di tempat inilah pada malam tanggal 16 Agustus 1945 bertepatan 7 Ramadhan 1364 H hingga menjelang fajar keesokan harinya para pendiri negara ini merumuskan naskah ...

Soetatmo-Tjipto: Nasionalisme Kultural dan Nasionalisme Hindia

Oleh Fachry Ali PADA tahun 1918 pemerintahan kolonial mendirikan Volksraad  (Dewan Rakyat). Pendirian dewan itu merupakan suatu gejala baru dalam sistem politik kolonial, dan karena itu menjadi suatu kejadian yang penting. Dalam kesempatan itulah timbul persoalan baru di kalangan kaum nasionalis untuk kembali menilai setting  politik pergerakan mereka, baik dari konteks kultural, maupun dalam konteks politik yang lebih luas. Mungkin, didorong oleh suasana inilah timbul perdebatan hangat antara Soetatmo Soerjokoesoemo, seorang pemimpin Comittee voor het Javaansche Nationalisme  (Komite Nasionalisme Jawa) dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang pemimpin nasionalis radikal, tentang lingkup nasionalisme anak negeri di masa depan. Perdebatan tentang pilihan antara nasionalisme kultural di satu pihak dengan nasionalisme Hindia di pihak lainnya ini, bukanlah yang pertama dan yang terakhir. Sebab sebelumnya, dalam Kongres Pertama Boedi Oetomo (1908) di Yogyakarta, nada perdebat...

Silsilah dan Karya Douwes Dekker

Dr Ernert Francois Eugene Douwes Dekker alias Dr. Danudirja Setiaboedi lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada tanggal 8 Oktober 1879 sebagai anak ketiga dari keluarga Auguste Henri Eduard Douwes Dekker dan Louise Margaretha Neumann . Mereka menikah pada tahun 1875 di Surabaya. Auguste D. D. adalah anak pertama dari Jan Douwes Dekker (lahir di Ameland, Nederland, pada tanggal 28 Juni 1816) saudara kandung  dari Eduard D. D. alias Multatuli. Ayah dan ibu berturut-turut bernama Engel D. D. dan Sietske Klein . Dengan demikian ayah dan ibu Multatuli juga adalah orang tua dari Jan D. D., kakeknya Dr. E. F. E. Douwes Dekker. Jadi bukan sebagaimana dikatakan bahwa ayah Multatuli adalah kakak dari kakeknya ( Kompas , 11-9-1982, halaman IX, kolom 9). Jan D. D. meninggalkan profesinya sebagai kapten kapal ayahnya sendiri untuk menjadi petani tembakau di Desa Bowerno, Bojonegoro. Ia meninggal pada 11 September 1864 di Gresik. Dr. Ernest D. D. alias Dr. Setiaboedi kawin 11 Mei 1903 di Betawi denga...

Museum Sumpah Pemuda: Pernah Menjadi Hotel dan Toko Bunga

S uasana di gedung tua yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 itu nyaris hening. Meski di depannya, hilir mudik kendaraan yang melintasi Jalan Kramat Raya tak henti-hentinya mengeluarkan suara raungan. Keramaian di jalan utama ibu kota itu seakan tak mampu menghidupkan suasana dalam gedung. Padahal sekitar 73 tahun yang lalu, di gedung ini pernah terjadi kesibukan yang menjadi tonggak penting bagi berdirinya negara Indonesia. Di tempat inilah para pemuda dari berbagai daerah memekikkan perlunya satu nusa, satu bahasa, dan satu bangsa. Namun kini gedung yang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda (MSP) seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan bangsa Indonesia. Suasana hening dan sepi semakin meneguhkan gedung yang memiliki total luas 1.284 m2 ini sebagai bangunan bersejarah. Gedung tua ini memang sarat catatan sejarah. Sebelum diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda tahun 1971, gedung ini sempat mengalami pemugaran. Pemugaran ini ditanggung oleh pihak pemerintah DKI Jakarta dan diresmikan ...

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo Tidak Sempat Rasakan "Kemerdekaan"

Bagi masyarakat Ambarawa, ada rasa bangga karena hadirnya Monumen Palagan dan Museum Isdiman. Monumen itu mengingatkan pada peristiwa 15 Desember 1945, saat di Ambarawa ini terjadi suatu palagan yang telah mencatat kemenangan gemilang melawan tentara kolonial Belanda. Dan rasa kebanggaan itu juga karena di Ambarawa inilah terdapat makam pahlawan dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Untuk mencapai makam ini, tidaklah sulit. Banyak orang mengetahui. Di samping itu di Jalan Sudirman terdapat papan petunjuk. Pagi itu, ketika penulis tiba di kompleks pemakaman di kampung Kupang, keadaan di sekitar sepi. Penulis juga agak ragu kalau makam dr Tjipto itu berada di antara makam orang kebanyakan. Tapi keragu-raguan itu segera hilang sebab kenyataannya memang demikian. Kompleks pemakaman itu terbagi menjadi dua, yakni untuk orang kebanyakan, dan khusus famili dr Tjipto yang dibatasi dengan pintu besi. Makam dr Tjipto pun mudah dikenali karena bentuknya paling menonjol di antara makam-makam lainnya. Sepasan...

Saat-saat yang Tepat Merenung Makna Perjuangan

A pa yang dialami oleh Subegjo pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio Surabaya ( Suara Karya , 10/11), juga dialami oleh Moedjali (70 th, Kolonel Purn, yang kini sudah Haji), Oesman Bahrawi (76 th) dan Ali Bari (67 th). Mereka bertiga secara terpisah masing-masing mengungkapkan pengalamannya 49 tahun yang lalu kepada Suara Karya  awal pekan ini di Surabaya. Sebagaimana halnya Subegjo, ketiga pejuang yang kini sudah menikmati masa tuanya merasa bahwa 10 November selalu membangkitkan semangatnya untuk hidup lebih tangguh dan optimis. Orang-orang setua saya dan pernah merasakan kobaran api 10 November 1945 tak lagi memiliki ambisi lebih tinggi kecuali kelak ketika saya meninggalkan dunia ini, tidak membebani anak-cucu dengan atribut-atribut kontroversial dan berbau kemunafikan karena di dekat akhir hidup saya melakukan tindak korupsi, kolusi, aji mumpung, dan berbangga-bangga merasa diri pejuang. Demikian cetus salah seorang dari ketiga pelaku dan saksi 10 November 1945. Pert...