Langsung ke konten utama

Menyimak Sejarah Melalui Koran Tahun 1945 (2) "Kidoo Butai Jepang Menyerang dari Tiga Jurusan ..."

Oleh: Drs RIYONO PRAKTIKTO

PENGAMATAN sepintas memberikan kesan, bahwa jurnalistik melalui berita-berita yang dimuat dalam "Warta Indonesia", sebuah koran tahun 1945, sudah "menganut" atau melaksanakan apa yang kemudian disebut sebagai Jurnalistik Baru (New Journalism). Paham itu terutama mengemukakan bahwa berita-berita yang ditulis itu adalah sedemikian rupa sehingga pembaca sulit untuk segera dapat membedakan mana yang berita dan mana yang cerita pendek atau novel, atau dengan kata lain karangan fiksi. Bahkan dalam hampir semua berita yang dapat diamati yang dimuat dalam "Warta Indonesia" tersebut, selain ditulis dengan gaya mengisahkannya, yang sudah sulit dibedakan dengan penulisan feature/karangan khas, juga terasa kuat memasukkan opini/pendapat dalam bentuk jiwa semangat perjuangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa jurnalistik pada waktu itu adalah jurnalistik perjuangan, dan memihak. Yaitu memihak kepada Republik Indonesia yang baru diproklamasikan kemerdekaannya. Hal ini diperkirakan juga dilakukan atau dilaksanakan oleh koran-koran lain yang terbit di Tanah Air kita pada tahun 1945. Meskipun hal ini bertentangan dengan teori "obyektivitas berita", namun kiranya kita semua bisa sependapat bahwa kita merasa bangga terhadap jurnalistik masa itu. Suatu masa yang pasti tidak dapat dikesampingkan dalam keseluruhan sejarah Pers Indonesia.

Sekaligus dalam rangka memperingati 15 Oktober 1945, saat pecahnya pertempuran lima hari di Semarang antara pihak Pemuda dengan Tentara Jepang, kami kutipkan beberapa berita mengenai peristiwa itu yang baru dimuat dalam "Warta Indonesia" tanggal 22 Oktober 1945, karena sejak hari Senin 15 Oktober 1945, "Warta Indonesia" tersebut tidak terbit selama seminggu. Tentulah karena penerbitan itu tidak mungkin: koran tersebut terbit di Kota Semarang itu sendiri.

Pembaca dapat menikmati bagaimana cara atau gaya penulisan berita-berita tersebut, di samping juga mempelajari bentuknya, strukturnya, gaya bahasa Indonesia pada waktu itu, dan lain-lain. Kutipan pertama merupakan "headline", terletak pada halaman depan, di atas dan di tengah, selebar tiga kolom. Ejaan telah diubah ke dalam Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, tanpa mengubah bentuk, struktur, susunan kalimatnya.

Insiden Semarang Telah Selesai
Penghidupan sehari-hari mulai normal kembali

Setelah seminggu lamanya Semarang mengalami peperangan totalitair secara paham Jepang lengkap dengan kebengisan dan penyembelihannya, hari ini, Alhamdulillah, keadaan telah mulai normal lagi. Penghidupan sehari-hari langsung seperti sedia kala. Bekas-bekas pertempuran seru mulai dibersihkan dan kerusakan-kerusakan diperbaiki.

Badan-badan resmi, Palang Merah, Badan Penolong, dan lain-lainnya lagi yang berkewajiban meringankan penderitaan, sibuk mengerjakan kewajibannya masing-masing, mengangkat-memelihara korban-korban yang beratus-ratus orang jumlahnya itu.

Sebab-sebab timbulnya pergolakan sekarang masih diselidiki dengan teliti. Hadirnya juruwarta-juruwarta-peninjau dari luar negeri, di antaranya dari Amerika, Inggris dan Chungking menjamin dengan sepenuh-penuhnya, bahwa penyelidikan akan dilangsungkan dengan cara yang seadil-adilnya.

Kini ketenteraman telah kembali. Penjagaan polisi kita dibantu oleh anggota-anggota tentara pendudukan Serikat yang terdiri atas serdadu-serdadu Inggris dan Gurkha ternyata sangat efektif sekali.

Besok akan kita muat lengkap penyelidikan-penyelidikan kita bersama-sama dengan P. P. dan para juruwarta Luar Negeri, hingga bolehlah di harap-harap kita nanti dapat menyajikan pewartaan yang sebenar-benarnya.

***

PADA halaman dua kolom satu, yang dimaksudkan sebagai kolom berita kota, di bawah judul "Semarang" terdapat beberapa berita-kota, yang empat di antaranya kami kutipkan di bawah ini:

Mengubur Mayat yang tewas dalam pertempuran
Maklumat Balai Kota

Balai Kota Semarang bagian Masyarakat menyiarkan maklumat demikian:

Penduduk yang telah membantu mengubur mayat yang tewas dalam pertempuran ybl., diharap dengan segera melaporkan hal itu kepada Balai Kota bagian Masyarakat (Tuan Mr. Soerjadi).

Yang harus dilaporkan, yaitu: jumlah, dapat dikenali atau tidak, keadaan waktu mengubur dan tempat mengubur.

Kecuali itu, mereka yang mendapat luka juga perlu dilaporkan.

PERUNDINGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Dengan wakil-wakil Tentara Serikat.

Setelah kedatangan Tentara Serikat, dan penghentian pertempuran di Semarang, dilangsungkan pertemuan perundingan antara wakil-wakil Tentara Serikat dan Pemerintah Republik Semarang.

Dari pihak Indonesia hadir P.t. Wongsonagoro, Gubernur Jawa Tengah, Kepala Kota Semarang, Wakil Polisi, dan Wakil Angkatan Muda.

Perundingan-perundingan ini menghasilkan:

1. Tentara Serikat akan menduduki  daerah Semarang menurut hukum-hukum internasional.

2. Tentara Jepang akan diperlucuti senjatanya. Dari pihak Indonesia diusulkan supaya semua tawanan-tawanan Indonesia yang masih di tangan Jepang segera akan dilepaskan. Usul ini diterima baik oleh pihak Serikat.

Soal Pembagian Makanan

TENTANG urusan pembagian makanan, diharap yang berkepentingan berhubungan dengan Kantor Pusat Perekonomian.

Seruan Persatuan Pemuda Puteri Semarang

PERSATUAN Pemuda Puteri Semarang telah menyanggupi membantu usaha Palang Merah Indonesia, berhubung dengan kesukaran-kesukaran yang diderita rakyat selama dan sesudah pertempuran berlaku.

Berhubung dengan banyaknya pekerjaan itu, maka Persatuan Pemuda Puteri menyerukan kepada segenap anggotanya untuk mendaftarkan namanya di tempat Palang Merah Indonesia, Bojong 159.

***

SETELAH kutipan berita, berikut ini akan saya kutipkan sebuah feature/karangan khas, yang mengisahkan pertempuran lima hari itu sendiri. Sama halnya dengan berita yang sudah cenderung feature-berita itu, maka pada kutipan ini juga akan dapat kita rasakan adanya opini sebagai napas perjuangan yang mewarnainya, yang sangat terasa. 

Seorang penulis feature mempunyai kesempatan untuk dengan kreatif mengubah ataupun mengembangkan fakta-fakta satu peristiwa. Waktu untuk menuliskannya cukup, karena tidak dikejar oleh "deadline". Feature kutipan ini pun diambil dari "Warta Indonesia" terbitan tanggal 3 November 1945, jadi sekitar dua minggu lebih setelah terjadinya pertempuran itu sendiri. Pada hari itu koran tersebut terbit empat halaman, dengan halaman tiga dan empatnya sebagai Lembaran Istimewa, " ... dikeloearkan oentoek memperingatkan segala pertempoeran-pertempoeran jang baroe2 ini telah terdjadi oentoek mempertahankan kehormatan Repoeblik Indonesia ..."

Sanak Saudara dibunuh, harta benda dirampas, rumah dibakar, jiwanya terancam, namun ....
Semangat perjuangan rakyat tak kunjung padam.
Kisah Pertempuran 5 Hari di Semarang.

Pendahuluan

Kidoo Butai Jepang di Semarang adalah suatu butai yang terkuat di seluruh tanah Jawa. Ketika Jepang dalam perang dengan Sekutu, butai ini disediakan untuk menyambut pendaratan tentara Sekutu di Jawa. Pengiraan pihak Jepang dalam tempo 2 hari saja, tentu seluruh kekuatan Semarang menyerah kepadanya, tetapi ... sampai 5 hari lamanya kekuatan rakyat tak surut.

Pertempuran Dimulai

KEADAAN di Kota Semarang tenang, tetapi rakyat telah siap sedia. Sekonyong-konyong, pada tanggal 15 Oktober tengah malam terdengar suara letusan bedil, granat, dan terpecahlah kabar, bahwa Kidoo Butai di Jatingaleh mulai menyerang Kota Semarang dengan maksud mengambil kekuasaannya kembali.

Rakyat siap dengan bambu runcingnya, dengan kerisnya, dengan goloknya, pendeknya dengan segenap alat-alat yang di tangannya. Pihak badan-badan seperti BKR, Polisi, Angkatan Muda, menyusun kekuatan pertahanan dan strategi perang.

Tentara Kidoo Butai yang terdiri dari kurang lebih 2.000 orang, mulai menyerang Kota Semarang melalui 3 jurusan, Tanah Putih terus ke Jomblang, Jalan Siranda terus Pandanaran serta Jalan Dr. de Vogel terus Bojong.

Di Jomblang tentara ini berhasil menempati Balai Pertemuan AMRI, Dai I Seksi Polisi dan terus bergerak ke Pandean Lamper. Sebagian pasukan dari Jalan Dr. de Vogel terus ke Bojong menyerang Kantor Besar Jawatan Kereta Api yang dipertahankan oleh Angkatan Muda serta gedung Kenpetai yang dipertahankan oleh Polisi Istimewa.

Pertempuran di ujung Bojong ini sangat hebat, sehingga kedua pihak sama-sama menderita kerugian agak besar. Lambat laun pertempuran meluas ke Bulu, Pendrikan, dan jalan simpang empat Duwet-Gendingan-Bojong.

Pasukan Jepang yang melalui Peloran dan Kranggan kemudian bersarang di Pasar Johar, sedang dari jurusan barat menuju ke Hotel du Pavillon. 

Dari Pendrikan pun datang juga serdadu-serdadu Jepang, tetapi dapat dipukul mundur dengan menderita kerugian. Pertempuran di sekitar Hotel du Pavillon terjadi satu hari satu malam. Pada hari Rebo pagi, tentara kita melakukan siasat bertempur secara gerilya. Dengan segerombolan-gerombolan tentara kita berhasil merebut kembali beberapa kedudukan, antaranya Sekolah Teknik, Sekolah Dagang, dan lain-lain, sampai di Jalan Halmahera. Rumah penjara di Mlaten tetap di tangan tentara kita. Sayang sekali, ketika tentara kita sedang melakukan serangan dari tiga jurusan atas sarang-sarang Jepang, antaranya di dekat Stasiun Tawang dengan mendapat kemajuan dan hasil memuaskan, terdengar pengumuman bahwa pertempuran harus diberhentikan.

Mengingat kita rakyat merdeka, harus berdisiplin dan menurut perintah pemimpin, maka dengan rasa agak kecewa, menghentikan tembakannya.

Semangat Perjuangan Rakyat

Meskipun tembak-menembak sudah berhenti, namun semangat perjuangan para pemuda tidak menjadi padam, bahkan makin menyala-nyala, senantiasa siap sedia menghancurkan penghalang kemerdekaan Indonesia.

Pertempuran ini membawa hasil baik bagi kita, yakni: Mendapat latihan berjuang secara militer. Mendapat pengalaman lebih luas dalam pertempuran. Menunjukkan kepada dunia internasional, bahwa kemerdekaan kita dari rakyat untuk rakyat serta berani mempertahankannya.

Wanita Kita

Meskipun lemah tenaganya, tetapi tak kurang gunanya. Dalam pertempuran lima hari ini tak sedikit kaum ibu yang kehilangan anaknya, kaum istri yang kehilangan suaminya, tetapi semuanya itu dipukul dengan kekuatan hati karena keyakinan bahwa mati dalam pertempuran untuk mempertahankan haknya itu, adalah mati sebagai pahlawan. Ibu pahlawan-pahlawan yang berhati kuat inilah yang dibutuhkan Ibu Pertiwi.

Pun remaja putri kita yang dapat bergerak lebih leluasa, dapur umum diselenggarakan, palang merah dibereskan, kebimbangan penduduk di kampung-kampung dihilangkan, pendek kata dengan sekuat tenaga turut meringankan perjuangan pemuda-pemuda kita. Suatu gambaran pemudi-pemudi kita yang dengan mengendarakan mobil dan sepeda memerlukan melalui medan pertempuran untuk mengambil obat-obat guna mereka yang luka-luka, adalah suatu gambaran keberanian dari putri Indonesia.

***

MASIH ada beberapa tulisan lain yang kiranya dapat dimasukkan ke dalam bentuk feature atau karangan khas itu mengenai pertempuran ini. Dengan semangat penulisan yang sama, feature-feature tersebut mengisahkan sektor-sektor pertempuran tersebut. Misalnya yang berjudul: "Widohardjo menjadi laoetan api, pendoedoek jang mentjoba memadamkan api ditembaki. Kekedjaman Djepang ta'ada bandingannja."

Pada halaman 4, terdapat suatu daftar panjang, tentang nama-nama mereka yang telah gugur dalam pertempuran tersebut. Tersusun menurut pembagian daerah-daerah Semarang. Diperkirakan waktu itu yang gugur berjumlah lebih kurang 2000 orang.

Untuk penutup tulisan ini, saya ingin mengutipkan sebuah berita jenis yang diberi ber-"kotak", selebar dua kolom.

In Memoriam Dr. Kariadi

Di antara pahlawan-pahlawan pertempuran, yang menjadi korban kebengisan Jepang patut kita memperingatkan (sic!) Dr. Kariadi.

Pada malam Minggu tanggal 14-10 (1945), setelah terdengar bahwa penjagaan kita di sekitar waterreservoir diserang dan diperlucuti oleh Jepang, timbul persangkaan-persangkaan, bahwa maksud si Jepang dengan perbuatan ini ialah meracuni air Semarang. Dugaan ini didasarkan atas beberapa keterangan.

Segera Dr. Kariadi, kepala laboratorium, diberitahukan tentang kejadian ini, dan beliau merasakan kewajbannya sebagai orang yang bertanggung jawab atas kesehatan Kota Semarang, berangkat segera ke laboratorium untuk memeriksa air leding. Pada waktu itu si Jepang sudah mulai memberontak di Pandanaran dan menyerang. Ini tak menjadi halangan bagi Dr. Kariadi untuk terus melalui medan pertempuran itu menuju ke laboratorium.

Di tengah-tengah pertempuran mobil beliau ditahan oleh si Jepang dan Dr. Kariadi serta pemuda yang memegang setir mobil dibunuh dengan sekejam-kejamnya.

***



Sumber: Pikiran Rakyat, 19 Oktober 1984



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khidmat Sumpah Pemuda Kini: Apa Jawaban Pemuda Terhadap Pembangunan?

Oleh: Emmanuel Milala TERLIBAT ngobrol dengan tokoh-tokoh pemuda beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengajukan tese yang agak peka. Kata saya, bahwa jawaban pemuda terhadap pembangunan yang sedang berlangsung ini, masih terbatas politis. Itupun dalam konteks politik praktis. Artinya, bahwa di tengah kebergulatan untuk memperbaiki kondisi sosial-budaya kita dengan penggalakan pembangunan di semua sektor ini, ternyata rupanya yang menonjol dan ditangkap oleh radar kepemudaan terbatas pada yel-yelannya doang. Pemuda kita belum sampai pada penglihatan lebih dalam, misalnya sebagai agen dari perubahan, tampil sebagai inovator yang dapat diandalkan, misioner dalam melihat realitas baru bagi saudara-saudara tercinta yang di pedesaan dan seterusnya. Pokoknya, persepsi pembangunan yang ditangkap dan dimanifestasikan oleh orang muda di tanah air kita ini, bukan hal-hal yang esensial dan kemudian menjadi motor penggerak dalam perubahan pola hidup; tetapi selalu berhenti dengan kepuasan-kepuasa...

Rapat Raksasa Tambaksari, Berapa Kali?

D alam sejarah revolusi 1945 Surabaya, terdapat dua peristiwa penting yang mendahului dan berperanan mematangkan situasi pecahnya revolusi, merebut senjata Jepang. Yaitu peristiwa penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (19-9-1945), Tunjungan, dan peristiwa Rapat Raksasa Tambaksari (RRT). Rapat raksasa tersebut berhasil mengobarkan semangat dan membulatkan tekad rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan serta mendukung secara demonstratif eksistensi pemerintah Republik Indonesia di Surabaya. Berawal dari Rapat Raksasa Tambaksari (RRT) itulah kemudian terjadi berbagai aksi pemuda, dimulai dengan aksi penyobekan plakat-plakat larangan Jepang (antara lain larangan membawa bambu runcing), digantikan dengan plakat dan corat-coret dinding semboyan perjuangan. Menyusul kemudian aksi pengambilan alih jawatan, kantor-kantor, gudang dan mobil Jepang di jalan raya dengan penempelan plakat "Milik Republik Indonesia". Berbagai aksi itu dalam waktu singkat kemudian berkembang menjadi aksi...

Tragedi 35 Tahun Lalu: Cibubuan Saksi Mata Eksekusi terhadap 7 Prajurit Siliwangi

Bila Jakarta punya "Lubang Buaya", maka Sumedang memiliki "Cibubuan". Di Desa Cibubuan Kecamatan Conggeang, 35 tahun yang silam, tepatnya tanggal 11 April 1949, terjadi suatu tragedi. Tujuh prajurit Siliwangi setelah tertangkap Belanda memilih mati ditembak ketimbang harus membocorkan rahasia pasukan. Dalam Hari Pahlawan ini, peristiwa itu layak untuk dikenang kembali. Jalannya peristiwa memang mirip peristiwa Lubang Buaya. Bila dalam tragedi Lubang Buaya pahlawan Revolusi gugur dianiaya secara biadab oleh PKI karena mempertahankan Pancasila, maka ke-7 prajurit Siliwangi itu, termasuk Komandan Batalion Tarumanagara Mayor Abdurahman dan Komandan Kompi II Kapten Edi Sumapraja, gugur dianiaya secara kejam oleh Pasukan "Baret Hijau" Belanda karena mempertahankan kemerdekaan tanah air. Bila kita berkunjung ke Desa Cibubuan yang terletak di kaki Gunung Tampomas, lebih kurang 20 km dari Kota Sumedang, rentetan peristiwa yang bersejarah itu seolah baru beberapa ha...

Jangan Lupakan Jasa Pahlawan: Peristiwa Lengkong 51 Tahun Lalu

DI pusat Kota Bandung ada Jalan Lengkong Besar dan Lengkong Kecil, juga ada Kecamatan Lengkong. Di Tangerang pun ada Desa Lengkong. Namun, barangkali sedikit sekali yang mengetahui apa Lengkong itu. Apalagi setelah Lengkong yang di Tangerang itu kini berubah menjadi Bumi Serpong Damai (BSD). Padahal, Lengkong mempunyai arti sejarah penting yang berkaitan erat dengan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hari ini, 51 tahun lalu, 37 perwira dan taruna dari Resimen dan Akademi Militer Tangerang gugur di Desa Lengkong ketika menjalankan tugas internasional kemanusiaan ( humanitarian ) yaitu memulangkan 36.000 warga negara Belanda tawanan Jepang di Indonesia serta pelucutan dan pemulangan 35.000 tentara Jepang. Lembaga yang bertanggung jawab adalah POPDA (Panitia Oeroesan Pemoelangan Djepang dan APWI). APWI adalah singkatan dari Allied Prisoners of War and Internees atau warga sekutu yang ditahan Jepang. Semula sekutu, atas desakan Belanda, ingin menangani sendiri tukar-menukar ta...

JEJAK NASIONALISME BANDA (4) Sosok Des Alwi, dari Perjuangan hingga Orde Baru

P engusaha Hashim Djojohadikusumo meluncurkan ulang buku Pertempuran 10 November 1945  karya Des Alwi akhir November 2011. "Dari Banda inilah, Indonesia yang sekarang ada tercipta. Salah satu tokohnya adalah Des Alwi," ujar Hashim memuji Des Alwi, sahabat dan kerabat dekat keluarga besar Djojohadikusumo. Tahun 1930-an, Des Alwi menjadi murid dan anak angkat Bung Hatta alias Om Kaca Mata dan Bung Kecil, yakni Sutan Syahrir alias Om Rir. Des Alwi adalah tokoh lintas zaman dan generasi. Dia bergaul dengan perintis dan pendiri Republik. Turut terlibat langsung dalam desing peluru, keringat, dan darah semasa revolusi fisik, berseberangan dengan masa akhir rezim Orde Lama, dan dekat dengan tokoh-tokoh Orde Baru. Semasa hidup, dalam satu kesempatan saat bertemu di sebuah restoran di bilangan Menteng, Jakarta, Des Alwi bercerita saat dia berada di Kuala Lumpur, kubu anti-Soekarno kerap menghubungi dirinya. Des ikut pula merintis upaya mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia karena ...

Sumpah Pemuda

Hari Sumpah Pemuda baru saja berlalu. Masih hangat dalam ingatan, ketika pada 28 Oktober 1928--dalam Kongres Pemuda II--para pemuda yang sebagian berpendidikan Belanda mengikrarkan Sumpah Pemuda: "Bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Sebelumnya, ada polisi Politieke Inlichtingen Dienst (PID), orang Belanda, mengingatkan agar tidak berpolitik. Seorang wakil pemuda bertanya: "Apa itu politik?" Maka selamatlah kongres. Para peserta bersemangat, tidak mengharapkan honor atau hadiah, fokus pada tanah air dan bangsa. Beberapa lama kemudian, teman-teman menamakan tanah air kita sebagai Ons Zonneland (tanah air kita yang bermandikan sinar matahari). Alangkah indahnya.  TITI SUPRATIQNYO Tangerang Selatan Sumber: Kompas , 11 November 2019

Dari Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI (1) BK: Indonesia Merdeka, Sekarang!

DI depan sidang resmi pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno tampil memukau. Sesekali tepuk tangan menggemuruh, memenuhi ruang sidang Gedung Tyuuoo Sangi-In (sekarang Deplu), Jakarta. Ilustrasi yang disampaikan, menyentakkan semangat 60 anggota sidang yang dipimpin dr KRT Radjiman Wedyodiningrat dan wakilnya RP Suroso. Sebelum Ir Soekarno, selaku anggota, pada tanggal 29 Mei dan 31 Mei, tampil dua pembicara utama, pengantar untuk pembahasan tentang dasar negara, yang tak kalah menarik. Berturut-turut Prof Dr Mr Soepomo dan Prof Mr Muhammad Yamin. Mereka bertiga, seperti tercantum dalam buku Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) (Setneg, 1995), menyampaikan "pendirian" masing-masing tentang dasar negara pada tiga hari pertama sidang yang berlangsung sampai 1 Juni. Tiga hari sidang resmi pertama it...