Langsung ke konten utama

Menyimak Sejarah Melalui Koran Tahun 1945 (1) Pertempuran Lima Hari di Semarang Dimulai pada Tanggal 15 Oktober 1945

Oleh: Drs RIYONO PRATIKTO

SENIN 15 Oktober 1984 genap 39 tahun pecahnya pertempuran lima hari di Semarang yang terkenal. Dengan kata lain hari Senin 15 Oktober 1945 yang lalu, pertempuran itu berkobar.

Namun repro fotokopi "Warta Indonesia", sebuah koran tahun 1945 yang sudah dua kali kita simak, bertanggal 22 Oktober 1945. Selama pertempuran lima hari di Semarang itu, "Warta Indonesia" tidak terbit, yaitu sejak 15 Oktober sampai dengan 20 Oktober 1945. Baru hari Senin 22 Oktober 1945 terbit kembali, dengan halaman depan sebelah kiri atas memuat surat yang ditujukan kepada rakyat Semarang dari Gubernur Jawa Tengah, Mr. Wongsonagoro. Juga halaman depan sebelah kanannya memuat maklumat-maklumat Gubernur Jawa Tengah itu. Itulah sebabnya sekali ini repro fotokopi itu mengenai tanggal seminggu yang akan datang 39 tahun yang lalu.

Pertempuran Semarang merupakan salah satu dari rangkaian berbagai pertempuran yang terjadi di Tanah Air kita setelah Proklamasi Kemerdekaan, yang kemudian memuncak pada Pertempuran Surabaya yang melahirkan hari Pahlawan 10 November, yang setiap tahun kita peringati.

Sebelum kita kutipkan kisah pertempurannya itu sendiri, sekaligus sebagai bahan studi terhadap bentuk feature/karangan khas tahun 1945, marilah kita kutipkan dulu "Surat" Wongsonagoro yang dapat dianggap berbentuk "Informal", diikuti beberapa pengumuman atau maklumat yang dapat dianggap berbentuk "formal".

Untuk memudahkan, ejaan yang ada oleh penulis diubah ke dalam Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, tanpa mengubah struktur ataupun susunan kalimat-kalimatnya.

Ditujukan kepada Rakyat Semarang

Saudara-saudara Rakyat Semarang yang kucinta:

Setelah mengalami zaman pertempuran 5 hari, sekarang kita mengenyam suasana damai kembali. Juga "Warta Indonesia" hari ini mulai terbit lagi.

Akan tetapi masihlah jauh agaknya dari keadaan biasa, sebagai sebelum pecah pertempuran. Maka dari itu tiap orang mempunyai kewajiban mengembalikan keadaan tenteram, damai dan makmur itu dalam waktu yang secepat mungkin.

Corak status kita tidaklah berubah. Sang Merah-Putih tetap berkibar dan Indonesia tetap merdeka. Tentara Serikat yang telah mendarat bersikap netral terhadap politik pemerintahan. Kewajibannya yang terutama hanyalah mengenai penjagaan ketenteraman umum.

Saudara-saudara, marilah kita susun masyarakat kita kembali sebagai sedia kala, bahkan lebih makmur daripada yang sudah-sudah. Sudah tentu terdapat juga beberapa kesalahan yang kita buat.

Sebaliknya pertempuran yang telah berakhir ini adalah latihan yang berharga dalam jurusan kemiliteran. Hanyalah sayang digunakan tidak tepat pada waktu dan untuk keperluan yang semestinya. Barang sudah terlampau, tak ada gunanya dirundingkan kembali.

Sekarang pekerjaan baru menunggu kita. Siapkanlah masing-masing untuk menyongsong kembalinya kesejahteraan semula, dan nanti percaturan dunia internasional yang akan menetapkan kokohnya kemerdekaan Tanah Air dan bangsa kita.

Dengan salam Nasional :

MERDEKA!

Semarang, 22-10-1945.

Berikut ini sebuah kutipan Seruan Palang Merah Nasional Indonesia, yang mungkin pada masa kini "tidak wajar", tetapi pasti menimbulkan nostalgia bagi kita yang pernah terlibat ke dalamnya, serta menyentuh rasa kemanusiaan maupun manusiawi kita.

Seruan Palang Merah Nasional Indonesia

Palang Merah Nasional cabang Semarang minta dari seluruh penduduk Kota Semarang untuk selekas-lekasnya memberi pelapuran dan pendaftaran dari orang-orang yang:

1. Mendapat luka-luka dan sampai sekarang belum mendapat perawatan yang seharusnya.

2. Orang-orang yang sampai sekarang belum kembali dan tiada keterangan.

3. Orang-orang yang meninggal dan yang ditanam oleh penduduk di kampung masing-masing.

4. Menderita kesukaran-kesukaran berat, berhubung dengan kebakaran, bahan makanan, dan lain-lain.

Pendaftaran antara jam 8 - 14 dan jam 16 - 20 di: Gedung "Palang Merah Nasional", Bojong 159 Semarang. Gedung "Balai Kota Jawatan Masyarakat" Bojong Semarang. Kantor Daerah Balai Kota (Siku) masing-masing.

Setelah dikutipkan "surat pribadi" Wongsonagoro, berikut ini kami kutipkan empat buah maklumat dari Mr. Wongsonagoro sebagai Gubernur Jateng. Baik yang berbentuk "informal" maupun yang "formal", pasti dapat merupakan bahan studi perbandingan dengan masyarakat kita sekarang dengan berbagai peraturannya. Sekaligus juga peranan media massa khususnya pers, sebagai penyalurnya, dalam hal ini pada kesempatan pertama bisa terbit kembali setelah kotanya mengalami pertempuran yang hebat.

MAKLUMAT-MAKLUMAT GUBERNUR JAWA TENGAH 
Berhubung dengan Selesainya Pertempuran-pertempuran.

No I.

P. J. M. Presiden Republik dan P. J. M. Gunseikan telah memerintahkan berhentinya pertempuran.

Dengan ini Kami mempermaklumkan bahwa Kami telah mendapat kata sepakat dengan Pembesar Militer Nippon di Jatingaleh untuk menghentikan tembak-menembak dari kedua pihak sambil menunggu selesainya pembicaraan tentang perdamaian.

Maka dari itu ini hari Rabu tanggal 17 Oktober mulai jam 2 sore semua tembak-menembak harus berhenti dan kedua pihak tidak boleh melalui garis pertahanannya masing-masing.

Semarang, 17 Oktober 1945

Gubernur Jawa Tengah 
(MR WONGSONAGORO)

No. II

Saudara-saudara di Semarang, rakyat yang kucinta, pertempuran sudah berakhir. Waktu perdamaian memberhentikan tembak-menembak (wapenstillstand) kita berhadapan dengan tentara Jepang akan tetapi sekarang terbitnya saat damai yang tetap, kita berhadapan dengan tentara Inggris wakil Tentara Pendudukan Serikat.

Setelah 5 hari bertempur, rakyat kita sekarang mulai mengenyam suasana baru, ialah suasana tenteram dan damai. Hendaknyalah suasana sejahtera ini sungguh-sungguh dapat dilaksanakan, jangan hanya perkataan saja, pencurian dan perusuhan haruslah dihindarkan.

Kami telah dapat berhubungan langsung dan erat dengan Pembesar Tentara Pendudukan.

Beliau menyatakan tidak akan bertindak dalam jurusan politik pemerintahan. Pekerjaan Pendudukan terutama mengenai soal tata-ketenteraman.

Jagalah ketenteraman, kembalilah ini hari juga kepada pekerjaannya masing-masing saban hari.

Salam Kebangsaan: 
"MERDEKA!"

Semarang, 20-10-1945

Gubernur Jawa Tengah 
(MR WONGSONAGORO)

No. III

Berhubungan dengan keadaan telah damai kembali, maka dipermaklumkan untuk daerah Semarang sebagai berikut:

1. Semua kantor, jawatan, yang belum terbuka lagi, harus segera dibuka kembali dan dilangsungkan segala pekerjaan sebaik-baiknya.

2. Pegawai-pegawai negeri harus melakukan kewajibannya seperti yang sudah-sudah dan segera mengatur hal-hal yang mungkin menderita kekalutan.

3. Toko-toko, warung-warung, perusahaan-perusahaan hendaknya melanjutkan pekerjaannya sehari-hari.

4. Penduduk semuanya hendaknya tinggal tenang dan tenteram dan membantu terjaminnya keamanan umum, dan melanjutkan pekerjaan sehari-hari.

5. Jangan lekas percaya pada kabar-kabar yang menggusarkan hati penduduk.

6. Terhadap siapa pun yang mengganggu atau mencoba mengganggu keamanan, akan diambil tindakan keras.

Semarang, 21-10-1945

Gubernur Jawa Tengah 
MR WONGSONAGORO

No. IV

Berhubung dengan kedatangan Tentara Serikat di daerah Semarang, maka untuk penduduk daerah Semarang dipermaklumkan sebagai berikut:

1. Tentara Serikat telah datang di Semarang dan akan mengerjakan kewajibannya di daerah ini menurut hukum internasional.

2. Kewajiban Tentara Serikat di sini ialah:

a. menjaga keamanan umum (law and order);

b. menjamin langsungnya pekerjaan RAPWI;

c. memperlucuti senjata tentara Jepang.

3. Tentara Serikat tidak akan turut campur dalam urusan politik dalam negeri dan berpendirian netral.

4. Diharap segenap penduduk suka membantu pekerjaan Tentara Serikat ini sebaik-baiknya.

5. PEMERINTAH KITA BERLANGSUNG TERUS DAN BENDERA SANG MERAH PUTIH TERUS BERKIBAR.

6. Semua rakyat Republik Indonesia harus tetap tenang tenteram dan melakukan kewajiban dan disiplinnya sebaik-baiknya.

Semarang, tanggal 21-10-1945

Gubernur Jawa Tengah
MR WONGSONAGORO

Demikianlah bagian pertama peringatan Pertempuran Semarang yang berlangsung selama lima hari sehingga terkenal dengan nama "Pertempuran Lima Hari Semarang" kita mulai dengan mencuplikkan maklumat-maklumat, sekaligus melakukan studi-studi terhadap maklumat atau pengumuman pemerintah atau peraturan pada "Warta Indonesia", setelah studi kecil yang lain-lain dalam tulisan kami terdahulu. Pada tahapan kedua, akan kami muatkan kisah pertempurannya itu sendiri, sekaligus sebagai bahan studi kecil penulisan feature pada tahun 1945 tersebut.

(BERSAMBUNG)



Sumber: Pikiran Rakyat, 18 Oktober 1984



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hamdan Zoelva Siap Pimpin Syarikat Islam

BANDUNG, (PR).- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva (53), dicalonkan sebagai ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam periode 2015-2020 dan diperkirakan akan melenggang dalam pemilihan yang akan digelar Kamis (26/11/2015) malam ini. Hamdan bertekad untuk menyatukan kembali kekuatan Syarikat Islam, memperbanyak kaderisasi, dan menggerakkan program umat terutama pemberdayaan ekonomi. "Insya Allah saya siap kalau diberi amanah menjadi ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam. Saya hanya berucap bismika tawwakkaltu Alalloh laa hawla walaa quwwata illa billaah ," kata Hamdan saat pelaksanaan Majelis Tahkim ke-40 Syarikat Islam di Hotel Grand Aquila, Jalan Dr Djundjunan, Kota Bandung, Rabu (25/11/2015). Ia didampingi Wakil Ketua DPW Syarikat Islam Jabar, Adam Anhari. Hamdan mengaku tak terlalu sibuk lagi setelah tidak mengomandani Mahkamah Konstitusi sehingga ingin mewakafkan sisa usianya. "Saya kini hanya menjadi dosen di Unpad, Unhas Makassar, Universitas Muh...

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

Masjid Indonesia, Perkawinan Budaya yang Kaya Raya

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan  fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya DEMIKIANLAH penggalan bait pertama sajak Mencari Sebuah Mesjid yang ditulis penyair Taufik Ismail. Sajak yang keseluruhannya cukup panjang ini, dalam bentuknya yang besar ikut dipajang di salah satu pojok arena pameran Festival Istiqlal 1991. Setiap hari, banyaklah pengunjung yang ikut membacanya. Bahkan siswa-siswi SMP dan SMA rela duduk beralas karpet di hadapan sajak itu, untuk menyalinnya sampai habis. Tak salah jika dikatakan, "stand" sajak Taufik Ismail ini merupakan salah satu dari sekian banyak stand di arena pameran itu yang mendapatkan perhatian berlimpah dari pengunjung. Bait-bait sajak nan indah dan syahdu ini, seakan ingin memperlengkap koleksi benda-benda Islami yang dipamerkan pada pe...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api: Heroisme antara Tegallega dan Rel KA

TULANG  jemari terbungkus kulit keriput itu mencengkeram erat besi pegangan gerobak sampah. Bahunya yang tipis tampak melengkung, tertarik kuat tali pengikat gerobak. Langkah dan nafasnya terasa berat, menapaki Jl. Mohammad Toha, Tegallega, yang Sabtu sore kemarin (23/3), basah diguyur hujan. Beban sampah yang dibawanya, seakan tak sepadan dengan sosok tua yang kurus kering. Elan (60), sosok tua itu, sejenak memalingkan pandangannya pada sederet kata-kata dalam spanduk yang terpancang depan Markas Hubdam III/Siliwangi, "Markas Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi Tahun 1946 - Panitia BLA 1996", demikian bunyi tulisan itu. Kawasan Tegallega jika dibalik ke masa 1946, adalah sejarah heroik ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama ratusan ribu warga Bandung, mempertahankan kemerdekaan. Pada 21 Maret 1946, kawasan itu sempat dibombarder tentara Sekutu. Akan tetapi secara kebetulan, kedudukan Batalyon II TRI (Sumarsono) di sana, tengah memperkuat posisi perte...

Manunggaling Kawula Lan Gusti: Ajaran Syech Siti Jenar yang Ditentang Wali Songo

Oleh: MUHAMMAD RIDLO 'EISY "KULONUWUN  (permisi), adakah Syech Siti Jenar. Beliau dipanggil Sultan Demak," ucap utusan Sultan Demak kepada Syech Siti Jenar. "Syech Siti Jenar tidak ada, yang ada Tuhan," kata Syech Siti Jenar. Utusan kembali ke Demak dan melaporkan percakapannya kepada Sultan Demak. "Panggil Tuhan kemari," kata Sultan Demak. Utusan kembali ke tempat Syech Siti Jenar. (Dalam sebagian kisah rakyat, yang memanggil Syech Siti Jenar bukan Sultan Demak, tetapi Sunan Kudus.) "Kulonuwun, adakah Tuhan, beliau dipanggil Sultan Demak," ucap utusan Sultan Demak kepada Syech Siti Jenar. "Tuhan tidak ada, yang ada Syech Siti Jenar," kata Syech Siti Jenar. Utusan kembali ke Demak dan melaporkan percakapannya kepada Sultan Demak. "Panggil Tuhan dan Syech Siti Jenar kemari," kata Sultan Demak. Setelah dipanggil atas nama Tuhan dan Syech Siti Jenar maka berangkatlah Syech Siti Jenar menghadap Sul...

Ziarah ke Musoleum Imam Syafe'i

SALAH seorang imam dalam Islam, adalah Imam Syafe'i. Imam Syafe'i termasuk pendiri dari salah satu empat mazhab dalam Islam, yaitu Sunni. Tiga mazhab lainnya adalah Hanafi, Hambali, dan Maliki. Beberapa ulama sekarang mengakui Syiah sebagai mazhab kelima. Imam Syafe'i yang dilahirkan pada 150 H di Gaza dan meninggal pada 204 H, tepatnya 19 Januari 820 M di Mesir, memiliki garis keturunan langsung dengan paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Thalib. Kendati usianya relatif pendek, hanya sekitar 50 tahun, ia adalah ilmuwan besar yang membuat sejarah dengan karya-karyanya yang besar. Ia tercatat sebagai pencetus pertama ilmu ushul fikih (ilmu cara mengeluarkan hukum) dan Ar Risalah (Missi) adalah kitabnya yang sangat terkenal dalam bidang ushul fikih. Syafe'i mengisi hidupnya dengan pemgembaraan, menimba ilmu pertama di Mekkah, kemudian belajar hadits dari Imam Malik di Madinah, lalu belajar hukum di Baghdad (Irak), kemudian pergi ke Yaman untuk menimba ilmu. Lalu ia kembali ...

Museum Sumpah Pemuda: Pernah Menjadi Hotel dan Toko Bunga

S uasana di gedung tua yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 itu nyaris hening. Meski di depannya, hilir mudik kendaraan yang melintasi Jalan Kramat Raya tak henti-hentinya mengeluarkan suara raungan. Keramaian di jalan utama ibu kota itu seakan tak mampu menghidupkan suasana dalam gedung. Padahal sekitar 73 tahun yang lalu, di gedung ini pernah terjadi kesibukan yang menjadi tonggak penting bagi berdirinya negara Indonesia. Di tempat inilah para pemuda dari berbagai daerah memekikkan perlunya satu nusa, satu bahasa, dan satu bangsa. Namun kini gedung yang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda (MSP) seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan bangsa Indonesia. Suasana hening dan sepi semakin meneguhkan gedung yang memiliki total luas 1.284 m2 ini sebagai bangunan bersejarah. Gedung tua ini memang sarat catatan sejarah. Sebelum diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda tahun 1971, gedung ini sempat mengalami pemugaran. Pemugaran ini ditanggung oleh pihak pemerintah DKI Jakarta dan diresmikan ...