Langsung ke konten utama

Bukan Federalis

Ganjar Kurnia
Ketua Dewan Kebudayaan Jawa Barat

BAGI orang Sunda, Negara Pasundan sering kali dirasakan sebagai dosa warisan dengan duduk persoalan yang tidak jelas. Walaupun masih banyak hal yang harus diungkap, Agus Mulyana melalui bukunya yang berjudul Negara Pasundan, telah menguak tabir sejarah kelabu orang Sunda tersebut.

Selama ini, ada pandangan bahwa berdirinya Negara Pasundan identik dengan kehendak untuk menjadikan Indonesia sebagai negara federal ala Van Mook. Hal yang tidak diketahui masyarakat umum, ada dua bentuk negara Pasundan, yaitu Negara Pasundan yang didirikan oleh Soeria Kartalegawa dan Negara Pasundan sebagai produk dari Konferensi Jawa Barat dengan Wali Negara RAA Wiranatakoesoemah.

Walaupun versi Soeria Kartalegawa dianggap terkait dengan persoalan atau ambisi pribadi (buku Negara Pasundan halaman 70-71), terungkap pula alasan rasional pendiriannya yang dapat dijadikan pembelajaran bagi kehidupan bernegara masa kini dan masa depan. Partai Rakyat Pasundan yang diprakarsai oleh Soeria Kartalegawa yang untuk kemudian mendirikan Negara Pasundan, didirikan sebagai respons atas tidak diikutsertakannya wakil dari Jawa Barat di dalam Konferensi Malino dan Pangkal Pinang, serta diangkatnya Gubernur Jawa Barat pertama dan kedua yang bukan orang Sunda. Alasan pertama sebenarnya berlaku universal, sampai kapan pun dan untuk suku bangsa mana pun.

Untuk Negara Pasundan dengan Wali Negara RAA Wiranatakoesoemah, walaupun pada awalnya dirancang oleh pemerintah Belanda melalui Konferensi Jawa Barat pertama, tetapi pada akhirnya dengan "cerdas" dimanfaatkan oleh kaum republikan untuk menyelamatkan NKRI.

Keinginan Van Mook untuk menempatkan orang-orangnya yang pro federal, bahkan menjadi pemimpin di Negara Pasundan ternyata dikalahkan oleh orang-orang yang "berbaju federal dan berjiwa NKRI" tersebut. Hal ini semacam pengulangan sejarah dari Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang (Harry J Benda, 1985), di mana saat itu Jepang ingin menggunakan bulan sabit (Islam) untuk kepentingan matahari terbit (Jepang). Namun, di dalam realitasnya, kepentingan Jepang tersebut justru dimanfaatkan oleh umat Islam untuk memerdekakan Indonesia.

Sebagai Menteri Dalam Negeri di pemerintahan RI yang pertama, RAA Wiranatakoesoemah memiliki kedekatan pribadi dengan Soekarno. Alasan beliau bersedia diangkat sebagai wali negara Pasundan karena: "Saya percaya, pemerintah republik tidak akan memajukan keberatan-keberatan..." (hal 106).

Sementara itu, pernyataan Adil Puradiredja, seorang tokoh Paguyuban Pasundan yang diangkat sebagai kabinet formateur yang mengatakan bahwa "Negara Pasundan hanyalah jalan bukan tujuan" mendapat reaksi keras pihak Van Mook. Ketika Adil Puradiredja menolak untuk membuat kabinet baru, Wiranatakoesoemah menunjuk R Tumenggung Djoemhana seorang republikan yang menandatangani "Manifest 20" yang tidak menyetujui suatu negara di Jawa Barat yang terpisah dari Republik (hal. 109) untuk menjadi kabinet formateur.

Dengan melihat fakta sejarah seperti di atas, sesungguhnya tidak perlu ada keraguan terhadap ke-NKRI-an orang Sunda, dengan catatan bahwa harkat, martabat, dan kepentingan orang Sunda diperhatikan, sebagaimana yang diungkapkan Charles Tilly di atas.

Menarik kiranya disimak tentang penggunaan kata Pasundan di dalam Negara Pasundan yang berbeda dengan nama "negara-negara" lain yang menggunakan nama-nama pulau (bukan nama suku bangsa), seperti Negara Jawa Timur, Negara Jawa Tengah, Negara Indonesia Timur, Negara Sumatra Selatan, Negara Sumatra Timur, dsb. (sebenarnya ada juga negara Madura, yang identik dengan nama pulau dan suku bangsa, atau negara Dayak Besar?). Menurut Agus dan Reza, hal tersebut sebagai keberanian dari elite Sunda untuk menunjukkan identitas/jati diri kesukubangsaannya. Karena adanya sejarah yang tidak jelas tadi, sikap seperti ini pada periode-periode berikutnya hilang. Ada semacam ketakutan dari orang Sunda untuk menunjukkan identitasnya. Hal tersebut salah satunya terlihat dari banyaknya orang tua yang memberi nama anaknya dengan menggunakan kata "O", bukan "A" sebagaimana nama orang-orang Sunda pada umumnya.

Dari diskusi di "PR" terungkap pula bahwa ketidaktahuan akan sejarah di antaranya karena sejarah bersifat ideologis dan sering ditentukan oleh kepentingan rezim. Pelajaran sejarah lebih didominasi dengan sejarah nasional yang sangat makro dengan bahasan sejarah lokal (seperti latar belakang Negara Pasundan) dengan porsi kecil yang kurang jelas (sehingga dapat menyesatkan). Oleh karenanya, direkomendasikan agar penulisan dan pengajaran sejarah lokal untuk dilakukan.

Sebenarnya, masih banyak hal yang perlu lebih diungkap tentang Negara Pasundan ini. Di antaranya tentang sikap rakyat terhadap gerakan para menak di dalam Negara Pasundan ini. Karena secara sosiologis para menak adalah pangreh praja, yang hubungannya dengan rakyat bersifat patron-client, bisa jadi dukungan dari rakyat relatif kurang. Ini sebenarnya dalil umum. Apabila rakyat ditinggalkan, selain tidak akan mendapat dukungan, juga dapat membangun kebencian yang dapat menimbulkan permasalahan sosial yang lebih besar.

Karena sejarah Negara Pasundan sudah jelas, orang Sunda tidak perlu lagi dihinggapi perasaan dosa warisan, takut disebut sukuisme, provinsialis, yang ujung-ujungnya hanya akan merugikan pembangunan dan orang Sunda sendiri. Dengan menyitir ucapan Yus Rusyana, sudah saatnya orang Sunda untuk berhenti nyupata diri. Identitas kasundaan seharusnya dijadikan sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk tandang. Menurut Kang Memet Harlan Hamdan, agar orang Sunda bisa "manggung", paling tidak diperlukan tiga syarat: integritas, kompetensi, dan jiwa petarung. ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 10 Maret 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Stovia

Tulisan berjudul "Stovia yang Melahirkan Kebangsaan" ( Kompas , 28/5) telah menyadarkan kita tentang arti penting nilai-nilai kebangsaan yang dibangun para tokoh Indonesia. Untuk menyempurnakan tulisan tersebut, perlu diluruskan beberapa hal dari sisi sejarah. Stovia sebagai sekolah pendidikan dokter Hindia Belanda, sebenarnya tidak mendadak muncul pada zaman politik etis. Sekolah itu lahir sebagai sekolah dokter Jawa 1851, dengan program dua tahun. Tahun 1864 pendidikan menjadi tiga tahun. Tokoh dr Wahidin Soedirohoesoedo lulus dari program tiga tahun itu. Menurut A de Waart (1936), sejak 1872 sekolah itu mulai menyandang nama Stovia. Pada 1902 lama sekolah menjadi sembilan tahun (termasuk tiga persiapan). Dr Soetomo, masuk 1903, dapat disebut sebagai generasi pertama Stovia dengan kurikulum sembilan tahun. Artinya, pendiri Boedi Oetomo bukanlah generasi pertama Stovia, karena lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa sudah muncul pada 1853. Keterangan "Orang-orang idealis b...

Perjuangan "Antara" di Jaman Kolonial Hindia Belanda

Oleh : Djamal Marsudi. Di dalam gerakan kemerdekaan Indonesia, pers nasional merupakan senjata yang sangat ampuh dan tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu bersamaan dengan timbulnya kaum pergerakan, timbullah berbagai suratkabar harian dan majalah. Pada umumnya pers di kala itu bersifat perjuangan. Berkali-kali suratkabar-suratkabar Indonesia itu "dibredel" pemerintah Hindia Belanda. Wartawan-wartawannya diborgol dan masuk penjara tidak sedikit, tetapi perjuangan pers tetap berjalan. Pada tahun 1937 yang berarti menjelang pecah Perang Dunia II, atas usaha-usaha pemuda wartawan yang dinamis didirikan sebuah kantor berita Nasional bernama "Antara" di Jakarta oleh Pandu Kartawiguna, Mr. Soemanang, Albert Manumpak Sipahutar, Armyn Pane, Adam Malik dan lain-lain lagi. Pada bulan Mei 1940 negeri Belanda telah diserbu oleh Nazi Jerman, hanya lima hari saja negeri Belanda bisa dipertahankan. Oleh karena negeri Belanda diduduki Nazi Jerman, maka negeri jajahannya yang berna...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Palagan Surakarta, Perlawanan Heroik Mengalahkan Tank-tank dan Pembom Belanda

T AHUN 1948, Belanda mengadakan agresi militernya yang kedua. Penyerangan secara besar-besaran dan mendadak itu dilakukan Belanda di berbagai kota yang dikuasai Pemerintah RI waktu itu, termasuk Solo. Di Solo, Belanda mengadakan pembersihan terhadap penduduk, laki-laki, wanita, dan bahkan anak yang masih ingusan. Sasaran pembersihan di Kota Solo terutama dilakukan di daerah Gading, Pasar Pon, Danukusuman, Penumping, Kestalan, Cinderejo, dan lain-lain. Namun, apa yang dilakukan Belanda sebagai tindakan kekejaman itu tidak membuat Pemuda menjadi keder dan ciut nyalinya. Melainkan jadi tambah gigih. Kota Solo berhasil dikuasai lebih dari separo oleh pejuang. Walaupun Belanda tidak berhasil dihalau ke luar kota (meninggalkan Kota Solo) karena dilindungi perlengkapannya yang serbamodern, namun, mereka sudah tidak berkutik lagi. Hanya tinggal di tangsi dan rumah. Korban di pihak musuh cukup besar. Waktu itu, Solo dimasuki dari empat jurusan yang membuat Belanda jadi kalang kabut. Sekitar 200...

Wacana Baru Islam Jawa

Pakubuwono II gagal menjadi raja-sufi yang kuat. Ia tak mampu menghadapi kehadiran VOC. I SLAM sinkretis. Istilah tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan Islam di Jawa. Perkembangan Islam di wilayah ini lebih diwarnai proses penjawaan ketimbang sebaliknya. Namun, tidak demikian halnya dengan buku karangan M. C. Ricklefs ini. Lewat kajiannya tentang kebangkitan budaya Jawa pada abad ke-18, tepatnya pada masa kekuasaan Pakubuwono II (1726-1749) di Kerajaan Mataram, ia berkesimpulan sebaliknya. Islam menempati posisi sentral dalam budaya Jawa. Bersama tradisi besar pra-Islam, Hindu-Budhis, Islam memberikan kontribusi penting bagi kebangkitan budaya Jawa. Argumen Ricklefs ini memang mewakili kecenderungan baru dalam kajian Islam di Indonesia. Mark R. Woodward menyebutnya sebagai "paradigma yang berpusat pada Islam" ( Islam centered paradigm ). Meski demikian, pada saat yang sama, harus diingat bahwa pandangan Ricklefs ini mewakili argumen seorang sejarawan. Hubungan Islam-Ja...

Mengenang Armada Laksamana Cheng Ho

Oleh ALEX ACHLISH P ADA bulan Juli 600 tahun yang silam, armada raksasa Dinasti Ming meninggalkan Ibu Kota Nanjing, untuk melakukan pelayaran pertama dari tujuh pelayaran besar yang mencapai kawasan terjauh termasuk Jawa dan Sumatra dan beberapa tempat persinggahan. Pelayaran besar-besaran ini dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho. Dia bukanlah seorang Cina melainkan Muslim dari Asia Tengah yang lahir dengan nama Ma He. Peristiwa ini tentu saja merupakan peristiwa besar dan oleh sebab itu akan dirayakan secara besar-besaran pula di berbagai negara. Di Indonesia, perayaan dipusatkan di Kota Semarang pada 2-8 Agustus 2005 dengan berbagai acara yang denyutnya sudah mulai terasa mulai awal bulan Juli. Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip dalam keterangannya seusai meresmikan ribuan lampion di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang Minggu lalu (25/7) mengharapkan warga Semarang bisa menjadi tuan rumah yang baik pada acara yang menyedot wisatawan mancanegara. Karena peringatan 600 tahun pendaratan Laksaman...

Peristiwa Surabaya 40 Tahun Lalu: Bagaimana Brigjen Mallaby Terbunuh?

Hari itu, Selasa 30 November 1945. Hari menapak senja. Suasana di depan Gedung Internatio, Surabaya, tegang. Tiba-tiba meriam Inggris dari jendela gedung memuntahkan tembakan membabi-buta ke arah rakyat yang tengah berkerumun. Soengkono  salah seorang anggota Kontak Biro, meloncat ke kolong mobil merek Chysler yang ditumpangi Brigjen Mallaby. Sambil mengendap-endap, ia menyaksikan komandan Pasukan Sekutu di Surabaya itu didorong-dorong dengan bayonet dan bambu runcing oleh para pemuda pejuang Surabaya sampai masuk ke mobil. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 17.00 petang. "Dari bawah mobil saya dengar Mallaby merintih. Sekitar pukul 19.00 rintihan terhenti. Saya kira di waktu itulah dia meninggal," tutur Soengkono (alm), seperti dituturkan kembali oleh istrinya , Ny Isbandiah , kepada seorang wartawan. Itu satu versi cerita sekitar terbunuhnya Brigjen Mallaby, komandan Brigjen ke-49, yang mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Sampai kini, peristiwa tewasnya Jenderal Inggr...