Langsung ke konten utama

Kecerdasan Elite Pasundan

Cecep Darmawan
Dosen Ilmu Politik Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Peserta FGD Forum Asia Afrika

DISKURSUS mengenai nasionalisme orang Sunda terjawab sudah dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digagas Forum Asia Afrika (8/3/2016) di Aula HU Pikiran Rakyat. FGD yang membedah buku Negara Pasundan 1947-1950: Gejolak Menak Sunda Menuju Integrasi Nasional, karya Agus Mulyana dipandu oleh moderator Elly Malihah dengan menghadirkan tiga narasumber kunci dalam FGD, yakni Agus Mulyana (penulis buku), Dede Mariana (Guru Besar Ilmu Pemerintahan Unpad), dan Reiza D Dienasaputra (sejarawan Unpad). FGD ini selain menarik juga isunya sangat sensitif dan diperlukan kecerdasan untuk memahaminya. Sejumlah tokoh dan ilmuwan di Jawa Barat di antaranya Ganjar Kurnia, Tjetje Hidayat Padmadinata, Ketua DPRD Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari, Ketua KPU Jawa Barat Yayat Hidayat, hadir dan memberikan kontribusi pemikiran yang berarti bagi Jawa Barat.

Negara Pasundan merupakan salah satu bagian sejarah dari etnik Sunda. Pembentukan Negara Pasundan di Jawa Barat tidak terlepas dari kepentingan menak Sunda saat itu. Menurut Agus Mulyana, lahirnya Negara Pasundan yang melibatkan kaum menak Sunda merupakan bagian dari proses dinamika politik masa awal revolusi di Jawa Barat.

Agus Mulyana menjelaskan bahwa deklarasi Negara Pasundan terjadi dua kali, yakni diproklamasikan oleh Surya Kartalegawa pada tanggal 4 Mei 1947 di Alun-alun Kota Bandung, dan Negara Pasundan hasil Konferensi Jawa Barat dengan terpilihnya RAA Wiranatakoesoemah sebagai wali negara Pasundan tanggal 4 Maret 1948. Dalam perdebatan antara Menak Republiken dengan Menak Federalis (terminologi Agus Mulyana) terjadi dialektika pemikiran yang cerdas mengenai cita Negara Pasundan, yang mengedepankan kepentingan dan identitas kesundaan di Jawa Barat. Meskipun terdapat dua menak Sunda (Menak Republiken dan Menak Federalis) yang seolah-olah saling berebut pengaruh dan kekuasaan, sebenarnya keduanya sepakat ingin masyarakat Sunda dipimpin oleh orang Sunda. Bahkan Surya Kartalegawa yang waktu itu tidak banyak memiliki dukungan yang kuat dari elemen masyarakat Sunda, sebagai orang Sunda tidak rela kalau Jawa Barat dipimpin oleh orang luar Sunda. Tentu saja komitmen ini bukanlah sikap primordialisme, melainkan ingin masyarakat Sunda dipimpin oleh elite yang memahami betul kehidupan dan karakter orang Sunda agar terjalin komunikasi politik yang harmonis.

Dalam pembentukan Negara Pasundan yang pertama, Surya Kartalegawa kurang mendapatkan dukungan dan perhatian dari kaum elite Sunda. Oleh karena itu, HJ van Mook sebagai Gubernur Jenderal NICA menyadari perlunya mengajak elite-elite Sunda lainnya sehingga diadakan Konferensi Jawa Barat yang berakhir dengan berdirinya Negara Pasundan.

Menurut Agus Mulyana, pada 12 Oktober 1947 sampai dengan 4 Maret 1948, diadakan Konferensi Jawa Barat yang dimotori oleh Regerings Commisaris Bestuuranglengenhenden (Recomba), suatu pemerintahan peralihan yang dibentuk oleh Belanda yang menghasilkan keputusan RAA Wiranatakoesoemah terpilih sebagai Wali Negara Pasundan, mengalahkan Hilman Djajadiningrat. Yang menarik, kata Agus Mulyana, keterlibatan Wiranatakoesoemah (mantan Bupati Bandung) dalam Wali Negara sedang menduduki sebagai Menteri Dalam Negeri RI. Wiranatakoesoemah atas seizin Soekarno sebagai Presiden RI saat itu.

Singkat cerita, setelah pengunduran diri Wiranatakoesoemah, RIS menunjuk Sewaka sebagai komisaris untuk menyelenggarakan pemerintahan pusat di Jawa Barat. Menurut Agus Mulyana, Sewaka pada tanggal 8 Maret 1950 menyelenggarakan rapat besar bupati-bupati di Jawa Barat, dan menghasilkan keputusan membubarkan Negara Pasundan dan Jawa Barat kembali bersatu dengan Republik Indonesia.

Pada akhirnya, para elite Sunda berstrategi bagaimana Negara Pasundan ini bisa bubar dan Jawa Barat harus bergabung dengan Republik Indonesia. Inilah sikap nasionalisme orang Sunda yang harus dicatat dengan tinta tebal dalam sejarah keindonesiaan kita. Politik adu domba Belanda terhadap elite-elite Sunda tidak berhasil. Justru para elite Sunda menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan dalam membangun Indonesia ini.

Dede Mariana sebagai pembicara kedua dalam FGD, lebih menyoroti substansi Negara Pasundan dalam perspektif teori elite dalam ilmu politik. Menurut dia, istilah menak identik dengan bangsawan atau lord sesungguhnya memiliki kode etik. Berdasarkan perspektif keilmuan, ia menyampaikan bahwa sebenarnya pendirian Negara Pasundan berkaitan dengan politik identitas yang menyangkut suatu etnik (etnik Sunda). Kemudian, jika dilihat dengan pola pemerintahan, ada implikasi hubungan politis antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah (konsep desentralisasi).

Sementara itu, Reiza D Dienasaputra menyoroti persoalan Negara Pasundan yang penuh "misteri", yang sebagian telah dibongkar oleh Agus Mulyana dengan "pendekatan Menak Sunda". Negara Pasundan bagi masyarakat Sunda harus dikonstruksi dengan jiwa zamannya (zeitgeist), sehingga tidak menjadi beban sejarah yang seolah-olah menak Sunda profederalis. Reiza mengemukakan bahwa berdasarkan temuan sejarah etnik Sunda adalah etnik pertama dalam tataran nusantara yang melek huruf yang dibuktikan dengan penemuan prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara. Selain itu dalam lingkup nasional, etnik Sunda pun diakui pengaruh dan kontribusinya terhadap berdirinya NKRI. Bahkan banyak orang Sunda yang menduduki jabatan dalam pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Soekarno.

Terkait dengan dialektika pemikiran dan gerakan dua menak Sunda, Surya Kartalegawa dan RAA Wiranatakoesoemah, menurut Reiza, hal itu sebagai adu kecerdasan politik orang Sunda agar etnis Sunda tidak dimarjinalkan dalam politik nasional.

Sementara itu, isu dan kontribusi pemikiran dari peserta FGD di antaranya bahwa hasil penelitian Agus Mulyana harus ditindaklanjuti dengan riset berikutnya tentang Negara Pasundan dari dimensi lain. Selain itu, forum tampaknya sepakat bagaimana orang Sunda saat ini dan ke depan bisa menyiapkan diri untuk bertandang ke tingkat nasional. Dan berdirinya Negara Pasundan 1947-1950 merupakan bukti kecerdasan politik orang Sunda dalam membaca zamannya yang harus menjadi spirit dalam rangka membangun Jawa Barat. Lalu, bagaimana peran menak-menak Sunda kekinian dalam memperjuangkan masyarakat Sunda dalam konteks NKRI? Itulah PR yang harus dijawab oleh para inohong Sunda kiwari. Bagi elite nasional, harus dipahami bahwa sejarah Negara Pasundan merupakan suatu strategi politik orang Sunda yang berkontribusi besar terhadap NRKI. Oleh karena itu, jangan pernah memarginalkan orang Sunda!***



Sumber: Pikiran Rakyat, 10 Maret 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Stovia

Tulisan berjudul "Stovia yang Melahirkan Kebangsaan" ( Kompas , 28/5) telah menyadarkan kita tentang arti penting nilai-nilai kebangsaan yang dibangun para tokoh Indonesia. Untuk menyempurnakan tulisan tersebut, perlu diluruskan beberapa hal dari sisi sejarah. Stovia sebagai sekolah pendidikan dokter Hindia Belanda, sebenarnya tidak mendadak muncul pada zaman politik etis. Sekolah itu lahir sebagai sekolah dokter Jawa 1851, dengan program dua tahun. Tahun 1864 pendidikan menjadi tiga tahun. Tokoh dr Wahidin Soedirohoesoedo lulus dari program tiga tahun itu. Menurut A de Waart (1936), sejak 1872 sekolah itu mulai menyandang nama Stovia. Pada 1902 lama sekolah menjadi sembilan tahun (termasuk tiga persiapan). Dr Soetomo, masuk 1903, dapat disebut sebagai generasi pertama Stovia dengan kurikulum sembilan tahun. Artinya, pendiri Boedi Oetomo bukanlah generasi pertama Stovia, karena lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa sudah muncul pada 1853. Keterangan "Orang-orang idealis b...

Perjuangan "Antara" di Jaman Kolonial Hindia Belanda

Oleh : Djamal Marsudi. Di dalam gerakan kemerdekaan Indonesia, pers nasional merupakan senjata yang sangat ampuh dan tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu bersamaan dengan timbulnya kaum pergerakan, timbullah berbagai suratkabar harian dan majalah. Pada umumnya pers di kala itu bersifat perjuangan. Berkali-kali suratkabar-suratkabar Indonesia itu "dibredel" pemerintah Hindia Belanda. Wartawan-wartawannya diborgol dan masuk penjara tidak sedikit, tetapi perjuangan pers tetap berjalan. Pada tahun 1937 yang berarti menjelang pecah Perang Dunia II, atas usaha-usaha pemuda wartawan yang dinamis didirikan sebuah kantor berita Nasional bernama "Antara" di Jakarta oleh Pandu Kartawiguna, Mr. Soemanang, Albert Manumpak Sipahutar, Armyn Pane, Adam Malik dan lain-lain lagi. Pada bulan Mei 1940 negeri Belanda telah diserbu oleh Nazi Jerman, hanya lima hari saja negeri Belanda bisa dipertahankan. Oleh karena negeri Belanda diduduki Nazi Jerman, maka negeri jajahannya yang berna...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Palagan Surakarta, Perlawanan Heroik Mengalahkan Tank-tank dan Pembom Belanda

T AHUN 1948, Belanda mengadakan agresi militernya yang kedua. Penyerangan secara besar-besaran dan mendadak itu dilakukan Belanda di berbagai kota yang dikuasai Pemerintah RI waktu itu, termasuk Solo. Di Solo, Belanda mengadakan pembersihan terhadap penduduk, laki-laki, wanita, dan bahkan anak yang masih ingusan. Sasaran pembersihan di Kota Solo terutama dilakukan di daerah Gading, Pasar Pon, Danukusuman, Penumping, Kestalan, Cinderejo, dan lain-lain. Namun, apa yang dilakukan Belanda sebagai tindakan kekejaman itu tidak membuat Pemuda menjadi keder dan ciut nyalinya. Melainkan jadi tambah gigih. Kota Solo berhasil dikuasai lebih dari separo oleh pejuang. Walaupun Belanda tidak berhasil dihalau ke luar kota (meninggalkan Kota Solo) karena dilindungi perlengkapannya yang serbamodern, namun, mereka sudah tidak berkutik lagi. Hanya tinggal di tangsi dan rumah. Korban di pihak musuh cukup besar. Waktu itu, Solo dimasuki dari empat jurusan yang membuat Belanda jadi kalang kabut. Sekitar 200...

Wacana Baru Islam Jawa

Pakubuwono II gagal menjadi raja-sufi yang kuat. Ia tak mampu menghadapi kehadiran VOC. I SLAM sinkretis. Istilah tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan Islam di Jawa. Perkembangan Islam di wilayah ini lebih diwarnai proses penjawaan ketimbang sebaliknya. Namun, tidak demikian halnya dengan buku karangan M. C. Ricklefs ini. Lewat kajiannya tentang kebangkitan budaya Jawa pada abad ke-18, tepatnya pada masa kekuasaan Pakubuwono II (1726-1749) di Kerajaan Mataram, ia berkesimpulan sebaliknya. Islam menempati posisi sentral dalam budaya Jawa. Bersama tradisi besar pra-Islam, Hindu-Budhis, Islam memberikan kontribusi penting bagi kebangkitan budaya Jawa. Argumen Ricklefs ini memang mewakili kecenderungan baru dalam kajian Islam di Indonesia. Mark R. Woodward menyebutnya sebagai "paradigma yang berpusat pada Islam" ( Islam centered paradigm ). Meski demikian, pada saat yang sama, harus diingat bahwa pandangan Ricklefs ini mewakili argumen seorang sejarawan. Hubungan Islam-Ja...

Mengenang Armada Laksamana Cheng Ho

Oleh ALEX ACHLISH P ADA bulan Juli 600 tahun yang silam, armada raksasa Dinasti Ming meninggalkan Ibu Kota Nanjing, untuk melakukan pelayaran pertama dari tujuh pelayaran besar yang mencapai kawasan terjauh termasuk Jawa dan Sumatra dan beberapa tempat persinggahan. Pelayaran besar-besaran ini dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho. Dia bukanlah seorang Cina melainkan Muslim dari Asia Tengah yang lahir dengan nama Ma He. Peristiwa ini tentu saja merupakan peristiwa besar dan oleh sebab itu akan dirayakan secara besar-besaran pula di berbagai negara. Di Indonesia, perayaan dipusatkan di Kota Semarang pada 2-8 Agustus 2005 dengan berbagai acara yang denyutnya sudah mulai terasa mulai awal bulan Juli. Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip dalam keterangannya seusai meresmikan ribuan lampion di Kelenteng Tay Kak Sie Semarang Minggu lalu (25/7) mengharapkan warga Semarang bisa menjadi tuan rumah yang baik pada acara yang menyedot wisatawan mancanegara. Karena peringatan 600 tahun pendaratan Laksaman...

Peristiwa Surabaya 40 Tahun Lalu: Bagaimana Brigjen Mallaby Terbunuh?

Hari itu, Selasa 30 November 1945. Hari menapak senja. Suasana di depan Gedung Internatio, Surabaya, tegang. Tiba-tiba meriam Inggris dari jendela gedung memuntahkan tembakan membabi-buta ke arah rakyat yang tengah berkerumun. Soengkono  salah seorang anggota Kontak Biro, meloncat ke kolong mobil merek Chysler yang ditumpangi Brigjen Mallaby. Sambil mengendap-endap, ia menyaksikan komandan Pasukan Sekutu di Surabaya itu didorong-dorong dengan bayonet dan bambu runcing oleh para pemuda pejuang Surabaya sampai masuk ke mobil. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 17.00 petang. "Dari bawah mobil saya dengar Mallaby merintih. Sekitar pukul 19.00 rintihan terhenti. Saya kira di waktu itulah dia meninggal," tutur Soengkono (alm), seperti dituturkan kembali oleh istrinya , Ny Isbandiah , kepada seorang wartawan. Itu satu versi cerita sekitar terbunuhnya Brigjen Mallaby, komandan Brigjen ke-49, yang mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Sampai kini, peristiwa tewasnya Jenderal Inggr...