Langsung ke konten utama

Daya Simbolis Sunda

Asep Salahudin
Dekan Fakultas Syariah IAILM Suryalaya
Pemerhati Kebudayaan Sunda

SUNDA tentu tidak akan pernah selesai dipercakapkan. Apalagi kalau dikaitkan dengan persoalan sejarah dan kebudayaan. Di belakangnya selalu menyisakan banyak perspektif lengkap dengan polemik yang mengitarinya. Justru tema inilah yang hendak didiskusikan kembali Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat, Kamis, 10 Maret 2016, di Auditorium Museum Sri Baduga berangkat dari buku tebal bikinan Nina Herlina Lubis dkk, Sejarah Kebudayaan Sunda.

Membedah tema sejarah dan kebudayaan hari ini tentu tidak akan segempita membincangkan politik kaitannya dengan manusia Sunda walaupun ujung kesimpulannya sudah dapat diterka: ngabuntut bangkong dan berputar sekitar keluh kesah Ki Sunda yang dipandang "kalah" dalam konteks politik nasional.

Suatu pertanyaan

Apa itu sejarah? Pertanyaannya sama abstraknya dengan apa itu kebudayaan. Jawabannya bisa panjang lebar. Semakin abstrak kalau dibubuhi label Sunda.

Bagi saya, hubungan ketiganya (sejarah, kebudayaan, dan Sunda) menjadi semacam gambar piramida dengan kekaburan siapa yang mengisi ketiga sisi tiap sudut piramida itu. Siapa yang berada di puncak piramida dan mana yang menjadi penyangga dua sisi di bawahnya. Apakah Sunda yang bertakhta di puncak piramida yang kemudian ditopang sisi sejarah dan kebudayaan atau kebudayaan yang di atas, sementara Sunda dan sejarah yang berada di bawahnya. Atau setiap sudut itu bisa bergantian peran, diisi tergantung pada kepentingan sang penafsir bahkan lebih jauh lagi tergantung siapa penguasa yang sedang manggung.

Bagi saya, ini bukan persoalan retoris apalagi serupa teka-teki silang, tetapi sangat substantif. Konfigurasi Sunda dan manusianya, hubungannya dengan keagamaan atau relasinya dengan kekuasaan baik pra-Mataram, masa perjuangan kemerdekaan, waktu zaman negara despotik Orde Baru, atau ketika kekuasaan dikendalikan Presiden Jokowi, banyak bergantung kepada bagaimana mengurai ketiga unsur tadi: sejarah, kebudayaan, dan kesundaan.

Mengapa orang Sunda mengambil falsafah "jalan tengah", banyak mengembangkan politik akomodatif, mempertimbangkan rasa, atau lebih konkret lagi mengapa Golkar selama 32 tahun menjadi pemenang dan lumbung suaranya di Jawa Barat, begitu juga pasca Orde Baru Sunda menjadi parameter politik nasional. Mengapa DI (Darul Islam) yang dipimpin Kartosuwiryo menjadikan Priangan Timur sebagai basis perjuangannya. Jawabannya bagi saya lagi-lagi berpulang pada sejarah dan kebudayaan itu. Termasuk jawaban atas persoalan hari ini ketika Jawa Barat menempati indeks tertinggi dalam hal kekerasan berjubahkan agama.

Konfigurasi piramida ini yang kemudian menimbulkan manusia Sunda terbelah dalam tiga tipologi: pertama, Sunda puritan. Dicirikan dengan kecenderungan terus menerus mencari dan berada dalam "keaslian" (wiwitan). Sunda seolah lahir dari ruang hampa kebudayaan. Di luar Sunda dianggap bid'ah dan hanya akan merusak otentisitas kesundaan. Sejarah seakan bergerak linier. 

Kedua, Sunda kosmpolit. Tipologi ini lebih realistis. Minimal ditandai keyakinan bahwa "keaslian" itu tidak ada. Kebesaran sebuah etnik ditenggarai dengan kesediaannya memberi dan menerima "liyan". Sunda menjadi puak terbuka, someah hade ka semah. Sunda bukan lagi ditarik satu helaan napas dengan Islam, tetapi juga bisa dengan agama apa pun juga. Kalau hari ini kita sering mendengar ungkapan Sunda Islam dan Islam Sunda, maka nomenklatur ini lebih mencerminkan pendakuan ideologis, bukan mengekspresikan fakta historis, lebih banyak muatan teologisnya ketimbang realitas empirisnya.

Ketiga, Sunda pragmatis. Tipologi ketiga ini lebih menempatkan Sunda sebagai kuda tunggangan untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat jangka pendek. Sunda berhenti sebagai atas nama. Sunda itu penting selama menguntungkan dirinya, dan ketika tidak menguntungkan maka merasa tidak berdosa seandainya harus beralih ke yang lain.

Daya kuasa

Berbicara tentang sejarah dan kebudayaan pada kenyataannya tidak terhindarkan juga beririsan dengan kekuasaan. Kekuasaan tidak harus dimaknai secara fisik-struktural, tetapi juga bisa bersifat simbolis-kultural. Simbol bergerak justru lebih laten ketimbang yang berbentuk fisik. Daya magis simbol yang bersifat abstrak mampu membangun jaringan makna. Makna yang dipendarkan simbol pada gilirannya berhubungan dengan persoalan kebudayaan, sosial, ekonomi, juga sistem kepercayaan.

Bagi saya, Sunda tidak saja harus menggeluti persoalan politik, ekonomi, dan lingkungannya yang sudah burakrakan, tetapi tidak kalah pentingnya adalah keberanian melakukan pertarungan di dunia simbolis. Pengetahuan sebagai medan pertarungan yang paling hakiki nyaris "didominasi" yang lain. Gramsci menyebutnya sebagai hegemoni.

Mungkin di titik ini, kitab Sejarah Kebudayaan Sunda menarik didiskusikan walaupun tidak sepenuhnya tulisan-tulisan yang ditelaah berisi gagasan baru. Minimal generasi ke depan mengenal bahwa "maung" itu tidak hanya identik dengan Persib, tetapi juga berkelindan dengan dunia literasi. ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 10 Maret 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ceceran Kisah Zaman Kolonial dan Zaman Perang: Stasiun Kereta Api Garut Jadi Kenangan

DI antara para penggemar kereta api Indonesia, bekas-bekas lintasan kereta api jalur Cibatu-Garut-Cikajang sering menarik untuk kegiatan hobi kukurusukan di rel kereta api. D I masa lalu, saat jalur tersebut masih aktif, banyak menyisakan kenangan, bukan hanya masyarakat lokal, juga orang-orang Eropa yang pernah ke Garut, sejak zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang saat Perang Dunia II (1942-1945) sampai masa perang kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Sosok jalur kereta api di Garut pada zaman kolonial di antaranya digambarkan dalam panduan wisata See Java: the garden of the east, a short guide for tourists, yang diterbitkan Michael's Java Motor Touring Co tahun 1918 yang arsipnya disimpan di University of California Libraries. Saat itu, Stasiun Kereta Api Garut menjadi andalan tujuan dan keberangkatan dari atau ke kawasan ini, baik angkutan perkebunan maupun penumpang yang dimulai dari Stasiun Cibatu. Disebutkan, setibanya di Stasiun Garut, pada masa-masa itu ada dua hotel yan...

Catatan Kongres SI

Rahardjo Tjakraningrat Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Periode 2010-2015 L AMA  tak hadir dalam kiprah politik dan kekuasaan. Itulah kesan umum khayalak tentang keberadaan Syarikat Islam, sebuah organisasi besar pada zamannya--khususnya pada era prakemerdekaan--dengan segudang tokoh yang dimiliki antara lain Samanhudi, HOS Tjokroaminoto, Abdul Muis, Agus Salim, dan sederet nama lain yang memberi makna dalam konteks keberadaan negeri yang kemudian bernama Republik Indonesia ini. Banyak kalangan yang mungkin kurang ngeh  bahwa sesungguhnya organisasi yang dulunya juga bernama Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) itu secara konsisten melakukan hajat keorganisasian sesuai dengan tuntutan konstitusinya yakni pada ajang yang disebut Majelis Tahkim/Kongres Nasional, di mana tahun ini digelar perhelatan Majelis Tahkim ke-40 Syarikat Islam. Artinya, SI tetap konsisten pada dirinya yang dalam kondisinya yang ada tetap melakukan kegiatan-kegiatan keorganisasian sebagaimana...

Gejolak Revolusi di Daerah

SETELAH diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, tidak berarti perjuangan melawan penjajah Belanda telah usai. Perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dan mencegah kembalinya penjajahan Belanda, terus berlangsung. Hal itu ditandai dengan adanya Agresi Militer I dan II Belanda. T IDAK terkecuali di wilayah Ciamis, pertempuran melawan kolonial pun terus terjadi. Di wilayah Ciamis-Tasikmalaya, pertempuran warga setempat, tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa pengeboman jembatan Karangresik pada 1948. Saat ini, untuk memperingati pertempuran tersebut, dibangun monumen yang menggambarkan pertempuran di Karangresik, Kota Tasikmalaya. Namun mengenai pertempuran di Ciamis sendiri, hingga saat ini masih dalam perbincangan. Ada beberapa kalangan yang menyebutkan bahwa selain di wilayah Karangresik, pertempuran pun terjadi di wilayah Cikoneng dan Sindangkasih. Pendapat lain menyebutkan, pertempuran pecah di Kawali. Sejarawan yang juga gur...

Konsensus Kebangkitan Bangsa

Oleh FAROUK MUHAMMAD M omentum kebangkitan nasional yang diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 20 Mei hendaknya menjadi sarana bagi kita bersama untuk melakukan refleksi kritis dan konstruktif terhadap kondisi kebangsaan kita saat ini dan masa depan. Dan, hal ini seyogianya dimulai dari satu kesadaran sejarah tentang akar-akar fondasional Indonesia merdeka sehingga kita tidak menjadi bangsa yang tunasejarah dan tunawarisan kebangsaan--yang seharusnya kita pelihara dan tumbuh kembangkan dalam dimensi kekinian. Apa tujuan Indonesia merdeka? Kita dapat menemukannya dalam Pembukaan UUD 1945. Akan tetapi, jika kita tanya kepada Bung Karno, kita tahu jawabnya melalui pidatonya tahun 1963 yang sangat terkenal diberi judul "Trisakti", yaitu: berdaulat secara politik, berberdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya. Lalu, jika ada pertanyaan, apa karakter dan watak asli bangsa Indonesia? Kita menemukan jawabannya pada lima sila Pancasila. Konsensus para pend...

Pendidikan Itu untuk Rakyat ....

Oleh: INDIRA PERMANASARI S ekitar 70 tahun lalu, tepatnya 1927, seorang anggota Volksraad (dewan perwakilan rakyat buatan Belanda dalam rangka politik etis) Meyer Ranneft, berpidato tentang pendidikan di Hindia Belanda. " ... Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun lebih cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, mempunyai dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini adalah suatu masyarakat yang mempunyai pertentangan-pertentangan yang tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin. Bilamana meneliti sistem pendidikan, kita melihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan kita turut mempertajam kontras sosial ekonomi, sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? ...." Cuplikan pidato itu dibacakan Dr Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang dalam forum diskusi 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah di Bandung pekan lalu. Menurut Mestika, pada masanya Ranneft me...

Ketika Surabaya Menjadi "Neraka" bagi Sekutu

P ERANG Dunia II menunjukkan perkembangan menarik. Keberhasilan pihak Sekutu di front Afrika - Eropa oleh Jenderal Eisenhower, diimbangi dengan kemajuan yang sama di front Asia - Pasifik. Sementara itu, Rusia pun mulai bergerak. Operasi Barbarosa yang digelar berhasil gemilang. Dengan cepat pasukan Sekutu bergerak ke barat. Kemenangan Sekutu makin kentara membuat Jepang kalang kabut.  Dengan berbagai upaya, Jepang berusaha mempertahankan kedudukannya, terutama di kawasan Asia. Memaksa Sekutu mengambil jalan pintas di front Asia - Pasifik untuk segera menghancurkan Jepang. Bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945 mengakhiri Perang Asia Timur Raya. Kesempatan itu dimanfaatkan Bung Karno. Selagi Jepang dalam keadaan tak berdaya, diproklamirkanlah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.  Insiden Hotel Yamato Kemerdekaan Indonesia yang dikumandangkan secara mendadak itu membuat Sekutu heran. Belanda pun bingung. Sesuai perjanjian Postdam yang dita...

Arti Bhinneka Tunggal Ika

Arti kata per kata dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sering disalahartikan, termasuk oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpendidikan tinggi. Kesalahan terakhir dilakukan oleh Bung Harry Roesli dalam artikelnya berjudul: Kaus Partai dan Baju Besi (Kompas , 15/5/99). Walaupun isi artikel enak dibaca, namun mengandung kesalahan fatal menyangkut semboyan di atas. Di artikel tersebut Bung Harry menulis bahwa saat ini Bhinneka Tunggal Ika telah dipelesetkan menjadi Bhinneka tidak Ika, atau Bhinneka susah Ika, atau juga Bhinneka lawan Ika. Jelas di sini Bung Harry berpikir, bahwa kata Ika-lah yang mengandung arti bersatu/satu. Kesalahan serupa juga telah banyak dilakukan oleh kaum terdidik di negeri ini. Padahal dalam semboyan ini, arti kata satu (atau bersatu) dikandung dalam kata tunggal. Sedangkan kata Ika, kalau saya tidak keliru, artinya kira-kira adalah atau begitu adanya. Secara lengkap artinya adalah berbeda-beda (Bhinneka), namun satu (Tunggal) adanya (Ika). Kemungkinan ...