DI dalam foto itu, sepuluh atau lebih tentara Belanda sedang memandangi desa yang terbakar. Mereka asyik sekali. Sampai-sampai, kesan yang ditulis di belakang foto itu pun begitu ceria, "Kebakaran yang sungguh indah dan sangat menyenangkan melihat kampung terbakar".
Foto itu beredar di dunia maya, melalui laman 7mei.nl/eerherstel3 milik Max van der Werff, seorang Belanda yang peduli terhadap persoalan kejahatan kemanusiaan di Indonesia. Foto tersebut diambil seorang veteran Belanda yang bertugas di kawasan Legok.
Tak ada catatan resmi mengenai peristiwa itu. Namun, ingatan Otoy (89) dapat menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Pria tunawisma itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi pada desanya yang dikenal dengan sebutan Riung Gunung.
Beberapa orang meyakini, rakyat Indonesia sendiri yang sengaja membakar desa agar tak diduduki Belanda. Namun, dengan haqqulyaqin, Otoy mengatakan bahwa Belandalah yang membakar desa di Kecamatan Legok itu. "Saat itu, tentara memang menggunakan banyak rumah penduduk untuk mereka tinggali," katanya
Kabar tentara Indonesia yang tinggal di rumah penduduk itu sampai ke telinga tentara Belanda. Mungkin, karena dipicu oleh dendam atas serangan yang dilakukan tentara Indonesia, mereka mulai menyerang dan membumihanguskan desa. "Saat (diserang) itu, desa sudah kosong. Penduduk mengungsi ke hutan selama hampir tiga bulan," tuturnya. Ketika peristiwa itu terjadi, Otoy berusia 25 tahun.
Tak lama kemudian, Otoy mengajak menuju lokasi bekas desa itu berdiri. Ketika tiba di satu tempat, ia berucap dalam bahasa Sunda, "Saya sangat yakin, di sini tempatnya." Ia menunjuk sebuah titik di kawasan galian pasir.
Tak terlihat sedikit pun tanda bahwa wilayah itu pernah menjadi sebuah desa. Di sana, hanya ada satu kompleks makam keluarga yang konon merupakan bagian dari kompleks permakaman besar yang kini sudah tak berbekas. "Katanya, dulu, di sini memang ada desa. Permakaman yang ada di atas sana itu sebetulnya satu kompleks dengan permakaman yang ada di seberang sana. Namun, desa tersebut terbakar dan sekarang menjadi tambang pasir," kata seorang pekerja tambang.
**
PENGEBOMAN dari udara oleh tentara Belanda ke wilayah Situraja tak pernah tercatat dalam sejarah perjuangan. Mungkin kalah pamor dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Namun, bagi Utin (84), peristiwa itu terasa begitu lekat dalam ingatan. Apalagi, ia mengalami langsung peristiwa itu. Tak berbeda dengan para saksi lain, Utin pun mengaku kerap diserang rasa takut saat mengingat kejadian 64 tahun lalu itu.
Sambil sesekali mengernyitkan dahi dan bergidik, Utin menceritakan apa yang ia alami saat Belanda melancarkan serangan dari udara. "Saat itu, saya sedang bekerja di pabrik tahu. Sebelum serangan udara, Belanda datang dengan pesawat capung. Mereka sepertinya memastikan apakah di wilayah ini ada tentara kita atau tidak," tuturnya.
Tak lama, beberapa pesawat dengan suara khas (Utin menyebutnya sebagai kapal Yager) datang dan mulai menjatuhkan bom dengan berat minimal 25 kilogram. "Saat ada suara pesawat itu, saya langsung lari ke luar pabrik dan bersembunyi di selokan depan rumah. Dulunya, di situ ada balong (kolam) dan selokan," katanya. Dari teras depan rumah, ia menunjukkan lokasi selokan yang dimaksud.
Dari selokan itulah, Utin melihat dengan jelas bagaimana bom-bom itu dijatuhkan dari pesawat. Ternyata, tak semua bom yang dijatuhkan itu meledak. Salah satunya masih ada di halaman sekolah dasar di dekat Alun-alun Situraja.
Kesaksian serupa disampaikan oleh K Sasmedi (75) dan Apo (77). "Rumah-rumah hancur. Bagaimana tidak hancur? Bom yang dijatuhkan dari udara saja beratnya 25 kilogram, 50 kilogram, bahkan ada yang sampai 1 kuintal," kata Omod, sapaan akrab Sasmedi.
Menurut dia, serangan udara itu didahului dengan serangan kanon yang diduga ditembakkan dari arah jembatan tua. "Seingat saya, pengeboman itu terjadi tiga kali atau empat kali. Yang pertama pada bulan Puasa. Kemudian dilanjutkan dengan dua serangan kanon berikutnya dan terakhir serangan bom dari udara," kata pria kelahiran 1938 itu.
Serangan udara itu pun begitu membekas dalam ingatan Apo yang kala itu berusia 13 tahun. Ketika menggembala domba di sawah, ia mendengar suara pesawat. Makin lama makin dekat. "Hiung-hiung bunyi pesawat. Saking takutnya, saya langsung bersembunyi di sasak (jembatan) dekat sawah. Sambil bersembunyi, sesekali saya melihat pesawat. Tak lama terdengar suara ledakan. Jelegur!" tuturnya.
Pada saat bersamaan, ia melihat beberapa orang berkeliaran dengan mengenakan seragam berwarna biru telur asin. Meski berseragam, Apo sangat yakin, mereka bukan tentara. Saat bertemu mereka, orang-orang itu bertanya di mana bom. "Kemungkinan besar, mereka mata-mata Belanda. Saya tahu mereka mata-mata karena pernah melihat mereka ada di tempat tahanan. Benar, ternyata mereka mata-mata Belanda," ungkapnya.
Mata-mata memang menjadi musuh dalam selimut bagi tentara Indonesia. Mereka juga yang dicurigai Omod sebagai orang-orang yang memberi tahu posisi tentara Indonesia. Namun, tentara Indonesia pun punya banyak mata-mata yang memberi tahu rencana serangan Belanda. Oleh karena itu, ketika Belanda menyerang, tentara Indonesia sudah pergi.
Omod mengingat satu hal lagi. Sebelum tentara Belanda tiba di Situraja, tentara dan rakyat menanam pohon pisang di tengah jalan yang akan dilalui tentara Belanda agar mereka tak bisa masuk. "Ternyata, Belanda masuk ke sini dengan menggunakan tank. Hasilnya, pohon pisang itu hancur dalam sekali gilas," ujarnya.
Beberapa hari kemudian, Belanda mulai menahan rakyat yang dicurigai sebagai mata-mata tentara Indonesia. "Rakyat ditangkap, ditahan, dan disiksa. Anehnya, yang menyiksa rakyat itu malah orang Indonesia yang ikut tentara Belanda. Justru mereka yang lebih galak," tuturnya. (Andra Oktaviani, penulis lepas)***
Sumber: Pikiran Rakyat, 18 Desember 2013

Komentar
Posting Komentar