Langsung ke konten utama

Pembantaian di Sumedang (5-Habis) Seandainya Ada Penuntut

DINAS Sejarah TNI Angkatan Darat (Disjarahad) mengaku tak memiliki banyak dokumen ihwal peristiwa sejarah di Sumedang. Menurut Kepala Subdivisi Bidang Dokumentasi dan Perpustakaan Disjarahad Cik Ryda Legawana, hanya ada beberapa catatan tentang peristiwa di Sumedang yang sudah dibukukan.

"Antara lain, Sejarah Jawa Barat Suatu Tanggapan dan Bahasan, Siliwangi dari Masa ke Masa, Perang Kemerdekaan II, Riwayat Singkat Batalyon 11 April, Laporan Penelusuran Perjuangan di Sumedang, dan majalah Simpay Siliwangi," katanya.

Dari semua buku itu, hanya Siliwangi dari Masa ke Masa dan Riwayat Singkat Batalyon 11 April yang relevan dengan peristiwa di Sumedang. Kedua sumber itu pun cenderung punya isi yang serupa. Tak ada dokumen spesifik mengenai peristiwa pembakaran desa di Legok, pembantaian di Tomo, dan serangan bom udara di Situraja. 

Semua dokumen yang ada hanya berbicara seputar peristiwa 11 April 1949 yang menewaskan Mayor Abdul Rachman, Kapten Edi Sumadipraja, dan regu pengawalnya. Peristiwa itu berlatarkan balas dendam pasukan Belanda atas tewasnya Kepala Staf Brigade Stoottroeper Divisi VII December (FC) Letnan Kolonel Malta pada 11 Maret 1949. "Hal seperti itu memang merupakan aksi militer. Setelah ada penyerangan, selalu ada serangan balasan. Dari sejarahnya pun memang seperti itu. Taktik serangan balasan namanya," tuturnya.

Berdasarkan catatan Disjarahad, Belanda mengerahkan pasukan yang cukup besar dari Bandung. Mereka menggerakkan brigade bermotor dibantu kendaraan tempur KNIL. Legawana menyebutkan, kekuatan pasukan itu terdiri atas 75% tank Stuart (berkubah dengan berat 14 ton) dan 25% tank Stuart tak berkubah yang biasa disebut tank Recce (tank penyidik).

Tank tipe pertama, kata Legawana, dipersenjatai dengan meriam 3,7 sentimeter, 3 senapan mesin berukuran 12,7 milimeter, dan 2 senapan mesin 7,6 milimeter. Tank-tank tersebut dipersiapkan sebagai spit batalion infanteri bermotor Belanda yang diperkuat oleh pasukan baret hijau Belanda (para prajurit terlatih dan berpengalaman). "Pasukan Belanda juga kerap melakukan serangan balasan dengan membakar desa-desa," ujarnya.

**

MEMANG tak ada catatan khusus mengenai peristiwa itu. Namun, Elma Verhey, redaktur senior Evangelische Omroep (EO), mendapat konfirmasi langsung dari para veteran bahwa pembakaran desa-desa itu benar-benar terjadi. 

Menurut dia, pada awalnya, para veteran mengelak telah melakukan kekerasan ataupun membakar desa. Kebanyakan, mereka mengungkapkan propaganda yang disebarkan oleh pemerintah Belanda, saat itu. Bahwa rakyat Indonesia menderita karena sekelompok perampok yang menghancurkan rumah dan desa. "Rakyat Indonesia sangat senang karena tentara Belanda datang membawa kedamaian. Tak pernah sekali pun 'pejuang kemerdekaan' disebut. Begitu juga dengan 'perang kemerdekaan'," kata Elma.

Tentara Belanda hanya menggunakan kata "politionele actions" yang disalahartikan. Mereka juga tak pernah menyebutkan ada warga sipil yang menjadi korban aksi tersebut. Selain itu, Elma merasa curiga, tentara Belanda bisa dengan fasih membedakan perampok atau bukan. "Meski para perampok tak menggunakan seragam tentara, mereka (tentara Belanda) tahu mana perampok mana bukan. Mungkinkah mereka bisa mencium itu?" ujarnya.

Semakin banyak Elma mengajukan pertanyaan, fakta-fakta baru terungkap sedikit demi sedikit. Salah satunya, aksi balas dendam tentara Belanda terhadap rakyat Indonesia jika ada salah satu anggota mereka yang terbunuh.

Dalam menjalankan aksi itu, para veteran mengaku mendapatkan bantuan, konon, dari pejuang yang berubah haluan. "Saya rasa, mereka para komunis atau tentara Islam yang membantu tentara Belanda. Itu merupakan aksi rekayasa Jenderal Spoor yang pelaksanaannya dilakukan oleh Kapten Westerling," tuturnya.

Elma kian yakin dengan dugaannya itu setelah membaca sebuah artikel yang, menurut dia, berisi pengakuan tentara Belanda yang telah memasok senjata dan uang untuk para kelompok pemberontak komunis dan Islam. "Tujuannya untuk melawan para pejuang. Westerling yang mengatur aksi itu. Itu juga mungkin menjelaskan mengapa ada perang sipil setelahnya," ujarnya.

**

MENDENGAR kabar pengakuan para veteran Belanda tentang apa yang terjadi di Legok, Situraja, dan Tomo, Legawana mengatakan bahwa itu bisa saja menjadi catatan baru dalam sejarah. Tentu saja, harus dilengkapi dengan bukti dan pengakuan para saksi.

Lalu, apakah aksi pasukan Belanda itu termasuk kategori kejahatan terhadap kemanusiaan dan melanggar aturan perang? Seperti diungkap dalam seri pertama tulisan ini, pengacara hak asasi manusia Belanda, Liesbeth Zegveld, mengatakan, sangat mungkin peristiwa yang terjadi di Sumedang dikategorikan sebagai kejahatan perang. "Tapi kita butuh lebih banyak bukti. Bukti berdasarkan fakta sangat penting," kata Liesbeth.

Satu hal penting agar kasus itu bisa dibawa ke pengadilan adalah adanya penuntut. Harus ada korban yang meminta saya untuk melakukan penuntutan. "Jadi, harus ada dari Indonesia yang tertarik untuk membawa kasus ini ke pengadilan," tuturnya. Ketiadaan penuntut akan menutup kemungkinan berlanjutnya kasus tersebut. (Andra Oktaviani, penulis lepas)***



Sumber: Pikiran Rakyat, 20 Desember 2013



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Paderi di Sumatera Barat 1821 - 1838 (Bagian II - Habis)

Oleh : Syamsuar Said Periode 1831 - 1838 Pada tahun 1831 Perang Diponegoro di Jawa dapat dikatakan berakhir. Hal itu merupakan angin segar bagi Kompeni Belanda di Sumatera Barat, sebab mereka dapat melanjutkan usaha menaklukkan tanah Minangkabau. Pasukan bantuan didatangkan dari Jawa dan Gubernur Jenderal Van den Bosch lalu mengangkat Letkol. Ellout menjadi Residen merangkap Komandan Militer di sana. Untuk pertama kalinya Kompeni menyerang Naras pada tanggal 8 Juli 1831, hingga Tuanku nan Cerdik terpaksa mengosongkannya. Begitu pula VII Kota juga dikosongkan untuk kemudian mundur ke V Kota. Dalam serangan ini Mayor AV Michiels bertindak kejam. Keluarga Tuanku nan Cerdik yang tertangkap banyak yang dibunuh dengan semena-mena. Secara licik Belanda mengumumkan sayembara. Kepada mereka yang berhasil menyerahkan Tuanku nan Cerdik hidup-hidup akan diberi hadiah 1.000 gulden. Namun sayembara itu tidak mendapat tanggapan. Rakyat masih setia pada pemimpinnya sehingga perlawanan semakin berkobar...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api: Heroisme antara Tegallega dan Rel KA

TULANG  jemari terbungkus kulit keriput itu mencengkeram erat besi pegangan gerobak sampah. Bahunya yang tipis tampak melengkung, tertarik kuat tali pengikat gerobak. Langkah dan nafasnya terasa berat, menapaki Jl. Mohammad Toha, Tegallega, yang Sabtu sore kemarin (23/3), basah diguyur hujan. Beban sampah yang dibawanya, seakan tak sepadan dengan sosok tua yang kurus kering. Elan (60), sosok tua itu, sejenak memalingkan pandangannya pada sederet kata-kata dalam spanduk yang terpancang depan Markas Hubdam III/Siliwangi, "Markas Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi Tahun 1946 - Panitia BLA 1996", demikian bunyi tulisan itu. Kawasan Tegallega jika dibalik ke masa 1946, adalah sejarah heroik ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama ratusan ribu warga Bandung, mempertahankan kemerdekaan. Pada 21 Maret 1946, kawasan itu sempat dibombarder tentara Sekutu. Akan tetapi secara kebetulan, kedudukan Batalyon II TRI (Sumarsono) di sana, tengah memperkuat posisi perte...

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

Masjid Indonesia, Perkawinan Budaya yang Kaya Raya

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan  fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya DEMIKIANLAH penggalan bait pertama sajak Mencari Sebuah Mesjid yang ditulis penyair Taufik Ismail. Sajak yang keseluruhannya cukup panjang ini, dalam bentuknya yang besar ikut dipajang di salah satu pojok arena pameran Festival Istiqlal 1991. Setiap hari, banyaklah pengunjung yang ikut membacanya. Bahkan siswa-siswi SMP dan SMA rela duduk beralas karpet di hadapan sajak itu, untuk menyalinnya sampai habis. Tak salah jika dikatakan, "stand" sajak Taufik Ismail ini merupakan salah satu dari sekian banyak stand di arena pameran itu yang mendapatkan perhatian berlimpah dari pengunjung. Bait-bait sajak nan indah dan syahdu ini, seakan ingin memperlengkap koleksi benda-benda Islami yang dipamerkan pada pe...

Perasaan Orang Belanda di "Bawah Nol": Hari-hari Terakhir Hindia Belanda

Oleh H. ROSIHAN ANWAR PADA  tanggal 27 Desember 1949 di Istana Amsterdam, Ratu Juliana membubuhkan tanda tangannya pada dokumen penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan disaksikan oleh Wakil Presiden RI Mohammad Hatta dan PM Belanda Willem Drees, sedangkan di Jakarta di Istana Rijswijk, Wakil Tinggi Mahkota Dr. A. H. J. Lovink menyerahkan kekuasaan memerintah seluruh Nusantara kepada Sultan Yogyakarta Hamengkubuwono IX. Dengan demikian 27 Desember berarti tamatnya zaman Belanda di Nusantara Indonesia. Sebuah buku yang bertutur tentang suasana dan perasaan orang-orang Belanda di Indonesia pada bulan-bulan terakhir tahun 1949 telah diterbitkan oleh Lembaga untuk Sejarah Belanda di Den Haag. Judulnya: Het Einde in Zicht--Stemmen uit het laatste jaar van Nederlands-Indie  (Tamat yang Tampak--Suara-suara dari tahun terakhir Hindia Belanda), ditulis oleh sejarawan Dr. P. J. Drooglever dan M. J. B. Schouten (1999). Persetujuan Van Roi...

Pesan dari Tempat Kongres Pemuda II

Kehadiran semangat persatuan sekitar 90 tahun silam tidak dapat dilepaskan dari tiga bangunan di jantung Weltevreden, area perluasan Batavia--sekarang DKI Jakarta. Dari tiga bangunan itu pula, tecermin kesadaran tentang keberagaman yang mendasari lahirnya semangat persatuan tersebut. "Kerapatan (Congres) Pemoeda-Pemoeda Indonesia di Weltevreden (27-28 October). Datanglah ke Congres Ini Djangan Loepa." D i salah satu dinding di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta, terpampang kabar mengenai kongres yang kemudian dikenal sebagai Kongres Pemuda II tahun 1928. Kabar tentang rencana kongres berikut agenda dan tiga tempat penyelenggaraannya itu dikutip dari koran Persatoean Indonesia . Tiga lokasi kongres yang dimaksud, dimulai dari Gedung Katholieke Jongelingen Bond (KJB) atau Perhimpunan Pemuda Katholik di Waterlooplein (sekarang sekitar Lapangan Banteng, Jakarta), 27 Oktober 1928. Keesokan harinya, kongres dilanjutkan di Gedung Oost Java Bioscoop di Koninsplein N...

Museum Sumpah Pemuda: Pernah Menjadi Hotel dan Toko Bunga

S uasana di gedung tua yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 itu nyaris hening. Meski di depannya, hilir mudik kendaraan yang melintasi Jalan Kramat Raya tak henti-hentinya mengeluarkan suara raungan. Keramaian di jalan utama ibu kota itu seakan tak mampu menghidupkan suasana dalam gedung. Padahal sekitar 73 tahun yang lalu, di gedung ini pernah terjadi kesibukan yang menjadi tonggak penting bagi berdirinya negara Indonesia. Di tempat inilah para pemuda dari berbagai daerah memekikkan perlunya satu nusa, satu bahasa, dan satu bangsa. Namun kini gedung yang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda (MSP) seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan bangsa Indonesia. Suasana hening dan sepi semakin meneguhkan gedung yang memiliki total luas 1.284 m2 ini sebagai bangunan bersejarah. Gedung tua ini memang sarat catatan sejarah. Sebelum diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda tahun 1971, gedung ini sempat mengalami pemugaran. Pemugaran ini ditanggung oleh pihak pemerintah DKI Jakarta dan diresmikan ...