Langsung ke konten utama

Mengenang Palagan Surakarta 7-10 Agustus 1949: Perlawanan Heroik Kalahkan Tank-tank dan Pembom Belanda

Oleh: Mansur Natsir

TAHUN 1948, Belanda mengadakan Agresi Militernya yang ke-II. Penyerangan secara besar-besaran dan mendadak itu dilakukan Belanda di berbagai kota yang dikuasai Pemerintah RI waktu itu, termasuk Solo.

Di Solo, Belanda mengadakan pembersihan terhadap penduduk, laki-laki, wanita, dan bahkan anak-anak yang masih ingusan. Sasaran pembersihan di Kota Solo terutama dilakukan di daerah Gading, Pasar Pon, Danukusuman, Penumping, Kestalan, Cinderejo, dll.

Namun, apa yang dilakukan Belanda sebagai tindakan kekejaman itu, tidak membuat Pemuda menjadi keder dan ciut nyalinya. Melainkan jadi tambah gigih. Kota Solo berhasil dikuasai lebih dari separo oleh pejuang. Walaupun Belanda tidak berhasil dihalau ke luar kota (meninggalkan Kota Solo) karena dilindungi perlengkapannya yang serba modern, namun, mereka sudah tidak berkutik lagi. Hanya tinggal di tangsi-tangsi dan rumah-rumah. Korban di pihak musuh cukup besar.

Waktu itu, Solo dimasuki dari empat jurusan yang membuat Belanda jadi kalang kabut. Sekitar 2000 tentara RI dikerahkan masuk Kota Solo, langsung dipimpin Komandan Brigade V/II Letkol Slamet Riyadi. Pertempuran sengit di Solo baru berakhir pada jam 24.00, tanggal 10 Agustus saat berlakunya gencatan senjata seperti yang diinstruksikan Panglima Besar APRI Jenderal Sudirman. Tanggal yang bertepatan dengan ditetapkannya Hari Nasional Veteran RI.

Palagan (pertempuran) antara hidup dan mati yang berlangsung 4 siang 4 malam (7-10 Agustus 1949) di Kota Solo itu tidaklah berdiri sendiri.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ia merupakan salah satu saja dari mata rantai perjuangan Bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaannya dari kungkungan penjajah. Peristiwa lainnya bisa disebut a.l. peristiwa 5 hari di Semarang, penyerangan umum 1 Maret (6 jam di Yogya) yang dipimpin Letkol Soeharto (sekarang Presiden RI), Puputan Margarana di Bali, peristiwa Bandung Lautan Api, peristiwa 10 Nopember di Surabaya. Semuanya bersemboyan "Merdeka atau Mati" atau "Sekali Merdeka Tetap Merdeka".

Apa yang dilakukan Belanda dengan Agresi Militer ke-II di tahun 1948 itu punya latar belakang politik. Ingin mengelabui dan menggagalkan usaha penegakan kedaulatan RI yang dilakukan Komisi Tiga Negara (KTN) di Yogyakarta. 

Pada waktu Agresi Militer Belanda ke-II berlangsung, semua aparatur pemerintahan RI di Yogyakarta telah pindah ke desa-desa, sampai ke pedalaman. Mereka pindah untuk menunaikan tugas baru yang digerakkan dari berbagai pelosok desa.

Tanggal 21 Desember 1948, pasukan Belanda lengkap (Infantri dan Kavaleri Tank lapis bajanya) masuk Kota Solo. Dan TNI bersama para pejuang dan Tentara Pelajar (TP) sudah meninggalkan kota. Solo telah dikosongkan 19 Desember 1949.

Sebelum mengosongkan kota, penduduk mengungsi dan Kota Solo dibumihanguskan. Kantor Gubernuran (sekarang Balai Kotamadya Surakarta), Pasar Gede, Asrama TP, Gedung Gajah/Staf Divisi IV Timuran, Kantor Pos, dll telah dijadikan lautan api. Asap tebal mengepul di udara. Alat perjuangan termasuk Radio (RRI) sempat diusung keluar kota sebelum Belanda tiba di Solo. Tujuan menuju Baron lewat jalan jurusan Tawangmangu dan Bekonang. Dalam perjalanan, iring-iringan unit Radio RI sempat dibombardir pesawat Belanda hingga jungkir balik. Beruntung alat-alat tidak rusak dan perjalanan diteruskan menuju Jenawi-Balong. Dari sinilah kemudian memancar siaran-siaran perjuangan, siaran-siaran yang menentang agresi Belanda. Sementara itu, Gubernur Militer juga mundur ke pedalaman, ke daerah Kemuning di Kabupaten Karanganyar sekarang, kemudian ke Balong, di lereng Gunung Lawu.

Konsolidasi

Untuk keperluan konsolidasi, Komandan Brigade V/II Letkol Slamet Riyadi mengeluarkan 23 pasal pedoman gerilya. Di antaranya berbunyi: menyusun kekuatan massa sehingga tercapai pertahanan rakyat yang sempurna, serangan tiba-tiba harus dilakukan dan harus tahan uji sampai tujuan tercapai.

Sambil menyusun kekuatan, patriot-patriot bangsa Indonesia melakukan serangan berkala dan mendadak di semua sasaran musuh. Kewaspadaan terus ditingkatkan dan pertahanan desa diaktifkan. Di pojok-pojok desa ditempatkan penjagaan dengan menggunakan bambu dan kentongan. Bila patroli masuk desa, kentongan dipukul bertalu-talu dan bambu dicondongkan ke arah darimana patroli musuh datang. Penduduk pun mengerti, ke arah mana mereka harus lari. 

Selain di desa, kegiatan perjuangan di kota pun tidak mandek, tidak lumpuh. Walau tidak terang-terangan. Sebagian pejuang bertugas menyusup masuk Kota Solo sebagai pembawa berita. Sebagian lainnya mencari obat-obatan dan bahan makanan. Dalam hal ihwalnya obat-obatan ini, jasa Dr. Soemarno yang kala itu menjabat Kepala Rumah Sakit Mangkubumen patut dicatat.

Dalam fase konsolidasi ini pula, berhasil didirikan Rumah-rumah Sakit darurat di luar Kota Solo. Di antaranya adalah di Giriwondo (Jumapolo) di Kabupaten Sukoharjo sekarang. RS darurat di Jumapolo ini dipimpin Dr. Pratomo. Di Simo dipimpin Dr. Azis Saleh dan Mayor Soedarso, Dr. Cipto di Merapi, dll.

Sementara itu, sebagian dari pekerja-pekerja Belanda yang orang Indonesia asli banyak juga yang turut membantu perjuangan. Yang di Kantor Pos dengan surat-surat pentingnya, yang di Kantor Polisi dengan urusan tahanannya. Bahkan pernah seorang pembantu rumah tangga membebaskan sejumlah Pemuda yang ditahan Belanda.

Setelah melalui proses waktu yang panjang, berhasillah dikonsolidir pasukan-pasukan RI di Solo dan sekitarnya dalam kesatuan PPS.

PPS 100 (Daerah SWK 100 Brigade V/II) di daerah Boyolali minus daerah PPS V lama dengan Komandan Mayor Suraji, PPS 100 berkekuatan 1471 anggota dengan sejumlah senjata mesiu, dan terbagi dalam 4 rayon. PPS lainnya adalah PPS 101 di Klaten dengan Komandan Mayor Sunitioso yang berkekuatan 1184 anggota yang juga terbagi dalam IV Rayon. PPS 102 di Wonogiri yang terdiri dari 2 sektor (Barat dan Timur) dipimpin Mayor Sudigo dengan kekuatan 875 orang. PPS 103 Sukoharjo dipimpin Mayor Sunaryo dengan kekuatan 656 anggota yang terbagi dalam 2 Rayon. PPS 104 di Kabupaten Karanganyar beranggotakan 754 orang di 7 Sektor dengan pimpinan Mayor Suharto. Sragen (PPS 105) beranggotakan 616 orang dipimpin Mayor Wiriadinata (dari AURI) yang tergabung dalam 2 Rayon. Sementara di Solo sendiri (PPS 106) anggota yang berjumlah 777 orang di Rayon yang ada dipimpin Mayor Achmadi.

Khusus di Kota Solo, Tentara Pelajar (TP) dari Rayon V berhasil membuat Markas Pejuang di Kampung Jayengan (PALMA) lalu pindah di Kratonan, Nusupan, Dawung, Reksoniten, dan terakhir di Kampung Sewu.

Rayon-rayon di Kota mengadakan serangan silih berganti tanpa henti. Penyerangan dilakukan secara perorangan di dalam pasar, di jalan-jalan raya, di restoran, dan di mana saja saat yang memungkinkan, asal rakyat tidak ikut jadi korban. Pihak Belanda juga secara terus menerus mengadakan pembersihan (razia) di seluruh penjuru Kota Solo. Dari razia ini banyak pemuda Solo yang digiring ke kamar tahanan.

Tindakan Belanda berupa penahanan-penahanan itu bukannya membuat pemuda menjadi kecut, melainkan mereka tambah terpacu. Tembok-tembok Pura Mangkunegaran dan juga tembok Kraton Kasunanan Surakarta tidak luput dari corat-coret mengusir Belanda.

Belanda jadi panik, kemarahan memuncak. Dicari siasat busuk untuk mendiskreditkan pejuang dan TNI. Penggedoran-penggedoran di malam hari yang dilakukan tentara Belanda dari Heiho TBS adalah salah satu dari siasat busuk Belanda. Untungnya RRI terus berkumandang dari Jenawi Balong, memberikan penerangan-penerangan tentang keadaan yang sebenarnya.

Serangan Umum

Penyerangan-penyerangan yang dilakukan TNI dan pejuang RI selain ditujukan kepada markas Belanda di Solo, pos-pos Belanda di luar kota juga tidak pernah luput dari serangan. Misalnya pos Belanda di Baturetno, Jatisrono, dan Sidoharjo.

Taktik gerilya seperti itu ternyata sangat menguntungkan TNI. Walaupun senjata yang berhasil direbut jumlahnya tidak banyak. Namun korban jiwa dari pihak musuh terus menggebu. Tentara musuh banyak berkurang, potensinya semakin lemah.

Sementara itu, perjanjian tahap pertama RI-Belanda yang terkenal dengan Room-Royen telah mencapai persetujuan pengembalian Daerah Istimewa Yogyakarta ke pangkuan RI. Dengan perjanjian ini, maka sudah untuk ke-3 kalinya Pemerintah RI menyetujui ajakan perundingan damai (gencatan senjata) dari pihak Belanda. Belanda memang sudah payah. Bermilyar Gulden telah dikeluarkan untuk agresinya itu. Padahal uang tersebut diperoleh dari pinjamannya pada Marshalplan-AS yang kemudian dihentikan itu. Sementara dari bulan Juni s/d Agustus 1949 pengerahan sekitar 30.000 personil Belanda hasil mobilisasinya ternyata mengalami kegagalan total.

Jenderal Spoor sendiri mengakui betapa hebatnya gerilya pasukan-pasukan RI. Kota-kota yang diduduki mereka selalu dirasa tidak aman. Jalan-jalan terasa jadi angker bagi patroli, angkutan-angkutan pada hancur, dan lain sebagainya. Residen Surakarta waktu itu (Linck) berkata: Jalan antara Solo-Solotigo sudah tidak aman apalagi di daerah Teras dan sekitarnya. 

... hasil persetujuan Room-Royen, maka semua pasukan TNI di Solo dilarang berada di persimpangan-persimpangan jalan raya, dan penyerangan gerilya agar dihentikan. Pengumuman Belanda tersebut dibuat dalam bentuk selebaran yang disebarkan di seluruh penjuru Kota Solo.

Letkol Slamet Riyadi selaku Komandan Brigade V/II membantah telah membuat pengumuman semacam itu dan bahkan dengan tegas memerintahkan untuk menindak secara militer segala kekacauan itu. Dan pasukan-pasukan TNI memang sebelumnya sudah dibekali amanat Panglima Sudirman tentang bagaimana sikap TNI menghadapi perundingan antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Belanda tersebut.

Akhirnya Slamet Riyadi mengambil keputusan untuk melakukan penghadangan secara besar-besaran yang bertujuan untuk menghancurkan pasukan musuh di jalan-jalan perhubungan, untuk memperoleh senjata termasuk bahan makanan, dan untuk memutuskan komunikasi musuh dari satu tempat ke tempat lainnya.

Penghadangan di PPS 105 Sidoharjo (Sragen) berhasil menghancurkan tank, truk, dan Jeep musuh, melukai 25 orang dan menewaskan 22 anggota pasukan musuh. Begitu juga dengan penghadangan di SWK 103 dan lain-lain, pasukan-pasukan TNI berhasil melucuti sejumlah senjata, menawan 40 orang OW yang menyerah dan menewaskan 15 orang lainnya.

Panglima Besar Jenderal Sudirman tanggal 3 Agustus '49 mengeluarkan perintah untuk menghentikan tembak menembak pada jam 24.00, tanggal 10 Agustus 1949. Sementara menunggu batas waktu berlakunya gencatan senjata tersebut, Letkol Slamet Riyadi mengeluarkan perintah pula di Solo untuk melangsungkan penyerangan besar-besaran ke Kota Solo dari 4 jurusan. Sasarannya adalah semua obyek musuh di Kota Solo.

Surat perintah Slamet Riyadi tersebut bertanggal 8 Agustus 1949, namun secara lisan perintah tersebut telah dikeluarkan pada tanggal 7 Agustus 1949 ketika penyerangan umum ke Solo telah dimulai. Pasukan RI hari itu juga telah mengadakan penyusupan ke Kota Solo dan mengadakan pengepungan yang ketat. 

Sekitar jam 09.00 pagi, pertempuran besar-besaran di Solo berkobar. Tentara Belanda tampak kebingungan menghadapi serangan mendadak ini yang dilakukan TNI dari 4 jurusan. Mereka membalas secara membabi buta, menghamburkan peluru ke sana kemari tanpa sasaran pasti. Tank-tank dikeluarkan hilir mudik di kota memuntahkan peluru bertubi-tubi yang hasilnya nihil.

Sementara pasukan-pasukan TNI yang disertai Tentara Pelajar dipimpin langsung Komandan Brigade V/II Letkol Slamet Riyadi (Brigade 17 Agustus). Pasukan yang masuk dari selatan menduduki kota sampai di Jalan Purwosari (sekarang Jln. Slamet Riyadi). Sedang yang dari utara berhasil mendesak musuh sampai ke Balekambang di bawah pimpinan Mayor Achmadi. Mereka maju berbarengan dengan yang datang dari jurusan lain, membuat penghalang dan rintangan di sepanjang jalan untuk menghalangi tank-tank Belanda.

Teror

Akibat adanya penyerangan umum itu, Belanda menjadi kalap dan membuat teror di sana-sini dan mengakibatkan korban cukup besar (lk. 1.800 penduduk Solo tewas). Di antara teror yang dilakukannya itu adalah di Pasar Kembang, Pasar Nongko, Markas PMI Gading, dan lain-lain.

Di Pasar Kembang, di tempat yang sedianya pasukan-pasukan TNI akan melakukan penghadangan, pasukan Belanda yang datang mendahului rencana TNI itu telah menangkap penduduk di sekitar Pasar Kembang. Dari jumlah 26 penduduk yang ditangkap di situ, 24 orang di antaranya dibantai dan tewas seketika. (Sembilan penduduk laki-laki, satu anggota pasukan alap-alap, enam wanita, dan delapan anak-anak.) Sementara teror yang dilakukan di Pasar Nongko tanggal 10 Agustus 1949 berakibat terbunuhnya 36 orang penduduk. Mereka mati dengan tusukan bayonet. Di antara korban terdapat bayi yang berumur 3 bulan dan 3 wanita. 

Teror lain berupa pemboman dilakukan di Kampung Lawiyan. Kampung Lawiyan hampir setiap hari dijatuhi bom menimbulkan korban jiwa yang cukup besar di samping rumah-rumah hancur berantakan.

Serangan umum baru dihentikan tepat pada jam 24.00 (tgl. 10 Agustus 1949) saat mulai berlakunya gencatan senjata sesuai perintah Panglima Besar Jenderal Sudirman. Seluruh anggota TNI menaati perintah tersebut dengan penuh kedisiplinan.

Penyerahan Kota Solo

Walaupun telah ada perjanjian gencatan senjata, namun Tentara Belanda di Solo yang baru saja menerima bala bantuan Tentara Baret Hijau dari Semarang masih melakukan tindakan-tindakan kejam terhadap rakyat (11 Agustus 1949). Mereka mendatangi Markas PMI di Gading dan membunuh 21 pengungsi yang ada di situ (di rumah Dr. Padmonagoro). Atas permintaan Dr. Padmonagoro mereka kemudian meninggalkan Gading dan membuat teror lagi di Kratonan dan Jayengan.

Mendengar adanya kerusuhan lagi di kota, pasukan-pasukan TNI yang sebenarnya sudah ada di batas kota kembali memasuki kota dan melakukan pengejaran sampai ke Pasar Pon dan Ngapeman. Dalam pengejaran ini, pasukan TNI menewaskan 7 tentara Belanda.

Dengan adanya tragedi ini, maka gencatan senjata di Soloo sebenarnya baru bisa dimulai pada tanggal 12 Agustus 1949 sekitar jam 10.00 pagi. Penduduk yang selama 4 siang 4 malam mengungsi sudah tampak lagi dan bersama anggota-anggota PMI mereka bergotong-royong mengubur mayat-mayat penduduk yang berserakan di sana-sini.

Pada tanggal 11 Agustus '49 itu juga, pihak Belanda yang diwakili Letkol OHL mendatangi Istana Kembang di Jln. Baron untuk mengadakan pembicaraan dengan Letkol Slamet Riyadi. Dalam pembicaraan itu disepakati keputusan pasukan TNI ditarik keluar kota, Belanda tidak akan mengulang teror dan setiap teror yang ada agar dilaporkan kepada TNI, rintangan-rintangan jalan agar disingkirkan, tidak diadakan pembalasan terhadap rakyat yang membantu TNI dan Kota Solo akan diserahkan pada bulan itu juga. Mulanya hasil pembicaraan itu menimbulkan ketidaksenangan di kalangan pasukan-pasukan TNI, namun setelah ada penjelasan mengenai latar belakang timbulnya persetujuan itu, barulah pasukan-pasukan TNI menjadi lega dan mempercayakan kebijaksanaan pengaturan sepenuhnya kepada Letkol Slamet Riyadi.

Secara resmi, Kota Solo baru diserahkan pada tanggal 12 Nopember 1949 dalam suatu upacara yang berlangsung di Stadion Sriwedari Solo. Lagu kebangsaan dikumandangkan dan bendera tiga warna diturunkan untuk diganti dengan sang saka Merah Putih. Berakhirlah riwayat tentara pendudukan Belanda di Kota Solo.

Untuk mengabadikan Solo sebagai kota perjuangan dan untuk tidak melupakan jasa-jasa para pejuang, Pemda Kodya Surakarta telah membangun Monumen Perjuangan 45 di Lapangan Banjarsari, Tugu Perjuangan di Tipes, dan di TMP Kusuma Bhakti dll. Monumen Perjuangan 45 yang tingginya 17 m dengan luas lantai 90 m2 itu diresmikan Gubernur Jateng Soeparjo tanggal 10 Nopember 1976. (MANSUR NATSIR)



Sumber: Suara Karya, Lebaran 1401 H/1981



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengungkap Nasionalisme "Kolonel Pembangkang"

SALAH satu sisi menarik dari kajian sejarah adalah aspek dinamis dari interpretasi sejarawan. Seorang sejarawan memiliki kebebasan untuk memperlakukan fakta berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Di atas itu semua, kajian sejarah kontemporer umumnya ditulis dengan suatu misi yang sarat beban. Pertama, keinginan untuk menempatkan sejarah sebagai ilmu yang bebas dari kepentingan dan konflik. Itu mengacu pada objektivitas. Kedua, meluruskan sejarah dengan sumber dan interpretasi si pelaku. Ini sifatnya inward looking . Demikian halnya dengan buku ini. Sebagai sebuah biografi, ia ingin menghadirkan sejarah menurut pelakunya sendiri. Dalam penulisan sejarah Orde Baru, peristiwa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) diberi stigma "pemberontakan"; sesuatu yang setidaknya hingga akhir tahun 1970-an menimbulkan perasaan traumatik dalam diri masyarakat Sumatera Barat. Perasaan rendah diri sebagai komunitas yang telah dikalahkan dan dengan sendirinya selalu dipojokk...

Catatan Kongres SI

Rahardjo Tjakraningrat Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam Periode 2010-2015 L AMA  tak hadir dalam kiprah politik dan kekuasaan. Itulah kesan umum khayalak tentang keberadaan Syarikat Islam, sebuah organisasi besar pada zamannya--khususnya pada era prakemerdekaan--dengan segudang tokoh yang dimiliki antara lain Samanhudi, HOS Tjokroaminoto, Abdul Muis, Agus Salim, dan sederet nama lain yang memberi makna dalam konteks keberadaan negeri yang kemudian bernama Republik Indonesia ini. Banyak kalangan yang mungkin kurang ngeh  bahwa sesungguhnya organisasi yang dulunya juga bernama Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) itu secara konsisten melakukan hajat keorganisasian sesuai dengan tuntutan konstitusinya yakni pada ajang yang disebut Majelis Tahkim/Kongres Nasional, di mana tahun ini digelar perhelatan Majelis Tahkim ke-40 Syarikat Islam. Artinya, SI tetap konsisten pada dirinya yang dalam kondisinya yang ada tetap melakukan kegiatan-kegiatan keorganisasian sebagaimana...

Hari-hari di Bawah Tanah Menjelang Proklamasi (3/3)

Sebagai jawaban, Supeno bertanya, apa yang akan terjadi bila rencana gagal. Subardjo menjawab, "Bila segalanya gagal, saya bertanggung jawab penuh. Bung bahkan boleh menembak saya bila itu sampai terjadi." Baru setelah Subardjo mengatakan hal itu, ia diperkenankan bertemu dengan Soekarno dan Hatta. Subardjo bergegas mengajak mereka berdua ke mobil, lalu mereka tancap ke Jakarta.  Dengan tidak sabar saya menunggu kedatangan Subardjo di tempat kediaman Maeda. Hari sudah pukul 11.00 malam. Dan sangat gelap. Seorang perwira Jepang sedang menebasi pohon wijen dengan samurainya, melampiaskan kekecewaan akibat menyerahnya Jepang. Jepang telah menganjurkan menanam pohon wijen untuk diambil minyaknya, sehingga di Jawa tanaman ini ditemukan di mana-mana. Seorang Kempei berdiri di bawah sebatang pohon menjaga tempat kediaman ini--mungkin menyangka akan terjadi huru-hara. Saya mendengar kemudan bahwa Nakatami Yoshio, penerjemah Angkatan Darat, juga menjaga rumah ini dari samping gedung. ...

Sarekat Islam dalam Sejarah Kemerdekaan

P erpecahan di tubuh Partai Sarekat Islam Indonesia selayaknya tidak disertai surutnya ingatan akan perjuangan organisasi Islam terbesar pada zamannya ini. Melalui penulisan sejarah, generasi kini dan mendatang bisa mengapresiasi sumbangan mereka yang amat besar bagi terbentuknya Republik Indonesia. Dalam buku Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945 (Pustaka Pelajar, 2012), Nasihin memaparkan, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) merupakan perkumpulan rakyat bumiputra, terutama dari kalangan Islam yang berupaya bersatu melawan praktik kolonialisme Belanda. Terbentuknya Sarekat Dagang Islam pada 1909, sebagai awal terbentuknya PSII, dilandasi semangat gerakan Pan Islamisme di Timur Tengah pada awal abad ke-20. Gerakan ini dimaknai sebagai bentuk penyatuan seluruh umat Islam dalam satu ikatan dan rasa persaudaraan. Semangat Pan Islamisme yang dibawa ke Indonesia oleh tokoh-tokoh pergerakan seusai beribadah haji ini disambut hangat. Islam dianggap mampu menjadi lokomotif gerakan bumiput...

Pembantaian di Sumedang (1) Lembaran Foto Menguak Misteri

ELMA Verhey, redaktur senior Evangelische Omroep (EO), stasiun televisi nasional Belanda, mendapatkan beberapa foto lama yang mengganggu perasaannya. Foto-foto itu ia dapatkan dari situs web 7mei.nl, milik seorang blogger Belanda, Max van der Werff. Di salah satu foto, terlihat beberapa serdadu Belanda sedang menyaksikan terbakarnya sebuah kampung. Di balik foto itu, terdapat tulisan tangan, "Kebakaran yang sungguh indah dan sangat menyenangkan melihat kampung terbakar". Lalu, Elma menghubungi Max, pemilik laman itu, yang memang getol menelisik berbagai kejahatan perang yang dilakukan tentara Belanda selama periode "aksi polisionil" di Indonesia, tahun 1945-1950. Max memberi tahu, foto-foto itu milik seorang veteran Belanda bernama Con Frencken yang sudah meninggal dunia. Pada 1948-1950, Con Frencken bertugas di Sumedang, tetapi foto-foto yang menunjukkan kekejian itu tidak memiliki catatan mengenai tempat dan tahun.  Dengan bantuan Max, Elma diperkenalkan kepada Xe...

Akhirnya P. Jawa Jatuh ke Tangan Jepang

Oleh HARYADI SUADI DALAM peperangan di Laut Jawa yang meletus pada tanggal 27 Februari 1942, pihak angkatan laut Nippon telah berhasil menenggelamkan sebagian besar kapal milik Sekutu. Hanya dalam waktu sehari semalam, kapal Exeter, Kortenaer, Encounteur , dan Java  telah mereka kirim ke dasar laut Jawa. Dan setelah De Ruyter  bersama Laksamana Karel Doorman ditenggelamkan pada pukul 23.15 waktu Jawa pada tanggal tersebut, yang tersisa cuma Houston dan Perth . Kedua kapal tersebut memang merupakan kapal terakhir yang dimiliki Sekutu pada saat itu. Sebab di seluruh kawasan Lautan Pasifik, dari mulai Pulau Kuril sampai Semenanjung Malaya, dari ujung Kepulauan Midway hingga pantai Cina, tak satu pun kapal Sekutu yang mampu mengambang di atas laut. Seperti telah dikisahkan dalam tulisan yang lalu, bahwa kedua kapal ini telah melarikan diri menuju Surabaya. Namun di tengah jalan kedua komandannya merasa bingung, ke mana mereka harus istirahat untuk memperbaiki kerusakan dan ...

Akulturasi Islam dan Sunda

A DA cerita yang populer berkaitan dengan penyebaran agama Islam di Tatar Sunda: Kian Santang adalah pemuda gagah perkasa anak Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Karena kesaktiannya, sepanjang hidupnya ia belum pernah tahu warna darahnya. Ia pun terus-menerus bertanding, menguji kesaktian, tapi tak pernah menemukan lawan yang sepadan. Semua lawannya dengan mudah selalu ia kalahkan. Pada suatu waktu Kian Santang mendapat petunjuk dari seorang ahli nujum bahwa lawan yang pantas baginya adalah Baginda Ali yang tinggal di tanah Makah. Dengan menggunakan kesaktiannya, ia pergi ke tanah Makah. Sesampainya di tanah Makah, Kian Santang berusaha mencari Baginda Ali. Menurut orang tua yang kebetulan ia temui di perjalanan, Baginda Ali sedang berada di Masjidil Haram bersama Kangjeng Nabi. Orang tua itu pun bersedia mengantarnya ke Masjidil Haram. Setelah berjalan beberapa ratus langkah, si orang tua berhenti. Rupanya tongkat yang dibawanya tertinggal di tempat ketika bertemu dengan Kian Santang. I...