Langsung ke konten utama

Pembantaian di Sumedang (4) Karena Kesal, Belanda Membabi Buta

SERANGKAIAN serangan pasukan Belanda, termasuk pengeboman desa-desa di Sumedang, kemungkinan dipicu oleh terbunuhnya Kepala Staf Brigade Stoottroeper Divisi VII December (FC) Letnan Kolonel Malta pada 11 Maret 1949. Dalam serangan balasan Belanda, tentara Indonesia kehilangan Mayor Abdul Rachman, Kapten Edi Sumadipraja beserta regu pengawalnya. Mereka gugur di medan perang.

Serangan balas dendam Belanda begitu membekas dalam ingatan Kolonel (Purnawirawan) Setia Syamsi yang saat itu tergabung dalam Batalion II/Tarumanegara. Soalnya, serangan itu meluas, termasuk peristiwa-peristiwa yang dialami oleh A Kasim, E Narpi, Anah, Utin, K Sasmedi, Apo, dan Otoy.

Saat itu, ujar Syamsi, tentara Belanda mulai memasuki wilayah Sumedang untuk kemudian menuju Cirebon. "Jalan tercepat menuju Cirebon dari Bandung adalah melewati Sumedang karena sudah ada Cadas Pangeran. Mulai dari Cadas Pangeran itu, kami bersiap-siap menghadang tentara Belanda," kata Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia Jawa Barat itu.

Setelah menguasai Sumedang, Mayor Abdul Rachman melaksanakan dislokasi pasukan Batalion II/Tarumanegara. Kompi 1, di bawah komando Kapten Amir Mahmud, menguasai Tanjungsari, Rancakalong, dan Tanjungkerta, Kompi 2, di bawah komando Kapten Komir Kartaman, menguasai Cadas Ngampar, Darmaraja, dan Situraja.

Kompi 3, di bawah komando Kapten Edi Sumadipraja, menguasai Buahdua, Conggeang, Tanjungkerta, Cimalaka, dan Tomo. Kompi 4, di bawah komando Kapten Somali AW, menguasai Situraja, Sumedang Selatan, Sumedang Utara, dan Darmaraja. Komandan Batalion Mayor Abdul Rachman berkedudukan di antara Kompi 1 dan 3. Sementara Komandan Brigade XIII Letnan Kolonel Sadikin berada di Kompi 3.

**

SELAMA tergabung dalam Batalion II/Tarumanegara, meski tak spesifik berada di Legok, Situraja, atau Tomo, Syamsi mengaku sempat mendengar adanya pembakaran dan pengeboman dari udara. "Saya sempat tahu ada pembakaran. Saya tahu ada masjid yang dibakar. Seharusnya tidak seperti itu. Itu memang jahat," kata mantan bupati Karawang itu.

Menurut Syamsi, pembakaran yang dilakukan tentara Belanda merupakan bentuk kekesalan mereka terhadap tentara Indonesia. "Kalau sudah kesal seperti itu, mereka langsung membakar. Sering sekali terjadi hal seperti itu. Tidak berperikemanusiaan," ucapnya.

Tak hanya pembakaran, Syamsi juga masih dapat mengingat dengan sangat jelas banyaknya pengeboman oleh pasukan Belanda. Ia mengatakan, asal ada pasukan Indonesia, tentara Belanda langsung mengebom. "Langsung hantam. Banyak sekali pengeboman. Jalanan juga beberapa kali dibom. Ada cannonade. Bom dan tembakan dari pesawat cocor merah," tuturnya.

Tak sampai di situ, tentara Belanda juga kerap melakukan pemerkosaan terhadap wanita Indonesia saat menyerbu satu lokasi. Syamsi mengatakan, setiap gerakan pembalasan yang dilakukan tentara Belanda diikuti oleh pemerkosaan dan pembakaran desa.

Sementara itu, mengenai eksekusi yang dilakukan tentara Belanda terhadap rakyat dan tentara Indonesia, Syamsi mengaku tidak tahu dan tidak sempat mendengar adanya peristiwa tersebut. "Untuk eksekusi, saya tidak sempat mendengar. Tapi, yang gjelas, saat itu, musuh kita bukan hanya tentara Belanda. Ada juga para pemberontak yang harus kita lawan," katanya.

Hadirnya pemberontak di tengah pertempuran melawan penjajah menjadi ujian berat bagi tentara Indonesia kala itu. Syamsi menyebut mulai dari Darul Islam, Partai Komunis Indonesia, hingga Angkatan Perang Ratu Adil menjadi ujian masa kemerdekaan. Kelompok-kelompok pemberontak itu hadir dengan senjata lengkap dan membuat tentara Indonesia cukup kewalahan. "Senjata yang mereka gunakan termasuk lengkap dan canggih," ucap Syamsi.

Keunggulan para pemberontak dari sisi senjata itu membawa kecurigaan sendiri. Syamsi menilai, bisa saja telah terjadi kesepakatan antara para pemberontak dengan tentara Belanda. "Keduanya kan tidak suka dengan tentara Indonesia. Jadi, sangat mungkin kesepakatan itu terjadi," tuturnya. (Andra Oktaviani, penulis lepas)***



Sumber: Pikiran Rakyat, 19 Desember 2013



Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUNTUHNYA HINDIA BELANDA: Menyerahnya Gubernur Jendral AWL TJARDA dan Letnan Jendral TER POORTEN kepada Letnan Jendral IMMAMURA Panglima Perang Jepang 8 Maret 1942

Generasi kita sekarang, mungkin tidak banyak yang mengetahui terjadinya peristiwa penting di tanah air kita 35 tahun yang lalu, yaitu menyerahnya Gubernur Jenderal dan Panglima Perang Hindia Belanda "Tanpa Syarat" kepada Panglima Perang Jepang yang terjadi di Kalijati Bandung pada tanggal 8 Maret 1942. Peristiwa yang mengandung sejarah di Tanah Air kita ini telah ditulis oleh Tuan S. Miyosi seperti di bawah ini: Pada tanggal 8 Maret 1942 ketika fajar kurang lebih jam 07.00 pagi, kami sedang minum kopi sambil menggosok mata, karena kami baru saja memasuki kota Jakarta, dan malamnya banyak diadakan permusyawaratan. Pada waktu itu datanglah seorang utusan dari Markas Besar Balatentara Jepang untuk menyampaikan berita supaya kami secepat mungkin datang, walaupun tidak berpakaian lengkap sekalipun. Kami bertanya kepada utusan itu, apa sebabnya maka kami disuruh tergesa-gesa? Rupa-rupanya balatentara Hindia Belanda memberi tanda-tanda bahwa peperangan hendak dihentikan! Akan ...

Mohammad Toha, Keteladanan Seorang Remaja

Oleh : Drs. H. Imam Hermanto Ketua Umum Buah Batu Corps (BBC) B agi kebanyakan remaja Kota Bandung dewasa ini nama Mohammad Toha hanya dipahami sebagai sepenggal jalan daerah pinggiran selatan Kota Bandung. Bahkan mungkin juga tak banyak yang mengetahui kalau di salah satu sudut jalan ini di wilayah Dayeuhkolot terdapat monumen Mohamad Toha. Kisah Mohamad Toha tak bisa lepas dari peristiwa Bandung Lautan Api dan peristiwa yang mengikutinya. Kala itu, TRI dan pejuang lainnya enggan menyerahkan Kota Bandung secara utuh. Karena itu setelah mengungsikan penduduk, mereka membakar Kota Bandung, sehingga di mana-mana asap hitam mengepul membumbung tinggi ke udara mengiringi rombongan besar penduduk Bandung yang mengalir panjang meninggalkan Kota Bandung. Mohamad Toha diyakini melakukan aksi bom bunuh diri terhadap salah satu gudang mesiu terbesar yang ada di daerah Dayeuh Kolot. Aksi bunuh diri ini dilakukan setelah aksi penyergapannya bersama M Ramdan dan anggota pasukannya gagal dan mendapa...

Menyimak Sejarah Melalui Koran Tahun 1945 (2) "Kidoo Butai Jepang Menyerang dari Tiga Jurusan ..."

Oleh: Drs RIYONO PRAKTIKTO PENGAMATAN sepintas memberikan kesan, bahwa jurnalistik melalui berita-berita yang dimuat dalam "Warta Indonesia", sebuah koran tahun 1945, sudah "menganut" atau melaksanakan apa yang kemudian disebut sebagai Jurnalistik Baru (New Journalism). Paham itu terutama mengemukakan bahwa berita-berita yang ditulis itu adalah sedemikian rupa sehingga pembaca sulit untuk segera dapat membedakan mana yang berita dan mana yang cerita pendek atau novel, atau dengan kata lain karangan fiksi. Bahkan dalam hampir semua berita yang dapat diamati yang dimuat dalam "Warta Indonesia" tersebut, selain ditulis dengan gaya mengisahkannya, yang sudah sulit dibedakan dengan penulisan feature/karangan khas, juga terasa kuat memasukkan opini/pendapat dalam bentuk jiwa semangat perjuangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa jurnalistik pada waktu itu adalah jurnalistik perjuangan, dan memihak. Yaitu memihak kepada Republik Indonesia yang baru diproklamasikan ke...