Langsung ke konten utama

Pembantaian di Sumedang (2) Merah Darah Sungai Cilutung

PAGI itu, 64 tahun lalu, A Kasim muda berjalan menuju Sungai Cilutung yang membelah Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, tempatnya tinggal. Ia mengaku lupa hendak apa waktu itu. Namun, satu hal yang diingat, ia harus waspada karena tentara Belanda sedang mengejar pasukan Republik.

Dari kejauhan, Sungai Cilutung mulai terlihat. Kasim terdiam ketika melihat air sungai--yang biasanya jernih--berubah menjadi merah. Kasim memperhatikan situasi dan matanya terpaku pada sesosok tubuh dengan luka tembak. Rupanya, merah air sungai itu berasal dari darah. Kasim menghampiri tubuh itu, membawanya ke sisi sungai, lalu menguburnya. "Saya kubur seadanya saja karena memang kondisinya seperti itu," kata Kasim yang kini berusia 83 tahun.

Pengalaman itu tak membuatnya kaget. Bahkan, ia tak lagi ingin bertanya ihwal siapa yang membunuh orang itu dan apa alasannya. Semua orang yang tinggal di daerah itu sudah tahu jawabannya. Pria yang tubuhnya mengambang itu sudah pasti tahanan tentara Belanda yang dibawa ke tepi sungai untuk kemudian dieksekusi.

"Tawanan dari mana saja dibawa ke sasak heubeul (jembatan lama). Dibawanya tengah malam. Jadi, tentara dan warga kita yang ditahan Belanda dibawa ke tengah jembatan itu untuk ditembak kemudian dihanyutkan ke Sungai Cilutung," ucap Kasim sambil menunjuk sebongkah batu besar bekas fondasi jembatan. Kini, jembatan itu memang tinggal puing.

Saat itu, bagi Kasim dan warga Tomo lainnya, penemuan mayat di Sungai Cilutung sudah menjadi keseharian. Tentara Belanda secara terang-terangan mengeksekusi tentara Indonesia dan warga di lokasi tersebut. Sudah tak terhitung lagi jumlah mayat warga sipil dan tentara Indonesia yang dihanyutkan ke sungai itu. 

Tomo memang hanya menjadi tempat pembunuhan tahanan. Kasim tak pernah melihat ada perang di sana. "Dulu, ada pos Belanda di seberang kantor kecamatan. Di dekat jembatan Sungai Cimanuk," katanya.

Tak jauh dari pos itu, ada tempat yang difungsikan sebagai penjara sementara. Lokasinya tepat di belakang sekolah dasar, di dekat kantor kecamatan. Tahanan yang akan dieksekusi biasanya ditahan di penjara itu.

**

DUNIA terasa begitu mengimpit, saat itu. Siapa pun bisa kehilangan nyawa, dengan cara apa pun. Banyak warga sipil yang kemudian memilih untuk mengungsi ke hutan. Namun, tak sedikit pula yang memilih terus berjuang. Kasim salah satunya

Ia bergabung dengan kelompok pejuang yang berasal dari masyarakat sipil. Dengan pengarahan dan pelatihan dari tentara, Kasim dan rekan-rekannya ikut berjuang melawan penjajah. Bentrok fisik dan senjata sering kali tak terelakkan. "Kepala saya bahkan pernah nyaris tertembak dalam baku senjata dengan tentara Belanda. Kami juga ikut bergerilya bersama para tentara," ujarnya.

Untuk mendapatkan senjata, Kasim dan kawan-kawannya harus merampas senjata milik tentara Belanda. Tak mudah memang karena taruhannya nyawa. Situasi yang brutal itu mengakibatkan trauma yang berkepanjangan hingga hari ini. "Dulu, ketika tiba-tiba ingat masa itu, saya tidak bisa tidur. Makan pun tidak bisa. Perasaan kesal, marah, sekaligus takut bercampur," tuturnya.

Meski trauma tersebut tak pernah bisa hilang. Kasim mengaku sudah memaafkan apa yang dulu dilakukan tentara Belanda terhadap diri dan negerinya. "Dulu, memang kita musuh. Lawan ketika perang. Tapi sekarang kan Indonesia sudah merdeka. Tak ada yang perlu ditakutkan lagi. Saya sudah memaafkan. Sekarang kita semua bersaudara," kata Kasim.

**

EMPING Narpi (90) tinggal tak jauh dari rumah Kasim. Ketika itu, ia pun memilih angkat senjata daripada mengungsi ke hutan. "Kami sebagai sukarelawan dilatih oleh tentara. Kami tidak memakai seragam. Hanya kaus putih," ujarnya.

Ia mengakui bukanlah hal mudah berjuang dengan peralatan seadanya. Sama seperti Kasim, Emping pun harus melucuti tentara Belanda agar bisa mendapatkan senjata. "Saya juga mengambil kuda milik tentara Belanda. Kuda mereka tinggi-tinggi," katanya dalam bahasa Sunda. 

Perjuangan Emping dan sukarelawan lain ternyata tak sebatas melawan tentara Belanda. Mereka juga dihadapkan pada kenyataan banyaknya rakyat Indonesia yang membelot dan menjadi mata-mata untuk tentara Belanda. Karena mata-mata itu pulalah banyak tentara Indonesia yang dibunuh. "Banyak teman yang ditawan Belanda. Ada yang disandera, ada juga yang kemudian dibebaskan," tuturnya.

Ia menyebut sejumlah nama, seperti Suwito, Gombang, Buntung, dan Oyo. Menurut Emping, mereka merupakan mata-mata Belanda yang menyusup dan berbaur bersama rakyat. Merekalah yang menunjukkan kepada Belanda siapa yang harus ditangkap. Jika sudah ditangkap Belanda, biasanya nasib tawanan sudah dapat diperkirakan: tubuhnya akan mengambang di sungai.

Dia menyebutkan sebuah jembatan di kawasan Tomo dan area di kawasan Ujungjaya sebagai lokasi yang sering dijadikan sebagai tempat eksekusi. "Eksekusi biasanya terjadi malam hari. Para tawanan dari markas Belanda di pabrik gula Kadipaten dibawa ke lokasi untuk dieksekusi," katanya.

Ternyata, tak hanya Belanda, tentara Indonesia pun kerap mengeksekusi tentara Belanda yang tertangkap. "Lokasinya di Darmawangi. Dulunya hutan di kawasan Jatigede," ujar Emping.

**

ANAH masih ingat bagaimana dulu dia disembunyikan orang tuanya agar tak dibawa tentara Belanda. Masa perang adalah masa sangat suram bagi kaum perempuan. Anah menyaksikan betapa banyak perempuan di kampungnya diambil paksa oleh tentara Belanda.

Bukan hanya gadis muda yang menjadi incaran tentara Belanda, gadis seusia Anah yang kala itu masih duduk di bangku sekolah dasar pun jadi sasaran. "Saya mengalami zaman Belanda ketika masih sekolah SD. Kebetulan, di sekitar pabrik gula, yang jadi markas tentara Belanda, banyak gadis. Itulah yang diincar tentara Belanda," ungkap Anah yang kini berusia 76 tahun.

Sepengetahuan Anah, gadis-gadis yang dibawa pergi oleh tentara Belanda dijadikan babu. Untuk menghindari itu, Anah selalu diminta orang tuanya bersembunyi. "Saking takutnya, saya jadi ngumpet. Gadis-gadis lain juga ngumpet," ujarnya. Wajah Anah mengekspresikan perasaan takut.

Gestur tubuh dan mimik muka Anah masih digelayuti kengerian. Sesekali, ia bergidik saat diminta menceritakan kisahnya selama masa pendudukan Belanda di kawasan itu.

Kejamnya perang pun menjadi pemandangan Anah sehari-hari. Warga Kampung Dowar, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka itu tinggal tepat di seberang pabrik gula yang dijadikan markas besar oleh Belanda, kala itu. Menurut dia, ke markas besar itulah tentara Belanda membawa semua tawanan. Mereka yang ditawan pun bukan hanya rakyat dan tentara yang berasal dari kawasan itu. "Mereka merupakan tawanan yang dibawa dari berbagai daerah," kata wanita yang menikah pada usia 18 tahun itu. Meskipun demikian, Anah mengaku tak tahu persis daerah asal para tawanan itu. 

Para tawanan tersebut, kata dia, hanya sementara ditempatkan di pabrik gula. Mereka kemudian dieksekusi secara bergiliran. Eksekusinya pun bukan di sana. "Para tawanan itu biasanya akan dibawa ke sasak di kawasan Tomo. Dibawanya pada malam hari. Di sasak itu juga mereka ditembak," ujarnya. (Andra Oktaviani, penulis lepas)***



Sumber: Pikiran Rakyat, 17 Desember 2013



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa Surabaya 40 Tahun Lalu: Bagaimana Brigjen Mallaby Terbunuh?

Hari itu, Selasa 30 November 1945. Hari menapak senja. Suasana di depan Gedung Internatio, Surabaya, tegang. Tiba-tiba meriam Inggris dari jendela gedung memuntahkan tembakan membabi-buta ke arah rakyat yang tengah berkerumun. Soengkono  salah seorang anggota Kontak Biro, meloncat ke kolong mobil merek Chysler yang ditumpangi Brigjen Mallaby. Sambil mengendap-endap, ia menyaksikan komandan Pasukan Sekutu di Surabaya itu didorong-dorong dengan bayonet dan bambu runcing oleh para pemuda pejuang Surabaya sampai masuk ke mobil. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 17.00 petang. "Dari bawah mobil saya dengar Mallaby merintih. Sekitar pukul 19.00 rintihan terhenti. Saya kira di waktu itulah dia meninggal," tutur Soengkono (alm), seperti dituturkan kembali oleh istrinya , Ny Isbandiah , kepada seorang wartawan. Itu satu versi cerita sekitar terbunuhnya Brigjen Mallaby, komandan Brigjen ke-49, yang mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Sampai kini, peristiwa tewasnya Jenderal Inggr...

Langgar Bubrah, Sebuah Akulturasi Hindu-Islam

Furqon Ulya Himawan   Tak hanya Menara Kudus. Ada bukti lain akulturasi budaya Hindu dan Islam di Kudus, dan lebih dahulu berdiri. L ANGGAR Bubrah namanya. Langgar adalah sebuah tempat ibadah umat Islam seperti masjid, tetapi bangunannya lebih kecil sehingga orang Jawa menyebutnya langgar. Mirip dengan Menara Kudus, bangunannya terdiri dari tumpukan batu bata merah yang tertata. Namun, karena tidak utuh atau hancur, sehingga dinamakan bubrah atau hancur. Langgar tersebut terletak di desa dan di tengah-tengah rumah warga. Tepatnya di Dusun Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 8,74x8,40 meter itu memiliki panjang 6,30 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 2,75 meter. Adapun luas bangunannya sekitar 37,80 m2. Pada abad ke-15 Masehi, tepatnya 1546, sebelum Menara Kudus berdiri, para ulama di Kudus terlebih dahulu membangun sebuah bangunan yang difungsikan sebagai masjid. Menurut Zaimul Azzah, arkeolog Islam dari Ba...

Pemuda Sepanjang Masa

B agi Indonesia, kaum muda tidak hanya pemilik masa depan, tetapi juga andalan masa lalu yang gemilang. Bayangkan tonggak Sumpah Pemuda 1928! Sekarang ini orang ramai membicarakan tentang bonus demografi, yang mengacu pada peran kelompok muda produktif. Jelaslah, kaum muda merupakan modal penting sepanjang masa. Namun, bagaimana perlakuan dan pembinaan terhadap generasi muda yang menjadi harapan penggerak kemajuan bangsa dan negara pada masa mendatang? Bagaimana postur generasi muda Indonesia? Sudah sering dibahas, peluang pembangunan dan kemajuan sangat terbuka lebar, tetapi jangan-jangan sulit dimanfaatkan karena persiapan sumber daya manusia yang kedodoran. Mayoritas tenaga kerja, misalnya, masih tamatan sekolah dasar. Tingkat produktivitas tenaga kerja Indonesia termasuk rendah di lingkungan Asia. Belum lagi tingkat pengangguran di kalangan sarjana tergolong tinggi. Atas dasar itu, muncul kekhawatiran peluang bonus demografi akan menjadi sia-sia. Persoalan yang dihadapi generasi mu...

Petisi Soetardjo: Kesempatan yang Disia-siakan Hindia Belanda

Oleh: A. C. Ton PENGANTAR: A. C Ton, seorang sejarawan dan penerbit dari negeri Belanda menulis mengenai Petisi Soetardjo dan Volksraad yang dimuat di NRC Handelsblad tepat 50 tahun ulang tahun Petisi Soetardjo. Judulnya "Petitie-Soetardjo, 15 Juli 1936,: een gemiste kans voor Nederlands-Indie". Pandangan A. C Ton mengevaluasi peristiwa itu sangat menarik karena dibuat pada masa kini. Di bawah ini terjemahannya.  -- Redaksi TEPAT 50 tahun yang lalu di Volksraad, Nederlandsch Indie, terjadi sesuatu yang luar biasa. Pegawai Pamong Praja Soetardjo pada tanggal 15 Juli 1936 mengajukan usul di perwakilan rakyat dengan maksud memberikan kemerdekaan kepada Nederlandsch Indie dalam jangka waktu 10 tahun: Indie, sebagai dominion dalam Kerajaan Belanda. Dua tahun lamanya usul tersebut yang menjadi terkenal sebagai "Petitie Soetardjo" berhasil memikat perhatian orang di Indie. Petisi tersebut tidaklah bersifat revolusioner atau pun radikal. Kalau dibandingkan dengan perjuangan...

Perjalanan Sulit Menyelamatkan YBJ 6 Diulang Kembali

RUTE gerilya perjuangan pemancar YBJ 6 sepanjang lk 95 km di pedalaman Sumatera Barat tahun 1948 lalu yang ditempuh kembali oleh peserta Napak Tilas perjuangan pemancar YBJ 6 tersebut selama 5 hari sejak tanggal 19 s/d 23 Desember lalu, dirasakan oleh para peserta cukup berat. Namun demikian, jalan kaki masuk kampung keluar kampung, mendaki bukit menurun lurah dan memasuki rimba belantara itu, berkat tekad yang membara dan semangat tinggi, rute itu telah mereka tempuh dan selesaikan dengan baik tanpa kurang suatu apa. Pada tanggal 19 Desember 1984 peserta yang berjumlah 79 orang itu dilepas keberangkatannya menuju Alang Lawas Halaban oleh Menteri Parpostel Achmad Tahir, Gubernur Sumatera Barat, Ir. H. Azwar Anas Dt. Rajo Suleman serta para Kepala Daerah Tk. II se-Sumatera Barat dan undangan lainnya dalam suatu acara di lapangan Korem Wirabraja Bukittinggi. Hari Minggu tanggal 23 Desember, para peserta dalam jumlah yang lengkap disambut kepulangannya oleh Dirpegtel H. Eem Rachmat Bc. TT...

JEJAK NASIONALISME DI BANDA (1) Kerukunan Multietnik, Kekuatan dan Identitas Banda

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme adalah warisan sejarah yang hidup hingga saat ini. Bukan hanya berbentuk artefak, melainkan juga dalam bentuk kebudayaan dan peradaban. Dan, di Indonesia, dengan pengalaman panjangnya, sangat kaya dengan jejak-jejak kebangsaan itu. Setelah laporan dari Ende (Flores), Bandung (Jawa Barat), Muntok (Bangka), April ini giliran laporan dari Banda (Maluku) yang diturunkan Selasa (24/4) ini hingga Sabtu (28/4). Oleh IWAN SANTOSA O rang Kepulauan Banda adalah orang Indonesia asli seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa sebagai tempat peleburan beragam suku di Nusantara. Lumrah bila kita menemukan seorang Banda dengan nama Arab, tetapi memiliki leluhur Tionghoa, Eropa, Jawa, dan suku-suku lain di Nusantara. "Suami pertama saya Tionghoa Hokkian. Dia meninggal. Lalu, saya menikah dengan orang Jawa. Leluhur saya lelaki asal Buton dan leluhur perempuan Jawa," ujar Nyonya Sari Banun (60), warga Banda yang bermukim dekat Pelabuhan Banda. Perawa...

Polongbangkeng, Wilayah Republik Pertama di Sulawesi Selatan

P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI  di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...