Oleh : Djamal Marsudi.
Tanggal 14 Oktober 1981, genaplah sudah 36 tahun terjadinya pertempuran besar yang tak dapat dilupakan oleh sejarah perkembangan negara Republik Indonesia. Pertempuran ini adalah pertempuran yang terjadi selama 5 hari di Kota Semarang, ibukota Jawa Tengah antara pasukan-pasukan Jepang dan pasukan-pasukan atau tepatnya pemuda-pemuda Indonesia yang dalam saat-saat pertama mendapatkan ujian mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.
Detik-detik yang tak terlupakan sepanjang masa ini, detik-detik yang memperlihatkan sikap-sikap heroik dari pemuda-pemuda Indonesia serta kepahlawanan warga Kota Semarang setiap tahunnya diperingati dengan satu upacara yang khidmat. Peringatan yang bukan sekadar peringatan belaka, tetapi peringatan yang mengenangkan segala jasa dan amal bakti yang telah diberikan untuk kepentingan tanah air dan bangsa.
Bulan bundar penuh menjelang purnama melengkapi suasana peringatan "Pertempuran Lima Hari" di kompleks Tugu Muda Semarang menjadi anggun kecuali semarak dan khidmat. Tugu Muda, tugu kebanggaan Kota Semarang bermandikan cahaya lampu warna-warni dikawal oleh lima orang, empat di antaranya dengan uniform unsur angkatan dalam ABRI, dan seorang persis di depan podium berseragam hitam-hitam, dengan ikat kepala merah putih dan bersenjata bambu runcing.
Renungan pahlawan sempat menggetarkan hati ribuan warga Kota Semarang yang sempat menyaksikan upacara peringatan tersebut dengan melingkari kompleks Tugu Muda. Dalam kegelapan, karena semua lampu dimatikan, kecuali lima obor yang dinyalakan di sekitar tugu, bunyi sirine meraung-raung. Ditingkahi suara rentetan tembakan dan disela dengan bunyi ledakan-ledakan meriam yang membentuk irama patriotis selama tiga menit.
Rentetan tembakan berakhir muncul Siti Aisyah dari KNPI Kodya Semarang membacakan deklamasi "Kenangan Untuk Pahlawan", dengan dikawal oleh dua anggota KNPI yang lain, menerangi pembacaan dengan obor bambu.
Sementara itu Walikotamadya Semarang H. Iman Soeparto SH, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara dalam sambutannya antara lain berpesan, agar makna dan hikmah Pertempuran Lima Hari tersebut selalu menjiwai dan menyemangati warga Kota Semarang, terlebih-lebih para generasi mudanya.
Dikatakan pula, agar keikhlasan berkorban, keberanian dan kejujuran seperti yang diperlihatkan oleh para pahlawan "Pertempuran Lima Hari" diterapkan dalam alam pembangunan sekarang ini. "Saya percaya seperti pepatah dalam bahasa Jawa, Jer Basuki Mawa Beya," tambahnya.
Walikota juga menguraikan, ketika para pejuang mempertahankan Kota Semarang saat itu tidak mempunyai persenjataan yang cukup. Hanya bermodal keberanian dan semangat persatuan belaka mereka berjuang untuk melanggengkan kehidupan bangsa dan negara Indonesia.
"Benar-benar mereka adalah pionir dan pelopor perjuangan," tambahnya.
Para peserta.
Selain massa rakyat warga Kota Semarang, upacara yang berlangsung lancar tersebut diikuti oleh satu kompi gabungan ABRI, masing-masing satu kompi dari Menwa, Hansip/Wanra/Wakamra, Ketertiban Umum, PJKA, Mahasiswa, KNPI, Veteran, Pepabri, Perawat, dan masing-masing dua kompi KORPRI, pelajar SLTA, SLTP, serta Pramuka.
Selesai upacara di Tugu Muda, di Balaikota Semarang diselenggarakan sarasehan antara pemerintah daerah Kotamadya Semarang dengan para tokoh dan pelaku Pertempuran Lima Hari.
Pertempuran yang tak seimbang.
Pertempuran di Semarang yang pecah antara pemuda-pemuda Indonesia dengan pasukan-pasukan Jepang adalah sebenarnya bukan pertempuran yang seimbang. Bagi siapa saja yang pernah mengenal taktik dan strategi peperangan atau pertempuran tentu akan menghitung-hitung dulu dalam mengadakan perlawanan.
Tetapi, bagi pemuda-pemuda Indonesia yang sedang dirundung asmara kemerdekaan, perhitungan itu tidak ada. Bagi pemuda-pemuda patriot negara, hitung-menghitung akan menimbulkan kerugian. Dan karenanya betapapun tak seimbangnya kekuatan dan persenjataan yang ada, perlawanan harus diberikan. Sampai titik darah yang terakhir.
Kenyataannya pertempuran berkobar terus. Negara Indonesia dengan pemuda-pemudanya yang telah memproklamirkan kemerdekaannya tak dapat menerima penghinaan. Dan lebih rela mati daripada dihina sebagai bangsa yang terjajah.
Karena itu, meskipun lawan yang dihadapi adalah pasukan pilihan dari Kido Butai Balatentara Jepang yang banyak berpengalaman melawan pasukan-pasukan sekutu dan bersenjata lengkap, perlawanan terus diadakan. Meskipun perlengkapan Angkatan Perang kita belum lengkap. Meskipun susunan organisasi belum sesempurna sekarang.
Namun hanya dengan satu tekad: Demi Tanah Air dan Kemerdekaan dan bekal keberanian, perlawanan terus dikobarkan. Berapapun korban yang jatuh dan diminta. Berapapun darah yang mengalir dan daging yang berserakan.
Daerah-daerah sekitar alun-alun Semarang, Pasar Johar yang indah sekarang, Tugu Muda yang megah, Mlaten, dan juga daerah-daerah Jatingaleh cukup menjadi saksi bisu, betapa pemuda-pemuda Indonesia dengan gigihnya melawan tentara pilihan Jepang yang dengan membabi-buta menembak, menyembelih dan membunuh pemuda-pemuda Indonesia serta membakar kampung-kampung yang dikira dijadikan persembunyian pemuda-pemuda yang melawan Jepang.
Pertempuran lima hari di Semarang adalah merupakan ujian yang pertama bagi Republik Indonesia, khususnya bagi Jawa Tengah. Sebab sejak proklamasi kemerdekaan, belum pernah pertempuran besar semacam ini terjadi. Ribuan pemuda gugur di ujung peluru atau samurai atau bayonet tentara pilihan Jepang, dan ratusan pula yang tak dikenal di mana jenazahnya berada.
Hanya dengan tekad dan keberanian saja mereka melawan dengan senjata seadanya. Keberanian serta heroisme inilah yang sebenarnya harus diwarisi oleh generasi-generasi selanjutnya.
Persatuan bulat dan kokoh.
Hari-hari menjelang adanya peristiwa tersebut dan selama pertempuran berjalan ada satu hal yang bisa kita jadikan suri tauladan, ialah adanya persatuan di segenap lapisan pemuda yang bulat dan kokoh. Kotak-kotak golongan, agama, tingkatan, derajat sama sekali hilang. Yang ada hanyalah bahu-membahu memenangkan pertempuran perlawanan, bahu-membahu yang kokoh ini, tiada rintangan yang bisa menghalangi perjuangan bangsa.
Seperti apa yang terjadi waktu itu, segenap pemuda dari segala pelosok daerah--terkecuali bagi yang pengecut dan penakut--berduyun-duyun datang ke Semarang untuk turut memperkuat "barisan kita". Tak ada untung rugi yang diperhitungkan, tak ada perhitungan mati atau hidup. Yang ada hanyalah mati bersama atau hidup merdeka. Bagi setiap pemuda yang berusia 15 tahun ke atas sedikitnya sudah merasa "malu" bila tidak ikut "bersiap". Bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Pelihara semangat berkorban.
Adalah sewajarnya bilamana peristiwa yang penuh kepahlawanan tersebut kita jadikan suatu peringatan yang tak pernah mati di hati. Kita warisi semangat heroisme tersebut dan kita wariskan kepada anak cucu. Kita pelihara semangat persatuan serta semangat berkorban. Semangat tidak "mementingkan diri pribadi" dan semangat "mendahulukan bagi kepentingan nusa bangsa". Pemuda-pemuda Angkatan '45 di Semarang dan kota-kota lainnya telah memberikan contohnya yang pertama. Darah telah mengalir. Darah kemerdekaan dan kebebasan.
Apakah akan kita sia-siakan darah yang sudah tertumpah, tulang yang sudah terserak dan daging yang berserakan karena kesetiaan pada kemerdekaan? Supaya semangat perjuangan dan kemerdekaan terputus di tengah jalan? Tentu tidak.
Sumber: Korpri, circa November 1981


Komentar
Posting Komentar