Langsung ke konten utama

Saat-saat yang Tepat Merenung Makna Perjuangan

Apa yang dialami oleh Subegjo pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio Surabaya (Suara Karya, 10/11), juga dialami oleh Moedjali (70 th, Kolonel Purn, yang kini sudah Haji), Oesman Bahrawi (76 th) dan Ali Bari (67 th). Mereka bertiga secara terpisah masing-masing mengungkapkan pengalamannya 49 tahun yang lalu kepada Suara Karya awal pekan ini di Surabaya.

Sebagaimana halnya Subegjo, ketiga pejuang yang kini sudah menikmati masa tuanya merasa bahwa 10 November selalu membangkitkan semangatnya untuk hidup lebih tangguh dan optimis.

Orang-orang setua saya dan pernah merasakan kobaran api 10 November 1945 tak lagi memiliki ambisi lebih tinggi kecuali kelak ketika saya meninggalkan dunia ini, tidak membebani anak-cucu dengan atribut-atribut kontroversial dan berbau kemunafikan karena di dekat akhir hidup saya melakukan tindak korupsi, kolusi, aji mumpung, dan berbangga-bangga merasa diri pejuang. Demikian cetus salah seorang dari ketiga pelaku dan saksi 10 November 1945.

Pertempuran di depan Internatio umpamanya, kata orang tua itu, memberi pelajaran berharga bagi kita semua: betapapun lemahnya keadaan dan posisi suatu masyarakat, kalau mereka memiliki tekad dan rasa kebersamaan, senasib serta bersatu maka ancaman yang bagaimana pun besarnya pasti teratasi. Dan jangan lupa, kita harus tahu batas serta waktu karena pada akhirnya Allah jualah yang menentukan akhir perjuangan itu.

Dalam kaitan itulah mereka bertiga, secara terpisah sama-sama berharap agar di zaman pembangunan ini jangan seorang pun "lupa daratan". Eling. Mengapa? Karena betapapun kecilnya kebahagiaan yang kini kita kenyam, adalah hasil perjuangan para syuhada, para pendahulu kita.

Pertempuran yang terjadi di depan Gedung Internatio, di sekitar Jembatan Merah, khususnya yang terjadi serentak pada 10 November 1945, mereka nilai sebagai pertempuran yang terbesar dari seluruh pertempuran yang terjadi di masa Perang Kemerdekaan antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1949.

Mengingat detail peristiwa-peristiwa November 45, nama Residen Sudirman, Doel Arnowo, Atmaji, Muhammad, Sungkono, Suyono, Kusnandar, Roeslan Abdulgani, TD Kundan, Pak Surio, Bung Tomo adalah beberapa dari sekian banyak nama lagi yang tak bisa dipungkiri sebagai pendorong perjuangan dan kegigihan perlawanan terhadap penjajah Belanda di berbagai daerah dan wilayah dalam bulan-bulan sesudah 10 November 1945.

Hari-hari dan bulan-bulan sesudah November di Viaduct, Jembatan Merah, depan Gedung Internatio, Alun-Alun Contong, Ngagel, Darmo, Gunung Sahari dan tempat-tempat lain dalam Kota Surabaya, maka pertempuran pun merembet ke daerah-daerah lain di Jawa Timur.

Dalam keadaan yang sudah berubah dari pertempuran frontal ke pertempuran gerilya, tidak hanya sekuen-sekuen tragis yang terjadi. Saat-saat yang lucu, mengesalkan, dan kadang mirip sandiwara pun bisa muncul di tengah ketakutan akan datangnya maut yang tiba-tiba. Apa yang diceritakan oleh Haji Muhammad Fuad kepada Suara Karya berikut ini adalah pengalaman-pengalaman pribadi yang terjadi antara tahun 1946 sampai dengan 1949.

Juni tahun 1946, Garis pertahanan Japanan - Gempol.

Karena rasa kurang puas dengan jatah makanan yang dikirim dari dapur yang berada di satu desa antara Pandaan - Japanan, sekitar Mojokerto, maka rekan-rekan TRIP dalam waktu senggang jika tidak sedang dalam "Stelling" atau patroli, kami biasanya keluyuran "berburu ayam kampung". Biasanya dalam kelompok dua atau tiga orang.

Daerah favorit berburu ayam kampung ini justru "di daerah tak bertuan" yang waktu itu kita sebut "niemansland", ialah kampung yang terletak di sebelah utara jalan Japanan - Watukosek - Mojokerto.

Kampung tersebut memang ideal untuk berburu karena ayam kampungnya banyak sekali dan pemiliknya sudah mengungsi. Hanya sayangnya serdadu-serdadu Belanda juga ikut-ikutan keranjingan berburu ayam kampug di daerah tersebut, sehingga dalam beberapa kejadian bisa terjadi kontak senjata ala cowboy antara kita dengan mereka secara individual sewaktu secara tidak terduga terjadi perjumpaan mendadak antara kita dengan mereka. Karena mengalami hal-hal yang kurang nyaman tersebut maka akhirnya saya ganti berburu ayam kampung sendirian di belakang garis pertahanan, meskipun tidak banyak lagi ayam kampung yang tampak berkeliaran.

"Pucuk dicinta ulam tiba" begitu kata pepatah. Suatu saat tampak oleh saya satu peti besar dengan tutup di atas berbingkai besi dan diberi kawat kasa yang tampak kokoh. "Waar het hart van vol is, loopt de mond van over", apa yang penuh di hati itulah yang terucap di mulut. "Lhaaa ... ini mesti kandang ayam," kata saya sambil menyelempangkan senapan steyer di punggung.

Dengan sigap tangan kiri saya membuka penutup peti dan tangan kanan saya siap menyelonong ke dalam peti untuk menangkap ayam yang ada di dalamnya.

Brrrt ... terasa ada yang menggigit ujung lengan baju tangan kiri saya. Ternyata yang menyambar ujung lengan baju saya yang kiri tak lain adalah seekor ular phyton yang besar, melingkar di dalam peti tersebut.

Tangan kanan saya cepat-cepat menghentakkan tutup peti keras-keras. Pada saat yang sama saya menarik tangan kiri yang masih memegangi tutup peti tersebut. Bingkai tutup peti yang terbuat dari besi itu sempat menggencet ujung moncong ular phyton yang kemudian cepat-cepat menarik kepalanya lalu mengambil sikap siap mematuk, seperti ular cobra.

Untuk sesaat saya berdiri mematung dengan hati berdebar-debar, lalu pelan-pelan saya lepaskan senapan karabyn dari punggung saya. Lalu saya buka kunci pelatuknya, saya bidikkan ke kepala sang phyton dan ... dorrr, saya tembak hancur kepalanya.

Dengan perasaan yang tidak keruan, terkejut, gembira, gusar, dan menyesal bercampur baur menjadi satu, saya kembali ke markas komando dengan berlari-lari kecil. Untung saja, ya untung saja, kalau tidak, mungkin saat ini saya sudah lama tak bisa menulis kisah kecil ini, jadi almarhum dililit sang phyton sehingga remuk seperti bergedel lalu ditelannya. Dan tak seorang pun bisa menemukan di mana gerangan "TRIPPER sontoloyo" yang seorang ini.

Jombang, Februari 1949, Jam 02.00.

Peleton Sulaman menyusup masuk Kota Jombang dan berhasil menggelar peletonnya di dalam pasar di pusat pertokoan Kota Jombang. Mereka siap menyerang sarang senapan mesin di mulut jembatan yang hanya berjarak kurang lebih 50 meter. 

Rencana penyerangan pada jam 04.00, disinkronkan dengan serangan "Mobrig" pada kubu Belanda yang di Kebonrojo.

Semua berjalan sesuai rencana. Kecuali satu hal, ialah bahwa pasar yang di malam hari dipastikan dalam keadaan kosong, ternyata penuh berisi orang, laki-laki tua, perempuan-perempuan tua, ibu-ibu bahkan bayi-bayi. Waktu saya tanya, mereka adalah pengungsi-pengungsi yang hendak kembali ke Surabaya.

Keadaan yang di luar perhitungan itu sangat menyulitkan kami. Kalau kami jadi menyerang sarang senapan mesin, tentu akan terjadi tembak-menembak yang sangat sengit, dan Belanda akan menembaki los-los pasar dengan senapan mesinnya secara membabi-buta. Para pengungsi itu, termasuk anak-anak dan bayi-bayi akan menjadi korban.

Akhirnya kami putuskan untuk membatalkan serangan tersebut dan peleton pindah ikut menyerang Kebonrojo saja. Untuk itu peleton harus dipindah ke seberang jalan dan masuk ke jalan yang memotong jalan raya Jombang - Surabaya tepat di depan pasar. Agar tidak diketahui oleh tentara Belanda yang ada di dalam sarang senapan mesin, maka penyeberang jalan diatur bergantian.

Semua berjalan mulus, sampai yang terakhir giliran saya untuk menyeberang. Nah, di saat itu tepat di tengah-tengah jalan terdengar suara berdentang. Rupa-rupanya senapan salah seorang dari penyeberang di depan saya terbentur tiang telepon di trotoar.

Dan, byaaar ... seberkas sinar lampu sorot yang sangat terang menyilaukan memancar tepat mengenai saya.

Hati saya terkesiap karena terkejut berat. Saya pun tegak berdiri. Diam seperti patung dengan dua kaki pasang kuda-kuda dan kedua tangan memegang senapan dalam posisi siap tembak, tetapi tidak mungkin bisa mengenali sasaran karena kedua mata saya silau oleh sinar lampu sorot. Saya bagaikan pemain pantomim di bawah sinar cahaya spotlight di atas pentas.

Tentunya sebentar lagi akan menyusul rentetan tembakan senapan mesin dan saya tergeletak "dedel-duwel" bermandi darah di tengah jalan di tengah Kota Jombang. Tetapi yang terjadi ternyata tidak demikian. Mendadak lampu sorot serdadu Belanda itu dimatikan, di saat itulah saya serta-merta lari ke depan toko. Tampak kilatan lampu senter (flash light), dan remang-remang kelihatan seorang serdadu Belanda keluar dari dalam sarang senapan mesin menuju ke arah tempat saya berdiri menempel di dinding toko. Tetapi cahaya flash light untungnya tidak diarahkan kepada saya, tetapi ke tengah jalan. Belanda itu kemudian berhenti berjalan dan berdiri di trotoar tidak jauh dari tempat saya berdiri, tetapi menghadap ke arah pasar sambil memain-mainkan cahaya flash light-nya ke arah pasar. Rupa-rupanya dia puas dan tidak menemukan sesuatu apa pun yang mencurigakan, lalu sambil bergumam dia berjalan kembali ke arah sarang senapan mesin.

Kesempatan lengah tersebut tidak saya sia-siakan, lalu saya lari menyusul rekan-rekan yang mulai bergerak ke selatan ke arah alun-alun. Mereka memaki-maki saya, terutama sdr. Idong Aryono yang memegang mitraliur Lewis tidak berhenti-hentinya memaki saya, karena memang saya seharusnya menempel pada dia seperti perangko karena saya adalah penembak pelindung yang harus selalu melindungi dia.

Blimbing April 1949, jam 10.00 pagi.

Peleton Sulaman bergerak meninggalkan Blimbing, bergerak ke arah timur untuk "menyambut" tentara Belanda yang diperkirakan akan datang dari Ngoro menyerang Blimbing dari arah timur.

Belum lama berjalan, sekira di sebelah selatan Sekolah Dasar Negeri Blimbing, kami berpapasan dengan segerombolan orang, lelaki, perempuan, tua, muda, dan anak-anak berbondong-bondong lari dari timur menuju barat, arah ke Blimbing. Mereka tampak ketakutan, tergopoh-gopoh sambil berteriak, "Belanda .... Belanda!!!"

Setelah semua mereka lewat, tampaklah di depan kami "tamu-tamu" yang akan kami sambut, kurang lebih satu peleton tentara Belanda!

Head on Colission! Dan terjadilah "perang tawuran" tanpa pola tempur yang jelas di tengah jalan. Untunglah antara sebentar terjadi polarisasi tanpa musyawarah dan mufakat. Tentara Belanda berlarian ke sebelah selatan, atau dari sudut pandang mereka, ke sebelah kiri jalan, kami pun lari ke sebelah utara jalan menuju gedung sekolah SD. Dari sudut pandang kami, berarti kami juga bergerak ke kiri. Rupanya aturan lalu-lintas "links houden" secara tidak sengaja telah kami terapkan di dalam "vuurcontact" sebagai sarapan pagi hari itu.

Langkah berikutnya yang perlu diambil adalah ke arah mana kami terus "hengkang" alias mundur teratur atau jelasnya lari "tinggal gelanggang colong playu", karena kami yakin, seyakin-yakinnya Belanda pasti tidak hanya satu peleton saja. Pengalaman selama di Palagan, Jombang selatan, menunjukkan kalau menyerang, Belanda pasti mengerahkan pasukan dalam jumlah besar; minimum satu kompi, bahkan sering dalam satuan batalyon.

Untuk menentukan manuver yang lihai dan tepat, maka kami mulai menghitung neptu (hari pasaran dalam kalender Jawa), hari apa, neptu-nya berapa, dan seterusnya. Alhasil kami mundur ke arah barat laut. Saya sekali lagi sebagai mitralieur dekking pengawal senapan mesin menempel pada mitralieur schutter sdr. Jiwo (alm) dan mitralieur helper sdr. Suyoso.

Setelah semua mundur, baru mitralieur-nya "madal pasilan", ikut mundur. Saya pun lari mengekor Jiwo dan Suyoso.

Peleton kemudian menyeberangi kanal irigasi melalui "wot ogal agil" berupa beberapa rel kereta api yang direntangkan di atas kedua tanggul kanal irigasi terletak kurang lebih 75 meter di sebelah utara jembatan yang sesungguhnya.

Semua berjalan mulus. Jiwo dan Yoso menyeberangi kanal irigasi, lalu saya pun ikut menyeberang. Tepat di tengah-tengah saya menengok ke arah selatan. Astaga, saya lihat di atas jembatan tampak sekerumunan serdadu-serdadu Belanda bertolak pinggang sambil tertawa terbahak-bahak.

Di antara kerumunan tentara Belanda saya lihat Mas Hasan, penjual sate-gule di dekat jembatan dengan dua orang istrinya yang cantik-cantik dan seorang serdadu Belanda membidikkan senapannya ke arah saya!!!

Saya merasa seperti orang yang sedang dihipnotis, diam berdiri di atas "wot ogal agil" (titian) sambil tertegun-tegun melihat ke arah serdadu Belanda yang akan menembak saya. Lalu terjadilah hal yang aneh. Serdadu Belanda tersebut menurunkan senapannya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Pada kesempatan inilah saya cepat-cepat lari dan menghambur di antara tanaman padi yang sedang menguning dan terus lari ke barat menuju ke Klepek, menyusul teman-teman yang sudah jauh meninggalkan saya.

Sore hari kami mendapat kepastian bahwa Belanda terus bergerak ke arah utara, menuju Jombang. Kami kembali ke Blimbing sore itu juga, dan ngandok (jajan) di warung sate-gulenya Mas Hasan. Kedua istri Mas Hasan berkali-kali menepuk punggung saya sambil berkata, "Slamet, dik, slamet, untung sekali kamu, dik. Sekarang makan gule sama sate sak kenyangmu, gak usah bayar."

Saya heran ada kata "nggak usah bayar", karena biasanya kalau makan gule dan sate memang saya tidak pernah bayar, gratis. Mas Hasan dan kedua istrinya tidak pernah membolehkan saya membayarnya. Yang terasa agak lain mungkin kata-kata "sak kenyangmu" itu, karena biasanya terbatas 1 porsi nasi putih plus 1 porsi gule kambing dan 10 tusuk sate kambing. Juga saya lihat ternyata tidak hanya daging tetapi ada sate hati.

Saya pun bertanya, "Memangnya ada apa sih, mas?" Mas Hasan menjawab, "Dik Fuadi tadi kan sudah dibidik sama serdadu Belanda waktu menyeberangi kanal, eee, tidak jadi, senapannya diturunkan sambil dia geleng-geleng kepala dan berkata, kasihan, masih anak kecil." Kedua istri Mas Hasan tertawa terus sambil mengusap-usap punggung saya.

Di dalam hati saya memaki-maki karena diremehkan, dianggap anak kecil, meskipun diam-diam saya dapat membenarkan apa yang mereka katakan tentang diri saya. Maklum, berat badan saya waktu itu kurang dari 50 kg!!! Dan hari itu sekali lagi saya telah lolos dari terkaman "El Maut".

Mei tahun 1949.

Hari Jum'at tengah hari di Desa Kedungturi Blimbing, Jombang Selatan. Kami berenam jongkok berjajar di selokan dengan hati berdebar-debar. Menghadap ke utara, berjajar dari timur ke barat, berturut-turut dari timur Sukarno, Poniman, Darmo, jembatan desa selebar kurang lebih 4 meter memisahkan Darmo dengan saya, kemudian di sebelah kiri saya Gandu Arif lalu Toemintoro (sekarang beralih nama menjadi Hoetomo). Tiba-tiba beberapa granat tangan berletusan kemudian disusul dengan tembakan brengun dan stengun. 

Pada saat itulah kami serentak berdiri untuk membalas tembakan tentara Belanda. Waktu itu saya lihat Darmo menembak seorang tentara Belanda yang berada beberapa meter di depan saya sehingga pangkal lengan kanannya hancur dan pistol yang digenggam Belanda itu pun jatuh.

Dari sebelah kanan terdengar teriakan sangat keras, "Cuki mae!" dan tampak tiga orang serdadu "Belanda hitam" menancapkan senapan berbayonetnya di perut Darmo, Poniman, dan Soekarno. Lalu serentetan tembakan brengun menggelegar terdengar beberapa meter di depan saya, dan desingan peluru di sekitar saya bersahut-sahutan. Tampak seorang serdadu "Belanda hitam" menembakkan brengun-nya ke arah saya.

Sungguh suatu keajaiban. Tembakan dari jarak yang begitu dekat, tidak satu butir peluru pun yang mengenai tubuh saya. Tiba-tiba tembakan brengun berhenti. Saya lihat si tentara Belanda tersebut masih mengacung-acungkan brengun-nya ke arah saya dengan bernafsu, kemudian memaki "Cuki mae" sambil berusaha merebut "houder bak" peluru brengun-nya.

Kesempatan sekilas itu saya gunakan untuk me"ngokang" senapan "Springfield USA" saya. Rupanya "si cuki mae" menyadari kalau dia masih harus memasang houder-bak peluru yang baru, pasti kalah cepat dengan saya. Tiba-tiba sesuatu yang tidak saya duga terjadi. "Si Cuki mae" menimpuk saya dengan houder-bak kosong lewat di atas kepala saya dan terdengar tersangkut di rumpun bambu yang ada di belakang saya.

Dengan cepat saya bersama-sama Gandu Arif dan Toemintoro lari menghindar ke arah barat tetapi segera kami bertiga terhenti karena ternyata di sebelah barat tampak datang berduyun-duyun tentara Belanda. Kembali ke tempat semula tidak mungkin karena sudah ditempati tentara Belanda, mundur ke arah selatan juga tidak mungkin karena terhadang oleh serentetan rumpun bambu berduri yang sangat lebat. Akhirnya kami bertiga menyuruk di rumpun tanaman keladi yang lebat sejauh hanya kurang lebih 10 meter dari jembatan desa.

Tampak "si Belanda Hitam" yang penasaran melempari saya dengan houder-bak kosong tadi, berjongkok sambil mengacungkan brengun-nya ke arah kolong jembatan desa, lalu berteriak, "Ayo keluar lu anjing dari kolong." Karena yang tadi berdiri di dekat jembatan itu saya, teriakannya tentu ditujukan kepada saya yang dikira bersembunyi masuk di bawah kolong jembatan. Meskipun saya merasa himbauannya tersebut tertuju pada saya, tentulah Anda dapat mengerti kalau saya pada saat tersebut tidak menanggapi seruannya. Dan tidak lama kemudian terdengar menggelegar serentetan tembakan brengun dilepaskan oleh sang sinyo hitam tersebut.

Semula saya memang punya niat bersembunyi di kolong jembatan. Untung tidak jadi. Kalau jadi mendekam di kolong jembatan desa itu, tidak tahulah saya, apa jadinya dengan pantat saya.

Setelah tentara Belanda pergi meninggalkan Desa Kedungturi, barulah saya, Gandu Arif dan Toemintoro mengurus jenasah Darmo, Karno, dan Poniman. Dengan bantuan penduduk, jenasah ketiga rekan yang telah gugur tersebut kami makamkan di kuburan umum Desa Plemahan, tidak jauh dari Desa Kedungturi, dengan upacara militer sederhana, tanpa salvo.

Hanya karena perubahan niat sekilas, masuk ke kolong jembatan saya batalkan, saya telah terhindar dari "El Maut" hari itu. Siapakah yang dalam waktu sekilas itu telah mengubah keinginan hati saya sehingga tidak jadi masuk ke kolong jembatan? Dia Yang Maha Agung lah yang mengetahui.*

(Tri/KF-7/R-2)



Sumber: Suara Karya, 11 November 1994



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan Bukan Tujuan, Hanya Jembatan Memperbaiki Nasib Bangsa

Oleh Mochtar Lubis PELURU mortir mengoyak udara dan daging serta tulang-tulang manusia. Peluru senapan mesin dan senapan berdesing-desing membelah udara. Kereta api yang saya tumpangi dan telah dekat ke jembatan besar di atas Kali Bekasi disuruh mundur, ketika tembak-menembak antara pasukan-pasukan RI (pasukan resmi maupun pasukan pejuang rakyat) dengan pasukan Belanda di seberang kali bertambah sengit.  Saya turun dari kereta api hendak melihat jalan pertempuran dari dekat. Ini hanya sebuah dari sekian banyak insiden tembak-menembak antara pasukan kolonial Belanda dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dan tiap kali jatuhlah korban di kedua belah pihak. Suatu waktu yang lain, di tempat yang sama, rombongan orang-orang Republik Indonesia yang menuju ke Yogyakarta, setelah melewati jembatan Kali Bekasi, dihentikan oleh sebuah pasukan RI. Mereka bertanya apakah dalam kereta api ada dokter. Kebetulan ada dokter Subandrio (yang di kala itu menjabat sekretaris jenderal Departemen Peneran...

Komunitas Arab di Pekojan dan Krukut: Dari Mayoritas Menjadi Minoritas

M asjid itu masih tampak kokoh sekalipun usianya telah hampir dua setengah abad. Hanya di bagian atas menaranya yang menjulang tinggi sedikit berlumut dimakan usia. Di bagian dalamnya yang luas dan sejuk di tengah-tengah perkampungan yang gersang dan panas, terhampar permadani warna-warni buatan Persia. Siang itu sekitar 100 orang--kebanyakan berkopiah putih--tengah menunaikan salat dzuhur berjamaah dipimpin imam H. Achmad Basarah (81). Imam Basarah adalah keturunan keluarga Arab yang sudah tinggal di daerah itu sejak beberapa generasi lalu. Masjid Annawir yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah itu dikenal juga dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibangun tahun 1760 Masehi atau 1180 Hijriah. Saat ini Masjid Annawir Pekojan adalah masjid terbesar di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang mayoritas penduduknya keturunan Cina. Sekitar empat kilometer sebelah selatan Kelurahan Pekojan, terdapat Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Di kelurahan sini be...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Tank Rampasan dan Gerbong Maut, Saksi-saksi Sejarah

M useum Brawijaya yang terletak di Jalan Ijen, Malang, merupakan tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda yang memiliki nilai-nilai sejarah erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan RI. Inilah museum yang membangkitkan semangat seperti sesantinya "Citra Utthapana Cakra". Dalam bahasa Sanskerta, Citra berarti sinar. Utthapana berarti membangun, menggairahkan, atau membangkitkan, dan Cakra berarti semangat, daya, atau kekuatan. Dengan luas bangunan 3.300 m2, museum ini mengkoleksi benda-benda bersejarah dari tahun 1945 sampai dengan sekarang yang merupakan bukti nyata perjuangan TNI-AD khususnya dan ABRI pada umumya dalam menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan RI. Koleksi museum dipamerkan pada dua bagian. Di ruang dalam museum, sebagian besar berupa benda-benda yang pernah punya andil besar dalam merebut dan mempertahankan Tanah Air, serta sejumlah barang bersejarah lainnya. Seperti senapan mesin ringan, mortir, serta alat-alat komunikasi model kuno. Sedangka...

Hari Pahlawan: MENGENANG 10 NOPEMBER 1945

Majalah Inggeris "Army Quarterly" yang terbit pada tanggal 30 Januari 1948 telah memuat tulisan seorang Mayor Inggeris bernama R. B. Houston dari kesatuan "10 th Gurkha Raffles", yang ikut serta dalam pertempuran di Indonesia sekitar tahun 1945/1946. Selain tentang bentrokan senjata antara kita dengan pihak Tentara Inggeris, Jepang dan Belanda di sekitar kota Jakarta, di Semarang, Ambarawa, Magelang dan lain-lain lagi. Maka Mayor R. B. Houston menulis juga tentang pertempuran-pertempuran yang telah berlangsung di Surabaya. Perlu kita ingatkan kembali, maka perlu dikemukakan di sini, bahwa telah terjadi dua kali pertempuran antara Tentara Inggeris dan Rakyat Surabaya. Yang pertama selama 3 malam dan dua hari, yaitu kurang lebih 60 jam lamanya dimulai pada tanggal 28 Oktober 1945 sore, dan dihentikan pada tanggal 30 Oktober 1945 jauh di tengah malam. Dan yang kedua dimulai pada tanggal 10 Nopember 1945 pagi sampai permulaan bulan Desember 1945, jadi lebih dari 21 har...

Bagaimana Wali Mengislamkan Nusantara?

Sebuah seminar unik, akhir pekan lalu, berlangsung di Surabaya. Temanya Sejarah Perjuangan Sunan Drajat dalam Jaringan Penyebaran Islam di Nusantara. Pembukaan seminar ilmiah ini dibuka dengan tari, gamelan, dan Dandang Gulo  dan Piwulang . "Ini seminar yang gayeng  (semarak, red)," ujar seorang peserta dari Jakarta. Panitia yang dimotori Bupati Lamongan HM Faried SH, tampaknya merancang pertemuan para pakar dan ulama dengan dua pendekatan, budaya dan ilmiah. Suasana itu membuat Gubernur Jatim Basofi Sudirman dan Dr Roeslan Abdulgani turut melantunkan Dandang Gulo dan Piwulang (ajaran), yang berisi wejangan dari Sunan Drajat. Tari Sekar Giri dan Kenduran  diiringi tembang Tombo Ati  dan Lir Ilir  membikin suasana kian semarak. Penyair asal Madura, D. Zawawi Imran, lantas membaca puisinya, Episode Gelombang , bertutur tentang kiprah para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Toh, pengantar yang 'meriah' tak membuat acara tersebut keh...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...