Langsung ke konten utama

Tragedi 35 Tahun Lalu: Cibubuan Saksi Mata Eksekusi terhadap 7 Prajurit Siliwangi

Bila Jakarta punya "Lubang Buaya", maka Sumedang memiliki "Cibubuan". Di Desa Cibubuan Kecamatan Conggeang, 35 tahun yang silam, tepatnya tanggal 11 April 1949, terjadi suatu tragedi. Tujuh prajurit Siliwangi setelah tertangkap Belanda memilih mati ditembak ketimbang harus membocorkan rahasia pasukan. Dalam Hari Pahlawan ini, peristiwa itu layak untuk dikenang kembali.

Jalannya peristiwa memang mirip peristiwa Lubang Buaya. Bila dalam tragedi Lubang Buaya pahlawan Revolusi gugur dianiaya secara biadab oleh PKI karena mempertahankan Pancasila, maka ke-7 prajurit Siliwangi itu, termasuk Komandan Batalion Tarumanagara Mayor Abdurahman dan Komandan Kompi II Kapten Edi Sumapraja, gugur dianiaya secara kejam oleh Pasukan "Baret Hijau" Belanda karena mempertahankan kemerdekaan tanah air.

Bila kita berkunjung ke Desa Cibubuan yang terletak di kaki Gunung Tampomas, lebih kurang 20 km dari Kota Sumedang, rentetan peristiwa yang bersejarah itu seolah baru beberapa hari saja berlangsung. Jalan desa yang belum beraspal, udara pegunungan yang segar, rumah-rumah penduduk yang belum begitu tersentuh modernisasi, semuanya masih cukup memberi kesan ke alam peristiwa 35 tahun yang lalu.

Pakaian tidur

Baru saja memasuki gerbang desa yang letaknya tidak jauh dari jalan Conggeang-Buahdua, 3 tonggak batu yang sederhana terpancang di tepi jalan desa. Tonggak itu merupakan "monumen sejarah" yang menyatakan di tempat itu 35 tahun lalu 3 prajurit tanah air dihukum mati tentara Belanda. Tidak jauh dari sana, di tepi sebuah kali kecil, juga terdapat monumen serupa dari papan bambu sederhana. Lebih jauh memasuki desa, ternyata monumen-monumen sejarah tentang peristiwa pembunuhan terhadap para pahlawan itu dapat kita temukan lagi di beberapa tempat. Ada rumah panggung milik H. Ismail tempat Mayor Abdurahman disergap tentara Belanda dalam keadaan masih berpakaian tidur. Ada rumah yang dijadikan markas gerilya pasukan Batalion II/Tarumanagara. Ada bekas kuburan Komandan Kompi dan 2 orang pengawalnya. Ada kebun kelapa tempat melaksanakan eksekusi terhadap 2 orang anggota keamanan desa. Dan Bale Desa Cibubuan sendiri adalah saksi sejarah karena di tempat inilah Komandan Batalion Tarumanagara itu ditembak mati disaksikan puluhan pemuda desa yang sengaja dikumpulkan Belanda di halaman Balai Desa.

Menurut Kepala Desa Cibubuan Sobana (37 th), kecuali Makam Mayor Abdurahman yang sudah diperbaiki pemerintah dan diresmikan sendiri oleh Ketua MPR/DPR RI Amirmachmud, monumen-monumen sejarah lainnya tetap dipertahankan keasliannya. "Peninggalan sejarah itu sudah menjadi milik penduduk desa dan akan terus dipertahankan kelestariannya karena merupakan kebanggaan tersendiri bagi Desa Cibubuan," tutur Sobana yang sebentar lagi akan melepaskan jabatannya sebagai Kepala Desa karena akan diadakan pemilihan Kepala Desa yang baru.

Diorama penyiksaan

Disengaja atau tidak, gagasan Sobana menjadikan Cibubuan, desa penuh kenangan bersejarah itu sepatutnya mendapat perhatian Pemda Kabupaten Sumedang. Bagaimanapun juga, Desa Cibubuan tidak dapat dipisahkan dengan sejarah perjuangan rakyat Jawa Barat umumnya dan Pasukan Divisi Siliwangi khususnya dalam menegakkan kemerdekaan tanah air. Bagi generasi muda, menyaksikan sendiri peninggalan-peninggalan sejarah yang "berserakan" di Desa Cibubuan niscaya akan tergugah rasa bangga dan rasa cintanya terhadap para pahlawan yang telah rela mengorbankan jiwa raga untuk kemerdekaan tanah air. Simak saja misalnya tulisan yang ada di atas tembok makam Mayor Abdurahman: "Jiwa raganya sudah hilang sudah. Semangat dan jiwa patriotismenya tetap hidup dan berkobar sampai akhir jaman. Esa Hilang Dua Terbilang!"

Lebih dari itu, makam Mayor Abdurahman dan Bale Desa Cibubuan sendiri dapat dijadikan alat untuk mewariskan semangat juang '45 kepada generasi muda. Berbeda dengan desa lainnya, Balai Desa Cibubuan dilengkapi semacam ruang pameran atau diorama adegan penyiksaan Pasukan 'Baret Hijau" terhadap Komandan Batalion II/Tarumanagara. Foto Mayor Abdurahman sendiri dengan duplikat Panji Batalion yang dirampas Belanda tergantung di dinding tembok. Tak kurang pentingnya, selembar surat yang ditandatangani Kapten Amirmachmud menyatakan sejak Peristiwa Cibubuan gelaran nama Batalion Tarumanagara diganti menjadi Batalion 11 April.

Cuma sayangnya, menurut Sobana, sementara saat-saat ini digalakkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) dalam rangka menanamkan sifat patriotisme di kalangan anak-anak dan pemuda, banyak SD, SLP, atau SLA di Kota Sumedang yang lebih senang pergi ke "Lubang Buaya" Jakarta daripada ke "Cibubuan" Sumedang. "Padahal pergi ke Cibubuan, ongkos lebih hemat dan saksi mata peristiwa Cibubuan itu masih banyak yang hidup sampai sekarang," tuturnya.

Bungkem seribu basa

Usaha menjadikan Cibubuan terkenal sebagai desa yang bersejarah melewati jalan yang cukup panjang. Menuturkan kisahnya, Pak Adang (64 th) bekas Kepala Desa Cibubuan mengemukakan, peristiwanya dimulai tahun 1954 ketika Bupati Sumedang ketika itu berkeinginan untuk memindahkan seluruh kerangka jenazah pahlawan Cibubuan ke Makam Pahlawan Cimayor di Kota Kaler Sumedang. Permintaan itu ditolak penduduk Cibubuan karena bagi mereka pahlawan Siliwangi itu adalah juga pahlawan desanya. Rasa cinta kepada pahlawan agaknya bukan hanya hiasan bibir saja, tapi bagi kebanyakan orang tua di sana sudah merupakan "kewajiban" untuk diteruskan kepada anak cucunya. Ketika masih pemuda, banyak yang menyaksikan sendiri bagaimana gigihnya Mayor Abdurahman mempertahankan hak dan kebenaran. Biar ditodong senjata, dipukul dan disiksa berkali-kali, tetap bungkam seribu basa, tak mau membocorkan rahasia pasukan. Karena merasa kesal tidak memperoleh informasi tentang lokasi basis gerilya, akhirnya dalam jarak dekat Mayor Abdurahman ditembak. Menurut Pak Adang yang menyaksikan sendiri kejadian itu, mayat yang sudah tak berdaya kemudian diberondong bren. Untuk melampiaskan rasa sukanya, tentara Belanda itu bergantian difoto bersama mayat Mayor Abdurahman dengan Panji Batalion yang telah direbutnya.

Setelah itu beberapa penduduk diperintah tentara Belanda untuk menggali lubang menguburkan mayat Mayor Abdurahman bersama dua orang pengawalnya, Sersan Sabur dan Kopral Karna, yang juga ditembak mati di halaman desa. Sedangkan Kapten Edi Sumapraja dengan dua orang pengawalnya, Sersan Roni dan prajurit Saleh, setelah ditawan ditembak mati di tempat lain. Pahlawan Cibubuan lainnya adalah Sersan Darsono dan Sersan Dodo (keduanya gugur disiksa), Sumawijaya Kepala Desa, Dahlan putra Kapten Rivai dan tiga orang lagi anggota Keamanan Desa.

Untuk mengenang jasa para pahlawan Cibubuan itu, Pemda Sumedang lewat Keputusan DPRD setempat telah mengabadikan nama Batalion 11 April pada sebuah perguruan tinggi di Sumedang dan nama Mayor Abdurahman pada sebuah jalan raya di kota itu. (Usman AM)



Sumber: Suara Karya, 10 November 1984



Komentar

Postingan populer dari blog ini

3,5 Abad Penjajahan Belanda Berakhir di Kalijati, Subang

TANGGAL 8 Maret sebenarnya tak ada yang mesti kita peringati secara Nasional atau regional Jawa Barat. Mungkin hanya bagi para sejarawan tanggal itu mempunyai arti khusus. Tak banyak yang ingat sebenarnya 43 tahun yang silam tepatnya tahun 1942, di pangkalan udara Kalijati Kabupaten Subang terjadi peristiwa bersejarah, yakni berakhirnya 350 tahun penjajahan Hindia Belanda. Saat itu dilakukan penandatanganan naskah penyerahan Indonesia dari tangan penjajah Belanda kepada Jepang yang sering diibaratkan sebagai lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya. Gedung bersejarah yang dipergunakan sebagai tempat peristiwa ini berlangsung sampai kini masih tetap lestari. Saksi bisu ini yang dulunya rumah seorang perwira sekolah penerbangan Hindia Belanda, sekarang digunakan sebagai tempat pertemuan (resepsi) TNI AU Pangkalan Udara Kalijati dengan nama "Wisma Budaya". Kalijati yang terletak 15 kilometer dari ibukota Kabupaten Subang, Jawa Barat, sejak lama dikenal sebagai basis sek...

Penyerbuan Lapangan Andir di Bandung

Sebetulnya dengan mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, orang asing yang pernah menjajah harus sudah angkat kaki. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Masih ada saja bangsa asing yang ingin tetap menjajah. Jepang main ulur waktu, Belanda ngotot tetap mau berkuasa. Tentu saja rakyat Indonesia yang sudah meneriakkan semangat "sekali merdeka tetap merdeka" mengadakan perlawanan hebat. Di mana-mana terjadi pertempuran hebat antara rakyat Indonesia dengan penjajah. Salah satu pertempuran sengit dari berbagai pertempuran yang meletus di mana-mana adalah di Bandung. Bandung lautan api merupakan peristiwa bersejarah yang tidak akan terlupakan.  Pada saat sengitnya rakyat Indonesia menentang penjajah, Lapangan Andir di Bandung mempunyai kisah tersendiri. Di lapangan terbang ini juga terjadi pertempuran antara rakyat Kota Kembang dan sekitarnya melawan penjajah, khususnya yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1945. Lapangan terbang Andir merupakan sala...

Dua Generasi Merayakan Disrupsi

Boedi Oetomo (1908) adalah cerita tentang disrupsi. Bentrokan antarzaman yang saat itu terjadi memicu kekacauan dan kebingungan. Namun, anak bangsa dari dua generasi berbeda, yaitu Wahidin Soedirohoesodo (lahir 1857) dan Soetomo (lahir 1888), justru memakainya sebagai kekuatan untuk melawan kolonialisme. R uang anatomi dan bangsal tanpa sekat tempat sekitar 170 siswa pribumi pada awal abad ke-20 memadu asa ingin menjadi dokter. Itulah dua ruangan yang saling bersebelahan di Museum Kebangkitan Nasional yang ada di Jalan Abdul Rachman Saleh, Jakarta. Dua ruangan yang dulu menjadi bagian dari sekolah kedokteran (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen/STOVIA) tersebut berperan penting dalam sejarah lahirnya Boedi Oetomo. Di bangsal tanpa sekat itu, Soetomo, salah satu pendiri Boedi Oetomo, dan teman-temannya, satu abad lalu, kerap bermimpi tentang bangsanya yang jadi tuan di negeri sendiri. Suasana kebatinan para siswa STOVIA yang ketika itu berusia 20-22 tahun ini, antara lain, dapat ...

1928: Kongres Perempuan Indonesia I

PARA pejuang wanita mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I. Kongres dimulai pada 22 Desember 1928. Kongres yang diadakan di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta itu berakhir pada 25 Desember 1928.  Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Hasil kongres tersebut, salah satunya ialah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah senusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Penetapan 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada 1938. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No 316/1959 bahwa 22 Desember ialah Hari Ibu. Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

100 Tahun Nasionalisme Bangsa

I STILAH ' kebangkitan nasional' dipopulerkan Perdana Menteri Hatta 1948. Saat itu, negeri Indonesia masih diwarnai perang kemerdekaan, ketika situasi politik bergejolak hebat. Melihat kondisi tersebut, Soewardi Sorjaningrat (Ki Hajar Dewantoro) dan Dr. Rajiman Wediodiningrat mengusulkan kepada Presiden Soekarno, Perdana Menteri Hatta, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamijoyo untuk memperingati kebangunan nasional melalui berdirinya perkumpulan Boedi Oetomo. Perkumpulan yang didirikan 20 Mei 1908 tersebut, dianggap bisa mengingatkan semua orang bahwa persatuan bangsa Indonesia sebenarnya sudah dicanangkan sejak lama. Usulan tersebut kemudian disetujui pemerintah Republik Indonesia dengan melaksanakan Peringatan Kebangunan Nasional yang ke-40 di Yogyakarta. Namun, diperingatinya pendirian perkumpulan Boedi Oetomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional sempat menjadi perdebatan tokoh-tokoh nasional saat itu. Menurut Guru Besar Sejarah Unpad Prof. Dr. Hj. Nina Herlina ...

Sumbangan Berharga untuk Mencapai Kemerdekaan: Bandung Lautan Api 24 Maret 1946

Oleh MASHUDI BANDUNG  Lautan Api 24 Maret 1946 merupakan peristiwa kepahlawanan yang dibarengi dengan kesadaran patriotisme dan pengorbanan rakyat demi membeli kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia. Semangat Bandung Lautan Api yang telah menjadi aset nasional perlu dilestarikan, dengan amal perbuatan yang setimpal. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menggerakkan seluruh pemuda Bandung untuk secara serentak menggerakkan masyarakat menyongsong proklamasi dengan penurunan bendera Nipon Hinumaru dan menaikkan bendera Sang Saka Merah Putih di atas Gedung Denis, sekarang Bank Pembangunan Daerah, dan disusul dengan mencopot semua pimpinan Jepang dan digantikan dengan pimpinan bangsa Indonesia di semua kantor-kantor pemerintahan dan semua gedung-gedung yang dikuasai oleh Jepang dijadikan milik Republik Indonesia. Sang Merah Putih berkibar secara terus menerus sampai di pelosok-pelosok, pertanda rakyat "sakumna" menyambut kemerdekaan bangsa dan negara. ...

Masih Perlukah Harkitnas

Ahmad Mansur Suryanegara Sejarawan Muslim Tinggal di Bandung HARI Kebangkitan Nasional (Harkitnas), 20 Mei, sebagai produk keputusan Kabinet Mohammad Hatta (1948). Didasarkan 20 Mei 1908 sebagai Hari Jadi Boedi Oetomo (BO). T ERNYATA  keputusan politik ini sangat bertentangan dengan realitas sejarahnya. BO yang didirikan (1908) oleh Soetomo ketika masih siswa Stovia. BO juga dibubarkan oleh dr Soetomo (1931). BO sebagai gerakan eksklusif priyayi Jawa, aksi dan pemikirannya melawan arus gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional (1900-1942). Tidak hanya saat didirikannya, tetapi juga ketika BO telah berusia 20 tahun. Dalam kongresnya di Surakarta (1928), menurut AK Pringgodigdo dalam Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia , tetap menolak pelaksanaan cita-cita persatuan nasional Indonesia, yang diperjuangkan oleh Jong Islamieten Bond-JIB (1925). BO dibubarkan sendiri oleh dr Soetomo. Berubah menjadi Persatoean Bangsa Indonesia (PBI), dan berubah lagi menjadi Partai Indonesia Raja (Parindra...