Langsung ke konten utama

PERTEMPURAN DI SURABAYA 1945: Sehari Merah Putih pertama berkibaran megah di Gedung Gubernuran

Oleh: Rukmana Hs
-- Bandung
Wartawan Buana Minggu

SAMPAI 31 Agustus 1945 genap 14 hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia berlalu. Gejolak perjuangan di Kota Surabaya belum terarah dan terpimpin mantap, namun ibarat api dalam sekam. Tentara pendudukan Jepang sama-sama masih mencoba berkuasa dengan Residen Brigjen Yoshoboka sebagai pimpinan mereka. Pada tanggal itu pula, orang-orang Belanda yang baru saja dibebaskan dari interniran menghadap Yoshoboka minta izin mengibarkan bendera merah-putih-biru untuk memperingati hari lahir ratu mereka, Ratu Wilhelmina, sekaligus merayakan kemenangan Sekutu dalam Perang Dunia II; khususnya Perang Pasifik di mana Jepang sebagai pihak yang bertekuk lutut. Namun dengan tegas Yoshoboka menolak permintaan mereka dan melarang pengibaran bendera Belanda. Alasannya, keadaan rawan dan peka sekali, sehingga dapat menimbulkan kemarahan bangsa Indonesia di Surabaya.

"Pada 31 Agustus itu hari Jum'at. Residen melarang orang Belanda mengibarkan bendera mereka. Pagi harinya kami, sejumlah mahasiswa Shika Igakubu (Kedokteran Gigi) dan beberapa pelajar menyelinap ke pekarangan gedung Gubernuran. Saya bersama Patah, juga dari Jawa Barat, naik ke atap gedung diikuti oleh teman dengan tugas masing-masing untuk mengibarkan Merah Putih," kata Brigjen TNI Purn. Barlan Setiadijaya.

Merah Putih berkibar hari itu untuk pertama kalinya di puncak Gedung Gubernuran Surabaya. Pihak Belanda datang menanyakan kepada Residen Yoshoboka. Tapi Yoshoboka membentak dan malah menuduh pihak Belanda sedang melakukan provokasi untuk memancing kekeruhan. Yoshoboka mengatakan bahwa pengibaran bendera tersebut bukan mustahil sengaja dilakukan oleh pihak Belanda. Tetapi bisa jadi juga dilakukan oleh Nippon yang pro Indonesia. Residen Yoshoboka menegaskan lagi bahwa Merah Putih tersebut harus diturunkan saat itu juga. Tapi Mr. Sunardi Kep. Bag. Umum Keresidenan menegaskan kepada Residen dan Kempei-tai, bahwa Merah Putih itu telah dilihat oleh segenap bangsa Indonesia. Bila diturunkan akan menimbulkan kemarahan mereka. Amarah massa tidak mungkin bila dikendalikan. "Biarkan saja sehari ini Merah Putih berkibar. Besok tidak lagi! Kami mengaturnya," demikian lebih kurang Mr. Sunardi berdalih setengah menakut-nakuti. Akhirnya Merah Putih berkibar sehari penuh dikawal oleh sepasukan Polisi Istimewa di bawah pimpinan Inspektur Polisi M Yassin. "Kini beliau masih hidup. Pangkatnya Mayjen Pol. Purn.," kata Drg. Barlan.

Penduduk Kota Surabaya dan sekitarnya melihat Merah Putih tersebut dengan perasaan bangga. Lalu mereka ikut memasangnya serentak di tempat masing-masing. Dalam sekejap Surabaya dan Jawa Timur umumnya menjadi lautan Merah Putih. Belanda bertambah cemas!

Menjelang senja para mahasiswa tersebut dengan mudah saja menguasai kembali benderanya. "Esok harinya 2 September pagi-pagi sekali kami kembali ke Gubernuran dengan tujuan untuk mengibarkan bendera lagi. Ketika kami akan naik tangga lantai dua, seseorang menegur. Kami amati, ternyata Pak Ruslan Abdulgani," tutur Brigjen Purn Barlan mengenang peristiwanya kembali.

"Kalian mau ke mana?" tanya Ruslan Abdulgani.

"Mengibarkan Merah Putih ini."

"Jangan. Gedung ini masih rumah orang. Biar saya yang menyelesaikannya nanti," kata Ruslan sambil melirik ke belakang di mana sejumlah prajurit Kempei-tai siap melakukan penangkapan kalau mereka mengibarkan Merah Putih lagi.

"Tapi, kami harus mengibarkannya, Pak!"

"Jangan!" bantah Ruslan dengan tegas. "Mana benderanya?" tanyanya.

Barlan Setiadijaya menunjukkan Merah Putih yang dilipatnya rapi.

"Berikan pada saya. Selanjutnya saya yang mengatur pengibaran bendera ini pada saatnya," kata Ruslan.

Barlan Setiadijaya menyerahkan Merah Putih itu. Tapi, sejenak ia menahan ujungnya yang ia tulisi dengan huruf besar: Angkatan Muda Indonesia Surabaya, 1-9-'05. "Kata-katanya sengaja saya tulis lengkap sebab bila disingkat jadi AMIS yang artinya anyir! Tahunnya '05 singkatan tahun Jepang ketika itu 2605," kata Brigjen Barlan.

Para pemuda tersebut merasa beruntung ketika itu, dicegat Pak Ruslan Abdulgani. Sepagi buta beliau sudah ada di situ untuk menyelamatkan kami. Bila tidak ia cegat, kami tentu ditangkap oleh Kempei-tai!" katanya.

19 September

Belanda semakin risau. Mereka berniat untuk berkuasa kembali di bumi Indonesia. Mereka berusaha keras mengibarkan Merah Putih biru dengan berbagai cara. Di malam hari 18 September tampak  Merah Putih di puncak Hotel Yamato (Hotel Oranje). "Kami gembira, ada yang berani mengibarkan Merah Putih di Hotel Yamato yang ditempati oleh Jepang. Tapi keesokan harinya masyarakat Surabaya marah karena bendera tersebut ternyata merah putih biru. Warna birunya tidak kelihatan di malam hari. Pada menjelang klimaks kemarahan sejumlah pemuda memanjat ke puncak gedung dan menurunkan merah-putih-biru. Warna birunya dirobek lalu berkibarlah Merah Putih. Jepang di Yamato tidak melakukan tindakan apa-apa. Mereka pikir, asal bukan Hinomaru yang "dirobek", kata Barlan.

Seorang pemuda bernama Slamet Utomo, Komandan Seinendan/Kaibodan Kec. Krembangan dan Kranggan, seusai peristiwa Yamato buru-buru menuju Gubernuran, menghadap para pembesar kita dan minta agar bendera Jepang di puncak Gubernuran Surabaya diturunkan dan diganti dengan Merah Putih. Slamet Utomo ketika itu membawa Merah Putih. Pembesar kita mengatakan jika Slamet berani, bisa melakukannya! Slamet Utomo menghadap Jepang yang berkuasa di Gubernuran. Jepang itu diam saja ketika Slamet menerangkan maksudnya. Tanpa ragu pemuda itu naik ke lantai paling atas. Dengan tata cara militer yang lazim ketika itu ia menurunkan Hinomaru dan melipatnya dengan baik. Lalu menaikkan Merah Putih dan menyerahkan Hinomaru kepada pembesar Jepang tadi. Hari itu terakhir kali bendera Jepang berkibar di puncak Gedung Gubernuran. Di mana Slamet Utomo kini? Menurut keterangan terakhir, ia menjadi Ketua DHD-45, Keb. Jeruk Jakarta Barat.

Sementara itu Belanda semakin gelisah sebab ada Proklamasi Surabaya yang ditandatangani oleh Gubernur Sudirman. Proklamasi itu antara lain berisi pernyataan tegas bahwa Surabaya adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia Merdeka. "Bunyi lengkapnya ada di arsip saya bilamana nanti diperlukan," kata Barlan Setiadijaya.

Kehadiran Tentara Sekutu di Surabaya berarti mengundang kesiapan tempur arek-arek Surabaya. Mereka akan berhadapan dengan Brigade Tempur ke-49 di bawah pimpinan Brigjen Mallaby. Kontak senjata tak terelakkan. Dalam pertempuran 30 Oktober 1945 Brigjen Mallaby tertembak mati. Sekutu/Inggris semakin garang. Mereka mengultimatum, agar semua pejuang kita menyerah pada batas 10 November 1945, jam 06.00 pagi.

"Tak ada yang ingat, ketika itu kita mulai menerjang Sekutu pada 28 Oktober, tepat pada Hari Sumpah Pemuda ke-17. Saya mencatatnya, dan pertempuran berlanjut sampai 30 Oktober. Korban dari pihak kita sangat banyak. Saya tidak bisa menyebutkannya secara tepat walau dengan angka perkiraan," kata Barlan Setiadijaya.

Akibat pertempuran tersebut, Sekutu mendaratkan Divisi-23 di bawah Mayjen Mansergh. Jenderal inilah yang mengeluarkan ultimatum kasar. Dalam pidatonya yang semula menyebut Tuan Gubernur kepada Gubernur Suryo selanjutnya Tuan Suryo saja. "Mereka mulai tolak pinggang. Mereka menyebut para pejuang sebagai pembunuh. Ultimatum mereka, bahwa orang-orang bertanggung jawab atas terbunuhnya Brigjen Mallaby harus menyerahkan diri. Gubernur Suryo menolak mentah-mentah ultimatum itu," kata Barlan Setiadijaya.

Menurut ingatannya, Markas Sekutu ketika itu di Jalan Jakarta, Tanjung Perak.

Ketika itu mahasiswa Barlan Setiadijaya (24 tahun) berpangkat Mayor di Staf Kementerian Pertahanan RI. Pada 7 November, tiba-tiba ingat orang tua di Tasikmalaya. Ia ingin memperlihatkan sudah punya mobil dan berpangkat Mayor. Ia bersama kawan-kawan seasal Tasikmalaya dan beberapa dari Surabaya, naik mobil yang dikemudikan sendiri, pulang ke Tasikmalaya. Mereka berhenti di sudut Masjid Agung Tasikmalaya, untuk makan soto Tasik. Patah (Drg) dan beberapa kawan mengadakan perundingan dengan orang-orang Siliwangi, Kol. Nasution, Mayor Mashudi, Mayor Sutoko dll. "Saya menyetel radio dan menangkap pidato Bung Tomo yang bergelora memanggil semua Arek Suroboyo untuk maju perang karena Sekutu menggempur hebat," katanya.

Sudah tinggal beberapa ratus meter lagi sampai di rumahnya mereka masuk mobil dan tancap gas, ngebut kembali ke Surabaya. Tidak menjumpai orang tua dulu. Langsung ke front dan bertempur.

"Satu pagi, kami berhasil merampas dua buah meriam. Satu di antaranya Meriam Penangkis Serangan Udara. Tapi, ternyata keduanya rusak parah. Tapi, anak-anak mencoba memperbaikinya sampai bisa dipergunakan. Sepanjang hari berlangsung pertempuran di sana sini. Pesawat terbang Sekutu jenis Mosquito melayang-layang melakukan pengintaian.

"Anggota kami, Sdr. Gumum memutar meriam tersebut, membidik pesawat terbang tadi. Kami melepaskan tembakan. Ternyata tembakan coba-coba itu mengenai sayapnya. Sebentar berputaran, lalu meluncur cepat di atas Stasion KA Tandes. Kami memburunya dan pesawat terbang itu telah terkapar di tanah. Saya memeriksa bangkai penumpangnya. Penumpangnya beridentitas Brigjen Robert Guy Loder Symonds, dan penerbangnya Osborn," tutur Brigjen Purn Barlan.

Menurutnya, selama Perang Surabaya ada dua jenderal terbunuh. Tapi, dari dokumen Sekutu yang jatuh ke tangan Mayor Barlan, mengenai Robert Guy, hanya disebutkan kecelakaan ketika take off. "Kami dengan sengaja menembaknya dengan meriam PSU percobaan. Tembakan coba-coba itu ternyata benar-benar tepat mengenai sasarannya!" ungkapnya.***



Sumber: Buana Minggu, 20 Oktober 1985



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Syiar Islam Melalui "Jalur Sutra": Dari Cina Merambah ke Kerajaan Sriwijaya

"Cina itu indah tidak memberikan kesenangan .... Aku lebih sering tinggal di penginapan dan hanya keluar jika perlu. Selama tinggal di Cina, manakala melihat seorang Muslim, seakan-akan aku berjumpa dengan keluarga dan kerabat dekatku sendiri." K etika menuliskan catatan perjalanan itu, petualang mashur Ibnu Battuta belum sedikit pun melihat bahwa di bagian lain negeri Cina masih banyak orang yang dia sebut seperti kerabat dekatnya. Tidak lama, masih abad ke-13, saat tiba di Kham Fu (Kanton), musafir Maroko ini mendapati sekitar 120.000 penduduk asing (warga Arab-Parsi) membangun rumah tangga di Kanton. Sekitar 8.000 di antara mereka itu merupakan pelajar yang menuntut ilmu di perguruan tinggi Islam di sana. Kemudian ketika dia hendak menuju ke daerah Melayu dan Sriwijaya, Ibnu Battuta melihat besarnya komunitas pedagang Muslim yang menetap di kota-kota pelabuhan sepanjang Selat Malaka. Dan tepat saat dia menginjakkan kaki di tanah Ce Li Foche (sebutan Cina untuk Sriwija...

Perang Paderi di Sumatera Barat 1821 - 1838 (Bagian II - Habis)

Oleh : Syamsuar Said Periode 1831 - 1838 Pada tahun 1831 Perang Diponegoro di Jawa dapat dikatakan berakhir. Hal itu merupakan angin segar bagi Kompeni Belanda di Sumatera Barat, sebab mereka dapat melanjutkan usaha menaklukkan tanah Minangkabau. Pasukan bantuan didatangkan dari Jawa dan Gubernur Jenderal Van den Bosch lalu mengangkat Letkol. Ellout menjadi Residen merangkap Komandan Militer di sana. Untuk pertama kalinya Kompeni menyerang Naras pada tanggal 8 Juli 1831, hingga Tuanku nan Cerdik terpaksa mengosongkannya. Begitu pula VII Kota juga dikosongkan untuk kemudian mundur ke V Kota. Dalam serangan ini Mayor AV Michiels bertindak kejam. Keluarga Tuanku nan Cerdik yang tertangkap banyak yang dibunuh dengan semena-mena. Secara licik Belanda mengumumkan sayembara. Kepada mereka yang berhasil menyerahkan Tuanku nan Cerdik hidup-hidup akan diberi hadiah 1.000 gulden. Namun sayembara itu tidak mendapat tanggapan. Rakyat masih setia pada pemimpinnya sehingga perlawanan semakin berkobar...

JEJAK NASIONALISME BANDA (4) Sosok Des Alwi, dari Perjuangan hingga Orde Baru

P engusaha Hashim Djojohadikusumo meluncurkan ulang buku Pertempuran 10 November 1945  karya Des Alwi akhir November 2011. "Dari Banda inilah, Indonesia yang sekarang ada tercipta. Salah satu tokohnya adalah Des Alwi," ujar Hashim memuji Des Alwi, sahabat dan kerabat dekat keluarga besar Djojohadikusumo. Tahun 1930-an, Des Alwi menjadi murid dan anak angkat Bung Hatta alias Om Kaca Mata dan Bung Kecil, yakni Sutan Syahrir alias Om Rir. Des Alwi adalah tokoh lintas zaman dan generasi. Dia bergaul dengan perintis dan pendiri Republik. Turut terlibat langsung dalam desing peluru, keringat, dan darah semasa revolusi fisik, berseberangan dengan masa akhir rezim Orde Lama, dan dekat dengan tokoh-tokoh Orde Baru. Semasa hidup, dalam satu kesempatan saat bertemu di sebuah restoran di bilangan Menteng, Jakarta, Des Alwi bercerita saat dia berada di Kuala Lumpur, kubu anti-Soekarno kerap menghubungi dirinya. Des ikut pula merintis upaya mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia karena ...

Masjid-masjid Tua di Pecinan

Oleh Alwi Shahab G lodok atawa Pecinan bukan hanya jadi kawasan dagang, tapi di antara bangunan bersejarah dan berusia ratusan tahun juga terdapat area agamis. Kawasan Jakarta yang menjadi pusat perdagangan dan bisnis di pecinan yang konon pada 1960-an menjadi tempat perputaran sekitar 70 persen uang di Indonesia ini juga memiliki belasan masjid yang usinya tidak kalah dengan kota tua itu sendiri. Berdekatan dengan pusat bisnis yang hiruk pikuk di China Town itu, di belakang Pasar Pagi terdapat masjid kecil. Masjid bernama Al-Anshor ini, menurut salah seorang pengurusnya, dibangun 355 tahun lalu (1648). Menurut keterangan masjid ini didirikan para pendatang India dari Malabar. Sebagaimana masjid-masjid tua di DKI, setelah mengalami renovasi biasanya gaya lamanya menghilang atau agak hilang. Untungnya empat buah tiang penyangga masjid Al-Anshor ini masih utuh, sekalipun telah berusia 3 1/2 abad. Masjid yang dulu di sekitarnya terdapat pemakaman umum itu kini menyatu dengan rumah-rumah p...

JEJAK NASIONALISME BANDA (5-HABIS) Semua Penduduk Tahu, Dulu Ada Sekolah yang Dibikin Hatta dan Sjahrir

C atatan Reinier de Klerk (Gubernur Banda tahun 1748 dan Gubernur Jenderal Hindia 1777-1780), mengungkapkan, pendapatan VOC dari penjualan rempah-rempah, terutama pala dan fulinya, mencapai 1.800.000 gulden pada tahun 1756. Sekitar seabad kemudian, bahan statistik yang dikumpulkan Dr Pieter Bleeker, seorang opsir kesehatan tentara, menyebutkan penerimaan dari perdagangan rempah-rempah mencapai 959.610 gulden (Willard A Hanna, 1983). Namun, pada permulaan abad ke-20 peran penting ini berangsur pudar. Pada periode itu, Banda hanya menyumbang pendapatan 20.000 gulden per tahun. Pemerintah kolonial juga menurunkan kedudukan Banda menjadi kepulauan terpencil di bawah Karesidenan Ambon. Hierarki pemerintahan yang semula setingkat gubernur diganti menjadi kontrolir. Empat tokoh Sejak akhir abad ke-19, Banda Neira, sebuah kota berpenduduk sekitar 7.000 orang dan terletak di Pulau Neira, menjadi tempat pengasingan para tokoh politik bumiputera. Pada dinding monumen peringatan Parigi Rante di Ba...

Makam Raja Tallo IX Terbesar di Indonesia

Oleh Mujahidin Agus PENGANTAR Artikel ini karya Mujahidin Agus, siswa SMAN II, Jl. Gaji Gau III/17, Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, yang menempati urutan terakhir "Sepuluh Besar" peserta "Sayembara Mengarang Suara Karya  untuk SMTA 1987". Belum berhasil meraih hadiah Tabanas dan mesin tik, untuk pemuatan tulisannya ini Mujahidin akan mendapat honor sebagaimana yang berlaku di Suara Karya. Red. M enyusuri pinggiran kota Ujung Pandang di Kecamatan Tallo, melewati jalan yang tidak terlalu ramai, kita akan sampai ke kompleks makam kuno raja-raja Tallo, tepatnya di RK VI Lingkungan Tallo. Kompleks ini terletak di sebelah timur muara sungai Tallo di selat Makassar, 7 km dari pusat kota Ujung Pandang. Dari tepi jalan raya kompleks ini tidak nampak sebab terlindung oleh rumah penduduk. Memasuki pintu gerbang, kita takkan mengira bahwa di belakang rumah-rumah penduduk itu terdapat makam raja-raja Tallo yang sangat bersejarah. Luas kompleks yang hanya sekitar 9.225 m2 ini sa...

Masjid Al-Makmur Cikini (1840)

M asjid Al Makmur yang terletak di jalan Raden Saleh No. 30 Jakarta Pusat, dan didirikan tahun 1840 ini diduga kuat dibangun atas andil almarhum Raden Saleh yang ketika itu tengah membangun rumah di daerah Cikini. Lokasi rumah dan tanah masjid itu kini adalah areal kompleks RS Cikini, yang dahulu disebut Koningen Emma Hospital, milik Koningen Emma Stichting (Yayasan Ratu Emma). Kisahnya, usai berkeliling Eropa memperdalam ilmu lukisnya, pria berkumis melintang bernama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman itu kembali ke Hindia Belanda. Raden Saleh kemudian membeli sebidang tanah yang luas di daerah Cikini. Mulai dari pinggir Kali Ciliwung hingga ke barat. Di tanah itu dibangunlah sebuah rumah dengan beberapa paviliun. Syahdan setelah mempersunting seorang gadis asal Bogor, Raden Saleh hijrah ke kota hujan itu. Namun sebelum pindah Raden Saleh mewakafkan sebidang tanahnya untuk dibangun masjid dan menjual rumah termasuk seluruh tanah miliknya--tidak termasuk tanah masjid yang ada di belak...