Langsung ke konten utama

Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949: Pejuang Muslim Gigih Melawan

KEKAYAAN sumber daya alam Indonesia, khususnya di daerah Jawa Barat, menjadi sasaran utama pihak Belanda melalui Operasi Produk mulai 21 Juli yang dinyatakan berakhir 5 Agustus 1947.

WALAU Operasi Produk yang dilakukan pasukan Belanda berakhir pada 5 Agustus 1947 dengan dinyatakannya gencatan senjata Belanda dengan pihak Republik Indonesia, tapi perlawanan pihak pejuang di Jawa Barat terus dilakukan. Memasuki September 1947, pasukan Belanda terus melakukan aksi militer, terutama ke sejumlah pelosok di selatan Jawa Barat yang menjadi kantong-kantong perlawanan pihak Republik dan para pejuang Muslim, seperti di Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, dan Majalengka.

Sejumlah bentrokan antara pasukan Belanda dengan pihak Indonesia terekam dalam arsip sejumlah surat kabar di Perpustakaan Nasional Australia, Trove. Dalam sejumlah arsip berita, perlawanan dari pihak Indonesia terhadap Belanda diberitakan dalam media terbitan September 1947.

Surat kabar The West Australian terbitan Perth, Australia, pada Senin, 1 September 1947, memberitakan, pihak Belanda sejak hari tersebut menyatakan bahwa daerah Jawa Barat kembali menjadi bagian dari Dutch East Indies atau Hindia Belanda. Ini lebih kepada klaim, bahwa sejak September 1947, seluruh wilayah Jawa Barat sudah kembali terkuasai oleh pihak Belanda.

Pihak Belanda juga mengklaim, sesuatu yang tak mungkin membicarakan urusan garis demarkasi dengan pihak Indonesia di Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Namun, pihak Belanda mengetahui, pasukan Republik Indonesia dengan Tentara Nasional Indonesianya masih menguasai sebagian besar wilayah Jawa Barat di kawasan pegunungan dan pedesaan.

Pada hari yang sama, surat kabar The Examiner terbitan Launceston, pada Senin, 1 September 1947 memberitakan, saat itu sejumlah area di Indonesia kembali dinyatakan statusnya dalam kekuasaan Hindia Belanda. Wilayah yang diklaim pihak Belanda tersebut, terutama Jawa Barat meliputi sejumlah kawasan bernilai ekonomi tinggi, yaitu perkebunan teh, kina, karet, sisal, dan padi yang luasnya terus dikembangkan.

Walau penguasaan sejumlah sumber daya alam di Jawa Barat sudah dilakukan kembali oleh pihak Belanda, namun pada hari yang sama surat kabar The West Australian terbitan Perth, menulis, pihak militer Belanda mengeluarkan komunike, dengan melaporkan terjadi 13 bentrokan berupa perlawanan pihak Republik Indonesia terhadap Belanda di Jawa Barat. Sisa bentrokan pun terjadi di Jawa Tengah (12 kejadian) dan di Jawa Timur (8 kejadian).

Di antara sejumlah wilayah yang sudah dikuasai pasukan Belanda, adalah kawasan jalur kereta api di lintasan Stasiun Nagreg, Kabupaten Bandung. Perlawanan dari pihak Indonesia, terus dilakukan secara gencar dan keras dari pihak pejuang Darul Islam yang membuat pasukan Belanda keteteran.

Surat kabar Cairns Post, pada 14 Agustus 1947 memberitakan, Stasiun Nagreg sudah terkuasai Belanda sejak 6 Agustus 1947. Belanda mementingkan penguasaan Stasiun Nagreg karena merupakan lintasan pegunungan yang strategis menuju ke Garut.

Arsip yang disimpan sejumlah veteran pasukan Belanda Tijgerbrigade, menyebutkan, pada September 1947, pasukan Tijgerbrigade ke Garut untuk memperkuat pasukan Belanda Divisie 7 December. Selama masa-masa itu, pasukan Tijgerbrigade termasuk pasukan Belanda yang sering melakukan operasi pembersihan terhadap perlawanan pasukan Indonesia, dari Garut sampai ke Darmaraja Sumedang karena lokasinya satu jalur.

**

SEPENGGAL kenangan situasi di kawasan Nagreg seusai Operasi Produk tersebut, masih diingat salah seorang mantan pasukan Kuda Putih dari pihak Tentara Nasional Indonesia, Soedarna (90) yang tinggal dekat Stasiun Kereta Api Nagreg. Ia mengatakan dirinya asli kelahiran Nagreg, dengan menyebutkan, saat pendudukan Belanda di daerah itu, hanya sempat berada tiga bulan di Nagreg antara September-November 1947.

Disebutkan, saat itu pasukan Kuda Putih banyak berada di sejumlah pelosok perkampungan sekitar Stasiun Nagreg dan pernah bermarkas di sebuah rumah dekat kantor desa dekat Jalan Raya Nagreg. Disebutkan, pasukan Kuda Putih berada di bawah koordinasi TNI Divisi Siliwangi. 

"Kami termasuk kelompok TNI Divisi Siliwangi yang disisakan untuk mempertahankan Jawa Barat. Ini terjadi sampai sebagian besar TNI Divisi Siliwangi harus hijrah ke Yogyakarta seusai Perjanjian Renville, 17 Januari 1948," ujarnya.

Khusus di wilayah Nagreg, kenangnya, pasukan Belanda menguasai Stasiun Kereta Api Nagreg dengan menempatkan sejumlah tank di antara rel di emplasemen stasiun. Berbagai tank tersebut dimaksudkan untuk menghalau serangan dari para pejuang Indonesia, yang biasanya datang dari arah selatan Stasiun Nagreg.

Pak Soedarna mengingat, pada masa-masa itu, para pejuang Muslim dari Darul Islam gigih melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda. Biasanya, serangan yang dilakukan Darul Islam dilakukan pada malam hari, dan diketahui konsentrasinya berada di sekitar Perkebunan Mandalawangi, Kadungora, Garut, yang lokasinya sangat dekat ke Nagreg.

Terhadap perlawanan para pejuang Muslim tersebut, katanya, pihak Belanda bekerja keras berupaya meredamnya. Soalnya, para pejuang Muslim rata-rata berani melakukan perlawanan terhadap Belanda, walau dengan senjata yang seadanya.

Richard McMillan dalam bukunya, The British Occupation of Indonesia 1945-1946, the Netherlands and the Indonesan Revolution, terbitan Routledge, Inggris 2005, sejak tahun-tahun tersebut, pihak Inggris dan Belanda sering menjuluki aksi pihak Indonesia sebagai extremist (kelompok garis keras), radikal, dan teroris. Berbagai sebutan tersebut juga tergambar pada sejumlah buku sejarah dan film bertema perang kemerdekaan Indonesia 1945-1949 produksi tahun 1970-an sampai 1980-an.

Ketika ditanyakan kepada Soedarna mengenai julukan ekstremis, teroris, dan radikal tersebut, ia menjawab, "Itu mah penyebutan pihak Belanda kepada para pejuang Muslim dari sejumlah laskar. Soalnya, para pejuang Muslim dikenal paling berani dan gigih melawan Inggris dan Belanda," kata Soedarna.

Sedangkan orang-orang Indonesia yang pro terhadap Belanda, menurut salah seorang veteran pejuang kemerdekaan Indonesia asal Cibeureum, Bandung, Pak Jana (88), banyak dipersoalkan karena sering menjegal perjuangan kemerdekaan Indonesia.

"Kami para pejuang kemerdekaan menilai orang-orang Indonesia yang pro-Belanda sebagai orang-orang sedang mencari nafkah yang rela jadi antek penjajah," ujarnya. (Kodar Solihat/"PR") ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 25 September 2015



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khidmat Sumpah Pemuda Kini: Apa Jawaban Pemuda Terhadap Pembangunan?

Oleh: Emmanuel Milala TERLIBAT ngobrol dengan tokoh-tokoh pemuda beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengajukan tese yang agak peka. Kata saya, bahwa jawaban pemuda terhadap pembangunan yang sedang berlangsung ini, masih terbatas politis. Itupun dalam konteks politik praktis. Artinya, bahwa di tengah kebergulatan untuk memperbaiki kondisi sosial-budaya kita dengan penggalakan pembangunan di semua sektor ini, ternyata rupanya yang menonjol dan ditangkap oleh radar kepemudaan terbatas pada yel-yelannya doang. Pemuda kita belum sampai pada penglihatan lebih dalam, misalnya sebagai agen dari perubahan, tampil sebagai inovator yang dapat diandalkan, misioner dalam melihat realitas baru bagi saudara-saudara tercinta yang di pedesaan dan seterusnya. Pokoknya, persepsi pembangunan yang ditangkap dan dimanifestasikan oleh orang muda di tanah air kita ini, bukan hal-hal yang esensial dan kemudian menjadi motor penggerak dalam perubahan pola hidup; tetapi selalu berhenti dengan kepuasan-kepuasa...

Tragedi 35 Tahun Lalu: Cibubuan Saksi Mata Eksekusi terhadap 7 Prajurit Siliwangi

Bila Jakarta punya "Lubang Buaya", maka Sumedang memiliki "Cibubuan". Di Desa Cibubuan Kecamatan Conggeang, 35 tahun yang silam, tepatnya tanggal 11 April 1949, terjadi suatu tragedi. Tujuh prajurit Siliwangi setelah tertangkap Belanda memilih mati ditembak ketimbang harus membocorkan rahasia pasukan. Dalam Hari Pahlawan ini, peristiwa itu layak untuk dikenang kembali. Jalannya peristiwa memang mirip peristiwa Lubang Buaya. Bila dalam tragedi Lubang Buaya pahlawan Revolusi gugur dianiaya secara biadab oleh PKI karena mempertahankan Pancasila, maka ke-7 prajurit Siliwangi itu, termasuk Komandan Batalion Tarumanagara Mayor Abdurahman dan Komandan Kompi II Kapten Edi Sumapraja, gugur dianiaya secara kejam oleh Pasukan "Baret Hijau" Belanda karena mempertahankan kemerdekaan tanah air. Bila kita berkunjung ke Desa Cibubuan yang terletak di kaki Gunung Tampomas, lebih kurang 20 km dari Kota Sumedang, rentetan peristiwa yang bersejarah itu seolah baru beberapa ha...

Pendidikan Itu untuk Rakyat ....

Oleh: INDIRA PERMANASARI S ekitar 70 tahun lalu, tepatnya 1927, seorang anggota Volksraad (dewan perwakilan rakyat buatan Belanda dalam rangka politik etis) Meyer Ranneft, berpidato tentang pendidikan di Hindia Belanda. " ... Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun lebih cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, mempunyai dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini adalah suatu masyarakat yang mempunyai pertentangan-pertentangan yang tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin. Bilamana meneliti sistem pendidikan, kita melihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan kita turut mempertajam kontras sosial ekonomi, sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? ...." Cuplikan pidato itu dibacakan Dr Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang dalam forum diskusi 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah di Bandung pekan lalu. Menurut Mestika, pada masanya Ranneft me...

JEJAK NASIONALISME BANDA (4) Sosok Des Alwi, dari Perjuangan hingga Orde Baru

P engusaha Hashim Djojohadikusumo meluncurkan ulang buku Pertempuran 10 November 1945  karya Des Alwi akhir November 2011. "Dari Banda inilah, Indonesia yang sekarang ada tercipta. Salah satu tokohnya adalah Des Alwi," ujar Hashim memuji Des Alwi, sahabat dan kerabat dekat keluarga besar Djojohadikusumo. Tahun 1930-an, Des Alwi menjadi murid dan anak angkat Bung Hatta alias Om Kaca Mata dan Bung Kecil, yakni Sutan Syahrir alias Om Rir. Des Alwi adalah tokoh lintas zaman dan generasi. Dia bergaul dengan perintis dan pendiri Republik. Turut terlibat langsung dalam desing peluru, keringat, dan darah semasa revolusi fisik, berseberangan dengan masa akhir rezim Orde Lama, dan dekat dengan tokoh-tokoh Orde Baru. Semasa hidup, dalam satu kesempatan saat bertemu di sebuah restoran di bilangan Menteng, Jakarta, Des Alwi bercerita saat dia berada di Kuala Lumpur, kubu anti-Soekarno kerap menghubungi dirinya. Des ikut pula merintis upaya mengakhiri konfrontasi Indonesia-Malaysia karena ...

Sumpah Pemuda

Hari Sumpah Pemuda baru saja berlalu. Masih hangat dalam ingatan, ketika pada 28 Oktober 1928--dalam Kongres Pemuda II--para pemuda yang sebagian berpendidikan Belanda mengikrarkan Sumpah Pemuda: "Bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Sebelumnya, ada polisi Politieke Inlichtingen Dienst (PID), orang Belanda, mengingatkan agar tidak berpolitik. Seorang wakil pemuda bertanya: "Apa itu politik?" Maka selamatlah kongres. Para peserta bersemangat, tidak mengharapkan honor atau hadiah, fokus pada tanah air dan bangsa. Beberapa lama kemudian, teman-teman menamakan tanah air kita sebagai Ons Zonneland (tanah air kita yang bermandikan sinar matahari). Alangkah indahnya.  TITI SUPRATIQNYO Tangerang Selatan Sumber: Kompas , 11 November 2019

Fosil Sangiran: Menggali atau Membeli Fosil?

Prof. Tyler belum memenuhi panggilan polisi. Ada indikasi kuat ia cuma membeli fosil, bukan menggali. Akankah ia terjerat UU Cagar Budaya? N IAT Prof. Donald E. Tyler, 39 tahun, sejak mula memang tak cuma datang untuk seminar. Maka, ia sengaja datang jauh-jauh hari sebelum seminar prasejarah di Gedung Pusat LIPI Jakarta (13-15 Oktober) itu dibuka. Ahli antropologi dari Amerika itu ingin mengunjungi situs purbakala di Sangiran, Jawa Tengah. Beruntung di sana ia menemukan fosil tengkorak manusia purba. Tapi, buntutnya, Tyler kini berurusan dengan polisi.  Direktur Jenderal Kebudayaan Dr. Edi Sedyawati menuding Tyler dan Bambang Prihanto (asistennya) terang-terangan menabrak UU tentang Benda Cagar Budaya 1992. Mereka dituduh telah mengambil benda cagar budaya dan memindahkannya secara ilegal. Atas tindakan itu, mereka bisa diancam dengan hukuman 5 tahun penjara dan denda sampai Rp. 50 juta. Edi telah pula mengirim tim ke Sangiran. Tim ini bekerja sama dengan polisi mengus...

Westerling & Bernhard

Oleh SYAFIK UMAR S EDIKITNYA 61 prajurit pejuang Siliwangi gugur dalam peristiwa kudeta "Angkatan Perang Ratu Adil" (APRA) dipimpin Westerling di Bandung pada 23 Januari 1950. Dalam serangan APRA ke Markas Divisi Siliwangi di Jalan eude Hospitalweg (sekarang Jln. Lembong) Bandung itu di antara yang gugur adalah Letkol Lembong, Mayor Ir. Djoko Sutikno, Mayor Sacharin, Kapten Dudung. Mereka gugur sebagai pahlawan pejuang mempertahankan Republik Indonesia. Peristiwa ini patut kita kenang dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-103 dan Ulang Tahun Kodam III/Siliwangi ke-65 pada 20 Mei 2011 besok. Menurut catatan yang dihimpun Museum Mandala Wangsit Siliwangi Bandung, hari itu gugur 79 anggota TNI karena ada yang ditembak di jalan raya. Sebelumnya, setelah persetujuan Renville, Kapten Raymond Pierre Paul Westerling dengan pasukannya Korps Speciale Troepen (KST) atau Korps Pasukan Khusus bertugas di Jawa Barat. Pada 17 April 1948, komandan pasukan Koninklijke Leger (...