Langsung ke konten utama

Potongan Catatan Masa Pendek September 1945 - Februari 1946: Kisah Cimahi pada Masa Bersiap

KAWASAN Cimahi dikenal menjadi salah satu catatan sejarah yang memiliki nilai historis tinggi pada zaman serangan dan pendudukan Jepang di Perang Dunia II tahun 1942-1945, lalu Perang Kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1949. Demikian catatan peristiwa masa pendek setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 sampai awal Februari 1946.

SALAH satu catatan dari situasi Cimahi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 lalu disusul pernyataan menyerahnya Jepang dari Perang Dunia II kepada pihak Sekutu, pada 2 September 1945. Catatan itu menjelang lalu diikuti Masa Bersiap adalah situasi sejumlah kamp interniran di Cimahi yang umumnya ada sekitaran lingkungan eks kompleks militer di sekitaran Stasiun Cimahi.

Dalam sejumlah catatan dikumpulkan "PR" sejumlah sumber, pada banyak tempat di Pulau Jawa pada masa-masa itu semangat rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaannya yang baru saja diproklamasikan. Di Cimahi pun, masih banyak interniran terdiri orang-orang sipil Eropa, terutama Belanda dan Inggris, serta Australia dan Amerika, berada dalam kamp tawanan Jepang yang sudah tak berperang lagi setelah dibom atomnya Kota Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (9 Agustus) oleh Amerika Serikat.

Disebutkan W Merghart, dalam Het hospitaal-kamp te Tjimahi, terbitan 30 November 1989, situasi pada 25 September 1945, rumah sakit militer (kini RS Dustira) di seberang Stasiun Kereta Api Cimahi diserahkan oleh Jepang kepada Recovery of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI). Rumah sakit itu kemudian digunakan untuk kepentingan pengobatan para mantan interniran yang baru saja dibebaskan sejumlah kamp-kamp Jepang.

Surat kabar Queensland Times terbitan Ipswich, Queensland, pada Jumat 28 September 1945, pasukan Belanda dalam jumlah sangat banyak sudah tiba di Cimahi. Saat itu, di Cimahi masih banyak para interniran yang sudah merasa tak lagi jadi tawanan pasukan Jepang yang menyatakan menyerah Perang Dunia II.

Kenangan situasi perang di Stasiun Kereta Api Cimahi menjadi catatan dua warga Amerika, Ralph Ockerse dan Evelijn Blaney, dalam bukunya Our Childhood in the Former Colonial Dutch East Indies yang diterbitkan di Amerika Serikat tahun 2011.

Dikisahkan, pada bulan September 1945, rombongan anak-anak laki-laki Eropa, Amerika, dan Australia, baru saja dilepaskan dari sejumlah kamp interniran di kawasan Kamp Baros Cimahi. Anak-anak tersebut berupaya menyelamatkan diri ke Batavia dengan menaiki kereta api dari Stasiun Cimahi.

Mereka mengenang, situasi Cimahi saat itu dirasakan sangat banyak aktivitas orang-orang Indonesia, dalam kelompok yang disebut Sukarela dan Pemoeda. Orang-orang Eropa, Australia, dan Amerika yang baru lepas dari interniran, merasa situasinya tak aman dan penuh risiko.

Disebutkan, dalam situasi itu, ia berada pada rombongan anak-anak berangkat menuju Stasiun Cimahi itu, dengan dipimpin seorang anak yang usianya paling tua hanya bersenjatakan pistol. Kereta api itu berangkat dari Stasiun Cimahi dan setelah menempuh perjalanan selama empat jam kemudian tiba di Batavia.

Dalam catatan Mariska Heijmans van Bruggen, De Japanse bezetting in dagboeken, Kamp Tjimahi 4, terbitan tahun 2002, menceritakan pengalamannya pada Kamp 4, pertengahan Oktober 1945 di mana Masa Bersiap mulai terjadi. Sejumlah mantan interniran merasa situasi di luar kamp menjadi semakin tidak aman, namun ada sebagian orang-orang Indo-Eropa mencoba melarikan diri dari kamp yang lokasinya dekat Stasiun Kereta Api Cimahi tersebut.

Disebutkan, pada malam hari, yang sering terjadi penembakan di sekitar lokasi perkemahan; di mana situasi kamp tidak mengalami serangan secara langsung. Karena terus-terusan ditembaki dari luar, pasukan Inggris, pada November 1945 kemudian memasangi pelindung, terdiri atas kawat berduri dan karung pasir, serta memasang senapan mesin di sekeliling kamp.

Pada Januari 1946, hadir pasukan Belanda sehingga menambah kekuatan pasukan Inggris. Namun saat itu, intensitas serangan melalui tembakan senapan mulai berkurang terhadap Kamp 4. Sejumlah pemuda Indonesia ganti menyerang dengan menggunakan senapan mesin, bahkan menggunakan mortir dan meriam artileri, sehingga banyak orang Belanda tewas baik dalam kamp maupun saat sedang di jalanan.

**

ADA pula hal temuan menarik bagi catatan pihak Sekutu dari situasi pembebasan para interniran di Cimahi, adalah keberadaan radio. Sebagai catatan, selama Perang Dunia II (1939-1945) baik di Eropa maupun di Asia, para tawanan perang baik militer maupun sipil dari kedua pihak mana pun dilarang memiliki radio oleh pihak yang menawannya.

Jika ada tawanan perang yang ketahuan memiliki, biasanya langsung ditembak mati atau yang ketahuan menguping langsung diinterogasi habis-habisan. Informasi dari radio digunakan untuk memperoleh informasi sejauh mana perkembangan situasi perang.

Diberitakan surat kabar The Telegraph terbitan Brisbane, Queensland, Senin 12 November 1945, melalui berita berjudul "Old Prisoners Had Secret Radio", yang arsipnya ada di National Library of Australia, disebutkan, dua saudara asal Queensland, E dan C Hildebrand, yang diinternir pasukan Jepang di Cimahi, yang telah dipulangkan ke Brisbane, Australia, dapat membawa kembali sebuah penerima radio rahasia yang mereka buat dan digunakan di kamp interniran tersebut.

Surat kabar tersebut menilai, ada kecerdikan secara sistematis dari pihak Australia walau keadaan mendesak dalam situasi perang sekalipun. Saat berbagai tawanan perang dan interniran dikumpulkan lalu dipilah-pilah oleh pihak Jepang untuk ditempatkan pada berbagai kamp, di antara para tawanan sengaja mengkondisikan agar selalu ada orang-orang yang memiliki kemampuan membuat radio lalu termanfaatkan dalam suatu kamp.

Pemimpin pasukan Sekutu pendudukan Asia Tenggara, Lord Mountbatten juga menyebutkan, walau ada 10.000-an orang Eropa dan Amerika yang ditawan Jepang di Pulau Jawa, di antara populasi itu sebenarnya terdapat banyak mata-mata pada masing-masing kamp. Kemampuan para mata-mata itu pula, yang mampu membantu mencari dan mengumpulkan berbagai komponen yang dibutuhkan untuk membuat radio.

Disebutkan pula, keberadaan radio yang dibuat dan digunakan dua bersaudara E dan C Hildrebrand itu, kemudian ketahuan pihak Jepang. Kedua bersaudara yang sebelumnya merupakan karyawan pada sebuah perusahaan perkebunan milik Inggris tersebut, nyaris tewas karena disiksa pihak Jepang habis-habisan.

Keberadaan radio yang dibuat E dan C Hildebrand tersebut, kemudian diketahui pihak South East Asia Command (SEAC, Komando pasukan Sekutu di Asia Tenggara), setelah pihak Jepang menyatakan menyerah pada Perang Dunia II. Radio itu dipergunakan untuk memperoleh informasi dari pihak Sekutu yang menjemput para tawanan dan menginstruksikan orang-orang sipil dalam kamp interniran untuk tetap berada di kamp itu sampai dijemput. 

Pertempuran Indonesia dengan Belanda di Cimahi, dikabarkan surat kabar Daily Mercury, terbitan Queensland, mulai terjadi pada 6 Februari 1946. Berita serupa juga dimuat sejumlah surat kabar di Australia lainnya, walau semuanya masih berita kecil. (Kodar Solihat/"PR") ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 4 April 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949: Pejuang Muslim Gigih Melawan

KEKAYAAN sumber daya alam Indonesia, khususnya di daerah Jawa Barat, menjadi sasaran utama pihak Belanda melalui Operasi Produk mulai 21 Juli yang dinyatakan berakhir 5 Agustus 1947. W ALAU Operasi Produk yang dilakukan pasukan Belanda berakhir pada 5 Agustus 1947 dengan dinyatakannya gencatan senjata Belanda dengan pihak Republik Indonesia, tapi perlawanan pihak pejuang di Jawa Barat terus dilakukan. Memasuki September 1947, pasukan Belanda terus melakukan aksi militer, terutama ke sejumlah pelosok di selatan Jawa Barat yang menjadi kantong-kantong perlawanan pihak Republik dan para pejuang Muslim, seperti di Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, dan Majalengka. Sejumlah bentrokan antara pasukan Belanda dengan pihak Indonesia terekam dalam arsip sejumlah surat kabar di Perpustakaan Nasional Australia, Trove. Dalam sejumlah arsip berita, perlawanan dari pihak Indonesia terhadap Belanda diberitakan dalam media terbitan September 1947. Surat kabar The West Au...

Jangan Lupakan Jasa Pahlawan: Peristiwa Lengkong 51 Tahun Lalu

DI pusat Kota Bandung ada Jalan Lengkong Besar dan Lengkong Kecil, juga ada Kecamatan Lengkong. Di Tangerang pun ada Desa Lengkong. Namun, barangkali sedikit sekali yang mengetahui apa Lengkong itu. Apalagi setelah Lengkong yang di Tangerang itu kini berubah menjadi Bumi Serpong Damai (BSD). Padahal, Lengkong mempunyai arti sejarah penting yang berkaitan erat dengan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hari ini, 51 tahun lalu, 37 perwira dan taruna dari Resimen dan Akademi Militer Tangerang gugur di Desa Lengkong ketika menjalankan tugas internasional kemanusiaan ( humanitarian ) yaitu memulangkan 36.000 warga negara Belanda tawanan Jepang di Indonesia serta pelucutan dan pemulangan 35.000 tentara Jepang. Lembaga yang bertanggung jawab adalah POPDA (Panitia Oeroesan Pemoelangan Djepang dan APWI). APWI adalah singkatan dari Allied Prisoners of War and Internees atau warga sekutu yang ditahan Jepang. Semula sekutu, atas desakan Belanda, ingin menangani sendiri tukar-menukar ta...

Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa: Pergerakan Wahidin Soedirohoesodo Beranjak dari Sebuah Desa Kecil

Oleh: Sudarto Wartawan Suara Karya Hari lahirnya Boedi Oetomo, tanggal 20 Mei 1908, yang kini ditetapkan menjadi Hari Kebangkitan Nasional, untuk ke-75 kalinya diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia tanggal 20 Mei lalu. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan, dan rasa terima kasih segenap bangsa Indonesia terhadap para pendiri Boedi Oetomo, yang telah mampu membangkitkan pergerakan bangsa Indonesia, hingga bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya, dan mengusir kaum penjajah dari bumi Nusantara. Sudah menjadi catatan sejarah, Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 1908 telah mampu menggerakkan pemuda Indonesia ke arah persatuan, dan kesatuan bangsa, hingga mereka tanggal 28 Oktober 1928 mencetuskan Sumpah Pemuda, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. Semangat Kebangkitan Nasional tidak hanya berhenti sampai di situ, sebab ia terus memancarkan sinarnya di dada setiap insan Indonesia, yang kemudian meledak menjadi api perjuangan merebut kemerdekaan, dan tanggal 17 Agustus 1945...

Mengamati Penggenerasian Pemuda Indonesia

Oleh : BABARI CSIS APA bila kita mengamati fakta-fakta sejarah mulai dari masa pergerakan nasional hingga saat ini dari segi generasi muda sebagai pelaku sejarah, maka terlihat tonggak-tonggak periodisasinya sebagai berikut: generasi muda 1908, 1928, 1945, dan 1966. Dalam sejarah kata generasi seringkali dipakai bersama-sama atau bergantian dengan kata angkatan yang salah satu kriteria penentunya adalah kesebayaan dalam usia dan kebersamaan dalam peranan sebagai pelaku sejarah pada masanya serta cita-cita bersama yang ingin dicapai. Dari tonggak-tonggak generasi itu terlihat bahwa rata-rata setiap 20 tahun bangsa Indonesia mengalami pergantian generasi. Apabila kenyataan itu tidak merupakan suatu kebetulan sejarah semata, maka dalam dasawarsa 80-an ini secara alamiah akan terjadi pergantian generasi. Setiap generasi memiliki nilai, tantangan, dan jawaban terhadap tantangan itu sendiri-sendiri. Nilai diartikan sebagai hal yang dianggap penting dan berharga baik secara individual ataupun...

Rapat Raksasa Tambaksari, Berapa Kali?

D alam sejarah revolusi 1945 Surabaya, terdapat dua peristiwa penting yang mendahului dan berperanan mematangkan situasi pecahnya revolusi, merebut senjata Jepang. Yaitu peristiwa penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (19-9-1945), Tunjungan, dan peristiwa Rapat Raksasa Tambaksari (RRT). Rapat raksasa tersebut berhasil mengobarkan semangat dan membulatkan tekad rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan serta mendukung secara demonstratif eksistensi pemerintah Republik Indonesia di Surabaya. Berawal dari Rapat Raksasa Tambaksari (RRT) itulah kemudian terjadi berbagai aksi pemuda, dimulai dengan aksi penyobekan plakat-plakat larangan Jepang (antara lain larangan membawa bambu runcing), digantikan dengan plakat dan corat-coret dinding semboyan perjuangan. Menyusul kemudian aksi pengambilan alih jawatan, kantor-kantor, gudang dan mobil Jepang di jalan raya dengan penempelan plakat "Milik Republik Indonesia". Berbagai aksi itu dalam waktu singkat kemudian berkembang menjadi aksi...

Negara Pasundan Versi Kartalegawa

Oleh Prof. Dr. H. ASEP SJAMSULBACHRI MENANGGAPI tulisan Bapak H. Rosihan Anwar, Ph. D. (Hon) dalam kolom opini halaman 25, pada Pikiran Rakyat , tertanggal 12 Desember 2006, perlu ada beberapa hal yang harus diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Para pembaca budiman, terutama generasi Sunda sekarang ini, yang sedang mengisi era reformasi pasca Orde Baru dalam semangat ketahanan nasional. Untuk menghadapi era globalisasi saat ini, perlu memperoleh informasi tentang Negara Pasundan masa lalu. Hal ini penting diketahui sebagai bagian dari sejarah bangsa ini. Pertama, saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas tulisan ini yang dimulai dengan kata pembuka kerendahan hati Bapak H. Rosihan Anwar, Ph. D. (Hon) yang tidak tahu banyak mengenai perkembangan politik urang Sunda waktu itu sehingga informasinya diterima dari penerbitan NICA seperti Panji Rakyat . Nevis memang organisasi intel Belanda yang bekerja untuk penjajah, tentu saja dalam pelaporannya kepada pemerintah...

Dari Risalah Sidang BPUPKI dan PPKI (1) BK: Indonesia Merdeka, Sekarang!

DI depan sidang resmi pertama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno tampil memukau. Sesekali tepuk tangan menggemuruh, memenuhi ruang sidang Gedung Tyuuoo Sangi-In (sekarang Deplu), Jakarta. Ilustrasi yang disampaikan, menyentakkan semangat 60 anggota sidang yang dipimpin dr KRT Radjiman Wedyodiningrat dan wakilnya RP Suroso. Sebelum Ir Soekarno, selaku anggota, pada tanggal 29 Mei dan 31 Mei, tampil dua pembicara utama, pengantar untuk pembahasan tentang dasar negara, yang tak kalah menarik. Berturut-turut Prof Dr Mr Soepomo dan Prof Mr Muhammad Yamin. Mereka bertiga, seperti tercantum dalam buku Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) (Setneg, 1995), menyampaikan "pendirian" masing-masing tentang dasar negara pada tiga hari pertama sidang yang berlangsung sampai 1 Juni. Tiga hari sidang resmi pertama it...