Langsung ke konten utama

Ceceran Kisah Zaman Kolonial dan Zaman Perang: Stasiun Kereta Api Garut Jadi Kenangan

DI antara para penggemar kereta api Indonesia, bekas-bekas lintasan kereta api jalur Cibatu-Garut-Cikajang sering menarik untuk kegiatan hobi kukurusukan di rel kereta api.

DI masa lalu, saat jalur tersebut masih aktif, banyak menyisakan kenangan, bukan hanya masyarakat lokal, juga orang-orang Eropa yang pernah ke Garut, sejak zaman kolonial Belanda, pendudukan Jepang saat Perang Dunia II (1942-1945) sampai masa perang kemerdekaan Indonesia (1945-1949).

Sosok jalur kereta api di Garut pada zaman kolonial di antaranya digambarkan dalam panduan wisata See Java: the garden of the east, a short guide for tourists, yang diterbitkan Michael's Java Motor Touring Co tahun 1918 yang arsipnya disimpan di University of California Libraries. Saat itu, Stasiun Kereta Api Garut menjadi andalan tujuan dan keberangkatan dari atau ke kawasan ini, baik angkutan perkebunan maupun penumpang yang dimulai dari Stasiun Cibatu.

Disebutkan, setibanya di Stasiun Garut, pada masa-masa itu ada dua hotel yang terkenal menjadi favorit para wisatawan Eropa di Garut, yaitu Hotel Ngamplang dan Hotel Grand Tjisoeroepan. Digambarkan, Hotel Ngamplang yang berada pada ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut, yang dilengkapi lapangan golf, lapangan tenis, dan pemandangan yang memesona. Sedangkan Hotel Grand Tjisoeroepan berada pada lokasi 1.400 meter di atas permukaan laut dengan tujuan wisata ke kawah Gunung Papandayan, Kawah Manuk, Kawah Gunung Kamojang, dan menuju ke pantai selatan di Garut.

Disebutkan pula, semasa tahun-tahun tersebut, para wisatawan Eropa saat berwisata di sejumlah kawasan di Jawa Barat, termasuk di Garut sudah dibekali ratusan kata yang dipelajari lisan atau tulisan untuk keperluan percakapan. Biasanya, perbendaharaan kata yang dipelajari para wisatawan tersebut lebih kepada aneka kata atau sebutan untuk keperluan selama wisata, baik selama di hotel atau di lokasi wisata, untuk menyuruh kepada para tenaga pelayan atau membayar ini-itu.

Saat kedatangan di Stasiun Garut, digambarkan pula sejumlah percakapan umum. Orang-orang Eropa sudah belajar atau bisa berbahasa Melayu (saat itu belum disebut bahasa Indonesia), langsung dihadapi para pekerja lokal. Biasanya, orang-orang pribumi hanya kebagian jadi kuli walau saat itu Garut menjadi daerah tujuan wisata.

Begitu turun dari kereta api, saat kedatangan pagi hari misalnya, orang-orang Eropa biasanya menggunakan percakapan terhadap orang-orang pribumi (boleh jadi pada zaman sekarang, sebagian kalimatnya bikin "gereget"): "Sini koeli, angkat barang", "Ini soerat bagasie, kowe", "Bajar koeli dan bawa di hotel", "Ini stali (0,25 gulden Belanda) boewat bajar koeli", "Mana omnibus (minibus)?", "Soedah klar? Madjoe", yang dijawab tukang angkutnya atau sopir, "Saja, Toean" ....

Lain halnya saat petang hari atau seusai Magrib saat sudah di hotel, orang-orang Eropa umumnya menggunakan kalimat, "Poekoel berapa makan?", "Djongos, kasi bangoen besok pagi, poekoel anam betoel, bisa dapet makan doeloean?"

Atau untuk pesan karcis kereta api kepulangan Garut ke Cibatu menuju ke Bandung, "Apa saja misti pesen kareta boewat pigi di spoor dan kareta bagasi djoega?" Atau saat makan malam, "Djongos, minta roti", "Minta ijs (es)", atau "Kowe ada korek api?".

**

SEDANGKAN antara tahun 1920-an sampai tahun 1941, menurut catatan penulis asal Belanda yang pernah tinggal di Garut pada masa-masa itu, Louiscouperus, yang dituliskan pada situs web Louiscouperus, Stasiun Kereta Api Garut juga merupakan pusat keberangkatan dan ketibaan kembali jemaah haji asal wilayah Garut. Jemaah haji tersebut menggunakan rangkaian kereta api kelas tiga alias kelas ekonomi.

Digambarkan, suasana ketibaan jemaah haji yang baru pulang dari Mekah saat rangkaian kereta api berhenti, suasana haru tampak terlihat. Para keluarga jemaah haji menyambut gembira ketibaan kembali keluarga dan sanak saudara. Kerumunan jemaah dan para penjemput terlihat di pintu Stasiun Garut.

Berakhirnya masa-masa tujuan liburan orang-orang Eropa di Garut terjadi sejak pasukan Jepang menyerang lalu menduduki Pulau Jawa, Maret 1942. Sejak bulan yang sama, ribuan tentara Belanda, Australia, Inggris, dan Amerika ditawan pasukan Jepang di Garut.

Kelly E Crager dalam bukunya, Hell Under the Rising Sun: Texan Pows and the Building of the Burma-Thailand terbitan Texas A&M University Press, AS, tahun 2008, menyebutkan, seusai penyerahan Belanda di Kalijati, Subang, 9 Maret 1942, sebanyak 534 orang tentara Amerika asal Texas masih bertahan di perbukitan di Garut. Namun, pasukan Amerika itu kemudian turun lalu menyerah kepada pasukan Jepang.

Disebutkan, pada 31 Maret 1942, pihak Jepang memberangkatkan para tentara Amerika tersebut menggunakan kereta api melalui Stasiun Garut selanjutnya menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia. Selanjutnya, para tentara Amerika bersama tawanan perang dari tentara Belanda, Australia, dan Inggris, dikirimkan ke kamp kerja paksa membangun jalur kereta api di rute Burma-Thailand yang melintasi Sungai Kwai.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Belanda berupaya kembali mendirikan pemerintahan kolonial. Kawasan Garut diduduki pasukan Belanda melalui Agresi Militer Operasi Produk 21 Juli - 5 Agustus 1947. Menurut informasi Nederlands Instituut voor Militaire Historie, perlawanan pihak Indonesia terhadap Belanda terus dilakukan, di antaranya pembumihangusan Stasiun Garut pada 9 Oktober 1947.

Pada tahun 1949, pasukan Belanda kemudian ditarik kembali seiring pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Pasukan Belanda di Garut pun ditarik ke Batavia, lalu dipulangkan ke Belanda.

Catatan mantan salah seorang tentara Belanda yang pernah berada di Indonesia pada tahun 1945-1949, Johannes Bernardus Christiaan Berendsen yang dimuat pada Indiëdagboek deel 4, dalam Berghapedia, kenangannya saat-saat terakhir di Garut karena pasukan Belanda ditarik pada 20 November 1949. Johanes Berendsen anggota pasukan Belanda Batalion 3-2 Resimen Infantri, yang diberangkatkan dari Stasiun Garut. 

Dalam kenangannya, tiga menit sebelum keberangkatan kereta api, suasana sangat sibuk terjadi di Stasiun Garut. Para tentara Belanda menunggu dengan tertib dalam berbagai jenis kendaraan, untuk kemudian menaiki rangkaian kereta api sebagai "perpisahan terakhir" kepada Garut.

"Semua anggota pasukan Belanda bertahap masuk berbagai gerbong rangkaian kereta api. Komandan batalyon terakhir naik. Saat lokomotif bergerak, kami ramai-ramai memekik. Secara perlahan kereta api yang kami naiki meninggalkan Stasiun Garut," ujar Johannes Berendsen. (Kodar Solihat/"PR")***



Sumber: Pikiran Rakyat, 25 April 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hamdan Zoelva Siap Pimpin Syarikat Islam

BANDUNG, (PR).- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva (53), dicalonkan sebagai ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam periode 2015-2020 dan diperkirakan akan melenggang dalam pemilihan yang akan digelar Kamis (26/11/2015) malam ini. Hamdan bertekad untuk menyatukan kembali kekuatan Syarikat Islam, memperbanyak kaderisasi, dan menggerakkan program umat terutama pemberdayaan ekonomi. "Insya Allah saya siap kalau diberi amanah menjadi ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam. Saya hanya berucap bismika tawwakkaltu Alalloh laa hawla walaa quwwata illa billaah ," kata Hamdan saat pelaksanaan Majelis Tahkim ke-40 Syarikat Islam di Hotel Grand Aquila, Jalan Dr Djundjunan, Kota Bandung, Rabu (25/11/2015). Ia didampingi Wakil Ketua DPW Syarikat Islam Jabar, Adam Anhari. Hamdan mengaku tak terlalu sibuk lagi setelah tidak mengomandani Mahkamah Konstitusi sehingga ingin mewakafkan sisa usianya. "Saya kini hanya menjadi dosen di Unpad, Unhas Makassar, Universitas Muh...

Masjid Indonesia, Perkawinan Budaya yang Kaya Raya

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan  fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya DEMIKIANLAH penggalan bait pertama sajak Mencari Sebuah Mesjid yang ditulis penyair Taufik Ismail. Sajak yang keseluruhannya cukup panjang ini, dalam bentuknya yang besar ikut dipajang di salah satu pojok arena pameran Festival Istiqlal 1991. Setiap hari, banyaklah pengunjung yang ikut membacanya. Bahkan siswa-siswi SMP dan SMA rela duduk beralas karpet di hadapan sajak itu, untuk menyalinnya sampai habis. Tak salah jika dikatakan, "stand" sajak Taufik Ismail ini merupakan salah satu dari sekian banyak stand di arena pameran itu yang mendapatkan perhatian berlimpah dari pengunjung. Bait-bait sajak nan indah dan syahdu ini, seakan ingin memperlengkap koleksi benda-benda Islami yang dipamerkan pada pe...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api: Heroisme antara Tegallega dan Rel KA

TULANG  jemari terbungkus kulit keriput itu mencengkeram erat besi pegangan gerobak sampah. Bahunya yang tipis tampak melengkung, tertarik kuat tali pengikat gerobak. Langkah dan nafasnya terasa berat, menapaki Jl. Mohammad Toha, Tegallega, yang Sabtu sore kemarin (23/3), basah diguyur hujan. Beban sampah yang dibawanya, seakan tak sepadan dengan sosok tua yang kurus kering. Elan (60), sosok tua itu, sejenak memalingkan pandangannya pada sederet kata-kata dalam spanduk yang terpancang depan Markas Hubdam III/Siliwangi, "Markas Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi Tahun 1946 - Panitia BLA 1996", demikian bunyi tulisan itu. Kawasan Tegallega jika dibalik ke masa 1946, adalah sejarah heroik ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama ratusan ribu warga Bandung, mempertahankan kemerdekaan. Pada 21 Maret 1946, kawasan itu sempat dibombarder tentara Sekutu. Akan tetapi secara kebetulan, kedudukan Batalyon II TRI (Sumarsono) di sana, tengah memperkuat posisi perte...

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

Manunggaling Kawula Lan Gusti: Ajaran Syech Siti Jenar yang Ditentang Wali Songo

Oleh: MUHAMMAD RIDLO 'EISY "KULONUWUN  (permisi), adakah Syech Siti Jenar. Beliau dipanggil Sultan Demak," ucap utusan Sultan Demak kepada Syech Siti Jenar. "Syech Siti Jenar tidak ada, yang ada Tuhan," kata Syech Siti Jenar. Utusan kembali ke Demak dan melaporkan percakapannya kepada Sultan Demak. "Panggil Tuhan kemari," kata Sultan Demak. Utusan kembali ke tempat Syech Siti Jenar. (Dalam sebagian kisah rakyat, yang memanggil Syech Siti Jenar bukan Sultan Demak, tetapi Sunan Kudus.) "Kulonuwun, adakah Tuhan, beliau dipanggil Sultan Demak," ucap utusan Sultan Demak kepada Syech Siti Jenar. "Tuhan tidak ada, yang ada Syech Siti Jenar," kata Syech Siti Jenar. Utusan kembali ke Demak dan melaporkan percakapannya kepada Sultan Demak. "Panggil Tuhan dan Syech Siti Jenar kemari," kata Sultan Demak. Setelah dipanggil atas nama Tuhan dan Syech Siti Jenar maka berangkatlah Syech Siti Jenar menghadap Sul...

Jejak Kerajaan Pasai Ditemukan: Diduga Wilayah Agraris

LHOKSEUMAWE, KOMPAS -- Ada titik terang terkait jejak Kerajaan Samudra Pasai. Tim peneliti setempat menemukan bukti penting berupa makam kuno dan stempel kerajaan. Temuan baru ini memperkaya bukti jejak kerajaan yang berdiri di pesisir timur Sumatera pada abad ke-13 itu. "Bukti sejarah Kerajaan Pasai itu terkonsentrasi di empat gampong (desa) di Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Timur. Sebagian besar dalam kondisi telantar. Oleh karena itu, pemerintah harus melindungi agar tidak hilang," kata Ketua Yayasan Waqaf Nurul Islam Tengku Taqiyudin Muhammad, di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (21/3). Taqiyudin menduga empat gampong, yaitu Kuta Krueng, Beuringen, Blang Mee, dan Keude Geudong, di Kecamatan Samudra, merupakan pusat Kerajaan Pasai. Ribuan batu nisan di tempat ini memperkuat dugaan itu. "Di antara batu nisan yang kami temukan ada yang lebih tua dari batu nisan yang pernah ditulis oleh sumber sejarah," tutur Taqiyudin, alumnus Universitas Al Azhar Ca...

Negara Pasundan, Kecerdasan Politis Ki Sunda

SETELAH kemerdekaan, seperti diketahui, kehidupan berbangsa dan bernegara belum sepenuhnya berjalan. Banyak peristiwa, konflik internal dan eksternal yang masih menggoyahkan Indonesia, termasuk rongrongan dari Belanda. Hingga sampai pada suatu episode berdiri Negara Pasundan (1947) yang mungkin sekilas diartikan sebagai gerakan ingin memisahkan diri dari NKRI. Pembentukan Negara Pasundan pada tahun 1947 itu justru menunjukkan kecerdasan dan prinsip orang-orang Sunda elite saat itu.  Pembentukan Negara Pasundan jangan dianggap sebagai gerakan separatis, ingin memisahkan diri dari NKRI, justru Negara Pasundan dibentuk sebagai sikap politis orang-orang Sunda yang out of the box demi terlepas dari keinginan penjajah saat itu yang masih berambisi berkuasa di tanah air.  Hal itu dikupas dalam diskusi Forum Asia Afrika yang mengulas data empirik hasil penelitian Agus Mulyana, ketua Departemen Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia. Selain Agus, dua narasumber lainnya ya...