Langsung ke konten utama

Agustus 1945 : Belanda Dihadang Berbagai Kesulitan untuk Segera Kembali ke Indonesia

Oleh : Wasono

BERITA-BERITA bahwa fihak Jepang akan menyerah telah tersebar dan membuat kubu fihak Sekutu gembira. Akhirnya perang yang telah membawa korban jutaan manusia itu akan selesai.

Namun di samping kegembiraan, salah satu negara anggota Sekutu, yaitu negeri Belanda, merasa khawatir dan resah memikirkan kesulitan-kesulitan maha besar yang dihadapinya untuk dapat segera kembali ke Hindia Belanda, bekas jajahannya.

Kalau kita simak kembali peristiwa-peristiwa di bulan Agustus 1945 dari sudut kubu Belanda, maka kesulitan-kesulitan yang dihadapi Belanda tersebut, merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada bangsa Indonesia. Dengan sulitnya Belanda untuk segera datang kembali ke Indonesia, maka proklamasi kemerdekaan Indonesia dapat dilakukan dengan segera dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan mendapatkan modal berupa senjata yang akhirnya kelak akan bermuara pada pengakuan kemerdekaan Indonesia di bulan Desember 1949.

Koordinasi sulit

Kesulitan Belanda yang pertama adalah masalah koordinasi pengambilan keputusan-keputusan di tingkat pemerintah, yang antara lain disebabkan oleh masalah jarak dan komunikasi.

Pada waktu itu  3 pusat "komando" pemerintah Belanda yang berkaitan dengan masalah persiapan untuk kembali ke Indonesia.

Di negeri Belanda, Pemerintah Belanda belum lama kembali dari pengasingannya di London, sesudah negeri Belanda dibebaskan dari penjajahan Jerman. Pada tingkat kabinet terdapat Dewan Pelaksana Perang (Raad voor oorlogvoering) yang dipimpin oleh Perdana Menteri (Schermerhorn) dengan anggota-anggota a.l. Menteri Luar Negeri (van Kleffens), Menteri wilayah Seberang Lautan (Logemann), Menteri Peperangan, Menteri Marine, Menteri Keuangan, Menteri Pelayaran, Panglima Angkatan Laut, Kepala Staf Umum Angkatan Perang.

Di Brisbane, Australia, terdapat Pemerintah Hindia Belanda dalam pengasingan di bawah pimpinan Letnan Gubernur Jenderal van Mook lengkap dengan kepala-kepala departemennya a.l. Letjen van Oyen (Kepala Dep. Peperangan), van der Plas (Direktur Pemerintahan Dalam Negeri), Mr. Blom (Dir. Yustisi), Kol. Ir. Warners (Dir. Perhubungan/PU), Smits (Dir. Keuangan), Koenraad (Komandan Marine), Majmun Sumadilaga (Dir. Kesehatan Rakyat). Sudah barang tentu pemerintah ini tidak mempunyai "wilayah" yang diperintah. Di Kandy, Srilangka, terdapat apa yang disebut BSO atau Bevelhebber Strydkrachten in het Oosten (Panglima Angkatan Perang Belanda di daerah Timur) yang dijabat oleh Laksamana Halfrich. BSO ini beserta pasukan dan kapal-kapalnya berada di bawah komando Sekutu yang dipegang oleh Inggris dan Amerika. 

Maka pada saat-saat penting yang menentukan di bulan Agustus 1945 tersebut, Belanda mempunyai Den Haag, Brisbane, dan Kandy sebagai pusat-pusat pemerintahan yang akan menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan penting yang akan menentukan sejarah penjajahan Belanda di Indonesia, begitu Jepang menyerah.

Tetapi jarak ketiga tempat tersebut saling berjauhan, ribuan kilometer. Sedangkan waktu itu komunikasi belum seperti sekarang ini. Komunikasi satelit belum ada, radio-telepon masih sulit. Telex juga belum berkembang. Jadi hanya dengan komunikasi tilgram.

Maka setiap hari mengalirlah tilgram-tilgram antara ketiga tempat tersebut sebagai hasil rapat-rapat yang hampir setiap hari diadakan. Laporan, perkiraan, usul, saran, keputusan, instruksi, pertanyaan, bahkan tilgram pribadi karena adanya pertentangan-pertentangan. Ratusan bahkan ribuan kata bertentangan setiap hari antara ketiga tempat tersebut.

Kita dapat membayangkan betapa sulitnya mencapai kata sepakat karena jarak yang begitu jauh.

Perubahan wewenang

Kesulitan kedua yang dihadapi Belanda adalah perubahan wewenang wilayah perang Indonesia, dari Komando Amerika kepada Komando Inggris. 

Seperti diketahui dalam pertemuan Quebec 1943 antara Presiden Roosevelt dan Perdana Menteri Churchill, telah disepakati pembentukan 2 Komando untuk berperang melawan Jepang, yaitu SWPAC (South West Pacific Asia Command - Komando Pasifik Barat Daya) di bawah Jenderal Mac Arthur dan SEAC (South East Asia Command - Komando Asia Tenggara) di bawah Laksamana Mountbatten. Wilayah Indonesia dimasukkan dalam SWPAC dan hal tersebut disetujui oleh fihak Belanda. Hanya Pulau Sumatra yang masuk daerah komando SEAC.

Van Mook dengan Pemerintah Hindia Belandanya yang berkedudukan di Australia tentu lebih senang dengan SWPAC, selain karena letaknya dekat, juga Amerika mempunyai logistik yang hebat yang dapat dimanfaatkan oleh Belanda. 

Jenderal Mac Arthur pada waktu itu, seperti diketahui menjalankan strategi perang yang dikenal sebagai "loncat katak", yaitu menyerang Jepang, pulau demi pulau mulai dari Guadalcanal, Solomon, Rabaul, Papua Nugini, Irian Jaya, Biak, Morotai, Filipina, dan Okinawa.

Dalam rencana semula, pulau-pulau Indonesia akan diserang juga. Bila ini terjadi maka Belanda tinggal membonceng saja. Pada kenyataannya, tentara Amerika hanya melintasi pinggiran daerah Indonesia saja dan agaknya Mac Arthur ingin lekas sampai ke Jepang.

Menjelang perang berakhir, agaknya Mac Arthur sudah tidak berminat lagi dengan Indonesia dan ternyata bahwa telah terjadi kesepakatan antara Amerika dan Inggris untuk menyerahkan wilayah perang Indonesia dari Komando Amerika SWPAC kepada Komando Inggris SEAC. Persetujuan tersebut tanpa meminta nasihat fihak Belanda dan tampaknya fihak Belanda pun tidak diberi tahu secara resmi. 

Belanda merasa sangat gusar akan hal tersebut, apalagi perang telah mendekati saat-saat terakhir. Hubungan yang sudah dibina oleh Belanda dengan SWPAC dengan susah payah, sekarang harus diganti dengan fihak SEAC.

Berarti Belanda harus merintis jalan baru. Dari pengalaman Belanda berhubungan dengan Inggris, Belanda memperkirakan bahwa keputusan-keputusan akan terjadi sangat lamban dan dari segi logistik dan material, Inggris tidak se"hebat" Amerika.

Namun jalan lain tidak ada dan Belanda terpaksa mendekati Inggris yang memegang Komando SEAC yang juga meliputi wilayah Indonesia.

Menteri-menteri Belanda dan pejabat-pejabat Belanda, baik sipil maupun militer mondar-mandir ke London untuk berunding, rapat dan konsultasi. Jadi selain Brisbane, Kandy, dan Den Haag, sekarang ditambah lagi London yang akan turut serta menentukan nasib jajahan Hindia Belanda. 

Masalah personil dan logistik

Kesulitan ketiga yang dialami Belanda adalah masalah personil dan material/logistik. Karena "cepat"nya Jepang menyerang, maka Belanda belum siap.

Dari Australia, Belanda mempunyai beberapa kompi tentara yang telah ikut tentara Australia masuk Timor dan Kalimantan. Usaha untuk melatih lebih banyak pasukan di Australia, tampaknya tidak lancar karena sikap Pemerintah Australia atau mungkin juga karena masalah dana dan fasilitas.

Di Amerika, Belanda mempunyai pasukan Marinir yang sedang menjalani latihan tetapi belum selesai. Demikian pula di Inggris, ada pasukan-pasukan Belanda yang sedang dilatih untuk dijadikan pasukan ekspedisi, yang dimaksudkan akan dipergunakan untuk melawan Jepang, namun latihan ini diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 1945. Di negeri Belanda sendiri, dengan segera hanya dapat disiapkan 5 batalyon pada tanggal 1 September. Batalyon-batalyon ini pun masih memerlukan perlengkapan tropis dan selain itu belum tersedia kapal untuk mengangkutnya ke Indonesia. Andaikata kapal itu ada, pasukan itu baru sampai di Indonesia pada awal Oktober. Beberapa batalyon lagi dapat ditarik dari tugas pendudukan di Jerman dan dapat diberangkatkan pada bulan-bulan berikutnya.

Belanda masih mempunyai beberapa kapal penumpang yang dipakai untuk angkut pasukan, antara lain kapal Oranye, tetapi kapal-kapal tersebut masuk dalam "pool kapal Sekutu", jadi tidak dapat dipakai sendiri oleh Belanda.

Van Mook dalam kawatnya tanggal 11 Agustus minta kepada Pemerintah Belanda agar segera mengirim marinir, kapal-kapal perang, pasukan-pasukan Belanda (meskipun belum terlatih sekalipun), pegawai negeri, teknisi perkapalan, kapal-kapal transpor besar yang cepat, ahli Indologi, sarjana hukum, tenaga polisi, insinyur elektro, insinyur sipil, dokter, personil, dan tenaga ahli radio/telepon/telegraf, insinyur kereta api, teknisi bengkel, pegawai tinggi pos/bank dan lain-lain.

Komando SEAC sendiri tidak cukup mempunyai pasukan untuk segera menduduki daerah Asia Tenggara yang begitu luas, sehingga minta bantuan Australia untuk menduduki Indonesia bagian Timur. Belanda ingin sekali agar segera masuk ke Indonesia, tetapi pasukan-pasukan Inggris merencanakan masuk ke Semenanjung Malaya dahulu, kemudian ke Singapura dan baru ke Pulau Jawa.

Dengan demikian maka perkiraan masuk ke Jawa adalah pada akhir bulan September atau awal Oktober.

Belanda merasa tidak senang ketika mendengar berita bahwa yang akan masuk ke Indonesia adalah tentara "berwarna" (Tentara India/Pakistan) dan bahkan tentara "hitam" (Tentara Afrika jajahan Inggris). Bila hal itu terjadi maka akan merupakan malapetaka bagi Belanda karena akan hilang kewibawaannya di mata penduduk pribumi Indonesia, demikian pendirian Belanda.

Tetapi apa yang dapat diperbuat oleh Belanda?

Demikianlah, rapat demi rapat, tilgram serta tilgram, pejabat-pejabat yang mondar-mandir, akhirnya menghasilkan perkiraan bahwa tentara pendudukan Sekutu/Inggris baru akan sampai di Pulau Jawa pada akhir bulan September atau awal Oktober 1945.

Sementara itu, begitu berita Jepang menyerah tersebar di Indonesia, para pemimpin serta pemuda-pemuda kita segera bergerak dan berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan selamat.

Disusul kemudian dengan pengangkatan Presiden dan Wakil Presiden, pembentukan kabinet serta Komite Nasional Indonesia serta juga pengesahan UUD 1945.

Satu demi satu kantor-kantor Pemerintah direbut oleh karyawan serta pemuda Indonesia. Dan yang terpenting, senjata juga mulai direbut dari tangan Jepang, yang pada waktu itu masih mempunyai pasukan bersenjata lengkap. Perebutan senjata itu seperti diketahui ada yang berlangsung secara damai, ada yang dengan kekerasan sehingga jatuh korban, ada juga yang tidak berhasil.

Namun secara keseluruhan, ribuan senjata jatuh ke tangan Indonesia, sehingga pejuang-pejuang Indonesia segera dapat membentuk tentara nasional dan badan-badan perjuangan bersenjata.

Dalam jangka waktu antara pertengahan Agustus sampai akhir September tersebut, Republik Indonesia berhasil memperkuat diri secara fisik maupun mengobarkan semangat perjuangan untuk membela tanah air, yang akan merupakan modal raksasa untuk perjuangan selama 4 1/2 tahun berikutnya. Ketidakmampuan Belanda untuk segera datang di Indonesia telah menghasilkan satu kekuatan bersenjata Indonesia dengan ribuan senjata, yang kelak akan merupakan benteng-benteng tangguh dalam perang gerilya membela kemerdekaan.

Waktu 1 1/2 bulan itulah yang akhirnya menentukan bahwa Belanda tidak mampu lagi untuk menaklukkan bangsa Indonesia untuk dijajah kembali.

Sesudah Inggris mendarat di P. Jawa, Belanda memang masih penasaran dan secara terus-menerus memperkuat diri untuk menghancurkan Republik Indonesia.

Ribuan tentaranya dilatih di Inggris, Amerika. Wajib militer diberlakukan di negeri Belanda. Ribuan orang pribumi dilatih untuk dijadikan tentara kolonial.

Untuk mengimbangi Republik Indonesia, satu lawan satu, mereka baru berhasil kira-kira 2 tahun kemudian, yaitu ketika Belanda melancarkan Perang Kolonialnya yang pertama. Pada waktu itu menurut perkiraan Belanda, Republik Indonesia mempunyai kira-kira 360.000 orang pasukan dengan senjata dan daya tempat diperkirakan sepertiga daripadanya. Dan untuk menghadapinya, Belanda mempunyai 113.000 orang pasukan, terdiri dari 70.000 orang tentara KL dan 40.000 orang KNIL. Sudah tentu senjata modern, termasuk panser, tank, bren-carrier, kapal perang, pesawat terbang, dan meriam. 

Ternyata, meskipun 2 kali aksi militer dilakukan, Indonesia tidak bisa ditaklukkan dan akhirnya terjadilah penyelesaian konflik Indonesia-Belanda dengan pengakuan kedaulatan Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949, atau kira-kira 4 tahun 4 bulan setelah 17 Agustus 1945.

Dalam kita memperingati 40 tahun kemerdekaan kita pada tahun 1985 ini, kita memang bisa berkhayal: andaikata Jepang tidak segera menyerah, andaikata van Mook dan Helfrich ada di satu tempat pada waktu itu sehingga koordinasi dapat berjalan dengan baik, andaikata wewenang wilayah perang Indonesia tidak dipindahkan dari Mac Arthur kepada Mountbatten, andaikata Mountbatten mau langsung ke Jawa sesuai keinginan Belanda ....

Yaaa, andaikata ....

Tetapi Tuhan Yang Maha Adil telah menakdirkan, bahwa Indonesia harus merdeka di tahun 1945.

* Penulis adalah Direktur Akademi Maritim "Yos Sudarso" UPN Veteran, Jakarta.
* 1. Officiele Bescheiden Betreffende De Nederlands Indonesische Betrekkingen 1945-1950 (Dr. v.d. Wal).
2. Documenten Betreffende De Eerste Politionele Actie. (Drs. H. L. Zwitser).-



Sumber: Suara Karya, 15 Agustus 1985 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pantulan Historis Perjalanan Bangsa (1/2)

TAUFIK ABDULLAH . Ahli Peneliti Utama PMB-LIPI. Memperoleh gelar Ph.D. dari Cornell University, Ithaca, dengan disertasi berjudul School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1970). Bukunya, antara lain Sejarah Lokal di Indonesia, Islam di Indonesia , dan Trends and Perspective of Social Science in Indonesia  (Ed.). Proklamasi membedakan dengan tajam antara pahlawan dan pengkhianat. Mengapa sejarah mengagung-agungkan seorang tokoh dan seakan-akan membunuh tokoh lain? Betulkah sejarah itu tidak adil? Dari sejarah ke mitos B ARANGKALI benar juga "sejarah" itu tidak adil. Mengapa sejarah mencatat suatu peristiwa atau mengagung-agungkan seorang tokoh, tetapi melupakan peristiwa lain dan seakan-akan "membunuh" tokoh lain? Tapi, kalau dipikir-pikir, bukankah sejarah, sebagai milik masyarakat (bukannya milik para sejarawan yang sibuk membongkar-bongkar hal yang terlupakan), tak lebih daripada ingatan kolektif? Ingatan memang bersifat selektif, dan kadang-ka...

Hari-hari di Bawah Tanah Menjelang Proklamasi (3/3)

Sebagai jawaban, Supeno bertanya, apa yang akan terjadi bila rencana gagal. Subardjo menjawab, "Bila segalanya gagal, saya bertanggung jawab penuh. Bung bahkan boleh menembak saya bila itu sampai terjadi." Baru setelah Subardjo mengatakan hal itu, ia diperkenankan bertemu dengan Soekarno dan Hatta. Subardjo bergegas mengajak mereka berdua ke mobil, lalu mereka tancap ke Jakarta.  Dengan tidak sabar saya menunggu kedatangan Subardjo di tempat kediaman Maeda. Hari sudah pukul 11.00 malam. Dan sangat gelap. Seorang perwira Jepang sedang menebasi pohon wijen dengan samurainya, melampiaskan kekecewaan akibat menyerahnya Jepang. Jepang telah menganjurkan menanam pohon wijen untuk diambil minyaknya, sehingga di Jawa tanaman ini ditemukan di mana-mana. Seorang Kempei berdiri di bawah sebatang pohon menjaga tempat kediaman ini--mungkin menyangka akan terjadi huru-hara. Saya mendengar kemudan bahwa Nakatami Yoshio, penerjemah Angkatan Darat, juga menjaga rumah ini dari samping gedung. ...

JEJAK NASIONALISME DI BOVEN DIGOEL (1) Penjara yang Memerdekakan

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme mencoba menginventarisasi warisan bangsa yang menjadi energi perjuangan yang membebaskan negeri ini. Jejak-jejak itu terserak sepanjang bentangan Nusantara. Setelah laporan jejak nasionalisme di Banda, Maluku, diturunkan bulan lalu, bulan ini "Kompas" menurunkan laporan jejak nasionalisme di Boven Digoel, Papua, yang di masa lalu menurunkan tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa. Dalam catatan historis, nama Boven Digoel tentu tidak asing lagi. Pemerintah Hindia Belanda pernah menjadi Boven Digoel di pedalaman Papua sebagai salah satu tempat pengasingan bagi para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Walaupun teralienasi, mereka tetap menyalakan suluh perjuangan. Oleh KORANO NICOLASH LMS P ada awalnya, menurut Andrianus Moromon, sarjana sejarah Universitas Cenderawasih, Papua, Boven Digoel dijadikan Belanda sebagai tempat tahanan sekaligus pengasingan baru akibat tempat tahanan dan pengasingan lainnya sudah penuh. Salah satu sebabnya, Be...

Menyelusuri Masjid-masjid Tua: Dari Imigran India hingga Cina

M enyelusuri kawasan kota lama di Jakarta, hingga kini banyak ditemui masjid tua yang keberadaannya hampir bersamaan dengan lahirnya kota ini. Salah satu masjid tertua itu terletak di kawasan Glodok yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari tempat penjarahan dan pembakaran bulan Mei lalu. Masjid Al-Anshor yang dibangun pada 1648 itu letaknya di belakang Pasar Pagi, salah satu pusat perdagangan dan pertokoan di Glodok. Agak sedikit terpencil dan terletak di Jalan Pengukiran II, tak jauh dari Jalan Pejagalan. Masjid yang dulunya sedikit berada di luar tembok kota Batavia, didirikan oleh para imigran India dari Malabar. Orang-orang Islam dari India ini dahulunya banyak bermukim di sini. Sebagaimana masjid-masjid tua di DKI, setelah diperbaharui, gaya lamanya telah agak hilang. Dan untungnya tiang-tiang penyangganya masih utuh. Umumnya masjid-masjid tua di Jakarta yang banyak dibangun sesudah masa itu memiliki empat tiang penyangga. Dan hebatnya, tiang penyangga itu sekalipun sudah ber...

Kutai Kartanegara Dipimpin 22 Orang Sultan

K UKAR (Kutai Kartanegara) yang beribukota Tenggarong, Kalimantan Timur (Kaltim) mulai 22 hingga 30 September 2002 akan menggelar Pesta Adat Erau dan Festival Keraton Nusantara (FKN) III, ternyata pernah mempunyai 22 orang Sultan (Raja) yang menjadi pimpinannya. Keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber di Kukar menyebutkan, Sultan pertama yang memimpin Kerajaan Kutai Kartanegara yang sebelumnya mempunyai nama Kutai Martadipura adalah Aji Batara Agung Dewa Sakti pada tahun 1300 M - 1325 M. Menyusul dari tahun 1325 M hingga 1360 M Kutai dipimpin oleh Aji Batara Agung Paduka Nira, tahun 1360 - 1420 naik tahta Aji Maharaja Sultan, kemudian Aji Raja Mandarsyah berkuasa mulai 1420 hingga 1475. Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya naik tahta mulai 1475 hingga 1554, menyusul Aji Raja Mahkota Mulia Alam pada tahun 1545 hingga 1610, setelah itu naik Aji Dilanggar menggantikannya dengan masa kekuasaan sejak 1610 hingga 1635. Pada tahun 1635 sampai 1650, Kutai dipimpin oleh Aji Pangeran Sinum Pan...

Kepiawaiannya Membuat Sunan Kudus Jadi Idola Kaum Muda

S elain dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di daerah pesisir utara Jawa, Sunan Kudus juga merupakan pujangga besar. Kepiawaiannya mengarang cerita-cerita yang sarat filsafat dan jiwa keagamaan, praktis membuat dia menjadi idola kaum muda kala itu. Gending maskumambang  dan mijil  merupakan dua buah ciptaannya yang melegenda hingga kini. Khusus dalam ilmu agama, Sunan Kudus yang bernama asli Ja'far Shodiq ini merupakan sosok paripurna. Dia sangat menguasai ilmu tauhid, ushul fiqh, hadist, tafsir, juga mantiq. Karena itu, di antara sembilan wali, Sunan Kudus dikenal sebagai waliyul ilmi. Sebagai ahli ilmu agama, Sunan Kudus memiliki begitu banyak murid dan kader yang terserak di berbagai pelosok daerah. Karena itu, hampir di setiap kampung di seputar Kudus kini terdapat makam murid Sunan Kudus yang turut berjasa dalam syiar Islam di Jawa pada tahap awal ini. Dalam melakukan syiar Islam, cara yang ditempuh Sunan Kudus sebenarnya tak banyak berbeda dengan wali-wali lain: m...

TRAGEDI HIROSHIMA: Maaf Itu Tidak Pernah Terucapkan ....

Di mata rakyat Jepang, nama Paul Warfield Tibbet Jr menyisakan kenangan pedih. Dialah orang yang meluluhlantakkan Kota Hiroshima dalam sekejap pada 6 Agustus 1945 lalu. Yang lebih pedih lagi, Tibbets, seperti juga pemerintah Amerika Serikat, tidak pernah mau meminta maaf atas perbuatannya itu. Akibat bom atom 'Little Boy' berbobot 9.000 pon (4 ton lebih) yang dijatuhkan dari pesawat pengebom B-29 bernama Enola Gay, 140 ribu warga Hiroshima harus meregang nyawa seketika dan 80 ribu lainnya menyusul kemudian dengan penderitaan luar biasa. Sebuah kejadian yang menjadi catatan tersendiri dalam sejarah perang yang pernah ada di muka bumi. Hingga kini seluruh rakyat Jepang masih menanti kata 'maaf' dari pemerintah AS atas perbuatan mereka 62 tahun silam itu. Paling tidak, Tibbets secara pribadi mau menyampaikan penyesalannya. "Tapi ia tidak pernah meminta maaf. Seperti juga pemerintah AS, ia justru beralasan bom itu telah menyelamatkan jutaan orang Amerika dan Jepa...