Langsung ke konten utama

Kisah-kisah Sekitar Aksi Militer I (1947)

KISAH-kisah di bawah ini aslinya berasal dari pihak Belanda, musuh Republik di masa revolusi 1945-1950. Kecuali kisah-kisah di bawah ini para penulis Belanda juga banyak menampilkan foto dokumenter. Mereka memang memiliki banyak juru potret, sedangkan pihak Republik, akibat isolasi selama Perang Dunia II dan revolusi, tidak selalu mempunyai juru potret di medan perang. Kesadaran akan dokumentasi dan pengelolaannya juga dapat kita lihat dari lebih teraturnya penyimpanan koleksi dokumen Belanda, sehingga setiap diperlukan untuk penulisan mudah dicari kembali oleh para peneliti dan penulis.

Kisah-kisah yang dilaporkan pun tampak diusahakan untuk sejauh mungkin obyektif. Ada humor dan kejenakaan, karena dikisahkan kembali setelah ada jarak-waktu yang cukup dengan saat peristiwa terjadi.

Laporan Wartawan Belanda

Kekacauan di daerah Republik makin bertambah. Dari seberang garis demarkasi, datang berita-berita tentang ketidakamanan. Berbagai kelompok bersenjata saling bertempur. Di dekat Bekasi terjadi benturan antara pengikut Tentara Rakyat Indonesia, dan pengikut Laskar Rakyat. Tembak-menembak jelas terdengar. Suasana teror dan keganasan menjadi pembicaraan umum. Pemerintah Republik mengkhawatirkan campur-tangan pihak Belanda, suatu alasan yang ada dasarnya.

Persiapan-persiapan ke arah itu telah dilakukan dengan cepat. Segera pula TRI telah dikirim ke daerah produksi beras di Karawang, yang merupakan batu ujian tersendiri bagi penduduk. Tentara memerlukan segalanya, harga-harga membubung tinggi, keadaan kesehatan rakyat makin mundur.

Tetapi di bidang kemiliteran terjadi kegiatan-kegiatan yang luar biasa. Di bekas pabrik-pabrik Braat (sekarang Bharata) dengan sepenuh tenaga telah dibuat senjata-senjata sten (sten guns), granat-granat tangan dan peluru-peluru. Sukabumi menjadi daerah pertahanan yang diperkuat. Semua gedung besar, kantor pos dan telegrap, stasiun kereta api, asrama dan pabrik beras telah dipasangi ranjau. Siang malam diadakan penjagaan. Mata-mata Republik yang menyamar sebagai pembantu rumah tangga dan pedagang masuk ke dalam wilayah yang diduduki Belanda. Ketidakamanan makin dirasakan. Sabotase merupakan kejadian sehari-hari. Banyak kendaraan Belanda telah menerjang ranjau. Jalan antara Batavia (Jakarta)-Bekasi telah ditaburi dengan paku-paku. Kawat-kawat tilpon diputuskan.

Sesuatu harus terjadi, kesabaran dan kesetiaan (Tentara Belanda) makin lama dapat luntur. Penghentian tembak-menembak (cease fire) persetujuan Linggarjati menjadi omong kosong. Pelanggaran kedua belah pihak sering terjadi. Tentara (Belanda) hanya terdiam saja. Pada masa itu diperlukan usaha untuk menahan diri dan disiplin dari dalam. Keadaan menjadi makin sulit karena mereka harus berpangku tangan, seolah-olah sebagai penganggur. Tetapi di balik itu semua, disusunlah berbagai rencana. Di markas besar dan markas brigade pertemuan sering diadakan untuk memutuskan apa yang harus diperbuat bila aksi militer menjadi sesuatu yang tidak bisa dielakkan lagi ....

Apa itu "Operasi Produksi"?

Sejak bulan Januari 1946 di markas-markas divisi dan brigade tentara Belanda telah disusun rencana-rencana penyerbuan terhadap Republik. Ada rencana untuk membuat kota Semarang menjadi induk kekuatan tentara Belanda. Selanjutnya dari kota itu, Kota Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia dapat langsung diserbu. Dengan hancurnya pusat pemerintahan Republik, maka kekuatan politik Republik akan hancur pula. Rencana ini nampaknya mudah dan tidak banyak mengandung risiko. (Lihat peta)

Tetapi ada beberapa keberatan terhadap rencana itu, demikian pendapat markas brigade Belanda di Surabaya. Antara lain, pemerintah Belanda dengan mudah dapat dituduh melakukan perang perebutan wilayah (Perang Dunia II baru saja selesai, perang tidak populer lagi), dan bukan sebagai aksi "untuk memulihkan keamanan dan ketertiban". Bagaimanapun aksi-aksi militer Belanda harus dipandang sebagai "aksi kepolisian".

Maka lahirlah pertimbangan untuk menyusun kembali kehidupan ekonomi. Tujuan utama dari aksi militer itu ialah, untuk merebut bagian-bagian pulau Jawa dan Sumatra yang banyak terdapat perkebunan, pabrik-pabrik dan daerah penghasil beras. Sasaran ekonomis menjadi yang utama. Karena itu, rencana aksi militer mendapat nama sandi Operatie Product. Pada bulan Maret 1947 staf divisi dan brigade tentara Belanda di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Padang, dan Palembang diperintahkan untuk merencanakan Operasi Product dengan lebih terperinci. Bulan Mei di mana-mana rencana penyerbuan telah selesai. Awal Juni tentara Belanda di Jawa dan Sumatra telah disiapkan untuk menerima perintah dari "Batavia" ....

Pada minggu terakhir bulan Juli 1947 kedua belah pihak yang berselisih telah memperhitungkan perang akan berkobar dalam beberapa hari lagi. Di bidang diplomasi pemerintah Republik tetap menolak syarat-syarat berat yang dituntut pemerintah Belanda untuk mengadakan suatu aturan peralihan, sehingga tentara Jenderal Spoor telah mendapat perintah untuk melaksanakan "operasi produksi" pada tanggal 30 Juni, tetapi tiba-tiba saja Kabinet Sjahrir memberi konsesi-konsesi lagi. Konsesi yang diberikan kabinet Sjahrir terlalu banyak, sehingga mengakibatkan kejatuhannya dan muncullah Kabinet Amir Sjarifudin. Kabinet baru ini berhasil meyakinkan Presiden Sukarno, bahwa sulit untuk kembali kepada konsesi-konsesi yang telah diberikan Sjahrir. Namun demikian .... Pada tanggal 15 Juli Van Mook memberikan ultimatum atau ancaman lagi: pihak Republik harus mengundurkan tentaranya pada kedudukan 10 km dari garis demarkasi. Jawaban Amir Sjarifudin dianggap tidak jelas dan pada malam 17 menjelang 18 Juli Kabinet Belanda mengambil keputusan: tentara Belanda harus mengadakan aksi!

Perebutan Jembatan Citarum

Setelah menangkap kaum Republik di Jakarta dan menduduki gedung-gedung yang penting dikuasai pemerintah Republik, rencana "operasi produksi" mulai dilaksanakan. Salah satu masalah bagi staf markas besar tentara Belanda di Jakarta ialah, bagaimana dapat merebut jembatan Citarum secara utuh. Diputuskanlah untuk melakukan hal yang tidak lazim, dengan menggunakan alat taktis yang terlalu berani: dengan gerbong kereta api!

Tujuh belas gerbong yang dilindungi karung pasir disiapkan dengan dua lokomotif, satu di depan dan satu di belakang. Di dalamnya berisi serdadu-serdadu infanteri, artileri, pasukan zeni, ahli-ahli penjinak ranjau dan sebagainya. Pagi hari tanggal 21 Juli meluncurlah "senjata rahasia" itu menerobos garis demarkasi antara Bekasi dan Tambun. Pada saat yang sama induk pasukan tentara Belanda menyerbu ke Timur melalui jalan raya yang sejajar dengan jalan kereta api. Ternyata dalam penyerbuan itu tentara Belanda telah mendapat bantuan dari laskar Haji Panji, yang sebelum aksi militer dilancarkan telah menyerang ke pihak Belanda.

Pertempuran hebat di Bekasi dan Tambun menyadarkan pimpinan tentara Belanda, bahwa untuk selanjutnya akan mendapat perlawanan yang sama dari pihak Republik di sepanjang pantai utara Jawa Barat. Kereta api itu sempat pula dihujani peluru mortir dan sesaat sebelum memasuki stasiun Cikarang meledaklah stasiun itu. Tetapi ternyata, rel yang rusak justru rel yang tidak dipergunakan. (Antara Jakarta dan Cikampek sejak dulu dipergunakan rel ganda.)

Pesawat Mustang Belanda menghujani daerah sekitar jembatan Citarum dengan mitralyur, agar tentara Republik tidak dapat mendekati bom-bom ranjau yang telah terpasang. Lebih dari 38 bom ranjau kemudian dapat dijinakkan dan kereta api Belanda itu dapat meluncur di atas jembatan Citarum. Pasukan Republik melakukan usaha terakhir. Mereka mengirimkan satu lokomotif dengan kecepatan penuh menuju Tanjungpura (sebelah Timur jembatan Citarum) dan terjadilah tabrakan dahsyat, namun tak menimbulkan korban manusia. Soalnya, tentara Belanda telah meninggalkan rangkaian gerbong, hanya sebuah gerbong depan dengan meriam rusak hebat.

Pada hari yang sama tentara Belanda yang melalui jalan raya menerobos ke kota Karawang, tetapi dihadang dan mendapat perlawanan keras dari TNI yang mempertahankan pabrik es dengan gigih. Tentara Belanda yang sudah kecapaian mengurungkan maksudnya dan mundur kembali ke Tanjungpura. Kota Karawang dikosongkan TNI setelah melakukan "bumi hangus" dengan membakar gedung-gedung yang penting.

Siapa Haji Panji?

Di atas telah disebutkan seorang Haji Panji yang menjadi kepala laskar di Bekasi. Entah karena apa terjadi sengketa dengan TNI yang dikirim dari Yogya, sehingga ia menyeberang ke pihak tentara Belanda, tepat pada saat aksi militer pertama akan dijalankan.

Dia dan pasukannyalah yang menjadi pelopor di depan tentara Belanda ketika menerobos garis demarkasi. Atas bantuannya pula tentara Belanda dapat cepat mengetahui jalan-jalan yang penuh ranjau dan tempat-tempat kedudukan tentara Republik.

Laskar Haji Panji dikenang oleh pasukan Belanda sebagai bagian yang aneh dari tentara Belanda ....

Apakah dari pihak Republik masih ada yang mengetahui tentang Haji Panji itu?

Pertempuran di tempat bersejarah

Brigade-W tentara Belanda yang keluar dari kota Bandung ke arah Utara maju tidak sesuai dengan rencana. Ia harus menghadapi halangan di lembah Ciater, sebelah Utara Lembang. Di lembah itu pula pasukan KNIL dahulu tidak berhasil menghadang tentara Jepang. Bekas-bekas benteng KNIL masih ada dan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh TNI di bawah Letkol Brotoatmodjo. TNI telah menyiapkan kesiagaan untuk tidak akan mundur hanya karena beberapa peluru saja. Batalion-batalion terbaik dari Brigade-3 Siliwangi menduduki pos di sekitar daerah itu, yang keadaannya juga diketahui oleh markas besar tentara Belanda.

Brigade-W diperkuat dengan bagian artileri istimewa. Meriam-meriam bagian ini harus menyiapkan lapangan yang menguntungkan bagi penyerbuan, yang direncanakan pada jam enam pagi hari, tanggal 21 Juli 1947. Setengah jam sebelumnya, artileri tentara Belanda menghujani daerah sekitar lembah itu dengan peluru-peluru meriam, meter demi meter menyusuri lembah, sehingga keadaan tanah bagaikan sawah yang baru dibajak. Benteng-benteng di situ justru tidak dapat dirusakkan. Tidak nampak adanya patah semangat pada pasukan TNI; ini terbukti ujung tombak tentara Belanda masih harus maju dengan berlindung. Pos-pos mitralyur TNI masih sanggup memuntahkan peluru dan satu demi satu harus direbut. Menjelang senja sebagian pos-pos mitraliur dapat dipatahkan, tetapi seluruh benteng Ciater masih juga belum dapat ditaklukkan.

Pertempuran berlanjut terus di malam hari menjelang tengah malam ujung tombak tentara Belanda berhasil merebut pos mitraliur terakhir. Jalan ke utara nampaknya terbuka. Tetapi ternyata tentara Belanda masih menghadapi kesulitan lain, seluruh jembatan dan tempat penyeberangan lain berhasil dihancurkan oleh TNI pada saat-saat terakhir.

Jalan Melingkar Kolonel Meijer (6)

Melalui Tanjungsari dan Sumedang pasukan Kolonel Meijer dengan susah payah baru mencapai Cirebon pada tanggal 26 Juli. Ia juga mengalami perlawanan yang cukup gigih di Sumedang. Pasukannya pada tanggal 29 Juli 1947 telah dikumpulkan di Slawi (lihat peta) untuk meneruskan penyerbuan menuju pelabuhan Cilacap, di pantai Selatan Jawa Tengah. Tetapi antara Slawi dan Cilacap terdapat rangkaian pegunungan sepanjang 100 km. Lain dari itu di ketinggian Bumiayu terdapat konsentrasi pasukan TNI yang sejak aksi militer pertama meletus ditempatkan di situ.

Masalah yang besar bagi Meijer bukanlah TNI, tetapi bagaimana pasukannya dapat mengatasi medan yang berat. Jam dua siang, setelah dekat Prupuk pasukannya harus memasang jembatan Bailey sepanjang 87 meter. Setelah hal itu selesai, persediaan bagian-bagian jembatan tinggal hanya satu set saja untuk satu jembatan lagi, sedangkan pada saat itu baru sepertiga jalan ke Cilacap yang ditempuh ....

Pasukan penyelidiknya melaporkan bahwa sebelum Kota Bumiayu masih terdapat jembatan-jembatan yang dirusak dan memperhitungkan, pasukan Meijer akan mendapat perlawanan yang gigih. Ia membaca peta-peta dan walaupun ia bisa berjalan kaki menuju Cilacap, tetapi tentu saja ia pun harus memperhitungkan kecapaian yang akan diderita pasukannya. Pasukan diperintahkan berbalik dan mencoba untuk masuk daerah Purwokerto dengan melingkari lereng bagian Timur Gunung Slamet yang tingginya lebih 2.000 meter di atas permukaan laut. Melalui Prupuk, Margasari, Balapulang sampai simpang tiga desa Yomani berbelok ke kanan menuju Kalibakung, Tuwel dan desa-desa yang tidak dikenal oleh satu anggota pun dari pasukannya.

Jalan-jalan kabupaten yang melingkari lereng sebelah Timur Gunung Slamet, meskipun lebih sempit daripada jalan Bumiayu, ternyata masih dapat dilalui oleh iring-iringan tentara Belanda. Tank dan truk harus sangat berhati-hati apabila menyeberangi jembatan kayu, atau praktis menyeberangi suatu lembah sungai yang setengah kering dengan susah payah. Suatu jembatan selebar 50 meter harus dilalui oleh kendaraan dan tank satu per satu dengan goncangan yang membahayakan. Satu hal yang menguntungkan pasukan Meijer ialah, daerah yang dilewatinya itu ternyata tidak masuk rencana TNI atau tidak dalam dugaan bahwa tentara Belanda akan melewati jalan itu menuju Cilacap. Kolonel Meijer pun mengambil keputusan untuk menempuh jalan melingkar tersebut tanpa pengetahuan dan persetujuan markas divisinya. Munculnya naluri kemiliteran yang tepat pada saat keragu-raguan dapat menerobos garis pertahanan Jenderal Gatot Subroto di atas Bumiayu.

Perjalanan yang berat itu akhirnya ada buahnya juga. Pada tanggal 30 Juli 1947 pasukan Meijer telah mencapai Bobotsari dan langsung melaju ke lembah sungai Serayu dan menggelinding terus menuju Purbalingga, Sukareja, dan Purwokerto.

Jenderal Gatot Subroto terlambat mengetahui jalan lingkar Meijer itu. Walaupun pasukan TNI di Cilacap segera diperintahkan menghadang pasukan itu, TNI terlambat sampai di lereng Timur Gunung Slamet. Ketika pasukan Pak Gatot meninggalkan Cilacap, pasukan Meijer telah masuk kota Bobotsari!

Pada saatnya Jenderal Gatot Subroto sempat memerintahkan melalui radio dan kurir bahwa sejak itu satuan-satuan TNI harus menjadi satuan-satuan gerilya.

Cilacap akhirnya dapat direbut setelah perlawanan yang cukup gigih. Kota yang menurut rencana semula akan didarati marinir Belanda terpaksa direbut melalui darat. Jembatan anak-sungai Serayu sempat dihancurkan TNI dan ketika tentara Belanda masuk kota tanggal 2 Agustus, segenap instalasi pelabuhan, gudang-gudang tempat pertokoan telah dibumihanguskan pasukan Letkol Abimanyu.

Pada saat itu telah tercapai persetujuan diplomatik, atas tekanan PBB, agar pada tanggal 24 Agustus jam 24.00 perintah penghentian tembak-menembak harus telah diberikan kedua belah pihak ....

Jalan Kematian

"Garis Van Mook" yang ditentukan Van Mook sendiri tidak dapat menghentikan kegiatan pasukan-pasukan TNI dan pasukan perjuangan di "daerah-daerah kantong". Aksi-aksi pembersihan tentara Belanda tidak sepenuhnya berhasil. Pos-pos Belanda terlalu tipis tersebar di tengah wilayah pegunungan dan desa-desa yang luas. Hanya dengan patroli terus-menerus kadang-kadang suatu wilayah dapat diamankan, tetapi tidak lama kemudian, berita-berita dari komandan-komandan batalion selalu menyebutkan bahwa anak buahnya makin lama makin lemah fisik dan mentalnya.

Kelesuan mental pasukan Belanda itu adalah akibat berhasilnya TNI yang gigih, tetap aktif dan sulit ditangkap .... Pada bulan-bulan terakhir pasukan-pasukan gerilya telah terorganisasi dalam komando dan sub-komando setempat, yang sesuai dengan buku pelajaran ilmu perang Jerman disebut "Wehrkreise" dan "sub-Wehrkreise". Jalan-jalan penghubung tentara Belanda selalu menjadi incaran pasukan gerilya, konvoi-konvoi Belanda dihadang berkali-kali, sehingga beberapa jalan penghubung dijuluki "dodenweg"--jalan kematian bagi tentara Belanda. Jalan antara Cirebon dan Ciamis (lihat peta) berbulan-bulan dikuasai pasukan Republik.

Bagian Utara jalan itu, antara Kuningan dan Cikijing, adalah daerah aksi sebuah kompi ALRI yang tiap hari menghadang tentara Belanda, paling sedikit dengan pemasangan ranjau-ranjau. Pada tanggal 28 Desember 1947 pasukan marinir itu dengan kuat menyerang konvoi pasukan zeni Belanda, yang menimbulkan korban empat orang mati dan sepuluh luka-luka di pihak Belanda. Tiga minggu sebelumnya, di bagian jalan itu jatuh korban komandan batalion yang ditempatkan di Tasikmalaya, Letkol Boers tertembak mati. Pernah terjadi konvoi zeni dan artileri Belanda, yang pada tanggal 18 November 1947, berangkat dari Tasikmalaya begitu diganggu, sehingga memerlukan waktu dua hari untuk mencapai Kuningan, yang hanya berjarak 70 km.

Jalan kematian itu memang dikuasai, kecuali oleh pasukan ALRI, juga oleh pasukan-pasukan Hizbullah dan TNI. Di dalam publikasi Belanda "De Politioneele Acties--De Strijd om 'Indië' 1945-1949 (Aksi-aksi Kepolisian--Perjuangan di 'Hindia'), terbitan 1979, banyak kisah sekitar jalan kematian di berbagai tempat lain di Jawa dan Sumatra, baik pada masa aksi militer I dan maupun aksi militer ke-II, yang diuraikan dengan cukup obyektif. Seperti disebut di awal uraian ini, distansi waktu dan penggunaan sumber otentik berupa laporan dan catatan harian menghasilkan sebuah karya yang "mendekati kebenaran" dan tidak berat sebelah ....

Perjuangan bersenjata dan diplomasi memang merupakan dua sisi yang tajam dari ujung tombak perlawanan mempertahankan kemerdekaan; bukan saja hasil dari golongan militer dan politik, tetapi dukungan rakyat setempat pun sangat menentukan keberhasilan perjuangan.***

(Abdurrachman Surjomihardjo)



Sumber: Tidak diketahui, 15 Agustus 1985



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Soetomo: Himpun Persatuan dan Kesatuan Berdasarkan Irama Gamelan

"Tujuh puluh delapan tahun yang lalu, 20 Mei 1908, Dokter Soetomo telah membuat percikan api kebangkitan nasional di Gedung Stovia. Dan sampai kini nyalanya tetap memberi jiwa dan semangat untuk mengisi cita-cita kebangkitan nasional!" begitu antara lain sambutan Menteri Penerangan H. Harmoko, ketika meresmikan monumen Dokter Soetomo di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur. Monumen itu diresmikan pada tanggal 6 Mei yang lalu, di atas tanah seluas 1,75 hektar. Memang sepantasnya dibuat monumen agung untuk mengenang jasa-jasa beliau sebagai salah seorang pendiri Boedi Oetomo . Suatu wadah yang merupakan organisasi modern pertama lahir di Indonesia, bertujuan untuk memajukan pengajaran dan kebudayaan bangsa Indonesia. Sejak adanya Boedi Oetomo  bangsa kita bangkit, untuk membebaskan diri dari penjajah. Itulah yang membuat Soetomo pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA. Tapi dia tidak gentar. Soetomo dan kawan-kawannya terus melebarkan sayap Boedi Oetomo demi kemajuan bangsa Ind...

Pendidikan Itu untuk Rakyat ....

Oleh: INDIRA PERMANASARI S ekitar 70 tahun lalu, tepatnya 1927, seorang anggota Volksraad (dewan perwakilan rakyat buatan Belanda dalam rangka politik etis) Meyer Ranneft, berpidato tentang pendidikan di Hindia Belanda. " ... Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun lebih cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, mempunyai dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini adalah suatu masyarakat yang mempunyai pertentangan-pertentangan yang tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin. Bilamana meneliti sistem pendidikan, kita melihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan kita turut mempertajam kontras sosial ekonomi, sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? ...." Cuplikan pidato itu dibacakan Dr Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang dalam forum diskusi 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah di Bandung pekan lalu. Menurut Mestika, pada masanya Ranneft me...

JEJAK NASIONALISME DI BOVEN DIGOEL (1) Penjara yang Memerdekakan

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme mencoba menginventarisasi warisan bangsa yang menjadi energi perjuangan yang membebaskan negeri ini. Jejak-jejak itu terserak sepanjang bentangan Nusantara. Setelah laporan jejak nasionalisme di Banda, Maluku, diturunkan bulan lalu, bulan ini "Kompas" menurunkan laporan jejak nasionalisme di Boven Digoel, Papua, yang di masa lalu menurunkan tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa. Dalam catatan historis, nama Boven Digoel tentu tidak asing lagi. Pemerintah Hindia Belanda pernah menjadi Boven Digoel di pedalaman Papua sebagai salah satu tempat pengasingan bagi para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Walaupun teralienasi, mereka tetap menyalakan suluh perjuangan. Oleh KORANO NICOLASH LMS P ada awalnya, menurut Andrianus Moromon, sarjana sejarah Universitas Cenderawasih, Papua, Boven Digoel dijadikan Belanda sebagai tempat tahanan sekaligus pengasingan baru akibat tempat tahanan dan pengasingan lainnya sudah penuh. Salah satu sebabnya, Be...

Arti Bhinneka Tunggal Ika

Arti kata per kata dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sering disalahartikan, termasuk oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpendidikan tinggi. Kesalahan terakhir dilakukan oleh Bung Harry Roesli dalam artikelnya berjudul: Kaus Partai dan Baju Besi (Kompas , 15/5/99). Walaupun isi artikel enak dibaca, namun mengandung kesalahan fatal menyangkut semboyan di atas. Di artikel tersebut Bung Harry menulis bahwa saat ini Bhinneka Tunggal Ika telah dipelesetkan menjadi Bhinneka tidak Ika, atau Bhinneka susah Ika, atau juga Bhinneka lawan Ika. Jelas di sini Bung Harry berpikir, bahwa kata Ika-lah yang mengandung arti bersatu/satu. Kesalahan serupa juga telah banyak dilakukan oleh kaum terdidik di negeri ini. Padahal dalam semboyan ini, arti kata satu (atau bersatu) dikandung dalam kata tunggal. Sedangkan kata Ika, kalau saya tidak keliru, artinya kira-kira adalah atau begitu adanya. Secara lengkap artinya adalah berbeda-beda (Bhinneka), namun satu (Tunggal) adanya (Ika). Kemungkinan ...

Manusia Pincang dari Pacitan

Fosil manusia Punung dan sejumlah peralatannya telah selesai diteliti. Ada kesinambungan kehidupan sejak zaman pletosin di sana. D IA ditemukan dalam keadaan utuh dari ujung kepala sampai kaki. Terkubur dalam sebuah gua di daerah Punung, Pacitan, Jawa Timur, tangan kirinya mencengkeram tengkorak monyet. Ada lubang yang cukup besar di gigi bawah bagian kirinya, tembus sampai ke gusi. Ini pertanda bahwa manusia gua itu, yang hidup sekitar 9.000 tahun lalu, pernah mengalami sakit gigi yang parah. Fosil "manusia Punung" ini diperbincangkan lagi di kalangan arkeolog setelah Francois Semah membeberkan temuan ini pada pertemuan ilmiah arkeologi di Kediri, akhir Juli silam. Bersama kawan-kawannya, arkeolog dari Prancis ini baru saja selesai mengurai fosil yang ditemukan pada 1997 ini. Hasilnya cukup memuaskan. Apalagi bersamaan dengan manusia Punung, ditemukan juga sejumlah peralatan yang menggambarkan berbagai era kehidupan manusia. "Ini temuan luar biasa," ujar Semah, ilm...

Kami

Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas?  (Bung Karno, 1 Juni 1945) S EBUAH negara tak pernah didirikan di atas kecerdasan. Uni Soviet, sebuah percobaan pertama untuk menerapkan "sosialisme ilmiah", dimulai dengan sebuah pemerintahan yang bekerja di atas 170 juta petani, yang, seperti kata Bung Karno, umumnya buta huruf. Begitu juga Amerika Serikat. Thomas Jefferson dan para pendiri republik itu memang pintar, dan negara yang mereka rancang berdasarkan ide-ide filsafat yang mutakhir, tapi ada benarnya kalimat lucu penulis Inggris Malcolm Bradbury: "Sejarah Amerika seluruhnya adalah cerita tentang orang yang membenci ayah mereka dan mencoba membakar tiap hal yang dilakukan ayah itu." Sebuah kemerdekaan lahir lebih karena kemarahan, bukan karena kedahsyatan pikiran. Perasaan dizalimi, perasaan tertindas, bukan datang dari otak, tapi dari seluruh pengalaman, termasuk tubuh yang tertekan. Itu juga yang dapat dikatakan tentang Indonesi...

Karena Kasih Sepanjang Jalan

Betawi mempertemukan Mohammad Hatta dengan Mak Etek Ayub Rais, anak sahabat kakeknya. Saudagar perantau Minang ini mengabaikan rasa takutnya sendiri untuk Hatta. T AHUN baru 1908. Mohammad Hatta datang dari sekolah dengan menimang sebuah kapal-kapalan dari kaleng bekas--hadiah tahun baru dari Sinterklas di sekolahnya. Sepulang sekolah, ia mengajak sahabatnya, Rasjid Manggis, melayarkan kapal kecil itu di tebat kecil sembari menunggu jam mengaji di surau Inyiak Djambek tiba. Di hari yang lain, waktu lowong Hatta diisi dengan menyepak bola rotan. Kapal-kapalan dan bola rotan adalah mainan yang membuat Hatta begitu riang di masa kecil. Selebihnya, hari-hari Hatta adalah belajar. Sejak berumur lima tahun, siang hari ia belajar di Sekolah Melayu Paripat dan les bahasa Belanda pada Tuan Ledeboer di waktu petang. Alhasil, Hatta tak menemukan kesulitan ketika ia akhirnya bersekolah di Europeesche Lagere School, sekolah dasar khusus untuk anak-anak Belanda, di Bukit Tinggi. Orang-orang tua di B...