Langsung ke konten utama

Provinsi Pasundan

Rio F Wilantara
Kandidat Doktor di University of Malaya, Kuala Lumpur

SUATU kebetulan yang membanggakan ikut dalam pertemuan tentang pergantian nama provinsi Jawa Barat, antara tim penggagas yang dikomandoi Adjie Esa Putra dengan Menpan R&B, Yudi Crisnandhi, beberapa hari lalu di Jakarta. Kebetulan, karena sebelumnya tidak begitu jelas usulan yang dibicarakan. Namun, akhirnya hal itu menjadi hal yang membanggakan. Kebanggaan itu antara lain karena pertama, paparan tim yang menjelaskan latar belakang kajian yang didasari keprihatinan tentang hilangnya jati diri masyarakat Sunda dalam mengembangkan masyarakat dan wilayahnya. Artinya, partisipasi masyarakat sudah mulai tumbuh, ini penting untuk membangun masyarakat sipil yang kuat. Kedua, kehadiran banyak media yang meliput dalam pertemuan itu serta antusiasme media massa nasional mengapresiasi ide ini.

Isu perubahan nama provinsi di tatar Sunda ini tampaknya akan menjadi berita yang seksi dan mengundang perhatian publik secara meluas. Ketiga, respons menteri yang notabene asal Jawa Barat amat bijak dan memahami aspirasi yang berkembang, akhirnya beliau menyatakan mendukung usulan itu. Ini cukup mengejutkan karena konon lazimnya bila orang Sunda menjadi pejabat di tingkat nasional akan berkurang kehirauannya kepada daerah. Untuk hal yang ketiga, bukan hanya membanggakan respons menteri ini, tetapi juga sekaligus menjawab kekhawatiran sementara pihak yang beranggapan masyarakat Cirebon akan menolak mentah-mentah usulan ini. Karena bila ditelusuri, Pak Menteri ini sebenarnya memiliki kaitan budaya yang kuat dengan masyarakat Cirebon.

Pasundan berasal dari kata Pa-sunda-an yang mengandung makna tempat tinggalnya orang Sunda. Oleh karena itu, bila diruntut jauh ke belakang, literatur yang membahas sundaland kurang lebih 2.500 tahun yang lalu atau kemudian masa Kerajaan Sunda yang pernah ada antara tahun 932 dan 1.579 Masehi. Kawasan ini memiliki karisma dan sistem nilai yang maju di zamannya. Akan tetapi, beberapa kalangan belakangan ini merasa kecewa dengan keadaan yang dihadapi masyarakat maupun wilayahnya. Hal ini diduga disebabkan oleh hilangnya sebagian jati diri akibat tergerus oleh keadaan. Terungkap dalam diskusi tersebut, wacana perubahan nama provinsi ini bukan baru sekarang, tahun 1925 pun Paguyuban Pasundan sudah menggagasnya. Namun, pemerintah kolonial saat itu bersikukuh nama yang tepat untuk kawasan orang Sunda ini, sebagaimana Bestuurshervormingwet tahun 1922, yakni Jawa Barat. Yang kemudian setelah kemerdekaan diperkuat melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 1950 dengan Bandung sebagai ibu kotanya.

Luar biasa dukungan yang muncul melalui media sosial setelah pertemuan itu. Ada aroma pembenaran atas ide perubahan nama provinsi ini, tetapi ada juga yang apriori, skeptis, dan masa bodoh. Apa pun responsnya, harus ditanggapi secara positif serta dihargai sebagai bagian dari dinamika masyarakat cerdas. Hal mana terungkap dari salah seorang peserta yang hadir dalam pertemuan itu yang mengajak semua pihak termasuk pemerintah agar senantiasa menghormati atas aspirasi masyarakat tanpa didahului syak wasangka. Apalagi ada indikasi, beberapa daerah yang berganti nama dengan nama baru yang kental dengan budaya, seperti Nanggroe Aceh Darulsalam, Papua, Banten, dan Makassar; menunjukkan kinerja pembangunannya meningkat. Dan yang lebih penting karakter lokal beserta simbol-simbolnya boleh jadi bisa menjadi sumber inspirasi positif bagi masyarakatnya untuk membangun daerahnya. Bukti yang terbantahkan, di beberapa daerah yang mencanangkan peduli budaya seperti rebo nyunda dengan baik, terindikasi berdampak pada meningkatnya gairah warganya untuk lebih mencintai kawasannya.

Malaysia saat ini merasa perlu mengembangkan budaya lokal mereka, yakni melayu karena diyakini di tengah kemajuan ekonomi yang dijalaninya mereka butuh pijakan yang kokoh bersumber dari kekuatannya sendiri. Sebenarnya Bung Karno dengan Trisaktinya yang kemudian saat ini ditegaskan kembali oleh Jokowi dalam Nawacitanya, menempatkan kepribadian bangsa sebagai dasar dalam membangun karakter bangsa. Kebangkitan ekonomi Jepang, Korea, dan Tiongkok, demikian pula India, berbanding lurus dengan kebangkitan budaya bangsanya. Maka, jangan cepat menilai bahwa dengan identitas kesukuan dan budaya, menjadi simbol kegagalan kita untuk memulai kebangkitan.

Beberapa futurolog telah meramalkan akan adanya kebangkitan tribalisme atau sikap yang mengunggulkan suku atau kelompok sendiri. Mereka beranggapan itu sesuatu yang wajar dan biasa-biasa saja. Karena dianggap universalisme dan berpikir kesejagatan tidak bisa sepenuhnya memenuhi harapan mereka. Justru pada akhirnya kelompok universalisme mendukung tribalisme, demikian ramalannya. Namun, untuk kasus Jawa Barat, tribalisme itu akan mengalami proses yang tidak mudah setelah sekian lama akulturisasi multietnis berjalan sangat masif, seiring dengan tingginya pertumbuhan angka pendatang mendekati pusat pertumbuhan nasional, Jakarta. Dengan demikian, tugas tim penggagas tidaklah mudah, membutuhkan langkah taktis dan kesabaran yang luar biasa. Memelihara komunikasi yang intensif dan efektif perlu dilakukan dengan para pemangku kepentingan serta menjauhi potensi konflik yang tidak perlu. Ada baiknya disusun konsep yang kuat dengan rencana strategi yang matang, perubahan nama provinsi pada tahap pertama harus diposisikan sebagai akibat, bukan sebab. Tugas kesejarahan ini bukan hanya milik tim penggagas, tetapi juga tugas bersama. Saat kita merdeka sepakat untuk menggunakan nama "Indonesia" bukan "Hindia Belanda" sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Kerajaan Belanda Tahun 1814 karena alasan nasionalisme. Akan tetapi, mengapa kita menjadi begitu fanatik mempertahankan nama kawasan ini sebagaimana diatur Bestuurshervormingwet tahun 1922? Padahal, sebelum tahun 1925, nama kawasan ini bernama Soendalanden (Tanah Sunda) atau Pasundan, wallahu'alam. ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 7 Agustus 2015



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjaga Persatuan Lewat Bahasa

Sekitar 90 tahun lalu, Kongres Pemuda II menyepakati bahasa Indonesia jadi bahasa persatuan. Kesepakatan itu kini terasa masih hangat di tengah munculnya gejala pemakaian bahasa atau ungkapan tertentu untuk menunjukkan perbedaan. B angunan dengan enam pilar di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, itu masih kokoh berdiri. Bangunan berusia lebih dari dua abad yang kini menjadi kantor PT Kimia Farma itu merupakan bagian dari saksi perjuangan para pemuda di awal abad ke-20 untuk mewujudkan kemerdekaan di wilayah yang saat itu disebut Hindia Belanda. Di gedung yang dulu bernama De Ster in het Oosten atau Bintang Timur itu, Mohammad Yamin, dalam Kongres Kerapatan Pemuda atau Kongres Pemuda I, 30 April 1926, menyatakan perlunya memakai bahasa yang sama untuk berkomunikasi di wilayah Nusantara yang beragam. Ia lalu mengusulkan bahasa yang dipakai itu adalah bahasa Melayu. TD Asmadi di harian Kompas  21 Juli 2006 menulis, beberapa bulan sebelum kongres itu digelar, wartawan sekaligus tim perumu...

Peran Sarekat Islam Tak Bisa Diabaikan

Kontroversi yang mempertanyakan tonggak Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 seharusnya tidak perlu dilakukan secara berlarut-larut hingga menghabiskan banyak energi. Dialog yang menggugat persoalan itu sebaiknya dilakukan sebagai upaya untuk melangkah maju ke depan demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Hal itu dikatakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dalam Dialog Peradaban Centre for Information and Development Studies di Jakarta, Kamis (22/5). "Budi Utomo memang organisasi modern yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Namun, peranan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam tidak dapat diabaikan," katanya. Budi Utomo dan Sarekat Islam sama-sama memiliki andil besar dalam menciptakan Indonesia merdeka. Sebagian kalangan menganggap tonggak Kebangkitan Nasional ada pada 16 Oktober 1905 saat terbentuknya Sarekat Dagang Islam, bukan pada hari kelahiran Budi Utomo, 20 Mei 1908. (MZW) Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

Resensi Buku: Prahara Parijs van Java

Judul : Westerling, Kudeta yang Gagal Pengarang : Petrik Matanasi Penerbit : Media Presindo, Jogjakarta Cetakan : Juli 2007 Tebal : 126 halaman SEHARI sebelum kudeta, pada pagi 22 Januari 1950, Westerling bercakap-cakap sambil minum-minum di Hotel Preanger, Bandung, dengan kenalannya. Malam hari, ia bersama istrinya makan malam di hotel itu juga. Hari itu, Parijs van Java tenang, tak seorang pun menduga bakal terjadi prahara. P ADA pukul 21.00, Westerling mengendarai mobil menuju Padalarang. Di sana, ia menunggu kiriman senjata yang akan dibagikan kepada anak buahnya. Sesuai rencana, pagi hari 23 Januari 1950, ia akan menyerang dua kota penting di Jawa, Bandung dan Jakarta. Strategi ini disesuaikan dengan geopolitik Bandung. Bandung adalah penyangga Jakarta, sekaligus Ibu Kota Negara Pasundan yang dipimpin Kartalegawa, sedangkan Jakarta adalah jantung kekuasaan Indonesia. Subuh 23 Januari 1950, sebanyak 800 Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)--300 orang di antaranya merupakan tentar...

Sang Cipta Rasa, Mesjid dengan Sejarah yang Panjang

* Tempat Syekh Siti Jenar Dihukum Mati Jika kita mendengar kata Cirebon, mungkin ingatan kita tertuju kepada kota udang, sebagaimana julukan kota ini. Namun dalam kenyataannya lebih dari itu. Cirebon tidak hanya terkenal sebagai kota penghasil lauk dari udang, tetapi juga terkenal sebagai kota yang memiliki berbagai peninggalan purbakala seperti mesjid, kraton, dan kompleks makam. Sebagai bekas kerajaan yang bercorak Islam, peranan Cirebon dalam sejarah kuno Indonesia, khususnya sejarah Jawa Barat, tidak dapat dikatakan kecil. Hal ini antara lain ditandai dengan sejumlah bangunan purbakala seperti di atas dan hasil-hasil kesusastraan kuno. Jaman keemasan dan kemakmuran Cirebon, rupanya dialami pada masa pemerintahan Syarif Hidayatillah (Sunan Gunung Jati) pada tahun 1479-1568. Pada masa ini Syarif Hidayatillah menjabat sebagai susuhunan agama dan kepala negara. Salah satu bangunan purbakala yang berasal dari masanya adalah Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Mesjid Agung: Menurut Sejarah dan...

Langgar Bubrah, Sebuah Akulturasi Hindu-Islam

Furqon Ulya Himawan   Tak hanya Menara Kudus. Ada bukti lain akulturasi budaya Hindu dan Islam di Kudus, dan lebih dahulu berdiri. L ANGGAR Bubrah namanya. Langgar adalah sebuah tempat ibadah umat Islam seperti masjid, tetapi bangunannya lebih kecil sehingga orang Jawa menyebutnya langgar. Mirip dengan Menara Kudus, bangunannya terdiri dari tumpukan batu bata merah yang tertata. Namun, karena tidak utuh atau hancur, sehingga dinamakan bubrah atau hancur. Langgar tersebut terletak di desa dan di tengah-tengah rumah warga. Tepatnya di Dusun Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 8,74x8,40 meter itu memiliki panjang 6,30 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 2,75 meter. Adapun luas bangunannya sekitar 37,80 m2. Pada abad ke-15 Masehi, tepatnya 1546, sebelum Menara Kudus berdiri, para ulama di Kudus terlebih dahulu membangun sebuah bangunan yang difungsikan sebagai masjid. Menurut Zaimul Azzah, arkeolog Islam dari Ba...

Akhirnya P. Jawa Jatuh ke Tangan Jepang

Oleh HARYADI SUADI DALAM peperangan di Laut Jawa yang meletus pada tanggal 27 Februari 1942, pihak angkatan laut Nippon telah berhasil menenggelamkan sebagian besar kapal milik Sekutu. Hanya dalam waktu sehari semalam, kapal Exeter, Kortenaer, Encounteur , dan Java  telah mereka kirim ke dasar laut Jawa. Dan setelah De Ruyter  bersama Laksamana Karel Doorman ditenggelamkan pada pukul 23.15 waktu Jawa pada tanggal tersebut, yang tersisa cuma Houston dan Perth . Kedua kapal tersebut memang merupakan kapal terakhir yang dimiliki Sekutu pada saat itu. Sebab di seluruh kawasan Lautan Pasifik, dari mulai Pulau Kuril sampai Semenanjung Malaya, dari ujung Kepulauan Midway hingga pantai Cina, tak satu pun kapal Sekutu yang mampu mengambang di atas laut. Seperti telah dikisahkan dalam tulisan yang lalu, bahwa kedua kapal ini telah melarikan diri menuju Surabaya. Namun di tengah jalan kedua komandannya merasa bingung, ke mana mereka harus istirahat untuk memperbaiki kerusakan dan ...

Semangat Pembauran "Jong Kos"

Hakikat suatu bangsa ada dalam keinginan untuk hidup bersama. Bagi bangsa Indonesia, benih keinginan untuk bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu ikut disemai lewat hidup bersama para penggagas Sumpah Pemuda yang menghuni rumah pemondokan yang kini beralamat di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. S enda gurau terdengar dari rumah indekos di Jalan Kramat 106, Weltevreden, Batavia, pada suatu hari menjelang tahun 1928. Mahasiswa penghuni pemondokan milik Sie Kong Liong itu tak sedang membicarakan revolusi di belahan dunia lain atau pemikiran Mahatma Gandhi dan John Stuart Mill. Mereka melepas penat, berseloroh tentang masakan khas daerah masing-masing. "Sementara ini, enaknya gini aje dulu , Sup!" kata Adnan Kapau Gani, yang lebih sering disingkat AK Gani, pemuda asal Sumatera, kepada Jusupadi Danuhadiningrat, pemuda asli Yogyakarta.  Dari semua "jong kos" alias pemuda penghuni kos Kramat Raya 106 atau Indonesisch Clubgebouw (IC), yang masing-masing di kemud...