Langsung ke konten utama

Bandung Persinggahan Kaum Pejuang

Oleh HARYOTO KUNTO

Kota adalah seorang ibu, dari rahim siapa
lahir dirimu yang kedua
Sekali kau pernah mengembara di sana, 
bagai urat di tapak-tangan
kau hafal silangan segala gangnya
Sekali kau bersatu dengan suka-dukanya, dan dia
selamanya akan hidup di darahmu.

Saini KM
"Kota Suci" 1968.

DARI beberapa hasil survai dan penelitian kependudukan di Kotamadya Bandung, sejak tahun 1971 sampai tahun 1990, ternyata jumlah penduduk asli Kota Bandung (Sunda: "pituin urang Bandung asli"), makin menyusut dari 22% turun hingga 17% dari seluruh warga kota yang sekitar dua juta jiwa ini.

Adapun yang dimaksud dengan pituin urang Bandung asli adalah, warga kota yang turun temurun dari generasi ke generasi--lahir, tinggal dan dibesarkan di Kota Bandung. Sedangkan warga kota selebihnya, umumnya tergolong kaum pendatang dari luar kota maupun luar daerah Jawa Barat, dari seluruh pelosok tanah air.

Berbicara tentang asal muasal warga kota yang "asli" dan "tidak asli", hal itu erat sekali hubungannya dengan masalah keterpautan manusia dengan tanah kelahirannya. Yang pada gilirannya, akan sangat berpengaruh kepada dedikasi dan sumbang karya bagi kota kelahirannya.

Kita tidak bisa menyangkal, bahwa keberhasilan pembangunan Kota Jakarta Raya di tahun 1970-an, erat sekali dengan suksesnya pengelola kota kala itu, yakni Gubernur Ali Sadikin, menanamkan rasa sense of belonging (rasa memiliki) di kalangan warga kota yang berasal dari berbagai daerah, untuk mencintai dan ikut berpartisipasi membangun Ibukota Negara.

Sebaliknya, sementara ini, sense of belonging warga masyarakat Bandung terhadap kota kediamannya terasa masih kurang memadai. Maklumlah, sebagian besar warga kota yang kaum pendatang itu, hampir tidak memiliki pautan historis emosional dengan Kota Bandung. Adapun yang dimiliki cuma sekadar rasa nostalgia belaka. Seperti kawan-kawan kuliah penulis dulu di ITB, yang mencintai Kota Bandung, karena kebetulan mengawani anak kost-baas (induk semang) yang mojang Priangan.

Tipisnya pautan historis emosional terhadap Kota Bandung dari mereka yang sekali tempo pernah sekolah, berjuang atau bekerja di kota ini, terungkap dari kasus berikut ini.

Sebagai wadah dari anggota mantan Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi, yang aktif bertempur di Palagan Bandung Raya tahun 1945 dulu, ternyata upaya "Yayasan Prakarsa Taruna" untuk mengumpulkan kisah perjuangan pribadi para anggotanya selama peristiwa "Bandung Lautan Api" berlangsung (24 Maret 1946), ternyata banyak mengalami kendala. Malah boleh dikata menghadapi kegagalan.

Hal itu terjadi karena beberapa hal. Antara lain masalah kesulitan komunikasi dengan para pelaku "Bandung Lautan Api" yang tersebar di seluruh tanah air. Kemudian juga, kegemaran tulis menulis dan catat mencatat belumlah membudaya di kalangan bangsa Indonesia. Dan yang paling repot lagi adalah, bahwa momen kejadian "Bandung Lautan Api" telah jauh dipisahkan waktu. Sehingga susah untuk mengingat-ingat peristiwanya.

Peristiwa serupa terjadi pula tatkala tercetus ide untuk mengumpulkan "Kisah Perjuangan Keluarga Ganeca 10 Bandung Tahun 1940-1950". Ternyata, para alumni Ganeca 10 yang umumnya sukses menjadi pemimpin pada lembaga pemerintahan, perusahaan swasta atau mejadi tokoh masyarakat itu, lebih sulit lagi digerakkan untuk menulis. Kendalanya yaitu tadi, sebagai Boss, beliau-beliau itu tidak biasa menulis laporan. Mungkin kisah perjuangan beliau itu harus disusun oleh bawahannya.

Kegagalan menyusun buku sejarah lainnya, menimpa pula kisah perjuangan Angkatan 66 di Kota Bandung. Menurut penuturan AS, wartawan senior Bandung yang kini ngungsi ke Jakarta, pada awal tahun 1980-an yang lalu pernah diadakan pertemuan di rumah seorang tokoh Angkatan 66 Bandung, yang kini telah menjadi konglomerat di Jakarta. Dalam pertemuan yang tanpa hidangan teh pahit sekalipun itu, niat untuk menyusun Buku Kenangan Perjuangan Angkatan 66 di Kota Bandung, kluron tak jadi dilaksanakan. Cuma gara-gara beberapa orang "musuh" di Bandung pada tahun 1966 yang lalu itu, kini ada yang duduk pada posisi strategis di pemerintahan. Dan yang lebih menyedihkan lagi, menurut penuturan AS, ternyata tokoh perjuangan Angkatan 66 di Bandung yang kini telah kaya itu, emoh keluar dana untuk ikut membiayai proyek penulisan sejarah perlawanan anak muda Bandung menumbangkan rezim Orde Lama.

Sejarah sementara ini telah membuktikan, bahwa ide-ide besar banyak lahir di Kota Bandung, namun kemudian tak ada secuir arsip yang merekam peristiwa itu. Sehingga kelak dapat dibayangkan, bahwa generasi penerus akan kehilangan semangat, kesinambungan sejarah perjuangan dengan generasi pendahulunya. Atau dalam bahasa Sunda, generasi penerus itu bakal--pareumeun obor! Sehingga menurut sejarawan Alan Earl (1971), kisah nyata sejarah kemudian bisa berubah menjadi dongeng--Far far away, long long ago. Alias remang-remang tidak jelas alang ujurnya (Haryoto Kunto,"Lestarikan Semangat Bandung Lautan Api", PR 22/III/1989).

Pewarisan semangat perjuangan bangsa semakin sulit dilakukan, karena di Bandung ini langka dijumpai momen-momen perjuangan yang dapat memberikan petunjuk atau informasi tentang peristiwa pertempuran yang terjadi di setiap bagian Kota Bandung. Beberapa monumen yang kita jumpai di Bandung sekarang ini, sering kali terlepas, tidak ada kaitannya dengan momen peristiwa penting dalam skala nasional maupun internasional.

Monumen "main bola", patung ikan, atau "monumen berhiber" misalnya, semua itu tergolong skala lokal, kurang luas memberi inspirasi. Sekadar monumen sukses pribadi, yang tidak jauh berbeda dengan dongeng yang digunjingkan warga kota yang menyatakan--Ganti walikota, ganti wajah alun-alun!

Bandung tungku peleburan nasionalisme

Dr. Van Leeuwen, seorang paranormal yang menjadi Ketua Perkumpulan Theosofi di Hindia Belanda, sempat meramal di tahun 1917, bahwa Kota Bandung kelak bakal menjadi "tungku peleburan rasa kebangsaan" dan "ajang perjuangan kemerdekaan" rakyat Indonesia.

Peleburan rasa kebangsaan, sebenarnya telah tumbuh sejak tahun 1866, tatkala Kweekschool (Sekolah Guru) didirikan di Kota Bandung. Sekolah guru ini yang menampung anak-anak raja, kepala suku, bangsawan dari daerah kepulauan luar Jawa, yang kemudian dikenal oleh penduduk sebagai "Sakola Raja" itu, memang kemudian menjadi tungku peleburan rasa persatuan dan kebangsaan dari seluruh pemuda Indonesia. Lulusan Kweekschool ini, antara lain tercatat, Sanusi Pane dan Jenderal A. H. Nasution.

Agaknya Kota Bandung sejak pertengahan Abad 19 yang lalu, telah didambakan oleh para orang tua, untuk menjadi ajang pendidikan putra putrinya, seperti gumam lagu Sunda:

Neleng neng kung
Neleng neleng neng kung
Geura gede geura jangkung
Geura sakola ka Bandung
Dst, dst.

Tahun 1890, dua orang remaja, Bunyamin (14 tahun) dan adiknya Yusuf (13 tahun) pergi diantar orang tuanya yang pegawai Pamongpraja di Banyumas, guna melanjutkan pendidikannya di Kweekschool Bandung. Jarak Banyumas - Bandung, ditempuh selang seling dengan menaiki gerobak kuda, perahu, dan terkadang harus jalan kaki, mendaki gunung dan menempuh rimba. Cuma pada penghujung perjalanan, kedua anak, ayah dan pengiringnya, menuju Bandung dengan menaiki kereta api, yang kala itu jalur relnya baru sampai Cibatu (Kabupaten Garut).

Di Bandung, Bunyamin dan Yusuf indekost pada Mohammad Daud, seorang Guru Sekolah asal Sumatera, yang memperlakukan kedua kakak-beradik itu sebagai anak sendiri. Yusuf menuntut pelajaran di Kweekschool selama empat tahun dan mendapat diploma sebagai Kandidat Guru. Sedangkan Bunyamin yang putus sekolah dari Kweekschool, kemudian meneruskan pendidikannya ke sekolah "Dokter Jawa" (STOVIA) di Batavia.

Tamat dari pendidikannya di Batavia itu, Bunyamin sebagai Dokter Jawa (Indische Arts) kemudian bertugas di Deli. Dan setelah berdinas beberapa tahun di Sumatera Timur itu, Bunyamin berhenti dari tempat kerjanya, guna memperdalam ilmu kedokteran di Amsterdam. Tahun 1908 ia kembali ke Indonesia sebagai Dokter Umum ("Arts") dan diangkat sebagai penjabat tinggi pada Dinas Kesehatan di Batavia.

Pada dasawarsa pertama Abad 20 ini, di kepulauan nusantara, terutama di Jawa, sering terjadi wabah pes, kolera, dan influenza. Tatkala wabah pes menyerang Jawa Timur, Dr. Bunyamin ditugaskan oleh pemerintah kolonial untuk membasminya. Selama Dr. Bunyamin melaksanakan tugas kemanusiaannya di Jawa Timur itu, sang dokter baru menyadari, betapa kurangnya peralatan, obat-obatan dan tenaga medis tak mencukupi. Juga ilmu pengetahuan kedokteran yang ia kuasai, masih belum cukup untuk menolong dan menyelamatkan rakyat Indonesia. Sehingga pada tahun 1921, Dr. Bunyamin sekali lagi pergi ke Nederland guna menambah dan memperdalam ilmu pengetahuan kedokterannya.

Namun sayang, beberapa waktu kemudian beliau meninggal dunia di Negeri Belanda. Dan pada upacara pemakamannya, Dr. Sutomo sahabat karib Bunyamin yang kemudian menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, mengucapkan pidato yang mengharukan, dan berjanji akan meneruskan perjuangan untuk mensejahterakan bangsa Indonesia.

Kisah dua bersaudara Bunyamin dan Yusuf, asal Banyumas tadi, dapat menjadi ilustrasi, betapa pada akhir Abad 19 yang lalu, orang telah berduyun-duyun dari tempat jauh, guna mencari ilmu pengetahuan, bersekolah ke Kota Bandung, sebagaimana lirik lagu--Neleng neng kung, neleng neng kut. Segera dewasa, segera pergi ke Bandung!

Kota ini kemudian semakin ramai menjadi pusat pendidikan, setelah sekolah OSVIA atau "Sakola Menak" dibuka pada tahun 1879. Pendidikan ini yang nyaris seperti APDN sekarang, lulusannya ada yang menjadi mantri polisi, camat, wedana, patih, bahkan juga bisa jadi "dalem" alias bupati.

Usul H. F. Tillema, seorang ahli kesehatan dari Semarang, agar ibukota nusantara dipindahkan dari Batavia nan pengap dan panas, ke Kota Bandung di pegunungan Priangan, pada tahun 1918 mendapat persetujuan dari Gubernur Jenderal J. P. Graaf Van Limburg Stirum. Maka sebagai langkah awal, 13 jawatan/instansi pemerintah pusat (Gouvernement Bedrijven) antara lain Jawatan Kereta Api ("SS"), PTT, Jawatan Geologi, Jawatan Metrologi, Institut Pasteur, Kantor Kas Negara, Dana Pensiun, dan lain-lainnya, dipindahkan dari Batavia ke Bandung.

Selain sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda, Bandung sejak tahun 1830 telah menjadi kota pusat perkebungan (onderneming), yang disusul pula menjadi pusat komando militer, sesaat setelah Departemen Van Oorlog ("DVO") atau Departemen Peperangan pindah dari Gambir ke Bandung.

Bandung sempat juga disebut sebagai "Het Intellectueele Centrum van Nederlandsch Indie" (Pusat Kaum Intelektual di Nusantara) semenjak diresmikannya Technische Hoogeschool ("TH"), perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia, pada tanggal 3 Juli 1920.

Seperti kita ketahui lewat "TH" itu pula, kaum pejuang intelektual kita, seperti Soekarno, Rosseno, Anwari, Djuanda, dan lain-lainnya, mulai mereka-reka kemerdekaan bangsanya.

Bandung milik siapa?

Sejak zaman dulu, penduduk Kota Bandung terdiri dari multi rasial dan multi etnis. Segala bangsa, suku bangsa pribumi, dan sub-etnis Sunda, terdapat di kota ini. Hal itu terlukiskan dalam sepucuk surat Raden H. Muhamad Sueb (Kalipah Apo) yang ditujukan kepada Hoofd Penghulu Haji Mustapa di Kotaraja Aceh, tanggal 8 Oktober 1907, antara lain dikisahkan:

Dayeuh Bandung rame-rame teuing
Koja Keling Palembang nambahan
beuki loba bangsa bae
Arab Jawa Melayu
sumawonten Cina mah leuwih
Makao sareng Kelang
Hokian mah puguh 
Asia bangsa Eropa
raos putra sapuluh tikel bihari 
sagala jenis aya.

Kalau kita periksa Peta Kota Bandung tahun 1880, maka khas kita dapati kampung atau hunian yang menunjukkan daerah asal penduduknya, seperti: Babakan Ciamis, Babakan Bogor (Kebonkawung sekarang), Babakan Sumedang, Babakan Tarogong, Babakan Garut, Babakan Priangan, Babakan Ciparay, Babakan Surabaya, dan lain-lainnya.

Malahan pada lembar peta itu pula, kita jumpai Kampung Jawa yang terletak di sekitar Jl. Jakarta sekarang. Semua itu menunjukkan, bahwa penduduk Kota Bandung di masa lalu, terdiri dari aneka bangsa dan suku dari segenap pelosok tanah air. Itu pula sebabnya, banyak kaum pejuang yang singgah di kota ini, untuk saling berjumpa, mengasah otak dan membangun semangat, guna membebaskan bangsanya dari belenggu penindasan kolonial.

Sebagaimana diketahui, tahun 1912, tiga orang "manusia bengal" (istilah pemerintah kolonial) yakni--Dr. Cipto Mangunkusumo, R. M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), dan E. F. E. Douwes Dekker, telah mendirikan Indische Partij. Dengan juru bicaranya: Abdul Muis dan Wignyodisastro, mereka berdua menulis dalam organ partai "De Express" artikel-artikel yang membangkitkan rasa cinta tanah air Indonesia. 

Kemudian sebuah catatan mengungkapkan, bahwa di Dewan Kota Gemeente Bandung, pada tahun 1918 tiga orang anggota dewan yang mewakili masyarakat pribumi, yakni: Dr. Sam Ratu Langi, R. Soeria Amidjaja, dan Mas Darnakusuma, berjuang mati-matian, mengkritik habis rencana Gemeente yang banyak menggunakan dana, cuma untuk membangun kawasan bangsa Eropa (Europeesche wijk) melulu. Dan melupakan fasilitas kota, yang menjadi keperluan penduduk pribumi.

Dalam keadaan kepepet, untuk mematahkan argumentasi Dr. Sam Ratu Langi yang berapi-api, seorang anggota Dewan bangsa Belanda sempat berujar: "Dr. Ratu Langie is geen Sundanees." (Dr. Ratu Langi bukan Suku Sunda.") Jadi menurut si Belanda, beliau tak pantas mewakili etnis Sunda yang menjadi penduduk Kota Bandung (Baca: Dr. J. M. Otto, "Een Minahasser in Bandoeng", 1991).

Menurut Prof. Ir. Waworuntu, mantan Rektor Universitas Sam Ratulangi di Manado, pada tahun 1921 Dr. Sam Ratu Langi menjadi orang pertama yang menggunakan nama "Indonesia" pada perusahaan asuransinya di Jl. Braga--"Assurantie Maatschappij Indonesia". Hal itu sempat membuat terperangah Sukarno, sang mahasiswa TH, sehingga ia memberanikan diri menemui Dr. Sam Ratu Langi di kantornya. Sejak itu, Sukarno rajin bertemu dengan "Sang Guru"--Dr. Sam Ratu Langi.

Sayang sekali, penggal kisah kehadiran pahlawan nasional Dr. Sam Ratu Langi ini di Kota Bandung, jarang sekali diketahui oleh warga kota. Bahkan rumah tinggalnya di Jl. Malabar, juga tak dikenali lagi oleh masyarakat sekelilingnya.

Masih banyak lagi organisasi atau perkumpulan politik yang lahir di Kota Bandung, di antaranya: Cabang dari Paguyuban Pasundan yang didirikan pada tanggal 22 September 1914 di Batavia, kemudian Perserikatan Nasional Indonesia yang didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 dan beberapa organisasi pergerakan lainnya.

Yang jelas, tradisi perjuangan di Kota Bandung ini, baik itu di bidang politik maupun militer, seperti pertempuran "Bandung Lautan Api" misalnya, semua berlandaskan kepentingan nasional, nusa dan bangsa. Selanjutnya pada waktu Konferensi Asia Afrika berlangsung di tahun 1955 yang lalu, maka dimensi perjuangan lebih meningkat lagi, dari level nasional menginjak tingkat internasional.

Maka dalam kaitan itulah, pembangunan dan penataan Kota Bandung dewasa ini harus lebih holistik, luas dan terpadu. Dan sejauh mungkin meninggalkan rambu-rambu pemikiran lokal yang kelewat sempit. Mengingat Kota Bandung kini juga memiliki dimensi internasional yang luas.***



Sumber: Pikiran Rakyat, 25 Maret 1994



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maluku Tahun 1922 (3-Habis) Orang "Komunis" Mengutip Iuran dari Rakyat Pulau Obi

Oleh: H ROSIHAN ANWAR SELAIN dari orang Tobelo yang dulu terkenal sebagai pembajak laut, perlahan-lahan datang pula menetap orang dari suku lain yaitu yang dinamakan Binongko. Sebenarnya Pulau Binongko hanya sebagian dari gugusan Buton, tetapi di Ambon dan Seram lazim disebut orang-orang yang berasal dari Buton di Sulawesi Selatan sebagai orang Binongko. Mereka itu kaum tani kecil, Muslim yang rajin dan hemat, yang dengan bekerja keras dan menabung mencapai kemajuan. Ada kesalahan yang selalu mereka buat yaitu tidak bermukim bersama di suatu tempat, tetapi tinggal menyebar di berbagai pemukiman. Mereka juga sering tidak meminta bagian tanah dari kepala distrik setibanya di Obi. Berkat kedatangan Binongko itu, maka penduduk distrik yang berjumlah 1723 jiwa tahun 1920 meningkat jadi 2228 jiwa tahun 1925. Tahun-tahun pertama setelah kedatangan mereka, maka orang Tobelo tidak mengganggu mereka. Tetapi begitu orang Tobelo mengira orang Binongko telah menyimpan sekadar uang, maka Binongko d...

Kebangkitan Kesadaran

Oleh AHMAD SYAFII MAARIF T entang waktu permulaan Kebangkitan Nasional, saya berbeda pendapat dengan ketetapan resmi, tetapi tidak perlu dibicarakan di sini. Yang penting dalam suasana bulan Mei 2011 ini kita melakukan refleksi tentang keindonesiaan kita dengan harapan dapat menggugah kesadaran batin bersama akan makna tanggung jawab kolektif terhadap bangsa yang sudah merdeka selama hampir 66 tahun. Jika kesadaran itu tetap saja tumpul dan rapuh, segala peringatan--apa pun bentuk dan coraknya--adalah sebuah kesia-siaan. Dalam pantauan saya, ditinjau dari sistem nilai konstitusi kita, perjalanan bangsa ini semakin kehilangan arah, sementara sebagian besar para elite seperti tidak hirau dan tidak peduli. Pragmatisme politik dan ekonomi telah semakin memperparah situasi kebangsaan kita. Retrospeksi sejarah Menurut catatan Leslie H Palmier, sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan 1945, dalam perspektif hubungan kekuasaan di Nusantara, ada tiga kelompok sosial penting yang interaksi mereka me...

Perang Paderi di Sumatera Barat 1821 - 1838 ( Bagian I)

Oleh : Syamsuar Said Pertentangan Adat dan Agama. Di antara berbagai gerakan meawan Kolonialisme Belanda di Indonesia, maka Perang Paderi di Sumatera Barat memiliki ciri dan tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia. Paderi berasal dari kata Padre yang berarti Ulama. Jadi gerakan Paderi adalah gerakan kaum Ulama. Mereka bermaksud untuk memurnikan ajaran Islam dengan jalan merombak adat kebiasaan buruk masyarakat Minangkabau saat itu. Seperti kita ketahui, struktur sosial masyarakat Minangkabau pada sekitar akhir abad 18 atau awal abad 19 menempatkan raja, bangsawan, dan penghulu adat sebagai pemegang peranan penting dalam pemerintahan adat di Tanah Minang. Dalam kehidupan sehari-hari, di masyarakat berjangkitlah kebiasaan buruk yang bertentangan dengan syara' Islam. Menyabung ayam, minum tuak, madat, berjudi, dan lain-lain dianggap sebagai kebiasaan umum atau adat warisan nenek moyang. Menghadapi hal itu, ternyata para penghulu dan pemuka adat tidak mampu mengatasinya. Sebaliknya ...

Belanda Diminta Luruskan Sejarah

JAKARTA (Media): Pemerintah Belanda diminta meluruskan sejarah Indonesia yang menyebut proklamator Soekarno sebagai pengkhianat, sedangkan Raymond Westerling dinilai sebagai pahlawan. Permintaan itu disampaikan pada diskusi sehari bertajuk Indonesia Menggugat yang diselenggarakan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) di Jakarta, kemarin. Sebagai pembicara, aktor Ray Sahetapy mengatakan sejarah yang memutarbalikkan fakta sangat mengganggu kehormatan Indonesia selaku bangsa berdaulat. Apalagi pendiri bangsa Indonesia disebut dalam sejarah Belanda sebagai pengkhianat. "Kapten Raymond PP Westerling yang membantai banyak orang di Sulawesi Selatan (Sulsel) justru diangkat dan dihormati sebagai pahlawan perang di Belanda," ujar Ray. Sebagai ketua ormas Gerakan Kebangkitan Nusantara (GKN), Ray mengharapkan sejumlah ormas juga bergabung untuk menggugat pemerintah Belanda untuk mengembalikan harta karun Indonesia yang diboyong pada masa penjajahan. "Kita akan mendesak Presiden Su...

Ahli Waris Korban Rawagede Tidak Peduli Kompensasi

HARI ini (Jumat), Duta Besar Belanda untuk Indonesia akan menghadiri peringatan ke-64 tragedi Rawagede, di Kecamatan Rawamerta, Karawang, Jawa Barat. Peringatan pembantaian 431 warga oleh tentara Belanda itu dilaksanakan untuk pertama kalinya setelah Pengadilan Sipil Belanda di Den Haag memenangi gugatan keluarga korban, September lalu. Sang duta besar, Tjeerd de Zwaan, dijadwalkan akan meminta maaf dan menaburkan bunga di makam para korban. Akan hadir juga pengacara keluarga korban Liesbeth Zegveld, yang datang langsung dari Belanda.  Di Rawagede, nuansa kemenangan dalam peringatan itu tidak membuat Wanti, 92, bisa tersenyum. Janji sejumlah dana sebagai kompesasi, yang entah berapa besarnya, tidak bisa membuatnya lupa akan kematian suaminya, Nap, dan dua anak kandung mereka, Wirya serta Kacid, yang dibantai tentara Belanda pada 9 Desember 1947. "Saya tidak membayangkan untuk dapat kompensasi. Uang sudah tidak ada artinya buat saya karena sudah lama hidup menderita," kata Wan...

Peristiwa 22 April 1942 di Kamp Interniran Luchtdoel: Bayonet yang Merobek Tubuh Tawanan Cara Eksekusi Terhormat bagi Jepang?

TANGGAL 8 Maret 1942 perwira tertinggi angkatan perang Belanda di kawasan Hindia Belanda menyerah tidak bersyarat kepada tentara Jepang. Kapitulasi dimaklumkan Gubernur Jenderal ter Poorten di Kalijati Subang Jawa Barat. Ketika itu diumumkan, seluruh tentara Belanda di Kawasan Hindia Belanda yang aktif maupun nonaktif, wajib mentaati maklumat tersebut dengan menyerahkan diri pada kamp-kamp penahan terdekat. Tentara Belanda terdiri dari kesatuan KNIL (Koninklijk Nederland Indische Leger) yang beranggotakan berbagai suku, termasuk: suku Jawa, Sunda, Maluku, dan lainnya. Tetapi bagi tentara KNIL yang berkewarganegaraan Belanda, penahanan tersebut berlangsung seterusnya sampai usai perang, sedangkan bagi yang berwarga negara Indonesia hanya bersifat penahanan sementara, tidak lama kemudian mereka dibebaskan. Ketika itu saya sebagai tentara milisia Belanda atau Militie Soldaat KNIL, yang merupakan tentara cadangan yang diambil dari pemuda-pemuda serta pelajar berkebangsaan Belanda ...

Dana Rawagede Jadi Rebutan: 171 Ahli Waris Korban Lain Juga Minta Kompensasi

KARAWANG, (PR).- Rencana pemberian kompensasi oleh pemerintah Belanda Rp 243 juta per orang untuk sembilan janda yang menggugat kejahatan perang Rawagede menuai persoalan. Pasalnya, 171 ahli waris lainnya yang juga korban Rawagede menginginkan agar dana kompensasi tersebut dibagi rata. "Meskipun kami di atas kertas tidak ikut menggugat, setidaknya ada perasaan senasib sebagai ahli waris korban pembantaian. Dari sembilan orang yang mendapat dana kompensasi, lima di antaranya setuju dana dibagi rata untuk 171 orang lainnya," kata Wahono, salah seorang ahli waris, Rabu (21/12). Namun, menurut Wahono, empat orang ahli waris lainnya tidak menerima usulan tersebut karena mematuhi anjuran dari Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB). "Jika memang seperti itu, justru akan menimbulkan kecemburuan sosial. Meskipun tidak ikut menggugat, kami berhak juga menerima sebagai ahli waris korban pembantaian Rawagede," tuturnya. Kemungkinan lain, menurut Wahono, setengah dari seluruh da...