Langsung ke konten utama

Khidmat Sumpah Pemuda Kini: Apa Jawaban Pemuda Terhadap Pembangunan?

Oleh: Emmanuel Milala

TERLIBAT ngobrol dengan tokoh-tokoh pemuda beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengajukan tese yang agak peka. Kata saya, bahwa jawaban pemuda terhadap pembangunan yang sedang berlangsung ini, masih terbatas politis. Itupun dalam konteks politik praktis. Artinya, bahwa di tengah kebergulatan untuk memperbaiki kondisi sosial-budaya kita dengan penggalakan pembangunan di semua sektor ini, ternyata rupanya yang menonjol dan ditangkap oleh radar kepemudaan terbatas pada yel-yelannya doang.

Pemuda kita belum sampai pada penglihatan lebih dalam, misalnya sebagai agen dari perubahan, tampil sebagai inovator yang dapat diandalkan, misioner dalam melihat realitas baru bagi saudara-saudara tercinta yang di pedesaan dan seterusnya. Pokoknya, persepsi pembangunan yang ditangkap dan dimanifestasikan oleh orang muda di tanah air kita ini, bukan hal-hal yang esensial dan kemudian menjadi motor penggerak dalam perubahan pola hidup; tetapi selalu berhenti dengan kepuasan-kepuasan elitis dan praktis, dan bahkan temporer sekali.

Karena itu, kecemasan yang saya ajukan, dalam kehidupan kepemudaan fenomena yang selalu bisa dibaca adalah sebagai berikut: miskinnya daya juang, kurang mampunya dalam mengukur kemampuan dan mendayagunakannya, tak tahan dengan kemandirian mutlak melalui penentuan sejarahnya sendiri, dan yang lebih ngerinya lagi selalu ingin bersembunyi di balik atribut-atribut temporer dan kosong dan bahkan tidak produktif serta hanya berfungsi sebagai arena nampang doang.

Impian

Penjelasannya lebih lanjut begini; bahwa yang terjadi adalah timbulnya image sosial untuk hidup senang dengan tanpa melalui proses. Dalam hubungan ini, tentu saja, mari kita bersama-sama untuk menanyakan dan terlibat dalam kehidupan kepemudaan itu. Maksudnya, bahwa keinginan hidup yang mapan dengan berbagai fasilitas yang menyenangkan adalah merupakan impian yang jamak. Karena itu tak mengherankan lagi, bila sarjana-sarjana muda usia langka yang mau terjun ke pedesaan. Juga tak ketinggalan dalam pengamatan kita, bahwa prosentase urbanisasi di hampir setiap kota besar di tanah air ini selalu tertinggi diduduki oleh golongan usia produktif ini.

Maka, gambaran yang kita lihat dalam aspek ini sebagai berikut; kebutuhan informasi dan kedekatan pada sumber informasi selalu didominir oleh golongan muda dengan catatan agar dapat langsung merubah haluan sesuai dengan tuntutan image sosial yang juga bergeser. Terutama lihat saja dalam pola hidup yang konsumeristik, fashionable, bersenang-senang dan malah berorientasi pada kualifikasi material dalam ukuran ideal manusiawi.

Keadaan ini, selanjutnya, beruntun pada permasalahan kurang mampunya pemuda itu untuk mengadakan "self-evaluation". Artinya, bahwa, penjajagan pada kemampuan, lalu kesadaran akan mutu dan kualitas diri pribadi, hampir boleh dikatakan tak pernah disadari oleh pemuda itu. Maka misalnya, apabila seorang wartawan mewawancarai seorang pemuda, sering kali yang tercetus sebagai jawaban justru hal-hal yang muluk-muluk. Memang dalam konteks cita-cita hal itu wajar; tetapi walaupun begitu, jawaban yang keluar itu dengan mudah sekali dapat kita duga hanya merupakan impian yang tak berdasar pada realitas.

Contoh nyata bisa terjadi begini: seorang pemuda mengatakan ingin menjadi sarjana dalam ilmu tertentu, tetapi jelas sekali kelihatan bahwa orientasi pengamatannya saja belum secuil pun ke situ. Atau, lagi, seorang pemuda ingin masuk AKABRI, tetapi kesan psikologis yang dapat kita raba justru pemuda itu pemalas, kurang bergairah dan bahkan tukang molor. Dan contoh lain masih bejibun. Tapi sebetulnya yang ingin saya katakan adalah bahwa kedudukan persepsi hidup pada pemuda yang hampir seperti simsalabim itu; yakni, orientasi pada suatu impian yang muluk-muluk dengan tanpa ikhtiar dalam merealisasikannya, atau dalam ungkapan sehari-hari sering disebut sebagai mimpi siang bolong.

Demikian, maka sudah jelas langkah-langkah yang selalu dapat kita baca dalam kehidupan kepemudaan itu adalah sebagai berikut; pemuda itu tidak mempunyai "decision", lebih suka hanyut dalam arus yang hidup dalam masyarakat, tak mampu melihat realitas dari posisi tertentu dan karena itu perlu bersembunyi dalam berbagai bentuk persembunyian seperti ketergantungan kepada orangtua, sistem sosial, partai, gang, bentuk-bentuk material seperti mobil, pakaian mewah, atau kasarnya bisa juga kita sebutkan "Numpang Urip".

Anehnya, justru, tese saya ini tak mendapat antitese yang berarti. Maksudnya berbagai pernyataan-pernyataan yang berkembang baik di mas media maupun di kalangan tokoh pemuda, sebaliknya malah justru mendukung dalam kerangka yang dialektis. Misalnya, sebagai contoh, bisa kita ajukan pernyataan Aulia Rachman, ketua KNPI itu beberapa waktu yang lalu. Tatkala seorang tamu dari mancanegara bertanya kenapa justru yang disebutkan pemuda di tanah air kita tercinta ini sudah seperti paman-paman (P dari KNPI bukan pemuda, tetapi Paman), ia menjawab sebagai berikut: karena Indonesia masih relatif muda--baru merdeka 38 tahun--maka harap maklum kalau pemudanya malah sudah tua.

Astagfirullah, barangkali itu yang keluar dari mulut kita; dengan catatan, bahwa implisit pernyataan itu mengukuhkan ketergantungan yang berkepanjangan dalam kehidupan kepemudaan. Bukankah fenomena ini bisa terbaca dalam keterlambatan dewasa, keterikatan pada konsep kepemudaan, sementara usia sudah melampaui 35 tahun dengan embel-embel punya istri dan anak? Lalu sampai di mana sebetulnya batasan-batasan konsep kepemudaan itu; apakah begitu abstrak, kabur dan elastis sehingga terbuka untuk semua umur hanya dengan kriterium psikis seperti berjiwa muda, semangat muda?

Tentu, dalam kesempatan ini, masih terbengkalai perdebatan yang menarik; artinya, bahwa jika keterikatan pada konsep kepemudaan terbatas dalam pertimbangan psikis, semangat muda, maka bersesuaian dengan kondisi fisik otomatis itu justru menggambarkan suatu kondisi yang tidak menyenangkan yaitu infantilitas. Dan, dengan infantilitas dimaksudkan, tak lain adalah terjadinya gangguan-gangguan psikis dalam perkembangannya sehingga tak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan fisik. Jika hal ini dikenakan dalam konotasi kepemudaan di Indonesia, tentu saja kita perlu berucap wallahualam. Semoga apa yang dikatakan oleh Aulia Rachman terbatas apologetis.

Kritik

Selanjutnya kritik pedas yang dilontarkan oleh anggota DPA dan DPP Golkar Sugiharto beberapa waktu lalu di harian ini (SH, 15 Oktober), menarik untuk dikaitkan dengan pemuda dalam keterikatan konsep kepemudaannya. Katanya, bahwa politikus muda kita justru melibatkan kegiatan politik yang dilakukannya dengan perdagangan. Oleh karena itu sulit membedakan apakah pemuda itu seorang politikus yang memperjuangkan kepentingan rakyat, penuh idealisme, dengan kesungguhan hati mau berkorban dalam mewujudkan keadilan dan kemakmuran, atau malah di balik itu justru menjalin hubungan dengan berbagai pihak yang kemudian menelorkan hasil berupa kelancaran-kelancaran bisnis yang menguntungkan diri pribadi.

Karena itu, implisit pertanyaan dan kecemasan politikus senior itu bisa kita baca; apakah pemuda kita itu masih murni dalam jalur konsep kepemudaannya? Apakah pemuda kita itu masih sadar akan tugas, lakon yang harus dibawakannya dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, idealisma, semangat yang berkobar-kobar akan pembaharuan, kreativitas, perbaikan-perbaikan pola dan sistem yang menjurus pada kehidupan yang lebih baik?

Tentu saja, pertanyaan itu menggiring kita kembali untuk membongkar pemuda dalam konsep kepemudaannya. Artinya, bukan argumentasi-argumentasi apologetik yang perlu disusun dan dirasionalisir dalam upaya pengkotakan masih muda dan tidak muda lagi; melainkan lebih mendesak lagi ialah menyadari kepemudaan itu secara mendalam dan mencoba mengejawantahkannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara sehingga cap identitas itu kelihatan. Berarti, pilihan yang tepat dan sewajarnya, adalah keterikatan pada idealisma, penuh kreativitas, peka terhadap problem-problem sosial sekitarnya, berani mengatakan yang baik dan tidak baik, mempunyai jiwa besar dalam keterbukaan. Dan yang lebih penting lagi sepenuhnya sadar akan tujuan kenegaraan yang sedang dicanangkan, serta kritis dan bersikap dalam membangun masa depannya.

Gambaran di atas, jelas, membuat kita menjadi prihatin terhadap kondisi kepemudaan itu. Terlebih, dalam kenyataannya, berulang kali ajakan, anjuran dan bahkan tantangan dilemparkan ke alamat pemuda itu agar menyadari kepemudaannya dan berikhtiar mengejawantahkannya dalam tuntutan keadaan sekarang.

Pemuda, tentu saja, seperti yang selalu disadari sebagai "young human resources" (sumber daya manusiawi), adalah yang paling diharapkan peranannya dalam setiap kurun zaman, lebih-lebih saat membangun ini. Sebab, tanpa itu, bagaimana bisa kita berikhtiar semaksimal mungkin dalam merealisir pola hidup yang lebih baik dari keadaan yang sekarang? Dan, terlebih-lebih, bukankah peranannya sebagai pewaris, penerus tanah air ini adalah wajar pula dituntut konsekuensinya supaya mampu dan tangguh dalam menghadapi tantangan zamannya yang bakal tiba segera?

Memang, dengan kecemasan yang saya ajukan di awal tulisan ini, bukan berarti menutup mata terhadap sisi lain; kita harus membelalakkan mata dan memberikan penghargaan terhadap pemuda-pemuda yang berhasil seperti prestasi Mochammad Kasim bin Arifin dari Waimital, Anton Sudjarwo pendiri Yayasan Dian Desa, Eko Sulistyo Maryono yang kreatif dan berani, dan masih banyak lagi. Tetapi, pertanyaan kita; berapa prosenkah pemuda yang sejenis ini di tanah air kita dibandingkan dengan kapasitas hampir 50% penduduk Indonesia adalah pemuda?

Apakah selebihnya cukup dengan masuk ke dalam organisasi kepemudaan, menyiapkan statemen-statemen yang menggebu-gebu dan muluk-muluk, lalu menganggap dirinya mempunyai negeri ini sendirian saja, serta memperjuangkannya dengan mengatasnamakan adil-makmur, pedesaan dan sebagainya? Atau bahkan, sekali lagi, cukupkah dengan menghapal Pancasila, UUD 45 lalu selalu ingin tampil dengan pernyataan-pernyataan aneh tentang keprihatinan rakyat kecil, sementara kelihatan mondar-mandir naik Mercy dan Lancer, dan bahkan ikut rally-rallyan?

Peranan pemuda di tanah air kita, lebih lanjut, historikal mempunyai kedudukan yang istimewa. Sumpah Pemuda yang dicetuskan 28 Oktober 1928 yang lampau, harus kita akui adalah merupakan urat nadi berdirinya tanah air ini. Dalam keadaan sulit begitu, di mana penjajahan, keanekaragaman sosial-budaya dan lain sebagainya, ternyata berhasil dipadukan menjadi satu oleh pemuda. Begitu juga saat-saat kelepasan dari penjajahan, kemerdekaan yang dicetuskan pada 17 Agustus 1945, penemuan ideologi Pancasila, semua itu merupakan ikhtiar yang sangat berani dari pemuda itu sendiri.

Pemuda, dalam sejarah kebangsaan kita, tak lain dan tak bukan adalah selalu menjadi sentral dari kesadaran masa depan, keberanian dalam memperbaiki mutu hidup, pergolakan-pergolakan yang berakar dan menjadi fundamen dari sebuah bangunan tanah ar. Karena itu, jelas, bahwa kepemudaan adalah merupakan harapan yang tak putusnya, daya dorong dan daya kerja yang tak pernah lelah dalam terus-menerus memperbaiki kualitas hidup bangsa kita menuju masyarakat adil dan makmur.

Dalam konteks inilah, sudah tentu, selalu kita jatuhkan kriterium dalam pengukuran kepemudaan pada tiap-tiap zaman yang beralih dan membawa problematikanya. Terutama, misalnya, bagaimana peranan yang dibawakannya dalam saat kita membangun ini? Bentuk-bentuk dan warna pengejawantahan yang bagaimana sudah dilakukanya sehingga berpartisipasi dalam pembangunan sesuai dengan mutu konsep kepemudaan dan keadaan kedirian pemuda itu?

Khidmat Sumpah Pemuda

Kembali kita angkat kondisi kepemudaan ke atas permukaan, kecemasan-kecemasan yang perlu diperhitungkan, keadaan rawan dan pola orientasi yang mencong, semua itu tentu semacam impuls untuk kembali mengadakan re-evaluasi. Tanpa penjajagan ulang, yang kemudian membuat yang terselip menjadi tampak, yang bersembunyi menjadi kelihatan, kita tentu tak bisa menyusun langkah baru yang harus dilaksanakan demi cita-cita yang melekat dalam keyakinan kebangsaan kita.

Maka, barangkali, itulah salah satu khidmat yang selalu tertanam dalam memperingati hari-hari bersejarah semacam 28 Oktober 1983 ini. Dengan catatan, bahwa apa yang kemudian membuat kita kembali tergugah, menyadari kesalahan orentasi, terlampau menceng sudah dari garis demargasi yang ditetapkan, tidak dengan begitu saja menutup mata sambil berargumentasi yang aneh-aneh demi keabsahan keadaan sekarang.

Melainkan, sebaliknya, kesadaran itu melahirkan dan menumbuhkan sikap kepemudaan kita yang sigap dan berani, sehingga berikhtiar lebih bersemangat lagi dalam mencari dan menempatkan pada posisi perjuangan yang sebenarnya.

Dan, dengan begitu, tentu pertanyaan yang harus kita ajukan dalam kesempatan ini begini; bagaimana sebetulnya bentuk aplikasi khidmat Sumpah Pemuda itu dalam suasana pembangunan? Bagaimana sebetulnya ragam pengejawantahan kepemudaan itu dalam ikhtiar berpartisipasi demi perbaikan hampir semua aspek kehidupan kenegaraan kita? Tentu, terlebih dahulu, yang mendesak kita lakukan adalah pemahaman permasalahan secara meluas. Dalam pengertian, bahwa dengan pemahaman permasalahan itu kita bisa meraba, menjamah dengan baik dan lekat, soal-soal yang memang terutama dan utama dalam mencarikan pemecahannya. Misalnya mengenai kesempatan kerja, ketimpangan pendidikan, persoalan-persoalan kaya-miskin yang menjurang dan masih banyak lagi, yang tentu saja dengan mengetahui itu kita membuat strategi baik dalam jangkauan keorganisasian maupun perseorangan dengan penekanan pada segi operasionalnya.

Berarti langsung bisa terpakai; nilai praktis, berbuat, adalah segala-galanya dibandingkan dengan konsep yang terkadang berhenti muluk-muluk. Sebab, dengan ketinggian frekuensi hidup sekarang, di mana semua seginya seolah tertantang apalagi dengan penekanan pada usaha-usaha pembangunan, maka ikhtiar nyata adalah terutama dikaitkan dengan kepentingan bersama dan fungsi sosialnya.

Dalam hubungan inilah kreativitas dituntut sepenuhnya; yaitu, pemuda itu tidak hanya mempercayakan hidup dan masa depannya dalam hubungan struktur dan perjalanan struktur--misalnya keterikatan kepada organisasi yang nantinya akan memberikan kesempatan sosial-politik-ekonomi padanya, atau keterikatan pada image sosial tentang gelar kesarjanaan, kepegawaian baik swasta maupun negeri akan menjamin hidupnya--tetapi justru sebaliknya mengusahakan struktur, atau membentuk struktur yang akan melegakan perjalanan individual demi kemajuan-kemajuannya.

Sehingga, kemudian, yang tampak adalah ketangguhan-ketangguhan mental, upaya independent yang dewasa, bersikap dan mengurangi nilai ketergantungan. Sampai pada posisi ini, bukankah sejajar dalam keberanian pemuda dalam mencetuskan Sumpah Pemuda, yang konon mau mendirikan tanah air tercinta ini lepas dari ketiak kebaikan penjajah?

Agaknya, barangkali, itulah alternatif yang relevan dalam memberikan jawaban terhadap tuntutan pembangunan yang kini semakin menggebu-gebu. ***

*Penulis adalah staf akhli pada Yayasan Pengembangan Ilmu, Bandung, dan kini mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkarya, Jakarta.



Sumber: Sinar Harapan, 26 Oktober 1983 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jiwa Bandung Lautan Api

Ingan Djaja Barus Staf Khusus di Dinas Sejarah Angkatan Darat Ingat anak-anakku  sekalian. Temanmu,  saudaramu malahan ada  pula keluargamu yang mati  sebagai pahlawan yang tidak  dapat kita lupakan selama- lamanya. Jasa pahlawan kita  telah tertulis dalam buku  sejarah Indonesia. Kamu  sekalian sebagai putra  Indonesia wajib turut mengisi  buku sejarah itu - Pak Dirman, 9 April 1946 T ANGGAL  24 Maret 1946, terjadi sebuah peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kita, yaitu Bandung Lautan Api. Suatu peristiwa patriotik yang gemanya abadi di setiap hati. Tak hanya bagi mereka yang pernah hidup dalam masa berlangsungnya peristiwa itu, tetapi juga bagi mereka yang lahir lebih kemudian. Pada hakikatnya peristiwa "Bandung Lautan Api" merupakan manifestasi kebulatan tekad berjuang dan prinsip "Merdeka atau Mati" TNI AD (Tentara Republik Indonesia/-TRI waktu itu) bersama para pemuda pejuang dan rakyat Jawa Barat. Mereka bergerak melawan...

Pesawat RI-003: Dibeli dengan Emas Rakyat Sumbar

LIMA puluh tahun silam, di masa perjuangan, cara membeli pesawat terbang sangat sederhana. Barter, merupakan salah satu cara pembelian yang lazim. Cara ini pula yang ditempuh pemerintah dalam pengadaan sebuah pesawat kecil, Avro Anson, buatan pabrik terkenal Inggris, Avro. Itu pun tidak langsung dibeli dari pabriknya, melainkan lewat seorang pialang yang mengenal pemiliknya.  Uniknya lagi, pesawat bermesin ganda tersebut diterbangkan pemilik merangkap pilotnya asal Australia, Paul Keegan, langsung ke pembelinya, Pemerintah RI di Sumatera. Avro Anson mendarat di Bukittinggi awal bulan Desember 1947. Penumpangnya terdiri dari Opsir Udara III Muhammad Sidik Tamimi (Dick Tamimi), perwira penghubung AURI di Singapura, Ferdy Salim anggota supply mission  di Singapura dan seorang pialang dari Singapura. Pesawat delapan penumpang yang dapat mendarat di lapangan kecil ini, dianggap paling cocok untuk memecahkan masalah perhubungan di Sumatera. Setelah dilihat sendiri "barangnya", peme...

Kubah Mesjid, Bukan Asli Arsitektur Islam

K ubah sebagai bagian dari arsitektur bangunan, bukan merupakan nama yang asing lagi kedengarannya. Ia merupakan bagian yang sukar dipisahkan dari bangunan mesjid. Kubah memang seakan sudah menjadi trademark- nya arsitektur mesjid di dunia. Hampir dapat dipastikan bahwa semua mesjid yang ada di muka bumi ini menyertakan kubah sebagai bagian dari bangunan mesjidnya. Tak heran pula, bila kemudian ada yang mengatakan bahwa kubah merupakan ciri khas dari arsitektur mesjid. Bahkan kubah telah menjadi simbol dari bangunan mesjid. Lapangan Terbuka Pada awalnya, mesjid bukanlah merupakan suatu bangunan yang megah perkasa seperti mesjid-mesjid yang tampil di masa kejayaannya yang penuh keindahan dengan ciri-ciri keagungan arsitektural pada penampilan mesjidnya. Mesjid Quba di Madinah sebagai mesjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. di sekitar tahun 622 M misalnya, memiliki bentuk yang sangat sederhana dan merupakan karya spontan masyarakat muslim di Medinah saat itu. Denahnya seg...

Bandung Persinggahan Kaum Pejuang

Oleh HARYOTO KUNTO Kota adalah seorang ibu, dari rahim siapa lahir dirimu yang kedua Sekali kau pernah mengembara di sana,  bagai urat di tapak-tangan kau hafal silangan segala gangnya Sekali kau bersatu dengan suka-dukanya, dan dia selamanya akan hidup di darahmu. Saini KM "Kota Suci" 1968. DARI beberapa hasil survai dan penelitian kependudukan di Kotamadya Bandung, sejak tahun 1971 sampai tahun 1990, ternyata jumlah penduduk asli Kota Bandung (Sunda: " pituin urang Bandung asli "), makin menyusut dari 22% turun hingga 17% dari seluruh warga kota yang sekitar dua juta jiwa ini. Adapun yang dimaksud dengan pituin urang Bandung asli adalah, warga kota yang turun temurun dari generasi ke generasi--lahir, tinggal dan dibesarkan di Kota Bandung. Sedangkan warga kota selebihnya, umumnya tergolong kaum pendatang dari luar kota maupun luar daerah Jawa Barat, dari seluruh pelosok tanah air. Berbicara tentang asal muasal warga kota yang "asli" dan "tidak asli...

Tidak Mudah Mengungkap Fakta Sejarah

SAREKAT Islam tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu organisasi kebangsaan yang turut mewarnai pergerakan kebangsaan. Jika kemudian muncul Sarekat Islam Merah (SI Merah) dan Sarekat Islam Putih (SI Putih) maka keduanya juga bagian sejarah perjalanan organisasi tersebut. Namun, apakah juga tercatat dalam sejarah di masa Orde Baru bahwa SI Merah turut serta melawan penjajahan Belanda di Bumi Indonesia ini? Itulah yang hendak diungkapkan oleh Soe Hok Gie dalam buku Di Bawah Lentera Merah, Riwayat Sarekat Islam Semarang 1917-1920 , diterbitkan tahun 1990 oleh Frantz Fanon Foundation, Jakarta.  Judul: Di Bawah Lentera Marah Penulis: Soe Hok Gie Penerbit: Frantz Fanon Foundation (1990), Penerbit Bentang (1999) Tebal: x + 108 halaman B AGI Agus Edi Sartono, Direktur Frantz Fanon Foundation, buku itu seperti menyambung benang merah yang hilang, yaitu pergerakan Islam progresif atau yang lebih dikenal dengan SI Merah yang dilupakan oleh sejarah. Sebegitu besarnya keinginan pene...

Menyimak Tulisan H. Rosihan Anwar: Indonesia di Tahun 1947-1949

Oleh ADI PRATHOMO INFORMASI mengenai sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negara RI tampaknya masih banyak yang belum terungkap. Setidaknya, hal ini bisa kita simpulkan setelah membaca tulisan H. Rosihan Anwar pada suratkabar ini (13/6/96) yang mengungkapkan secara singkat seputar pergolakan politik di tanah air sesudah kemerdekaan Indonesia. Fakta pergolakan politik yang diambil dari dokumen resmi ini telah membuka mata dan sekaligus membangunkan kesadaran kita akan arti sejarah kemerdekaan Indonesia. Terutama pada informasi mengenai orang-orang yang tidak mempunyai sikap politik yang tegas atau bermuka dua. Seperti yang dilakukan oleh Anak Agung Gde Agung dari tahun 1947 hingga 1948 terhadap rakyat--khususnya para pemuda Bali--serta para pemimpin politik Indonesia yang saat itu sedang giat-giatnya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Terus terang saja, tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan yang s...

Hari Pahlawan: MENGENANG 10 NOPEMBER 1945

Majalah Inggeris "Army Quarterly" yang terbit pada tanggal 30 Januari 1948 telah memuat tulisan seorang Mayor Inggeris bernama R. B. Houston dari kesatuan "10 th Gurkha Raffles", yang ikut serta dalam pertempuran di Indonesia sekitar tahun 1945/1946. Selain tentang bentrokan senjata antara kita dengan pihak Tentara Inggeris, Jepang dan Belanda di sekitar kota Jakarta, di Semarang, Ambarawa, Magelang dan lain-lain lagi. Maka Mayor R. B. Houston menulis juga tentang pertempuran-pertempuran yang telah berlangsung di Surabaya. Perlu kita ingatkan kembali, maka perlu dikemukakan di sini, bahwa telah terjadi dua kali pertempuran antara Tentara Inggeris dan Rakyat Surabaya. Yang pertama selama 3 malam dan dua hari, yaitu kurang lebih 60 jam lamanya dimulai pada tanggal 28 Oktober 1945 sore, dan dihentikan pada tanggal 30 Oktober 1945 jauh di tengah malam. Dan yang kedua dimulai pada tanggal 10 Nopember 1945 pagi sampai permulaan bulan Desember 1945, jadi lebih dari 21 har...