Langsung ke konten utama

PERISTIWA WESTERLING 23 JANUARI 1950 DI BANDUNG

Oleh : Djamal Marsudi

Sejarah kekejaman Westerling sebetulnya sudah dimulai dari Sulawesi semenjak tahun 1945/1946, maka pada waktu Kahar Muzakar yang pada waktu itu menjadi orang Republiken, datang menghadap Presiden Soekarno di Yogyakarta, telah memberikan laporan bahwa korban yang jatuh akibat kekejaman yang dilakukan oleh Kapten Westerling di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 (empat puluh ribu jiwa manusia). Laporan tersebut di atas lalu diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam rangka upacara peringatan korban "WESTERLING" yang pertama kali pada tanggal 11 Desember 1949 di Yogyakarta, justru sedang dimulainya Konperensi Meja Bundar di Negeri Belanda. Berita "Kejutan" yang sangat "Mengejutkan" ini lalu menjadi gempar dan menarik perhatian dunia internasional.

Maka sebagai tradisi pada setiap tahun tanggal 11 Desember, masyarakat Indonesia dan Sulawesi khususnya mengadakan peringatan "KORBAN 40.000 JIWA PERISTIWA WESTERLING" di Sulawesi Selatan.

Tapi masyarakat sudah setengah lupa, apalagi generasi sekarang bahwa pada tanggal 23 Januari 1950, Kapten Westerling pernah mengganas pula di Kota Bandung sehingga puluhan anggota TNI dan masyarakat telah menjadi korban Westerling yang menamakan dirinya pimpinan tertinggi dari apa yang mereka namakan "Angkatan Perang Ratu Adil" (APRA) dan RAPI, yang anggota-anggotanya bekas serdadu KNIL dan KL yang tidak merasa senang kepada dirinya tidak dimasukkan ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

Peristiwa ini sudah 30 tahun yang lalu, maka jelas generasi sekarang sudah banyak yang tidak mengetahuinya, karena peristiwa 23 JANUARI tidak/jarang diperingati seperti halnya 11 DESEMBER. Maka alangkah baiknya dua peristiwa ini agar sekaligus "DIPERINGATI BERSAMA" antara Bandung dan Sulawesi, karena Bandung juga mengalami pengorbanan yang tidak kecil, malahan Letnal Kolonel Lembong yang asalnya dari Sulawesi Utara juga menjadi korban di Bandung akibat keganasan Westerling.

Untuk mengetahui secara lengkap timbulnya peristiwa Westerling yang mengganas di Kota Bandung, maka secara kronologis dan mendetail beserta fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, karena sesudah meletusnya peristiwa Westerling, penulis sebagai petugas Departemen Penerangan Yogyakarta, yang secara khusus dikirim ke Bandung atas perintah Menteri Penerangan RI Yogyakarta kala itu. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Pada tanggal 23 Januari 1950 sekitar jam 09.00 pagi gerombolan Westerling yang memakai simbol APRA di bawah pimpinan Kapten Westerling dari Kota Cimahi yang letaknya di sebelah barat Bandung, melakukan gerakan menuju Kota Bandung. Mereka memakai truk, jeep, sepeda motor, dan ada pula yang berjalan kaki dengan pakaian seragam KNIL/KL serta senjata lengkap yang jumlahnya kurang lebih 500 orang.

Di sepanjang jalan antara Cimahi-Bandung mereka mengadakan steling di gang-gang sambil mengadakan penembakan ke atas secara membabi buta, adakalanya mereka mengadakan penembakan ke rumah-rumah yang sekitarnya dicurigai ada anggota-anggota TNI, demikian pula terhadap pos-pos polisi sepanjang jalan raya, seperti di Cimindi, Cibeureum, dan beberapa tempat lainnya sambil melucuti anggota-anggota polisi RI.

Setelah memasuki Kota Bandung, mereka membikin huru hara sehingga menimbulkan panik dan ketakutan masyarakat, karena setiap ada anggota TNI yang berpapasan terus ditembak mati. Akhirnya toko-toko dan rumah-rumah ditutup dan jalanan menjadi sunyi.

Di Jalan Banceuy dalam Kota Bandung, seorang anggota TNI yang sedang mengendarai jeep tanpa senjata, dihentikan lalu disuruh turun dan angkat tangan. Tanpa ampun lagi lalu ditembak di tempat. Jenazahnya ditinggalkan begitu saja lalu mereka jalan terus ....

Di Jalan Braga dekat Apotek Ratkamp, sebuah mobil sedan ditahan, tiga orang penumpangnya disuruh turun, seorang penumpang yang berpangkat Letnan I/TNI tanda pangkatnya diambil, orangnya disuruh berdiri di pinggir jalan lalu tanpa ampun terus ditembak mati.

Di depan Hotel Preanger sebuah truk berisi 3 orang anggota TNI ditembaki, truk terpelanting karena melanggar tiang listrik hingga tumbang dan truknya terguling. Semua penumpangnya terhampar dengan truknya yang bergelimpangan.

Di Jalan Merdeka terjadi tembak-menembak selama 15 menit, karena tidak seimbang, maka 10 anggota TNI tewas dalam pertempuran, yang lainnya dapat mengundurkan diri dengan selamat.

Di prapatan Jalan Suniaraja - Braga, 7 anggota TNI, ada yang tidak bersenjata yang sedang mengendarai truk, tanpa ampun lagi truknya diberondong dari samping dan belakang, semuanya penumpang tewas dan berhamburan di tengah dan pinggir jalan.

Pertempuran yang paling hebat adalah di Kantor Staf Kwartir Divisi Siliwangi yang waktu itu masih bernama Jalan Oude Hospital Weg. Satu regu pengawal TNI yang terdiri dari 15 orang dipimpin Letkol Sutoko dengan tiba-tiba diserbu dan dikerubut oleh ratusan gerombolan APRA. Pertempuran seru berlangsung kurang lebih satu jam lamanya, perlawanan dilakukan sampai kehabisan peluru, dari 15 orang anggota TNI/AD hanya 3 orang yang selamat. Setelah gerombolan APRA dapat menduduki Staf Kwartir mereka membongkar brankas dan uang sejumlah F 150.000,- dirampok.

Selain para anggota TNI yang telah menjadi korban, ada beberapa puluh di kalangan masyarakat yang menjadi korban karena peluru nyasar dan memang sengaja ditembak, sebab pada waktu anggota gerombolan menanyakan kepada rakyat: Pilih Yogya atau pilih Negara Pasundan? Maka mereka ada yang menjawab pilih Republik Yogya, dan ditembaklah orang yang memilih Yogya.

Sehubungan dengan adanya tindakan gerombolan APRA melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap orang yang memilih Republik Yogya, maka jelaslah bahwa tindakan APRA menyerbu Kota Bandung mempunyai latar belakang politik, agar negara boneka Pasundan terus berdiri dan memakai APRA sebagai "TENTARA RESMINYA". Setengah lagi orang berpendapat bahwa demonstrasi APRA mengadakan penjagalan terhadap anggota TNI mempunyai maksud agar mereka diakui dan dimasukkan ke dalam integrasi APRIS yang pernah dituntut oleh mereka, tapi setelah masuk APRIS mereka hanya mau tinggal di daerah Bandung untuk melindungi "Negara Pasundan". Jelas tuntutan mereka ditolak oleh Pemerintah RI.

Bagi kalangan umum di Kota Bandung pada waktu itu sangat sulit untuk membedakan mana tentara resmi dan mana gerombolan Westerling, karena pakaian seragamnya hampir bersamaan. Adapun yang menarik perhatian umum pada waktu itu ialah kendaraan-kendaraan bermotor dari KNIL dan KL diberi tanda "SEGI TIGA KUNING" yang sebelumnya tidak pernah ada. Jelaslah bahwa simbol tersebut adalah simbolnya gerombolan APRA.

Pada waktu kurang lebih 30 truk penuh berisi serdadu-serdadu berpakaian KNIL dan KL memasuki Kota Bandung, masyarakat menganggap soal yang biasa. Tapi setelah mereka memasuki Jalan Braga lalu mengadakan tembakan secara membabi buta, barulah rakyat sadar bahwa yang masuk kota adalah gerombolan, tapi gerombolan apa mereka belum jelas. Tapi setelah dilihat di baju lehernya bertuliskan APRA, barulah jelas bahwa gerombolan itu adalah APRA.

Tentang tewasnya Letkol Lembong dengan ajudannya, kisahnya adalah sebagai berikut: Waktu terdengar rentetan-rentetan tembakan dari gerombolan Westerling, mereka berdua masih di rumah. Lalu mereka berdua menuju ke Staf Kwartir dengan mobil dinasnya, tapi mereka tidak menyangka sama sekali bahwa di Staf Kwartir sudah diduduki oleh gerombolan. Pada waktu mobil sampai di halaman Staf Kwartir terus diberondong oleh senjata otomatis pihak gerombolan, akhirnya Lembong dan ajudannya tewas di dekat mobil, muka dan badannya hancur.

Menurut catatan penulis para anggota TNI yang tewas pada waktu itu di antaranya ialah:

1. Letkol Lembong A. G., 2. Mayor Ir. Djokosoetikno, 3. Mayor Sacharin, 4. Kapten Dudung, 5. Letnan I Dadi Surjatman, 6. Letnan I Seno Sain, 7. Letnan I R.M. Siegfried Susono, 8. Letnan I Leo Kailola (Ajudan Letkol Lembong), 9. Letnan II Affandi, 10. Letnan II R.A. Effendi, 11. Letnan II Suroso, .... 14. Letnan II Sanjoto Mangundiwirjo, 15. Letnan II R. Sudjono, 16. Letnan Muda Surhara, 17. Sersan Mayor Juana, 18. Sersan Mayor Surnapi, 19. Sersan Mayor Burhanuddin, 20. Sersan Endi, 21. Sersan Sutardjo, 22. Sersan Didi Kartapradja, 23. Sersan Harun, 24. Sersan Rachmat, 25. Kopral Karno, 26. Prajurit I Sadiat, 27. Prajurit I Mahinsatja, 28. Prajurit I Achiria, 29. Prajurit I Tatang Kandi, 30. Prajurit I Tatang Handi, 31. Prajurit I Sadikin, 32. Prajurit I Sukria, 33. Prajurit II Supardi, 34. Prajurit II Achmad, 35. Prajurit II Nunung Sutisna, 36. Prajurit II Hadna, 37. Prajurit II Djumario, 38. Prajurit II Lili, 39. Prajurit II Suleman, 40. Prajurit II Apandi, 41. Prajurit II Nana, 42. Prajurit II Tjitojo, 43. Prajurit II Nono, 44. Prajurit II Suardi, 45. Prajurit II Wonda, 46. Prajurit II Rukman, 47. Prajurit II Sunarso, 48. Prajurit II Didi, 49. Prajurit II Ako, 50. Prajurit II Hapid, 51. Prajurit II Endang Ajo, 52. Prajurit II A. Gani, 53. Prajurit II A. Madjid, 54. Prajurit II Sudjono, 55. Prajurit II Supardi, 56. Prajurit II Darmo, 57. Prajurit II Sarta, 58. Prajurit II Suhada, 59. Prajurit II Moh. Saleh, 60. Prajurit II Sukardi, 61. Prajurit II Rukman Effendi.

Selain prajurit-prajurit tersebut di atas, masih ada 18 prajurit yang pada waktu itu belum diketahui nama-namanya karena mereka tidak mempunyai atau tidak membawa TANDA ANGGOTA/KARTU PENGENAL, sebab pada waktu diperiksa di kantong bajunya tidak ada. Jadi jumlah yang gugur di pagi hari tanggal 23 Januari 1950 para Anggota TNI/AD berjumlah 61 orang ditambah 18 yang namanya belum diketahui: Jumlah semua 79 orang. Jelaslah bahwa jumlah korban di kalangan TNI sungguh-sungguh besar.

Kalau di Sulawesi Selatan pihak yang berwajib sudah membuat tugu peringatan kekejaman Westerling, maka alangkah baiknya kalau pihak yang berwajib di Bandung juga membuat peringatan yang serupa. Sehingga tidak membuat kekecewaan bagi para keluarga yang ditinggalkan.

Sebagai bahan pelengkap, maka di bawah ini penulis akan membuat KOMUNIKE yang dikeluarkan oleh KEMENTERIAN PERTAHANAN yang sekarang namanya Departemen Pertahanan dan Keamanan, yang pada waktu itu dikeluarkan tanggal 24 Januari 1950, jadi satu hari setelah timbulnya peristiwa Westerling di Bandung. Adapun isi Komunike tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sebelum penyerahan kedaulatan, oleh pihak Republik Indonesia telah berkali-kali diminta perhatian pihak Belanda, baik perhatian wakil tinggi Mahkota maupun perhatian anggota Kabinet Belanda yang mengunjungi Indonesia, terhadap suatu gerakan di Jawa Barat yang dipimpin oleh orang-orang Belanda dan menurut keterangan-keterangan pada waktu itu disampaikan kepada pihak Belanda mempunyai pengaruh juga di kalangan Tentara Belanda.

2. Pihak Belanda tidak pernah mengambil tindakan, malah umum mengetahui bahwa gerakan itu semakin hari semakin kuat. Semuanya terjadi di bawah pimpinan orang-orang Belanda yang pada waktu pemerintahan Belanda formeel masih bertanggung jawab di negeri ini.

3. Sesudah penyerahan kedaulatan pertanggungan jawab terhadap keamanan di Indonesia terletak di tangan Pemerintah RIS tapi pertanggungan jawab terhadap tindakan-tindakan anggota-anggota KL. KNIL dll masih tetap di tangan Pemerintah Belanda.

4. Berdasarkan hal-hal yang tersebut di atas telah berkali-kali diminta perhatian Wakil Kerajaan Belanda dan Pimpinan Tentara Belanda di Indonesia terhadap gerakan-gerakan ilegal yang dipimpin oleh orang-orang Belanda di negeri ini. Terutama diminta perhatian terhadap kemungkinan bahwa anggota-anggota Tentara Belanda akan turut serta dalam gerakan ini. Dalam keterangan pemerintah telah dinyatakan kepercayaan bahwa anggota-anggota Tentara Belanda akan bertindak sesuai dengan pendirian pemerintah Belanda dan pimpinan Tentara Belanda.

5. Penempatan pasukan-pasukan RIS di Bandung didasarkan atas kepercayaan ini. Kejadian-kejadian yang menimbulkan banyak korban membuktikan bahwa kepercayaan ini terlalu optimistis.

6. Kejadian-kejadian di Bandung dengan singkat adalah sebagai berikut:

a. Pada tanggal 22 - 1 - '50 oleh Divisi Siliwangi diperoleh laporan bahwa pasukan-pasukan bersenjata di bawah pimpinan orang-orang Belanda Bolle van Beelden dan Vermeulen, keduanya anggota polisi yang menjalankan desersi, bergerak di sekitar Cililin. Pasukan itu sebagian besar terdiri dari anggota-anggota polisi yang menjalankan desersi dan anggota-anggota tentara Belanda dari kesatuan regiment Stoottroepen.

b. Pada tanggal 22 - 1 - '50 hal-hal ini terutama bahwa anggota-anggota Tentara Belanda turut serta dalam gerakan ini, diberitahukan kepada Chef Staf Divisi Belanda di Bandung. Antara lain diminta agar pasukan Belanda di Konsigneer.

c. Pada pukul 21.30 diberitahukan kepada Divisi Belanda di Bandung bahwa 2 seksi Regiment Stoattroepen memblokir jalan antara Cimahi - Padalarang.

d. Tanggal 23 - 1 - '50 jam 04.30 diterima laporan dari Divisi Belanda di Bandung bahwa pasukan-pasukan bersenjata, sebagian terdiri dari anggota-anggota Tentara Belanda, bergerak ke Bandung, dan bahwa 2 peleton bergerak ke Jakarta dengan memakai truk.

e. Tanggal 23 - 1 - '50 jam 04.30 telah mulai pertempuran di Cimahi dan selanjutnya di jalan Cimahi - Bandung. Pasukan-pasukan liar terdiri atas kurang lebih 800 orang dengan persenjataan lengkap dan modern dan mempergunakan juga alat-alat pengangkutan.

Setidak-tidaknya 300 orang di antaranya adalah terang anggota Tentara Belanda.

f. Pada pukul 08.00 diadakan perundingan antara Chef Staf Divisi Siliwangi dan Komandan Divisi Belanda di Bandung. Perundingan ini dihadiri oleh peninjau-peninjau 3 orang militer dari UNCI. Dalam perundingan ini pihak Belanda menerangkan: TIDAK DAPAT MENGADAKAN TINDAKAN-TINDAKAN TERHADAP ANGGOTA-ANGGOTA BELANDA YANG SEDANG MENGADAKAN PEMBERONTAKAN (muiterij).

g. Pasukan-pasukan TNI di kota tidak pernah memperhitungkan kemungkinan bahwa jumlah yang besar dari Tentara Belanda akan bersama-sama bertindak dengan pasukan liar, apalagi setelah keadaan di Jawa Barat telah berkali-kali dibicarakan dengan Wakil Pemerintah Belanda dan Pimpinan Tentara Belanda. Oleh sebab itu pasukan-pasukan TNI terperanjat apalagi setelah jelas bahwa pimpinan tentara Belanda tidak bersedia untuk mengambil tindakan terhadap anggota-anggota Tentara Belanda.

h. Keadaan sangat kacau oleh karena gerombolan liar dan pasukan Belanda yang tidak turut serta dengan gerakan ini, bersimpang siur.

Gerombolan bersenjata tersebut yang di antaranya banyak anggota Tentara Belanda, dengan tidak terganggu melalui posten Belanda dan tank-tank Belanda.

i. Setelah terjadi pertempuran-pertempuran maka pada kira-kira jam 11.00 terdapat keadaan yang agak tetap (statis).

j. Kira-kira pada waktu itu di Jakarta, bertempat di kantor Perdana Menteri R.I.S. diadakan perundingan antara Perdana Menteri RIS dan Komisaris Tinggi Kerajaan Belanda di Indonesia.

Berdasarkan hal yang diakui oleh pihak Belanda, anggota-anggota Tentara Belanda turut serta dalam gerakan ini, maka diputuskan untuk mengadakan tindakan bersama.

k. Pada pukul 12.00 General Engels menyampaikan usul dari gerombolan-gerombolan bersenjata kepada Letkol Erie Sudewo untuk mengadakan perundingan dengan TNI. Usul ini ditolak oleh Letkol Erie Sudewo.

l. Pukul 12.00 General van Langen tiba dari Jakarta. Tindakan-tindakan bersama yang telah disetujui antara Perdana Menteri RIS dan Komisaris Tinggi Belanda tidak dirundingkan.

m. Kira-kira jam 17.00 gerombolan-gerombolan bersenjata meninggalkan Kota Bandung ke arah utara.

n. Jam 18.00 keadaan biasa kembali di Bandung.

Selanjutnya dalam penutupnya, KOMUNIKE tersebut mengatakan, usaha untuk mengembalikan keadaan yang damai dan harmonis di Jawa Barat akan diteruskan dengan segala kemampuan yang ada pada alat-alat Negara.


Sumber: KORPRI, ca November 1980


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa: Pergerakan Wahidin Soedirohoesodo Beranjak dari Sebuah Desa Kecil

Oleh: Sudarto Wartawan Suara Karya Hari lahirnya Boedi Oetomo, tanggal 20 Mei 1908, yang kini ditetapkan menjadi Hari Kebangkitan Nasional, untuk ke-75 kalinya diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia tanggal 20 Mei lalu. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan, dan rasa terima kasih segenap bangsa Indonesia terhadap para pendiri Boedi Oetomo, yang telah mampu membangkitkan pergerakan bangsa Indonesia, hingga bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya, dan mengusir kaum penjajah dari bumi Nusantara. Sudah menjadi catatan sejarah, Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 1908 telah mampu menggerakkan pemuda Indonesia ke arah persatuan, dan kesatuan bangsa, hingga mereka tanggal 28 Oktober 1928 mencetuskan Sumpah Pemuda, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. Semangat Kebangkitan Nasional tidak hanya berhenti sampai di situ, sebab ia terus memancarkan sinarnya di dada setiap insan Indonesia, yang kemudian meledak menjadi api perjuangan merebut kemerdekaan, dan tanggal 17 Agustus 1945...

Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949: Pejuang Muslim Gigih Melawan

KEKAYAAN sumber daya alam Indonesia, khususnya di daerah Jawa Barat, menjadi sasaran utama pihak Belanda melalui Operasi Produk mulai 21 Juli yang dinyatakan berakhir 5 Agustus 1947. W ALAU Operasi Produk yang dilakukan pasukan Belanda berakhir pada 5 Agustus 1947 dengan dinyatakannya gencatan senjata Belanda dengan pihak Republik Indonesia, tapi perlawanan pihak pejuang di Jawa Barat terus dilakukan. Memasuki September 1947, pasukan Belanda terus melakukan aksi militer, terutama ke sejumlah pelosok di selatan Jawa Barat yang menjadi kantong-kantong perlawanan pihak Republik dan para pejuang Muslim, seperti di Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, dan Majalengka. Sejumlah bentrokan antara pasukan Belanda dengan pihak Indonesia terekam dalam arsip sejumlah surat kabar di Perpustakaan Nasional Australia, Trove. Dalam sejumlah arsip berita, perlawanan dari pihak Indonesia terhadap Belanda diberitakan dalam media terbitan September 1947. Surat kabar The West Au...

Jangan Lupakan Jasa Pahlawan: Peristiwa Lengkong 51 Tahun Lalu

DI pusat Kota Bandung ada Jalan Lengkong Besar dan Lengkong Kecil, juga ada Kecamatan Lengkong. Di Tangerang pun ada Desa Lengkong. Namun, barangkali sedikit sekali yang mengetahui apa Lengkong itu. Apalagi setelah Lengkong yang di Tangerang itu kini berubah menjadi Bumi Serpong Damai (BSD). Padahal, Lengkong mempunyai arti sejarah penting yang berkaitan erat dengan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hari ini, 51 tahun lalu, 37 perwira dan taruna dari Resimen dan Akademi Militer Tangerang gugur di Desa Lengkong ketika menjalankan tugas internasional kemanusiaan ( humanitarian ) yaitu memulangkan 36.000 warga negara Belanda tawanan Jepang di Indonesia serta pelucutan dan pemulangan 35.000 tentara Jepang. Lembaga yang bertanggung jawab adalah POPDA (Panitia Oeroesan Pemoelangan Djepang dan APWI). APWI adalah singkatan dari Allied Prisoners of War and Internees atau warga sekutu yang ditahan Jepang. Semula sekutu, atas desakan Belanda, ingin menangani sendiri tukar-menukar ta...

Pribumi

Oleh  M SUBHAN SD I stilah pribumi bersinonim dengan bumiputra, anak negeri, anak jajahan. Orang Belanda menyebutnya inlander, sebuah ejekan terhadap penduduk asli. Mulanya konsep demografis-hukum, yakni penggolongan penduduk dengan implikasi hukumnya. Pemerintah Belanda membagi dua golongan penduduk di Indonesia (Hindia Belanda). Pada 1848, seperti tercantum dalam Pasal 109 Regering Reglement (RR) dan juga pasal-pasal 6-10 Algemene Bepalingen van Wetgeving 1846, dua golongan itu adalah: 1) orang-orang Eropa dan orang-orang yang dipersamakan dengan mereka, 2) orang-orang bumiputra beserta orang-orang yang dipersamakan dengan mereka. Konsep ini memang diskriminatif. Belanda membagi penggolongan itu didasarkan perbedaan asal keturunan dan kebangsaan. Bukan atas kesetaraan di muka hukum. Tetapi, justru itulah yang menjadi landasan penerapan hukum kolonial terhadap kelompok-kelompok penduduk itu. Nah, akibatnya justru timbul perbedaan besar di antara kedua golongan itu mengenai keduduk...

Khidmat Sumpah Pemuda Kini: Apa Jawaban Pemuda Terhadap Pembangunan?

Oleh: Emmanuel Milala TERLIBAT ngobrol dengan tokoh-tokoh pemuda beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengajukan tese yang agak peka. Kata saya, bahwa jawaban pemuda terhadap pembangunan yang sedang berlangsung ini, masih terbatas politis. Itupun dalam konteks politik praktis. Artinya, bahwa di tengah kebergulatan untuk memperbaiki kondisi sosial-budaya kita dengan penggalakan pembangunan di semua sektor ini, ternyata rupanya yang menonjol dan ditangkap oleh radar kepemudaan terbatas pada yel-yelannya doang. Pemuda kita belum sampai pada penglihatan lebih dalam, misalnya sebagai agen dari perubahan, tampil sebagai inovator yang dapat diandalkan, misioner dalam melihat realitas baru bagi saudara-saudara tercinta yang di pedesaan dan seterusnya. Pokoknya, persepsi pembangunan yang ditangkap dan dimanifestasikan oleh orang muda di tanah air kita ini, bukan hal-hal yang esensial dan kemudian menjadi motor penggerak dalam perubahan pola hidup; tetapi selalu berhenti dengan kepuasan-kepuasa...

Etnisitas & Nasionalisme

Agus Mulyana Dekan FPIPS UPI G agasan tentang nasionalisme merupakan pemikiran yang menjadi dasar terhadap lahirnya suatu bangsa. Nasionalisme, sebagaimana dikatakan oleh Ernest Renan, adalah kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan. Sementara itu, menurut Hans Kohn, nasionalisme adalah suatu bentuk state of mind and an act of consciousness . Dengan demikian, keinginan untuk bersatu atas dasar kesadaran dan tidak ada paksaan terbentuk dalam pola pikir masyarakatnya. Terbentuknya kesadaraan ini biasanya karena memiliki pengalaman sejarah yang sama seperti yang terjadi di Indonesia. Bangsa Indonesia mengalami penjajahan sehingga membangkitkan kesadaran masyarakatnya melakukan perlawanan terhadap penjajah yang kemudian bersepakat membentuk negara yang merdeka atas dasar nasionalisme. Kesepakatan ini terwujud dengan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Kesadaran tentang nasionalisme dapat pula berakar dari rasa ke...

Mengamati Penggenerasian Pemuda Indonesia

Oleh : BABARI CSIS APA bila kita mengamati fakta-fakta sejarah mulai dari masa pergerakan nasional hingga saat ini dari segi generasi muda sebagai pelaku sejarah, maka terlihat tonggak-tonggak periodisasinya sebagai berikut: generasi muda 1908, 1928, 1945, dan 1966. Dalam sejarah kata generasi seringkali dipakai bersama-sama atau bergantian dengan kata angkatan yang salah satu kriteria penentunya adalah kesebayaan dalam usia dan kebersamaan dalam peranan sebagai pelaku sejarah pada masanya serta cita-cita bersama yang ingin dicapai. Dari tonggak-tonggak generasi itu terlihat bahwa rata-rata setiap 20 tahun bangsa Indonesia mengalami pergantian generasi. Apabila kenyataan itu tidak merupakan suatu kebetulan sejarah semata, maka dalam dasawarsa 80-an ini secara alamiah akan terjadi pergantian generasi. Setiap generasi memiliki nilai, tantangan, dan jawaban terhadap tantangan itu sendiri-sendiri. Nilai diartikan sebagai hal yang dianggap penting dan berharga baik secara individual ataupun...