Langsung ke konten utama

PERISTIWA WESTERLING 23 JANUARI 1950 DI BANDUNG

Oleh : Djamal Marsudi

Sejarah kekejaman Westerling sebetulnya sudah dimulai dari Sulawesi semenjak tahun 1945/1946, maka pada waktu Kahar Muzakar yang pada waktu itu menjadi orang Republiken, datang menghadap Presiden Soekarno di Yogyakarta, telah memberikan laporan bahwa korban yang jatuh akibat kekejaman yang dilakukan oleh Kapten Westerling di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 (empat puluh ribu jiwa manusia). Laporan tersebut di atas lalu diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam rangka upacara peringatan korban "WESTERLING" yang pertama kali pada tanggal 11 Desember 1949 di Yogyakarta, justru sedang dimulainya Konperensi Meja Bundar di Negeri Belanda. Berita "Kejutan" yang sangat "Mengejutkan" ini lalu menjadi gempar dan menarik perhatian dunia internasional.

Maka sebagai tradisi pada setiap tahun tanggal 11 Desember, masyarakat Indonesia dan Sulawesi khususnya mengadakan peringatan "KORBAN 40.000 JIWA PERISTIWA WESTERLING" di Sulawesi Selatan.

Tapi masyarakat sudah setengah lupa, apalagi generasi sekarang bahwa pada tanggal 23 Januari 1950, Kapten Westerling pernah mengganas pula di Kota Bandung sehingga puluhan anggota TNI dan masyarakat telah menjadi korban Westerling yang menamakan dirinya pimpinan tertinggi dari apa yang mereka namakan "Angkatan Perang Ratu Adil" (APRA) dan RAPI, yang anggota-anggotanya bekas serdadu KNIL dan KL yang tidak merasa senang kepada dirinya tidak dimasukkan ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS).

Peristiwa ini sudah 30 tahun yang lalu, maka jelas generasi sekarang sudah banyak yang tidak mengetahuinya, karena peristiwa 23 JANUARI tidak/jarang diperingati seperti halnya 11 DESEMBER. Maka alangkah baiknya dua peristiwa ini agar sekaligus "DIPERINGATI BERSAMA" antara Bandung dan Sulawesi, karena Bandung juga mengalami pengorbanan yang tidak kecil, malahan Letnal Kolonel Lembong yang asalnya dari Sulawesi Utara juga menjadi korban di Bandung akibat keganasan Westerling.

Untuk mengetahui secara lengkap timbulnya peristiwa Westerling yang mengganas di Kota Bandung, maka secara kronologis dan mendetail beserta fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, karena sesudah meletusnya peristiwa Westerling, penulis sebagai petugas Departemen Penerangan Yogyakarta, yang secara khusus dikirim ke Bandung atas perintah Menteri Penerangan RI Yogyakarta kala itu. Kisahnya adalah sebagai berikut:

Pada tanggal 23 Januari 1950 sekitar jam 09.00 pagi gerombolan Westerling yang memakai simbol APRA di bawah pimpinan Kapten Westerling dari Kota Cimahi yang letaknya di sebelah barat Bandung, melakukan gerakan menuju Kota Bandung. Mereka memakai truk, jeep, sepeda motor, dan ada pula yang berjalan kaki dengan pakaian seragam KNIL/KL serta senjata lengkap yang jumlahnya kurang lebih 500 orang.

Di sepanjang jalan antara Cimahi-Bandung mereka mengadakan steling di gang-gang sambil mengadakan penembakan ke atas secara membabi buta, adakalanya mereka mengadakan penembakan ke rumah-rumah yang sekitarnya dicurigai ada anggota-anggota TNI, demikian pula terhadap pos-pos polisi sepanjang jalan raya, seperti di Cimindi, Cibeureum, dan beberapa tempat lainnya sambil melucuti anggota-anggota polisi RI.

Setelah memasuki Kota Bandung, mereka membikin huru hara sehingga menimbulkan panik dan ketakutan masyarakat, karena setiap ada anggota TNI yang berpapasan terus ditembak mati. Akhirnya toko-toko dan rumah-rumah ditutup dan jalanan menjadi sunyi.

Di Jalan Banceuy dalam Kota Bandung, seorang anggota TNI yang sedang mengendarai jeep tanpa senjata, dihentikan lalu disuruh turun dan angkat tangan. Tanpa ampun lagi lalu ditembak di tempat. Jenazahnya ditinggalkan begitu saja lalu mereka jalan terus ....

Di Jalan Braga dekat Apotek Ratkamp, sebuah mobil sedan ditahan, tiga orang penumpangnya disuruh turun, seorang penumpang yang berpangkat Letnan I/TNI tanda pangkatnya diambil, orangnya disuruh berdiri di pinggir jalan lalu tanpa ampun terus ditembak mati.

Di depan Hotel Preanger sebuah truk berisi 3 orang anggota TNI ditembaki, truk terpelanting karena melanggar tiang listrik hingga tumbang dan truknya terguling. Semua penumpangnya terhampar dengan truknya yang bergelimpangan.

Di Jalan Merdeka terjadi tembak-menembak selama 15 menit, karena tidak seimbang, maka 10 anggota TNI tewas dalam pertempuran, yang lainnya dapat mengundurkan diri dengan selamat.

Di prapatan Jalan Suniaraja - Braga, 7 anggota TNI, ada yang tidak bersenjata yang sedang mengendarai truk, tanpa ampun lagi truknya diberondong dari samping dan belakang, semuanya penumpang tewas dan berhamburan di tengah dan pinggir jalan.

Pertempuran yang paling hebat adalah di Kantor Staf Kwartir Divisi Siliwangi yang waktu itu masih bernama Jalan Oude Hospital Weg. Satu regu pengawal TNI yang terdiri dari 15 orang dipimpin Letkol Sutoko dengan tiba-tiba diserbu dan dikerubut oleh ratusan gerombolan APRA. Pertempuran seru berlangsung kurang lebih satu jam lamanya, perlawanan dilakukan sampai kehabisan peluru, dari 15 orang anggota TNI/AD hanya 3 orang yang selamat. Setelah gerombolan APRA dapat menduduki Staf Kwartir mereka membongkar brankas dan uang sejumlah F 150.000,- dirampok.

Selain para anggota TNI yang telah menjadi korban, ada beberapa puluh di kalangan masyarakat yang menjadi korban karena peluru nyasar dan memang sengaja ditembak, sebab pada waktu anggota gerombolan menanyakan kepada rakyat: Pilih Yogya atau pilih Negara Pasundan? Maka mereka ada yang menjawab pilih Republik Yogya, dan ditembaklah orang yang memilih Yogya.

Sehubungan dengan adanya tindakan gerombolan APRA melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap orang yang memilih Republik Yogya, maka jelaslah bahwa tindakan APRA menyerbu Kota Bandung mempunyai latar belakang politik, agar negara boneka Pasundan terus berdiri dan memakai APRA sebagai "TENTARA RESMINYA". Setengah lagi orang berpendapat bahwa demonstrasi APRA mengadakan penjagalan terhadap anggota TNI mempunyai maksud agar mereka diakui dan dimasukkan ke dalam integrasi APRIS yang pernah dituntut oleh mereka, tapi setelah masuk APRIS mereka hanya mau tinggal di daerah Bandung untuk melindungi "Negara Pasundan". Jelas tuntutan mereka ditolak oleh Pemerintah RI.

Bagi kalangan umum di Kota Bandung pada waktu itu sangat sulit untuk membedakan mana tentara resmi dan mana gerombolan Westerling, karena pakaian seragamnya hampir bersamaan. Adapun yang menarik perhatian umum pada waktu itu ialah kendaraan-kendaraan bermotor dari KNIL dan KL diberi tanda "SEGI TIGA KUNING" yang sebelumnya tidak pernah ada. Jelaslah bahwa simbol tersebut adalah simbolnya gerombolan APRA.

Pada waktu kurang lebih 30 truk penuh berisi serdadu-serdadu berpakaian KNIL dan KL memasuki Kota Bandung, masyarakat menganggap soal yang biasa. Tapi setelah mereka memasuki Jalan Braga lalu mengadakan tembakan secara membabi buta, barulah rakyat sadar bahwa yang masuk kota adalah gerombolan, tapi gerombolan apa mereka belum jelas. Tapi setelah dilihat di baju lehernya bertuliskan APRA, barulah jelas bahwa gerombolan itu adalah APRA.

Tentang tewasnya Letkol Lembong dengan ajudannya, kisahnya adalah sebagai berikut: Waktu terdengar rentetan-rentetan tembakan dari gerombolan Westerling, mereka berdua masih di rumah. Lalu mereka berdua menuju ke Staf Kwartir dengan mobil dinasnya, tapi mereka tidak menyangka sama sekali bahwa di Staf Kwartir sudah diduduki oleh gerombolan. Pada waktu mobil sampai di halaman Staf Kwartir terus diberondong oleh senjata otomatis pihak gerombolan, akhirnya Lembong dan ajudannya tewas di dekat mobil, muka dan badannya hancur.

Menurut catatan penulis para anggota TNI yang tewas pada waktu itu di antaranya ialah:

1. Letkol Lembong A. G., 2. Mayor Ir. Djokosoetikno, 3. Mayor Sacharin, 4. Kapten Dudung, 5. Letnan I Dadi Surjatman, 6. Letnan I Seno Sain, 7. Letnan I R.M. Siegfried Susono, 8. Letnan I Leo Kailola (Ajudan Letkol Lembong), 9. Letnan II Affandi, 10. Letnan II R.A. Effendi, 11. Letnan II Suroso, .... 14. Letnan II Sanjoto Mangundiwirjo, 15. Letnan II R. Sudjono, 16. Letnan Muda Surhara, 17. Sersan Mayor Juana, 18. Sersan Mayor Surnapi, 19. Sersan Mayor Burhanuddin, 20. Sersan Endi, 21. Sersan Sutardjo, 22. Sersan Didi Kartapradja, 23. Sersan Harun, 24. Sersan Rachmat, 25. Kopral Karno, 26. Prajurit I Sadiat, 27. Prajurit I Mahinsatja, 28. Prajurit I Achiria, 29. Prajurit I Tatang Kandi, 30. Prajurit I Tatang Handi, 31. Prajurit I Sadikin, 32. Prajurit I Sukria, 33. Prajurit II Supardi, 34. Prajurit II Achmad, 35. Prajurit II Nunung Sutisna, 36. Prajurit II Hadna, 37. Prajurit II Djumario, 38. Prajurit II Lili, 39. Prajurit II Suleman, 40. Prajurit II Apandi, 41. Prajurit II Nana, 42. Prajurit II Tjitojo, 43. Prajurit II Nono, 44. Prajurit II Suardi, 45. Prajurit II Wonda, 46. Prajurit II Rukman, 47. Prajurit II Sunarso, 48. Prajurit II Didi, 49. Prajurit II Ako, 50. Prajurit II Hapid, 51. Prajurit II Endang Ajo, 52. Prajurit II A. Gani, 53. Prajurit II A. Madjid, 54. Prajurit II Sudjono, 55. Prajurit II Supardi, 56. Prajurit II Darmo, 57. Prajurit II Sarta, 58. Prajurit II Suhada, 59. Prajurit II Moh. Saleh, 60. Prajurit II Sukardi, 61. Prajurit II Rukman Effendi.

Selain prajurit-prajurit tersebut di atas, masih ada 18 prajurit yang pada waktu itu belum diketahui nama-namanya karena mereka tidak mempunyai atau tidak membawa TANDA ANGGOTA/KARTU PENGENAL, sebab pada waktu diperiksa di kantong bajunya tidak ada. Jadi jumlah yang gugur di pagi hari tanggal 23 Januari 1950 para Anggota TNI/AD berjumlah 61 orang ditambah 18 yang namanya belum diketahui: Jumlah semua 79 orang. Jelaslah bahwa jumlah korban di kalangan TNI sungguh-sungguh besar.

Kalau di Sulawesi Selatan pihak yang berwajib sudah membuat tugu peringatan kekejaman Westerling, maka alangkah baiknya kalau pihak yang berwajib di Bandung juga membuat peringatan yang serupa. Sehingga tidak membuat kekecewaan bagi para keluarga yang ditinggalkan.

Sebagai bahan pelengkap, maka di bawah ini penulis akan membuat KOMUNIKE yang dikeluarkan oleh KEMENTERIAN PERTAHANAN yang sekarang namanya Departemen Pertahanan dan Keamanan, yang pada waktu itu dikeluarkan tanggal 24 Januari 1950, jadi satu hari setelah timbulnya peristiwa Westerling di Bandung. Adapun isi Komunike tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sebelum penyerahan kedaulatan, oleh pihak Republik Indonesia telah berkali-kali diminta perhatian pihak Belanda, baik perhatian wakil tinggi Mahkota maupun perhatian anggota Kabinet Belanda yang mengunjungi Indonesia, terhadap suatu gerakan di Jawa Barat yang dipimpin oleh orang-orang Belanda dan menurut keterangan-keterangan pada waktu itu disampaikan kepada pihak Belanda mempunyai pengaruh juga di kalangan Tentara Belanda.

2. Pihak Belanda tidak pernah mengambil tindakan, malah umum mengetahui bahwa gerakan itu semakin hari semakin kuat. Semuanya terjadi di bawah pimpinan orang-orang Belanda yang pada waktu pemerintahan Belanda formeel masih bertanggung jawab di negeri ini.

3. Sesudah penyerahan kedaulatan pertanggungan jawab terhadap keamanan di Indonesia terletak di tangan Pemerintah RIS tapi pertanggungan jawab terhadap tindakan-tindakan anggota-anggota KL. KNIL dll masih tetap di tangan Pemerintah Belanda.

4. Berdasarkan hal-hal yang tersebut di atas telah berkali-kali diminta perhatian Wakil Kerajaan Belanda dan Pimpinan Tentara Belanda di Indonesia terhadap gerakan-gerakan ilegal yang dipimpin oleh orang-orang Belanda di negeri ini. Terutama diminta perhatian terhadap kemungkinan bahwa anggota-anggota Tentara Belanda akan turut serta dalam gerakan ini. Dalam keterangan pemerintah telah dinyatakan kepercayaan bahwa anggota-anggota Tentara Belanda akan bertindak sesuai dengan pendirian pemerintah Belanda dan pimpinan Tentara Belanda.

5. Penempatan pasukan-pasukan RIS di Bandung didasarkan atas kepercayaan ini. Kejadian-kejadian yang menimbulkan banyak korban membuktikan bahwa kepercayaan ini terlalu optimistis.

6. Kejadian-kejadian di Bandung dengan singkat adalah sebagai berikut:

a. Pada tanggal 22 - 1 - '50 oleh Divisi Siliwangi diperoleh laporan bahwa pasukan-pasukan bersenjata di bawah pimpinan orang-orang Belanda Bolle van Beelden dan Vermeulen, keduanya anggota polisi yang menjalankan desersi, bergerak di sekitar Cililin. Pasukan itu sebagian besar terdiri dari anggota-anggota polisi yang menjalankan desersi dan anggota-anggota tentara Belanda dari kesatuan regiment Stoottroepen.

b. Pada tanggal 22 - 1 - '50 hal-hal ini terutama bahwa anggota-anggota Tentara Belanda turut serta dalam gerakan ini, diberitahukan kepada Chef Staf Divisi Belanda di Bandung. Antara lain diminta agar pasukan Belanda di Konsigneer.

c. Pada pukul 21.30 diberitahukan kepada Divisi Belanda di Bandung bahwa 2 seksi Regiment Stoattroepen memblokir jalan antara Cimahi - Padalarang.

d. Tanggal 23 - 1 - '50 jam 04.30 diterima laporan dari Divisi Belanda di Bandung bahwa pasukan-pasukan bersenjata, sebagian terdiri dari anggota-anggota Tentara Belanda, bergerak ke Bandung, dan bahwa 2 peleton bergerak ke Jakarta dengan memakai truk.

e. Tanggal 23 - 1 - '50 jam 04.30 telah mulai pertempuran di Cimahi dan selanjutnya di jalan Cimahi - Bandung. Pasukan-pasukan liar terdiri atas kurang lebih 800 orang dengan persenjataan lengkap dan modern dan mempergunakan juga alat-alat pengangkutan.

Setidak-tidaknya 300 orang di antaranya adalah terang anggota Tentara Belanda.

f. Pada pukul 08.00 diadakan perundingan antara Chef Staf Divisi Siliwangi dan Komandan Divisi Belanda di Bandung. Perundingan ini dihadiri oleh peninjau-peninjau 3 orang militer dari UNCI. Dalam perundingan ini pihak Belanda menerangkan: TIDAK DAPAT MENGADAKAN TINDAKAN-TINDAKAN TERHADAP ANGGOTA-ANGGOTA BELANDA YANG SEDANG MENGADAKAN PEMBERONTAKAN (muiterij).

g. Pasukan-pasukan TNI di kota tidak pernah memperhitungkan kemungkinan bahwa jumlah yang besar dari Tentara Belanda akan bersama-sama bertindak dengan pasukan liar, apalagi setelah keadaan di Jawa Barat telah berkali-kali dibicarakan dengan Wakil Pemerintah Belanda dan Pimpinan Tentara Belanda. Oleh sebab itu pasukan-pasukan TNI terperanjat apalagi setelah jelas bahwa pimpinan tentara Belanda tidak bersedia untuk mengambil tindakan terhadap anggota-anggota Tentara Belanda.

h. Keadaan sangat kacau oleh karena gerombolan liar dan pasukan Belanda yang tidak turut serta dengan gerakan ini, bersimpang siur.

Gerombolan bersenjata tersebut yang di antaranya banyak anggota Tentara Belanda, dengan tidak terganggu melalui posten Belanda dan tank-tank Belanda.

i. Setelah terjadi pertempuran-pertempuran maka pada kira-kira jam 11.00 terdapat keadaan yang agak tetap (statis).

j. Kira-kira pada waktu itu di Jakarta, bertempat di kantor Perdana Menteri R.I.S. diadakan perundingan antara Perdana Menteri RIS dan Komisaris Tinggi Kerajaan Belanda di Indonesia.

Berdasarkan hal yang diakui oleh pihak Belanda, anggota-anggota Tentara Belanda turut serta dalam gerakan ini, maka diputuskan untuk mengadakan tindakan bersama.

k. Pada pukul 12.00 General Engels menyampaikan usul dari gerombolan-gerombolan bersenjata kepada Letkol Erie Sudewo untuk mengadakan perundingan dengan TNI. Usul ini ditolak oleh Letkol Erie Sudewo.

l. Pukul 12.00 General van Langen tiba dari Jakarta. Tindakan-tindakan bersama yang telah disetujui antara Perdana Menteri RIS dan Komisaris Tinggi Belanda tidak dirundingkan.

m. Kira-kira jam 17.00 gerombolan-gerombolan bersenjata meninggalkan Kota Bandung ke arah utara.

n. Jam 18.00 keadaan biasa kembali di Bandung.

Selanjutnya dalam penutupnya, KOMUNIKE tersebut mengatakan, usaha untuk mengembalikan keadaan yang damai dan harmonis di Jawa Barat akan diteruskan dengan segala kemampuan yang ada pada alat-alat Negara.


Sumber: KORPRI, ca November 1980


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Paderi di Sumatera Barat 1821 - 1838 (Bagian II - Habis)

Oleh : Syamsuar Said Periode 1831 - 1838 Pada tahun 1831 Perang Diponegoro di Jawa dapat dikatakan berakhir. Hal itu merupakan angin segar bagi Kompeni Belanda di Sumatera Barat, sebab mereka dapat melanjutkan usaha menaklukkan tanah Minangkabau. Pasukan bantuan didatangkan dari Jawa dan Gubernur Jenderal Van den Bosch lalu mengangkat Letkol. Ellout menjadi Residen merangkap Komandan Militer di sana. Untuk pertama kalinya Kompeni menyerang Naras pada tanggal 8 Juli 1831, hingga Tuanku nan Cerdik terpaksa mengosongkannya. Begitu pula VII Kota juga dikosongkan untuk kemudian mundur ke V Kota. Dalam serangan ini Mayor AV Michiels bertindak kejam. Keluarga Tuanku nan Cerdik yang tertangkap banyak yang dibunuh dengan semena-mena. Secara licik Belanda mengumumkan sayembara. Kepada mereka yang berhasil menyerahkan Tuanku nan Cerdik hidup-hidup akan diberi hadiah 1.000 gulden. Namun sayembara itu tidak mendapat tanggapan. Rakyat masih setia pada pemimpinnya sehingga perlawanan semakin berkobar...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api: Heroisme antara Tegallega dan Rel KA

TULANG  jemari terbungkus kulit keriput itu mencengkeram erat besi pegangan gerobak sampah. Bahunya yang tipis tampak melengkung, tertarik kuat tali pengikat gerobak. Langkah dan nafasnya terasa berat, menapaki Jl. Mohammad Toha, Tegallega, yang Sabtu sore kemarin (23/3), basah diguyur hujan. Beban sampah yang dibawanya, seakan tak sepadan dengan sosok tua yang kurus kering. Elan (60), sosok tua itu, sejenak memalingkan pandangannya pada sederet kata-kata dalam spanduk yang terpancang depan Markas Hubdam III/Siliwangi, "Markas Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi Tahun 1946 - Panitia BLA 1996", demikian bunyi tulisan itu. Kawasan Tegallega jika dibalik ke masa 1946, adalah sejarah heroik ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama ratusan ribu warga Bandung, mempertahankan kemerdekaan. Pada 21 Maret 1946, kawasan itu sempat dibombarder tentara Sekutu. Akan tetapi secara kebetulan, kedudukan Batalyon II TRI (Sumarsono) di sana, tengah memperkuat posisi perte...

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

Masjid Indonesia, Perkawinan Budaya yang Kaya Raya

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan  fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya DEMIKIANLAH penggalan bait pertama sajak Mencari Sebuah Mesjid yang ditulis penyair Taufik Ismail. Sajak yang keseluruhannya cukup panjang ini, dalam bentuknya yang besar ikut dipajang di salah satu pojok arena pameran Festival Istiqlal 1991. Setiap hari, banyaklah pengunjung yang ikut membacanya. Bahkan siswa-siswi SMP dan SMA rela duduk beralas karpet di hadapan sajak itu, untuk menyalinnya sampai habis. Tak salah jika dikatakan, "stand" sajak Taufik Ismail ini merupakan salah satu dari sekian banyak stand di arena pameran itu yang mendapatkan perhatian berlimpah dari pengunjung. Bait-bait sajak nan indah dan syahdu ini, seakan ingin memperlengkap koleksi benda-benda Islami yang dipamerkan pada pe...

Museum Sumpah Pemuda: Pernah Menjadi Hotel dan Toko Bunga

S uasana di gedung tua yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 itu nyaris hening. Meski di depannya, hilir mudik kendaraan yang melintasi Jalan Kramat Raya tak henti-hentinya mengeluarkan suara raungan. Keramaian di jalan utama ibu kota itu seakan tak mampu menghidupkan suasana dalam gedung. Padahal sekitar 73 tahun yang lalu, di gedung ini pernah terjadi kesibukan yang menjadi tonggak penting bagi berdirinya negara Indonesia. Di tempat inilah para pemuda dari berbagai daerah memekikkan perlunya satu nusa, satu bahasa, dan satu bangsa. Namun kini gedung yang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda (MSP) seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan bangsa Indonesia. Suasana hening dan sepi semakin meneguhkan gedung yang memiliki total luas 1.284 m2 ini sebagai bangunan bersejarah. Gedung tua ini memang sarat catatan sejarah. Sebelum diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda tahun 1971, gedung ini sempat mengalami pemugaran. Pemugaran ini ditanggung oleh pihak pemerintah DKI Jakarta dan diresmikan ...

Hamdan Zoelva Siap Pimpin Syarikat Islam

BANDUNG, (PR).- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva (53), dicalonkan sebagai ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam periode 2015-2020 dan diperkirakan akan melenggang dalam pemilihan yang akan digelar Kamis (26/11/2015) malam ini. Hamdan bertekad untuk menyatukan kembali kekuatan Syarikat Islam, memperbanyak kaderisasi, dan menggerakkan program umat terutama pemberdayaan ekonomi. "Insya Allah saya siap kalau diberi amanah menjadi ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam. Saya hanya berucap bismika tawwakkaltu Alalloh laa hawla walaa quwwata illa billaah ," kata Hamdan saat pelaksanaan Majelis Tahkim ke-40 Syarikat Islam di Hotel Grand Aquila, Jalan Dr Djundjunan, Kota Bandung, Rabu (25/11/2015). Ia didampingi Wakil Ketua DPW Syarikat Islam Jabar, Adam Anhari. Hamdan mengaku tak terlalu sibuk lagi setelah tidak mengomandani Mahkamah Konstitusi sehingga ingin mewakafkan sisa usianya. "Saya kini hanya menjadi dosen di Unpad, Unhas Makassar, Universitas Muh...

Kehidupan Politik di Kraton Kasunanan

S etelah tenggelam lebih setengah abad, terutama dalam kurun 30 tahun terakhir, kehidupan politik di Kraton Kasunanan Surakarta nampak mulai kembali berdetak. Zaman baru reformasi yang telah menyemaikan benih multi partai, ternyata mampu mengimbas pula masuk ke tembok kraton yang sebelumnya terkesan diam tak tersentuh perubahan. Belakangan, kebekuan tersebut sedikit mencair. Kraton tak lagi terasa sangat buram. Warna-warni baru mulai terlihat mekar.  Seperti sebuah simponi, apa yang kini sedang terjadi, barangkali, baru masuk pada babak interlude , belum sampai pada bagian akhir nada yang sesungguhnya. Meski demikian, yang kini terlantun sudah terdengar jauh berbeda, karena sebelumnya hanya tersedia sebuah irama pakem. Era itu--berjoget dalam gendang orang--memang sudah berlalu. Para kerabat Kasunanan, sekarang bebas menentukan arah dan pilihan hidupnya sendiri, termasuk dalam beraktivitas politik praktis.  Gejalanya, baru dimulai sekitar dua tahun lalu. Pada Pemilu 1997, Mas ...