Langsung ke konten utama

Surosowan, Istana Banten yang Dua Kali Dibakar

Nama istana ini diambil dari nama Sultan Banten pertama yaitu Maulana Hasanuddin. Sultan yang naik tahta tahun 1552 ini bergelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan. Tercatat 21 sultan Banten bertahta dan tinggal di dalamnya. Tercatat banyak renovasi yang dilakukan para sultan terhadap istana ini. Tercatat dua kali dibumihanguskan.

Ya, itulah Istana Surosowan. Istana kebanggaan Kesultanan Banten (berdiri tahun 1522 dan berakhir tahun 1820). Istana ini berdiri di atas tanah seluas 4 ha. Di sekelilingnya dibangun tembok kokoh dan parit yang bersambung dengan Sungai Cibanten.

Dahulu, rakyat berkegiatan di alun-alun di muka istana. Pasar, kesenian rakyat, dan segala kegiatan digelar di alun-alun. Bahkan Sultan secara rutin menjumpai rakyatnya di pekarangan istana.


DIBANGUN, DIBAKAR, DIBANGUN LAGI, DIBAKAR LAGI

Istana Surosowan merupakan saksi kemegahan dan kehancuran Kesultanan Banten. Tercatat dua kali istana ini dibumihanguskan.

Pembumihangusan yang pertama terjadi tahun 1680. Ketika itu Sultan Ageng Tirtayasa menentang VOC, sedangkan putra mahkota Banten justru bekerja sama dengan VOC. Perang saudara antara ayah dan anak tak terelakkan. VOC dengan senang hati membantu Sultan Haji, sang putra mahkota.

Setelah Sultan Ageng Tirtayasa kalah, Istana Surosowan kembali dibangun. Arsiteknya adalah Hendrik Lucasz Cardeel, orang Belanda yang memeluk agama Islam. Kejayaan Istana Surosowan kembali lagi. 

Tahun 1813, peristiwa bumi hangus terjadi lagi. Ketika itu Gubernur Jenderal Belanda, Herman Daendels sangat marah pada Sultan Rafiuddin. Sultan Banten ini menolak untuk mengirimkan 1.000 rakyatnya per hari untuk kerja paksa. Malahan utusan Gubernur Jenderal untuk menghadap Sultan dibunuh. Daendels kemudian memerintahkan untuk menghancurkan Istana Surosowan sampai rata dengan tanah.

Berakhirlah kisah Istana Surosowan. Puing-puingnya digunakan oleh Belanda untuk membangun gedung karesidenan di Serang. Diduga, banyak pula puing dan peninggalan Istana Surosowan yang digunakan masyarakat setempat untuk membangun masjid, rumah, dan lain-lain.


(pipit) - dari pelbagai sumber

 

Sumber: Bobo Edisi Detektif, Edisi Khusus III/2001  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arek-arek Soerobojo Hadang Sekutu

Mengungkap pertempuran bersejarah 10 Nopember 1945 sebagai mata rantai sejarah kemerdekaan Indonesia, pada hakekatnya peristiwa itu tidaklah berdiri sendiri. Ia merupakan titik klimaks dari rentetan insiden, peristiwa dan proses sejarah kebangkitan rakyat Jawa Timur untuk tetap melawan penjajah yang ingin mencoba mencengkeramkan kembali kukunya di wilayah Indonesia merdeka. Pertempuran 10 Nopember 1945--tidak saja merupakan sikap spontan rakyat Indonesia, khususnya Jawa Timur tetapi juga merupakan sikap tak mengenal menyerah untuk mempertahankan Ibu Pertiwi dari nafsu kolonialis, betapapun mereka memiliki kekuatan militer yang jauh lebih sempurna. Rentetan sejarah yang sudah mulai membakar suasana, sejak Proklamasi dikumandangkan oleh Proklamator Indonesia: Soekarno dan Hatta tgl 17 Agustus 1945. Rakyat Jawa Timur yang militan berusaha membangun daerahnya di bawah Gubernur I-nya: RMTA Soeryo. Pemboman Kota Hiroshima dan Nagasaki menjadikan bala tentara Jepang harus bertekuk lutut pada ...