Langsung ke konten utama

Para Raja di Aceh Pun Berkumpul

BANDA ACEH, KOMPAS -- Aceh dulu dikenal sebagai wilayah bekas kerajaan yang disusun oleh kerajaan-kerajaan kecil di dalamnya. Namun, setelah masa penjajahan Belanda, sejarah kerajaan itu nyaris lenyap dan dilupakan. Kondisi ini memantik keprihatinan para keturunan raja se-Aceh yang mengadakan pertemuan di Gedung Dinas Pariwisata Aceh, Selasa (26/2).

Pertemuan diprakarsai Teuku Zulkarnain, keturunan Raja Nagan, dan Teuku Saifullah, Pemangku Kerajaan Meurhom Daya ke-13. Hadir dalam pertemuan ini di antaranya keturunan Raja Pidie, Sulaiman, sejumlah keturunan Raja Nagan, Negeri Daya, Pasee, Peureulak, Aceh, Trumon, Tamiang, dan Linge.

Raja Pidie Sulaiman mengatakan, pertemuan para keturunan raja itu dilakukan untuk mengingat kembali sejarah Kerajaan Aceh. Sebab, sejarah tentang kerajaan mulai dilupakan masyarakat Aceh.

"Raja dulu adalah pejuang. Seperti halnya Panglima Polem. Dulu angkat senjata melawan penjajah. Namun, sekarang para raja ini dilupakan. Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai pahlawannya. Kami prihatin dengan hal ini di Aceh," kata Sulaiman.

Nasib keturunan para raja ini pun kini mengenaskan. Banyak yang tidak lagi memegang simbol adat. Eksistensi mereka secara formal dan nonformal kurang diakui. Padahal, para raja semestinya dapat jadi simbol budaya dan adat Aceh yang orisinal.

Ketua panitia pertemuan para raja se-Aceh, Teuku Marzuki, mengatakan, raja bukanlah orang dalam pemerintahan, melainkan orang yang diagungkan oleh masyarakat. "Yang dalam pemerintah itu meuntro (menteri). Raja bukan pemerintah," kata pria yang akrab disapa Ampon Nagan ini. Di Aceh, lajut dia, ada sembilan kerajaan. Di antara bekas kerajaan yang masih mempertahankan eksistensi trahnya adalah Pidie, keturunan raja dari Nagan, Negeri Daya, Pasee, Peureulak, Aceh, Trumo, Tamiang.

"Yang hadir hari ini tak semua keturunan raja. Ada juga perwakilan. Forum ini sebagai perkumpulan keturunan raja. Bukan politik," kata Marzuki. Di Aceh juga ada kesultanan yang bertugas mengatur seluruh raja-raja yang ada di Aceh. Sultan ini berada di Kutaraja Darussalam, atau sekarang Banda Aceh. (HAN)



Sumber: Kompas, 27 Februari 2013



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Arek-arek Soerobojo Hadang Sekutu

Mengungkap pertempuran bersejarah 10 Nopember 1945 sebagai mata rantai sejarah kemerdekaan Indonesia, pada hakekatnya peristiwa itu tidaklah berdiri sendiri. Ia merupakan titik klimaks dari rentetan insiden, peristiwa dan proses sejarah kebangkitan rakyat Jawa Timur untuk tetap melawan penjajah yang ingin mencoba mencengkeramkan kembali kukunya di wilayah Indonesia merdeka. Pertempuran 10 Nopember 1945--tidak saja merupakan sikap spontan rakyat Indonesia, khususnya Jawa Timur tetapi juga merupakan sikap tak mengenal menyerah untuk mempertahankan Ibu Pertiwi dari nafsu kolonialis, betapapun mereka memiliki kekuatan militer yang jauh lebih sempurna. Rentetan sejarah yang sudah mulai membakar suasana, sejak Proklamasi dikumandangkan oleh Proklamator Indonesia: Soekarno dan Hatta tgl 17 Agustus 1945. Rakyat Jawa Timur yang militan berusaha membangun daerahnya di bawah Gubernur I-nya: RMTA Soeryo. Pemboman Kota Hiroshima dan Nagasaki menjadikan bala tentara Jepang harus bertekuk lutut pada ...