Langsung ke konten utama

Mengungkap Kembali Tanggal 2 September 1945: Jenderal Douglas Mac Arthur Menerima Penyerahan Jepang di Atas Geladak Kapal USS Missouri

Oleh : Djamal Marsudi.

Pada hari Minggu tanggal 8 Desember 1941 Jepang telah memaklumkan perang terhadap Amerika Serikat dengan Sekutunya yang terdiri dari Inggeris, Hindia Belanda (yang menjadi Indonesia), Australia, waktu itu Philipina masih menjadi negeri jajahan Amerika Serikat. 

Walaupun Amerika Serikat telah membanggakan bentengnya yang tangguh di Corridor dan Bataan yang terletak di kepulauan Philipina, tapi nyatanya hanya 3 bulan saja pertahanan A.S. dapat disapu bersih oleh pasukan-pasukan Jepang yang terdiri dari angkatan-angkatan Darat, Laut dan Udara. Demikian pula jajahan Hindia Belanda yang ada di Indonesia dan jajahan Kerajaan Inggeris di Hongkong, Malaysia, dan Burma setali tiga uang yang nasibnya sama dengan Philipina.

Setelah kepulauan Philipina tidak dapat dipertahankan lagi oleh pasukan-pasukan A.S. yang di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur, akhirnya Jenderal Mac Arthur dengan sebagian pasukan-pasukannya yang terdiri dari putra-putra Philipina telah mengundurkan diri menuju ke jurusan Selatan, yang berpangkalan di Australia. Tapi sebelum meninggalkan Philipina Mac Arthur telah berpesan kepada rakyat Philipina dengan kata singkat: "Saya akan kembali."

Perang Pasifik yang berlangsung selama 3½ tahun, akhirnya dengan loncatan katak melalui Jaya Pura, Irian Jaya, dan Pulau Biak, Jenderal Douglas Mac Arthur dengan pasukan-pasukannya dapat mendarat kembali di Bataan Philipina untuk menepati janjinya kepada rakyat Philipina.

Pada tanggal 6 Agustus 1945 pesawat pembom raksasa B.29 telah menjatuhkan Bom Atom di Hiroshima, disusul kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945 di kota Nagasaki. Setelah kedua kota ini menjadi rata dengan tanah, akhirnya Kerajaan Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945.

Dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu (Baca: Amerika Serikat) maka pemerintah AS telah menunjuk Jenderal Douglas Mac Arthur menjadi Panglima Tertinggi Tentara Pendudukan Sekutu di Jepang, yang dalam bahasa asingnya: supreme Commander of Allied Powers for the Occupation of Japan, atau disingkat: (SCAP).

Ditunjuknya Douglas Mac Arthur menjadi SCAP, ia telah datang ke Jepang pada tanggal 28 Agustus 1945 langsung dari Bataan Philipina mendarat di lapangan terbang militer Atsugi Tokyo. Waktu ia turun di lapangan terbang Atsugi telah meninggalkan kesan yang mendalam kepada rakyat Jepang, yang mengetahui latar belakang pengetahuan Mac Arthur tentang Jepang. Dengan mengetahui latar belakang itulah yang kemudian ternyata telah memberikan pedoman kebijaksanaan kepada Jenderal Mac Arthur dalam meletakkan dasar-dasar politiknya untuk merehabilitasi Jepang sesudah kekalahannya dalam Perang Pasifik yang oleh fihak Jepang mengatakan "Perang Asia Timur Raya" dengan semboyannya "Asia untuk Bangsa Asia".

Siapakah Jenderal Douglas Mac Arthur yang merobah wajah fasisme Jepang menjadi negara Demokrasi?

Menurut catatan sejarah yang pernah didapat oleh penulis waktu bertugas ke Jepang seusai Perang Dunia II, Douglas Mac Arthur pada usia muda pernah mengikuti ayahnya berkunjung ke Tokyo, Jepang. Ayahnya waktu itu berpangkat Letnan Jenderal Arthur, Mac Arthur bertugas sebagai Pengamat Militer Amerika Serikat dalam perang Jepang-Uni Soviet (1904-1905) yang akhirnya kekalahan di fihak Uni Sovyet. Waktu itu romobongan ayahnya mengadakan perjalanan inspeksi di medan perang di kota Manchuria yang merupakan daratan Rusia/RRC. Douglas Mac Arthur telah berkesempatan untuk berjumpa dengan jenderal-jenderal Jepang yang tersohor, seperti Jenderal Ikuo Oyama, Jenderal Nogi, Jenderal Kodama dan lain-lainnya. Dengan adanya hubungan dengan jenderal-jenderal Jepang itulah kiranya meninggalkan kesan yang mendalam terhadap diri Douglas Mac Arthur.

Pemimpin-pemimpin militer bangsa Jepang harus mempunyai jiwa Bushido, demikian kata pimpinan militer Jepang kepada Mac Arthur di kala itu. Walaupun tentara Uni Sovyet merupakan musuh bagi orang Jepang, namun mereka harus diperlakukan dengan baik dan sopan dalam tawanan, karena mereka itu mengorbankan jiwa raganya untuk negaranya, seperti halnya tentara Jepang yang setia dan mau berkorban untuk negerinya.

Dengan adanya semangat Bushido yang merupakan tradisi bagi bangsa Jepang inilah yang menciptakan dan meninggalkan kesan yang mendalam pada jiwa Douglas Mac Arthur tatkala masih muda dalam kunjungannya ke negeri Matahari Terbit di waktu itu.

Suatu peristiwa yang mengesankan adalah, kalau perwira-perwira dan serdadu-serdadu Amerika Serikat yang mengawal semua bersenjata lengkap dan bermuka seram dan tegang waktu mendarat di lapangan terbang Atsugi. Tapi Jenderal Mac Arthur sendiri tidak bersenjata sama sekali. Padahal di Markas Besar Sekutu di Manila sebelumnya pernah dipertaruhkan apakah benar dan mungkin bahwa rakyat Jepang dapat berbalik 180 derajat dengan membuang sikap fanatiknya dan kebencian mereka dan menerima baik pemerintah Kaisarnya untuk menyerah kalah kepada Tentara Sekutu.

Walaupun memasuki daerah musuh di sekitar lapangan terbang Militer Atsugi dalam jarak jalan masih terdapat 10 Divisi tentara Jepang, Jenderal Mac Arthur tampak secara bebas dan tenang turun dari tangga pesawat terbang dengan pipa kesukaannya di tangan kanan. Sikap tersebut oleh rakyat Jepang ditafsirkan sebagai pantulan daripada kepercayaan Mac Arthur pada semangat Bushido Jepang itu dan bukannya suatu pertanda keberanian besar pada dirinya. Sikap Mac Arthur yang telah menempatkan kepercayaan pada dada seseorang seperti ungkapan peribahasa Jepang semenjak mendaratnya di Jepang.

Di dalam Sidang Mahkamah Militer Internasional di Tokyo, Jenderal Mac Arthur tampaknya juga tidak menunjukkan sebagai jenderal yang menang dalam perang, ia duduk secara tenang dan sopan seperti pengunjung-pengunjung yang lain dari kalangan sipil dan militer. Dalam suatu wawancara dengan pers, Mac Arthur mengatakan, bahwa pertanggung jawab di dalam suatu peperangan merupakan suatu masalah kontroversil yang sangat pelik. Orang-orang Jepang seperti halnya orang-orang Amerika mengorbankan jiwa raganya untuk membela negaranya. Kini orang Jepang harus mempertanggungjawabkan hal itu, hanya karena mereka kalah perang. Kalau kedudukan dibalikkan, maka orang-orang Amerikalah yang harus mempertanggungjawabkan kejahatan perang itu. Demikian kata Mac Arthur yang berkuasa di kota Jepang pada saat itu.

Menurut tinjauan penulis yang pernah bertugas ke negeri Jepang, untuk mengumpulkan data-data setelah Jepang menyerah, maka diangkatnya Jenderal Mac Arthur sebagai Panglima Tertinggi atau SCAP merupakan keuntungan besar bagi negara Jepang. Oleh masyarakat Jepang Mac Arthur dipandang sebagai Negarawan dan Prajurit Agung yang memahami tradisi negeri matahari terbit.

Sewaktu masyarakat Jepang dilanda putus asa dalam masa kebingungan sesudah kalah perang, Jenderal Mac Arthur telah memberikan dorongannya yang tidak kenal lelah, karena dia yakin bahwa bangsa Jepang yang mempunyai warisan kebudayaan tinggi tidak akan begitu saja menerima kekalahan perangnya itu, tetapi akan dapat bangkit kembali dan merehabilitir negaranya ke tingkat yang melebihi keadaan sebelum perang.

Di dalam pidato sesudah upacara penandatanganan dokumen penyerahan di atas geladak kapal perang USS: Missouri pada tanggal 2 September 1945 di Teluk Tokyo, jenderal Mac Arthur antara lain mengatakan: Tenaga bangsa Jepang bila dibimbing secara tepat, akan berkembang secara vertikal dan bukan horisontal. Bila bakat-bakat mereka itu diarahkan ke jurusan pembangunan produktif, maka negara ini akan dapat mengangkat dirinya sendiri dari keadaan hina ini ke suatu kedudukan yang terhormat. Jelaslah apa yang diucapkan oleh Mac Arthur itu sekarang menjadi kenyataan.

Mac Arthur pada waktu itu dapat meramalkan kemungkinan kerja sama Jepang-Amerika Serikat untuk memelihara perdamaian di Asia dan Dunia khususnya, tapi dengan syarat, Jepang harus direhabilitasi dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Meskipun dalam meletakkan politik bagi pemerintahan tentara pendudukan itu Mac Arthur tidak dapat luput dari kesalahan dan kekurangan-kekurangannya, namun dipandang oleh rakyat Jepang, kebaikan dan kebijaksanaannya itu melampaui kekurangannya.

Satu contoh lain lagi yang mengesankan adalah masalah persenjataan kembali negeri Jepang.

Almarhum John Foster Dulles dalam kedudukannya sebagai penasehat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah berkunjung ke Jepang pada tahun 1950. Dia dengan gigih menganjurkan persenjataan kembali Jepang sesuai dengan politik dan kondisi pada saat itu. Tapi usul ini tidak dapat diterima oleh Perdana Menteri Shigeru Yoshida atas dasar kesulitan-kesulitan keuangan pada waktu itu, tetapi lebih-lebih karena Yoshida khawatir akan reaksi rakyat Jepang yang baru saja mendapat pelajaran pahit dalam perang Pasifik di masa yang lalu.

Pada waktu tidak terdapat persepakatan mengenai masalah itu, mereka lalu membicarakannya dengan Mac Arthur. Meskipun Mac Arthur mengakui kepentingan usul Dulles itu namun sebaliknya dia menyampaikan saran agar Jepang sebaiknya mendayagunakan fasilitas-fasilitas industrinya yang menganggur pada waktu itu untuk memproduksi barang-barang yang diperlukan oleh negara-negara tetangganya yang ada di Asia. Karena dengan demikian itu, berarti Jepang dapat menyumbang lebih banyak bagi pemeliharaan perdamaian dunia daripada memiliki angkatan bersenjatanya sendiri. Dan sekarang telah menjadi kenyataan bahwa pendayagunaan fasilitas-fasilitas industri Jepang itu memang berhasil menciptakan suatu perekonomian dan perdagangan yang membuat negeri Matahari Terbit itu menjadi makmur, malahan melebihi sebelum pecahnya Perang Dunia II.

Memang ditinjau dari keadaan dewasa ini dapatlah difahami sebab apa rakyat Jepang merasa syukur bahwa SCAP dipegang oleh seorang Amerika Serikat dalam diri Jenderal Mac Arthur yang cukup memahami rakyat Jepang dan negaranya.

Contoh-contoh lain mengenai pengertian Mac Arthur tentang Jepang dapat dilihat lebih lanjut dengan beberapa keputusan-keputusan penting dan berani yang diambilnya demi kepentingan Jepang. Mac Arthur telah menolak usul Uni Sovyet untuk menuntut Kaisar Jepang ke hadapan Mahkamah Militer Internasional. Dan bertentangan dengan kehendak Uni Sovyet, Mac Arthur malahan mengijinkan pemeliharaan sistim pemerintahan kekaisaran yang dipandangnya penting sekali bagi usaha pembangunan kembali Jepang. Namun yang lebih penting lagi kiranya adalah penolakan Mac Arthur terhadap usul Uni Sovyet yang menghendaki pembagian wilayah penduduk Jepang oleh tentara Sekutu. Dapatkah kiranya diharapkan bahwa Jepang dapat dipersatukan dan dipulihkan kembali seperti keadaan sekarang ini bilamana usul Uni Sovyet itu diterima? Bukankah kiranya Jepang akan mengalami nasib yang serupa seperti Jerman, Vietnam, dan Korea bilamana usul itu diterima Mac Arthur? Adalah menjadi kenyataan, bahwa negara-negara yang dibagi menjadi dua hingga sekarang masih timbul kekacauan dan kekeruhan.

Mengenai Konstitusi Jepang yang baru (1946) memang ada berbagai tafsiran dan pandangan. Ada yang mengatakan Undang-Undang itu dibuat secara tergesa-gesa atas dasar instruksi Mac Arthur dan karena itu mengandung hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi Jepang. Memang banyak kaum cerdik pandai yang memiliki pandangan itu. Namun bilamana direnungkan kembali keadaan Jepang segera sesudah kalah perang, tanpa adanya petunjuk dan jaminan bagi usaha pendemokrasian yang direncanakan dan usaha pemeliharaan sistem pemerintahan kekaisaran ataupun usaha ke arah pembuatan suatu perjanjian perdamaian, akan jelaslah kiranya bagi umum kebenaran politik Mac Arthur untuk mempersembahkan suatu rancangan Konstitusi baru kepada rakyat Jepang dalam usaha pendemokrasian kembali negara itu.

Usaha pembaharuan negara dengan jalan penggantian konstitusi seperti itu yang laizmnya memerlukan puluhan tahun ternyata harus dijalankan dalam waktu singkat saja. Dari itu, sudah pasti mem- ... dengan keadaan yang sudah berobah. Meskipun demikian, gagasan-gagasan azasi maupun itikad baik Mac Arthur ternyata dapat dinikmati oleh rakyat Jepang hingga kini.

Untuk jasa-jasanya yang tidak dapat diperinci dan kiranya tidak dapat dilupakan oleh rakyat Jepang itu, almarhum PM Shigeru Yoshida pernah mengusulkan kepada PM Hayato Ikeda (almarhum) pada awal tahun 1964 untuk mengundang Mac Arthur ke Jepang. Namun sayang sekali karena kemunduran kesehatan dan kematiannya kemudian hal itu tidak dapat diwujudkan, meskipun Mac Arthur sendiri sangat ingin melihat kembali Jepang yang sudah maju dan pulih kembali seperti yang pernah diramalkan sebelumnya.

Di dalam sambutan untuk buku tentang Mac Arthur karangan wartawan perang kawakan Frazier Hunt, The Untold Story of Douglas Mac Arthur, PM Shigeru Yoshida dengan tepat mengungkapkan jasa-jasa Mac Arthur sebagai berikut: "Saya tidak dapat melupakan sukses-sukses besar sang Jenderal dalam membangun kembali negara kami dari puing-puing kehancuran akibat kekalahan perang. Dari suasana kekurangan bahan makanan, suasana kacau di bidang politik, ekonomi, dan sosial, dan dari suasana kekisruhan hati manusia, Mac Arthur telah meletakkan dasar-dasar bagi suatu Jepang baru yang menjadi sumber daripada kemakmuran negara kami dewasa ini."

Dan seorang tokoh politik Jepang yang pernah menjadi anggota parlemen, Menteri Negara, menteri Luar Negeri, dan Dutabesar untuk PBB pernah mengatakan bahwa dalam sejarah Jepang yang lk. 2000 tahun usianya itu, kiranya belum pernah ada seorang asing yang meninggalkan kesan yang mendalam seperti halnya Mac Arthur.



Sumber: KORPRI, Tanpa tanggal



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan Bukan Tujuan, Hanya Jembatan Memperbaiki Nasib Bangsa

Oleh Mochtar Lubis PELURU mortir mengoyak udara dan daging serta tulang-tulang manusia. Peluru senapan mesin dan senapan berdesing-desing membelah udara. Kereta api yang saya tumpangi dan telah dekat ke jembatan besar di atas Kali Bekasi disuruh mundur, ketika tembak-menembak antara pasukan-pasukan RI (pasukan resmi maupun pasukan pejuang rakyat) dengan pasukan Belanda di seberang kali bertambah sengit.  Saya turun dari kereta api hendak melihat jalan pertempuran dari dekat. Ini hanya sebuah dari sekian banyak insiden tembak-menembak antara pasukan kolonial Belanda dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dan tiap kali jatuhlah korban di kedua belah pihak. Suatu waktu yang lain, di tempat yang sama, rombongan orang-orang Republik Indonesia yang menuju ke Yogyakarta, setelah melewati jembatan Kali Bekasi, dihentikan oleh sebuah pasukan RI. Mereka bertanya apakah dalam kereta api ada dokter. Kebetulan ada dokter Subandrio (yang di kala itu menjabat sekretaris jenderal Departemen Peneran...

Komunitas Arab di Pekojan dan Krukut: Dari Mayoritas Menjadi Minoritas

M asjid itu masih tampak kokoh sekalipun usianya telah hampir dua setengah abad. Hanya di bagian atas menaranya yang menjulang tinggi sedikit berlumut dimakan usia. Di bagian dalamnya yang luas dan sejuk di tengah-tengah perkampungan yang gersang dan panas, terhampar permadani warna-warni buatan Persia. Siang itu sekitar 100 orang--kebanyakan berkopiah putih--tengah menunaikan salat dzuhur berjamaah dipimpin imam H. Achmad Basarah (81). Imam Basarah adalah keturunan keluarga Arab yang sudah tinggal di daerah itu sejak beberapa generasi lalu. Masjid Annawir yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah itu dikenal juga dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibangun tahun 1760 Masehi atau 1180 Hijriah. Saat ini Masjid Annawir Pekojan adalah masjid terbesar di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang mayoritas penduduknya keturunan Cina. Sekitar empat kilometer sebelah selatan Kelurahan Pekojan, terdapat Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Di kelurahan sini be...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Tank Rampasan dan Gerbong Maut, Saksi-saksi Sejarah

M useum Brawijaya yang terletak di Jalan Ijen, Malang, merupakan tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda yang memiliki nilai-nilai sejarah erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan RI. Inilah museum yang membangkitkan semangat seperti sesantinya "Citra Utthapana Cakra". Dalam bahasa Sanskerta, Citra berarti sinar. Utthapana berarti membangun, menggairahkan, atau membangkitkan, dan Cakra berarti semangat, daya, atau kekuatan. Dengan luas bangunan 3.300 m2, museum ini mengkoleksi benda-benda bersejarah dari tahun 1945 sampai dengan sekarang yang merupakan bukti nyata perjuangan TNI-AD khususnya dan ABRI pada umumya dalam menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan RI. Koleksi museum dipamerkan pada dua bagian. Di ruang dalam museum, sebagian besar berupa benda-benda yang pernah punya andil besar dalam merebut dan mempertahankan Tanah Air, serta sejumlah barang bersejarah lainnya. Seperti senapan mesin ringan, mortir, serta alat-alat komunikasi model kuno. Sedangka...

Hari Pahlawan: MENGENANG 10 NOPEMBER 1945

Majalah Inggeris "Army Quarterly" yang terbit pada tanggal 30 Januari 1948 telah memuat tulisan seorang Mayor Inggeris bernama R. B. Houston dari kesatuan "10 th Gurkha Raffles", yang ikut serta dalam pertempuran di Indonesia sekitar tahun 1945/1946. Selain tentang bentrokan senjata antara kita dengan pihak Tentara Inggeris, Jepang dan Belanda di sekitar kota Jakarta, di Semarang, Ambarawa, Magelang dan lain-lain lagi. Maka Mayor R. B. Houston menulis juga tentang pertempuran-pertempuran yang telah berlangsung di Surabaya. Perlu kita ingatkan kembali, maka perlu dikemukakan di sini, bahwa telah terjadi dua kali pertempuran antara Tentara Inggeris dan Rakyat Surabaya. Yang pertama selama 3 malam dan dua hari, yaitu kurang lebih 60 jam lamanya dimulai pada tanggal 28 Oktober 1945 sore, dan dihentikan pada tanggal 30 Oktober 1945 jauh di tengah malam. Dan yang kedua dimulai pada tanggal 10 Nopember 1945 pagi sampai permulaan bulan Desember 1945, jadi lebih dari 21 har...

Bagaimana Wali Mengislamkan Nusantara?

Sebuah seminar unik, akhir pekan lalu, berlangsung di Surabaya. Temanya Sejarah Perjuangan Sunan Drajat dalam Jaringan Penyebaran Islam di Nusantara. Pembukaan seminar ilmiah ini dibuka dengan tari, gamelan, dan Dandang Gulo  dan Piwulang . "Ini seminar yang gayeng  (semarak, red)," ujar seorang peserta dari Jakarta. Panitia yang dimotori Bupati Lamongan HM Faried SH, tampaknya merancang pertemuan para pakar dan ulama dengan dua pendekatan, budaya dan ilmiah. Suasana itu membuat Gubernur Jatim Basofi Sudirman dan Dr Roeslan Abdulgani turut melantunkan Dandang Gulo dan Piwulang (ajaran), yang berisi wejangan dari Sunan Drajat. Tari Sekar Giri dan Kenduran  diiringi tembang Tombo Ati  dan Lir Ilir  membikin suasana kian semarak. Penyair asal Madura, D. Zawawi Imran, lantas membaca puisinya, Episode Gelombang , bertutur tentang kiprah para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Toh, pengantar yang 'meriah' tak membuat acara tersebut keh...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...