Langsung ke konten utama

Mengungkap Kembali Tanggal 2 September 1945: Jenderal Douglas Mac Arthur Menerima Penyerahan Jepang di Atas Geladak Kapal USS Missouri

Oleh : Djamal Marsudi.

Pada hari Minggu tanggal 8 Desember 1941 Jepang telah memaklumkan perang terhadap Amerika Serikat dengan Sekutunya yang terdiri dari Inggeris, Hindia Belanda (yang menjadi Indonesia), Australia, waktu itu Philipina masih menjadi negeri jajahan Amerika Serikat. 

Walaupun Amerika Serikat telah membanggakan bentengnya yang tangguh di Corridor dan Bataan yang terletak di kepulauan Philipina, tapi nyatanya hanya 3 bulan saja pertahanan A.S. dapat disapu bersih oleh pasukan-pasukan Jepang yang terdiri dari angkatan-angkatan Darat, Laut dan Udara. Demikian pula jajahan Hindia Belanda yang ada di Indonesia dan jajahan Kerajaan Inggeris di Hongkong, Malaysia, dan Burma setali tiga uang yang nasibnya sama dengan Philipina.

Setelah kepulauan Philipina tidak dapat dipertahankan lagi oleh pasukan-pasukan A.S. yang di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur, akhirnya Jenderal Mac Arthur dengan sebagian pasukan-pasukannya yang terdiri dari putra-putra Philipina telah mengundurkan diri menuju ke jurusan Selatan, yang berpangkalan di Australia. Tapi sebelum meninggalkan Philipina Mac Arthur telah berpesan kepada rakyat Philipina dengan kata singkat: "Saya akan kembali."

Perang Pasifik yang berlangsung selama 3½ tahun, akhirnya dengan loncatan katak melalui Jaya Pura, Irian Jaya, dan Pulau Biak, Jenderal Douglas Mac Arthur dengan pasukan-pasukannya dapat mendarat kembali di Bataan Philipina untuk menepati janjinya kepada rakyat Philipina.

Pada tanggal 6 Agustus 1945 pesawat pembom raksasa B.29 telah menjatuhkan Bom Atom di Hiroshima, disusul kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945 di kota Nagasaki. Setelah kedua kota ini menjadi rata dengan tanah, akhirnya Kerajaan Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945.

Dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu (Baca: Amerika Serikat) maka pemerintah AS telah menunjuk Jenderal Douglas Mac Arthur menjadi Panglima Tertinggi Tentara Pendudukan Sekutu di Jepang, yang dalam bahasa asingnya: supreme Commander of Allied Powers for the Occupation of Japan, atau disingkat: (SCAP).

Ditunjuknya Douglas Mac Arthur menjadi SCAP, ia telah datang ke Jepang pada tanggal 28 Agustus 1945 langsung dari Bataan Philipina mendarat di lapangan terbang militer Atsugi Tokyo. Waktu ia turun di lapangan terbang Atsugi telah meninggalkan kesan yang mendalam kepada rakyat Jepang, yang mengetahui latar belakang pengetahuan Mac Arthur tentang Jepang. Dengan mengetahui latar belakang itulah yang kemudian ternyata telah memberikan pedoman kebijaksanaan kepada Jenderal Mac Arthur dalam meletakkan dasar-dasar politiknya untuk merehabilitasi Jepang sesudah kekalahannya dalam Perang Pasifik yang oleh fihak Jepang mengatakan "Perang Asia Timur Raya" dengan semboyannya "Asia untuk Bangsa Asia".

Siapakah Jenderal Douglas Mac Arthur yang merobah wajah fasisme Jepang menjadi negara Demokrasi?

Menurut catatan sejarah yang pernah didapat oleh penulis waktu bertugas ke Jepang seusai Perang Dunia II, Douglas Mac Arthur pada usia muda pernah mengikuti ayahnya berkunjung ke Tokyo, Jepang. Ayahnya waktu itu berpangkat Letnan Jenderal Arthur, Mac Arthur bertugas sebagai Pengamat Militer Amerika Serikat dalam perang Jepang-Uni Soviet (1904-1905) yang akhirnya kekalahan di fihak Uni Sovyet. Waktu itu romobongan ayahnya mengadakan perjalanan inspeksi di medan perang di kota Manchuria yang merupakan daratan Rusia/RRC. Douglas Mac Arthur telah berkesempatan untuk berjumpa dengan jenderal-jenderal Jepang yang tersohor, seperti Jenderal Ikuo Oyama, Jenderal Nogi, Jenderal Kodama dan lain-lainnya. Dengan adanya hubungan dengan jenderal-jenderal Jepang itulah kiranya meninggalkan kesan yang mendalam terhadap diri Douglas Mac Arthur.

Pemimpin-pemimpin militer bangsa Jepang harus mempunyai jiwa Bushido, demikian kata pimpinan militer Jepang kepada Mac Arthur di kala itu. Walaupun tentara Uni Sovyet merupakan musuh bagi orang Jepang, namun mereka harus diperlakukan dengan baik dan sopan dalam tawanan, karena mereka itu mengorbankan jiwa raganya untuk negaranya, seperti halnya tentara Jepang yang setia dan mau berkorban untuk negerinya.

Dengan adanya semangat Bushido yang merupakan tradisi bagi bangsa Jepang inilah yang menciptakan dan meninggalkan kesan yang mendalam pada jiwa Douglas Mac Arthur tatkala masih muda dalam kunjungannya ke negeri Matahari Terbit di waktu itu.

Suatu peristiwa yang mengesankan adalah, kalau perwira-perwira dan serdadu-serdadu Amerika Serikat yang mengawal semua bersenjata lengkap dan bermuka seram dan tegang waktu mendarat di lapangan terbang Atsugi. Tapi Jenderal Mac Arthur sendiri tidak bersenjata sama sekali. Padahal di Markas Besar Sekutu di Manila sebelumnya pernah dipertaruhkan apakah benar dan mungkin bahwa rakyat Jepang dapat berbalik 180 derajat dengan membuang sikap fanatiknya dan kebencian mereka dan menerima baik pemerintah Kaisarnya untuk menyerah kalah kepada Tentara Sekutu.

Walaupun memasuki daerah musuh di sekitar lapangan terbang Militer Atsugi dalam jarak jalan masih terdapat 10 Divisi tentara Jepang, Jenderal Mac Arthur tampak secara bebas dan tenang turun dari tangga pesawat terbang dengan pipa kesukaannya di tangan kanan. Sikap tersebut oleh rakyat Jepang ditafsirkan sebagai pantulan daripada kepercayaan Mac Arthur pada semangat Bushido Jepang itu dan bukannya suatu pertanda keberanian besar pada dirinya. Sikap Mac Arthur yang telah menempatkan kepercayaan pada dada seseorang seperti ungkapan peribahasa Jepang semenjak mendaratnya di Jepang.

Di dalam Sidang Mahkamah Militer Internasional di Tokyo, Jenderal Mac Arthur tampaknya juga tidak menunjukkan sebagai jenderal yang menang dalam perang, ia duduk secara tenang dan sopan seperti pengunjung-pengunjung yang lain dari kalangan sipil dan militer. Dalam suatu wawancara dengan pers, Mac Arthur mengatakan, bahwa pertanggung jawab di dalam suatu peperangan merupakan suatu masalah kontroversil yang sangat pelik. Orang-orang Jepang seperti halnya orang-orang Amerika mengorbankan jiwa raganya untuk membela negaranya. Kini orang Jepang harus mempertanggungjawabkan hal itu, hanya karena mereka kalah perang. Kalau kedudukan dibalikkan, maka orang-orang Amerikalah yang harus mempertanggungjawabkan kejahatan perang itu. Demikian kata Mac Arthur yang berkuasa di kota Jepang pada saat itu.

Menurut tinjauan penulis yang pernah bertugas ke negeri Jepang, untuk mengumpulkan data-data setelah Jepang menyerah, maka diangkatnya Jenderal Mac Arthur sebagai Panglima Tertinggi atau SCAP merupakan keuntungan besar bagi negara Jepang. Oleh masyarakat Jepang Mac Arthur dipandang sebagai Negarawan dan Prajurit Agung yang memahami tradisi negeri matahari terbit.

Sewaktu masyarakat Jepang dilanda putus asa dalam masa kebingungan sesudah kalah perang, Jenderal Mac Arthur telah memberikan dorongannya yang tidak kenal lelah, karena dia yakin bahwa bangsa Jepang yang mempunyai warisan kebudayaan tinggi tidak akan begitu saja menerima kekalahan perangnya itu, tetapi akan dapat bangkit kembali dan merehabilitir negaranya ke tingkat yang melebihi keadaan sebelum perang.

Di dalam pidato sesudah upacara penandatanganan dokumen penyerahan di atas geladak kapal perang USS: Missouri pada tanggal 2 September 1945 di Teluk Tokyo, jenderal Mac Arthur antara lain mengatakan: Tenaga bangsa Jepang bila dibimbing secara tepat, akan berkembang secara vertikal dan bukan horisontal. Bila bakat-bakat mereka itu diarahkan ke jurusan pembangunan produktif, maka negara ini akan dapat mengangkat dirinya sendiri dari keadaan hina ini ke suatu kedudukan yang terhormat. Jelaslah apa yang diucapkan oleh Mac Arthur itu sekarang menjadi kenyataan.

Mac Arthur pada waktu itu dapat meramalkan kemungkinan kerja sama Jepang-Amerika Serikat untuk memelihara perdamaian di Asia dan Dunia khususnya, tapi dengan syarat, Jepang harus direhabilitasi dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Meskipun dalam meletakkan politik bagi pemerintahan tentara pendudukan itu Mac Arthur tidak dapat luput dari kesalahan dan kekurangan-kekurangannya, namun dipandang oleh rakyat Jepang, kebaikan dan kebijaksanaannya itu melampaui kekurangannya.

Satu contoh lain lagi yang mengesankan adalah masalah persenjataan kembali negeri Jepang.

Almarhum John Foster Dulles dalam kedudukannya sebagai penasehat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah berkunjung ke Jepang pada tahun 1950. Dia dengan gigih menganjurkan persenjataan kembali Jepang sesuai dengan politik dan kondisi pada saat itu. Tapi usul ini tidak dapat diterima oleh Perdana Menteri Shigeru Yoshida atas dasar kesulitan-kesulitan keuangan pada waktu itu, tetapi lebih-lebih karena Yoshida khawatir akan reaksi rakyat Jepang yang baru saja mendapat pelajaran pahit dalam perang Pasifik di masa yang lalu.

Pada waktu tidak terdapat persepakatan mengenai masalah itu, mereka lalu membicarakannya dengan Mac Arthur. Meskipun Mac Arthur mengakui kepentingan usul Dulles itu namun sebaliknya dia menyampaikan saran agar Jepang sebaiknya mendayagunakan fasilitas-fasilitas industrinya yang menganggur pada waktu itu untuk memproduksi barang-barang yang diperlukan oleh negara-negara tetangganya yang ada di Asia. Karena dengan demikian itu, berarti Jepang dapat menyumbang lebih banyak bagi pemeliharaan perdamaian dunia daripada memiliki angkatan bersenjatanya sendiri. Dan sekarang telah menjadi kenyataan bahwa pendayagunaan fasilitas-fasilitas industri Jepang itu memang berhasil menciptakan suatu perekonomian dan perdagangan yang membuat negeri Matahari Terbit itu menjadi makmur, malahan melebihi sebelum pecahnya Perang Dunia II.

Memang ditinjau dari keadaan dewasa ini dapatlah difahami sebab apa rakyat Jepang merasa syukur bahwa SCAP dipegang oleh seorang Amerika Serikat dalam diri Jenderal Mac Arthur yang cukup memahami rakyat Jepang dan negaranya.

Contoh-contoh lain mengenai pengertian Mac Arthur tentang Jepang dapat dilihat lebih lanjut dengan beberapa keputusan-keputusan penting dan berani yang diambilnya demi kepentingan Jepang. Mac Arthur telah menolak usul Uni Sovyet untuk menuntut Kaisar Jepang ke hadapan Mahkamah Militer Internasional. Dan bertentangan dengan kehendak Uni Sovyet, Mac Arthur malahan mengijinkan pemeliharaan sistim pemerintahan kekaisaran yang dipandangnya penting sekali bagi usaha pembangunan kembali Jepang. Namun yang lebih penting lagi kiranya adalah penolakan Mac Arthur terhadap usul Uni Sovyet yang menghendaki pembagian wilayah penduduk Jepang oleh tentara Sekutu. Dapatkah kiranya diharapkan bahwa Jepang dapat dipersatukan dan dipulihkan kembali seperti keadaan sekarang ini bilamana usul Uni Sovyet itu diterima? Bukankah kiranya Jepang akan mengalami nasib yang serupa seperti Jerman, Vietnam, dan Korea bilamana usul itu diterima Mac Arthur? Adalah menjadi kenyataan, bahwa negara-negara yang dibagi menjadi dua hingga sekarang masih timbul kekacauan dan kekeruhan.

Mengenai Konstitusi Jepang yang baru (1946) memang ada berbagai tafsiran dan pandangan. Ada yang mengatakan Undang-Undang itu dibuat secara tergesa-gesa atas dasar instruksi Mac Arthur dan karena itu mengandung hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi Jepang. Memang banyak kaum cerdik pandai yang memiliki pandangan itu. Namun bilamana direnungkan kembali keadaan Jepang segera sesudah kalah perang, tanpa adanya petunjuk dan jaminan bagi usaha pendemokrasian yang direncanakan dan usaha pemeliharaan sistem pemerintahan kekaisaran ataupun usaha ke arah pembuatan suatu perjanjian perdamaian, akan jelaslah kiranya bagi umum kebenaran politik Mac Arthur untuk mempersembahkan suatu rancangan Konstitusi baru kepada rakyat Jepang dalam usaha pendemokrasian kembali negara itu.

Usaha pembaharuan negara dengan jalan penggantian konstitusi seperti itu yang laizmnya memerlukan puluhan tahun ternyata harus dijalankan dalam waktu singkat saja. Dari itu, sudah pasti mem- ... dengan keadaan yang sudah berobah. Meskipun demikian, gagasan-gagasan azasi maupun itikad baik Mac Arthur ternyata dapat dinikmati oleh rakyat Jepang hingga kini.

Untuk jasa-jasanya yang tidak dapat diperinci dan kiranya tidak dapat dilupakan oleh rakyat Jepang itu, almarhum PM Shigeru Yoshida pernah mengusulkan kepada PM Hayato Ikeda (almarhum) pada awal tahun 1964 untuk mengundang Mac Arthur ke Jepang. Namun sayang sekali karena kemunduran kesehatan dan kematiannya kemudian hal itu tidak dapat diwujudkan, meskipun Mac Arthur sendiri sangat ingin melihat kembali Jepang yang sudah maju dan pulih kembali seperti yang pernah diramalkan sebelumnya.

Di dalam sambutan untuk buku tentang Mac Arthur karangan wartawan perang kawakan Frazier Hunt, The Untold Story of Douglas Mac Arthur, PM Shigeru Yoshida dengan tepat mengungkapkan jasa-jasa Mac Arthur sebagai berikut: "Saya tidak dapat melupakan sukses-sukses besar sang Jenderal dalam membangun kembali negara kami dari puing-puing kehancuran akibat kekalahan perang. Dari suasana kekurangan bahan makanan, suasana kacau di bidang politik, ekonomi, dan sosial, dan dari suasana kekisruhan hati manusia, Mac Arthur telah meletakkan dasar-dasar bagi suatu Jepang baru yang menjadi sumber daripada kemakmuran negara kami dewasa ini."

Dan seorang tokoh politik Jepang yang pernah menjadi anggota parlemen, Menteri Negara, menteri Luar Negeri, dan Dutabesar untuk PBB pernah mengatakan bahwa dalam sejarah Jepang yang lk. 2000 tahun usianya itu, kiranya belum pernah ada seorang asing yang meninggalkan kesan yang mendalam seperti halnya Mac Arthur.



Sumber: KORPRI, Tanpa tanggal



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maluku Tahun 1922 (3-Habis) Orang "Komunis" Mengutip Iuran dari Rakyat Pulau Obi

Oleh: H ROSIHAN ANWAR SELAIN dari orang Tobelo yang dulu terkenal sebagai pembajak laut, perlahan-lahan datang pula menetap orang dari suku lain yaitu yang dinamakan Binongko. Sebenarnya Pulau Binongko hanya sebagian dari gugusan Buton, tetapi di Ambon dan Seram lazim disebut orang-orang yang berasal dari Buton di Sulawesi Selatan sebagai orang Binongko. Mereka itu kaum tani kecil, Muslim yang rajin dan hemat, yang dengan bekerja keras dan menabung mencapai kemajuan. Ada kesalahan yang selalu mereka buat yaitu tidak bermukim bersama di suatu tempat, tetapi tinggal menyebar di berbagai pemukiman. Mereka juga sering tidak meminta bagian tanah dari kepala distrik setibanya di Obi. Berkat kedatangan Binongko itu, maka penduduk distrik yang berjumlah 1723 jiwa tahun 1920 meningkat jadi 2228 jiwa tahun 1925. Tahun-tahun pertama setelah kedatangan mereka, maka orang Tobelo tidak mengganggu mereka. Tetapi begitu orang Tobelo mengira orang Binongko telah menyimpan sekadar uang, maka Binongko d...

Kebangkitan Kesadaran

Oleh AHMAD SYAFII MAARIF T entang waktu permulaan Kebangkitan Nasional, saya berbeda pendapat dengan ketetapan resmi, tetapi tidak perlu dibicarakan di sini. Yang penting dalam suasana bulan Mei 2011 ini kita melakukan refleksi tentang keindonesiaan kita dengan harapan dapat menggugah kesadaran batin bersama akan makna tanggung jawab kolektif terhadap bangsa yang sudah merdeka selama hampir 66 tahun. Jika kesadaran itu tetap saja tumpul dan rapuh, segala peringatan--apa pun bentuk dan coraknya--adalah sebuah kesia-siaan. Dalam pantauan saya, ditinjau dari sistem nilai konstitusi kita, perjalanan bangsa ini semakin kehilangan arah, sementara sebagian besar para elite seperti tidak hirau dan tidak peduli. Pragmatisme politik dan ekonomi telah semakin memperparah situasi kebangsaan kita. Retrospeksi sejarah Menurut catatan Leslie H Palmier, sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan 1945, dalam perspektif hubungan kekuasaan di Nusantara, ada tiga kelompok sosial penting yang interaksi mereka me...

Perang Paderi di Sumatera Barat 1821 - 1838 ( Bagian I)

Oleh : Syamsuar Said Pertentangan Adat dan Agama. Di antara berbagai gerakan meawan Kolonialisme Belanda di Indonesia, maka Perang Paderi di Sumatera Barat memiliki ciri dan tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia. Paderi berasal dari kata Padre yang berarti Ulama. Jadi gerakan Paderi adalah gerakan kaum Ulama. Mereka bermaksud untuk memurnikan ajaran Islam dengan jalan merombak adat kebiasaan buruk masyarakat Minangkabau saat itu. Seperti kita ketahui, struktur sosial masyarakat Minangkabau pada sekitar akhir abad 18 atau awal abad 19 menempatkan raja, bangsawan, dan penghulu adat sebagai pemegang peranan penting dalam pemerintahan adat di Tanah Minang. Dalam kehidupan sehari-hari, di masyarakat berjangkitlah kebiasaan buruk yang bertentangan dengan syara' Islam. Menyabung ayam, minum tuak, madat, berjudi, dan lain-lain dianggap sebagai kebiasaan umum atau adat warisan nenek moyang. Menghadapi hal itu, ternyata para penghulu dan pemuka adat tidak mampu mengatasinya. Sebaliknya ...

Belanda Diminta Luruskan Sejarah

JAKARTA (Media): Pemerintah Belanda diminta meluruskan sejarah Indonesia yang menyebut proklamator Soekarno sebagai pengkhianat, sedangkan Raymond Westerling dinilai sebagai pahlawan. Permintaan itu disampaikan pada diskusi sehari bertajuk Indonesia Menggugat yang diselenggarakan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) di Jakarta, kemarin. Sebagai pembicara, aktor Ray Sahetapy mengatakan sejarah yang memutarbalikkan fakta sangat mengganggu kehormatan Indonesia selaku bangsa berdaulat. Apalagi pendiri bangsa Indonesia disebut dalam sejarah Belanda sebagai pengkhianat. "Kapten Raymond PP Westerling yang membantai banyak orang di Sulawesi Selatan (Sulsel) justru diangkat dan dihormati sebagai pahlawan perang di Belanda," ujar Ray. Sebagai ketua ormas Gerakan Kebangkitan Nusantara (GKN), Ray mengharapkan sejumlah ormas juga bergabung untuk menggugat pemerintah Belanda untuk mengembalikan harta karun Indonesia yang diboyong pada masa penjajahan. "Kita akan mendesak Presiden Su...

Ahli Waris Korban Rawagede Tidak Peduli Kompensasi

HARI ini (Jumat), Duta Besar Belanda untuk Indonesia akan menghadiri peringatan ke-64 tragedi Rawagede, di Kecamatan Rawamerta, Karawang, Jawa Barat. Peringatan pembantaian 431 warga oleh tentara Belanda itu dilaksanakan untuk pertama kalinya setelah Pengadilan Sipil Belanda di Den Haag memenangi gugatan keluarga korban, September lalu. Sang duta besar, Tjeerd de Zwaan, dijadwalkan akan meminta maaf dan menaburkan bunga di makam para korban. Akan hadir juga pengacara keluarga korban Liesbeth Zegveld, yang datang langsung dari Belanda.  Di Rawagede, nuansa kemenangan dalam peringatan itu tidak membuat Wanti, 92, bisa tersenyum. Janji sejumlah dana sebagai kompesasi, yang entah berapa besarnya, tidak bisa membuatnya lupa akan kematian suaminya, Nap, dan dua anak kandung mereka, Wirya serta Kacid, yang dibantai tentara Belanda pada 9 Desember 1947. "Saya tidak membayangkan untuk dapat kompensasi. Uang sudah tidak ada artinya buat saya karena sudah lama hidup menderita," kata Wan...

Peristiwa 22 April 1942 di Kamp Interniran Luchtdoel: Bayonet yang Merobek Tubuh Tawanan Cara Eksekusi Terhormat bagi Jepang?

TANGGAL 8 Maret 1942 perwira tertinggi angkatan perang Belanda di kawasan Hindia Belanda menyerah tidak bersyarat kepada tentara Jepang. Kapitulasi dimaklumkan Gubernur Jenderal ter Poorten di Kalijati Subang Jawa Barat. Ketika itu diumumkan, seluruh tentara Belanda di Kawasan Hindia Belanda yang aktif maupun nonaktif, wajib mentaati maklumat tersebut dengan menyerahkan diri pada kamp-kamp penahan terdekat. Tentara Belanda terdiri dari kesatuan KNIL (Koninklijk Nederland Indische Leger) yang beranggotakan berbagai suku, termasuk: suku Jawa, Sunda, Maluku, dan lainnya. Tetapi bagi tentara KNIL yang berkewarganegaraan Belanda, penahanan tersebut berlangsung seterusnya sampai usai perang, sedangkan bagi yang berwarga negara Indonesia hanya bersifat penahanan sementara, tidak lama kemudian mereka dibebaskan. Ketika itu saya sebagai tentara milisia Belanda atau Militie Soldaat KNIL, yang merupakan tentara cadangan yang diambil dari pemuda-pemuda serta pelajar berkebangsaan Belanda ...

Dana Rawagede Jadi Rebutan: 171 Ahli Waris Korban Lain Juga Minta Kompensasi

KARAWANG, (PR).- Rencana pemberian kompensasi oleh pemerintah Belanda Rp 243 juta per orang untuk sembilan janda yang menggugat kejahatan perang Rawagede menuai persoalan. Pasalnya, 171 ahli waris lainnya yang juga korban Rawagede menginginkan agar dana kompensasi tersebut dibagi rata. "Meskipun kami di atas kertas tidak ikut menggugat, setidaknya ada perasaan senasib sebagai ahli waris korban pembantaian. Dari sembilan orang yang mendapat dana kompensasi, lima di antaranya setuju dana dibagi rata untuk 171 orang lainnya," kata Wahono, salah seorang ahli waris, Rabu (21/12). Namun, menurut Wahono, empat orang ahli waris lainnya tidak menerima usulan tersebut karena mematuhi anjuran dari Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB). "Jika memang seperti itu, justru akan menimbulkan kecemburuan sosial. Meskipun tidak ikut menggugat, kami berhak juga menerima sebagai ahli waris korban pembantaian Rawagede," tuturnya. Kemungkinan lain, menurut Wahono, setengah dari seluruh da...