Langsung ke konten utama

Mengungkap Kembali Tanggal 2 September 1945: Jenderal Douglas Mac Arthur Menerima Penyerahan Jepang di Atas Geladak Kapal USS Missouri

Oleh : Djamal Marsudi.

Pada hari Minggu tanggal 8 Desember 1941 Jepang telah memaklumkan perang terhadap Amerika Serikat dengan Sekutunya yang terdiri dari Inggeris, Hindia Belanda (yang menjadi Indonesia), Australia, waktu itu Philipina masih menjadi negeri jajahan Amerika Serikat. 

Walaupun Amerika Serikat telah membanggakan bentengnya yang tangguh di Corridor dan Bataan yang terletak di kepulauan Philipina, tapi nyatanya hanya 3 bulan saja pertahanan A.S. dapat disapu bersih oleh pasukan-pasukan Jepang yang terdiri dari angkatan-angkatan Darat, Laut dan Udara. Demikian pula jajahan Hindia Belanda yang ada di Indonesia dan jajahan Kerajaan Inggeris di Hongkong, Malaysia, dan Burma setali tiga uang yang nasibnya sama dengan Philipina.

Setelah kepulauan Philipina tidak dapat dipertahankan lagi oleh pasukan-pasukan A.S. yang di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur, akhirnya Jenderal Mac Arthur dengan sebagian pasukan-pasukannya yang terdiri dari putra-putra Philipina telah mengundurkan diri menuju ke jurusan Selatan, yang berpangkalan di Australia. Tapi sebelum meninggalkan Philipina Mac Arthur telah berpesan kepada rakyat Philipina dengan kata singkat: "Saya akan kembali."

Perang Pasifik yang berlangsung selama 3½ tahun, akhirnya dengan loncatan katak melalui Jaya Pura, Irian Jaya, dan Pulau Biak, Jenderal Douglas Mac Arthur dengan pasukan-pasukannya dapat mendarat kembali di Bataan Philipina untuk menepati janjinya kepada rakyat Philipina.

Pada tanggal 6 Agustus 1945 pesawat pembom raksasa B.29 telah menjatuhkan Bom Atom di Hiroshima, disusul kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945 di kota Nagasaki. Setelah kedua kota ini menjadi rata dengan tanah, akhirnya Kerajaan Jepang menyerah tanpa syarat pada tanggal 14 Agustus 1945.

Dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu (Baca: Amerika Serikat) maka pemerintah AS telah menunjuk Jenderal Douglas Mac Arthur menjadi Panglima Tertinggi Tentara Pendudukan Sekutu di Jepang, yang dalam bahasa asingnya: supreme Commander of Allied Powers for the Occupation of Japan, atau disingkat: (SCAP).

Ditunjuknya Douglas Mac Arthur menjadi SCAP, ia telah datang ke Jepang pada tanggal 28 Agustus 1945 langsung dari Bataan Philipina mendarat di lapangan terbang militer Atsugi Tokyo. Waktu ia turun di lapangan terbang Atsugi telah meninggalkan kesan yang mendalam kepada rakyat Jepang, yang mengetahui latar belakang pengetahuan Mac Arthur tentang Jepang. Dengan mengetahui latar belakang itulah yang kemudian ternyata telah memberikan pedoman kebijaksanaan kepada Jenderal Mac Arthur dalam meletakkan dasar-dasar politiknya untuk merehabilitasi Jepang sesudah kekalahannya dalam Perang Pasifik yang oleh fihak Jepang mengatakan "Perang Asia Timur Raya" dengan semboyannya "Asia untuk Bangsa Asia".

Siapakah Jenderal Douglas Mac Arthur yang merobah wajah fasisme Jepang menjadi negara Demokrasi?

Menurut catatan sejarah yang pernah didapat oleh penulis waktu bertugas ke Jepang seusai Perang Dunia II, Douglas Mac Arthur pada usia muda pernah mengikuti ayahnya berkunjung ke Tokyo, Jepang. Ayahnya waktu itu berpangkat Letnan Jenderal Arthur, Mac Arthur bertugas sebagai Pengamat Militer Amerika Serikat dalam perang Jepang-Uni Soviet (1904-1905) yang akhirnya kekalahan di fihak Uni Sovyet. Waktu itu romobongan ayahnya mengadakan perjalanan inspeksi di medan perang di kota Manchuria yang merupakan daratan Rusia/RRC. Douglas Mac Arthur telah berkesempatan untuk berjumpa dengan jenderal-jenderal Jepang yang tersohor, seperti Jenderal Ikuo Oyama, Jenderal Nogi, Jenderal Kodama dan lain-lainnya. Dengan adanya hubungan dengan jenderal-jenderal Jepang itulah kiranya meninggalkan kesan yang mendalam terhadap diri Douglas Mac Arthur.

Pemimpin-pemimpin militer bangsa Jepang harus mempunyai jiwa Bushido, demikian kata pimpinan militer Jepang kepada Mac Arthur di kala itu. Walaupun tentara Uni Sovyet merupakan musuh bagi orang Jepang, namun mereka harus diperlakukan dengan baik dan sopan dalam tawanan, karena mereka itu mengorbankan jiwa raganya untuk negaranya, seperti halnya tentara Jepang yang setia dan mau berkorban untuk negerinya.

Dengan adanya semangat Bushido yang merupakan tradisi bagi bangsa Jepang inilah yang menciptakan dan meninggalkan kesan yang mendalam pada jiwa Douglas Mac Arthur tatkala masih muda dalam kunjungannya ke negeri Matahari Terbit di waktu itu.

Suatu peristiwa yang mengesankan adalah, kalau perwira-perwira dan serdadu-serdadu Amerika Serikat yang mengawal semua bersenjata lengkap dan bermuka seram dan tegang waktu mendarat di lapangan terbang Atsugi. Tapi Jenderal Mac Arthur sendiri tidak bersenjata sama sekali. Padahal di Markas Besar Sekutu di Manila sebelumnya pernah dipertaruhkan apakah benar dan mungkin bahwa rakyat Jepang dapat berbalik 180 derajat dengan membuang sikap fanatiknya dan kebencian mereka dan menerima baik pemerintah Kaisarnya untuk menyerah kalah kepada Tentara Sekutu.

Walaupun memasuki daerah musuh di sekitar lapangan terbang Militer Atsugi dalam jarak jalan masih terdapat 10 Divisi tentara Jepang, Jenderal Mac Arthur tampak secara bebas dan tenang turun dari tangga pesawat terbang dengan pipa kesukaannya di tangan kanan. Sikap tersebut oleh rakyat Jepang ditafsirkan sebagai pantulan daripada kepercayaan Mac Arthur pada semangat Bushido Jepang itu dan bukannya suatu pertanda keberanian besar pada dirinya. Sikap Mac Arthur yang telah menempatkan kepercayaan pada dada seseorang seperti ungkapan peribahasa Jepang semenjak mendaratnya di Jepang.

Di dalam Sidang Mahkamah Militer Internasional di Tokyo, Jenderal Mac Arthur tampaknya juga tidak menunjukkan sebagai jenderal yang menang dalam perang, ia duduk secara tenang dan sopan seperti pengunjung-pengunjung yang lain dari kalangan sipil dan militer. Dalam suatu wawancara dengan pers, Mac Arthur mengatakan, bahwa pertanggung jawab di dalam suatu peperangan merupakan suatu masalah kontroversil yang sangat pelik. Orang-orang Jepang seperti halnya orang-orang Amerika mengorbankan jiwa raganya untuk membela negaranya. Kini orang Jepang harus mempertanggungjawabkan hal itu, hanya karena mereka kalah perang. Kalau kedudukan dibalikkan, maka orang-orang Amerikalah yang harus mempertanggungjawabkan kejahatan perang itu. Demikian kata Mac Arthur yang berkuasa di kota Jepang pada saat itu.

Menurut tinjauan penulis yang pernah bertugas ke negeri Jepang, untuk mengumpulkan data-data setelah Jepang menyerah, maka diangkatnya Jenderal Mac Arthur sebagai Panglima Tertinggi atau SCAP merupakan keuntungan besar bagi negara Jepang. Oleh masyarakat Jepang Mac Arthur dipandang sebagai Negarawan dan Prajurit Agung yang memahami tradisi negeri matahari terbit.

Sewaktu masyarakat Jepang dilanda putus asa dalam masa kebingungan sesudah kalah perang, Jenderal Mac Arthur telah memberikan dorongannya yang tidak kenal lelah, karena dia yakin bahwa bangsa Jepang yang mempunyai warisan kebudayaan tinggi tidak akan begitu saja menerima kekalahan perangnya itu, tetapi akan dapat bangkit kembali dan merehabilitir negaranya ke tingkat yang melebihi keadaan sebelum perang.

Di dalam pidato sesudah upacara penandatanganan dokumen penyerahan di atas geladak kapal perang USS: Missouri pada tanggal 2 September 1945 di Teluk Tokyo, jenderal Mac Arthur antara lain mengatakan: Tenaga bangsa Jepang bila dibimbing secara tepat, akan berkembang secara vertikal dan bukan horisontal. Bila bakat-bakat mereka itu diarahkan ke jurusan pembangunan produktif, maka negara ini akan dapat mengangkat dirinya sendiri dari keadaan hina ini ke suatu kedudukan yang terhormat. Jelaslah apa yang diucapkan oleh Mac Arthur itu sekarang menjadi kenyataan.

Mac Arthur pada waktu itu dapat meramalkan kemungkinan kerja sama Jepang-Amerika Serikat untuk memelihara perdamaian di Asia dan Dunia khususnya, tapi dengan syarat, Jepang harus direhabilitasi dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Meskipun dalam meletakkan politik bagi pemerintahan tentara pendudukan itu Mac Arthur tidak dapat luput dari kesalahan dan kekurangan-kekurangannya, namun dipandang oleh rakyat Jepang, kebaikan dan kebijaksanaannya itu melampaui kekurangannya.

Satu contoh lain lagi yang mengesankan adalah masalah persenjataan kembali negeri Jepang.

Almarhum John Foster Dulles dalam kedudukannya sebagai penasehat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah berkunjung ke Jepang pada tahun 1950. Dia dengan gigih menganjurkan persenjataan kembali Jepang sesuai dengan politik dan kondisi pada saat itu. Tapi usul ini tidak dapat diterima oleh Perdana Menteri Shigeru Yoshida atas dasar kesulitan-kesulitan keuangan pada waktu itu, tetapi lebih-lebih karena Yoshida khawatir akan reaksi rakyat Jepang yang baru saja mendapat pelajaran pahit dalam perang Pasifik di masa yang lalu.

Pada waktu tidak terdapat persepakatan mengenai masalah itu, mereka lalu membicarakannya dengan Mac Arthur. Meskipun Mac Arthur mengakui kepentingan usul Dulles itu namun sebaliknya dia menyampaikan saran agar Jepang sebaiknya mendayagunakan fasilitas-fasilitas industrinya yang menganggur pada waktu itu untuk memproduksi barang-barang yang diperlukan oleh negara-negara tetangganya yang ada di Asia. Karena dengan demikian itu, berarti Jepang dapat menyumbang lebih banyak bagi pemeliharaan perdamaian dunia daripada memiliki angkatan bersenjatanya sendiri. Dan sekarang telah menjadi kenyataan bahwa pendayagunaan fasilitas-fasilitas industri Jepang itu memang berhasil menciptakan suatu perekonomian dan perdagangan yang membuat negeri Matahari Terbit itu menjadi makmur, malahan melebihi sebelum pecahnya Perang Dunia II.

Memang ditinjau dari keadaan dewasa ini dapatlah difahami sebab apa rakyat Jepang merasa syukur bahwa SCAP dipegang oleh seorang Amerika Serikat dalam diri Jenderal Mac Arthur yang cukup memahami rakyat Jepang dan negaranya.

Contoh-contoh lain mengenai pengertian Mac Arthur tentang Jepang dapat dilihat lebih lanjut dengan beberapa keputusan-keputusan penting dan berani yang diambilnya demi kepentingan Jepang. Mac Arthur telah menolak usul Uni Sovyet untuk menuntut Kaisar Jepang ke hadapan Mahkamah Militer Internasional. Dan bertentangan dengan kehendak Uni Sovyet, Mac Arthur malahan mengijinkan pemeliharaan sistim pemerintahan kekaisaran yang dipandangnya penting sekali bagi usaha pembangunan kembali Jepang. Namun yang lebih penting lagi kiranya adalah penolakan Mac Arthur terhadap usul Uni Sovyet yang menghendaki pembagian wilayah penduduk Jepang oleh tentara Sekutu. Dapatkah kiranya diharapkan bahwa Jepang dapat dipersatukan dan dipulihkan kembali seperti keadaan sekarang ini bilamana usul Uni Sovyet itu diterima? Bukankah kiranya Jepang akan mengalami nasib yang serupa seperti Jerman, Vietnam, dan Korea bilamana usul itu diterima Mac Arthur? Adalah menjadi kenyataan, bahwa negara-negara yang dibagi menjadi dua hingga sekarang masih timbul kekacauan dan kekeruhan.

Mengenai Konstitusi Jepang yang baru (1946) memang ada berbagai tafsiran dan pandangan. Ada yang mengatakan Undang-Undang itu dibuat secara tergesa-gesa atas dasar instruksi Mac Arthur dan karena itu mengandung hal-hal yang tidak sesuai dengan kondisi Jepang. Memang banyak kaum cerdik pandai yang memiliki pandangan itu. Namun bilamana direnungkan kembali keadaan Jepang segera sesudah kalah perang, tanpa adanya petunjuk dan jaminan bagi usaha pendemokrasian yang direncanakan dan usaha pemeliharaan sistem pemerintahan kekaisaran ataupun usaha ke arah pembuatan suatu perjanjian perdamaian, akan jelaslah kiranya bagi umum kebenaran politik Mac Arthur untuk mempersembahkan suatu rancangan Konstitusi baru kepada rakyat Jepang dalam usaha pendemokrasian kembali negara itu.

Usaha pembaharuan negara dengan jalan penggantian konstitusi seperti itu yang laizmnya memerlukan puluhan tahun ternyata harus dijalankan dalam waktu singkat saja. Dari itu, sudah pasti mem- ... dengan keadaan yang sudah berobah. Meskipun demikian, gagasan-gagasan azasi maupun itikad baik Mac Arthur ternyata dapat dinikmati oleh rakyat Jepang hingga kini.

Untuk jasa-jasanya yang tidak dapat diperinci dan kiranya tidak dapat dilupakan oleh rakyat Jepang itu, almarhum PM Shigeru Yoshida pernah mengusulkan kepada PM Hayato Ikeda (almarhum) pada awal tahun 1964 untuk mengundang Mac Arthur ke Jepang. Namun sayang sekali karena kemunduran kesehatan dan kematiannya kemudian hal itu tidak dapat diwujudkan, meskipun Mac Arthur sendiri sangat ingin melihat kembali Jepang yang sudah maju dan pulih kembali seperti yang pernah diramalkan sebelumnya.

Di dalam sambutan untuk buku tentang Mac Arthur karangan wartawan perang kawakan Frazier Hunt, The Untold Story of Douglas Mac Arthur, PM Shigeru Yoshida dengan tepat mengungkapkan jasa-jasa Mac Arthur sebagai berikut: "Saya tidak dapat melupakan sukses-sukses besar sang Jenderal dalam membangun kembali negara kami dari puing-puing kehancuran akibat kekalahan perang. Dari suasana kekurangan bahan makanan, suasana kacau di bidang politik, ekonomi, dan sosial, dan dari suasana kekisruhan hati manusia, Mac Arthur telah meletakkan dasar-dasar bagi suatu Jepang baru yang menjadi sumber daripada kemakmuran negara kami dewasa ini."

Dan seorang tokoh politik Jepang yang pernah menjadi anggota parlemen, Menteri Negara, menteri Luar Negeri, dan Dutabesar untuk PBB pernah mengatakan bahwa dalam sejarah Jepang yang lk. 2000 tahun usianya itu, kiranya belum pernah ada seorang asing yang meninggalkan kesan yang mendalam seperti halnya Mac Arthur.



Sumber: KORPRI, Tanpa tanggal



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Stovia

Tulisan berjudul "Stovia yang Melahirkan Kebangsaan" ( Kompas , 28/5) telah menyadarkan kita tentang arti penting nilai-nilai kebangsaan yang dibangun para tokoh Indonesia. Untuk menyempurnakan tulisan tersebut, perlu diluruskan beberapa hal dari sisi sejarah. Stovia sebagai sekolah pendidikan dokter Hindia Belanda, sebenarnya tidak mendadak muncul pada zaman politik etis. Sekolah itu lahir sebagai sekolah dokter Jawa 1851, dengan program dua tahun. Tahun 1864 pendidikan menjadi tiga tahun. Tokoh dr Wahidin Soedirohoesoedo lulus dari program tiga tahun itu. Menurut A de Waart (1936), sejak 1872 sekolah itu mulai menyandang nama Stovia. Pada 1902 lama sekolah menjadi sembilan tahun (termasuk tiga persiapan). Dr Soetomo, masuk 1903, dapat disebut sebagai generasi pertama Stovia dengan kurikulum sembilan tahun. Artinya, pendiri Boedi Oetomo bukanlah generasi pertama Stovia, karena lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa sudah muncul pada 1853. Keterangan "Orang-orang idealis b...

Berburu Keberuntungan di Trowulan

T anpa terasa sudah hampir dua pekan hari-hari puasa terlewatkan. Dan sudah hampir dua pekan pula Trowulan dikunjungi banyak tamu. Memang, di setiap bulan Ramadhan, Trowulan--sebuah kecamatan di kabupaten Mojokerto--sekitar 50 km barat laut Surabaya, selalu dikunjungi banyak pendatang. Apa yang bisa dilakukan pengunjung di Trowulan di setiap Ramadhan? Menurut banyak orang yang pernah mengunjungi Trowulan, banyak yang bisa dipelajari dan diperhatikan secara saksama di kota bersejarah itu. Trowulan adalah bekas kota kejayaan Kerajaan Majapahit. Di kota itu hingga kini masih banyak peninggalan bekas kejayaan kerajaan Majapahit, salah satu di antaranya adalah Kolam Segaran. "Selain itu, juga ada situs kepurbakalaan kerajaan Majapahit. Ada Candi Tikus, Candi Brahu, makam Ratu Kencana, makam Putri Campa, dan yang paling banyak dikunjungi pendatang adalah makam Sunan Ngundung," ujar Suhu Ong S Wijaya, paranormal muslim yang tiap Ramadhan menyempatkan berziarah ke makam-makam penyeba...

Peradaban Islam Nusantara (Barus)

Budi Agustono Sejarawan, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatra Utara B ARUS merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Sebelum dimekarkan menjadi beberapa kecamatan, wilayah Barus relatif luas. Mula-mula Barus dipecah menjadi dua kecamatan, Sorkam dan Manduamas, kemudian menjadi tiga kecamatan, Andam Dewi, Barus Utara dan Sirondorung. Saat ini Barus hanya menjadi salah satu kecamatan dari 20 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Sebelumnya, Barus adalah kota tua yang namanya melegenda hingga ke mancanegara pada abad ke-7 sampai ke-18. Barus masa lampau bagian dari Nusantara yang dikenal sebagai kota dagang di Pantai Barat Sumatra. Pada masa itu di pesisir Pantai Barat Sumatra tumbuh kota yang kehidupannya mengandalkan laut. Laut menjadi sumber peradaban. Peradaban itu memproduksi teknologi nautika sebagai kompas dalam lalu lintas perdagangan satu kota ke kota lain dan satu wilayah ke wilayah mancanegara lainnya. Dengan teknolog...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...

Petisi Soetardjo: Kesempatan yang Disia-siakan Hindia Belanda

Oleh: A. C. Ton PENGANTAR: A. C Ton, seorang sejarawan dan penerbit dari negeri Belanda menulis mengenai Petisi Soetardjo dan Volksraad yang dimuat di NRC Handelsblad tepat 50 tahun ulang tahun Petisi Soetardjo. Judulnya "Petitie-Soetardjo, 15 Juli 1936,: een gemiste kans voor Nederlands-Indie". Pandangan A. C Ton mengevaluasi peristiwa itu sangat menarik karena dibuat pada masa kini. Di bawah ini terjemahannya.  -- Redaksi TEPAT 50 tahun yang lalu di Volksraad, Nederlandsch Indie, terjadi sesuatu yang luar biasa. Pegawai Pamong Praja Soetardjo pada tanggal 15 Juli 1936 mengajukan usul di perwakilan rakyat dengan maksud memberikan kemerdekaan kepada Nederlandsch Indie dalam jangka waktu 10 tahun: Indie, sebagai dominion dalam Kerajaan Belanda. Dua tahun lamanya usul tersebut yang menjadi terkenal sebagai "Petitie Soetardjo" berhasil memikat perhatian orang di Indie. Petisi tersebut tidaklah bersifat revolusioner atau pun radikal. Kalau dibandingkan dengan perjuangan...

Harun Nasution: Ajarah Syiah Tidak Akan Berkembang di Indonesia

JAKARTA (Suara Karya): Ajarah Syiah yang kini berkembang di Iran tidak akan berkembang di Indonesia karena adanya perbedaan mendasar dalam aqidah dengan ajaran Sunni. Hal itu dikatakan oleh Prof Dr Harun Nasution, Dekan pasca Sarjana IAIN Jakarta kepada Suara Karya  pekan lalu. Menurut Harun, ajaran Syiah Duabelas di dalam rukun Islamnya selain mengakui syahadat, shalat, puasa, haji, dan zakat juga menambahkan imamah . Imamah artinya keimanan sebagai suatu jabatan yang mempunyai sifat Ilahi, sehingga Imam dianggap bebas dari perbuatan salah. Dengan kata lain Imam adalah Ma'sum . Sedangkan dalam ajaran Sunni, yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia berkeyakinan bahwa hanya Nabi Muhammad saja yang Ma'sum. Imam hanyalah orang biasa yang dapat berbuat salah. Oleh karena Imam bebas dari perbuatan salah itulah maka Imam Khomeini di Iran mempunyai karisma sehingga dapat menguasai umat Syiah di Iran. Apapun yang diperintahkan oleh Imam Khomeini selalu diturut oleh umatnya....

Maluku Tahun 1922 (1) Lagu Kebangsaan Marseillaise Dimainkan Orkes Suling Murid Sekolah Zending

Oleh: H ROSIHAN ANWAR SALAH SATU perjalanan jurnalistik yang saya lakukan dan memberikan banyak pelajaran berharga untuk mengenal lebih akrab keadaan tanah air ialah kunjungan ke Maluku, khususnya ke daerah Ternate, Tidore, dan Bacan pada awal tahun 1948. Waktu itu Letnan Gubernur Jenderal Belanda Dr. H. J. van Mook telah membentuk apa yang dinamakannya Negara Indonesia Timur (NTT) dan Maluku. Saya wartawan Republikein yang pertama mengunjungi daerah NTT tersebut berkat perantaraan anggota parlemen NTT Arnold Mononutu yang bersikap pro Republik Indonesia. Dalam perjalanan itu saya berbicara dengan Sultan Ternate Mohammad Jabir Syah, Sultan Tidore Zainal Abidin Alting dan Sultan Bacan Mokhsin Kamarullah. Dengan menumpang kapal kecil dari Ternate saya sampai di Soa-Sio, ibukota kesultanan Tidore, di mana saya melihat sisa-sisa tembok sebuah benteng yang didirikan beberapa abad sebelumnya. Karena pengalaman ini dapatlah dimengerti mengapa dengan lebih daripada minat biasa saya membaca sua...