Langsung ke konten utama

Negara Pasundan, Kecerdasan Politis Ki Sunda

SETELAH kemerdekaan, seperti diketahui, kehidupan berbangsa dan bernegara belum sepenuhnya berjalan. Banyak peristiwa, konflik internal dan eksternal yang masih menggoyahkan Indonesia, termasuk rongrongan dari Belanda. Hingga sampai pada suatu episode berdiri Negara Pasundan (1947) yang mungkin sekilas diartikan sebagai gerakan ingin memisahkan diri dari NKRI.

Pembentukan Negara Pasundan pada tahun 1947 itu justru menunjukkan kecerdasan dan prinsip orang-orang Sunda elite saat itu. 

Pembentukan Negara Pasundan jangan dianggap sebagai gerakan separatis, ingin memisahkan diri dari NKRI, justru Negara Pasundan dibentuk sebagai sikap politis orang-orang Sunda yang out of the box demi terlepas dari keinginan penjajah saat itu yang masih berambisi berkuasa di tanah air. 

Hal itu dikupas dalam diskusi Forum Asia Afrika yang mengulas data empirik hasil penelitian Agus Mulyana, ketua Departemen Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia.

Selain Agus, dua narasumber lainnya yaitu Dede Mariana, guru besar ilmu pemerintahan Fisip Unpad, dan Reiza D Dienaputra, lektor kepala pada Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unpad, di Aula Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika Nomor 77, Kota Bandung, Selasa (8/3/2016).

Diskusi diikuti, antara lain, Ketua DPRD Jawa Barat Ineu Purwadewi Sundari, dan tokoh masyarakat Jawa Barat seperti Tjetje Hidayat Padmadinata, Memet Hamdan, dan Ganjar Kurnia.

Forum saat itu sepakat, pembentukan Negara Pasundan pada tahun 1947 jangan dijadikan catatan kelam bagi identitas orang Sunda atau Jawa Barat. Negara Pasundan justru harus dijadikan spirit pada masa kini, yaitu dengan mengambil pelajaran dari keteguhan sikap politik para elite Sunda saat itu dalam menghadapi situasi politik yang masih dicampuri penjajah.

Namun lebih jauh, Reiza D Dienasaputra menuturkan, dikupasnya sejarah Negara Pasundan bermanfaat untuk mengedukasi, inspirasi, dan rekreasi yang nantinya akan jadi energi penguatan selanjutnya di masa yang akan datang.

Reiza menekankan, penafsiran peristiwa sejarah harus dilihat secara utuh, berempati merasakan hidup di zaman itu atau digunakan pada zamannya. Jika tidak dilihat secara utuh, tentunya Negara Pasundan akan menjadi sejarah kelam, catatan hitam, dan peristiwa memalukan karena federalis.

Sebaliknya, jika melihat peristiwa tersebut secara utuh, maka pembentukan Negara Pasundan akan menjadi peristiwa penting dan mahal dalam politik orang Sunda, yang saat itu harus menghadapi tantangan zaman dan situasi nasional yang terjadi waktu itu.

"Saat itu kita sedang berupaya bikin negara berdaulat penuh. Tapi Belanda masuk, banyak cara diplomasi (perjanjian dan konferensi) dan militer (agresi militer I dan II)," ujar dia.

**

SALAH satu hasil konferensi Indonesia-Belanda saat itu adalah berdirinya Republik Indonesia Serikat, yang menjadi benih lahirnya Negara Pasundan yang saat itu untuk pertama kalinya dideklarasikan oleh Soeria Kartalegawa, mantan bupati Garut.

Munculnya Soeria memproklamasikan Negara Pasundan saat itu seakan-akan terdapat perasaan kecewa karena gubernur Jawa Barat bukan dari kalangan orang Sunda. Atau, saat itu, Soeria merasa termarjinalkan.

"Tapi sebenarnya alasan dia, tidak sesederhana itu. Justru Soeria ingin menyelamatkan orang Sunda, tapi gagal dan Belanda pun menarik dukungan dan membangun skenario baru Negara Pasundan dengan melibatkan sebanyak mungkin elite politik, bottom up, melalui tiga kali konferensi," kata Reiza.

Pada konferensi pertama dihadiri 50 orang, kedua 159 orang, dan 100 orang pada konferensi ketiga. Pada konferensi pertama dihadiri orang pribumi Sunda. Sementara pada konferensi kedua dan ketiga, campuran. Selain etnis Sunda, terdapat etnis Tionghoa dan Belanda.

Hal ini menegaskan bahwa Negara Pasundan saat itu bukan hanya orang Sunda saja, justru banyak etnis lain yang terlibat. Dan Negara Pasundan tersebut kemudian lebih baik dari Negara Pasundan sebelumnya meski hanya berjalan dua tahun.

"Tapi dalam konteks ini kemudian ada di luar skenario Belanda. Justru ini, kecerdasan elite ini, merupakan kemajuan orang Sunda. Pas memilih wali negara (presiden) bukan Hilman Djajadiningrat yang merupakan orang pilihan Belanda, namun yang terpilih adalah Wiranatakusumah yang merupakan orang pilihan pribumi," ucapnya.

"Negara Pasundan bukan cerita hitam. Negara Pasundan justru memperlihatkan secara nyata, meski berbau federal tapi berjiwa NKRI," tuturnya.

Adapun fakta-faktanya, di antaranya, secara kuantitatif bahwa Wiranatakusumah menang dalam tiga kali pemungutan suara dibandingkan Hilman. Artinya, banyak pendukung Negara Pasundan yang berjiwa NKRI. Yang kedua, Wiranatakusumah sebelumnya izin dulu kepada Presiden Soekarno dan, saat itu, Soekarno pun memberi restu pada Wiranatakusumah agar Negara Pasundan tidak jatuh kepada kolonial Belanda.

"Ini pembelajaran utama. Itu kecerdasan orang Sunda menyikapi zamannya. Mereka out of the box. Jadi negara pertama federal di Indonesia. Ada sesuatu kemampuan di luar zamannya," ucap dia.

Dengan demikian, jika spirit tersebut diterapkan saat ini akan sangat relevan. Orang Sunda sekarang pun harus cerdas dalam membaca kebijakan politik, bagaimana kebijakan itu bisa memanfaatkan kesejahteraan sebanyak-banyaknya bagi kemajuan etnis Sunda dan warga Indonesia pada umumnya. Sekarang tidak ada tokoh elite Sunda yang dihargai di tingkat nasional.

"Ini tantangan orang Sunda agar bisa tampil di panggung politik nasional atau provinsi. Dia harus benar-benar menjadikan amanah politik sebagai media untuk kemajuan Sunda," katanya.

"Kenapa sekarang kita tidak mampu, sekarang elite politik penting untuk 'resep ngahiji rukun sakabehna' seperti lirik 'Manuk Dadali'," ucap dia menambahkan.

Kalangan elite politik menjadi kalangan pertama yang harus mendobrak kebangkitan orang Sunda saat ini. Selain itu, para kaum intelektual seperti dosen dan media massa pun harus menjadi agen kebangkitan orang Sunda yang mampu menularkan spirit tersebut hingga ke generasi mudanya.

Reiza menilai kajian Agus Mulyana cukup representatif dan bagus, ada pemahaman lain soal Negara Pasundan. Di sisi lain, dia mengharapkan kajian Agus bukan kajian terakhir, karena banyak yang masih jadi misteri dan harus dijawab agar utuh.

"Yakin Negara Pasundan bukan gerakan sempalan dan separatis. Negara Pasundan bukan etnosentris," ujarnya.

Agus mengakui, dalam penelitiannya dia mendapat laporan intelijen Belanda sehingga menemukan banyak arsip mengenai sikap politik Sunda. Ada dua sikap dari kaum menak Sunda ini. Ada yang pro Belanda (federalis) dan pro RI (republiken), dan yang menarik keduanya menyebut negara ini Negara Pasundan.

Sementara itu, Dede Mariana menuturkan mengenai gerakan kesundaan tahun 50-an. Benang merahnya, sampai saat ini, politik identitas menyangkut satu etnik itu belum selesai.

"Saya mempertanyakan ada dua term yaitu elite Sunda dan elite Jawa Barat, apakah masih memimpikan Negara Pasundan. Atau hubungan pusat dengan daerah," katanya.

Ia menambahkan, setelah membaca buku Agus tersebut, semestinya ada yang meneruskan buku ini. Buku ini studi sosiologi kelompok menak. Mungkin ada kode menak yang tidak terpublikasikan. (Novianti Nurulliah/"PR")***



Sumber: Pikiran Rakyat, 10 Maret 2016



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari-hari di Bawah Tanah Menjelang Proklamasi (2/3)

Hari yang terpanjang: malam proklamasi kemerdekaan S ESUDAH Jerman menyerah kepada Sekutu, Mei 1945, kecurigaan bangsa Indonesia terhadap masa depannya menjadi makin meningkat. Lagi pula, di bulan Agustus bermacam-macam laporan sampai ke Indonesia--termasuk invasi Rusia ke Manchuria serta dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Oleh laporan-laporan yang tak menguntungkan itu, orang Jepang di Indonesia makin merasa terisolasi. Mereka berpikir: bagaimana Jepang dapat meneruskan perang melawan seluruh dunia, kalau sekutunya sudah menyerah. Waktu kami menerima berita penyerbuan Rusia ke Manchuria, 8 Agustus, empat orang Indonesia datang ke rumah saya di Jalan Kebon Sirih 80, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka adalah Subardjo, Buntaran, Iwa Kusumasumantri, dan Soerachman[6]. Rumah kediaman saya memang selalu terbuka untuk siapa pun, dan tamu sering datang secara mendadak. Keempat pemimpin itu bertemu saya waktu saya akan masuk ruang tamu, dan menanyakan secara sungguh-sungguh ...

Polongbangkeng, Wilayah Republik Pertama di Sulawesi Selatan

P olongbangkeng di Kabupaten Takalar, kini nyaris tak dikenal lagi generasi muda di Sulawesi Selatan. Lagi pula, tak ada yang istimewa di kota yang terletak sekitar 40 kilometer dari Ujungpandang, kecuali jika harus melongok ke masa lalu--masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dulu, setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Polongbangkeng jadi pusat perjuangan mendukung Proklamasi oleh pejuang-pejuang Sulsel. Ketika NICA mendarat diboncengi tentara Belanda, Polongbangkeng pula yang jadi basis pejuang mempertahankan kedaulatan RI  di tanah Makassar. Para pejuang yang bermarkas di Polongbangkeng berasal dari berbagai daerah seperti Robert Wolter Monginsidi (Minahasa), Muhammad Syah (Banjar), Raden Endang (Jawa), Bahang (Selayar), Ali Malaka (Pangkajene), Sofyan Sunari (Jawa), Emmy Saelan dan Maulwy Saelan (Madura), dan tentu saja pahlawan nasional pimpinan Lasykar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) Ranggong Daeng Romo. Pada akhir Agustus 1945, Fakhruddin D...

Peran Sarekat Islam Tak Bisa Diabaikan

Kontroversi yang mempertanyakan tonggak Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 seharusnya tidak perlu dilakukan secara berlarut-larut hingga menghabiskan banyak energi. Dialog yang menggugat persoalan itu sebaiknya dilakukan sebagai upaya untuk melangkah maju ke depan demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Hal itu dikatakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dalam Dialog Peradaban Centre for Information and Development Studies di Jakarta, Kamis (22/5). "Budi Utomo memang organisasi modern yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Namun, peranan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam tidak dapat diabaikan," katanya. Budi Utomo dan Sarekat Islam sama-sama memiliki andil besar dalam menciptakan Indonesia merdeka. Sebagian kalangan menganggap tonggak Kebangkitan Nasional ada pada 16 Oktober 1905 saat terbentuknya Sarekat Dagang Islam, bukan pada hari kelahiran Budi Utomo, 20 Mei 1908. (MZW) Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

Masjid Indonesia, Perkawinan Budaya yang Kaya Raya

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan  fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya DEMIKIANLAH penggalan bait pertama sajak Mencari Sebuah Mesjid yang ditulis penyair Taufik Ismail. Sajak yang keseluruhannya cukup panjang ini, dalam bentuknya yang besar ikut dipajang di salah satu pojok arena pameran Festival Istiqlal 1991. Setiap hari, banyaklah pengunjung yang ikut membacanya. Bahkan siswa-siswi SMP dan SMA rela duduk beralas karpet di hadapan sajak itu, untuk menyalinnya sampai habis. Tak salah jika dikatakan, "stand" sajak Taufik Ismail ini merupakan salah satu dari sekian banyak stand di arena pameran itu yang mendapatkan perhatian berlimpah dari pengunjung. Bait-bait sajak nan indah dan syahdu ini, seakan ingin memperlengkap koleksi benda-benda Islami yang dipamerkan pada pe...

Islam Nusantara Teladan di Mata Dunia

SURABAYA, KOMPAS -- Praksis Islam di Indonesia yang disebut Islam Nusantara berpotensi menjadi teladan baru dari dunia Islam di mata dunia. Hal ini menimbang perkembangan sosial politik di sejumlah negara dan komunitas Islam dunia, termasuk di Timur Tengah, yang kini dilanda konflik sosial politik yang mengarah pada runtuhnya peradaban setempat. Meski ada berbagai pendapat, Islam Nusantara dipahami tetap merupakan Islam otentik sebagai ajaran Nabi Muhammad SAW sekaligus mampu mendamaikan pergaulan pemeluknya dan bahkan menyejahterakan lingkungannya, termasuk non-Muslim. Demikian pendapat sejumlah pakar dalam Seminar Internasional "NU dan Islam Nusantara" yang digelar dalam rangkaian pelaksanaan Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama di kompleks kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) di Surabaya, Rabu (1/7). Hadir dalam seminar yang digelar kerja sama harian Kompas  dengan Panitia Muktamar NU Ke-33 ini antara lain Rektor UINSA Abdul A'la, Dekan Fakultas Adab UINSA yan...

Era Media Membangun Imajinasi Satu Bangsa

Dua dekade sebelum Sumpah Pemuda 1928, "Medan Prijaji", surat kabar pertama milik anak negeri, mengenalkan imajinasi tentang satu bangsa di tanah Hindia Belanda. Lewat dikotomi bangsa yang "terperintah" dan yang "memerintah", gagasan kebangsaan yang inklusif, melintasi sekat suku, agama, dan etnis dimunculkan di ruang publik. D i persilangan Jalan Naripan dan Jalan Braga, Kota Bandung, berdiri gedung-gedung cagar budaya dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Pramoedya Ananta Toer di bukunya, Sang Pemula  (1985), menulis, saat Medan Prijaji  bertransformasi dari surat kabar mingguan jadi harian pada pertengahan 1910 hingga akhirnya ditutup 1912, media massa itu diterbitkan di percetakan AC Nix di Jalan Naripan No 1, Bandung. Namun, kini, tak mudah menemukan jejak Medan Prijaji , yang didirikan RM Tirto Adhi Soerjo pada 1907 itu. Akhir September lalu, beberapa wisatawan dari luar dan dalam negeri, berbaur dengan penduduk setempat, melintas di depan Gedun...

MONUMEN PERS: Jejak TAS, Sang Pemula

S osok Tirto Adhi Soerjo yang dikenal dengan inisial TAS ada di antara 11 patung tokoh pers nasional yang ditampilkan di bagian depan ruang aula Monumen Pers Nasional di Kota Solo, Jawa Tengah. Sebagian karya Tirto yang diterbitkan di Medan Prijaji  juga bisa diakses di ruang arsip digital di monumen ini. Tulisan TAS di Medan Prijaji  yang bernas dan kerap mengkritik penindasan bisa dibaca kembali, lebih dari 100 tahun setelah tulisan itu diterbitkan pertama kali. Misalnya, dalam tulisan berjudul "Multatuli" yang dimuat di Medan Prijaji 26 Februari 1910, Tirto menjadikan buku Max Havelaar  yang ditulis Multatuli mengenai penindasan di era tanam paksa di Banten sebagai bahan untuk mengkritik penindasan oleh priayi yang masih bisa ditemukan, puluhan tahun setelah buku Multatuli terbit. "Priayi kecil jadi makanannya priayi besar. Priayi kecil tidak bisa makan orang kecil sebab juga orang kecil dijadikan makanan priayi besar," tulis Tirto. Tirto dan Medan Prijaji  membe...