Oleh : Syamsuar Said
Periode 1831 - 1838
Pada tahun 1831 Perang Diponegoro di Jawa dapat dikatakan berakhir. Hal itu merupakan angin segar bagi Kompeni Belanda di Sumatera Barat, sebab mereka dapat melanjutkan usaha menaklukkan tanah Minangkabau. Pasukan bantuan didatangkan dari Jawa dan Gubernur Jenderal Van den Bosch lalu mengangkat Letkol. Ellout menjadi Residen merangkap Komandan Militer di sana.
Untuk pertama kalinya Kompeni menyerang Naras pada tanggal 8 Juli 1831, hingga Tuanku nan Cerdik terpaksa mengosongkannya. Begitu pula VII Kota juga dikosongkan untuk kemudian mundur ke V Kota. Dalam serangan ini Mayor AV Michiels bertindak kejam. Keluarga Tuanku nan Cerdik yang tertangkap banyak yang dibunuh dengan semena-mena. Secara licik Belanda mengumumkan sayembara. Kepada mereka yang berhasil menyerahkan Tuanku nan Cerdik hidup-hidup akan diberi hadiah 1.000 gulden. Namun sayembara itu tidak mendapat tanggapan. Rakyat masih setia pada pemimpinnya sehingga perlawanan semakin berkobar.
Dengan jatuhnya Naras, VII Kota dan Manggung, maka seluruh Pariaman jatuh ke tangan Belanda. Saat itu garis pertahanan Belanda terbentang di antara bukit-bukit sekeliling Lintau. Pada bulan September Belanda berhasil merebut Sungai Selo, Talawi dan Atar, menyusul kemudian Katiagan.
Pada akhir 1831 gerakan Paderi agaknya mulai menyusut. Tuanku nan Renceh, Tuanku Pasaman, dan beberapa tokoh yang lain banyak yang wafat, sedang tokoh penggantinya tidak sekuat mereka.
Memasuki tahun 1831 Tuanku nan Cerdik telah berhasil memperkuat kedudukannya di XII Kota. Bersama Tuanku Imam dari Bonjol ia bermaksud merebut kembali V dan VII Kota. Sementara itu Tuanku Mensiangan masih bertahan di Luhak Agam.
Melihat begitu banyak biaya dan korban yang jatuh, Belanda ingin cepat-cepat menyelesaikan perang Paderi. Untuk itu Lintau, Bonjol, dan XII Kota daerah sumber suplai gerakan Paderi akan ditundukkan lebih dahulu. Baru kemudian pusat pertahanan Paderi diserang.
Sejalan dengan rencana itu pasukan bantuan didatangkan. Kecuali serdadu Kompeni, dikerahkan pula Legiun Sentot yang berkekuatan sekitar 2.000 serdadu. Seperti kita ketahui Sentot Prawirodirjo adalah bekas Panglima Perang Diponegoro yang terkenal keberaniannya.
Dari Kayu Tanam Kompeni menyerang Biaro, Pariaman, Air Bangis, Natal, dan berhasil merebut Lintau, sehingga seluruh Luhak Agam terancam. Luhak Agam sepenuhnya jatuh ke tangan Belanda setelah kampung Bansa bekas markas Tuanku nan Renceh dihancurkan pada akhir Juli 1832. Tanggal 21 September 1832 Alahan Panjang diduduki dan Belanda melakukan kekejaman untuk menakut-nakuti rakyat yang melawan. Ketika Bonjol jatuh, tidak seorang pun pemimpin Paderi ada di sana. Bonjol menyerah tanpa perlawanan. Seterusnya Belanda mendirikan pemerintah Adat di sana.
Dengan jatuhnya Rao, Kompeni kemudian mengangkat Raja Rao menjadi Regent di sana. Kecuali itu dibangun pula benteng Fort Amerongon di Padang Mantinggi. Akan tetapi usaha Belanda membujuk Tuanku Tambusei yang berpengaruh di daerah Utara hingga Rao gagal, sehingga perlawanan terus berlanjut.
Saat itu perlawanan Paderi masih berkobar di Lima Puluh Kota dan XIII Kota. Pada awal Oktober 1832 Kompeni menyerbu Ladang Lawas, Payakumbuh, Sungai Landai hingga jatuh. Dengan demikian perlawanan Paderi di Lima Puluh Kota tinggal di Kota Tengah di bawah pimpinan Tuanku nan Garang. Dalam pada itu Belanda terpaksa menangguhkan serangan atas XIII Kota karena pasukannya sudah lelah, hingga mereka harus menunggu datangnya bantuan dari Jawa.
Pada awal tahun 1833 sebenarnya sudah banyak pertahanan Paderi yang jatuh. Namun tindakan Belanda yang menghina mesjid, kerja paksa, merampas harta benda rakyat dan sebagainya membangkitkan kemarahan rakyat. Rakyat negeri Tujuh Lurah, Sipisang, Teratang Tunggang, Lubuk Ambalau, Rao, dan Lumdar kembali mengangkat senjata. Untuk memadamkan perlawanan rakyat Belanda menindasnya dengan kejam. Pemimpin perlawanan rakyat seperti Baginda Usman dan Haji Ahmad Salam dibunuh. Selanjutnya rakyat Rao khususnya semakin ditindas. Mereka dipaksa menyediakan bekal buat Kompeni, ternak, dan harta benda dirampas dan rakyat dipaksa bekerja membangun benteng-benteng Kompeni.
Kekejaman Kompeni Belanda itu menumbuhkan kebencian rakyat. Bagaimanapun juga rasa persaudaraan mereka masih kuat. Orang-orang yang selama ini membantu Belanda mulai muak melihat sikap Belanda dan membencinya. Sentot dan pasukannya mulai membelot dan berpihak ke Paderi. Sentot mengganti namanya menjadi Muhamad Ali Basya Abdul Mustafa. Begitu pula Tunaku nan Cerdik yang semula berdamai dengan Belanda kemudian menghubungi Sentot dan bersiap-siap untuk melawan.
Menghadapi keadaan itu Belanda bertindak tegas. Banyak pemimpin ditangkap. Sentot diperintahkan kembali ke Jawa kemudian ditangkap. Tuanku nan Cerdik ditangkap pula dan pada tanggal 16 Maret 1833 dibawa ke Batavia. Sementara itu nasib Tuanku Alam yang berhubungan dengan Paderi di Kamang lebih menyedihkan. Ia tewas dianiaya. Kepala dipenggal dan dipancangkan dengan galah di depan pintu benteng.
Demikian pula nasib Yang Dipertuan di Pagarruyung Sultan Alam Bagaghar Syah. Ia ketahuan telah bersiap melawan Belanda untuk menegakkan kembali kerajaan Minangkabau. Pada tanggal 2 Mei 1833 Baginda diundang Residen Ellout ke Batusangkar. Setibanya di sana terus dilucuti dan dibawa ke Padang. Akhirnya Baginda dibuang ke Batavia hingga mangkat. Sementara itu saudara Baginda yakni Raja Bua juga ikut dicurigai. Bua diserang pada tanggal 20 Mei 1833 hingga jatuh, disusul kemudian oleh Kota Tujuh.
Sementara itu rakyat Agam kembali mengangkat senjata. Rakyat berhasil merebut benteng Guguk Sigandang, Bukit Tinggi, Kuririk, XII Kota, dan benteng Tambungan. Di lain pihak perlawanan Tuanku Tambusei di daerah Rao masih juga berkobar dengan sengit.
Untuk mengatasi kemelut itu Belanda minta bantuan Raja Gedombang, Regent Mandahiling yang setia padanya. Dengan jatuhnya Lundar, maka kaum Paderi terpaksa mundur ke Lubuk Sikaping, sementara itu Tuanku Tambusei yang menyingkir ke Dalu-dalu akhirnya berhasil merebut Padang Lawas. Tetapi gerakan Belanda itu akhirnya dipukul mundur oleh hadirnya Paderi dari Alahan Panjang dan Kumpulan dan memaksanya bertahan di Fort Amerongen.
Akibat kekalahan itu, Gubernur Jenderal Van den Bosch lalu mengganti Ellout dengan Jenderal Mayor CJ Riesz. Untuk selanjutnya mereka merencanakan menyerbu pusat perlawanan Paderi di Kamang. Tanggal 9 Juli 1833 Kamang diserbu dari tiga jurusan. Mayor du Bus dari Tilatang, Letkol. Ellout dari Salo, sedangkan Mayor de Quay bergerak dari Suliki.
Kemenangan Belanda atas Kamang diikuti dengan kekejaman luar biasa. Datuk Bandaro dari Gunung, Pakih Sulaiman, Pakih Mangkala dipancung di Tambangan. Di lain pihak Tuanku Mensiangan dan 11 orang Datuk yang lain dihukum pancung di Sigandang. Tidak puas dengan itu, jenazah pemimpin rakyat itu dirusak dan dilempar begitu saja ke parit-parit di sekitar benteng.
Kekejaman Kompeni yang di luar batas kemanusiaan itu ternyata tidak membuat rakyat takut. Sebaliknya rakyat bahkan tambah dendam. Rakyat Lubuk Sikaping dan Sundatar bergerak menyerbu Lundar. Tuanku Tambusei kembali menyerbu Mandahiling. Kecuali itu rakyat Rao juga berontak. Pergolakan itu diikuti oleh perlawanan rakyat Pantar, Matur, Kamang, dan Pagarruyung.
Sementara itu Kompeni Belanda pimpinan Mayor Eelers yang menyerbu Bonjol pada 12 September 1833 dipukul mundur. Van den Bosch yang melihat dengan mata kepala sendiri kekalahan pasukannya di Bonjol terpaksa menarik kembali perintahnya. Taktik perang harus diubah dengan jalan damai. Maka diumumkanlah Plakaat Panjang tanggal 25 Oktober 1833, yang berisikan janji Belanda untuk menghentikan perang, tidak mencampuri urusan negeri Minangkabau dan tidak menarik cukai.
Plakaat Panjang banyak ditempel di tempat-tempat umum agar terbaca oleh rakyat. Pesta diadakan di mana-mana untuk menarik hati rakyat agar mereka mau meletakkan senjata. Namun rakyat menanggapinya dengan acuh tak acuh. Perang terus dilanjutkan. Di Rao Belanda terus terdesak dan akhirnya benteng Fort Amerongen jatuh ke tangan rakyat. Di Limau Manis dan Tamiang Belanda terpaksa menelan kekalahan pahit.
Untuk menebus kekalahan itu Jenderal Mayor CJ Riesz terpaksa diganti oleh Letkol. Bauer. Hingga medio 1834 secara berturut-turut Belanda menduduki Matur, Sungai Puar, dan Bamban. Sementara itu usaha mendekati Bonjol masih tertahan di Simawang, Gedang, Batu Badindit, dan Kampung Melayu. Maka antara bulan Agustus hingga Desember 1834 adalah masa penaklukan kampung-kampung di sekitar Bonjol.
Sementara Bonjol dikepung musuh, saat itu pula Tuanku Imam Bonjol berusaha mengobarkan perlawanan di daerah lain. Utusan dikirim ke berbagai daerah. Hasilnya rakyat Alahan Mati, Simpang, Lintau, Lima Puluh Kota, dan Tanjung Alam bergerak kembali. Bahkan di Rao, Raja Gedombang pengikut setia Belanda tewas terbunuh Paderi. Belanda terpaksa berdamai untuk menyelamatkan kedudukannya.
Tetapi perdamaian itu pun tidak berjalan lama, sebab Belanda yang merasa dirinya sudah kuat pada tanggal 5 Mei 1836 menyerang Bonjol. Tindakan itu dibalas kaum Paderi dengan menyerbu Tangkil. Sebenarnyalah Belanda menghadapi kesulitan untuk menyerbu Bonjol. Bonjol yang strategis terlindung oleh Bukit Terjadi. Di bukit inilah pertahanan Paderi bertebaran, sementara Bonjol sendiri dilindungi oleh pagar rumpun bambu berduri yang lebat. Untuk mengalahkannya Belanda harus mengerahkan banyak meriam, howitzer, dan senjata berat yang lain.
Setelah beristirahat agak lama, pada bulan November 1836 kembali Kompeni menyerbu Bonjol. Berminggu-minggu lamanya Bonjol diserang, namun tetap bertahan. Tetapi pada bulan Desember 1836 serdadu Belanda dari Kolone Neger dan Bugis berhasil menyusup ke Bonjol dan terjadi perkelahian sengit. Tuanku Imam dan Umar Ali, putranya, luka-luka dan istri beliau tewas. Tetapi usaha penaklukan Bonjol tetap mengalami kegagalan.
Sementara itu pada tanggal 5 Januari 1837 Gubernur Jenderal de Eerens menunjuk Jenderal Mayor FD Cochius sebagai Komisaris untuk menyelesaikan masalah Sumatra Barat. Ia berpendapat bahwa Bonjol harus segera direbut. Untuk itu telah disiapkan kekuatan besar yakni 2.403 serdadu, terdiri dari 1.429 serdadu Eropa, dan 974 orang Melayu.
Setelah upaya damai ditolak oleh Tuanku Imam, maka Bonjol mulai diserang. Satu demi satu kampung di sekitar Bonjol direbut. Pertempuran di Bonjol benar-benar berlangsung sengit. Benteng Bonjol dihujani tembakan meriam Kompeni. Sebaliknya kaum Paderi juga membalasnya dengan sengit. Sebelum itu anak-anak dan kaum wanita sudah diungsikan ke Air Hangat. Pertempuran sengit terus berlangsung selama bulan Juli hingga awal Agustus 1837.
Sementara itu pada 6 Agustus 1837 di pihak Belanda terjadi pergantian pimpinan antara Jenderal Mayor Cleerens dengan Letkol. AV Michiels. Saat itu Jenderal Mayor Cochius terus berusaha menghubungi Tuanku Imam guna berunding, tetapi ditolak.
Setelah bertahan sedemikian lama, akhirnya kaum Paderi kehabisan peluru. Tanggal 15 Agustus 1837 peluru meriam Paderi Bonjol yang terakhir ditembakkan. Habislah sudah harapan mereka. Bonjol tidak perlu dipertahankan lagi. Seterusnya mereka akan bergerilya. Maka sewaktu Belanda menyerbu Bonjol, tempat itu pun sudah kosong. Saat itu Tuanku Imam ternyata sudah berada di Marapak, memimpin perlawanan di sana. Atas persetujuan para Penghulu Adat, Belanda kemudian menyusun pemerintahan Adat di Bonjol.
Dari Marapak, Tuanku Imam meneruskan gerilyanya di hutan-hutan VII Lurah. Akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1837 beliau memenuhi panggilan Residen Francis untuk berunding di Papuluh. Kiranya sejarah terulang kembali. Seperti halnya Pangeran Diponegoro di Jawa, Tuanku Imam juga dikhianati. Beliau diundang bukan untuk berunding namun ditangkap terus dibawa ke Batavia. Akhirnya diputuskan untuk dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Pada tanggal 19 Januari 1838 dipindahkan ke Ambon. Karena terbukti beliau masih melakukan kegiatan, pada tahun 1841 dibuang ke Manado. Akhirnya pahlawan yang gagah perkasa itu pun wafat di Manado pada tanggal 6 November 1864 dan dimakamkan di sana.
Perlawanan Tuanku Tambusei di Rao dan Mandahiling
Dengan jatuhnya pusat perlawanan Paderi di Bonjol, maka seluruh kekuatan Kompeni dihadapkan pada benteng terakhir perlawanan Paderi di Rao dan Mandahiling. Tuanku Tambusei ibarat duri dalam daging bagi Kompeni. Selama ia masih ada kuasa Kompeni Belanda atas Tanah Minangkabau selalu terancam. Maka bagaimanapun juga, kekuatannya harus dihancurkan.
Sejak bulan November hingga Desember 1837 Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Portibi, Kota Penang, Angkola, Sipirok, dan Padang Lawas jatuh. Dengan jatuhnya Lubuk Antai pada bulan April 1838, maka tinggal Dalu-dalu pertahanan Paderi yang terakhir.
Hingga berbulan-bulan Dalu-dalu dikepung Belanda, namun belum juga menyerah. Perlawanan Paderi di sana benar-benar heroik hingga Belanda kewalahan. Namun akhirnya pada sore hari tanggal 28 Desember 1838 Dalu-dalu jatuh setelah diserang secara besar-besaran. Sekalipun demikian Belanda amat kecewa. Haji Muhammad Saleh yang lebih dikenal sebagai Tuanku Tambusei tak mereka temukan. Konon beliau menyusup hutan menyusuri sungai dan hilang tak tentu rimbanya.
Dengan demikian Perang Paderi yang terkenal dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia berakhir. Belanda pun berhasil menancapkan kuku penjajahannya atas Sumatera Barat.
Namun demikian bukan berarti perlawanan rakyat Minangkabau berakhir. Kaum Adat yang dahulu membantu Belanda menjadi kecewa. Kini mereka sadar, tiba giliran dirinya ditindas. Maka tidak mengherankan bila dalam kurun waktu berikutnya Tanah Minangkabau selalu diwarnai oleh pergolakan menentang Belanda. Tercatat di sini perlawanan anak negeri Kubang XIII, Solok, Sirukan, Supayang, Batipuh, Pauh, Sungai Pagudan tempat-tempat yang lain. Dari peristiwa itu terbuktilah bahwa patriotisme rakyat Minangkabau tak lekang di panas tak lapuk di hujan, sehingga telah mengisi lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia dengan goresan tinta emas.
Sumber: KORPRI, November 1981



Komentar
Posting Komentar