Langsung ke konten utama

Di Belakang Rahasia Jepang Menjanjikan Kemerdekaan Indonesia

Oleh : Djamal Marsudi.

1. Di semua medan pertempuran pasukan-pasukan Jepang terdesak mundur dan hancur.
2. Di daerah pendudukan Jepang timbul pemberontakan-pemberontakan.
3. Di negeri Jepang sendiri timbul krisis politik dan ekonomi.

Pada waktu pecahnya perang Pasifik tanggal 8 Desember 1941, pasukan-pasukan Jepang dalam waktu yang singkat dapat merebut dan menduduki kota-kota besar Hongkong, Philipina, Singapura dan Pulau Jawa dapat direbut dalam waktu satu minggu. Taktik dan cara-cara penyerbuan pasukan Jepang di kala itu sungguh sangat menakjubkan dunia, terutama Inggeris, Amerika Serikat dan negeri-negeri Sekutunya.

Indonesia yang masih bernama Hindia Belanda yang belum diinjak oleh tentara Jepang hanya kota Merauke yang ada di Irian Jaya, sedangkan kota-kota lainnya dari Sabang sampai Hollandia yang namanya sekarang Jayapura telah diduduki tentara Jepang. Malahan di Hollandia dan pulau Biak inilah beribu-ribu tentara Jepang dan Amerika Serikat yang telah tewas.

Pada permulaan tahun 1944 keadaan medan pertempuran telah berbalik 180˚ (seratus delapan puluh derajat). Pasukan-pasukan Sekutu yang di bawah pimpinan Jenderal Mac Arthur dapat mendesak pasukan-pasukan Jepang di semua medan pertempuran di Lautan Pasifik.

Untuk rakyat yang ada di daerah pendudukan tentara Jepang, terutama yang ada di Indonesia, sebagian besar memang tidak banyak yang mengetahui jalannya medan pertempuran yang sebenarnya, karena semua penerbitan surat-surat kabar di bawah pengawasan Militer Jepang, sedangkan semua pesawat radio disegel sehingga semua siaran radio yang bisa diterima hanya dari siaran Radio Jepang yang bernama: Hoso Kyoku. Apabila ada pemilik pesawat radio berani mendengarkan siaran radio dari negeri Sekutu, maka resikonya adalah dipanggil Kempetai (Polisi Militer Jepang), kalau pulang mukanya bisa babak belur dan jarang yang kembali apabila mereka dituduh menjadi mata-mata musuh.

Akibat serangan Sekutu yang hebat itulah membuat Jepang lalu mengerahkan tenaga rakyat untuk membuat benteng-benteng pertahanan yang kuat guna menanggulangi serangan dari pihak Sekutu.

Pada waktu Jepang baru mendarat di Pulau Jawa, Jepang telah membentuk Pusat Tenaga Rakyat yang disingkat PUTERA. Putera ini diasuh oleh Empat Serangkai yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. M. Hatta, K. H. M. Mansoer dan Ki Hajar Dewantoro. Tapi setelah berjalan beberapa bulan, Putera dianggap oleh Jepang tidak memenuhi harapan, karena katanya berbau Nasionalisme. Lagi pula badan ini hanyalah meliputi penduduk Indonesia dan pulau Jawa pada khususnya. Putera tidak berhasil dalam tugasnya untuk dapat mencapai rakyat yang ada di pedesaan yang bagi Jepang sangat penting artinya.

Penguasa Jepang di saat itu secara langsung telah berusaha untuk menyempurnakan susunan Rukun Tetangga yang dalam bahasa Jepang disebut TONARI GUMI, yaitu sebagai alat distribusi dan merangkap sebagai saluran untuk propaganda Jepang. Kemudian Jepang menciptakan suatu organisasi induk yang meliputi semua kegiatan TONARI GUMI, organisasi mana berlainan dengan "Putera" yang tadinya tidak mencakup di kalangan penduduk. Organisasi yang baru ini bernama Jawa Hokokai atau Himpunan Kebaktian Rakyat yang dipimpin langsung oleh Gunseikan dan Somubuco sebagai wakilnya.

Setelah Jawa Hokokai berdiri, maka semua organisasi-organisasi yang membantu Jepang disatukan ke dalam Jawa Hokokai. Untuk menimbulkan semangat juang bagi anggota-anggotanya dalam rangka menghadapi pihak Sekutu, Jawa Hokokai membuat sebuah semboyan yang berbunyi "Hidup atau Mati bersama-sama Dai Nippon". Untuk memperkuat pertahanannya Jawa Hokokai membentuk pula Barisan Pelopor yang anggotanya diambil dari pemuda-pemuda yang penuh tanggung jawab. Perkumpulan itu mereka beri nama "Benteng Perjuangan Jawa" yang dibentuk tgl. 10 Juni 1944. Setelah pembentukan Barisan Pelopor tersebut, Jepang merasa bahwa ia sudah berhasil mendapatkan apa yang dikehendakinya dalam mempersiapkan serangan dari Sekutu. 

Sementara itu di tempat lain, pada bulan Juli 1944 pihak Sekutu telah berhasil merebut sebuah pulau yang penting, yaitu pulau Saipan, suatu pangkalan Angkatan Laut Jepang. Dengan berhasilnya Sekutu merebut pulau itu, akibatnya pertahanan Jepang betul-betul terancam. Di Tokyo keadaannya lebih genting lagi sehingga menimbulkan krisis kabinet. Sehubungan dengn itu, maka pada tgl. 18 Juli 1944 Perdana Menteri Jepang Tojo mengundurkan diri yang diganti oleh Jenderal Kuniaki Koiso.

Walaupun pertahanan terus ditingkatkan, namun Jepang semakin terus terdesak dan menderita kekalahan di mana-mana. Sehubungan dengan semakin memburuknya situasi pertahanan Jepang, pemerintah Jepang bersedia memberikan konsesi kepada negara-negara yang dijajahnya.

Oleh karena itu, pada tanggal 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Koiso mengumumkan di depan Parlemen, bahwa rakyat Indonesia akan diberi kemerdekaan "di kemudian hari", tanpa menjelaskan tanggal dan bentuk dari kemerdekaan itu. 

Di Indonesia, para pemuda-pemuda membentuk suatu Badan yaitu "Panitia Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia" didirikan tanggal 28 Mei 1945. Badan ini beranggotakan 60 orang yang langsung diketuai oleh dr. Radjiman Wedyo diningrat, dengan tugas merancang Undang-Undang Dasar.

Panitia itu terus bekerja dengan penuh semangat untuk mewujudkan cita-citanya, sementara pihak Balatentara Jepang makin memburuk dan semakin cepat menuju ke arah keruntuhan. Tetapi sebelum Jepang runtuh, Panitia Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia sudah mengadakan rapat 2 kali, yaitu khusus membahas dasar negara yang hendak dibentuk. Dengan keadaan Jepang yang semakin memburuk, Jepang tidak dapat berbuat apa-apa. Propaganda tentang kemerdekaan Indonesia sudah diperbolehkan yang sebelumnya belum pernah terjadi baik di masa pendudukan Jepang, maupun selama Belanda berkuasa di Indonesia. Bendera merah putih sudah bisa berkibar di samping bendera Jepang. Di tiap-tiap Departemen ditempatkan seorang Sanyo sebagai pembantu Buco Jepang. Dewan Sanyo ini dibentuk sebagai persiapan untuk menjadi Dewan Menteri kelak jika Indonesia Merdeka.

Jepang Bertekuk Lutut

Pada Perang Dunia II, Amerika dan Inggeris sangat terkejut karena serangan udara Jepang terhadap armadanya masing-masing di Pearl Harbor dan Singapura, maka pada akhir tahun 1944, kebalikannya, balatentara Jepang lah yang kembali terkejut karena serangan dari Angkatan Perang Sekutu di kandangnya sendiri, sehingga Jepang harus mempertahankan diri dan menggagalkan rencananya yang semula hendak menyerang Australia.

Dengan demikian gerak maju serangan Jepang telah berbalik menjadi posisi bertahan dan kedudukan bertahan pada batas-batas yang telah dicapai itu pun berubah lagi menjadi mundur dan semakin terdesak.

Dengan telah berhasilnya disiapkan rencana Undang-Undang oleh Panitia Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, maka persoalan kemerdekaan telah meningkat ke arah pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan.

Marsekal Terautji, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Jepang untuk seluruh Asia Tenggara yang berkedudukan di Dalat (Saigon), menyetujui pembentukan pemerintahan Indonesia Merdeka.

Pada tanggal 9 Agustus 1945, atas panggilan Terautji berangkatlah Soekarno - Hatta beserta dr. Radjiman ke Dalat yang diantar oleh Letnan Kolonel Nomura dan Myosji sebagai juru bahasa.

Terautji dalam pidato singkatnya mengatakan: Pemerintah Agung di Tokyo telah memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Melaksanakan kemerdekaan itu terserah kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang Tuan berdua (Soekarno - Hatta) menjadi pemimpinnya sebagai Ketua dan Wali Ketua.

Sesampainya di Indonesia, Bung Karno berkata kepada rakyat yang menyambutnya : "Kalau dahulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga".

Selanjutnya dengan perantaraan Mr. Soebardjo, diusahakanlah rumah Laksamana Muda (L) T. Maeda, untuk mengadakan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Dipilihnya rumah Maeda karena dianggap aman dari penindakan Angkatan Laut Jepang yang menjadi penguasa di pulau Jawa. Laksamana Muda Maeda adalah Kepala Kantor Penghubung AL di daerah AD, sedangkan Mr. Soebardjo dan pemuda-pemuda Indonesia lainnya bekerja pada kantornya, sehingga mereka mempunyai hubungan yang baik dengan Laksamana tersebut. Di rumah itulah diadakan pertempuan antara pelbagai golongan Pergerakan Nasional, baik golongan tua maupun golongan muda.

Sementara itu datang panggilan Somobuco, Mayor Jenderal Nisjimura kepada Bung Karno - Hatta untuk diajak berunding di rumahnya. Dari hasil pembicaraan itu diambil kesimpulan, bahwasanya Jepang sudah tidak punya kebebasan bergerak lagi. Jepang sudah menjadi alat Sekutu dan harus tunduk kepada perintah Sekutu. Tapi walaupun begitu, Jepang tetap tidak memperbolehkan adanya perubahan status-quo dan penyelenggaraan rapat yang akan diadakan itu, walaupun sebelumnya sudah ada pengakuan Pemerintah Jepang atas kemerdekaan Indonesia melalui perantaraan Terautji. 

Setelah hampir dua jam terjadi perdebatan, Bung Karno dan Bung Hatta dapat ke rumah Maeda di jalan Imam Bonjol 1 Jakarta. Di sini telah berkumpul anggota-anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, pemimpin-pemimpin pemuda dan beberapa orang pemimpin pergerakan serta anggota-anggota Tjuo Sangi-in yang ada di Jakarta.

Di rumah Maeda inilah naskah proklamasi dirumuskan oleh tiga orang pemimpin golongan tua yakni Soekarno, Hatta dan Soebardjo disaksikan oleh empat orang eksponen pemuda, yaitu Sayuti Melik, Sukarni, BM Diah dan Mbah Diro serta beberapa orang Jepang. Mereka mengambil tempat di kamar makan rumah Maeda, dan yang lainnya menunggu di serambi muka. Yang menuliskan adalah Ir. Soekarno, sedangkan Drs. Moh Hatta dan Mr. Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Dari hasil pembicaraan mereka itulah diperoleh rumusan tulisan tangan Ir. Soekarno.

Maka pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta, upacara pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilangsungkan. Bung Karno dengan didampingi Bung Hatta mengucapkan "Proklamasi Kemerdekaan Indonesia" dengan didahului pidato singkat.

Berita proklamasi ini kemudian disiarkan secara luas dan cepat di sekitar Jakarta, terutama oleh pemuda-pemuda pejuang yang aktif mengusahakan lahirnya Proklamasi. Para pemuda-pemuda dengan tidak mengenal lelah menyebarkan pamflet-pamflet, mengadakan pertemuan-pertemuan, menulis pada tembok-tembok, yang kesemuanya berisikan berita tentang Proklamasi. Pekik Merdeka diagungkan di mana-mana dengan gegap gempita. Barulah pada sore harinya yaitu jam 19.00 berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disiarkan ke seluruh dunia melalui Studio Radio Jakarta.

*



Sumber: KORPRI, Tanpa tanggal



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Stovia

Tulisan berjudul "Stovia yang Melahirkan Kebangsaan" ( Kompas , 28/5) telah menyadarkan kita tentang arti penting nilai-nilai kebangsaan yang dibangun para tokoh Indonesia. Untuk menyempurnakan tulisan tersebut, perlu diluruskan beberapa hal dari sisi sejarah. Stovia sebagai sekolah pendidikan dokter Hindia Belanda, sebenarnya tidak mendadak muncul pada zaman politik etis. Sekolah itu lahir sebagai sekolah dokter Jawa 1851, dengan program dua tahun. Tahun 1864 pendidikan menjadi tiga tahun. Tokoh dr Wahidin Soedirohoesoedo lulus dari program tiga tahun itu. Menurut A de Waart (1936), sejak 1872 sekolah itu mulai menyandang nama Stovia. Pada 1902 lama sekolah menjadi sembilan tahun (termasuk tiga persiapan). Dr Soetomo, masuk 1903, dapat disebut sebagai generasi pertama Stovia dengan kurikulum sembilan tahun. Artinya, pendiri Boedi Oetomo bukanlah generasi pertama Stovia, karena lulusan pertama Sekolah Dokter Djawa sudah muncul pada 1853. Keterangan "Orang-orang idealis b...

3,5 Abad Penjajahan Belanda Berakhir di Kalijati, Subang

TANGGAL 8 Maret sebenarnya tak ada yang mesti kita peringati secara Nasional atau regional Jawa Barat. Mungkin hanya bagi para sejarawan tanggal itu mempunyai arti khusus. Tak banyak yang ingat sebenarnya 43 tahun yang silam tepatnya tahun 1942, di pangkalan udara Kalijati Kabupaten Subang terjadi peristiwa bersejarah, yakni berakhirnya 350 tahun penjajahan Hindia Belanda. Saat itu dilakukan penandatanganan naskah penyerahan Indonesia dari tangan penjajah Belanda kepada Jepang yang sering diibaratkan sebagai lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya. Gedung bersejarah yang dipergunakan sebagai tempat peristiwa ini berlangsung sampai kini masih tetap lestari. Saksi bisu ini yang dulunya rumah seorang perwira sekolah penerbangan Hindia Belanda, sekarang digunakan sebagai tempat pertemuan (resepsi) TNI AU Pangkalan Udara Kalijati dengan nama "Wisma Budaya". Kalijati yang terletak 15 kilometer dari ibukota Kabupaten Subang, Jawa Barat, sejak lama dikenal sebagai basis sek...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Wacana Baru Islam Jawa

Pakubuwono II gagal menjadi raja-sufi yang kuat. Ia tak mampu menghadapi kehadiran VOC. I SLAM sinkretis. Istilah tersebut lazim digunakan untuk menggambarkan Islam di Jawa. Perkembangan Islam di wilayah ini lebih diwarnai proses penjawaan ketimbang sebaliknya. Namun, tidak demikian halnya dengan buku karangan M. C. Ricklefs ini. Lewat kajiannya tentang kebangkitan budaya Jawa pada abad ke-18, tepatnya pada masa kekuasaan Pakubuwono II (1726-1749) di Kerajaan Mataram, ia berkesimpulan sebaliknya. Islam menempati posisi sentral dalam budaya Jawa. Bersama tradisi besar pra-Islam, Hindu-Budhis, Islam memberikan kontribusi penting bagi kebangkitan budaya Jawa. Argumen Ricklefs ini memang mewakili kecenderungan baru dalam kajian Islam di Indonesia. Mark R. Woodward menyebutnya sebagai "paradigma yang berpusat pada Islam" ( Islam centered paradigm ). Meski demikian, pada saat yang sama, harus diingat bahwa pandangan Ricklefs ini mewakili argumen seorang sejarawan. Hubungan Islam-Ja...

Petisi Soetardjo: Kesempatan yang Disia-siakan Hindia Belanda

Oleh: A. C. Ton PENGANTAR: A. C Ton, seorang sejarawan dan penerbit dari negeri Belanda menulis mengenai Petisi Soetardjo dan Volksraad yang dimuat di NRC Handelsblad tepat 50 tahun ulang tahun Petisi Soetardjo. Judulnya "Petitie-Soetardjo, 15 Juli 1936,: een gemiste kans voor Nederlands-Indie". Pandangan A. C Ton mengevaluasi peristiwa itu sangat menarik karena dibuat pada masa kini. Di bawah ini terjemahannya.  -- Redaksi TEPAT 50 tahun yang lalu di Volksraad, Nederlandsch Indie, terjadi sesuatu yang luar biasa. Pegawai Pamong Praja Soetardjo pada tanggal 15 Juli 1936 mengajukan usul di perwakilan rakyat dengan maksud memberikan kemerdekaan kepada Nederlandsch Indie dalam jangka waktu 10 tahun: Indie, sebagai dominion dalam Kerajaan Belanda. Dua tahun lamanya usul tersebut yang menjadi terkenal sebagai "Petitie Soetardjo" berhasil memikat perhatian orang di Indie. Petisi tersebut tidaklah bersifat revolusioner atau pun radikal. Kalau dibandingkan dengan perjuangan...

Luruhnya Sebuah Imperium: Mengenang Berakhirnya Penjajahan Belanda di Indonesia

Oleh Bambang Hidayat GEMA pidato Ratu Wilhelmina (6 Desember 1942) itu bagaikan setetes embun di lautan ketidakpercayaan bangsa Indonesia (yakni penduduk Ned. Indie) kepada Belanda karena lambat dan terlalu encer makna. Rangkaian kejadian sebelumnya memperlihatkan sikap paternalistik Belanda yang hanya ingin membesarkan Indonesia (Ned. Indie berparlemen) dalam rangkuman Belanda. Ini menyebabkan evolusi ketatanegaraan Ned. Indie tak pernah terlaksana. Pidato itu sebenarnya sudah memudar akibat sumbar Gub. Jendral De Jonge (1931 - 1936) yang mencengangkan, "Belanda telah memerintah Ned. Indie selama 300 tahun, dan masih siap untuk memerintah 300 tahun lagi. Setelah itu barulah orang berbicara tentang nasionalisme (Indonesia)." Ungkapan ini menghancurkan wawasan kaum "ethici" dan golongan "de Stuw", dan dengan tak disadari, menghanyutkan "Janji November (1918)". "The Roaring Twenties" mencatat dengan hangat kelahiran Perhimpun...

Sumbangan Berharga untuk Mencapai Kemerdekaan: Bandung Lautan Api 24 Maret 1946

Oleh MASHUDI BANDUNG  Lautan Api 24 Maret 1946 merupakan peristiwa kepahlawanan yang dibarengi dengan kesadaran patriotisme dan pengorbanan rakyat demi membeli kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia. Semangat Bandung Lautan Api yang telah menjadi aset nasional perlu dilestarikan, dengan amal perbuatan yang setimpal. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 menggerakkan seluruh pemuda Bandung untuk secara serentak menggerakkan masyarakat menyongsong proklamasi dengan penurunan bendera Nipon Hinumaru dan menaikkan bendera Sang Saka Merah Putih di atas Gedung Denis, sekarang Bank Pembangunan Daerah, dan disusul dengan mencopot semua pimpinan Jepang dan digantikan dengan pimpinan bangsa Indonesia di semua kantor-kantor pemerintahan dan semua gedung-gedung yang dikuasai oleh Jepang dijadikan milik Republik Indonesia. Sang Merah Putih berkibar secara terus menerus sampai di pelosok-pelosok, pertanda rakyat "sakumna" menyambut kemerdekaan bangsa dan negara. ...