Langsung ke konten utama

KIPRAH KAUM MUDA: 90 Pemuda Menjadi Penyangga Bangsa

Pergerakan tanpa pemuda adalah kemustahilan. Pada pemuda inilah jiwa bebas yang memompa semangat perubahan menjadi motor utamanya. Dalam setiap masa selalu ada kaum muda yang berperan penting dalam menentukan narasi masa itu.

Demikian pula dalam sejarah Indonesia. Tonggak penting peran pemuda yang menopang perjalanan bangsa ini ditancapkan di Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Kesepakatan tekad bersama untuk bersatu dalam Tanah Air, bangsa, dan bahasa yang sama yaitu Indonesia tertuang dalam Sumpah Pemuda. Sejak saat itu hingga saat ini, kiprah generasi muda bagai sinar terang yang mengarahkan gerak negeri.

Para peringatan ke-90 Hari Sumpah Pemuda tahun ini, Kompas memanggungkan 90 figur pemuda, yang tidak selalu satu orang, berusia di bawah 40 tahun yang memiliki peran luar biasa pada zamannya. Dalam tubuh mudanya, mereka memiliki gagasan dan pencapaian yang besar bagi negerinya. Kaum muda ini berkiprah dalam berbagai bidang, sebagai sosok negarawan, pejuang kemerdekaan, seniman, olahragawan, aktivis, hingga inovator.

Soekarno pada usia 27 tahun, misalnya, sudah mendirikan dan memimpin Partai Nasional Indonesia (PNI). Sementara Adam Malik ikut merintis kantor berita Antara pada usia 20 tahun. Selain itu, ada nama Mohammad Hatta, yang tidak hanya sebagai Proklamator bersama Soekarno, tetapi juga berkiprah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari Belanda, menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia saat masih berusia kurang dari 30 tahun, dan diwujudkan kembali menjadi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Baru saat ia kembali ke Tanah Air pada 1932.

Wahid Hasyim dan Abdul Kahar Muzakir ikut merumuskan dasar negara Indonesia saat masih berusia 30-an tahun pada 1945. Di sisi lain, Supriyadi, Bung Tomo, I Gusti Ngurah Rai, dan Sudirman mengangkat senjata, memimpin perlawanan terhadap penjajah ketika mereka masih berusia kurang dari 30 tahun.

Negeri ini juga melahirkan ilmuwan muda yang menandai era baru negeri, seperti Sumitro Djojohadikusumo, BJ Habibie, dan Anto Tri Sugiarto. Selain itu, negeri ini juga banyak melahirkan aktivis yang ikut mengubah sejarah negara, tidak hanya mereka yang berdiri sendiri, tetapi juga bersama-sama, seperti saat mahasiswa beraksi pada 1966, 1974, ataupun Gerakan Reformasi pada 1998. Ada pula sejumlah aktivis buruh dan wirausaha yang mewarnai arah negeri ini.

Sejarah mencatat posisi strategis mereka bagi bangsa seiring bertambahnya usia. Kini, saat Indonesia ada pada era digital yang kompetitif, ada sosok William Tanuwijaya, Nadiem A Makarim, Achmad Zaky, Ferry Unardi, dan M Alfatih Timur yang tampil ke depan. Semuanya berusia di bawah 30 tahun saat mendirikan bisnis dan gerakan sosial berbasis teknologi digital tersebut.

Tak mudah memilih dan memilah kaum muda dengan nama besar di negeri ini untuk dimasukkan dalam 90 pilihan ini. Pasti ada yang terlewat. Namun, selama pemuda bergerak demi bangsanya, bukan untuk dirinya semata, jayalah Indonesia. 

(LITBANG KOMPAS/SGH/TRA)



Kiprah 90 Pemuda Indonesia Tahun 1928-2018

1928
1 Soegondo Djojopuspito (23, pejuang kemerdekaan) pemimpin Kongres Pemuda Indonesia II yang melahirkan Sumpah Pemuda.
2 Soekarno (umur 27 tahun, Pejuang Kemerdekaan) Pemimpin Partai Nasional Indonesia yang berpengaruh dalam mempersatukan Indonesia dan gerakan pemuda.
3 Muhammad Yamin (25, pejuang kemerdekaan) perumus Rancangan Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda Indonesia II.
4 Soejatin Kartowijono (21, pejuang kemerdekaan) salah seorang penggagas Kongres Perempuan Indonesia pertama dan kini diperingati sebagai Hari Ibu.
5 Wage Rudolf Soepratman (25, pejuang kemerdekaan), pada Kongres Pemuda II di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928, melantunkan lagu ciptaannya, Indonesia Raya.

1930
6 M Husni Thamrin (36, pejuang kemerdekaan) menggagas dan memimpin Fraksi Nasional yang bertujuan mencapai kemerdekaan dalam waktu dingkat.

1931
7 S Sudjojono (18, pelukis) ditugaskan Ki Hajar Dewantara membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1931. Dijuluki Bapak Seni Rupa Idonesia.

1932
8 Mohammad Hatta (30, Pejuang Kemerdekaan) Ketua Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru). Ketua Perhimpuan Indonesia 1926 di Belanda.
9 Mohammad Natsir (24, pejuang kemerdekaan) pendiri Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.

1933
10 Sutan Takdir Alisjahbana (25, seniman-sastrawan) dan Tengku Amir Hamzah (22, seniman-sastrawan) pendiri majalah Poedjangga Baroe yang menyuarakan pembaharuan sastra.

1936
11 Tan Malaka (39, pejuang kemerdekaan) orang Indonesia yang mendirikan sekolah bahasa Inggris dan Jerman di Pulau Amoy, China.

1937
12 Adam Malik (20, pejuang kemerdekaan) salah satu perintis kantor berita Antara.

1945
13 Supriyadi (22, pejuang kemerdekaan) pemimpin perlawanan tentara Pembela Tanah Air (Peta) terhadap Jepang di Blitar.
14 Wahid Hasyim (31, pejuang kemerdekaan) dan Abdul Kahar Muzakkir (38, pejuang kemerdekaan), anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan yang merumuskan dasar negara Indonesia.
15 Chaerul Saleh (29, pejuang kemerdekaan) salah satu penggerak peristiwa Rengasdengklok.
16 Sukarni (29, pejuang kemerdekaan) mengusulkan agar Soekarno-Hatta menandatangani naskah proklamasi.
17 Sutan Sjahrir (36, pejuang kemerdekaan) Menteri Penerangan pertama Indonesia.
18 Amir Syarifuddin (38, pejuang kemerdekaan) Menteri Penerangan pertama Indonesia.
19 Tahi Bonar Simatupang (25, pejuang kemerdekaan) turut bergerilya bersama Jenderal Soedirman dan menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI 1948-1949.
20 Soedirman (29, pejuang kemerdekaan) terpilih sebagai Panglima Besar TKR. Memimpin pasukan gerilya.
21 Latief Hendraningrat (34, pejuang kemerdekaan), tentara PETA, pengibar bendera Merah Putih setelah proklamasi kemerdekaan RI.
22 Frans Mendur (32, pejuang kemerdekaan), fotografer, yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI serta pengibaran bendera Merah Putih.
23 Fatmawati (22, pejuang kemerdekaan) perajut bendera Merah Putih yang dikibarkan usai proklamasi.
24 Sayuti Melik (37, pejuang kemerdekaan) pengetik naskah proklamasi.
25 Chairil Anwar (23) sastrawan "Angkatan 45"
26 Sutomo/Bung Tomo (25, pejuang kemerdekaan) pemimpin perjuangan pertempuran Surabaya.
27 Juanda Kartawijaya (34, pejuang kemerdekaan) pemimpin gerakan pemuda mengambil alih Jawatan Kereta Api Bandung dari Jepang. Pencetus Deklarasi Juanda.
28 Mas Isman (23, pejuang kemerdekaan) inisiator dan Komandan BKR/TKR Pelajar Surabaya.
29 Ismail Marzuki (31, seniman) komponis lagu perjuangan Indonesia seperti Gugur Bunga, Sepasang Mata Bola, dan Rayuan Pulau Kelapa.

1946
30 Muhammad Yasin (26, pejuang kemerdekaan) perintis Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian RI.
31 I Gusti Ngurah Rai (29, pejuang kemerdekaan) pemimpin pasukan "Ciung Wanara" saat Revolusi Nasional di Bali.

1948
32 Sjafruddin Prawiranegara (37, pejuang kemerdekaan) Pimpinan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
33 Abdul Haris Nasution (30, pejuang kemerdekaan) Wakil panglima besar angkatan perang RI.
34 Soeharso (36, dokter) pendiri tempat pembuatan kaki dan tangan palsu (prostesis) di RS Umum Surakarta.

1949
35 Mochtar Lubis (27, sastrawan) jurnalis pendiri Harian Indonesia Raya. Sempat dipenjara karena terlalu keras mengkritik pemerintahan Soekarno.
36 Supeno (32, pejuang kemerdekaan) Menteri Pembangunan dan Pemuda yang gugur tertembak tentara Belanda saat masa revolusi.

1950
37 Sumitro Djojohadikusumo (33, pejuang kemerdekaan) ekonom yang pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Riset.
38 A J Mokoginta (29, pejuang kemerdekaan) Ketua Komisi Militer dan Teritorial Indonesia Timur yang menerima penyerahan kekuasaan dari Belanda (KNIL).
39 Usmar Ismail (29, Seniman) Pelopor perfilman Indonesia yang melahirkan film Darah dan Doa, Tiga Dara, dan Djam Malam.
40 Yap Thiam Hien (37, aktivis) membuka kantor pengacara bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmaja, dan Komar. Seorang aktivis pembela HAM.

1955
41 Burhanuddin Harahap (37, pejuang kemerdekaan) Perdana Menteri Indonesia yang menyelenggarakan Pemilu pertama 1955.

1958
42 BJ Habibie (22, ilmuwan) Ketua Pelajar Indonesia di Aachen, Jerman, yang menggagas seminar pembangunan bagi seluruh mahasiswa Indonesia di Eropa.
43 Ahmad Yani (36, pejuang kemerdekaan) menjalankan Operasi 17 Agustus 1958) untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat.

1966
44 Arif Rahman Hakim (23, Aktivis) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang tewas saat demonstrasi menuntut Tritura.

1969
45 Soe Hok Gie (26, aktivis) penulis yang kritis terhadap pemerintahan Orde Lama. Meninggal dalam pendakian Gunung Semeru.

1970
46 Adnan Buyung Nasution (36, aktivis) pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum yang membantu masyarakat kurang mampu untuk mengakses hukum.

1972
47 Charles (Charlie) Depthios (32) atlet angkat besi yang pertama kali memecahkan rekor dunia. Pada Olimpiade di Muenchen, Jerman.

1973
48 Arief Budiman (32) aktivis '66 yang kritis terhadap pemerintah, baik Orla maupun Orba. Bersama kawan-kawannya mencetuskan Golongan Putih.

1974
49 Hariman Siregar (23, aktivis) Ketua Dewan Mahasiswa UI yang memimpin demonstrasi pada peristiwa Malari.

1976
50 Rudy Hartono (27) atlet bulu tangkis peraih gelar juara All England terbanyak di nomor tunggal (delapan kemenangan).

1984
51 Liem Swie King (28, atlet) peraih tiga kali gelar juara Piala Dunia bulu tangkis berturut-turut sejak 1984.

1985
52 Ellyas Pical (25) orang Indonesia pertama penyandang gelar juara dunia tinju kelas super terbang IBF.
53 Aminoto Kosin (25, seniman) pemusik Indonesia peraih Jazz Master Award dan penerima hadiah Oscar Peterson Award di Boston, AS.

1988
54 Nurfitriyana Saiman (26), Kusuma Wardhani (24), Lilies Handayani (23) (atlet) tiga srikandi atlet panahan meraih medali pertama (perak) untuk Indonesia di Olimpiade Seoul.

1992
55 Susy Susanti (21, Atlet) Peraih medali emas Olimpiade pertama bulu tangkis tunggal putri.
56 Alan Budikusuma (24, atlet) peraih medali emas olimpiane pertama bulu tangkis tunggal putra.

1993
57 Marsinah (24, Aktivis) Aktivis buruh pada masa Orde Baru yang meninggal beberapa hari setelah melakukan aksi mogok.
58 Ananda Sukarlan (25, seniman) pianis peroleh hadian ketiga ajang prestisius perlombaan internasional musik klasik dan kontemporer Gaudeamus Concours di Belanda.

1994
59 Garin Nugroho (33, seniman) sineas film Surat untuk Bidadari yang meraih film terbaik di Forum Des Jungen Films.

1996
60 Budiman Sudjatmiko (26) aktivis yang kritis terhadap orde baru. Pendiri sekaligus ketua pertama Partai Rakyat Demokratik.
61 Rexy Mainaky (28) dan Ricky Subagja (25) atlet peraih medali emas ganda putra pertama bulu tangkis di Olimpiade (Atlanta).

1997
62 Asmujino (25) orang Indonesia pertama yang mencapai puncak Everest.
63 Yayuk Basuki (26, atlet) petenis pertama Indonesia dan putri Asia kedua yang menembus ke perempat final Wimbledon.

1998
64 Aksi Mahasiswa (22-24, Aktivis) Aktivis gerakan mahasiswa. Dikenal sebagai pahlawan reformasi.
 
1999
65 Munir Said Thalib (33, Aktivis) Pejuang HAM yang dinobatkan sebagai satu dari 20 pemimpin politik muda Asia oleh majalah Asiaweek.
66 Teten Masduki (36) aktivis anti korupsi yang menerima penghargaan Suardi Tasrif Award pada 1999 karena dedikasinya dalam melawan korupsi di Indonesia.
67 Andrew Darwis (20, wirausaha) bersama Ronald dan Budi mendirikan Kaskus, komunitas daring terbesar di Indonesia kala itu.

2002 
68 Anto Tri Sugiarto (30) ilmuwan yang mendapatkan penghargaan Masuda Awards sebagai peneliti muda terbaik dari Institute of Electrostatics Japan.

2004
69 Butet Manurung (32, Aktivis) Aktivis pendidikan Suku Anak Dalam yang menjadi salah satu pahlawan Asia menurut majalah Time.

2005
70 Taufik Hidayat (24, atlet) juara dunia Badminton World Federation di Anaheim, AS, dan menjadi pebulu tangkis pertama yang mencapai level ini.
71 Johny Setyawan (30, ilmuwan) ketua tim peneliti di MPIA, Jerman, penemu planet pertama yang mengelilingi bintang baru TW Hydrae.

2006
72 Khoirul Anwar (28) ilmuwan yang menggagas teori pemanfaatan dua FFT dalam modulasi untuk komunikasi jaringan pita lebar nirkabel (teknologi LTE).

2008
73 Irene Kharisma Sukandar (16, atlet) memperoleh gelar Grand Master Wanita pertama Indonesia.

2009
74 William Tanuwijaya (28, Wirausaha) pendiri E-Dagang Tokopedia yang tahun 2017 sukses menjadi startup unicorn.

2010
75 Nadiem Anwar Makarim (26, wirausaha) pendiri perusahaan Ojek Daring Go-Jek yang kini telah ekspansi ke empat negara di Asia Tenggara.
76 Achmad Zaky (24, wirausaha) pendiri E-Dagang Bukalapak dan penerima Satyalancana Wira Karya 2016 dari Presiden

2012
77 Ferry Unardi, Albert Zhang, dan Derianto Kusuma (24, wirausaha) pendiri Traveloka yang telah diunduh 6 juta kali dan melebarkan bisnis ke enam negara.

2013
78 Tex Saverio (29, seniman) desainer Indonesia pertama yang tampil di Paris Fashion Week dan karyanya digunakan selebriti dunia, seperti Lady Gaga dan Kim Kardashian.
79 Muhammad Alfatih Timur (22, wirausaha) pendiri website crowdfunding kitabisa.com. Kini lebih dari 1 juta orang telah bergabung menjadi donatur dan 14.999 kampanye terdanai.

2014
80 Gamal Albinsaid (25, wirausaha) dokter peraih penghargaan The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur dari Unilever dan Cambridge University Inggris.
81 Livi Zheng (25) sutradara dan produser film "Brush With Danger" yang menembus Hollywood.

2015
82 Joey Alexander Sila (12) musisi Indonesia pertama yang masuk dalam 200 chart Billboard AS dan mendapat nominasi Anugerah Grammy tahun 2016.
83 Leonika Sari (22, Wirausaha) Mendirikan Reblood dan masuk ke dalam perempuan inspiratif BBC 100 Women dari seluruh dunia tahun 2016.

2016
84 Lilyana Natsir (30) dan Tontowi Ahmad (29) atlet peraih emas pertama dalam ganda campuran bulu tangkis Olimpiade (Rio de Janeiro, Brasil).
85 Wregas Bhanuteja (23) sutradara film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes.
86 Surya Sahetapy (23, aktivis) wakil Indonesia di sejumlah kongres dunia seperti Global IT for Youth with Disabilities di Bangkok.
87 Peggy Hartanto (27) salah satu desainer muda Asia yang berpengaruh di bidang seni menurut Forbes.

2017
88 Kevin Sanjaya (21) dan Marcus Gideon (26) (atlet) memenangi tujuh gelar juara super series sepanjang tahun 2017.

2018
89 Lalu Muhammad Zohri (18, atlet) sprinter pertama Indonesia peraih medali emas lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U20 IAAF.
90 Samantha Edithso (10, atlet) juara dunia kejuaraan catur FIDE World Championship 2018 U-10 di Minsk, Belarusia.

Sumber: Litbang Kompas/DEW/ERN/GRH/KPP/RTA/XNA/L04/L07, diolah dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Arsip Nasional Republik Indonesia edisi 61/Mei-Agustus 2013, buku Adam Malik: Profil Seorang Pejuang (1978), Album 97 Pahlawan Nasional dan Sejarah Perjuangannya (1985), Indonesiasi: A Historical Survey of the Role of Politics in the Institution of a Changing Economy from the Second World War to the Eve of the General Elections (1959), Catatan BM Diah: Peran "Pivotal" Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-45 (2018), Kongres Perempuan Pertama (2007), Menteng 31, Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45: Membangun Jembatan Dua Angkatan (1996), Mohamad Roem: Karier Politik dan Perjuangannya (2002), Rebellion to Integration: West Sumatra and The Indonesian Polity (1999), Risalah Gerakan Pemuda (1952), Riwayat Hidup dan Perjuangan Muhammad Husni Thamrin (1980), S.K. Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia (2016), Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah (2002), Sejarah Indonesia Modern (2008), Sejarah Nasional Indonesia Jilid V (2010), Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI (2010), Seratus Tahun Bung Hatta (2002), Wage Rudolf Soepratman: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia "Indonesia Raya" dan Pahlawan Nasional (2001), Wahid Hasyim: untuk Republik dari Tebuireng (2011), Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir (2012), Adam Malik: Mengabdi Republik (1978), Pemberitaan Kompas, Antara, Kontras, laman academia.edu, dan kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id.



Sumber: Kompas, 28 Oktober 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan Bukan Tujuan, Hanya Jembatan Memperbaiki Nasib Bangsa

Oleh Mochtar Lubis PELURU mortir mengoyak udara dan daging serta tulang-tulang manusia. Peluru senapan mesin dan senapan berdesing-desing membelah udara. Kereta api yang saya tumpangi dan telah dekat ke jembatan besar di atas Kali Bekasi disuruh mundur, ketika tembak-menembak antara pasukan-pasukan RI (pasukan resmi maupun pasukan pejuang rakyat) dengan pasukan Belanda di seberang kali bertambah sengit.  Saya turun dari kereta api hendak melihat jalan pertempuran dari dekat. Ini hanya sebuah dari sekian banyak insiden tembak-menembak antara pasukan kolonial Belanda dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dan tiap kali jatuhlah korban di kedua belah pihak. Suatu waktu yang lain, di tempat yang sama, rombongan orang-orang Republik Indonesia yang menuju ke Yogyakarta, setelah melewati jembatan Kali Bekasi, dihentikan oleh sebuah pasukan RI. Mereka bertanya apakah dalam kereta api ada dokter. Kebetulan ada dokter Subandrio (yang di kala itu menjabat sekretaris jenderal Departemen Peneran...

Komunitas Arab di Pekojan dan Krukut: Dari Mayoritas Menjadi Minoritas

M asjid itu masih tampak kokoh sekalipun usianya telah hampir dua setengah abad. Hanya di bagian atas menaranya yang menjulang tinggi sedikit berlumut dimakan usia. Di bagian dalamnya yang luas dan sejuk di tengah-tengah perkampungan yang gersang dan panas, terhampar permadani warna-warni buatan Persia. Siang itu sekitar 100 orang--kebanyakan berkopiah putih--tengah menunaikan salat dzuhur berjamaah dipimpin imam H. Achmad Basarah (81). Imam Basarah adalah keturunan keluarga Arab yang sudah tinggal di daerah itu sejak beberapa generasi lalu. Masjid Annawir yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah itu dikenal juga dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibangun tahun 1760 Masehi atau 1180 Hijriah. Saat ini Masjid Annawir Pekojan adalah masjid terbesar di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang mayoritas penduduknya keturunan Cina. Sekitar empat kilometer sebelah selatan Kelurahan Pekojan, terdapat Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Di kelurahan sini be...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Tank Rampasan dan Gerbong Maut, Saksi-saksi Sejarah

M useum Brawijaya yang terletak di Jalan Ijen, Malang, merupakan tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda yang memiliki nilai-nilai sejarah erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan RI. Inilah museum yang membangkitkan semangat seperti sesantinya "Citra Utthapana Cakra". Dalam bahasa Sanskerta, Citra berarti sinar. Utthapana berarti membangun, menggairahkan, atau membangkitkan, dan Cakra berarti semangat, daya, atau kekuatan. Dengan luas bangunan 3.300 m2, museum ini mengkoleksi benda-benda bersejarah dari tahun 1945 sampai dengan sekarang yang merupakan bukti nyata perjuangan TNI-AD khususnya dan ABRI pada umumya dalam menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan RI. Koleksi museum dipamerkan pada dua bagian. Di ruang dalam museum, sebagian besar berupa benda-benda yang pernah punya andil besar dalam merebut dan mempertahankan Tanah Air, serta sejumlah barang bersejarah lainnya. Seperti senapan mesin ringan, mortir, serta alat-alat komunikasi model kuno. Sedangka...

Bagaimana Wali Mengislamkan Nusantara?

Sebuah seminar unik, akhir pekan lalu, berlangsung di Surabaya. Temanya Sejarah Perjuangan Sunan Drajat dalam Jaringan Penyebaran Islam di Nusantara. Pembukaan seminar ilmiah ini dibuka dengan tari, gamelan, dan Dandang Gulo  dan Piwulang . "Ini seminar yang gayeng  (semarak, red)," ujar seorang peserta dari Jakarta. Panitia yang dimotori Bupati Lamongan HM Faried SH, tampaknya merancang pertemuan para pakar dan ulama dengan dua pendekatan, budaya dan ilmiah. Suasana itu membuat Gubernur Jatim Basofi Sudirman dan Dr Roeslan Abdulgani turut melantunkan Dandang Gulo dan Piwulang (ajaran), yang berisi wejangan dari Sunan Drajat. Tari Sekar Giri dan Kenduran  diiringi tembang Tombo Ati  dan Lir Ilir  membikin suasana kian semarak. Penyair asal Madura, D. Zawawi Imran, lantas membaca puisinya, Episode Gelombang , bertutur tentang kiprah para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Toh, pengantar yang 'meriah' tak membuat acara tersebut keh...

Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi

Oleh AHMAD MANSUR SURYANEGARA D INASTI Sang Prabu Siliwangi pada abad ke-15 menjadikan Islam sebagai agamanya secara aman dan damai. Diawali dengan sebab adanya pernikahan kedua Sang Prabu Siliwangi dengan Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa, Syah Bandar Cirebon. Subang Larang adalah santri Syekh Kuro atau Syekh Hasanuddin dengan pesantrennya di Karawang. Dinasti Sang Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Subang Larang, terlahirlah tiga orang putra putri. Pertama, Pangeran Walangsungsang, kedua, Nyai Lara Santang, dan ketiga, Raja Sangara. Ketiga-tiganya masuk Islam. Pesantren Syekh Kuro Syekh Kuro yang dikenal pula dengan nama Syekh Hasanuddin memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Persahabatan Ki Gedeng Tapa dengan Syekh Kuro menjadikan putrinya, Subang Larang, masantren  di Pesantren Syekh Kuro. Adapun kedudukan Ki Gedeng Tapa adalah sebagai Syahbandar di Cirebon. Menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat. Ki G...

Mengenang 60 Tahun Masa Penjajahan Dai Nippon (5): Testamen Tanaka: "Dai Nippon Harus Menguasai Dunia"

UNTUK menjelesaikan kesulitan-kesulitan di Asia Timur, Djepang harus mendjalankan politik darah dan badja. Untuk menguasai dunia, Djepang mesti menguasai Eropah dan Asia. Untuk menguasai Eropah dan Asia, Djepang lebih dulu mesti menguasai Tiongkok. Dan untuk menguasai Tiongkok, Djepang mesti mulai dengan menaklukkan Manchuria, dan Mongolia. Djepang ingin menjelesaikan program ini dalam 10 tahun. ("Testamen Tanaka" yang ditulis tahun 1927, dikutip dari "Nasionalisme" oleh Ruslan Abdulgani). Oleh HARYADI SUADI "INDONESIA merdeka di kemudian hari" telah disambut rakyat dengan gegap gempita dan kegembiraan yang meluap-luap. Dalam waktu cepat di seluruh rumah penduduk, gedung perkantoran, hotel, toko, sekolah, dan sebagainya, dari kota sampai ke pelosok di Pulau Jawa, dikibarkan sang Dwi Warna. Dan sesuai dengan bunyi maklumat Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi), bendera kita harus selalu didampingi bendera Matahari Terbit sebagai lambang sehidup semati de...