Langsung ke konten utama

KIPRAH KAUM MUDA: 90 Pemuda Menjadi Penyangga Bangsa

Pergerakan tanpa pemuda adalah kemustahilan. Pada pemuda inilah jiwa bebas yang memompa semangat perubahan menjadi motor utamanya. Dalam setiap masa selalu ada kaum muda yang berperan penting dalam menentukan narasi masa itu.

Demikian pula dalam sejarah Indonesia. Tonggak penting peran pemuda yang menopang perjalanan bangsa ini ditancapkan di Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Kesepakatan tekad bersama untuk bersatu dalam Tanah Air, bangsa, dan bahasa yang sama yaitu Indonesia tertuang dalam Sumpah Pemuda. Sejak saat itu hingga saat ini, kiprah generasi muda bagai sinar terang yang mengarahkan gerak negeri.

Para peringatan ke-90 Hari Sumpah Pemuda tahun ini, Kompas memanggungkan 90 figur pemuda, yang tidak selalu satu orang, berusia di bawah 40 tahun yang memiliki peran luar biasa pada zamannya. Dalam tubuh mudanya, mereka memiliki gagasan dan pencapaian yang besar bagi negerinya. Kaum muda ini berkiprah dalam berbagai bidang, sebagai sosok negarawan, pejuang kemerdekaan, seniman, olahragawan, aktivis, hingga inovator.

Soekarno pada usia 27 tahun, misalnya, sudah mendirikan dan memimpin Partai Nasional Indonesia (PNI). Sementara Adam Malik ikut merintis kantor berita Antara pada usia 20 tahun. Selain itu, ada nama Mohammad Hatta, yang tidak hanya sebagai Proklamator bersama Soekarno, tetapi juga berkiprah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari Belanda, menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia saat masih berusia kurang dari 30 tahun, dan diwujudkan kembali menjadi Pendidikan Nasional Indonesia (PNI). Baru saat ia kembali ke Tanah Air pada 1932.

Wahid Hasyim dan Abdul Kahar Muzakir ikut merumuskan dasar negara Indonesia saat masih berusia 30-an tahun pada 1945. Di sisi lain, Supriyadi, Bung Tomo, I Gusti Ngurah Rai, dan Sudirman mengangkat senjata, memimpin perlawanan terhadap penjajah ketika mereka masih berusia kurang dari 30 tahun.

Negeri ini juga melahirkan ilmuwan muda yang menandai era baru negeri, seperti Sumitro Djojohadikusumo, BJ Habibie, dan Anto Tri Sugiarto. Selain itu, negeri ini juga banyak melahirkan aktivis yang ikut mengubah sejarah negara, tidak hanya mereka yang berdiri sendiri, tetapi juga bersama-sama, seperti saat mahasiswa beraksi pada 1966, 1974, ataupun Gerakan Reformasi pada 1998. Ada pula sejumlah aktivis buruh dan wirausaha yang mewarnai arah negeri ini.

Sejarah mencatat posisi strategis mereka bagi bangsa seiring bertambahnya usia. Kini, saat Indonesia ada pada era digital yang kompetitif, ada sosok William Tanuwijaya, Nadiem A Makarim, Achmad Zaky, Ferry Unardi, dan M Alfatih Timur yang tampil ke depan. Semuanya berusia di bawah 30 tahun saat mendirikan bisnis dan gerakan sosial berbasis teknologi digital tersebut.

Tak mudah memilih dan memilah kaum muda dengan nama besar di negeri ini untuk dimasukkan dalam 90 pilihan ini. Pasti ada yang terlewat. Namun, selama pemuda bergerak demi bangsanya, bukan untuk dirinya semata, jayalah Indonesia. 

(LITBANG KOMPAS/SGH/TRA)



Kiprah 90 Pemuda Indonesia Tahun 1928-2018

1928
1 Soegondo Djojopuspito (23, pejuang kemerdekaan) pemimpin Kongres Pemuda Indonesia II yang melahirkan Sumpah Pemuda.
2 Soekarno (umur 27 tahun, Pejuang Kemerdekaan) Pemimpin Partai Nasional Indonesia yang berpengaruh dalam mempersatukan Indonesia dan gerakan pemuda.
3 Muhammad Yamin (25, pejuang kemerdekaan) perumus Rancangan Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda Indonesia II.
4 Soejatin Kartowijono (21, pejuang kemerdekaan) salah seorang penggagas Kongres Perempuan Indonesia pertama dan kini diperingati sebagai Hari Ibu.
5 Wage Rudolf Soepratman (25, pejuang kemerdekaan), pada Kongres Pemuda II di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928, melantunkan lagu ciptaannya, Indonesia Raya.

1930
6 M Husni Thamrin (36, pejuang kemerdekaan) menggagas dan memimpin Fraksi Nasional yang bertujuan mencapai kemerdekaan dalam waktu dingkat.

1931
7 S Sudjojono (18, pelukis) ditugaskan Ki Hajar Dewantara membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangi, tahun 1931. Dijuluki Bapak Seni Rupa Idonesia.

1932
8 Mohammad Hatta (30, Pejuang Kemerdekaan) Ketua Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru). Ketua Perhimpuan Indonesia 1926 di Belanda.
9 Mohammad Natsir (24, pejuang kemerdekaan) pendiri Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.

1933
10 Sutan Takdir Alisjahbana (25, seniman-sastrawan) dan Tengku Amir Hamzah (22, seniman-sastrawan) pendiri majalah Poedjangga Baroe yang menyuarakan pembaharuan sastra.

1936
11 Tan Malaka (39, pejuang kemerdekaan) orang Indonesia yang mendirikan sekolah bahasa Inggris dan Jerman di Pulau Amoy, China.

1937
12 Adam Malik (20, pejuang kemerdekaan) salah satu perintis kantor berita Antara.

1945
13 Supriyadi (22, pejuang kemerdekaan) pemimpin perlawanan tentara Pembela Tanah Air (Peta) terhadap Jepang di Blitar.
14 Wahid Hasyim (31, pejuang kemerdekaan) dan Abdul Kahar Muzakkir (38, pejuang kemerdekaan), anggota BPUPKI dan Panitia Sembilan yang merumuskan dasar negara Indonesia.
15 Chaerul Saleh (29, pejuang kemerdekaan) salah satu penggerak peristiwa Rengasdengklok.
16 Sukarni (29, pejuang kemerdekaan) mengusulkan agar Soekarno-Hatta menandatangani naskah proklamasi.
17 Sutan Sjahrir (36, pejuang kemerdekaan) Menteri Penerangan pertama Indonesia.
18 Amir Syarifuddin (38, pejuang kemerdekaan) Menteri Penerangan pertama Indonesia.
19 Tahi Bonar Simatupang (25, pejuang kemerdekaan) turut bergerilya bersama Jenderal Soedirman dan menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI 1948-1949.
20 Soedirman (29, pejuang kemerdekaan) terpilih sebagai Panglima Besar TKR. Memimpin pasukan gerilya.
21 Latief Hendraningrat (34, pejuang kemerdekaan), tentara PETA, pengibar bendera Merah Putih setelah proklamasi kemerdekaan RI.
22 Frans Mendur (32, pejuang kemerdekaan), fotografer, yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI serta pengibaran bendera Merah Putih.
23 Fatmawati (22, pejuang kemerdekaan) perajut bendera Merah Putih yang dikibarkan usai proklamasi.
24 Sayuti Melik (37, pejuang kemerdekaan) pengetik naskah proklamasi.
25 Chairil Anwar (23) sastrawan "Angkatan 45"
26 Sutomo/Bung Tomo (25, pejuang kemerdekaan) pemimpin perjuangan pertempuran Surabaya.
27 Juanda Kartawijaya (34, pejuang kemerdekaan) pemimpin gerakan pemuda mengambil alih Jawatan Kereta Api Bandung dari Jepang. Pencetus Deklarasi Juanda.
28 Mas Isman (23, pejuang kemerdekaan) inisiator dan Komandan BKR/TKR Pelajar Surabaya.
29 Ismail Marzuki (31, seniman) komponis lagu perjuangan Indonesia seperti Gugur Bunga, Sepasang Mata Bola, dan Rayuan Pulau Kelapa.

1946
30 Muhammad Yasin (26, pejuang kemerdekaan) perintis Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian RI.
31 I Gusti Ngurah Rai (29, pejuang kemerdekaan) pemimpin pasukan "Ciung Wanara" saat Revolusi Nasional di Bali.

1948
32 Sjafruddin Prawiranegara (37, pejuang kemerdekaan) Pimpinan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
33 Abdul Haris Nasution (30, pejuang kemerdekaan) Wakil panglima besar angkatan perang RI.
34 Soeharso (36, dokter) pendiri tempat pembuatan kaki dan tangan palsu (prostesis) di RS Umum Surakarta.

1949
35 Mochtar Lubis (27, sastrawan) jurnalis pendiri Harian Indonesia Raya. Sempat dipenjara karena terlalu keras mengkritik pemerintahan Soekarno.
36 Supeno (32, pejuang kemerdekaan) Menteri Pembangunan dan Pemuda yang gugur tertembak tentara Belanda saat masa revolusi.

1950
37 Sumitro Djojohadikusumo (33, pejuang kemerdekaan) ekonom yang pernah menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Riset.
38 A J Mokoginta (29, pejuang kemerdekaan) Ketua Komisi Militer dan Teritorial Indonesia Timur yang menerima penyerahan kekuasaan dari Belanda (KNIL).
39 Usmar Ismail (29, Seniman) Pelopor perfilman Indonesia yang melahirkan film Darah dan Doa, Tiga Dara, dan Djam Malam.
40 Yap Thiam Hien (37, aktivis) membuka kantor pengacara bersama John Karwin, Mochtar Kusumaatmaja, dan Komar. Seorang aktivis pembela HAM.

1955
41 Burhanuddin Harahap (37, pejuang kemerdekaan) Perdana Menteri Indonesia yang menyelenggarakan Pemilu pertama 1955.

1958
42 BJ Habibie (22, ilmuwan) Ketua Pelajar Indonesia di Aachen, Jerman, yang menggagas seminar pembangunan bagi seluruh mahasiswa Indonesia di Eropa.
43 Ahmad Yani (36, pejuang kemerdekaan) menjalankan Operasi 17 Agustus 1958) untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat.

1966
44 Arif Rahman Hakim (23, Aktivis) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang tewas saat demonstrasi menuntut Tritura.

1969
45 Soe Hok Gie (26, aktivis) penulis yang kritis terhadap pemerintahan Orde Lama. Meninggal dalam pendakian Gunung Semeru.

1970
46 Adnan Buyung Nasution (36, aktivis) pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum yang membantu masyarakat kurang mampu untuk mengakses hukum.

1972
47 Charles (Charlie) Depthios (32) atlet angkat besi yang pertama kali memecahkan rekor dunia. Pada Olimpiade di Muenchen, Jerman.

1973
48 Arief Budiman (32) aktivis '66 yang kritis terhadap pemerintah, baik Orla maupun Orba. Bersama kawan-kawannya mencetuskan Golongan Putih.

1974
49 Hariman Siregar (23, aktivis) Ketua Dewan Mahasiswa UI yang memimpin demonstrasi pada peristiwa Malari.

1976
50 Rudy Hartono (27) atlet bulu tangkis peraih gelar juara All England terbanyak di nomor tunggal (delapan kemenangan).

1984
51 Liem Swie King (28, atlet) peraih tiga kali gelar juara Piala Dunia bulu tangkis berturut-turut sejak 1984.

1985
52 Ellyas Pical (25) orang Indonesia pertama penyandang gelar juara dunia tinju kelas super terbang IBF.
53 Aminoto Kosin (25, seniman) pemusik Indonesia peraih Jazz Master Award dan penerima hadiah Oscar Peterson Award di Boston, AS.

1988
54 Nurfitriyana Saiman (26), Kusuma Wardhani (24), Lilies Handayani (23) (atlet) tiga srikandi atlet panahan meraih medali pertama (perak) untuk Indonesia di Olimpiade Seoul.

1992
55 Susy Susanti (21, Atlet) Peraih medali emas Olimpiade pertama bulu tangkis tunggal putri.
56 Alan Budikusuma (24, atlet) peraih medali emas olimpiane pertama bulu tangkis tunggal putra.

1993
57 Marsinah (24, Aktivis) Aktivis buruh pada masa Orde Baru yang meninggal beberapa hari setelah melakukan aksi mogok.
58 Ananda Sukarlan (25, seniman) pianis peroleh hadian ketiga ajang prestisius perlombaan internasional musik klasik dan kontemporer Gaudeamus Concours di Belanda.

1994
59 Garin Nugroho (33, seniman) sineas film Surat untuk Bidadari yang meraih film terbaik di Forum Des Jungen Films.

1996
60 Budiman Sudjatmiko (26) aktivis yang kritis terhadap orde baru. Pendiri sekaligus ketua pertama Partai Rakyat Demokratik.
61 Rexy Mainaky (28) dan Ricky Subagja (25) atlet peraih medali emas ganda putra pertama bulu tangkis di Olimpiade (Atlanta).

1997
62 Asmujino (25) orang Indonesia pertama yang mencapai puncak Everest.
63 Yayuk Basuki (26, atlet) petenis pertama Indonesia dan putri Asia kedua yang menembus ke perempat final Wimbledon.

1998
64 Aksi Mahasiswa (22-24, Aktivis) Aktivis gerakan mahasiswa. Dikenal sebagai pahlawan reformasi.
 
1999
65 Munir Said Thalib (33, Aktivis) Pejuang HAM yang dinobatkan sebagai satu dari 20 pemimpin politik muda Asia oleh majalah Asiaweek.
66 Teten Masduki (36) aktivis anti korupsi yang menerima penghargaan Suardi Tasrif Award pada 1999 karena dedikasinya dalam melawan korupsi di Indonesia.
67 Andrew Darwis (20, wirausaha) bersama Ronald dan Budi mendirikan Kaskus, komunitas daring terbesar di Indonesia kala itu.

2002 
68 Anto Tri Sugiarto (30) ilmuwan yang mendapatkan penghargaan Masuda Awards sebagai peneliti muda terbaik dari Institute of Electrostatics Japan.

2004
69 Butet Manurung (32, Aktivis) Aktivis pendidikan Suku Anak Dalam yang menjadi salah satu pahlawan Asia menurut majalah Time.

2005
70 Taufik Hidayat (24, atlet) juara dunia Badminton World Federation di Anaheim, AS, dan menjadi pebulu tangkis pertama yang mencapai level ini.
71 Johny Setyawan (30, ilmuwan) ketua tim peneliti di MPIA, Jerman, penemu planet pertama yang mengelilingi bintang baru TW Hydrae.

2006
72 Khoirul Anwar (28) ilmuwan yang menggagas teori pemanfaatan dua FFT dalam modulasi untuk komunikasi jaringan pita lebar nirkabel (teknologi LTE).

2008
73 Irene Kharisma Sukandar (16, atlet) memperoleh gelar Grand Master Wanita pertama Indonesia.

2009
74 William Tanuwijaya (28, Wirausaha) pendiri E-Dagang Tokopedia yang tahun 2017 sukses menjadi startup unicorn.

2010
75 Nadiem Anwar Makarim (26, wirausaha) pendiri perusahaan Ojek Daring Go-Jek yang kini telah ekspansi ke empat negara di Asia Tenggara.
76 Achmad Zaky (24, wirausaha) pendiri E-Dagang Bukalapak dan penerima Satyalancana Wira Karya 2016 dari Presiden

2012
77 Ferry Unardi, Albert Zhang, dan Derianto Kusuma (24, wirausaha) pendiri Traveloka yang telah diunduh 6 juta kali dan melebarkan bisnis ke enam negara.

2013
78 Tex Saverio (29, seniman) desainer Indonesia pertama yang tampil di Paris Fashion Week dan karyanya digunakan selebriti dunia, seperti Lady Gaga dan Kim Kardashian.
79 Muhammad Alfatih Timur (22, wirausaha) pendiri website crowdfunding kitabisa.com. Kini lebih dari 1 juta orang telah bergabung menjadi donatur dan 14.999 kampanye terdanai.

2014
80 Gamal Albinsaid (25, wirausaha) dokter peraih penghargaan The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur dari Unilever dan Cambridge University Inggris.
81 Livi Zheng (25) sutradara dan produser film "Brush With Danger" yang menembus Hollywood.

2015
82 Joey Alexander Sila (12) musisi Indonesia pertama yang masuk dalam 200 chart Billboard AS dan mendapat nominasi Anugerah Grammy tahun 2016.
83 Leonika Sari (22, Wirausaha) Mendirikan Reblood dan masuk ke dalam perempuan inspiratif BBC 100 Women dari seluruh dunia tahun 2016.

2016
84 Lilyana Natsir (30) dan Tontowi Ahmad (29) atlet peraih emas pertama dalam ganda campuran bulu tangkis Olimpiade (Rio de Janeiro, Brasil).
85 Wregas Bhanuteja (23) sutradara film pendek terbaik di Semaine de la Critique 2016, Cannes.
86 Surya Sahetapy (23, aktivis) wakil Indonesia di sejumlah kongres dunia seperti Global IT for Youth with Disabilities di Bangkok.
87 Peggy Hartanto (27) salah satu desainer muda Asia yang berpengaruh di bidang seni menurut Forbes.

2017
88 Kevin Sanjaya (21) dan Marcus Gideon (26) (atlet) memenangi tujuh gelar juara super series sepanjang tahun 2017.

2018
89 Lalu Muhammad Zohri (18, atlet) sprinter pertama Indonesia peraih medali emas lari 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U20 IAAF.
90 Samantha Edithso (10, atlet) juara dunia kejuaraan catur FIDE World Championship 2018 U-10 di Minsk, Belarusia.

Sumber: Litbang Kompas/DEW/ERN/GRH/KPP/RTA/XNA/L04/L07, diolah dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Arsip Nasional Republik Indonesia edisi 61/Mei-Agustus 2013, buku Adam Malik: Profil Seorang Pejuang (1978), Album 97 Pahlawan Nasional dan Sejarah Perjuangannya (1985), Indonesiasi: A Historical Survey of the Role of Politics in the Institution of a Changing Economy from the Second World War to the Eve of the General Elections (1959), Catatan BM Diah: Peran "Pivotal" Pemuda Seputar Lahirnya Proklamasi 17-8-45 (2018), Kongres Perempuan Pertama (2007), Menteng 31, Markas Pemuda Revolusioner Angkatan 45: Membangun Jembatan Dua Angkatan (1996), Mohamad Roem: Karier Politik dan Perjuangannya (2002), Rebellion to Integration: West Sumatra and The Indonesian Polity (1999), Risalah Gerakan Pemuda (1952), Riwayat Hidup dan Perjuangan Muhammad Husni Thamrin (1980), S.K. Trimurti: Pejuang Perempuan Indonesia (2016), Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah (2002), Sejarah Indonesia Modern (2008), Sejarah Nasional Indonesia Jilid V (2010), Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI (2010), Seratus Tahun Bung Hatta (2002), Wage Rudolf Soepratman: Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Pencipta Lagu Kebangsaan Republik Indonesia "Indonesia Raya" dan Pahlawan Nasional (2001), Wahid Hasyim: untuk Republik dari Tebuireng (2011), Gagasan dan Gerak Dakwah Natsir (2012), Adam Malik: Mengabdi Republik (1978), Pemberitaan Kompas, Antara, Kontras, laman academia.edu, dan kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id.



Sumber: Kompas, 28 Oktober 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Soetomo: Himpun Persatuan dan Kesatuan Berdasarkan Irama Gamelan

"Tujuh puluh delapan tahun yang lalu, 20 Mei 1908, Dokter Soetomo telah membuat percikan api kebangkitan nasional di Gedung Stovia. Dan sampai kini nyalanya tetap memberi jiwa dan semangat untuk mengisi cita-cita kebangkitan nasional!" begitu antara lain sambutan Menteri Penerangan H. Harmoko, ketika meresmikan monumen Dokter Soetomo di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur. Monumen itu diresmikan pada tanggal 6 Mei yang lalu, di atas tanah seluas 1,75 hektar. Memang sepantasnya dibuat monumen agung untuk mengenang jasa-jasa beliau sebagai salah seorang pendiri Boedi Oetomo . Suatu wadah yang merupakan organisasi modern pertama lahir di Indonesia, bertujuan untuk memajukan pengajaran dan kebudayaan bangsa Indonesia. Sejak adanya Boedi Oetomo  bangsa kita bangkit, untuk membebaskan diri dari penjajah. Itulah yang membuat Soetomo pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA. Tapi dia tidak gentar. Soetomo dan kawan-kawannya terus melebarkan sayap Boedi Oetomo demi kemajuan bangsa Ind...

Pendidikan Itu untuk Rakyat ....

Oleh: INDIRA PERMANASARI S ekitar 70 tahun lalu, tepatnya 1927, seorang anggota Volksraad (dewan perwakilan rakyat buatan Belanda dalam rangka politik etis) Meyer Ranneft, berpidato tentang pendidikan di Hindia Belanda. " ... Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun lebih cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, mempunyai dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini adalah suatu masyarakat yang mempunyai pertentangan-pertentangan yang tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin. Bilamana meneliti sistem pendidikan, kita melihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan kita turut mempertajam kontras sosial ekonomi, sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? ...." Cuplikan pidato itu dibacakan Dr Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang dalam forum diskusi 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah di Bandung pekan lalu. Menurut Mestika, pada masanya Ranneft me...

JEJAK NASIONALISME DI BOVEN DIGOEL (1) Penjara yang Memerdekakan

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme mencoba menginventarisasi warisan bangsa yang menjadi energi perjuangan yang membebaskan negeri ini. Jejak-jejak itu terserak sepanjang bentangan Nusantara. Setelah laporan jejak nasionalisme di Banda, Maluku, diturunkan bulan lalu, bulan ini "Kompas" menurunkan laporan jejak nasionalisme di Boven Digoel, Papua, yang di masa lalu menurunkan tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa. Dalam catatan historis, nama Boven Digoel tentu tidak asing lagi. Pemerintah Hindia Belanda pernah menjadi Boven Digoel di pedalaman Papua sebagai salah satu tempat pengasingan bagi para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Walaupun teralienasi, mereka tetap menyalakan suluh perjuangan. Oleh KORANO NICOLASH LMS P ada awalnya, menurut Andrianus Moromon, sarjana sejarah Universitas Cenderawasih, Papua, Boven Digoel dijadikan Belanda sebagai tempat tahanan sekaligus pengasingan baru akibat tempat tahanan dan pengasingan lainnya sudah penuh. Salah satu sebabnya, Be...

Arti Bhinneka Tunggal Ika

Arti kata per kata dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sering disalahartikan, termasuk oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpendidikan tinggi. Kesalahan terakhir dilakukan oleh Bung Harry Roesli dalam artikelnya berjudul: Kaus Partai dan Baju Besi (Kompas , 15/5/99). Walaupun isi artikel enak dibaca, namun mengandung kesalahan fatal menyangkut semboyan di atas. Di artikel tersebut Bung Harry menulis bahwa saat ini Bhinneka Tunggal Ika telah dipelesetkan menjadi Bhinneka tidak Ika, atau Bhinneka susah Ika, atau juga Bhinneka lawan Ika. Jelas di sini Bung Harry berpikir, bahwa kata Ika-lah yang mengandung arti bersatu/satu. Kesalahan serupa juga telah banyak dilakukan oleh kaum terdidik di negeri ini. Padahal dalam semboyan ini, arti kata satu (atau bersatu) dikandung dalam kata tunggal. Sedangkan kata Ika, kalau saya tidak keliru, artinya kira-kira adalah atau begitu adanya. Secara lengkap artinya adalah berbeda-beda (Bhinneka), namun satu (Tunggal) adanya (Ika). Kemungkinan ...

Manusia Pincang dari Pacitan

Fosil manusia Punung dan sejumlah peralatannya telah selesai diteliti. Ada kesinambungan kehidupan sejak zaman pletosin di sana. D IA ditemukan dalam keadaan utuh dari ujung kepala sampai kaki. Terkubur dalam sebuah gua di daerah Punung, Pacitan, Jawa Timur, tangan kirinya mencengkeram tengkorak monyet. Ada lubang yang cukup besar di gigi bawah bagian kirinya, tembus sampai ke gusi. Ini pertanda bahwa manusia gua itu, yang hidup sekitar 9.000 tahun lalu, pernah mengalami sakit gigi yang parah. Fosil "manusia Punung" ini diperbincangkan lagi di kalangan arkeolog setelah Francois Semah membeberkan temuan ini pada pertemuan ilmiah arkeologi di Kediri, akhir Juli silam. Bersama kawan-kawannya, arkeolog dari Prancis ini baru saja selesai mengurai fosil yang ditemukan pada 1997 ini. Hasilnya cukup memuaskan. Apalagi bersamaan dengan manusia Punung, ditemukan juga sejumlah peralatan yang menggambarkan berbagai era kehidupan manusia. "Ini temuan luar biasa," ujar Semah, ilm...

Kami

Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas?  (Bung Karno, 1 Juni 1945) S EBUAH negara tak pernah didirikan di atas kecerdasan. Uni Soviet, sebuah percobaan pertama untuk menerapkan "sosialisme ilmiah", dimulai dengan sebuah pemerintahan yang bekerja di atas 170 juta petani, yang, seperti kata Bung Karno, umumnya buta huruf. Begitu juga Amerika Serikat. Thomas Jefferson dan para pendiri republik itu memang pintar, dan negara yang mereka rancang berdasarkan ide-ide filsafat yang mutakhir, tapi ada benarnya kalimat lucu penulis Inggris Malcolm Bradbury: "Sejarah Amerika seluruhnya adalah cerita tentang orang yang membenci ayah mereka dan mencoba membakar tiap hal yang dilakukan ayah itu." Sebuah kemerdekaan lahir lebih karena kemarahan, bukan karena kedahsyatan pikiran. Perasaan dizalimi, perasaan tertindas, bukan datang dari otak, tapi dari seluruh pengalaman, termasuk tubuh yang tertekan. Itu juga yang dapat dikatakan tentang Indonesi...

Karena Kasih Sepanjang Jalan

Betawi mempertemukan Mohammad Hatta dengan Mak Etek Ayub Rais, anak sahabat kakeknya. Saudagar perantau Minang ini mengabaikan rasa takutnya sendiri untuk Hatta. T AHUN baru 1908. Mohammad Hatta datang dari sekolah dengan menimang sebuah kapal-kapalan dari kaleng bekas--hadiah tahun baru dari Sinterklas di sekolahnya. Sepulang sekolah, ia mengajak sahabatnya, Rasjid Manggis, melayarkan kapal kecil itu di tebat kecil sembari menunggu jam mengaji di surau Inyiak Djambek tiba. Di hari yang lain, waktu lowong Hatta diisi dengan menyepak bola rotan. Kapal-kapalan dan bola rotan adalah mainan yang membuat Hatta begitu riang di masa kecil. Selebihnya, hari-hari Hatta adalah belajar. Sejak berumur lima tahun, siang hari ia belajar di Sekolah Melayu Paripat dan les bahasa Belanda pada Tuan Ledeboer di waktu petang. Alhasil, Hatta tak menemukan kesulitan ketika ia akhirnya bersekolah di Europeesche Lagere School, sekolah dasar khusus untuk anak-anak Belanda, di Bukit Tinggi. Orang-orang tua di B...