Langsung ke konten utama

Peristiwa Maret 1946 dan 1952: Kapal Selam Misterius Muncul di Pantai Selatan

PADA bulan Maret semasa tahun 1946 dan 1952, Pulau Jawa pernah dihebohkan dengan isu munculnya kapal selam misterius di pantai selatan. Namun, peristiwa heboh munculnya kapal selam misterius yang terjadi pada Maret 1946, segera terlupakan zaman karena esok harinya kejadian lebih besar muncul, yaitu di Kota Bandung berupa peristiwa Bandung Lautan Api pada 23 Maret 1946.

SURAT kabar The Dubbo Liberal and Macquarie Advocate terbitan New South Wales, Sabtu, 23 Maret 1946, yang arsipnya tersimpan di National Library of Australia memunculkan berita berjudul "Reported Alien Submarine Off Java". Diberitakan, pada Jumat, 22 Maret 1946, muncul kabar heboh terlihatnya kapal selam misterius yang diyakini milik Uni Soviet sedang berlabuh di perairan selatan Pulau Jawa.

Berita serupa muncul di surat kabar The West Australian terbitan Perth, Australia Barat. Koran itu mengabarkan lebih lengkap, dengan mengutip Kantor Berita Inggris Reuters, informasi heboh munculnya sejumlah kapal selam Uni Soviet di perairan selatan Pulau Jawa itu.

Setelah berita itu muncul, selama dua hari berikutnya, Royal Air Force (RAF, Angkatan Udara Inggris) mengerahkan beberapa pesawat pemburu-intai Supermarine Spitfire-nya. Kapal-kapal itu dikerahkan untuk mencari-cari kapal selam misterius seperti yang dihebohkan itu. Walau demikian, kata berita itu, laporan adanya sejumlah kapal selam yang diyakini milik Uni Soviet yang sedang "nongkrong" di pantai selatan Pulau Jawa itu kemudian diabaikan pihak Sekutu. Pihak Belanda mengatakan, informasi yang diperoleh dari sejumlah sumber pihak Indonesia itu tak dapat dibuktikan kebenarannya.

Dikabarkan, pihak Sekutu tetap meyakini kapal selam yang diributkan tersebut sebenarnya sejumlah u-boat (sebutan bagi kapal selam Jerman) bekas Nazi Jerman yang sampai berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, banyak terdapat di perairan utara Pulau Jawa. Kapal selam diyakini u-boat tersebut, diprediksi sudah diambil alih orang-orang Jepang atau orang-orang Indonesia dan dibiarkan berlayar ke pantai selatan Pulau Jawa.

Diberitakan pula oleh surat kabar itu, pada hari yang sama, Tentara Republik Indonesia menangkap pemimpin kelompok komunis, Tan Malaka dari Partai Front Rakyat yang diketahui merupakan binaan Uni Soviet. Namun, tak ada informasi lanjutan, apakah ada penyelidikan terkait penangkapan Tan Malaka dengan hebohnya kapal selam Uni Soviet di perairan pantai selatan Pulau Jawa tersebut atau tidak.

**

ENAM tahun kemudian, kabar munculnya kembali kapal selam misterius dan kapal tak dikenal di Pantai Selatan muncul lagi, yaitu terjadi pada 25 Maret 1952. Kabar ini diberitakan surat kabar The West Australian terbitan Perth, Australia Barat, pada Rabu 26 Maret 1952 dengan berita berjudul "Mysterious Vessels Seen Off W. Java".

Surat kabar itu mengutip kabar dari Kantor Berita Aneta, dua buah kapal selam tak dikenal dan sebuah kapal berukuran besar misterius berwarna hijau terlihat di Pantai Palabuhanratu, Sukabumi, pada Jumat, 25 Maret 1952 sekitar pukul 5.00 waktu setempat. Kemunculan dua kapal selam tak dikenal dan kapal berwarna hijau misterius tersebut, dilaporkan masyarakat lokal Palabuhanratu. Dalam suasana subuh, kedua kapal selam dan kapal laut misterius itu terlihat berlabuh sekitar dua mil dari pantai.

Disebutkan, masyarakat lokal melihat dari dua kapal selam tak dikenal dan kapal misterius itu, turun empat perahu sekoci. Namun karena cuaca masih gelap, masyarakat tak tahu pasti berapa jumlah orang-orang dalam keempat perahu sekoci itu, dan tak berani mencoba mengetahuinya.

Menurut masyarakat lokal, kata berita itu, kapal berwarna hijau tersebut tak ada tanda pengenal. Namun, sejam sebelumnya, dua kapal selam tak dikenal itu lebih dulu muncul ke permukaan, baru diikuti kemunculan kapal misterius berwarna hijau itu. Sedangkan keempat perahu sekoci asal tak berupaya mencapai pantai, tetapi kemudian bergerak ke arah selatan pantai lalu tak terlihat lagi.

Diberitakan pula, pemerintah Indonesia melalui Departemen Dalam Negeri pada hari yang sama telah menerima laporan serupa. Mereka hanya mengatakan, sedang berupaya menyelidiki apa yang dikabarkan itu.

Esok harinya, surat kabar Examiner terbitan Launceston, Tasmania, terbitan Kamis, 27 Maret 1952 memberitakan, kapal besar misterius dimaksud terlihat sudah berada di perairan Pantai Cisolok dekat sebuah desa kecil setempat. Kementerian Pertahanan Indonesia mengatakan, kapal misterius itu juga tak ada tanda pengenalnya. Patroli Tentara Nasional Indonesia telah dikirim untuk mencari kapal misterius di daerah itu.

Surat kabar berbahasa Belanda terbitan Jakarta Nieuwsblad memberitakan, ada dugaan kapal misterius itu sedang mencari kontak dengan sebuah kelompok bersenjata yang berada di bawah pengaruh komunis. Dikabarkan pula, kelompok bersenjata tersebut sering berkonflik dengan tentara dan polisi Indonesia.

Tak ketinggalan surat kabar The Sunday Herald terbitan Sydney, New South Wales, Minggu 30 Maret 1952. Surat kabar itu mengutip Australian Associated Press, yang memuat pernyataan Komandan Angkatan Laut Indonesia Kolonel Nazir, pada Sabtu, 29 Maret 1952. Menurut pejabat administrasi di Pacitan, sebuah kapal berwarna hijau misterius serta 2-3 kapal selam tak dikenal di Pantai Palabuhanratu Sukabumi itu dilaporkan juga terlihat di pantai selatan Jawa Timur, yaitu di Pantai Popoh dan Pantai Pacitan.

Disebutkan, Angkatan Laut Republik Indonesia telah melakukan sejumlah langkah terhadap kabar munculnya dua kapal selam misterius dan kapal tak dikenal itu. Namun, ia menolak memberitahukan hasilnya, dengan hanya mengatakan, kapal berwarna hijau itu adalah sebuah kapal perang.

Namun, Kolonel Nazir menganggap, sejumlah laporan dari masyarakat pesisir pantai selatan tersebut adalah sesuatu yang dibesar-besarkan. Ia beralasan, beberapa laporan atas kehadiran kapal misterius itu diklaim sebenarnya merupakan kapal perang milik Angkatan Laut Indonesia.

Sosok Palabuhanratu sampai menjelang pecah masuknya pasukan Jepang ke Pulau Jawa pada Perang Dunia II pada Maret 1942, menurut informasi dari Nederlands Instituut voor Militaire Histoire Ministerie van Defensie (NIMH, Pusat Sejarah Kementerian Pertahanan Belanda), menjadi salah satu pelabuhan keberangkatan dan ketibaan kapal besar perusahaan pelayaran Belanda.

Koninklijke Paketvaart Maatschappij berikut pernah ada kantornya di lokasi itu. Palabuhanratu juga pada masa-masa itu, sering menjadi tempat mangkalnya sejumlah kapal selam Angkatan Laut Hindia Belanda.

Disebutkan pula, pada 6 Maret 1942, atau dua hari sebelum menyerahnya Pemerintah Belanda kepada Jepang, pada 8 Maret di Kalijati, Subang, sebuah kapal uap bernama MS Poelau Bras berangkat dari Dermaga Palabuhanratu, membawa lebih dari 200 orang Eropa (termasuk 100-an tentara Belanda) yang meloloskan diri dari Jawa Barat. Namun, di perjalanan, sejumlah pesawat terbang Jepang dari kapal induk Hiryu membom MS Poelau Bras sehingga tenggelam sebelum mencapai Colombo, Sri Lanka. (Kodar Solihat/"PR")***



Sumber: Pikiran Rakyat, 21 Maret 2016




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Dinasti Gowa Ditemukan

JAKARTA, KOMPAS -- Sepucuk surat dalam naskah kuno beraksara Jawi mengungkapkan sejarah penting dinasti Kerajaan Goa. Ahli filologi dan peneliti dari Leiden University, Belanda, Suryadi, menemukan bagian penting yang selama ini belum terungkap dalam buku-buku sejarah di Indonesia. Sejarah penting itu dalam sepucuk surat Sitti Hapipa yang dikirimkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, yang ketika itu dijabat Albertus Henricus Wiese (1805-1808). Surat penting Sitti Hapipa dari pengasingannya di Colombo, Ceylon (sekarang Sri Lanka), itu selama ini telah menjadi koleksi Universiteitsbibliotheek Leiden. Suryadi memaparkan temuannya itu dalam Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara 12 di Universitas Padjajaran Bandung. "Meskipun sudah banyak kajian yang dibuat mengenai (per)surat(an) Melayu lama, surat-surat dari tanah pembuangan belum banyak dibicarakan, bahkan terkesan sedikit terlupakan. Padahal, surat-surat tersebut mengandung berbagai informasi yang berharga m...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api: Heroisme antara Tegallega dan Rel KA

TULANG  jemari terbungkus kulit keriput itu mencengkeram erat besi pegangan gerobak sampah. Bahunya yang tipis tampak melengkung, tertarik kuat tali pengikat gerobak. Langkah dan nafasnya terasa berat, menapaki Jl. Mohammad Toha, Tegallega, yang Sabtu sore kemarin (23/3), basah diguyur hujan. Beban sampah yang dibawanya, seakan tak sepadan dengan sosok tua yang kurus kering. Elan (60), sosok tua itu, sejenak memalingkan pandangannya pada sederet kata-kata dalam spanduk yang terpancang depan Markas Hubdam III/Siliwangi, "Markas Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi Tahun 1946 - Panitia BLA 1996", demikian bunyi tulisan itu. Kawasan Tegallega jika dibalik ke masa 1946, adalah sejarah heroik ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama ratusan ribu warga Bandung, mempertahankan kemerdekaan. Pada 21 Maret 1946, kawasan itu sempat dibombarder tentara Sekutu. Akan tetapi secara kebetulan, kedudukan Batalyon II TRI (Sumarsono) di sana, tengah memperkuat posisi perte...

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

Manunggaling Kawula Lan Gusti: Ajaran Syech Siti Jenar yang Ditentang Wali Songo

Oleh: MUHAMMAD RIDLO 'EISY "KULONUWUN  (permisi), adakah Syech Siti Jenar. Beliau dipanggil Sultan Demak," ucap utusan Sultan Demak kepada Syech Siti Jenar. "Syech Siti Jenar tidak ada, yang ada Tuhan," kata Syech Siti Jenar. Utusan kembali ke Demak dan melaporkan percakapannya kepada Sultan Demak. "Panggil Tuhan kemari," kata Sultan Demak. Utusan kembali ke tempat Syech Siti Jenar. (Dalam sebagian kisah rakyat, yang memanggil Syech Siti Jenar bukan Sultan Demak, tetapi Sunan Kudus.) "Kulonuwun, adakah Tuhan, beliau dipanggil Sultan Demak," ucap utusan Sultan Demak kepada Syech Siti Jenar. "Tuhan tidak ada, yang ada Syech Siti Jenar," kata Syech Siti Jenar. Utusan kembali ke Demak dan melaporkan percakapannya kepada Sultan Demak. "Panggil Tuhan dan Syech Siti Jenar kemari," kata Sultan Demak. Setelah dipanggil atas nama Tuhan dan Syech Siti Jenar maka berangkatlah Syech Siti Jenar menghadap Sul...

Masjid Indonesia, Perkawinan Budaya yang Kaya Raya

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan  fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya DEMIKIANLAH penggalan bait pertama sajak Mencari Sebuah Mesjid yang ditulis penyair Taufik Ismail. Sajak yang keseluruhannya cukup panjang ini, dalam bentuknya yang besar ikut dipajang di salah satu pojok arena pameran Festival Istiqlal 1991. Setiap hari, banyaklah pengunjung yang ikut membacanya. Bahkan siswa-siswi SMP dan SMA rela duduk beralas karpet di hadapan sajak itu, untuk menyalinnya sampai habis. Tak salah jika dikatakan, "stand" sajak Taufik Ismail ini merupakan salah satu dari sekian banyak stand di arena pameran itu yang mendapatkan perhatian berlimpah dari pengunjung. Bait-bait sajak nan indah dan syahdu ini, seakan ingin memperlengkap koleksi benda-benda Islami yang dipamerkan pada pe...

Belanda Minta Maaf kepada Janda Rawagede

BANDUNG, (PR).- Pemerintah Belanda akan meminta maaf secara resmi kepada Indonesia atas pembantaian ratusan orang Indonesia yang dilakukan tentara Belanda di Rawagede, Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang, pada tahun 1947 lalu. Belanda mengakui korban pembantaian 150 orang. Versi lain menyebutkan, korbannya 431 orang. Kementerian Luar Negeri Belanda menyatakan, pemerintah Belanda juga setuju untuk membayar kompensasi 242.000 dolar AS (180.000 euro) atau sekitar Rp 2,1 miliar. "Duta Besar Belanda untuk Indonesia, atas nama Pemerintah Belanda, akan meminta maaf hari Jumat (9/12) atas apa yang telah terjadi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Belanda, Aad Meijer, Senin (5/12). Belanda pernah menyampaikan penyesalannya atas pembunuhan itu tetapi belum pernah meminta maaf secara resmi. Diketahui, kasus pembantaian di Rawagede digugat oleh delapan janda dan seorang warga yang selamat dari pembantaian di Desa Balongsari. Janda kedelapan dalam kasus itu sudah meninggal dunia. ...

Ziarah ke Musoleum Imam Syafe'i

SALAH seorang imam dalam Islam, adalah Imam Syafe'i. Imam Syafe'i termasuk pendiri dari salah satu empat mazhab dalam Islam, yaitu Sunni. Tiga mazhab lainnya adalah Hanafi, Hambali, dan Maliki. Beberapa ulama sekarang mengakui Syiah sebagai mazhab kelima. Imam Syafe'i yang dilahirkan pada 150 H di Gaza dan meninggal pada 204 H, tepatnya 19 Januari 820 M di Mesir, memiliki garis keturunan langsung dengan paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Thalib. Kendati usianya relatif pendek, hanya sekitar 50 tahun, ia adalah ilmuwan besar yang membuat sejarah dengan karya-karyanya yang besar. Ia tercatat sebagai pencetus pertama ilmu ushul fikih (ilmu cara mengeluarkan hukum) dan Ar Risalah (Missi) adalah kitabnya yang sangat terkenal dalam bidang ushul fikih. Syafe'i mengisi hidupnya dengan pemgembaraan, menimba ilmu pertama di Mekkah, kemudian belajar hadits dari Imam Malik di Madinah, lalu belajar hukum di Baghdad (Irak), kemudian pergi ke Yaman untuk menimba ilmu. Lalu ia kembali ...