Langsung ke konten utama

Kenangan Perang di Pangandaran 1947-1949

PENINGGALAN sisa-sisa jalur kereta api dan hamparan pohon kelapa masih menjadi suasana khas lintasan Banjar ke Pangandaran. Itulah peninggalan kejayaan kawasan tersebut, yang semasa Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 lalu, juga menjadi salah satu upaya pendudukan kembali oleh pihak Belanda.

Berdasarkan sejumlah catatan "PR", pada zaman kolonial sampai tahun 1942 lalu era pendudukan pasukan Belanda tahun 1946-1949, Pangandaran merupakan pantai yang merupakan salah satu kawasan teluk yang disebut Mauritsbaai. Nama Pangandaran sebenarnya merupakan nama sebuah perkebunan yang mengusahakan tanaman kelapa, yang sejak sekitar tahun 1995 - 1998 sudah musnah berganti menjadi kawasan wisata pantai.

Informasi dari Nationaal Archief Belanda, pada bulan Oktober 1947, pasukan Belanda mendaratkan pasukan menggunakan sebuah kapal landing ship tank (LST) bernama "Pelikaan" di Pangandaran. Pasukan Belanda tersebut langsung menguasai jalur rel kereta api, jembatan, ruas jalan utama, serta mengamankan sejumlah unit perkebunan karet dan kelapa di lintasan tersebut.

Selama patroli, regu pasukan Belanda juga menemukan rel pada sebuah jembatan kereta api di jalur Pangandaran, sudah ada yang mencopot. Pihak Belanda menduga, bagian rel tersebut dicopot untuk menyabotase perjalanan kereta api yang membawa pasukan Belanda.

Informasi dari Pusat Informasi Legermuseum Belanda, untuk wilayah Pangandaran pada bulan Oktober 1947, Belanda menempatkan Batalion OVW dari Resimen Infantri 1-3, yang didaratkan pada 23 dan 25 Oktober 1947 di Maurtisbaai, sekitaran Kalipucang dan Pangandaran. Pasukan tersebut juga bertugas mengamankan Banjar pada Aksi Neptunus dan Aksi Triton. Usai kedua aksi tersebut, pasukan bersangkutan berada di Pangandaran, Kalipucang, Wangon, dan Banjar sampai ditarik lagi pada 6 April 1948.

Disebutkan, pasukan Batalion OVW Resimen Infantri 1-3 Belanda, sebelum dikirim ke Pangandaran, merupakan veteran Perang Dunia II di Eropa. Batalion itu menjaga para tawanan perang pasukan Nazi Jerman, yang sudah menyerah dalam Perang Dunia II di Moenchengladbach, Jerman, antara 30 Juni sd 15 September 1945.

Mantan Residen Cilacap asal Belanda yang saat itu membawahi wilayah Pangandaran, Frans Paul Willem van Nouhuys, sebelum meninggal Juni 1993 lalu, sempat menceritakan pengalamannya di daerah tersebut kepada Menke de Groot pada Nederlandsekrijgsmacht.

Nouhuys menyebutkan, gencarnya perlawanan dari pihak Indonesia di Pangandaran umumnya dilakukan para pejuang Muslim dari Laskar Sabilillah. Namun oleh Belanda, aktivitas perlawanan yang dilakukan para pejuang Muslim tersebut distigmakan sebagai aksi teror.

Disebutkan, pendaratan pasukan Belanda di Pangandaran pada 23 Oktober 1947 menggunakan LST "Pelikaan" mendapat perlindungan udara dari sejumlah pesawat pemburu. Pada periode tersebut, pasukan Belanda melakukan pengamanan kawasan, memulihkan aktivitas jalur kereta api. Sementara jalan, sekolah, dan rumah sakit dibuka kembali, melalui aksi militer bersandi Neptunus.

Berdasarkan catatan EH Neppelenbroek, pada Slavenwerk: een openhartig relaas van een Indië-compagnie Java 1946-1949: de kronieken van 'Compagnie Lima', diterbitkan di Breda, Belanda, tahun 1993, pada tanggal 3 April 1948 pasukan Belanda ditambah satu batalyon dari Bandung ke Pangandaran, Parigi, Bojong, Cimerak, dan Banjar. Pada lima kawasan itu, Belanda menghadapi dua perlawanan sekaligus dari pihak Indonesia, yaitu Tentara Nasional Indonesia (sampai hijrah ke Yogyakarta pada Februari 1948 karena Perjanjian Renville, 17 Januari 1948), dilanjutkan perlawanan pejuang Muslim dari Laskar Darul Islam.

Karena keteteran, katanya, pada 18 Juli 1949 Belanda menarik batalion itu dipindahkan ke Tasikmalaya serta sebagian ke Sumedang. Beberapa pekan kemudian, pasukan tersebut ditarik ke Bandung lalu ke Batavia bersama berbagai pasukan Belanda lainnya untuk dipulangkan ke negerinya. (Kodar Solihat/"PR")***



Sumber: Pikiran Rakyat, 21 Maret 2026



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

KIPRAH KAUM MUDA: 90 Pemuda Menjadi Penyangga Bangsa

P ergerakan tanpa pemuda adalah kemustahilan. Pada pemuda inilah jiwa bebas yang memompa semangat perubahan menjadi motor utamanya. Dalam setiap masa selalu ada kaum muda yang berperan penting dalam menentukan narasi masa itu. Demikian pula dalam sejarah Indonesia. Tonggak penting peran pemuda yang menopang perjalanan bangsa ini ditancapkan di Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Kesepakatan tekad bersama untuk bersatu dalam Tanah Air, bangsa, dan bahasa yang sama yaitu Indonesia tertuang dalam Sumpah Pemuda. Sejak saat itu hingga saat ini, kiprah generasi muda bagai sinar terang yang mengarahkan gerak negeri. Para peringatan ke-90 Hari Sumpah Pemuda tahun ini, Kompas  memanggungkan 90 figur pemuda, yang tidak selalu satu orang, berusia di bawah 40 tahun yang memiliki peran luar biasa pada zamannya. Dalam tubuh mudanya, mereka memiliki gagasan dan pencapaian yang besar bagi negerinya. Kaum muda ini berkiprah dalam berbagai bidang, sebagai sosok negarawan, pejuang kemerdekaan,...

Tujuh Nama Indonesia

NAMA Indonesia pertama kali dipakai pada tahun 1850. Tapi orang pertama yang mempergunakan nama Indonesia itu ialah James Richardson Logan (1869), dalam kumpulan karangannya yang berjudul " The Indian Archipelago and Eastern Asia ", terbit dalam Journal of The Asiatic Society of Bengal (1847-1859) . Indonesia berasal dari gabungan kata "Indo" dan "Neise", yang berasal dari bahasa Yunani: Nesos , berarti kepulauan Hindia. Adapun kata "Nesos" itu hampir berdekatan dengan kata "nusa" (diartikan dalam bahasa Indonesia, yang berarti pulau). Nama Indonesia semakin populer saja, seperti halnya Sir William Edward Maxwell (1897), seorang ahli hukum berkebangsaan Inggris yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Straits Settlements (yang kemudian menjadi Gubernur Pantai Mas), juga pernah memakai nama "Indonesia" di dalam kata mukadimah buku penuntun bahasa-bahasa Melayu (buah karyanya sendiri). Dalam bukunya itu, ia menulis "The I...

Menggali Inklusi dari Nama Indonesia

Para pemuda pada awal abad ke-20 memilih kata Indonesia untuk mengonstruksi sebuah identitas baru yang membawa semangat pembebasan. Lewat nama Indonesia juga dibangun gagasan atas sebuah bangsa yang inklusif, tidak ada satu komponen masyarakat yang menjadi "tuan rumah", lalu meninggalkan komponen lain sebagai "penumpang" dalam kehidupan berbangsa. P erhimpunan Indonesia, organisasi pemuda Indonesia yang bersekolah di Belanda yang awalnya bernama Indische Vereeniging, menggunakan kata Indonesia dalam arti politik untuk pertama kali pada 1922. Kata Indonesia pun berkembang pemaknaannya sehingga menjadi tonggak pergerakan para pemuda untuk meraih kemerdekaan sebagai sebuah bangsa. "Penggunaan kata Indonesia yang dipakai Perhimpunan Indonesia (PI) dimaksudkan untuk menanamkan gagasan Indonesia merdeka dan memopulerkan nama Indonesia dalam tujuan mencapai kemerdekaan," ujar Meutia Hatta, putri Bung Hatta. Munculnya nama Indonesia tidak tiba-tiba. Etnologis asal...

Semangat Pembauran "Jong Kos"

Hakikat suatu bangsa ada dalam keinginan untuk hidup bersama. Bagi bangsa Indonesia, benih keinginan untuk bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu ikut disemai lewat hidup bersama para penggagas Sumpah Pemuda yang menghuni rumah pemondokan yang kini beralamat di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. S enda gurau terdengar dari rumah indekos di Jalan Kramat 106, Weltevreden, Batavia, pada suatu hari menjelang tahun 1928. Mahasiswa penghuni pemondokan milik Sie Kong Liong itu tak sedang membicarakan revolusi di belahan dunia lain atau pemikiran Mahatma Gandhi dan John Stuart Mill. Mereka melepas penat, berseloroh tentang masakan khas daerah masing-masing. "Sementara ini, enaknya gini aje dulu , Sup!" kata Adnan Kapau Gani, yang lebih sering disingkat AK Gani, pemuda asal Sumatera, kepada Jusupadi Danuhadiningrat, pemuda asli Yogyakarta.  Dari semua "jong kos" alias pemuda penghuni kos Kramat Raya 106 atau Indonesisch Clubgebouw (IC), yang masing-masing di kemud...

Menjaga Persatuan Lewat Bahasa

Sekitar 90 tahun lalu, Kongres Pemuda II menyepakati bahasa Indonesia jadi bahasa persatuan. Kesepakatan itu kini terasa masih hangat di tengah munculnya gejala pemakaian bahasa atau ungkapan tertentu untuk menunjukkan perbedaan. B angunan dengan enam pilar di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, itu masih kokoh berdiri. Bangunan berusia lebih dari dua abad yang kini menjadi kantor PT Kimia Farma itu merupakan bagian dari saksi perjuangan para pemuda di awal abad ke-20 untuk mewujudkan kemerdekaan di wilayah yang saat itu disebut Hindia Belanda. Di gedung yang dulu bernama De Ster in het Oosten atau Bintang Timur itu, Mohammad Yamin, dalam Kongres Kerapatan Pemuda atau Kongres Pemuda I, 30 April 1926, menyatakan perlunya memakai bahasa yang sama untuk berkomunikasi di wilayah Nusantara yang beragam. Ia lalu mengusulkan bahasa yang dipakai itu adalah bahasa Melayu. TD Asmadi di harian Kompas  21 Juli 2006 menulis, beberapa bulan sebelum kongres itu digelar, wartawan sekaligus tim perumu...

Peran Sarekat Islam Tak Bisa Diabaikan

Kontroversi yang mempertanyakan tonggak Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 seharusnya tidak perlu dilakukan secara berlarut-larut hingga menghabiskan banyak energi. Dialog yang menggugat persoalan itu sebaiknya dilakukan sebagai upaya untuk melangkah maju ke depan demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Hal itu dikatakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dalam Dialog Peradaban Centre for Information and Development Studies di Jakarta, Kamis (22/5). "Budi Utomo memang organisasi modern yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Namun, peranan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam tidak dapat diabaikan," katanya. Budi Utomo dan Sarekat Islam sama-sama memiliki andil besar dalam menciptakan Indonesia merdeka. Sebagian kalangan menganggap tonggak Kebangkitan Nasional ada pada 16 Oktober 1905 saat terbentuknya Sarekat Dagang Islam, bukan pada hari kelahiran Budi Utomo, 20 Mei 1908. (MZW) Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal