Langsung ke konten utama

Kalimantan Selatan dan Timur Tahun 1946 (1) Pemerintah RI di Pegatan Diambil Alih oleh Belanda

Oleh : H. ROSIHAN ANWAR

PADA tahun 1946 seorang Kontelir Belanda Drs. A. Visser (39 tahun) dengan menumpang kapal KPM tiba di Banjarmasin di mana Gubernur Belanda telah berkantor kembali. Jepang telah menyerah kepada tentara Australia yang datang atas nama Sekutu, pemerintahan Hindia Belanda yang bernama NICA (Netherland Indies Civil Administration) bercokol lagi. Pemerintah Republik Indonesia yang mengangkat gubernur untuk Kalimantan Ir. Pangeran Noor bulan Agustus 1945 tidak dapat mewujudkan kekuasaannya di Banjarmasin. Kontelir Visser ditugaskan memimpin pemerintahan onderafdeling Tanah-Boemboe Poeloe Laoet yaitu bagian tenggara Kalimantan beserta pulau yang terletak di hadapannya. Ia harus menetap di Pegatan, dan di sana sudah ada pemerintahan RI. Kontelir Visser harus mengambil alih pemerintahan di Pegatan, dan kisah ini diceritakannya dalam tulisannya berjudul "Zuid-Oost Borneo in 1946" yang dimuat dalam buku "Besturen Overzee" (terbitan tahun 1977). Membaca kisah tersebut sekarang, kita memperoleh suatu pemandangan tentang keadaan di Kalimantan tidak lama sesudah proklamasi kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia; suatu hal yang tidak semua orang dewasa ini masih ingat atau mengetahuinya.

Situasi di Pegatan

KONTELIR Visser dengan menumpang kapal kepunyaan orang Cina "Hap Guan" tiba di pelabuhan Pegatan, setelah berlayar dari Banjarmasin. Pegatan dilukiskannya sebagai kota kecil yang tidak ramah, mempunyai pasar yang tidak ramai dan di ujungnya terdapat dua buah gedung yang agak besar. Yang satu ialah rumah kediaman Kontelir BB tempo dulu, yang lain rumah kepala pemerintahan setempat. Perlu diketahui bahwa setelah kapitulasi Jepang dibentuk empat pemerintahan Republik Indonesia di daerah tersebut yaitu dua di daratan Kalimantan (Pegatan dan Kota-Litjin) dan dua di Poeloe Laoet. Dari keempat pemerintahan RI itu, tiga secara formal telah dikembalikan ke bawah kekuasaan Belanda dengan bantuan patroli militer yang terdiri hanya dari 18 orang dan ditempatkan di Poeloe Laoet bagian utara, sedangkan pemerintahan RI yang ada di Poeloe Laoet bagian selatan belum pernah didatangi oleh Belanda. Kontelir yang ikut dengan patroli tadi buat sementara menetap di Kota-Baroe, tetapi tidak lama kemudian kembali ke Negeri Belanda mengambil cutinya. Sedangkan Kontelir Visser akan menetap di Pegatan.

Mengapa pasar Pegatan tampaknya sepi? Karena lada yang sebelum perang merupakan hasil perdagangan satu-satunya di daerah itu telah mandek usaha berhubung baliknya orang-orang Banjar yang menjadi pemilik kebun lada ke daerah asal mereka. Penduduk yang masih tinggal hanya menanam bahan pangan untuk kebutuhan sendiri, tetapi persediaan tekstil sangat buruk.

Kontelir Visser langsung pergi dari kapal ke kantor pemerintahan setempat. Pintu-pintu kantor itu terbuka. Ada sebuah ruangan besar dan pada kedua belah dindingnya disusun meja tulis. Tidak tampak ada kegiatan administratif. Tetapi di balik tiap meja duduk seorang Indonesia yang memandang dengan tenang ke depan. Tugas pegawai-pegawai itu dapat dilihat dengan jelas, karena di atas tiap meja terdapat papan nama dengan di bawahnya keterangan Kementerian Dalam Negeri, Kementeran Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kehakiman dsb. Di dinding terdapat sebuah plakat besar di mana dibuatkan bagan struktur pemerintahan RI. "Semua itu suatu penampilan yang agak menertawakan, tetapi hal itu tidak dapat lain di suatu daerah kecil dengan dasar intelektual yang begitu terbatas." tulis Kontelir Visser.

Rumah Kyahi Kepala Pemerintah

VISSER berbicara dengan pegawai dari Kementerian Dalam Negeri di kantor pemerintahan setempat itu, lalu menceritakan adalah maksud gubernemen Belanda untuk menjadikan Pegatan "standplaats" atau tempat bermukimnya Kontelir PB dari onderafdeling Tanah-Boemboe Poeloe-Laoet. Pegawai Republik itu menjawab hal itu sudah diketahuinya dan Visser dapat tinggal di rumah yang terletak sebelah kantor yaitu rumah kosong dari Kyahi yang menjadi pejabat pemerintahan Indonesia. Di sana ada dua orang pembantu dan mereka akan mengurus Kontelir Visser.

Rumah Kyahi itu ternyata luas, tetapi hampir tidak punya perabot. Di salah satu kamar terdapat tempat tidur, sebuah meja dan beberapa kursi. Soal makanan dapat dipenuhi, walaupun Visser harus makan nasi tiap hari, pagi, siang, dan malam, tanpa variasi. Ada kamar mandi, tetapi tanpa air dan tanpa sumur. Para pembantu bersedia mengisi bak mandi dengan air sumur dari tempat lain, tetapi ternyata airnya keruh. Segera menjadi jelas bagi Visser betapa rumah Kyahi itu mencerminkan suasana Pegatan yaitu panas, kotor, dan membosankan.

Sementara itu Visser mencoba menjelmakan berbagai Kementerian RI tadi menjadi suatu "bestuurskantoor", kantor pemerintahan. Tetapi hasilnya tidak banyak. Dengan beberapa kepala kampung dia meninjau lingkungan sekitarnya. Ada beberapa sawah yang dipelihara dengan baik, ada jalan ke arah utara yang dulu merupakan jalan kendaraan bermotor ke Batoe-Litjin, ada sungai yang mencapai Pegatan.

Masyarakat Pegatan bagaikan penyu telah menarik dirinya di balik batas-batas aman pemenuhan kebutuhan sendiri dan tiada dapat lagi diajak omong. Orang menunggu bahan pakaian dan buat selebihnya ingin jangan diganggu. Tetapi bahan pakaian harus datang dengan kapal "Hap-Guan" dan yang diangkutnya hanya orang-orang Banjar yang hendak kembali ke kampungnya. Visser lantas memutuskan pergi meninjau Kota-Baroe. Apakah tempat itu mempunyai perspektif lebih baik?

Situasi di Kota-Baroe

DILIHAT dari laut, ketika Visser datang, maka Kota-Baroe tidak memberikan gambaran menggembirakan. Sebagian besar kota dibom habis waktu perang. Hanya di lereng bukit-bukit beberapa rumah kayu selamat. Seterusnya sebelah kiri tempat sandaran kapal ada dua gedung dari batu yaitu kantor pemerintahan dan rumah sakit. Di kade pelabuhan Visser disambut oleh Kontelir dan sepuluh orang militer. Kelompok kecil orang inilah yang merupakan separoh dari kekuasaan militer yang menaruh kembali daerah luas ini di bawah kekuasaan Belanda.

Ternyata keadaan ekonomi Kota-Baroe lebih jelek daripada Pegatan. Tekstil hampir tidak ada sama sekali. Sebagian besar penduduk berkeliaran dalam pakaian goni. Juga beras sangat kekurangan. Yang paling parah keadaannya ialah orang-orang Jawa yang dibawa oleh Jepang ke pulau itu untuk menebang kayu. Mereka mengembara di pulau itu tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, dan hidup dari ubi dan ayam yang dicuri. Namun kendati semua ini, Kota-Baroe tidak mempunyai suasana lembek masa bodoh yang di Pegatan mematikan semangat itu. Beberapa orang Cina sudah sibuk membangun rumahnya kembali dan sebuah truk yang berjalan tampaknya bagaikan suatu lambang kuat dari usaha pembangunan.

Visser memutuskan untuk tidak bertempat tinggal di Pegatan, tetapi di Kota-Baroe dan berusaha dari sana menjalankan lagi roda pemerintahan. Kontelir yang di Kota-Baroe, sebelum keberangkatannya kembali ke Negeri Belanda, masih sempat mengadakan serah terima dengan Visser. Selain urusan "bestuur" juga diserahkannya seorang koki kepada Visser. Wanita ini selalu bekerja pada pejabat "bestuur" dan ketika Kontelirnya diinternir oleh Jepang, koki itu melarikan diri ke pedalaman. Baru setelah Kontelir itu kembali, koki tadi muncul lagi, membawa bendera Belanda di tangannya. Ternyata koki itu mengurus Kontelir Visser dengan baik. Atas prakarsa koki, Visser pindah tempat tinggal dari kantornya ke pasanggrahan yang terletak di luar kota di sebuah bukit rendah. Dari pasanggrahan dia dapat melihat ke Kota-Baroe, kota kecil yang hancur di masa perang, dengan sebuah rumah sakit tanpa obat-obatan, dengan pasien tanpa pakaian, dengan lahan yang telah kehilangan alat pencari nafkahnya yaitu perdagangan dan pertambangan. Tapi orang tak boleh pasrah. Orang mesti kerja. 

(BERSAMBUNG)



Sumber: Pikiran Rakyat, 2 April 1985



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa 22 April 1942 di Kamp Interniran Luchtdoel: Bayonet yang Merobek Tubuh Tawanan Cara Eksekusi Terhormat bagi Jepang?

TANGGAL 8 Maret 1942 perwira tertinggi angkatan perang Belanda di kawasan Hindia Belanda menyerah tidak bersyarat kepada tentara Jepang. Kapitulasi dimaklumkan Gubernur Jenderal ter Poorten di Kalijati Subang Jawa Barat. Ketika itu diumumkan, seluruh tentara Belanda di Kawasan Hindia Belanda yang aktif maupun nonaktif, wajib mentaati maklumat tersebut dengan menyerahkan diri pada kamp-kamp penahan terdekat. Tentara Belanda terdiri dari kesatuan KNIL (Koninklijk Nederland Indische Leger) yang beranggotakan berbagai suku, termasuk: suku Jawa, Sunda, Maluku, dan lainnya. Tetapi bagi tentara KNIL yang berkewarganegaraan Belanda, penahanan tersebut berlangsung seterusnya sampai usai perang, sedangkan bagi yang berwarga negara Indonesia hanya bersifat penahanan sementara, tidak lama kemudian mereka dibebaskan. Ketika itu saya sebagai tentara milisia Belanda atau Militie Soldaat KNIL, yang merupakan tentara cadangan yang diambil dari pemuda-pemuda serta pelajar berkebangsaan Belanda ...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api (2-Habis) Tinggalkan Bandung Bukan Karena Ultimatum tapi Karena Taat pada Perintah Pusat

Oleh H. ATJE BASTAMAN BEBERAPA jam sebelum berakhirnya batas waktu yang ditetapkan Sekutu mengenai pemindahan tersebut, sikap dan kepentingan pihak militer dan orang-orang sipil dari generasi yang tua menjadi persoalan terbuka. Kaum muda bersedia pergi dan menyenangi ide tersebut. Orang-orang sipil ingin tinggal, bukan karena mereka pro Belanda, tetapi terutama disebabkan mereka lebih cocok untuk kerja di kota dan untuk tawar-menawar dan negosiasi  yang diperlukan guna mempertahankan suatu pemerintah Republik di suatu daerah kantong bangsa asing. Dalam keadaan seperti itu tak dapat dihindarkan ide untuk memaksakan suatu pengungsian umum termasuk pengungsian pemerintah lokal dan penghancuran kota yang akan mereka tinggalkan, merupakan rangsangan bagi para pemuda yang ingin mengambil langkah revolusioner yang menggelegar dalam menghadapi suatu force majeure . Dalam menghadapi keadaan tersebut yang berwenang di bidang sipil tak berdaya. Pukul 2.30 sore walikota mengabark...

Pembantaian di Sumedang (3) Dibom dari Udara, Legok Luluh Lantak

DI dalam foto itu, sepuluh atau lebih tentara Belanda sedang memandangi desa yang terbakar. Mereka asyik sekali. Sampai-sampai, kesan yang ditulis di belakang foto itu pun begitu ceria, "Kebakaran yang sungguh indah dan sangat menyenangkan melihat kampung terbakar". Foto itu beredar di dunia maya, melalui laman 7mei.nl/eerherstel3 milik Max van der Werff, seorang Belanda yang peduli terhadap persoalan kejahatan kemanusiaan di Indonesia. Foto tersebut diambil seorang veteran Belanda yang bertugas di kawasan Legok. Tak ada catatan resmi mengenai peristiwa itu. Namun, ingatan Otoy (89) dapat menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Pria tunawisma itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi pada desanya yang dikenal dengan sebutan Riung Gunung. Beberapa orang meyakini, rakyat Indonesia sendiri yang sengaja membakar desa agar tak diduduki Belanda. Namun, dengan haqqulyaqin , Otoy mengatakan bahwa Belandalah yang membakar desa di Kecamatan Legok itu. "Saat itu, t...

Peran Sarekat Islam Tak Bisa Diabaikan

Kontroversi yang mempertanyakan tonggak Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 seharusnya tidak perlu dilakukan secara berlarut-larut hingga menghabiskan banyak energi. Dialog yang menggugat persoalan itu sebaiknya dilakukan sebagai upaya untuk melangkah maju ke depan demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Hal itu dikatakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dalam Dialog Peradaban Centre for Information and Development Studies di Jakarta, Kamis (22/5). "Budi Utomo memang organisasi modern yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Namun, peranan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam tidak dapat diabaikan," katanya. Budi Utomo dan Sarekat Islam sama-sama memiliki andil besar dalam menciptakan Indonesia merdeka. Sebagian kalangan menganggap tonggak Kebangkitan Nasional ada pada 16 Oktober 1905 saat terbentuknya Sarekat Dagang Islam, bukan pada hari kelahiran Budi Utomo, 20 Mei 1908. (MZW) Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

1928: Kongres Perempuan Indonesia I

PARA pejuang wanita mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I. Kongres dimulai pada 22 Desember 1928. Kongres yang diadakan di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta itu berakhir pada 25 Desember 1928.  Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Hasil kongres tersebut, salah satunya ialah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah senusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Penetapan 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada 1938. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No 316/1959 bahwa 22 Desember ialah Hari Ibu. Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

Menyimak Tulisan H. Rosihan Anwar: Indonesia di Tahun 1947-1949

Oleh ADI PRATHOMO INFORMASI mengenai sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negara RI tampaknya masih banyak yang belum terungkap. Setidaknya, hal ini bisa kita simpulkan setelah membaca tulisan H. Rosihan Anwar pada suratkabar ini (13/6/96) yang mengungkapkan secara singkat seputar pergolakan politik di tanah air sesudah kemerdekaan Indonesia. Fakta pergolakan politik yang diambil dari dokumen resmi ini telah membuka mata dan sekaligus membangunkan kesadaran kita akan arti sejarah kemerdekaan Indonesia. Terutama pada informasi mengenai orang-orang yang tidak mempunyai sikap politik yang tegas atau bermuka dua. Seperti yang dilakukan oleh Anak Agung Gde Agung dari tahun 1947 hingga 1948 terhadap rakyat--khususnya para pemuda Bali--serta para pemimpin politik Indonesia yang saat itu sedang giat-giatnya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Terus terang saja, tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan yang s...

Catatan di Cirebon dan Majalengka: Pabrik Gula Jadi Rebutan pada Masa Perang

KEBUTUHAN pasokan gula putih masih menjadi persoalan rutin yang serius dibahas sejumlah pemangku kepentingan di Indonesia sejak bertahun-tahun terakhir. Terus berkurangnya pasokan tebu dan tak optimalnya sebagian unit pabrik gula di Pulau Jawa masih menjadi penyebab utama yang di masa lalu sempat jaya. K EPENTINGAN penguasaan pabrik gula pun termasuk menjadi salah satu sasaran utama penguasaan pasukan Belanda semasa Perang Kemerdekaan Indonesia. Semasa Agresi Belanda I "Operasi Produk", pada 21 Juli s.d. 5 Agustus 1947, kawasan utama lokasi pabrik gula di Jawa Barat, yaitu di Cirebon dan Majalengka menjadi sasaran pergerakan pasukan Belanda dari Bandung. Namun, setelah puluhan tahun pascaperang untuk penguasaan seluruh pabrik gula di Jawa Barat, kini hanya menyisakan tiga pabrik gula (PG) eks kolonial, yaitu PG Sindanglaut, PG Tersanabaru, dan PG Karangsuwung (ditambah dua pabrik gula baru yang didirikan tahun 1970-an dan 1980-an, yaitu PG Jatitujuh dan PG Subang). Sementara...