Langsung ke konten utama

Kalimantan Selatan dan Timur Tahun 1946 (3-Habis) Poeloe Laoet Tempat Mengirimkan Juru Propaganda RI ke Kalimantan

Oleh : H. ROSIHAN ANWAR

KONTELIR Drs. A. Visser dengan menumpang perahu layar dalam perjalanan ke bagian selatan Poeloe-Laoet, setelah seharian berlayar, pada malamnya melihat cahaya keluar dari sebuah rumah kecil dan ajaib di depan rumah itu ada tempat pendaratan. Mereka menuju ke tempat itu dan mendarat. Cahaya dalam rumah kecil mulai bergerak dan beberapa saat kemudian datang seorang Indonesia dengan sebuah lampu stormking di tangannya. Diangkatnya lampu, dipandangnya dengan teliti, lalu ditanyakannya: "Belanda baik?" Visser menceritakan bahwa karena angin tidak bertiup, dia tidak dapat mencapai tujuan perjalanannya. Apakah dia boleh menginap di suatu tempat di sini? Orang Indonesia menjawab dia mau membawa rombongan Visser ke kampung berdekatan dan barangkali kepala kampung dapat mengurus soal penginapan mereka. Maka berjalan kakilah Visser di belakang lampu storm menuju kampung yang dimaksud. Setelah berjalan sepuluh menit lamanya, mereka sampailah, tetapi dalam pada itu iringan Visser ditambah dengan penduduk kampung yang tanpa banyak bicara mengikuti Visser.

Pet Pamongpraja Tempo Dulu

SERAYA penunjuk jalan tadi memasuki salah satu rumah tempat kediaman kepala kampung, Kontelir Visser membagi-bagikan rokok dan coklat kepada penduduk yang mengelilinginya untuk sekadar menimbulkan suasana baik. Rakyat memegang bungkus rokok dan coklat itu dengan perasaan kagum.

Kepala kampung muncul setelah agak lama juga, tetapi waktu dia tampil lenyaplah ketidakpastian tentang penerimaannya terhadap Kontelir Visser. Dia memakai sarung tua dan jas lusuh, tetapi di kepalanya memasang sebuah pet uniform, betul-betul "bestuurpet" dari sebelum perang dunia ke-II. Visser disambut dengan baik, dan ketika dia dan teman-temannya memasuki rumah, keluarga kepala kampung sedang membenahi sebuah kamar, menaruh kasur. Tetapi ketika Visser menanyakan bagaimana situasi di Tandjong-Lajar, ibukota Poeloe-Laoet selatan, dia mendapat jawaban yang mengelakkan. Hanya dibilang jalan ke sana baik dan jaraknya satu setengah jam jalan kaki.

Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan satu jam lamanya, mereka melihat di kejauhan sejumlah penunggang kuda yang langsung menuju mereka. Penunggang paling depan turun dari kudanya dan pergi ke arah Kontelir Visser. Ia adalah Kyahi dari Tandjong-Lajar, yang datang melapor dalam pakaian seragamnya dari sebelum perang dengan kancing W (yakni Wilhelmina) dan topi pet uniform.

Kyahi ini berada di posnya yang sepi selama masa pendudukan Jepang. Ia berada di situ selama pemerintahan Republik berlaku. Dan kini dia melapor kepada pemerintahan Belanda. Kedatangan Visser telah diberitahukan kepadanya oleh kepala kampung dan dia membawa sejumlah kuda tambahan.

Demikianlah terjadi bahwa setengah jam kemudan Visser dengan menunggang kuda memasuki ibukota (Republik) Poeloe-Laoet selatan. Visser mengakui tidak ada rakyat berdiri di tepi jalan memberikan sambutan bersemangat. Perang dan akibatnya telah mengajarkan kepada penduduk untuk menghampiri para pejabat pemerintahan dengan sikap berhati-hati, sebab siapa yang terlalu terang-terangan menyatakan sikap, mempunyai kemungkinan akan mengalami nasib sial di bawah pemerintahan atau rezim berikutnya.

Di beranda muka rumah Kyahi rombongan Visser disajikan hidangan kopi dan makanan yang enak dipersiapkan. Setelah makan ternyata betapa besarnya perhatian penduduk terhadap kedatangan Kontelir Visser. Kyahi mengusulkan, supaya sorenya Visser mengunjungi sebuah pulau kecil yang terletak depan pantai. Menurut hematnya akan baik sekali, apabila diperlihatkan di sana kekuasaan Belanda telah dipulihkan seluruhnya di Poeloe-Laoet. "Tuan mengatakan kepada kami, agar kami waspada terhadap kaum penyusup dari Jawa. Nah, mereka itu biasanya datang lewat pulau tersebut dan apabila kepala kampung di sana memberitahukan kepada kami pada waktunya, maka tidaklah sulit mencegah kaum penyusup itu mendarat di Poeloe-Laoet," ujar Kyahi kepada Kontelir Visser.

Akrobat Politik

DEMIKIANLAH Visser setuju sore itu pergi ke pulau kecil depan pantai. Dia menjelaskan mengapa dia berbuat demikian. Seperti halnya dengan banyak pejabat pamong praja Belanda pada masa itu, dia setuju dengan Indonesia yang merdeka, tetapi dia tidak melihat sesuatu kebajikan dalam demagogi Soekarno. Dia dapat menerima rencana Kyahi tadi, apalagi Kyahi menambahkan: "Selagi kita mengunjungi pulau tersebut, maka perahu Tuan dapat berlayar ke Tanjong-Lajar. Tuan menginap di tempat saya, dan besok Tuan berlayar ke Pegatan di mana Tuan akan menemukan kapal "Hap-Guan" yang akan membawa Tuan ke Kota-Baroe."

Kontelir Visser sudah yakin sekali akan wawasan politik penduduk Poeloe-Laoet, jadi dia tidak heran melihat bendera Belanda berkibar depan rumah di mana perahunya mendarat. Bagi beberapa kaum nelayan yang tinggal di pulau kecil itu, akrobatik politik tentulah merupakan syarat kehidupan yang mutlak. Maklum, mereka tidak hanya harus berteman dengan para pejabat resmi yang saling menggantikan selama ini, tetapi juga mengalami tekanan dari pihak Republik di Pulau Jawa yang menggunakan pulau kecil itu sebagai batu loncatan untuk mengirimkan para propagandis Republik ke Kalimantan.

Tatkala kembali ke Kota-Baroe, Kontelir Visser berjumpa di kapal "Hap-Guan" dengan Kyahi yang dipersiapkan untuk mengoper pimpinan pemerintahan dari Visser. Dengan gembira Visser bersalaman dengan kepala itu, karena pada hematnya penyerahan pemerintahan kepada tangan orang Indonesia adalah suatu hal yang baik. Lagi pula dengan kedatangan hoofd-kyahi itu ke Kota-Baroe, Visser melihat tanda dia akan dapat balik ke Negeri Belanda untuk bersatu dengan keluarganya. Dan memang juga dua bulan kemudian dia cuti ke negeri Belanda, demikian kisah Kontelir Drs. A. Visser dalam buku "Besturen Overzee", yang melukiskan di depan mata kita keadaan di Kalimantan pada tahun 1946. (Habis).-***



Sumber: Pikiran Rakyat, 4 April 1985



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tujuh Nama Indonesia

NAMA Indonesia pertama kali dipakai pada tahun 1850. Tapi orang pertama yang mempergunakan nama Indonesia itu ialah James Richardson Logan (1869), dalam kumpulan karangannya yang berjudul " The Indian Archipelago and Eastern Asia ", terbit dalam Journal of The Asiatic Society of Bengal (1847-1859) . Indonesia berasal dari gabungan kata "Indo" dan "Neise", yang berasal dari bahasa Yunani: Nesos , berarti kepulauan Hindia. Adapun kata "Nesos" itu hampir berdekatan dengan kata "nusa" (diartikan dalam bahasa Indonesia, yang berarti pulau). Nama Indonesia semakin populer saja, seperti halnya Sir William Edward Maxwell (1897), seorang ahli hukum berkebangsaan Inggris yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Straits Settlements (yang kemudian menjadi Gubernur Pantai Mas), juga pernah memakai nama "Indonesia" di dalam kata mukadimah buku penuntun bahasa-bahasa Melayu (buah karyanya sendiri). Dalam bukunya itu, ia menulis "The I...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

1928: Kongres Perempuan Indonesia I

PARA pejuang wanita mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I. Kongres dimulai pada 22 Desember 1928. Kongres yang diadakan di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama, Yogyakarta itu berakhir pada 25 Desember 1928.  Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra. Hasil kongres tersebut, salah satunya ialah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah senusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Penetapan 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada 1938. Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No 316/1959 bahwa 22 Desember ialah Hari Ibu. Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

Daya Simbolis Sunda

Asep Salahudin Dekan Fakultas Syariah IAILM Suryalaya Pemerhati Kebudayaan Sunda S UNDA tentu tidak akan pernah selesai dipercakapkan. Apalagi kalau dikaitkan dengan persoalan sejarah dan kebudayaan. Di belakangnya selalu menyisakan banyak perspektif lengkap dengan polemik yang mengitarinya. Justru tema inilah yang hendak didiskusikan kembali Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat, Kamis, 10 Maret 2016, di Auditorium Museum Sri Baduga berangkat dari buku tebal bikinan Nina Herlina Lubis dkk, Sejarah Kebudayaan Sunda. Membedah tema sejarah dan kebudayaan hari ini tentu tidak akan segempita membincangkan politik kaitannya dengan manusia Sunda walaupun ujung kesimpulannya sudah dapat diterka: ngabuntut bangkong  dan berputar sekitar keluh kesah Ki Sunda yang dipandang "kalah" dalam konteks politik nasional. Suatu pertanyaan Apa itu sejarah? Pertanyaannya sama abstraknya dengan apa itu kebudayaan. Jawabannya bisa panjang lebar. Semakin abstrak kalau dibubuhi la...

Hari-hari di Bawah Tanah Menjelang Proklamasi (1/3)

NISHIJIMA SHIGETADA . Datang ke Indonesia pada 1936. Bekerja pada Toko Serba Ada Chiyoda Hyakatten, Surabaya, sampai Perang Dunia II meletus, dan giat dalam gerakan bawah tanah. Kemudian bertugas di dinas Angkatan Laut Jepang di Jakarta. Ia menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Tulisannya tentang pengalamannya sebagai saksi sejarah dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dimuat dalam buku The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942-1945 terbitan Ohio University, AS (1986). Sekelompok perwira Angkatan Laut Jepang mendirikan Sekolah Kemerdekaan untuk menggembleng pemimpin-pemimpin Indonesia. Siapa saja mereka? Apa peran mereka di hari-hari menjelang Proklamasi? Inilah catatan pengalaman perwira AL Nishijima Shigetada. T IDAK terlalu lama sebelum Jepang menyerah, ada beberapa kelompok yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Adam Malik, dalam bukunya, Riwayat dan Perjuangan Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 , menyebutnya sebagai "kekuatan-kekuatan r...

Aceh Kerajaan Islam Ke-V Abad XVI

LEBIH kurang dalam tahun 650 M, Maharaja Kao Tsung (T-angdinasti) sesudah Sasanid dan Byzantine tercatat dalam sejarah, suatu kekuatan militer baru mengawasi jalur perdagangan, mengirimkan suatu perutusan ke Madinah dan balasan perutusan dari Saidina Usman dalam tahun-tahun 651, 713, dan 726 M. Serombongan dari golongan Saidina Ali pengungsi dari kejaran Ummayah telah bermukim di negeri Cina sebelum tahun 750 M. (Harry W. Hazard, Atlas of Islamic History, Princeton University Press, 1954, hal. 42 kolom 2). Pelayaran melalui selat Melaka lebih dahulu menjumpai Aceh Inti (Aceh Besar), Pidie, Pasai, dan Perlak. Menjelang tahun 1100 M, para mubaligh Islam telah mewujudkan keunian gabungan unsur dagang dan syiar Islam sebagai dua hal yang senyawa. Juga menjelang tahun 1290, para mubaligh Islam memilih Perlak (pantai timur Aceh) sebagai basis yang permanen dan pusat syiar Islam ke seluruh Nusantara. Para mubaligh menguasai bandar-bandar dagang, kawin dengan wanita-wanita bumiputera, menjunju...

Petisi Soetardjo: Kesempatan yang Disia-siakan Hindia Belanda

Oleh: A. C. Ton PENGANTAR: A. C Ton, seorang sejarawan dan penerbit dari negeri Belanda menulis mengenai Petisi Soetardjo dan Volksraad yang dimuat di NRC Handelsblad tepat 50 tahun ulang tahun Petisi Soetardjo. Judulnya "Petitie-Soetardjo, 15 Juli 1936,: een gemiste kans voor Nederlands-Indie". Pandangan A. C Ton mengevaluasi peristiwa itu sangat menarik karena dibuat pada masa kini. Di bawah ini terjemahannya.  -- Redaksi TEPAT 50 tahun yang lalu di Volksraad, Nederlandsch Indie, terjadi sesuatu yang luar biasa. Pegawai Pamong Praja Soetardjo pada tanggal 15 Juli 1936 mengajukan usul di perwakilan rakyat dengan maksud memberikan kemerdekaan kepada Nederlandsch Indie dalam jangka waktu 10 tahun: Indie, sebagai dominion dalam Kerajaan Belanda. Dua tahun lamanya usul tersebut yang menjadi terkenal sebagai "Petitie Soetardjo" berhasil memikat perhatian orang di Indie. Petisi tersebut tidaklah bersifat revolusioner atau pun radikal. Kalau dibandingkan dengan perjuangan...