Langsung ke konten utama

Perjalanan Sulit Menyelamatkan YBJ 6 Diulang Kembali

RUTE gerilya perjuangan pemancar YBJ 6 sepanjang lk 95 km di pedalaman Sumatera Barat tahun 1948 lalu yang ditempuh kembali oleh peserta Napak Tilas perjuangan pemancar YBJ 6 tersebut selama 5 hari sejak tanggal 19 s/d 23 Desember lalu, dirasakan oleh para peserta cukup berat. Namun demikian, jalan kaki masuk kampung keluar kampung, mendaki bukit menurun lurah dan memasuki rimba belantara itu, berkat tekad yang membara dan semangat tinggi, rute itu telah mereka tempuh dan selesaikan dengan baik tanpa kurang suatu apa.

Pada tanggal 19 Desember 1984 peserta yang berjumlah 79 orang itu dilepas keberangkatannya menuju Alang Lawas Halaban oleh Menteri Parpostel Achmad Tahir, Gubernur Sumatera Barat, Ir. H. Azwar Anas Dt. Rajo Suleman serta para Kepala Daerah Tk. II se-Sumatera Barat dan undangan lainnya dalam suatu acara di lapangan Korem Wirabraja Bukittinggi. Hari Minggu tanggal 23 Desember, para peserta dalam jumlah yang lengkap disambut kepulangannya oleh Dirpegtel H. Eem Rachmat Bc. TT, Pembantu Gubernur Wilayah I Sumatera Barat drs. Abrar, Kepala Daerah setempat dan undangan lainnya dalam suatu acara resmi di Gedung Negara Tri Arga Bukittinggi.

Belum Seberapa 

Walau tampak letih, namun di wajah para peserta tetap tercermin rasa gembira dan puas, seperti halnya waktu mereka berangkat lima hari sebelumnya.

"Perjalanan kami memang cukup berat. Namun bila dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh para pejuang yang menyelamatkan pemancar YBJ 6 tahun 1948 lalu, perjalanan kami ini belum seberapa," ujar beberapa peserta pada Suara Karya yang menanyakan kesan-kesan mereka mengikuti Napak Tilas YBJ 6 tersebut.

I Made Yudana peserta dari Witel I Medan yang mengakui baru pertama kali datang ke Sumatera Barat, menyatakan rasa heran bercampur kagumnya kepada pegawai PTTRI yang telah berhasil membawa dan menyelamatkan pemancar YBJ 6 dalam medan yang begitu sulit.

"Etappe IV yakni dari Sumpur Kudus ke Pemasian sejauh lk 30 km, menurut saya adalah yang terberat. Jarak sejauh itu kami tempuh sejak pukul 08.00 pagi hingga pukul 18.00 melalui hutan lebat yang hanya sedikit sekali kena cahaya matahari. Bahkan sejarak lk 2 km, kami terpaksa menempuh daerah rawa yang airnya sampai ke lutut.

"Kami peserta Napak Tilas sekarang ini yang cuma membawa perbekalan sehari-hari sudah merasa lokasi itu sangat berat untuk dilewati, betapa lagi bagi bapak-bapak kita yang di tahun 1948 selama berjalan harus menggotong pemancar yang beratnya hampir 300 kg. Kalau jarak tersebut dapat kami lewati dengan hati gembira dan bergurau bersama kawan-kawan, bapak-bapak kita yang menyelamatkan pemancar YBJ 6 tersebut, tentu akan melewatinya dengan hati yang tidak tenang di bawah ancaman peluru musuh yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawa," katanya pula.

Peserta Napak Tilas sekarang yang merupakan pilihan dari setiap Witel yang ada serta unsur-unsur lainnya yang dibekali dengan perbekalan cukup, diawasi dokter serta ada petugas keamanannya. Hal yang demikian tidak dialami oleh para pejuang penyelamat pemancar YBJ 6 itu.

"Modal mereka hanyalah semangat. Rasa cinta yang besar pada kemerdekaan. Karenanya mereka memang pantas menerima piagam dari Pemerintah," kata I Made Yudana bersemangat.

Sementara itu Pratu Ramayus dari Yon 131 Brajasakti, yang dalam kegiatan Napak Tilas ini juga merupakan petugas keamanan bagi para peserta, memuji ketangguhan para peserta Napak Tilas perjuangan pemancar YBJ 6 tersebut. "Jarak yang panjang dan berat itu mereka tempuh tanpa keluhan. Malah sebaliknya mereka tetap gembira," ujarnya pada Suara Karya.

Diakuinya, etape IV seperti yang dikemukakan oleh I Made Yudana memang cukup berat.

"Bagi kami ABRI, hal yang begitu biasa saja. Tapi bagi orang sipil, menempuh rimba, mendaki bukit dan menyusuri jurang seperti yang ditemui dalam rute itu memang suatu hal yang sulit. Namun nyatanya kesulitan itu berhasil mereka atasi," jelasnya.

Menurut dia pula, dalam rombongan peserta Napak Tilas ini ada 12 orang anggota ABRI yang ikut. Selama Napak Tilas berlangsung, ia melihat kompaknya ABRI dengan peserta lainnya. Saling membantu dan satu dengan yang lainnya tidak merasa asing. "Inilah yang membuat saya lebih terharu dan gembira," katanya.

Walaupun di kalangan peserta kelihatan ada keinginan untuk saling dahulu mendahului selama perjalanan berlangsung, namun ia merasa bahwa semuanya itu adalah karena semangat yang tinggi dari setiap peserta untuk dapat menyelesaikan perjalanan mereka tepat pada waktunya.

Peserta lainnya yakni Constantin Rumbewas dari Witel XII Jayapura menyatakan rasa syukurnya pada Tuhan dapat ikut dalam Napak Tilas ini, karena berhasil menjajaki perjalanan yang pernah ditempuh oleh para pejuang PTTRI dalam usaha mereka menyelamatkan pemancar YBJ 6 di Sumatera Barat.

Rumbewas, 41 tahun, mengatakan sebagian dari rute yang ditempuh memang cukup berat. Terutama jarak Sumpur Kudus ke Pamasian seperti yang dikemukakan rekan-rekannya. Namun demikian bila ia diberi kesempatan lagi untuk ikut dalam Napak Tilas menjajaki rute perjuangan lainnya, ia akan tetap bersedia.

"Dengan ikut dalam Napak Tilas, di samping dapat menghayati perjuangan pahlawan kita, saya juga bisa melihat daerah-daerah di luar daerah saya Irian Jaya," katanya tersenyum. "Bagi saya memang berat. Tapi bagi pejuang-pejuang kita yang terdahulu tentu lebih berat lagi. Kini kita telah bisa lewat di jalan raya. Disambut oleh orang kampung dengan gembira. Sedangkan bapak-bapak kita yang dahulu itu tentu lebih banyak melewati jalan setapak dan terpaksa sembunyi-sembunyi dari intaian musuh," tambahnya pula.

Syofyan Zaida, seorang anggota Orari Sumatera Barat yang berwiraswasta di Bukittinggi juga mengakui beratnya rute yang ia tempuh. "Nampaknya ada di antara rute itu yang jarang dtempuh oleh manusia. Misalnya hutan di antara Sumpur Kudus Pamasian," katanya tentang etape IV yang dikategorikan oleh rekan-rekan seperjalanannya sebagai rute terberat. 

"Sepanjang perjalanan, yang saya pikirkan adalah kesungguhan dari pejuang kita yang menyelamatkan pemancar seberat 300 kilogram itu. Di samping menempuh rimba, mereka juga harus melalui jalan setapak menyisi-nyisi pinggang bukit dan menuruni lurah yang kalau kita kurang awas, bisa jumpalitan masuk jurang," ucapnya mengenang perjalanannya. Menurut Syofyan, cara-cara seperti ikut dalam Napak Tilas ini perlu dilakukan oleh generasi muda sekarang ini. "Semuanya itu untuk menghayati lebih dalam perjuangan para pahlawan kita," ujarnya menambahkan. 

Di antara peserta, antara lain yang terdiri dari masyarakat, siswa SLTP dan SLTA memang ada yang ikut Napak Tilas ini untuk satu etape saja. Misalnya dari etape I ke etape II dan sebagainya. Walau jarak itu mereka tempuh dalam tempo yang tak begitu lama atau tidak jauh, namun mereka tetap merasa perjalanan yang mereka lakukan adalah suatu perjalanan yang melelahkan. Indra Kusuma (13 tahun) murid kelas 1 SMP Standar Halaban 50 Kota yang kebagian rute Alang Lawas-Tepi Selo sejauh 18 km mengatakan, perjalanan itu berat dan meletihkan. "Tapi saya tidak mundur, karena kakek atau bapak-bapak kita dahulu tentu lebih letih lagi dari saya," kata Indra.

Dengan diselenggarakannya Napak Tilas Perjuangan Pemancar YBJ 6 di Sumatera Barat ini, nampaknya sasaran yang ingin dicapai oleh pihak Perumtel berhasil dicapai. Dari wawancara Suara Karya para peserta pada umumnya mengakui dengan ikut Napak Tilas mereka dapat menghayati nilai-nilai perjuangan pendahulunya.

Malah mereka minta, tak hanya Perumtel yang menyelenggarakan Napak Tilas seperti ini, tapi juga Jawatan dan Instansi lainnya.

"Dengan mengulangi lagi jejak para pejuang kita terdahulu, di samping kita benar-benar dapat merasakan kesulitan yang mereka alami, kita juga akan lebih mengenal tempat-tempat yang punya nilai-nilai sejarah," ucap salah seorang di antaranya. "Mencintai pahlawan, bukan hanya dengan mengingat namanya, tapi perlu menghayati dan merasakan pula bagaimana beratnya perjuangan mereka," ujar yang lain menimpali. (Antha).



Sumber: Suara Karya, circa 27 Desember 1984



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Paderi di Sumatera Barat 1821 - 1838 (Bagian II - Habis)

Oleh : Syamsuar Said Periode 1831 - 1838 Pada tahun 1831 Perang Diponegoro di Jawa dapat dikatakan berakhir. Hal itu merupakan angin segar bagi Kompeni Belanda di Sumatera Barat, sebab mereka dapat melanjutkan usaha menaklukkan tanah Minangkabau. Pasukan bantuan didatangkan dari Jawa dan Gubernur Jenderal Van den Bosch lalu mengangkat Letkol. Ellout menjadi Residen merangkap Komandan Militer di sana. Untuk pertama kalinya Kompeni menyerang Naras pada tanggal 8 Juli 1831, hingga Tuanku nan Cerdik terpaksa mengosongkannya. Begitu pula VII Kota juga dikosongkan untuk kemudian mundur ke V Kota. Dalam serangan ini Mayor AV Michiels bertindak kejam. Keluarga Tuanku nan Cerdik yang tertangkap banyak yang dibunuh dengan semena-mena. Secara licik Belanda mengumumkan sayembara. Kepada mereka yang berhasil menyerahkan Tuanku nan Cerdik hidup-hidup akan diberi hadiah 1.000 gulden. Namun sayembara itu tidak mendapat tanggapan. Rakyat masih setia pada pemimpinnya sehingga perlawanan semakin berkobar...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api: Heroisme antara Tegallega dan Rel KA

TULANG  jemari terbungkus kulit keriput itu mencengkeram erat besi pegangan gerobak sampah. Bahunya yang tipis tampak melengkung, tertarik kuat tali pengikat gerobak. Langkah dan nafasnya terasa berat, menapaki Jl. Mohammad Toha, Tegallega, yang Sabtu sore kemarin (23/3), basah diguyur hujan. Beban sampah yang dibawanya, seakan tak sepadan dengan sosok tua yang kurus kering. Elan (60), sosok tua itu, sejenak memalingkan pandangannya pada sederet kata-kata dalam spanduk yang terpancang depan Markas Hubdam III/Siliwangi, "Markas Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi Tahun 1946 - Panitia BLA 1996", demikian bunyi tulisan itu. Kawasan Tegallega jika dibalik ke masa 1946, adalah sejarah heroik ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama ratusan ribu warga Bandung, mempertahankan kemerdekaan. Pada 21 Maret 1946, kawasan itu sempat dibombarder tentara Sekutu. Akan tetapi secara kebetulan, kedudukan Batalyon II TRI (Sumarsono) di sana, tengah memperkuat posisi perte...

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

Masjid Indonesia, Perkawinan Budaya yang Kaya Raya

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan  fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya DEMIKIANLAH penggalan bait pertama sajak Mencari Sebuah Mesjid yang ditulis penyair Taufik Ismail. Sajak yang keseluruhannya cukup panjang ini, dalam bentuknya yang besar ikut dipajang di salah satu pojok arena pameran Festival Istiqlal 1991. Setiap hari, banyaklah pengunjung yang ikut membacanya. Bahkan siswa-siswi SMP dan SMA rela duduk beralas karpet di hadapan sajak itu, untuk menyalinnya sampai habis. Tak salah jika dikatakan, "stand" sajak Taufik Ismail ini merupakan salah satu dari sekian banyak stand di arena pameran itu yang mendapatkan perhatian berlimpah dari pengunjung. Bait-bait sajak nan indah dan syahdu ini, seakan ingin memperlengkap koleksi benda-benda Islami yang dipamerkan pada pe...

Museum Sumpah Pemuda: Pernah Menjadi Hotel dan Toko Bunga

S uasana di gedung tua yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 itu nyaris hening. Meski di depannya, hilir mudik kendaraan yang melintasi Jalan Kramat Raya tak henti-hentinya mengeluarkan suara raungan. Keramaian di jalan utama ibu kota itu seakan tak mampu menghidupkan suasana dalam gedung. Padahal sekitar 73 tahun yang lalu, di gedung ini pernah terjadi kesibukan yang menjadi tonggak penting bagi berdirinya negara Indonesia. Di tempat inilah para pemuda dari berbagai daerah memekikkan perlunya satu nusa, satu bahasa, dan satu bangsa. Namun kini gedung yang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda (MSP) seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan bangsa Indonesia. Suasana hening dan sepi semakin meneguhkan gedung yang memiliki total luas 1.284 m2 ini sebagai bangunan bersejarah. Gedung tua ini memang sarat catatan sejarah. Sebelum diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda tahun 1971, gedung ini sempat mengalami pemugaran. Pemugaran ini ditanggung oleh pihak pemerintah DKI Jakarta dan diresmikan ...

Hamdan Zoelva Siap Pimpin Syarikat Islam

BANDUNG, (PR).- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva (53), dicalonkan sebagai ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam periode 2015-2020 dan diperkirakan akan melenggang dalam pemilihan yang akan digelar Kamis (26/11/2015) malam ini. Hamdan bertekad untuk menyatukan kembali kekuatan Syarikat Islam, memperbanyak kaderisasi, dan menggerakkan program umat terutama pemberdayaan ekonomi. "Insya Allah saya siap kalau diberi amanah menjadi ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam. Saya hanya berucap bismika tawwakkaltu Alalloh laa hawla walaa quwwata illa billaah ," kata Hamdan saat pelaksanaan Majelis Tahkim ke-40 Syarikat Islam di Hotel Grand Aquila, Jalan Dr Djundjunan, Kota Bandung, Rabu (25/11/2015). Ia didampingi Wakil Ketua DPW Syarikat Islam Jabar, Adam Anhari. Hamdan mengaku tak terlalu sibuk lagi setelah tidak mengomandani Mahkamah Konstitusi sehingga ingin mewakafkan sisa usianya. "Saya kini hanya menjadi dosen di Unpad, Unhas Makassar, Universitas Muh...

Kehidupan Politik di Kraton Kasunanan

S etelah tenggelam lebih setengah abad, terutama dalam kurun 30 tahun terakhir, kehidupan politik di Kraton Kasunanan Surakarta nampak mulai kembali berdetak. Zaman baru reformasi yang telah menyemaikan benih multi partai, ternyata mampu mengimbas pula masuk ke tembok kraton yang sebelumnya terkesan diam tak tersentuh perubahan. Belakangan, kebekuan tersebut sedikit mencair. Kraton tak lagi terasa sangat buram. Warna-warni baru mulai terlihat mekar.  Seperti sebuah simponi, apa yang kini sedang terjadi, barangkali, baru masuk pada babak interlude , belum sampai pada bagian akhir nada yang sesungguhnya. Meski demikian, yang kini terlantun sudah terdengar jauh berbeda, karena sebelumnya hanya tersedia sebuah irama pakem. Era itu--berjoget dalam gendang orang--memang sudah berlalu. Para kerabat Kasunanan, sekarang bebas menentukan arah dan pilihan hidupnya sendiri, termasuk dalam beraktivitas politik praktis.  Gejalanya, baru dimulai sekitar dua tahun lalu. Pada Pemilu 1997, Mas ...