Langsung ke konten utama

Kisah Sebuah Pemancar Saat Perang Kemerdekaan: YBJ-6 Lolos dari Pemboman Belanda dan Hubungi India, Siarkan Perjuangan RI

OLEH: DIDIN D BASUNI (Wartawan "PIKIRAN RAKYAT")

DALAM sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya pada masa perang kemerdekaan, PERUMTEL yang pada masa itu dikenal bernama Jawatan PTT (Pos, Telegrap, dan Telepon) mempunyai andil dalam mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Salah satu andilnya antara lain perjuangan dan peranan pemancar YBJ-6 yang ikut bergerilya di kawasan Gn. Sago, Bukittinggi di Sumatra Barat.

Pemancar YBJ-6 adalah sebuah pemancar yang dapat dipergunakan untuk hubungan telegraphi, telephoni, dan siaran (broadcast), antara lain untuk menyiarkan berita pertempuran, pengumuman, dan propaganda anti Belanda. Oleh karenanya Belanda lewat mata-matanya selalu berusaha mengikuti kegiatan YBJ-6 dan berusaha untuk menghancurkannya di mana pun pesawat tersebut berada.

YBJ-6 Luput dari Pemboman

19 Desember 1948 Belanda melancarkan agresi II terhadap Negara RI dengan melakukan pemboman di seluruh wilayah RI di antaranya Bukittinggi di mana kantor-kantor/Stasiun Radio menjadi sasaran utama. Di antara pemancar-pemancar yang sebagian hancur akibat serangan bom, pesawat pemancar YBJ-6 ternyata luput dari kehancuran dan selamat dengan kondisi utuh, sedangkan di dekatnya tergeletak sebuah bom yang tidak meledak.

Tanpa mempedulikan resiko bom yang belum meledak, pada malam harinya beberapa pemuda di bawah pimpinan D. S. Ardiwinata (alm) pesawat dilarikan ke luar kota dengan menggunakan mobil tujuan Halaban daerah perkebunan teh sekitar Gunung Sago. Malam hari itu juga mereka berikut pesawat tiba di Markas PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia), dan atas perintah PDRI, keesokan paginya pesawat diberangkatkan ke Pauh Tinggi masih sekitar Gn. Sago. Sore hari pesawat sudah dapat menghubungi pemancar-pemancar lainnya menyampaikan instruksi kepada para pejoang agar menyingkir/mengamankan diri ke tempat yang lebih aman dari serangan Belanda.

Pada waktu Belanda telah menduduki Bukittinggi, PDRI memerintahkan untuk membawa pesawat pemancar ke Bangkinang tetapi kemudian dialihkan menuju Lintai Buo. Lokasi yang dipilih adalah Tangah Padang, Balai Tangah Lintah (sekarang bernama Desa Bodi, Balai Tangah), pengangkutan pesawat kali ini tidak dapat menggunakan kendaraan mobil. Pemindahan pesawat terpaksa dilakukan dengan cara dipikul oleh anggota rombongan pada waktu malam hari melalui jalan setapak yang licin. Walaupun mengalami berbagai kesulitan namun pesawat ternyata masih dapat bekerja dengan baik.

Dibayangi Pembom

PIHAK Belanda sudah mencium lokasi pesawat pemancar tersebut dan pesawat pembom Belanda sudah membayanginya. Terpaksa pesawat pemancar YBJ-6 dipindahkan lagi dari Desa Bodi Balai Tengah ke Desa Seroja, Lubukjantan. Pengungsian ini melalui sawah-sawah dan kebun karet pada malam hari.

Di Desa Seroja Lubukjantan, YBJ-6 memancar lagi. Pada waktu itu hubungan pemancar di Yogyakarta, P. Jawa ke India yang selama ini lancar sudah terputus karena sudah diduduki Belanda. Oleh karena itu diputuskan YBJ-6 mengambil alih hubungan dengan luar negeri. Selama satu minggu dicoba menghubungi pemancar India (VWX-2) karena di India waktu itu sedang berlangsung konperensi yang dihadiri negara-negara se-Asia. Pada tanggal 17 Januari 1949 hubungan dengan India baru berhasil.

Ketua PDRI dan Gubernur Militer segera memanfaatkan YBJ-6 dengan mengirim berita ke Perwakilan RI di India tentang pengangkatan Mr. Maramis sebagai Menteri Luar Negeri PDRI.

Dua hari kemudian Mr. Maramis berpidato melalui "All India Radio" kepada dunia internasional dan rakyat Indonesia tentang pengangkatan beliau dan menyampaikan pesan Perdana Menteri Nehru kepada PDRI.

Stasiun pemancar yang dapat dihubungi YBJ-6 waktu itu sebagai berikut: MBM (AD) Medan Area, KUS (AURI) Daerah Koto Tinggi, Gubernur Militer AURI, Gus (AD) Satu Generator dengan YBJ-6 sampai daerah Laras Air, ZAY (AURI) penghubung YBJ-6, PKY-4 (PTT) Jawa, MRC (AD) Sumatera Selatan, HX-3 Divisi Siliwangi, YHP dan YHS-3 di daerah Solo yang berkumandangnya hanya sebentar (kurang lebih satu bulan) karena Maguwo jatuh diserang tentara Sekutu. Tugas YHP dan YHS untuk menghubungi pemancar India VWX-2 dioperkan kepada pemancar YBJ-6, PD-2 Aceh.

Dari Lubukjantan Terpaksa Dipindahkan Lagi

Belanda menyerbu Halaban dari arah Payakumbuh. Dari Desa Seroja Lubukjantan pesawat dibongkar dan dipindahkan ke Desa Teratai Lubukjantan, di tepi Sungai Batang Sinamar. Pemindahan pesawat melalui medan penuh rintangan, menyeberangi Sungai Batang Sinamar yang airnya dalam dan deras dengan meniti jembatan rentang dari kayu. Untuk itu pesawat YBJ-6 terpaksa harus dibawa dengan dipikul oleh delapan sampai sepuluh orang. Setelah pesawat berhasil diseberangkan, jembatan segera dibongkar untuk menghambat kejaran musuh. Pesawat YBJ-6 memancar di Desa Teratai selama kurang lebih tiga bulan.

Penembakan dan pemboman yang dilakukan Belanda di daerah Lintau masuk lokasi YBJ-6 memancar, menjadi sasaran utama. Tetapi YBJ-6 terhindar dari serangan bom, karena telah diamankan ke tempat lain lagi. Serangan dari darat dari segala penjuru terhadap YBJ-6 dapat dipatahkan karena jalan-jalan telah diputus dan mendapat perlawanan yang gigih dari TNI dan rakyat. Begitu serangan berakhir YBJ-6 mengudara kembali.

Daerah tempat penyimpanan YBJ-6 di Lintau ternyata akhirnya diketahui Belanda. Oleh karenanya daerah tersebut tidak memenuhi syarat keamanannya lagi. Sehubungan dengan itu Menteri Perhubungan PDRI memerintahkan pesawat YBJ-6 dipindahkan lagi ke Sabilutu/-Tanparongo Nagarian Sumpur Kudus. Pada waktu itu di Sabilutu pesawat mengudara dan melakukan pertukaran berita antara Ketua PDRI dengan Wakil Presiden Moh. Hatta yang sedang berada di Aceh. Namun akhirnya Belanda mengetahui pula pesawat YBJ-6 berada di Sabilutu, maka pesawat diamankan ke suatu goa, dan setelah keadaan mengizinkan pada bulan Juli 1949 pesawat dipindahkan ke Samour Kudus.

Setelah situasi dinilai berkembang baik dengan dimulainya perundingan dengan pihak Belanda, maka kepala Teknik PTT memerintahkan membawa YBJ-6 lebih dekat ke pinggiran kota yaitu di Halaban.

Setelah Yogyakarta dikembalikan kepada pemerintah RI, YBJ-6 kembali mengadakan hubungan langsung dengan Yogyakarta. Bulan Desember 1949 sebagian rombongan yang membawa pesawat YBJ-6 mendahului berangkat untuk memasuki kembali Kota Bukittinggi dan mengambil alih Stasiun Radio yang dipergunakan Belanda. Bulan Januari 1950, pesawat  YBJ-6 kembali mengudara di Bukittinggi.

Napak Tilas Perjuangan Pemancar YBJ-6

Perjuangan dengan bergerilya pemancar YBJ-6, tiga puluh delapan tahun yang lalu tersebut, dengan menempuh perjalanan sepanjang kurang lebih 130 kilometer menuruni lembah meniti ngarai tahun 1984 ini diperingati. Perumtel dengan dukungan sepenuhnya dari Pemda Prop. Sumbar dan Pangdam Tujuhbelas Agustus, berusaha untuk menyelenggarakan "Napak Tilas Rute-rute Perjalanan Gerilya Pemancar YBJ-6".

Kepala Hubungan Masyarakat Perumtel Drs. Mizwar Mu'in kepada para wartawan menjelaskan, menghayati arti usaha Napak Tilas yang dilakukan saat ini yaitu dengan menelusuri kembali rute perjalanan gerilya. Pemancar YBJ-6, diharapkan akan menjadi sumber inspirasi bagi kita sekalian dalam mengisi kemerdekaan dengan usaha-usaha pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh seluruh bangsa Indonesia. ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 13 Desember 1984



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MONUMEN PERS: Jejak TAS, Sang Pemula

S osok Tirto Adhi Soerjo yang dikenal dengan inisial TAS ada di antara 11 patung tokoh pers nasional yang ditampilkan di bagian depan ruang aula Monumen Pers Nasional di Kota Solo, Jawa Tengah. Sebagian karya Tirto yang diterbitkan di Medan Prijaji  juga bisa diakses di ruang arsip digital di monumen ini. Tulisan TAS di Medan Prijaji  yang bernas dan kerap mengkritik penindasan bisa dibaca kembali, lebih dari 100 tahun setelah tulisan itu diterbitkan pertama kali. Misalnya, dalam tulisan berjudul "Multatuli" yang dimuat di Medan Prijaji 26 Februari 1910, Tirto menjadikan buku Max Havelaar  yang ditulis Multatuli mengenai penindasan di era tanam paksa di Banten sebagai bahan untuk mengkritik penindasan oleh priayi yang masih bisa ditemukan, puluhan tahun setelah buku Multatuli terbit. "Priayi kecil jadi makanannya priayi besar. Priayi kecil tidak bisa makan orang kecil sebab juga orang kecil dijadikan makanan priayi besar," tulis Tirto. Tirto dan Medan Prijaji  membe...

Mari Bangkit Kembali

Oleh BUDIARTO SHAMBAZY K etika para pemuda Indonesia mengucapkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, dunia sedang menjalani masa kemakmuran. Tekad mereka menyatakan "satu nusa, satu bangsa, satu bahasa" ketika itu merupakan kulminasi dari perjuangan bangsa-bangsa yang ingin melepaskan diri dari penjajahan. Begitu banyak kebetulan sejarah yang menarik yang terjadi ketika dimulainya abad ke-20. Bangsa Asia cukup bangga ketika Jepang mengalahkan Rusia dalam perang tahun 1905 walaupun militerisme Jepang itu akhirnya tak dapat menahan nafsunya untuk menjajah saudara-saudaranya di China dan Korea. Perang Dunia I pecah tahun 1914 dan berakhir empat tahun kemudian, mengubah perimbangan kekuatan di Eropa. Negara-negara di benua itu mempertahankan stabilitas dan perdamaian sembari tetap melanjutkan dominasi kultural di negara-negara jajahan mereka. Mereka percaya pada suratan takdir yang rasialis, " white man's burden ", yang pertama kali diperkenalkan Rudyard Kipling...

Sarekat Islam dalam Sejarah Kemerdekaan

P erpecahan di tubuh Partai Sarekat Islam Indonesia selayaknya tidak disertai surutnya ingatan akan perjuangan organisasi Islam terbesar pada zamannya ini. Melalui penulisan sejarah, generasi kini dan mendatang bisa mengapresiasi sumbangan mereka yang amat besar bagi terbentuknya Republik Indonesia. Dalam buku Sarekat Islam Mencari Ideologi 1924-1945 (Pustaka Pelajar, 2012), Nasihin memaparkan, Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) merupakan perkumpulan rakyat bumiputra, terutama dari kalangan Islam yang berupaya bersatu melawan praktik kolonialisme Belanda. Terbentuknya Sarekat Dagang Islam pada 1909, sebagai awal terbentuknya PSII, dilandasi semangat gerakan Pan Islamisme di Timur Tengah pada awal abad ke-20. Gerakan ini dimaknai sebagai bentuk penyatuan seluruh umat Islam dalam satu ikatan dan rasa persaudaraan. Semangat Pan Islamisme yang dibawa ke Indonesia oleh tokoh-tokoh pergerakan seusai beribadah haji ini disambut hangat. Islam dianggap mampu menjadi lokomotif gerakan bumiput...

Mengungkap Nasionalisme "Kolonel Pembangkang"

SALAH satu sisi menarik dari kajian sejarah adalah aspek dinamis dari interpretasi sejarawan. Seorang sejarawan memiliki kebebasan untuk memperlakukan fakta berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Di atas itu semua, kajian sejarah kontemporer umumnya ditulis dengan suatu misi yang sarat beban. Pertama, keinginan untuk menempatkan sejarah sebagai ilmu yang bebas dari kepentingan dan konflik. Itu mengacu pada objektivitas. Kedua, meluruskan sejarah dengan sumber dan interpretasi si pelaku. Ini sifatnya inward looking . Demikian halnya dengan buku ini. Sebagai sebuah biografi, ia ingin menghadirkan sejarah menurut pelakunya sendiri. Dalam penulisan sejarah Orde Baru, peristiwa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) diberi stigma "pemberontakan"; sesuatu yang setidaknya hingga akhir tahun 1970-an menimbulkan perasaan traumatik dalam diri masyarakat Sumatera Barat. Perasaan rendah diri sebagai komunitas yang telah dikalahkan dan dengan sendirinya selalu dipojokk...

Revolusi Kebudayaan

Oleh YUDHISTIRA ANM MASSARDI M ari kita renungkan kembali jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang belum selesai.  Dari masa silam, kita selalu membanggakan Kerajaan Sriwijaya yang berjaya di sekitar Palembang pada 600-1400. Kita juga membanggakan Majapahit di sekitar Surabaya pada kurun 1293-1519. Kita pun membanggakan kemegahan Borobudur dan Prambanan di sekitar Yogyakarta. Terhadap tonggak-tonggak masa silam itu, kita (ingin) menyatakan diri sebagai bagian darinya: sebagai generasi pemilik dan penerus. Namun, pada saat yang sama, kita juga menyadari bahwa itu adalah hasil karya "mereka" dan tak ada hubungannya dengan "kita". Lalu, muncullah pertanyaan eksistensial itu: "Jadi, sebenarnya, siapakah kita?" "Simsalabim" Dari sejarah Indonesia modern, kita belajar tentang sekelompok priayi di "Sekolah Dokter Jawa" (STOVIA) di Jakarta yang--pada 20 Mei 1908--mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo. Para pemuda itu tercerahkan dan menyadari ba...

Mohammad Toha, Keteladanan Seorang Remaja

Oleh : Drs. H. Imam Hermanto Ketua Umum Buah Batu Corps (BBC) B agi kebanyakan remaja Kota Bandung dewasa ini nama Mohammad Toha hanya dipahami sebagai sepenggal jalan daerah pinggiran selatan Kota Bandung. Bahkan mungkin juga tak banyak yang mengetahui kalau di salah satu sudut jalan ini di wilayah Dayeuhkolot terdapat monumen Mohamad Toha. Kisah Mohamad Toha tak bisa lepas dari peristiwa Bandung Lautan Api dan peristiwa yang mengikutinya. Kala itu, TRI dan pejuang lainnya enggan menyerahkan Kota Bandung secara utuh. Karena itu setelah mengungsikan penduduk, mereka membakar Kota Bandung, sehingga di mana-mana asap hitam mengepul membumbung tinggi ke udara mengiringi rombongan besar penduduk Bandung yang mengalir panjang meninggalkan Kota Bandung. Mohamad Toha diyakini melakukan aksi bom bunuh diri terhadap salah satu gudang mesiu terbesar yang ada di daerah Dayeuh Kolot. Aksi bunuh diri ini dilakukan setelah aksi penyergapannya bersama M Ramdan dan anggota pasukannya gagal dan mendapa...

MEMBACA INDONESIA: Islam dan Pendekatan Damai

Liputan bertajuk "Membaca Indonesia" minggu ini kembali hadir dengan mengambil tema kedatangan dan perkembangan awal agama Islam di Indonesia. Liputan ini merupakan kelanjutan dari liputan Oktober lalu tentang Kerajaan Majapahit. Warga Nusantara, khususnya di pusat-pusat kekuasaan di Pulau Jawa, sekitar abad ke-13 mulai tertarik dan berduyun-duyun mempelajari Islam. Masuknya Islam yang memakai cara damai dan menghargai budaya setempat membuat masyarakat makin tertarik dengan agama tersebut. H ari itu tepat 10 Muharam (Asyura atau Suro dalam penanggalan Jawa). Masjid Agung Demak di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, dipadati peziarah dan rombongan umat yang berdoa. Ratusan lelaki dan perempuan dengan khusyuk mendengarkan sang imam di depan mereka menuntun doa dan shalawat. Sekitar satu jam kemudian, kumpulan umat itu bubar. Mereka lalu menuju bagian belakang masjid untuk berziarah. "Sekarang tanggal 10 Suro. Saya berdoa semoga sawah saya tidak kena hama. Anak-anak, suami, dan ...