Langsung ke konten utama

Kalimantan Selatan dan Timur Tahun 1946 (2) Rumah Sakit Kota Baru yang Serba Darurat Manterinya Terang-terangan Pro Sukarno

Oleh : H. ROSIHAN ANWAR

KONTELIR Drs. A. Visser, setelah memutuskan menetap tinggal di Kota-Baroe, mengadakan peninjauan di Poeloe-Laoet bersama opseter Pekerjaan Umum. Dengan menggunakan sebuah truk, mereka pergi ke tambang batu bara. Tatkala tentara Sekutu mulai membom Poeloe-Laoet, maka Jepang menyembunyikan semua barang yang dapat dipindahkan di bawah pohon-pohon sekitarnya, akan tetapi bombardemen Sekutu begitu tuntas, sehingga tambang batu bara rusak berat. Yang masih tersisa dibiarkan berkarat di bawah rumput tinggi. Ada beberapa punggung pasir yang disuruh gali oleh Visser. Keluarlah dari situ blok silinder yang retak, gigi roda yang disembunyikan, rel yang masih utuh, bahkan kereta-kereta kecil pengangkut barang.

Yang merupakan masalah yang lain sifatnya ialah rumah sakit. Gedungnya utuh. Pimpinannya berada dalam tangan baik seorang mantri jururawat Jawa yang sangat cerdas, yang memang tidak menyembunyikan dia adalah pro Soekarno, tetapi menganggap sebagai kewajibannya berada di posnya terus. Bantuan medisnya hanya terbatas pada kebersihan elementer, oleh karena obat tidak ada. Dan yang paling jelek ialah banyak pasien malaria tergeletak tanpa pakaian dan tanpa klambu di tempat tidur kayu. Yang menjadi prihatin utama mantri tadi ialah orang-orang Jawa. Mereka adalah pekerja roomusha atau paksa untuk kepentingan Jepang. Mereka menebang kayu dan banyak di antara mereka yang memperoleh luka-luka di kaki dan lengan. Luka itu tidak dirawat dan jadi besar bernanah, tidak mau sembuh. Mantri membersihkan luka, tetapi begitu ada sedikit tanda akan membaik, pasien tersebut lalu melarikan diri untuk kembali kepada penghidupannya sebagai pengembara. Tidak dapat diberikan pertolongan banyak dalam hal ini, selama perlengkapan di Poeloe-Laoet berada pada titik nol mutlak.

Perdagangan Penyelundupan

PERBEKALAN merupakan masalah sentral pada semua usaha untuk sedikit memperbaiki keadaan. Untuk uang tidak ada orang yang mau kerja, karena dengan uang itu toh tak ada barang yang dapat dibeli. Hanya pakaian dan beras yang masih memiliki nilai sebagai alat pembayaran. Dengan kapal "Hap-Guan" tidak juga datang perbekalan. Yang masuk hanya surat edaran pemerintah yang menumpuk, berisi larangan dan petunjuk. Kerja sama orang Indonesia untuk pemerintahan harus diaktifkan, dan pejabat bestuur harus insyaf bahwa masa supremasi Eropah sudah lewat.

Suatu masyarakat multi-rasial berdasarkan persamaan adalah tuntutan zaman. Semua itu bagus, tetapi hampir tidak ada gunanya untuk memecahkan kebutuhan jasmani yang ada. Toh di antara larangan-larangan yang dikeluarkan terdapat sejumlah perspektif, khususnya larangan berdagang barang perlengkapan militer dan larangan Gouverneur Celebes (Sulawesi) mengenai pengeluaran beras.

Larangan seperti ini membawa kepada perdagangan penyelundupan yang intensif. Kota-Baroe terletak di rute perjalanan di mana barang perlengkapan militer dari Balikpapan diangkut ke Jawa dan beras dari Sulawesi dibawa ke Kalimantan. Menarik perhatian bahwa pelayaran di Selat Laoet yang di siang hari sepi adanya pada malamnya menjadi ramai. Apakah muatan yang dibawa oleh perahu-perahu malam tersebut?

Kontelir Visser menceritakan dalam buku "Besturen Overzee" bagaimana pada suatu malam dia bersama tiga orang militer dengan menumpang sekoci motor menahan salah satu perahu tadi. Dari pemeriksaan ternyata isinya puluhan lembar kelambu dan persediaan besar pakaian militer yang ditinggalkan oleh tentara Australia di Balikpapan. Pada masa itu pemerintah NICA menetapkan harga resmi untuk tekstil dan beras. Maka bukankah selayaknya, bila memaafkan dosa para penyelundup itu, asalkan mereka bersedia menjual barang selundupannya dengan harga resmi? Juragan perahu-perahu itu yang kebanyakan adalah orang Cina setuju dengan cara tadi untuk menghindari kesulitan. Tetapi persoalannya ialah bagaimana membayar kepada orang Cina itu, padahal kas pemerintah setempat kosong? Untuk ini juga ada penyelesaiannya. Separoh barang selundupan tadi dijual kepada Cina di Kota-Baroe dengan harga dobel dan orang Cina itu setuju sekali dengan diatur demikian. Separoh yang lain dipakai untuk membekali rumah sakit dan untuk alat pembayaran. Sistem begini berjalan baik dalam minggu-minggu pertama. Tiap malam ada perahu yang membawa tekstil atau beras. Perahu dipergok. Mantri di rumah sakit dapat merawat pasien-pasiennya. Pembangunan Kota-Baru dapat dimulai.

Setelah Kontelir Visser dapat membayar tenaga kerja yang dibutuhkan, maka tidaklah sulit memasang jalan kereta api kecil dari bukit di mana terdapat pasanggrahan ke arah kota. Dengan cepat timbul kegiatan besar di sana. Perbekalan secara rahasia dari pulau tersebut menyediakan suatu dasar bagi usaha pembangunan kembali kota kecil di sana. Juga rumah sakit hidup kembali, karena para pasien kini mempunyai kelambu untuk melindungi mereka terhadap penyakit malaria dan mereka dapat diberikan sekadar pakaian. Orang Jawa yang berkelana kini bersedia dirawat di rumah sakit. Dilihat secara ekonomi keadaan berjalan cukup baik, tetapi secara politik, situasi di Poeloe-Laoet tetap rawan, selama bagian selatan pulau itu belum didatangi oleh kekuasaan Belanda.

Kontak dengan Selatan

SERSAN tentara NICA tidak bersedia memancarkan kekuatan pasukannya yang sudah minimal itu. Kekuasaan polisi di Kota-Baroe masih terbatas pada tujuh orang yang dipersenjatai dengan sepucuk senapan karaben dan empat kelewang. Aparatur kekuasaan Belanda ini ditugaskan untuk menentang infiltrasi yang dilakukan oleh orang Republikein dari Pulau Jawa. Untuk dapat melaksanakan tugas ini dengan agak sukses, maka perlulah memulihkan kontak dengan bagian selatan Poeloe-Laoet. Untuk tujuan itu, maka pada suatu pagi berangkatlah Kontelir Visser bersama dua orang agen polisi dalam sebuah perahu layar menuju ke selatan.

Bagian pertama perjalanan itu lancar saja. Dengan dorongan angin mereka menuju ke selatan melewati Selat Laoet. Di dalam perahu terdapat pemiliknya beserta dua orang pembantu, dua agen polisi dan Kontelir Visser. Duduk dalam bayangan layar tidaklah begitu panas dan ikan-ikan yang terbang memberikan pergantian pemandangan. Kemudian mereka melihat di kejauhan sesuatu yang mirip sebuah pulau kecil, tetapi setelah dekat ternyata semua itu kelompok kecil orang Melayu laut yang berkumpul di sana. Seluruh kehidupan orang Melayu laut ini berlangsung dalam perahu-perahu ramping yang sehabis menangkap ikan, lalu disatukan menjadi sebuah desa kecil di lautan. Laki-laki perempuan berjalan hilir-mudik dan kanak-kanak melompat dari perahu yang satu ke perahu yang lain dengan suatu sikap pasti bagaikan mereka sedang berdiri di atas daratan yang tetap.

Perjalanan tampaknya suatu perjalanan pelsir, akan tetapi kira-kira pukul sebelas angin berhenti dan pada saat itu Kontelir Visser baru menempuh setengah jarak perjalanan. Layar diturunkan dan empat pria mulai berkayuh. Tanpa bayangan layar dan tanpa tiupan angin terasa hawa panas sekali. Perahu hampir tidak maju-maju rasanya. Suara dayung krek-krok-krek-krok sangat menekan perasaan. Ransum darurat dibagi-bagikan dan minuman itu sama sekali tidak lagi dirasakan nyaman. Berkayuh terus di bawah matahari panas yang memanggang isi perahu yang ditumpangi oleh Kontelir Visser.

Pukul tiga juragan perahu dengan optimistis memandang ke selatan dan berkata, di balik tanjung itu mulailah bagian selatan Poeloe-Laoet. Pukul empat mereka belum juga sampai di tanjung tersebut. Ketika pukul lima mereka melewati tanjung, mereka melihat pantai yang tidak memungkinkan bagi tempat mendarat. Karena pohon-pohon tinggi dengan akar di udara berdiri sampai jauh dalam air dan lumpur. Sudah pukul enam. Masih juga belum ada tempat pendaratan. Baru setelah gelap benar, mereka melihat di kejauhan suatu cahaya kecil. Apakah itu berarti ada orang di sana? ***

(BERSAMBUNG)



Sumber: Pikiran Rakyat, 3 April 1985



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saat-saat yang Tepat Merenung Makna Perjuangan

A pa yang dialami oleh Subegjo pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio Surabaya ( Suara Karya , 10/11), juga dialami oleh Moedjali (70 th, Kolonel Purn, yang kini sudah Haji), Oesman Bahrawi (76 th) dan Ali Bari (67 th). Mereka bertiga secara terpisah masing-masing mengungkapkan pengalamannya 49 tahun yang lalu kepada Suara Karya  awal pekan ini di Surabaya. Sebagaimana halnya Subegjo, ketiga pejuang yang kini sudah menikmati masa tuanya merasa bahwa 10 November selalu membangkitkan semangatnya untuk hidup lebih tangguh dan optimis. Orang-orang setua saya dan pernah merasakan kobaran api 10 November 1945 tak lagi memiliki ambisi lebih tinggi kecuali kelak ketika saya meninggalkan dunia ini, tidak membebani anak-cucu dengan atribut-atribut kontroversial dan berbau kemunafikan karena di dekat akhir hidup saya melakukan tindak korupsi, kolusi, aji mumpung, dan berbangga-bangga merasa diri pejuang. Demikian cetus salah seorang dari ketiga pelaku dan saksi 10 November 1945. Pert...

Akulturasi Budaya Islam-Hindu Jawa

Bersamaan tahun baru Islam 1 Muharam 1436 Hijriah, Sabtu (25/10), masyarakat Jawa merayakan tahun baru Jawa 1 Sura 1948 Jawa. Meskipun mengadopsi sejumlah ketentuan kalender Hijriah, kalender Jawa punya konsep dan aturan berbeda. Jadilah kalender Jawa sebagai sistem penanggalan khas memadukan budaya Islam, Hindu, dan Jawa. Oleh M ZAID WAHYUDI S ejumlah perayaan pun digelar menyambut tahun baru Islam dan Jawa. Namun, banyak orang Jawa tak mengenal kalendernya dan menganggap dua tahun baru itu sama. Penggunaan kalender Masehi untuk administrasi publik dan kalender Hijriah untuk ibadah membuat kalender Jawa kian ditinggalkan orang Jawa. "Walau ada pro dan kontra atau kritik, sebuah kalender harus dimanfaatkan. Jika tidak, hilang," kata ahli kalender pada Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharta, Minggu (26/10). Itulah yang dialami sejumlah kalender Nusantara: kalender Sunda, Batak, atau Bali. Supaya bertahan, sebuah kalender harus ditopang budaya masya...

Bandung Diduduki Tentara Nippon 10 Maret 1942

Oleh H. ROSIHAN ANWAR S AYA tengah membaca buku: Oorlogs-Reportages uit Nederland en Nederlands Indie - De Twede Wereldoorlog in ooggetuigen verslag , disusun oleh wartawan Addie Schulte, ketika kesomplok  dengan tulisan wartawan Belanda Jan Bouwer mengenai pendudukan Bandung oleh tentara dai Nippon 10 Maret 1942. Pukul enam malam hari tersebut pasukan pertama Jepang memasuki Kota Bandung. Panglima setempat Letjen Harada telah berbicara kepada para warga Bandung. Ia mengharapkan tiap orang akan mematuhi perintah tentara Dai Nippon. Kedatangan pasukan Jepang telah diumumkan melalui radio oleh juru bicara "Tentara ke-16". Bagian propagandanya telah mengambil alih studio "Nirom". Pagi itu orang-orang Jepang telah mengambil mobil Bouwer. Dia pergi sebentar ke kota buat mengurus beberapa hal, tapi depan Preanger Hotel dia ditahan oleh seorang serdadu Jepang. Seraya menempelkan secarik kertas berhuruf Kanji di kaca muka mobil, serdadu Jepang lain membuka pintu kiri mobil...

Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan

Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan berlebihan Belanda di masa lalu. JAKARTA, KOMPAS-- Raja Belanda Willem-Alexander di Jakarta, Selasa (10/3/2020), kembali menegaskan pengakuan eksplisit Pemerintah Belanda terhadap Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Selain itu, ia juga menyatakan penyesalan dan permintaan maaf atas kekerasan berlebihan yang dilakukan Belanda pada tahun-tahun setelah proklamasi. Setelah Proklamasi RI, terjadi dua kali agresi militer Belanda pada 1947 dan 1948, yang menewaskan banyak korban jiwa, termasuk warga sipil. Pemerintah Belanda secara politis dan moral baru mengakui Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 pada tahun 2005 melalui menteri luar negerinya saat itu, Bernard Bot. Sebelumnya, Belanda mengakui penyerahan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Permintaan maaf disampaikan Raja Willem-Alexander dalam pernyataa...

Islam Nusantara Teladan di Mata Dunia

SURABAYA, KOMPAS -- Praksis Islam di Indonesia yang disebut Islam Nusantara berpotensi menjadi teladan baru dari dunia Islam di mata dunia. Hal ini menimbang perkembangan sosial politik di sejumlah negara dan komunitas Islam dunia, termasuk di Timur Tengah, yang kini dilanda konflik sosial politik yang mengarah pada runtuhnya peradaban setempat. Meski ada berbagai pendapat, Islam Nusantara dipahami tetap merupakan Islam otentik sebagai ajaran Nabi Muhammad SAW sekaligus mampu mendamaikan pergaulan pemeluknya dan bahkan menyejahterakan lingkungannya, termasuk non-Muslim. Demikian pendapat sejumlah pakar dalam Seminar Internasional "NU dan Islam Nusantara" yang digelar dalam rangkaian pelaksanaan Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama di kompleks kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) di Surabaya, Rabu (1/7). Hadir dalam seminar yang digelar kerja sama harian Kompas  dengan Panitia Muktamar NU Ke-33 ini antara lain Rektor UINSA Abdul A'la, Dekan Fakultas Adab UINSA yan...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Perjalanan Sulit Menyelamatkan YBJ 6 Diulang Kembali

RUTE gerilya perjuangan pemancar YBJ 6 sepanjang lk 95 km di pedalaman Sumatera Barat tahun 1948 lalu yang ditempuh kembali oleh peserta Napak Tilas perjuangan pemancar YBJ 6 tersebut selama 5 hari sejak tanggal 19 s/d 23 Desember lalu, dirasakan oleh para peserta cukup berat. Namun demikian, jalan kaki masuk kampung keluar kampung, mendaki bukit menurun lurah dan memasuki rimba belantara itu, berkat tekad yang membara dan semangat tinggi, rute itu telah mereka tempuh dan selesaikan dengan baik tanpa kurang suatu apa. Pada tanggal 19 Desember 1984 peserta yang berjumlah 79 orang itu dilepas keberangkatannya menuju Alang Lawas Halaban oleh Menteri Parpostel Achmad Tahir, Gubernur Sumatera Barat, Ir. H. Azwar Anas Dt. Rajo Suleman serta para Kepala Daerah Tk. II se-Sumatera Barat dan undangan lainnya dalam suatu acara di lapangan Korem Wirabraja Bukittinggi. Hari Minggu tanggal 23 Desember, para peserta dalam jumlah yang lengkap disambut kepulangannya oleh Dirpegtel H. Eem Rachmat Bc. TT...