Langsung ke konten utama

Hari-hari di Bawah Tanah Menjelang Proklamasi (3/3)

Sebagai jawaban, Supeno bertanya, apa yang akan terjadi bila rencana gagal. Subardjo menjawab, "Bila segalanya gagal, saya bertanggung jawab penuh. Bung bahkan boleh menembak saya bila itu sampai terjadi." Baru setelah Subardjo mengatakan hal itu, ia diperkenankan bertemu dengan Soekarno dan Hatta. Subardjo bergegas mengajak mereka berdua ke mobil, lalu mereka tancap ke Jakarta. 

Dengan tidak sabar saya menunggu kedatangan Subardjo di tempat kediaman Maeda. Hari sudah pukul 11.00 malam. Dan sangat gelap. Seorang perwira Jepang sedang menebasi pohon wijen dengan samurainya, melampiaskan kekecewaan akibat menyerahnya Jepang. Jepang telah menganjurkan menanam pohon wijen untuk diambil minyaknya, sehingga di Jawa tanaman ini ditemukan di mana-mana. Seorang Kempei berdiri di bawah sebatang pohon menjaga tempat kediaman ini--mungkin menyangka akan terjadi huru-hara. Saya mendengar kemudan bahwa Nakatami Yoshio, penerjemah Angkatan Darat, juga menjaga rumah ini dari samping gedung.

Dalam suasana itulah Subardjo dan rombongan tiba. Dalam perjalanan, Sukarni telah mengganti seragam Giyugunnya dengan pakaian biasa. Mula-mula, saya persilakan Soekarno dan Hatta masuk dan duduk. Subardjo mengajak saya ke luar kamar; katanya, "Sebentar, Tuan Nishijima." Ia memberi tahu saya secara singkat apa yang terjadi. Baru setelah saya mendengar laporannya, saya menyadari bahwa ia telah mempertaruhkan nyawanya demi deklarasi  kemerdekaan. Dan dalam ketegangan yang terus meningkat ini, ada kemungkinan besar ia terbunuh bila rencana tidak dapat terwujud. Saya menyadari bahwa situasi sudah tiba pada titik kritis.

Sementara ini, baik Yoshizumi maupun para anggota Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia sudah tiba pula. Para anggota kelompok pemuda berkumpul di ruang tamu. Maeda turun dari lantai atas, dan memberi peringatan panjang lebar, bahwa kemerdekaan tidak boleh dicapai melalui pertumpahan darah. Tentu saja, bangsa Indonesia yang penuh semangat ini tidak mau mendengarkan saran yang begitu alim. Kemudian kami semua mulai berdebat dengan sengit.

Tiba-tiba, di tengah perdebatan, Soekarno bertanya kepada Sukarni, "Benarkah semuanya sudah beres?" Sukarni berdiri dengan terkejut, dan menjawab, "Ini akan berbahaya." Dia menjelaskan, dia tahu ada rencana pemberontakan kaum muda, dan saatnya sudah tidak lama lagi. Rencana itu sudah disetujui pada pagi tanggal 16--suatu pemberontakan yang dilancarkan terutama oleh bekas anggota Giyugun, Heiho, dan para pelajar, yang akan dilaksanakan pukul 10.00 pagi, tanggal 17. Sajuti Melik dan saya kemudian berdiri, mengikuti Sukarni berdiri.

Bertiga, kami singgah dulu di rumah Hatta, tempat Sukarni sekali lagi mengganti pakaiannya dengan seragam militer bersenjata pistol dan samurai. Mobil akhirnya berhenti di depan asrama mahasiswa kedokteran di Prapatan, setelah melewati Menteng. Asrama ini markas besar kelompok pemuda. Sukarni dan Melik masuk berdua, saya menunggu di mobil. 

Saya dapat melihat serdadu-serdadu bekas Giyugun di atas truk, semuanya bersenjata, dan kelihatan tegang. Sukarni dan Melik tak lama kemudian kembali. Mungkin saja mereka sudah mengumumkan bahwa pemberontakan diputuskan ditunda semalam.

Mobil kami kemudian bergerak ke arah Koningsplein, dan akhirnya tiba di stasiun pemancar yang dijaga ketat oleh polisi militer. Karena para pemuda telah menyatakan keinginan mereka untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia, saya dapat membayangkan bahwa rencana pemberontakan mereka termasuk merebut stasiun pemancar. Maeda pernah sekali meminta Angkatan Darat menjaga stasiun ini; jadi tidak mengherankan kalau Kempei, paling tidak, mengetahui sebagian rencana itu.

Rupanya, seperti ada saling pengertian antara orang Indonesia di dalam stasiun dan Sukarni: mereka akan memulai kegiatan begitu mendapat aba-aba Sukarni dari luar. Tiba-tiba Sukarni berteriak, "Rencana dibatalkan malam ini ...!"

Mendengar suara itu, Kempei bergegas ke arah kami berdua: Sukarni, yang telah beberapa kali ditangkap Kempetai, dan saya sendiri, yang pernah sekali di bawah pengawasan. Kami langsung ditahan. Saya menuntut agar seorang dari mereka menghubungi Maaeda, menjelaskan bahwa kami sedang menjalankan tugas penting. Kempei segera menelepon Maeda, yang langsung memerintahkan, "Lepaskan mereka secepatnya. Ini keadaan darurat." Kami dilepas.

Indonesia ni Okeru Nihon Gunsei no Kenkyu[12] menjelaskan: Maeda telah meminta Gunseikan Yamamoto dari Angkatan Darat datang ke rumahnya ketika kami keluar, tetapi permintaan itu ditolak. Maeda meminta Yamamoto karena menginginkan seseorang dapat mewakili Angkatan Darat: dia tidak mau orang punya kesan bahwa Angkatan Laut telah menangani soal kemerdekaan secara sepihak, dan ingin penguasa Angkatan Darat bergabung dalam penyelidikan masalah ini. Lagi pula, dia mengira, akan memudahkan penyelesaian persoalan bila para pejabat Angkatan Darat dan Angkatan Laut berbicara langsung dengan para pemimpin Indonesia.

Karena permintaan ditolak, Maeda pergi ke Kepala Urusan Umum Gunseikanbu, Mayor Jenderal Nishimura. Soekarno, Hatta, Maeda, Yoshizumi, dan saya berangkat bersama ke rumah Nishimura. Waktu sudah lewat pukul 01.00 pagi--tanggal 17. Nakatami sudah dipanggil ke rumah sebagai penerjemah. Meski Nishimura tidak menolak, sikapnya dingin. Soekarno dan Hatta menuntut Nishimura mengizinkan kemerdekaan dengan segera, dan meminta diadakan pertemuan dengan Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia sehari lebih cepat dari yang telah dijadwalkan. Maeda menyokong. Tetapi Nishimura tidak mau mengabulkan, dan berusaha meneruskan kebijaksanaan mempertahankan status quo.

Yoshizumi, Saito Shizuo (sekarang duta besar untuk Perserikatan Bangsa-bangsa), dan saya berada di ruang tamu. Saya menjadi gusar menghadapi jalan buntu ini. Saito melontarkan tuduhan kepada saya, "Apa yang kamu lakukan jelas-jelas mencerminkan ketidaksetiaan kepada Kaisar. Kaisar sudah menyatakan bahwa segalanya telah berakhir. Bila kamu melakukan tindakan (seperti mendukung kemerdekaan Indonesia), dampaknya akan mengenai status Kaisar."

Walaupun ingatan saya agak kabur, saya kira Saito bahkan menggunakan kata kokuzoku (pengkhianat) kepada Maeda. Pokoknya, saya sangat marah pada yang dikatakannya. Saya berkata kepada diri sendiri, "Tidak masuk akal mengatakan hal seperti itu. Bukankah Perang Asia Timur Raya bertujuan membebaskan Asia? Bukankah tujuan utama perang adalah membawa Jepang lebih dekat ke Asia? Kami telah berjuang sampai titik darah yang penghabisan! Kami harus membawa soal ini sampai menghasilkan penyelesaian yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa pula kita sampai-sampai mempropagandakan slogan "Hidup bersama (Asia) dan mati bersama (Asia)"?

Tanpa saya sadari, saya masukkan tangan ke kantung. Karena saat itu keadaan kacau, kami selalu membawa senjata. Saya tatap dia dengan tajam, tangan saja menggenggam pistol di dalam kantung. Daisan no Shinso menunjukkan bagaimana perasaan saya atas sikap keras kepala Nishimura itu:

Kami telah mengambil keputusan. Tidak ada cara lain yang tertinggal kecuali melaksanakannya menurut kebijaksanaan yang kami anggap benar. Satu-satunya kehati-hatian yang harus kita tempuh ialah agar langkah kami tidak menampakkan adanya hubungan dengan Jepang dalam bentuk apa pun, sehingga tidak memengaruhi Jepang (dalam hal ini orang-orang Jepang yang tidak bersalah dan tinggal di Jawa), dan mereka tidak akan mendapat tindakan balasan dari Angkatan Darat.

Sudah lewat pukul 02.00 pagi ketika rapat dibuka kembali di kediaman Maeda. Soekarno, Hatta, Subardjo, Maeda, Yoshizumi, dan saya duduk mengelilingi meja bundar di kamar makan. Para anggota kelompok pemuda dan Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia menempati ruang resepsi dan ruang tunggu.

Sesaat sebelum rapat dimulai, Maeda berkata, "Kita harus meminta kehadiran seseorang dari Angkatan Darat." Dia memanggil Saito melalui telepon, tetapi Saito menolak datang dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya. Berikutnya ia menelepon Miyoshi, dan berkata, "Mohon datang kemari, karena banyak orang telah berkumpul di sini."

Miyoshi adalah orang yang mudah bergaul dan seorang shiseikan (pejabat sipil) dengan reputasi baik di kalangan orang Indonesia. Dia dengan senang hati setuju datang--mungkin dengan agak mabuk--dan tiba di tempat beberapa saat kemudian. Kelihatannya dia merasa agak canggung berada di dalam ruangan yang diliputi perasaan berkobar yang begitu kuat.

"Silakan duduk," kata saya. Karena Angkatan Darat merupakan penguasa pertama di Jawa, dan Angkatan Laut hanya penguasa kedua, kami memerlukan seseorang dari Angkatan Darat untuk menghindari kecaman bahwa Angkatan Laut telah bertindak sepihak. Miyoshi bertindak sebagai saksi Angkatan Darat.

Di rumah Maeda, para pemuda melancarkan tekanan kepada rapat dari kamar sebelah. Mereka tidak sudi membuat rancangan deklarasi di meja yang sama yang digunakan orang Jepang. Lagi pula, mereka menentang setiap saran yang berbau Jepang. Umpamanya, ketika Soekarno dan Hatta mengusulkan untuk menandatangani dokumen dan membacakannya kepada para anggota Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17, Sukarni dan Saleh dengan tegas menentang. Mereka berkeras: tidak ada gunanya memakai Komite yang jelas-jelas mempunyai hubungan erat dengan Jepang; partisipasi mereka dalam deklarasi kemerdekaan ini pun akan terkutuk: mereka tidak pernah berbuat apa-apa untuk kemerdekaan.

Dalam peristiwa lain, Soekarno menganjurkan dilakukannya konsultasi dengan para pejabat tinggi Jepang sebelum membuat deklarasi. Para pemuda dengan tajam mengecam, dengan alasan bahwa kemerdekaan semata-mata kepentingan murni rakyat Indonesia dan tidak ada kaitannya dengan Jepang. Akhirnya, disepakati: kemerdekaan akan dideklarasikan lepas dari kesetujuan Jepang. Rancangan deklarasi disusun oleh Soekarno--setelah pertengkaran sengit antara kelompok tua (dengan Soekarno sebagai pusat perhatian), termasuk Hatta, dan para pemimpin kelompok muda. Rancangan pertama berbunyi:

Rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan.

Badan-badan organisasi yang ada harus disita oleh rakyat dari orang asing yang kini menguasainya.

Dalam teks itu, masalah terbesar adalah pemakaian kata sita. Bila Indonesia harus menyita kekuasaan dari Angkatan Bersenjata Jepang dengan kekerasan, ini mungkin akan menjengkelkan orang Jepang, dan menjurus ke suatu bentrokan tragis. Sekalipun telah menyerah, Angkatan Bersenjata masih tetap utuh. Saya akan mengutip lagi dari Daisan no Shinso: 

Kami tidak perlu mengerti apa yang dipikirkan para pemuda maupun para pemimpin. Tetapi, seperti diakui kelompok yang belakangan itu, Angkatan Bersenjata Jepang yang ada sekarang, paling tidak sesaat sebelum menyerah, mengusulkan kemerdekaan dan menyetujuinya.

Kelompok Soekarno ingin menghindari situasi sewaktu bangsa Indonesia, dengan mengeluarkan deklarasi kemerdekaan yang akan langsung menimbulkan reaksi Jepang, akan memaksa Angkatan Bersenjata Jepang berperan sebagai agen ampuh Pasukan Sekutu.

Seperti telah dikatakan dengan tepat oleh Hatta, revolusi cuma dapat dicapai dengan kekerasan, tetapi kekuatan bangsa Indonesia masih belum memadai.

Lagi pula, pihak musuh--musuh sesungguhnya yang harus dihadapi Indonesia--bukanlah Angkatan Bersenjata Jepang yang dicabut wewenangnya untuk menggunakan kekuasaan, tetapi Belanda, yang bersiap-siap menindas bangsa Indonesia lagi. Adalah suatu keberanian, tapi tidak bijaksana, bagi bangsa Indonesia untuk melawan Angkatan Bersenjata Jepang, tanpa mempunyai kekuatan yang cukup.

Diskusi berlangsung dalam waktu yang lama. Akhirnya, istilah sita dalam teks diganti dengan pemindahan. Kemudian, dalam kalimat "pemindahan kekuasaan dan selanjutnya harus diusahakan dengan cara cermat dan secepat-cepatnya"[13], kata diusahakan diganti dengan dilaksanakan. Teks ini ditulis oleh Soekarno sendiri di kertas yang dibawa dari tempat tinggal Maeda--dan masih ada. Dengan jelas orang dapat melihat koreksi di dokumen itu. Jadi, rancangan deklarasi kemerdekaan yang kemudian terkenal itu telah siap. Bunyinya:

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Miyoshi diminta menyampaikan kepada Angkatan Darat bahwa istilah kekuasaan (pemerintahan)[14] dalam deklarasi berarti kekuasaan administratif. Pemindahan kekuasaan administratif sudah dilaksanakan sebagai kebijaksanaan dasar, dan karenanya tidak akan membangkitkan penentangan dari Angkatan Darat.

Walau hanya memerlukan waktu tiga sampai empat jam untuk menyelesaikan teks itu, saya rasa--selama hidup--belum pernah saya mengonsentrasikan kekuatan mental seperti itu. Semua yang hadir di sana merasakan hal yang sama, dan sangat letih karena ketegangan yang begitu memuncak--apakah mereka menyadarinya atau tidak. Kelelahan itulah, mungkin, yang memunculkan kompromi antara kedua belah pihak. Semua peserta melakukan apa yang dapat mereka lakukan, dan tentunya kaum muda juga menyadarinya. Rancangan terakhir diketik oleh Sajuti Melik.

Akhirnya, tiba saatnya bagi Soekarno untuk membacakan teks itu kepada anggota Komite yang telah menunggu di kamar sebelah. Saya mendengar suara Rajiman[15] bertanya, "Apakah ini disetujui Gunseikan?"

Saya sangat tersinggung, "Alangkah bodohnya menanyakan hal semacam itu pada tahap seperti ini!"

Saya juga dapat mendengar suara-suara yang bertanya, "Siapa yang akan menandatangani?" dan "Siapa yang akan membacanya?"

Menurut Subardjo, lagi-lagi Sukarni menentang isi rancangan itu, dengan alasan rancangan itu tidak berbau revolusioner dan terlalu lemah penyajian isinya. Karena kritik Sukarni didukung kelompok kaum muda, perdebatan pecah lagi. Tetapi anggota Komite menentang oposisi itu, dan memutuskan menyetujui rancangan tersebut.

Sesungguhnya, rancangan deklarasi ini luar biasa. Sering dikatakan bahwa Soekarno dan Hatta "mewakili rakyat", tetapi sebenarnya tidak ada tanda-tanda kedua orang itu dalam dokumen[16]. Rancangan kemerdekaan seperti ini mungkin langka, di mana pun di dunia ini. Baru kemudian kami perhatikan bahwa dokumen itu bertanggal 17-8-05, artinya 17 Agustus 2605. Tahun 2605 adalah tahun penanggalan Jepang. Kenyataan bahwa tidak seorang pun, termasuk saya sendiri, menyadari hal ini, mencerminkan suasana pertemuan itu. 

Akhirnya, saya ingin mengajukan pertanyaan, adakah orang Jepang yang hadir. Benar, ada beberapa orang Jepang, termasuk saya sendiri, di ruang tempat draft ini ditulis; bahkan kami pun mengeluarkan pendapat. Tetapi kami tidak hadir pada pembacaan deklarasi yang sebenarnya, yang hanya ditujukan kepada anggota Komite. Hatta mencatat sangkalan ketidakikutsertaan kami[17]. Bagaimanapun, Hatta dan lain-lainnya yang mendukung pendapat itu terkecoh mengenai tempat rancangan itu dibuat dengan tempat kemerdekaan diproklamasikan. 

Demikianlah satu babak dalam drama kemerdekaan berakhir. Ini benar-benar suatu tugas yang genting. Saya sendiri tidak bisa merasakan suasana santai setelah menyelesaikan tugas yang berat semacam ini, dan ini tentunya wajar. Tetapi saya melihat, kelompok kaum muda, para pemimpin kelompok, dan orang-orang Jepang, tampak lega dari segala ketegangan setelah mencapai permufakatan bersama melalui kompromi. Saya tidak dapat memikirkan masa depan--mungkin karena terlalu letih akibat ketegangan yang berlarut-larut. Semua yang hadir terbenam dalam pikiran masing-masing.



[12] Studi ini dilakukan oleh sekelompok orang yang dipimpin Nishijima dan Kishi Koicho, dan diterbitkan untuk Institut Riset Ilmu Sosial Universitas Waseda oleh Kinokuniya Shoten, 1959. Terjemahan bahasa Inggris disiapkan oleh Joint Publications Research Service of the U. S. Department of Commerce, 1963. Peristiwa itu dapat ditemukan pada halaman 473-8 versi bahasa Jepang, dan halaman 502 versi Inggris.

[13] Nishijima telah meringkaskan banyak hal di sini. Ungkapan ini telah diganti atas saran Hatta, untuk kalimat kedua dalam rancangan yang diusulkan kaum muda.

[14] Kata yang dipakai dalam proklamasi adalah kekuasaan, bukan pemerintahan.

[15] Dr. Rajiman Wediodiningrat (1879-1952) sudah menjadi pendukung Budi Utomo sejak berdirinya di tahun 1908. Ia salah seorang yang memperoleh gelar kedokteran Belanda (Amsterdam, 1910), dan sesudah itu menjadi dokter resmi Keraton Soerakarta. Sebagai sesepuh, ia diangkat menjadi Ketua Badan Peneliti Kemerdekaan Indonesia (BPKI), Juni 1945, dan pernah ke Saigon dengan Soekarno dan Hatta di bulan Agustus untuk menerima janji kemerdekaan yang lebih awal.

[16] Coretan rancangan yang asli, direproduksikn dalam Dokumenta Historica, Osman Raliby (Jakarta, 1953), halaman 4, diakhiri dengan: Djakarta 17-08-"05", Wakil2 bangsa Indonesia. Tetapi teks yang diketik Sajuti Melik ditandatangani Soekarno dan Hatta setelah disetujui melalui debat yang sengit. Tanggalnya (tahunnya; ed.) juga diubah menjadi 1945. Deklarasi dalam bentuk ketikan inilah yang dibacakan Soekarno. Lihat Nugroho Notosusanto, Naskah Proklamasi jang Otentik dan Rumusan Pantjasila jang Otentik (Jakarta, Pusat Sedjarah ABRI, 1971).

[17] Kami tidak bisa mendapat keterangan pasti tentang ini. Dalam bukunya Sekitar Proklamasi (Jakarta, 1970, hlm. 58), Hatta menyatakan bahwa Maeda mengundurkan diri ke lantai atas ketika kelima orang anggota Komite Indonesia merancang Proklamasi, dan bahwa Miyoshi tetap berada di situ tetapi tidak mengatakan apa-apa.



Sumber: Tempo, Agustus 1987



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjaga Persatuan Lewat Bahasa

Sekitar 90 tahun lalu, Kongres Pemuda II menyepakati bahasa Indonesia jadi bahasa persatuan. Kesepakatan itu kini terasa masih hangat di tengah munculnya gejala pemakaian bahasa atau ungkapan tertentu untuk menunjukkan perbedaan. B angunan dengan enam pilar di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, itu masih kokoh berdiri. Bangunan berusia lebih dari dua abad yang kini menjadi kantor PT Kimia Farma itu merupakan bagian dari saksi perjuangan para pemuda di awal abad ke-20 untuk mewujudkan kemerdekaan di wilayah yang saat itu disebut Hindia Belanda. Di gedung yang dulu bernama De Ster in het Oosten atau Bintang Timur itu, Mohammad Yamin, dalam Kongres Kerapatan Pemuda atau Kongres Pemuda I, 30 April 1926, menyatakan perlunya memakai bahasa yang sama untuk berkomunikasi di wilayah Nusantara yang beragam. Ia lalu mengusulkan bahasa yang dipakai itu adalah bahasa Melayu. TD Asmadi di harian Kompas  21 Juli 2006 menulis, beberapa bulan sebelum kongres itu digelar, wartawan sekaligus tim perumu...

Peran Sarekat Islam Tak Bisa Diabaikan

Kontroversi yang mempertanyakan tonggak Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 seharusnya tidak perlu dilakukan secara berlarut-larut hingga menghabiskan banyak energi. Dialog yang menggugat persoalan itu sebaiknya dilakukan sebagai upaya untuk melangkah maju ke depan demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Hal itu dikatakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dalam Dialog Peradaban Centre for Information and Development Studies di Jakarta, Kamis (22/5). "Budi Utomo memang organisasi modern yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Namun, peranan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam tidak dapat diabaikan," katanya. Budi Utomo dan Sarekat Islam sama-sama memiliki andil besar dalam menciptakan Indonesia merdeka. Sebagian kalangan menganggap tonggak Kebangkitan Nasional ada pada 16 Oktober 1905 saat terbentuknya Sarekat Dagang Islam, bukan pada hari kelahiran Budi Utomo, 20 Mei 1908. (MZW) Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

Resensi Buku: Prahara Parijs van Java

Judul : Westerling, Kudeta yang Gagal Pengarang : Petrik Matanasi Penerbit : Media Presindo, Jogjakarta Cetakan : Juli 2007 Tebal : 126 halaman SEHARI sebelum kudeta, pada pagi 22 Januari 1950, Westerling bercakap-cakap sambil minum-minum di Hotel Preanger, Bandung, dengan kenalannya. Malam hari, ia bersama istrinya makan malam di hotel itu juga. Hari itu, Parijs van Java tenang, tak seorang pun menduga bakal terjadi prahara. P ADA pukul 21.00, Westerling mengendarai mobil menuju Padalarang. Di sana, ia menunggu kiriman senjata yang akan dibagikan kepada anak buahnya. Sesuai rencana, pagi hari 23 Januari 1950, ia akan menyerang dua kota penting di Jawa, Bandung dan Jakarta. Strategi ini disesuaikan dengan geopolitik Bandung. Bandung adalah penyangga Jakarta, sekaligus Ibu Kota Negara Pasundan yang dipimpin Kartalegawa, sedangkan Jakarta adalah jantung kekuasaan Indonesia. Subuh 23 Januari 1950, sebanyak 800 Angkatan Perang Ratu Adil (APRA)--300 orang di antaranya merupakan tentar...

Sang Cipta Rasa, Mesjid dengan Sejarah yang Panjang

* Tempat Syekh Siti Jenar Dihukum Mati Jika kita mendengar kata Cirebon, mungkin ingatan kita tertuju kepada kota udang, sebagaimana julukan kota ini. Namun dalam kenyataannya lebih dari itu. Cirebon tidak hanya terkenal sebagai kota penghasil lauk dari udang, tetapi juga terkenal sebagai kota yang memiliki berbagai peninggalan purbakala seperti mesjid, kraton, dan kompleks makam. Sebagai bekas kerajaan yang bercorak Islam, peranan Cirebon dalam sejarah kuno Indonesia, khususnya sejarah Jawa Barat, tidak dapat dikatakan kecil. Hal ini antara lain ditandai dengan sejumlah bangunan purbakala seperti di atas dan hasil-hasil kesusastraan kuno. Jaman keemasan dan kemakmuran Cirebon, rupanya dialami pada masa pemerintahan Syarif Hidayatillah (Sunan Gunung Jati) pada tahun 1479-1568. Pada masa ini Syarif Hidayatillah menjabat sebagai susuhunan agama dan kepala negara. Salah satu bangunan purbakala yang berasal dari masanya adalah Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Mesjid Agung: Menurut Sejarah dan...

Langgar Bubrah, Sebuah Akulturasi Hindu-Islam

Furqon Ulya Himawan   Tak hanya Menara Kudus. Ada bukti lain akulturasi budaya Hindu dan Islam di Kudus, dan lebih dahulu berdiri. L ANGGAR Bubrah namanya. Langgar adalah sebuah tempat ibadah umat Islam seperti masjid, tetapi bangunannya lebih kecil sehingga orang Jawa menyebutnya langgar. Mirip dengan Menara Kudus, bangunannya terdiri dari tumpukan batu bata merah yang tertata. Namun, karena tidak utuh atau hancur, sehingga dinamakan bubrah atau hancur. Langgar tersebut terletak di desa dan di tengah-tengah rumah warga. Tepatnya di Dusun Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 8,74x8,40 meter itu memiliki panjang 6,30 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 2,75 meter. Adapun luas bangunannya sekitar 37,80 m2. Pada abad ke-15 Masehi, tepatnya 1546, sebelum Menara Kudus berdiri, para ulama di Kudus terlebih dahulu membangun sebuah bangunan yang difungsikan sebagai masjid. Menurut Zaimul Azzah, arkeolog Islam dari Ba...

Akhirnya P. Jawa Jatuh ke Tangan Jepang

Oleh HARYADI SUADI DALAM peperangan di Laut Jawa yang meletus pada tanggal 27 Februari 1942, pihak angkatan laut Nippon telah berhasil menenggelamkan sebagian besar kapal milik Sekutu. Hanya dalam waktu sehari semalam, kapal Exeter, Kortenaer, Encounteur , dan Java  telah mereka kirim ke dasar laut Jawa. Dan setelah De Ruyter  bersama Laksamana Karel Doorman ditenggelamkan pada pukul 23.15 waktu Jawa pada tanggal tersebut, yang tersisa cuma Houston dan Perth . Kedua kapal tersebut memang merupakan kapal terakhir yang dimiliki Sekutu pada saat itu. Sebab di seluruh kawasan Lautan Pasifik, dari mulai Pulau Kuril sampai Semenanjung Malaya, dari ujung Kepulauan Midway hingga pantai Cina, tak satu pun kapal Sekutu yang mampu mengambang di atas laut. Seperti telah dikisahkan dalam tulisan yang lalu, bahwa kedua kapal ini telah melarikan diri menuju Surabaya. Namun di tengah jalan kedua komandannya merasa bingung, ke mana mereka harus istirahat untuk memperbaiki kerusakan dan ...

Semangat Pembauran "Jong Kos"

Hakikat suatu bangsa ada dalam keinginan untuk hidup bersama. Bagi bangsa Indonesia, benih keinginan untuk bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu ikut disemai lewat hidup bersama para penggagas Sumpah Pemuda yang menghuni rumah pemondokan yang kini beralamat di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. S enda gurau terdengar dari rumah indekos di Jalan Kramat 106, Weltevreden, Batavia, pada suatu hari menjelang tahun 1928. Mahasiswa penghuni pemondokan milik Sie Kong Liong itu tak sedang membicarakan revolusi di belahan dunia lain atau pemikiran Mahatma Gandhi dan John Stuart Mill. Mereka melepas penat, berseloroh tentang masakan khas daerah masing-masing. "Sementara ini, enaknya gini aje dulu , Sup!" kata Adnan Kapau Gani, yang lebih sering disingkat AK Gani, pemuda asal Sumatera, kepada Jusupadi Danuhadiningrat, pemuda asli Yogyakarta.  Dari semua "jong kos" alias pemuda penghuni kos Kramat Raya 106 atau Indonesisch Clubgebouw (IC), yang masing-masing di kemud...