Langsung ke konten utama

Hari-hari di Bawah Tanah Menjelang Proklamasi (2/3)

Hari yang terpanjang: malam proklamasi kemerdekaan

SESUDAH Jerman menyerah kepada Sekutu, Mei 1945, kecurigaan bangsa Indonesia terhadap masa depannya menjadi makin meningkat. Lagi pula, di bulan Agustus bermacam-macam laporan sampai ke Indonesia--termasuk invasi Rusia ke Manchuria serta dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Oleh laporan-laporan yang tak menguntungkan itu, orang Jepang di Indonesia makin merasa terisolasi. Mereka berpikir: bagaimana Jepang dapat meneruskan perang melawan seluruh dunia, kalau sekutunya sudah menyerah.

Waktu kami menerima berita penyerbuan Rusia ke Manchuria, 8 Agustus, empat orang Indonesia datang ke rumah saya di Jalan Kebon Sirih 80, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka adalah Subardjo, Buntaran, Iwa Kusumasumantri, dan Soerachman[6]. Rumah kediaman saya memang selalu terbuka untuk siapa pun, dan tamu sering datang secara mendadak.

Keempat pemimpin itu bertemu saya waktu saya akan masuk ruang tamu, dan menanyakan secara sungguh-sungguh "langkah-langkah apa yang akan diambil dalam perang ini". Saya paham apa yang akan mereka katakan. Jepang telah menempatkan diri dalam posisi siap mengakui kemerdekaan Indonesia. Apa jadinya dengan kemerdekaan itu, bila Jepang menyerah (kepada Sekutu; ed.)?

Sewaktu Jerman menyerang Negeri Belanda, Ratu Wilhelmina II menyiarkan pesan: sesudah Perang, "pemerintahan di Hindia Belanda akan diubah." Tapi dia sama sekali tidak menyebut-nyebut pemberian kemerdekaan. Belanda tidak punya rencana membiarkan Indonesia merdeka; malah mulai menekan tuntutan Indonesia atas kemerdekaan.

Nasib apakah yang akan menanti para pemimpin Indonesia ini, yang telah bekerja sama dengan Jepang semata-mata dengan harapan mendapat kemerdekaan? Jenderal Petain dari Prancis, pahlawan Perang Dunia I, ditangkap pasukan sekutu karena bekerja sama dengan Jerman. Tidak terlintas bahwa para pemimpin Indonesia ini akan mengalami nasib sama. 

Saya ingat bagaimana perasaan saya waktu kembali ke Jawa dari suatu kamp di Australia. Guadalcanal sudah jatuh ke Amerika. Pada tingkat itu, saya sangat sangsi kepada Jepang, dan ini makin bertambah waktu Karasawa[7] mengutarakan pandangannya yang pesimistis tentang perang--sewaktu saya mampir di Jepang sebentar. Dalam situasi demikian, sangatlah beralasan bagi saya untuk menimbang: lebih amankah berada di Jepang atau di Indonesia, bila Jepang kalah.

Nyatanya, saya kembali ke Jawa tanpa kebimbangan sedikit pun--walau saya mungkin tidak akan lagi pulang ke Jepang dalam keadaan hidup. Keinginan saya untuk melihat dengan mata kepala sendiri perkembangan kemerdekaan Indonesia kuat sekali. Saya memperbarui tekad saya untuk bekerja sama sebanyak mungkin dengan bangsa Indonesia guna memperoleh kemerdekaan mereka itu.

Cukup banyak orang Jepang yang benar-benar terlibat di sini, dan ikut mengharapkan kemerdekaan Indonesia. Namun, kami hanyalah orang luar. Dan kemerdekaan sejati tidak akan dicapai kecuali kalau orang-orang Indonesia yang diharapkan rakyat mengusahakannya sendiri. Untuk mencapai ini, rakyat harus mempersenjatai diri dan siap berkorban. Inilah teori saya, dan ini saya tekankan berulang kali kepada keempat orang Indonesia malam itu. "Apa pun yang akan menimpa Tuan-tuan, misalnya penyerahan Jepang, kemerdekaan harus Tuan-tuan capai sendiri. Jangan sampai hanya secara pasif bereaksi atas keadaan di luar."

Sudah lama saya mempunyai pandangan tentang perang: mereka yang gugur dalam perang akan terimbangi pengorbanannya bila Indonesia berhasil memperoleh kemerdekaan. Untuk alasan itulah saya semakin ingin melihat kemerdekaan Indonesia. Namun, perasaan saya tidak dapat diingkari, seakan-akan ada kepasifan di antara orang-orang Indonesia sendiri.

Saya sering mendengar keluhan seperti ini, "Walaupun kami minta bantuan, orang Jepang toh tidak akan memberikannya." Tentu saja, ada hal-hal yang hanya dapat dilakukan orang Jepang, tetapi pasti juga ada yang dapat dilakukan orang Indonesia. Setiap saya mendengar keluhan demikian, saya sesali sifat pasif mereka itu.

Saya berkesempatan bicara dengan Trimurti[8], seorang aktivis nasionalis dan istri Sayuti Melik, yang pernah menjadi menteri setelah Perang. Pada kesempatan itu, saya katakan kepadanya, "Pintu tidak akan dibuka bila Nyonya berhenti mengetuknya hanya karena takut melukai tangan Nyonya. Selama Nyonya terlibat dalam gerakan nasionalis kemerdekaan, Nyonya harus mempunyai kemauan keras untuk membuka pintu, walaupun sampai melukai tangan Nyonya, sehingga tulang-tulang Nyonya tampak dan Nyonya kesakitan. Dengan kata lain, Nyonya harus siap mengorbankan diri demi kebebasan dan kemerdekaan."

Saya punya hubungan dengan orang-orang Indonesia yang mempunyai pandangan sama dengan yang saya terangkan di atas. Keempat orang Indonesia tersebut mendengarkan dengan saksama, dan pulang ke rumah dengan mengangguk-angguk. Tiga hari, tanggal 15 sampai dengan 17 Agustus 1945, saya rasakan seperti panjang sekali. Tiga hari itu merupakan masa yang tidak dapat saya lupakan dalam hidup saya.

Pada tanggal 15 tersiar desas-desus bahwa Jepang menyerah--dan itu mengakibatkan gejolak besar di antara pemimpin Jepang dan Indonesia. Bangsa Jepang gelisah karena beberapa alasan psikologis; sebagian enggan mengakui bahwa Jepang menyerah, sebagian yang lain percaya--dan takut kepada situasi suram yang bisa timbul. Bagaimana para pemimpin Indonesia menanggapi desas-desus menyerahnya Jepang itu? Saya kutipkan buku Subardjo, Indonesian Independence and Revolution:

Pada hari yang tak terlupakan itu, 15 Agustus, tersiar desas-desus di Jakarta bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Tetapi kami tidak bisa mendapat informasi resmi apa pun dari para penguasa Jepang yang dapat dipercaya. Soekarno dan Hatta mencoba mendapatkan informasi yang pasti dari pemerintah militer, tetapi tidak dapat, karena Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer) tidak ada di kantornya.

Soekarno dan Hatta mencoba mengetahui penyerahan Jepang langsung dari Gunseikan, Mayjen Yamamoto Moichiro. Tapi mereka gagal mendapatkan izin menemui Yamamoto--dengan alasan ia sedang menghadiri suatu pertemuan. Saya tidak tahu apakah Yamamoto benar-benar di kantornya atau sedang menghadiri pertemuan di tempat lain.

Karena ditolak penguasa tentara, mereka selanjutnya mencoba mendapat keterangan dari Angkatan Laut. Karenanya, mereka menemui Subardjo di kantor cabang Departemen Riset, dan itu rupanya menghasilkan suatu pertemuan di antara Soekarno, Hatta, Subardjo, dan Maeda. Pertemuan ini satu faktor yang menghubungkan proklamasi Indonesia dengan Angkatan Laut Jepang, dan karena itu harus mendapat tempat terhormat dalam sejarah hubungan Jepang-Indonesia.

Pada 15 Agustus petang (mungkin pukul 4 atau 5 sore), Soekarno, Hatta, dan Subardjo mengunjungi Maeda di kantor Bukanfu di depan lapangan Gambir. Saya sedang berada di kantor Departemen Riset di Jalan Pos, dan diminta Maeda untuk bertindak sebagai penerjemah. Soekarno mula-mula menjelaskan tujuan kunjungan itu. Ia berkata kepada Maeda, "Mendengar bahwa Jepang sudah menyerah, saya ke kantor militer untuk memastikan berita, tetapi tidak menemukan siapa pun. Jadi, kami datang ke sini untuk mengetahui apakah laporan itu benar."

Jawab Maeda, "Saya tidak dapat menjawab dengan pasti, karena belum ada laporan resmi di sini. Pada dasarnya, saya tidak percaya Jepang akan menyerah. Mohon berhati-hati dalam mempercayai berita, karena banyak berita yang kelihatannya bersifat subversif. Kalau kami memperoleh informasi resmi, kami pasti memberi tahu Tuan."

Maeda tidak bicara panjang lebar; jawabannya sangat singkat. Mungkin hanya itu yang dapat dikatakannya. Tetapi sikapnya dan suasana yang terasa saat itu jelas menggambarkan menyerahnya Jepang. Nada terjemahan saya mungkin juga telah memberikan suatu petunjuk kepastian akan penyerahan Jepang.

Ketika mereka meninggalkan kantor, salah seorang, mungkin Subardjo, berkata, "Tidak penting apakah Jepang menyerah atau tidak. Kita harus terus berjuang untuk kemerdekaan." Soekarno dan Hatta pasti telah memiliki tekad yang sama. Takluknya Jepang tentu saja peristiwa yang menyedihkan, tetapi kemerdekaan harus tetap dicapai, karena hal itu merupakan keinginan yang paling didambakan rakyat. Walaupun datangnya merupakan "hadiah", kemerdekaan ini sudah hampir terjangkau--dan berada di tangan mereka sendiri.

Tentara Sekutu belum menyatakan sikap atas kemerdekaan Indonesia, dan Belanda hanya menjanjikan suatu otonomi tingkat tinggi. Secara konsekuen, kemerdekaan seakan-akan diatur sebagai hasil menyerahnya Jepang. Meski begitu, kita harus berjuang untuk kemerdekaan. Ini mungkin sudah menjadi tekad yang diputuskan ketiga orang Indonesia itu ketika meninggalkan Bukanfu.

Setelah Perang, dalam Suara Partai (Juli - Agustus 1951), Hatta mengatakan, "Sudah jelas bahwa pada tanggal 15 Agustus Jepang telah menyerah." Penguasa militer belum menemui Soekarno dan Hatta waktu itu; Angkatan Laut juga belum memberi mereka informasi resmi. Hatta mungkin telah merasakannya secara naluriah. 

Setelah pertemuan dengan Maeda, Soekarno, Hatta, dan Subardjo mendiskusikan kebijaksanaan yang akan ditempuh, dan menyetujui melaksanakan pewujudan Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Mereka memutuskan berunding dengan Komite pada pukul 10.00 pagi tanggal 16. Komite ini dibentuk tanggal 11 sebagai organisasi untuk mengambil kekuasaan politik dari Jepang, dan akan memulai kegiatannya secara resmi tanggal 18 bulan itu. Tetapi Jepang menyerah sebelum Komite secara resmi dimulai.

Pendahulu Komite, Badan Peneliti Kemerdekaan, dibentuk 28 Mei 1945 untuk merealisasikan pernyataan Keiso. Badan itu bertugas menyelidiki dan mempelajari semua masalah yang berhubungan dengan kemerdekaan serta persiapan laporan dan bahan yang diperlukan untuk kemerdekaan. Tentu saja proyek semacam itu membutuhkan banyak waktu. Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan orang Jepang yang sesungguhnya dengan membentuk badan itu ialah, di satu segi, mengejar waktu, dan di segi lain memperoleh kerja sama dengan orang Indonesia.

Tetapi, berlawanan dengan harapan Jepang, badan itu melaksanakan tugasnya dengan kecepatan penuh--bahkan mulai membincangkan rancangan undang-undang setelah hanya dua kali pertemuan. Jadi, nyatalah bahwa Soekarno dan Hatta sebenarnya sudah merasa bahwa kemerdekaan sudah berada di depan mata, ketika mereka dihadapkan dengan berita penyerahan Jepang.

Menjelang malam tanggal 15 Agustus, Subardjo mengunjungi kami di Jalan Kebon Sirih No. 80, sekali lagi untuk memastikan berita ketaklukan Jepang. Seperti sering dikatakan Subardjo, kediaman kami berfungsi sebagai tempat pertemuan orang Indonesia yang ada hubungannya dengan Angkatan Laut. Hari itu sudah ada beberapa orang Indonesia berkumpul, sebelum Subardjo datang.

Karena tidak memperoleh yang diharapkan, Subardjo pergi ke tempat kediaman Soekarno di Pegangsaan Timur 56, bersama Hatta, dengan maksud menentukan masalah-masalah yang akan dibahas pada pertemuan Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia di hari berikutnya. Mereka tiba di rumah Soekarno pukul 11.00 malam--dan mendapatkan Soekarno sedang berdebat dengan beberapa pemuda, termasuk presiden Dokuritsu Juku, Wikana, dan Darwis.[9]
 
Pada tanggal 16, pukul 8.00 pagi, Subardjo mendengar bahwa Soekarno dan Hatta menghilang. Sudiro, sekretaris Subardjo, memberikan berita itu. Sudiro mengunjungi kediaman Soekarno bersama Subardjo di malam sebelumnya, dan menyaksikan pertengkaran sengit antara Soekarno dan para pemuda. Meski Sudiro langsung menerka bahwa kelompok pemuda itulah yang menculik Soekarno-Hatta, ia tidak bisa mendapat keterangan dari mereka di mana Soekarno dan Hatta berada.

Subardjo juga mencurigai kelompok pemuda, tetapi berupaya meminta bantuan Angkatan Laut untuk menyelamatkan kedua tokoh itu. Sekiranya Angkatan Darat yang menahan kedua pemimpin ini, memang tidak ada jalan lain kecuali meminta campur tangan Angkatan Laut. Subardjo menelepon saya di Bukanfu untuk memberitahukan bahwa Soekarno-Hatta hilang--dengan menambahkan, "Mereka mungkin sudah jatuh ke tangan Angkatan Darat." Kemudian dengan tergesa-gesa ia naik mobil ke tempat Maeda dan langsung lapor.

Demikian juga dengan saya, langsung lapor kepada Maeda. Untuk mengatakan sejujurnya, baik Maeda maupun saya tidak yakin para pemuda itu punya keberanian untuk melakukan penculikan semacam itu. Karena itu, kami curiga, Angkatan Darat lah yang menjadi otaknya.

Maeda pergi ke Gunseikanbu sendirian untuk mencari keterangan. Yamamoto Gunseikan, atau Kepala Urusan, Nishimura, menemui Maeda untuk peristiwa itu. Yang mana pun di antara mereka persisnya, ia amat terkejut atas susah payah penyelidikan Maeda--dan menjawab, "Kami memang mencari mereka berdua; sayangnya kami masih belum tahu di mana mereka berada." Dan menambahkan, sambil lalu, "Sebenarnya, bila mereka hilang, itu agak melegakan kita, karena berarti berkurangnya kesulitan di masa mendatang."

Saya merasa, Angkatan Darat meremehkan kegawatan soal itu, walaupun mereka juga ingin tahu dengan pasti di mana kedua pemimpin itu. Ternyata, Angkatan Darat memang sudah mencari mereka--melalui Kempetai dan Beppan, yang berkuasa dalam intelijen. Maeda memerintahkan saya, "Akan timbul situasi yang gawat bila komunikasi antara pemimpin paling tinggi Indonesia dan Angkatan Bersenjata Jepang dipatahkan dalam tahap kritis ini. Kita semuanya harus memelihara komunikasi. Cari kedua orang itu segera!"

Perintah Maeda membuat saya sadar, betapa bijaksananya dia. Waktu baru saja akan pergi, dari belakang saya, suaranya terdengar lagi, "Saya sudah memelihara dan mendidik kamu sampai sekarang supaya saya dapat memakai kamu untuk peristiwa semacam ini." Saya tidak gusar, karena ia sering memakai perkataan semacam itu. Tetapi saya merasa agak kehilangan tanpa Yoshizumi--yang sedang berada di tengah suatu pertemuan dengan para anggota gerakan bawah tanah yang diatur oleh Seksi Tiga Departemen Riset. Saya perhitungkan: kelompok pemuda pasti telah melakukan penculikan ini, bila memang Angkatan Darat tidak.

Kami punya hubungan erat dengan kelompok pemuda, yang sesekali meminta kami menyelamatkan anggota mereka jika ditahan Kempetai. Kami juga berdiskusi bersama, mengadakan pertemuan, dan bertengkar mengenai isu kemerdekaan--apakah itu berupa "kemerdekaan di piring" ataukah sesuatu yang harus dicapai lewat perjuangan. Wikana lah pemimpin kelompok itu. Secara intuitif saya menduga, Wikana adalah satu-satunya anggota yang punya hubungan dengan Angkatan Laut dan bisa tersangkut dalam penculikan.

Karena itu, saya mendekati Wikana, di Dokuritsu Juku di Bungur Besar. Saya ingat bagaimana saya berusaha keras membujuknya agar bicara--tapi ia tidak mau membuka mulut. Saya heran ada orang Indonesia yang mau menutup mulut dalam situasi semacam ini. Wikana duduk diam di lantai, diam seperti seonggok karung.

Saya harus mencari keterangan tentang penculikan itu, jadi saya terus mendesak, "Anda tahu benar betapa saya sudah bekerja bagi kebaikan Indonesia. Saya sudah berusaha, seperti sudah Anda ketahui, menjadi jembatan antara Jepang dan Indonesia. Mengingat semua yang sudah saya lakukan untuk Indonesia ini, tidak mungkin Anda mengabaikan saya pada tahap ini, dan melakukan sesuatu sendirian saja. Mana mungkin kami akan mengkhianati Anda? Saya anjurkan Anda menyerahkan Soekarno-Hatta kepada kami." Saya tak ingat berapa lama saya membujuk Wikana--tanpa ragu-ragu mengulangi argumentasi itu. Akhirnya, Wikana membuka mulut.

Wajahnya agak pucat dan kelihatan ia sangat prihatian atas kejadian itu. "Tidak, kami tidak dapat," katanya, "karena kami, para kawan seperjuangan, sudah berjanji. Kami ingin menyatakan kemerdekaan kami ke seluruh dunia. Biarpun dalam sesaat sudah ditumpas kembali, kami tidak peduli, asalkan pernyataan ini tetap sebagai satu peristiwa sejarah. Kami sudah siap mati."

Mendengar jawabannya, saya sadar bahwa sesuatu yang gawat akan terjadi. Subardjo juga berusaha membujuk Wikana. Menerka-nerka dari ucapan Wikana, bahwa pada malam sebelumnya mereka telah memutuskan untuk mengamankan Soekarno dan Hatta ke luar Jakarta, saya menyimpulkan bahwa Soekarno dan Hatta ditahan tidak jauh dari kota.

Kemudian pembicaraan kami agak lunak sedikit: Wikana mulai bergerak di antara kelompok pemuda dan kami. Dua orang kurir dari kelompok pemuda ternyata dikirim ke tempat penahanan Soekarno dan Hatta yang dirahasiakan itu. Rupanya, disampaikan kepada para anggota di sana, kami tidak bermaksud menghalangi rencana mereka memproklamasikan kemerdekaan, bahkan akan mendukung.

Berhubung salah satu kurir itu seorang anggota Kyodo Boeigun (Pembela Tanah Air), Jusuf Kunto[10], jelas Giyugun tersangkut dalam kasus ini. Akhirnya, Kunto mengajak Subardjo ke tempat persembunyian Soekarno dan Hatta--setelah sebelumnya Maeda diminta berjanji agar tidak menangkap seorang pemuda pun yang tersangkut dalam peristiwa ini dan menjamin keselamatan Soekarno-Hatta. Langsung saja Maeda menjawab "ya". Ketika Subardjo akan pergi ke tempat persembunyian, saya menawarkan ikut bersamanya, tetapi ia menolak.

Saya ingin mengutip Daisan no Shinso, "Karena ini (penculikan Soekarno dan Hatta), kemerdekaan diproklamasikan di luar orbit Angkatan Darat Jepang." Para sejarawan akan menilainya di masa mendatang, tetapi sejauh yang saya ketahui, memang ini benar.[11]

Wajar saja kalau terjadi suasana yang berlebihan dan petaka dalam kegiatan kelompok pemuda itu. Tetapi tanpa gerakan mereka, kegairahan untuk kemerdekaan tidak akan berkobar seganas itu, dan kemerdekaan sendiri barangkali tidak akan tercapai. Dalam keadaan seperti itu, mungkin rakyat akan menderita untuk waktu lama. Bila hanya dikejar melalui konsultasi dengan penguasa Jepang, seperti rencana Soekarno dan Hatta, agaknya kemerdekaan memang akan bisa dicapai secara resmi--tetapi, sebaliknya, Indonesia barangkali tidak akan mampu memerangi gerakan pasukan Belanda dan Sekutu yang kembali ke sini. 

Ketika itu, kira-kira pukul 04.00 sore, Subardjo meninggalkan Jakarta ke Rengasdengklok, dan baru tiba di sana pukul 06.00 sore karena beberapa kecelakaan, termasuk kebocoran ban mobil di jalan. Ia tidak diterima dengan cepat oleh para pemuda: sebagian dari mereka sedang dalam suasana gembira yang meluap, sebagian lagi mencurigai Subardjo karena keakrabannya dengan Angkatan Laut.

Adam Malik menyatakan, dalam buku yang dikutip di atas, karena Subardjo dikatakan muncul sebagai wakil Angkatan Laut, dia dan sekretarisnya, Sudiro, hampir ditahan. Sebaliknya, Subardjo mengemukakan kisah yang berbeda dalam bukunya, Kemerdekaan Indonesia dan Revolusi. Ia menyatakan, ketika ditanya apakah ia diutus Angkatan Laut, ia menjawab, "Tidak! Bung Sudiro dan saya ke sini setelah berbincang dengan Wikana dan anggota lain dari kelompok Angkatan Laut." Jadi, segala kecurigaan terhadap Subardjo disingkirkan.

Kemudian Subardjo dan sekretarisnya memulai negosiasi dengan Supeno, seorang shodan-cho (komandan peleton) Giyugun dan putra R. P. Singgih. Shodan-cho bertanya, dapatkah deklarasi kemerdekaan dikeluarkan tengah malam. Subardjo menjawab, tidak mungkin, karena akan memakan waktu untuk, mula-mula, mengadakan pertemuan dengan komite, lalu menyiapkan deklarasi. Untuk itu, paling tidak diperlukan waktu sepanjang malam. Setelah berdebat sebentar, Subardjo berjanji melengkapi persiapan pada pukul 06.00 pagi harinya, untuk memungkinkan pernyataan kemerdekaan siang harinya.

(bersambung)



[6] Dr. Buntaran Martoatmodjo (1896) adalah anggota terkemuka kelompok Angkatan Laut di samping Subardjo, juga deputi wakil ketua Chuo Sang-in, anggota panitia persiapan kemerdekaan Indonesia (BPKI dan PPKI), dan penasihat Indonesia pada Biro Kesehatan Departemen Dalam Negeri. Kedudukan terakhir ini membawanya ke kursi menteri kesehatan pada kabinet pertama Republik Indonesia. 

Ir. Raden Mas Pandji Surahman Tjokroadisurjo (lahir 1894) tidak aktif di bidang politik sampai diangkat Jepang menjadi Kepala Departemen Urusan Ekonomi, Juli 1945. Ia dua kali menjabat menteri keuangan pada Kabinet Sjahrir.

[7] Karasawa ialah supervisor yang bertanggung jawab atas kelakuan baik Nishijima setelah dilepas dari penahanan politik pada 1933.

[8] S. K. Trimurti (lahir 1914) dan suaminya, Sajuti Melik (lahir 1909), keduanya sayap kiri dalam politik nasionalis, pernah dipenjarakan Jepang sampai diselamatkan oleh Soekarno di tahun 1945. Sebelum Perang, Trimurti punya hubungan dengan Gerindo, sedangkan Sajuti pernah beberapa waktu diasingkan di Digul.

[9] Dalam bagian yang dihilangkan, Nishijima menggunakan terbitan Indonesia dan Belanda yang melukiskan pertentangan antara para pemimpin pemuda di satu pihak dan Soekarno-Hatta di pihak lain. Wikana dan Darwis sangat mendesak deklarasi kemerdekaan secepatnya, sebagai tantangan terhadap Jepang, sementara para pemimpin yang lebih tua menunggu kepastian resmi mengenai penyerahan.

[10] Jusuf Kunto diperkenalkan oleh Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 (Jakarta, 1964, hlm. 97), sebagai anggota pemuda kelompok Sukarni.

[11] Bagian yang dihilangkan membicarakan tujuan penculikan Soekarno-Hatta, Peristiwa Rengasdengklok, dalam sumber lain, khususnya Adam Malik, hlm. 39-43.



Sumber: Tempo, Agustus 1987



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Islam Nusantara Teladan di Mata Dunia

SURABAYA, KOMPAS -- Praksis Islam di Indonesia yang disebut Islam Nusantara berpotensi menjadi teladan baru dari dunia Islam di mata dunia. Hal ini menimbang perkembangan sosial politik di sejumlah negara dan komunitas Islam dunia, termasuk di Timur Tengah, yang kini dilanda konflik sosial politik yang mengarah pada runtuhnya peradaban setempat. Meski ada berbagai pendapat, Islam Nusantara dipahami tetap merupakan Islam otentik sebagai ajaran Nabi Muhammad SAW sekaligus mampu mendamaikan pergaulan pemeluknya dan bahkan menyejahterakan lingkungannya, termasuk non-Muslim. Demikian pendapat sejumlah pakar dalam Seminar Internasional "NU dan Islam Nusantara" yang digelar dalam rangkaian pelaksanaan Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama di kompleks kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) di Surabaya, Rabu (1/7). Hadir dalam seminar yang digelar kerja sama harian Kompas  dengan Panitia Muktamar NU Ke-33 ini antara lain Rektor UINSA Abdul A'la, Dekan Fakultas Adab UINSA yan...

SEI MAHAKAM (2 - HABIS) Keraton Kutai dan Pergulatan Mawas Diri

Cikal bakal Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dimulai sekitar abad ke-2 di Muara Kaman dengan raja pertama Kudungga, dilanjutkan putranya, Aswawarman, yang melahirkan tiga putra, yaitu Mulawarman (Kutai Kartanegara, Kaltim), Purnawarman (Taruma Negara, Jawa Barat), dan Adityawarman (Pagaruyung, Sumatera Barat). Oleh HARIADI SAPTONO P ada masa pra Islam tersebut, tercatat 25 raja memimpin Kerajaan Kutai Martadipura, dari Kudungga hingga Dermasetia. Berita tentang Kerajaan Kutai kemudian tidak terdengar. Selanjutnya, abad ke-13 berdiri Kerajaan Kutai Kartanegara di Kutai Lama dengan raja pertama Adji Batara Agung Dewa Sakti hingga raja kelima Pangeran Tumenggung Baya-Baya, sebelum kemudian pada abad ke-16 Kerajaan Kutai Kartanegara memeluk Islam dan abad ke-17 Pangeran Sinum Pandji Mendapa menyerang serta menghancurkan Kerajaan Kutai Martadipura dan kedua kerajaan dipersatukan menjadi Kutai Kartanegara Ing Martadipura sampai sekarang. Pada 1945, keraton bergabung dengan Repub...

Raja Belanda: Maaf atas Kekerasan Berlebihan

Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima mengunjungi Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara. Raja juga meminta maaf atas kekerasan berlebihan Belanda di masa lalu. JAKARTA, KOMPAS-- Raja Belanda Willem-Alexander di Jakarta, Selasa (10/3/2020), kembali menegaskan pengakuan eksplisit Pemerintah Belanda terhadap Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Selain itu, ia juga menyatakan penyesalan dan permintaan maaf atas kekerasan berlebihan yang dilakukan Belanda pada tahun-tahun setelah proklamasi. Setelah Proklamasi RI, terjadi dua kali agresi militer Belanda pada 1947 dan 1948, yang menewaskan banyak korban jiwa, termasuk warga sipil. Pemerintah Belanda secara politis dan moral baru mengakui Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 pada tahun 2005 melalui menteri luar negerinya saat itu, Bernard Bot. Sebelumnya, Belanda mengakui penyerahan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Permintaan maaf disampaikan Raja Willem-Alexander dalam pernyataa...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api: Heroisme antara Tegallega dan Rel KA

TULANG  jemari terbungkus kulit keriput itu mencengkeram erat besi pegangan gerobak sampah. Bahunya yang tipis tampak melengkung, tertarik kuat tali pengikat gerobak. Langkah dan nafasnya terasa berat, menapaki Jl. Mohammad Toha, Tegallega, yang Sabtu sore kemarin (23/3), basah diguyur hujan. Beban sampah yang dibawanya, seakan tak sepadan dengan sosok tua yang kurus kering. Elan (60), sosok tua itu, sejenak memalingkan pandangannya pada sederet kata-kata dalam spanduk yang terpancang depan Markas Hubdam III/Siliwangi, "Markas Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi Tahun 1946 - Panitia BLA 1996", demikian bunyi tulisan itu. Kawasan Tegallega jika dibalik ke masa 1946, adalah sejarah heroik ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama ratusan ribu warga Bandung, mempertahankan kemerdekaan. Pada 21 Maret 1946, kawasan itu sempat dibombarder tentara Sekutu. Akan tetapi secara kebetulan, kedudukan Batalyon II TRI (Sumarsono) di sana, tengah memperkuat posisi perte...

Ajaran Tasawuf pada Masjid Agung Demak

Oleh Wiwin Nurwinaya Peminat Sejarah dan Arsitektur Islam D asar-dasar ajaran tasawuf sudah ada sejak zaman prasejarah yang ditandai dengan kepercayaan terhadap kekuatan alam dan kekuatan gaib, hal ini tercermin dari karya seni yang banyak berlatarkan religi, seperti halnya seni bangunan, bentuk menhir, punden berundak dan sebagainya. Dasar-dasar ajaran tersebut kemudian berkembang menjadi suatu konsepsi universal yang percaya terhadap kenyataan bahwa ruh manusia akan meninggalkan badan menuju ke alam makrokosmos. Dalam ajaran Islam, ajaran tasawuf merupakan suatu praktik sikap ketauhidan seseorang dalam mendekatkan diri kepada Allah. Ajaran tasawuf ini dianut oleh kaum sufi  yaitu sekelompok umat yang selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi dan hidupnya senantiasa diisi dengan ibadah semata. Sufi berasal dari kata safa  yang berarti kemurnian, hal ini mengandung pengertian bahwa seorang sufi adalah orang...

SEI MAHAKAM (1) Membulatkan Identitas Kutai Kartanegara

"Cara ampuh satu-satunya untuk menembus suatu bangsa dengan jalan damai di mana-mana sama: hadiah perkenalan, pembagian obat-obatan yang menyembuhkan, dan jimat-jimat penolak bala, bala yang nyata dan yang semu. Orang asing itu harus betul-betul orang kaya atau dianggap kaya, tabib dan tukang sihir. Dalam semua hal ini, tidak ada yang mampu berperilaku semahir orang India. Orang India itu mungkin sekali menyatakan diri keturunan raja atau pangeran, yang hanya dapat memberi kesan baik pada tuan rumahnya" ( Gabriel Ferrand dalam "Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha", George Coedes, Kepustakaan Populer Gramedia, 2010, hlm 50-51). "Adik ... kau ini Bugis atau Kutai? Atau Dayak?" kata pembawa acara bernama Rudy dengan ringan dari atas panggung. Pertanyaan itu sebenarnya sungguh menyentak. Namun, rupanya itu hal biasa saja di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Oleh HARIADI SAPTONO P rovinsi Kalimantan Timur (Kaltim)--sebagaimana banyak provi...