Langsung ke konten utama

Kisah-kisah Perjuangan: Rakyat Magelang Melawan Inggris, Belanda, Jepang

Oleh Hadi Supeno

KELIMA jenazah pahlawan dan tujuh orang yang luka-luka, korban perlawanan rakyat Magelang 25 September 1945, dirawat di RSU yang letaknya berdampingan dengan markas Kenpeitai.

Rakyat Magelang seperti tengah dalam satu perasaan, mereka berduyun-duyun menuju RSU, lalu mengiringi jenazah ke pemakaman. Iringan ini begitu panjang membuat kuduk Jepang berkidik, dan mereka tak berani keluar melihat. Hati para pengiring pun dijiwai merah putih. Magelang telah menjadi merah putih!

Setelah peristiwa itu rakyat kian mendidih darahnya, dan kini siap melahap musuh. Di mana-mana teriakan "merdeka atau mati" terus berkumandang. Di jalan-jalan para pemuda mempergunakan senjata seadanya baris-berbaris dan menyanyikan lagu-lagu mars. Rupanya Jepang menjadi begitu takut, dan tanggal 7 Oktober 1945 tanpa rundingan apa pun, serdadu kenpeitai semuanya meninggalkan Magelang menuju Wonosobo.

Kini tinggal bagaimana menyerbu Nakamura Butai di Jalan Kartini. Maka persiapan pun dilakukan. Tanggal 13 Oktober diaturlah siasat untuk penyerbuan ini. Stelling pengepungan telah diatur di sekeliling markas. Kali ini kekuatan pemuda telah ditambah dengan barisan kepolisian.

Tetapi dengan pertimbangan untuk tidak sampai menimbulkan korban maka taktik diplomasi diambil terlebih dahulu. Untuk ini dibentuk delegasi yang akan merundingkan pelucutan senjata ini dengan anggota Marjadi (BKR), Tartib (wakil masyarakat), Legowo (kepolisian).

Jepang Diusir

Pukul 21.00 Jenderal Nakamura menemui delegasi Republik dengan didampingi oleh komandan-komandan Butai, seperti Kolonel Namura, Kol Humma, dan Kol Kasahara. Tetapi hingga pukul 24.00 WIB perundingan belum menghasilkan apa-apa, bahkan Nakamura dengan sombongnya bertanya kepadanya dengan nada menakut-nakuti. "Apakah tuan-tuan tidak takut mati, padahal sudah mempunyai istri?" Pak Marjadi segera menjawab: "Hidup atau mati tidak termasuk hitungan kami, sebab kami pun telah belajar dari tuan-tuan di pendidikan PETA, bahwa demi kepentingan tanah air, maka mati itu bukan apa-apa. Oleh karena itu, kami pun berpendirian demikian."

Waktu telah menunjukkan hampir pukul 01.00 dini hari. Pasukan rakyat kita ada yang tak sabar langsung mengadakan tembakan ke atas dan kemudian diikuti oleh penyerbuan ke dalam markas. Yang terakhir delegasi perwakilan masuk dan mengatakan, "Nah, kalau tuan tidak mengabulkan permintaan kami, maka sudah dapat dipastikan bahwa pasukan Indonesia akan segera menyerbu markas ini." Masih dengan nada sombong Nakamura berkata, "Kalau kami dipaksa harus menyerahkan senjata, maka hal itu hanya bisa terjadi apabila benar-benar kami telah terpaksa."

Maka rakyat tak sabar lagi langsung menyerbu melucuti senjata Jepang. Lebih dari 1.000 tentara Jepang ditawan untuk kemudian dikirim ke Kebumen, Gombong, Kutoarjo, dan Purworejo. Rakyat bersukaria, Magelang bebas dari penjajah, tanggal 14 Oktober semua tentara Jepang berhasil diusir dari Magelang.

Belanda Datang Lagi

Tetapi belum lagi semua alat persenjataan dan barang-barang lain dikemasi dengan baik, pada tanggal 16 Oktober datanglah tentara Inggris dan Ghurka. Seperti juga di kota-kota lain di mana ada Inggris mendarat di situ datang membonceng penyelundup-penyelundup Belanda. Rakyat Magelang menjadi cemas menyaksikan ada orang asing yang datang lagi dan mondar-mandir di jalan-jalan kota yang beberapa hari lalu telah dikuasainya. 

Menurut tugas, mereka mendarat di Indonesia mengemban tugas Sekutu guna menjaga keamanan dan ketertiban umum. Juga mengurus para tawanan. Namun dalam kenyataannya mereka memang pada berlaku seperti penjajah yang tidak menunjukkan keramahan sama sekali. Dan rakyat pun tidak gentar. Apakah Jepang, Belanda, dan Inggris sekalipun takkan dibiarkan menguasai bumi pertiwi ini sejengkal pun.

Maka konsentrasi rakyat dan kekuatan-kekuatan pejuang pun diarahkan kepada penyerangan pasukan Ghurka di susteran Magelang (sekarang SMKK Pius). Tanggal 31 Oktober 1945 pagi hari pukul 07.30 terdengar tembakan yang pertama di sebelah timur. Rakyat siap menyambut sehingga tembakan-tembakan saling bersahutan. Dari puncak menara air minum di alun-alun Magelang seorang pejuang seorang diri melemparkan granat-granat dan memuntahkan peluru ke arah markas Ghurka. Sementara pasukan dari selatan kian mendekat. Dan belum pukul 09.00 ketika markas Ghurka telah terkepung, Inggris terpepet. Magelang telah dipenuhi oleh tentara-tentara pejuang dari berbagai arah. Kecuali mempunyai kebanggaan BKR Magelang di bawah pimpinan Pak Sarbini, A Yani, dan Suryosumpeno, dalam pasukan itu terdapat pula bekas prajurit Jepang yang telah berpengalaman dalam Perang Dunia II yang masuk menjadi BKR seperti: Soeroto, Sujono, Sukro, Muhammad, dll.

Soeroto ini pula yang banyak berjasa karena mendapatkan banyak senjata bagi BKR dengan jalan mencurikan senjata dari gedung Sekutu. Pada waktu itu datang pula ke Magelang pasukan-pasukan rakyat dari daerah-daerah se-karesidenan Kedu, juga ada bantuan dari Laskar Solo, Barisan Rakyat, Polisi, dan TKR dari Yogyakarta. TKR dari Yogyakarta di bawah pimpinan Letkol Palal dan Letkol Umar Slamet berjumlah 2 batalyon, yakni Batalyon VIII pimpinan Mayor Sarjono dan Batalyon X pimpinan Letkol Soeharto (sekarang Presiden RI). Ikut pula ambil bagian polisi istimewa di bawah komando Oni Sastroatmodjo dan pasukan Pemberontak Rakyat Indonesia pimpinan Soetardjo, dari Purworedjo mengirimkan 1 batalyon BKR pimpinan Mayor Kun Kamdani dan Kapten Sarwo Edie Wibowo. Dari Purwokerto mengirimkan 2 batalyon di bawah pimpinan Letkol Isdiman.

Taktik Busuk

Pada saat awal pertempuran pasukan Indonesia sudah berhasil mengepung kedudukan musuh. Jalan besar Magelang-Semarang sudah diblokade untuk mencegah datangnya bala bantuan dari Ambarawa atau Semarang. Barisan rakyat dan pemuda dari Gragab, Windusari, Payaman, Secang, Tegalrejo memblokir jalan raya Magelang-Semarang. Bantuan dari Muntilan, Mungkid, Mertoyudan ikut menyerbu Susteran dari arah tenggara. Pasukan dari Rejowinangun, Panjang, dan sekitarnya menyerbu Kaderschool dari arah timur dan terjadi pertempuran sengit di pasar Telo (Samban) tetapi yang paling seru pertempuran di alun-alun.

Untuk membantu pasukannya yang telah terkepung, oleh pasukan Indonesia di Magelang itu, maka Inggris menerapkan taktik busuk. Ia memperalat pasukan Jepang yang ada di Semarang dengan mengatakan bahwa tentara Jepang yang berada di Magelang telah dibunuh oleh para pemuda Magelang.

Maka pada pukul 10.00 pagi 31 Oktober 1945, bantuan tentara Jepang itu tiba di Magelang sebanyak 7 truk dengan persenjataan yang lengkap serta dilindungi pesawat terbang. Mereka menggunakan taktik penyerangan mendadak sehingga mengamuk, menembaki apa saja yang ditemui. Operasi pertama di kampung Dukuh, Tulung, Bothon. Di kampung Tulung pasukan Kido Butai Jepang ini masuk ke dapur umum dan menembaki serta membunuh laki-laki dan perempuan yang tengah bekerja tidak kurang dari 54 orang. Di rumah gadai seorang pegawainya mati tertusuk bayonet. Di halaman SMP 1 seorang ibu yang tengah berlarian menyelamatkan anaknya mati tertembak seketika. Dan di SMP 1 Putra ini pulalah, dua anak Soeprapto dan Prayitno tewas tertembak, ia mencoba menyelamatkan gurunya yang tertawan, tetapi kebiadaban Jepang telah membuat kalap dan menembak dada Soeprapto dan Prayitno. Pahlawan kecil gugur. Dua orang guru masing-masing Siagian dan FX Soerjowidagdo mengalami luka parah.

Itu berarti musuh yang dihadapi rakyat Magelang tiga kekuatan: Inggris, Belanda, dan Jepang. Tetapi semangat rakyat kian menyala. Bung Tomo melalui Radio Pemberontakan di Surabaya terus berteriak memberikan semangat perjuangan kepada rakyat. Beberapa kali secara khusus menyebut nama Magelang. "Maju terus Magelang, usir penjajah dari negerimu, jangan beri mereka hak menempati tanahmu. Kita merdeka atau mati," teriak Bung Tomo.

Menundukkan Kepala

Ini laksana suntikan yang luar biasa. Semua penduduk keluar rumah. Pria-wanita, tua muda, semua tumpah siap menghadapi musuh dengan kekuatannya. Para kyai dengan doanya, para sakti dengan kerisnya dan japamantra. Inggris, Belanda, dan Jepang terus didesak untuk mundur. Laksana banteng ketaton selama dua hari tanggal 31 Oktober dan 1 November tak henti-hentinya rakyat terlibat baku tembak. Inggris kewalahan. Hingga pada tanggal 2 November 1945 Bung Karno tiba di Magelang untuk mengemukakan gencatan senjata setelah sebelumnya mampir di Semarang untuk melakukan perundingan dengan Brigadir Jenderal Bethell.

Rakyat menjunjung tinggi perintah Presiden, perintah pemimpin tertingginya. Sejak 2 November 1945 rakyat menghentikan serbuannya. Dan tanggal 3 November hampir semua penduduk kota keluar rumah, kali ini untuk mengiringi pemakaman para pahlawan kusuma bangsa menuju peristirahatan. Tak kurang dari 87 putra bangsa dimakamkan di Giriloyo, yang berlangsung dari pukul 11.00 hingga pukul 21.00.

Beberapa hari kemudian tentara asing meninggalkan Magelang tanpa rundingan apa pun menuju Ambarawa. Dan pasukan Sarbini terus mengikutinya, kelak di Ambarawa terjadi pertempuran sengit dan rakyat Magelang juga berada di tengah-tengah pertempuran itu. 

Di Bukit Tidar Sang Merah Putih tetap berkibar tegar. Bukit Tidar, Magelang, telah menjadi saksi sejarah perlawanan bangsa dengan putra-putra yang gagah berani tak gentar menyergap musuh.

Pada saat memperingati 50 tahun Proklamasi Kemerdekaan RI ini kita menunduk mengenangnya. Di Magelang kini berdiri patung-patung para pahlawan yang gugur bersimbah darah dalam mengusir penjajah dan menegakkan kemerdekaan. 

(Habis)



Sumber: Suara Karya, circa 1995



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aksi Corat-coret Sesudah Proklamasi 17-8-1945

Oleh H. SOEWARNO DARSOPRAJITNO RUPANYA  corat-coret di sembarang tempat yang dapat menarik perhatian umum, sudah menjadi salah satu kegemaran sebagian anak yang beranjak dewasa. Corat-coret memang sudah ada sejak zaman prasejarah, dan sekarang pun masih banyak ditemukan di mana saja, termasuk di tugu yang menjadi tanda tempat bertemunya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa di Jabal Rahmah, Arafah. Memang banyak corat-coret yang sifatnya vandalistik karena merusak keindahan tataan alam, atau bangunan yang sebenarnya bermanfaat untuk kepentingan umum. Akan tetapi, corat-coret yang pernah dilakukan oleh para remaja usia belasan tahun yang masih duduk di bangku sekolah SLTP atau SMU, sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, merupakan corat-coret yang bersejarah. Corat-coret yang dilakukan tanpa direkayasa, ternyata dapat membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan untuk menggalang kekuatan agar negara Republik Indonesia yang sudah diproklamasikan oleh Sukarno-Hatta tetap berdiri...

Nassau Boulevard Saksi Perumusan Naskah Proklamasi

G edung berlantai dua bercat putih itu masih nampak megah, sekalipun dibangun 80 tahun lalu. Nama jalan gedung ini pada masa pendudukan Belanda, Nassau Boulevard No 1, dan diubah menjadi Meijidori pada pendudukan Jepang. Untuk selanjutnya menjadi Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat sekarang ini. Gedung yang diapit oleh Kedutaan Besar Arab Saudi dan Gereja Santa Paulus dibangun dengan arsitektur gaya Eropa, yang hingga kini masih banyak terdapat pada gedung-gedung di sekitar kawasan Menteng. Pemerintah kolonial Belanda membangun gedung ini bersamaan dengan dibukanya 'kota baru' Menteng, pada 1920, saat kota Batavia, sebutan Jakarta waktu itu, meluas ke arah selatan. Gedung yang kini diberi nama Museum Perumusan Naskah Proklamasi memang pantas dilestarikan oleh pemerintah, karena mempunyai nilai sejarah yang amat penting. Di tempat inilah pada malam tanggal 16 Agustus 1945 bertepatan 7 Ramadhan 1364 H hingga menjelang fajar keesokan harinya para pendiri negara ini merumuskan naskah ...

Soetatmo-Tjipto: Nasionalisme Kultural dan Nasionalisme Hindia

Oleh Fachry Ali PADA tahun 1918 pemerintahan kolonial mendirikan Volksraad  (Dewan Rakyat). Pendirian dewan itu merupakan suatu gejala baru dalam sistem politik kolonial, dan karena itu menjadi suatu kejadian yang penting. Dalam kesempatan itulah timbul persoalan baru di kalangan kaum nasionalis untuk kembali menilai setting  politik pergerakan mereka, baik dari konteks kultural, maupun dalam konteks politik yang lebih luas. Mungkin, didorong oleh suasana inilah timbul perdebatan hangat antara Soetatmo Soerjokoesoemo, seorang pemimpin Comittee voor het Javaansche Nationalisme  (Komite Nasionalisme Jawa) dengan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang pemimpin nasionalis radikal, tentang lingkup nasionalisme anak negeri di masa depan. Perdebatan tentang pilihan antara nasionalisme kultural di satu pihak dengan nasionalisme Hindia di pihak lainnya ini, bukanlah yang pertama dan yang terakhir. Sebab sebelumnya, dalam Kongres Pertama Boedi Oetomo (1908) di Yogyakarta, nada perdebat...

Silsilah dan Karya Douwes Dekker

Dr Ernert Francois Eugene Douwes Dekker alias Dr. Danudirja Setiaboedi lahir di Pasuruan, Jawa Timur, pada tanggal 8 Oktober 1879 sebagai anak ketiga dari keluarga Auguste Henri Eduard Douwes Dekker dan Louise Margaretha Neumann . Mereka menikah pada tahun 1875 di Surabaya. Auguste D. D. adalah anak pertama dari Jan Douwes Dekker (lahir di Ameland, Nederland, pada tanggal 28 Juni 1816) saudara kandung  dari Eduard D. D. alias Multatuli. Ayah dan ibu berturut-turut bernama Engel D. D. dan Sietske Klein . Dengan demikian ayah dan ibu Multatuli juga adalah orang tua dari Jan D. D., kakeknya Dr. E. F. E. Douwes Dekker. Jadi bukan sebagaimana dikatakan bahwa ayah Multatuli adalah kakak dari kakeknya ( Kompas , 11-9-1982, halaman IX, kolom 9). Jan D. D. meninggalkan profesinya sebagai kapten kapal ayahnya sendiri untuk menjadi petani tembakau di Desa Bowerno, Bojonegoro. Ia meninggal pada 11 September 1864 di Gresik. Dr. Ernest D. D. alias Dr. Setiaboedi kawin 11 Mei 1903 di Betawi denga...

Museum Sumpah Pemuda: Pernah Menjadi Hotel dan Toko Bunga

S uasana di gedung tua yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 itu nyaris hening. Meski di depannya, hilir mudik kendaraan yang melintasi Jalan Kramat Raya tak henti-hentinya mengeluarkan suara raungan. Keramaian di jalan utama ibu kota itu seakan tak mampu menghidupkan suasana dalam gedung. Padahal sekitar 73 tahun yang lalu, di gedung ini pernah terjadi kesibukan yang menjadi tonggak penting bagi berdirinya negara Indonesia. Di tempat inilah para pemuda dari berbagai daerah memekikkan perlunya satu nusa, satu bahasa, dan satu bangsa. Namun kini gedung yang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda (MSP) seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan bangsa Indonesia. Suasana hening dan sepi semakin meneguhkan gedung yang memiliki total luas 1.284 m2 ini sebagai bangunan bersejarah. Gedung tua ini memang sarat catatan sejarah. Sebelum diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda tahun 1971, gedung ini sempat mengalami pemugaran. Pemugaran ini ditanggung oleh pihak pemerintah DKI Jakarta dan diresmikan ...

Dr Tjipto Mangoenkoesoemo Tidak Sempat Rasakan "Kemerdekaan"

Bagi masyarakat Ambarawa, ada rasa bangga karena hadirnya Monumen Palagan dan Museum Isdiman. Monumen itu mengingatkan pada peristiwa 15 Desember 1945, saat di Ambarawa ini terjadi suatu palagan yang telah mencatat kemenangan gemilang melawan tentara kolonial Belanda. Dan rasa kebanggaan itu juga karena di Ambarawa inilah terdapat makam pahlawan dr Tjipto Mangoenkoesoemo. Untuk mencapai makam ini, tidaklah sulit. Banyak orang mengetahui. Di samping itu di Jalan Sudirman terdapat papan petunjuk. Pagi itu, ketika penulis tiba di kompleks pemakaman di kampung Kupang, keadaan di sekitar sepi. Penulis juga agak ragu kalau makam dr Tjipto itu berada di antara makam orang kebanyakan. Tapi keragu-raguan itu segera hilang sebab kenyataannya memang demikian. Kompleks pemakaman itu terbagi menjadi dua, yakni untuk orang kebanyakan, dan khusus famili dr Tjipto yang dibatasi dengan pintu besi. Makam dr Tjipto pun mudah dikenali karena bentuknya paling menonjol di antara makam-makam lainnya. Sepasan...

Saat-saat yang Tepat Merenung Makna Perjuangan

A pa yang dialami oleh Subegjo pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio Surabaya ( Suara Karya , 10/11), juga dialami oleh Moedjali (70 th, Kolonel Purn, yang kini sudah Haji), Oesman Bahrawi (76 th) dan Ali Bari (67 th). Mereka bertiga secara terpisah masing-masing mengungkapkan pengalamannya 49 tahun yang lalu kepada Suara Karya  awal pekan ini di Surabaya. Sebagaimana halnya Subegjo, ketiga pejuang yang kini sudah menikmati masa tuanya merasa bahwa 10 November selalu membangkitkan semangatnya untuk hidup lebih tangguh dan optimis. Orang-orang setua saya dan pernah merasakan kobaran api 10 November 1945 tak lagi memiliki ambisi lebih tinggi kecuali kelak ketika saya meninggalkan dunia ini, tidak membebani anak-cucu dengan atribut-atribut kontroversial dan berbau kemunafikan karena di dekat akhir hidup saya melakukan tindak korupsi, kolusi, aji mumpung, dan berbangga-bangga merasa diri pejuang. Demikian cetus salah seorang dari ketiga pelaku dan saksi 10 November 1945. Pert...