Langsung ke konten utama

Arsitektur Mesjid Indonesia, Sejarahnya Panjang


Menurut catatan sejarah, mesjid yang pertama kali didirikan di dunia adalah mesjid Quba di tanah Arab. Didirikan pada tahun 622 M. Sebelum mendapat banyak perubahan dan perbaikan pada tahun-tahun berikutnya, bentuk awalnya masih sangat sederhana, cukup sekedar untuk bersujud dan terlindung dari teriknya matahari. Di sekelilingnya didirikan pagar tembok dari bata yang diplester dengan tanah liat. Denahnya persegi empat di mana pada bagian utara terdapat mihrab yang diberi atap dari pelepah korma.

Uniknya, saat itu mihrabnya (tempat imam memimpin shalat) diarahkan ke sebelah utara di mana kota Yerusalem (kota suci) terletak. Baru setelah Masjidil Haram di Mekkah didirikan, arah mihrab tersebut diubah menjadi ke sebelah selatan di mana Ka'bah terletak (kini, semua mesjid yang ada di dunia diorientasikan ke arah Ka'bah/Kiblat). Ruangan tengahnya beratapkan pelepah korma, ada ruangan terbuka yang disebut sahn dan sumur tempat mengambil air wudhlu. Mesjid Quba--yang kemudian terkenal dengan nama mesjid Medinah--didirikan pada saat Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah, akibat dikejar-kejar oleh suku Quraisy yang masih menyembah berhala.

Sang waktu pun terus bergulir. Kini, entah sudah berapa jumlah mesjid yang ada di dunia ini. Mesjid merupakan bangunan yang mutlak didirikan di mana pun masyarakat muslim berada. Demikian pula halnya dengan di Indonesia, yang sebagian besar penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Lantas pertanyaannya kini, bagaimanakah sejarah arsitektur bangunan mesjid di Indonesia? Dan berasal dari mana? Ada yang mengatakan bahwa bangunan mesjid di Indonesia berasal dari bangunan gelanggang untuk menyabung ayam. Benarkah? Cukup menarik untuk kita singkap.

Gelanggang

Adalah DR WF Stutterheim (seorang ahli purbakala berkebangsaan Belanda) yang melontarkan pendapat bahwa bentuk bangunan mesjid di Indonesia diambil dasarnya dari bentuk bangunan gelanggang untuk menyabung ayam yang di Bali dikenal dengan sebutan wantilan. Pada dasarnya, bangunan ini merupakan suatu bangunan yang mempunyai denah persegi empat dan beratap, namun tanpa dinding di sisi-sisinya.

Sebagai ahli purbakala yang juga dikenal sebagai peneliti candi di Indonesia, Stutterheim berusaha mencari dan membuktikan bahwa bentuk bangunan mesjid di Indonesia merupakan arsitektur asli Indonesia. Dalam bukunya yang berjudul De Islam en Zijn Komst in den Archipel yang terbit tahun 1935, ia mengatakan bahwa arsitektur pra-Islam berpengaruh besar terhadap bentuk bangunan mesjid di Indonesia. Sebagai salah satu contohnya, ia kemudian menunjuk menara mesjid Kudus (1685 M) di Jawa Tengah yang jelas memperlihatkan bentuk arsitektur Indonesia sebelum Islam.

Dalam bukunya itu, Stutterheim selanjutnya mengemukakan alasan mengapa bangunan candi--yang juga berdenah persegi empat--tidak dijadikan dasar bentuk mesjid kuno di Indonesia. Menurutnya bahwa meskipun sama-sama berdenah persegi empat, namun candi hanya memiliki ruangan yang berukuran kecil. Hal ini tidak sesuai dengan bangunan mesjid yang membutuhkan ruangan besar untuk melakukan shalat bersama.

Rupanya, kebutuhan akan bentuk bangunan demikian (berukuran besar) dipenuhi bentuk dasarnya pada bangunan gelanggang menyabung ayam. Lebih jauh Stutterheim mengatakan bahwa apabila setiap sisi bangunan gelanggang menyabung ayam ini ditutup dengan dinding, maka akan tampak bangunan mesjid dalam bentuk yang sederhana setelah di sisi barat ditambah dengan bagian mihrab.

Pendapat bahwa asal-usul bangunan mesjid di Indonesia berasal dari bangunan gelanggang untuk menyabung ayam seperti dikemukakan di atas, disanggah oleh seorang ahli purbakala berkebangsaan Belanda lainnya, DR HJ de Graaf. Dalam artikelnya yang berjudul "De Oorsprong der Javanese Moskee" dan dimuat dalam Indonesie I (1947-1948), Graaf menyatakan tiga keberatan atas teorinya DR WF Stutterheim.

Pertama, bahwa bangunan gelanggang untuk menyabung ayam adalah tempat berjudi. Karenanya, tidak mungkin apabila kemudian orang-orang Islam di Indonesia memilih bangunan yang bersifat keji ini menjadi sebuah mesjid. Kedua, bahwa bangunan gelanggang menyabung ayam (yang banyak ditemukan di Bali dan yang dijadikan acuan oleh Stutterheim), tidak memiliki atap yang bertingkat, tidak seperti halnya bangunan mesjid kuno di Indonesia yang memiliki atap bertingkat. Ketiga, bahwa bangunan gelanggang menyabung ayam ini hanya terdapat di Bali dan Jawa saja. Bagaimana mungkin bila kenyataan ini dapat mempengaruhi bentuk seluruh mesjid yang tersebar di Indonesia.

Sementara itu, DR HJ de Graaf sendiri mengemukakan pendapat bahwa arsitektur mesjid di Indonesia berasal dari India (Gujarat, Malabar, dan Kashmir). Mesjid-mesjid di India--khususnya mesjid-mesjid kuno di Malabar--memiliki bentuk atap yang bertingkat di mana salah satu tingkatannya dipergunakan untuk pendalaman pengetahuan agama Islam bagi anak-anak. Hal ini serupa benar dengan sebuah mesjid kuno yang terdapat di Taluk, Sumatra Barat yang juga memiliki atap bertingkat dan salah satu tingkatannya dipergunakan untuk pengajaran agama Islam. 

Selain atap bertingkat, mesjid kuno di Taluk, Sumatra Barat, yang didirikan sekitar abad 17 M ini, juga dikelilingi oleh parit yang berisi air untuk berwudhlu. Mesjid dengan atap bertingkat dan dikelilingi oleh parit ini, selain di Sumatra, ditemukan pula hampir di seluruh Indonesia.

Pandapa

Sanggah menyanggah antar para ahli tentang teori asal usul mesjid di Indonesia--dengan sejumlah buku yang disodorkannya--makin seru, manakala pada tahun 1966 muncul sebuah tulisan buah karya sarjana berkebangsaan Indonesia, Dr Sutjipto Wirjosaputro. Dalam tulisannya yang berjudul "Sejarah Pertumbuhan Bangunan Mesjid Indonesia" dan dimuat dalam majalah Fajar No 21 Tahun III 1966, ia mengatakan bahwa bentuk dasar dari bangunan mesjid di Indonesia, tidak usah dicari di luar Indonesia, tetapi dapat dilihat pada relief-relief yang terpahat pada candi-candi di Indonesia.

Dalam tulisannya ini pula, ia menyatakan keberatan atas teorinya HJ de Graaf yang memperbandingkan antara mesjid di Indonesia dengan mesjid di Malabar. Menurutnya, meski sama-sama memiliki atap yang bertingkat, namun terdapat perbedaan-perbedaan yang prinsipil antara bangunan mesjid di dua tempat itu. Untuk itu, Soetjipto mengajukan dua keberatan atas teorinya de Graaf. Pertama, apabila bangunan mesjid-mesjid di Indonesia memiliki denah yang persegi, maka denah bangunan mesjid-mesjid di Malabar memiliki bentuk yang persegi panjang. Kedua, apabila mesjid di Taluk Sumatra Barat memiliki parit yang berisi air untuk berwudhlu, maka mesjid di Malabar tidak memilikinya. Dalam mencari bukti untuk memperkuat teorinya, tampaknya Dr HJ de Graaf sendiri tidak menyaksikannya langsung ke Malabar. Ia hanya membaca laporan seorang Belanda yang mengunjungi India pada abad ke-16 M, Jan Huygens van Linschoten.

Sebetulnya, Sutjipto sendiri lebih cenderung untuk sependapat dengan Dr. WF Stutterheim yang menyatakan bahwa bentuk dasar arsitektur mesjid di Indonesia berasal dari Indonesia asli. Namun, bila Stutterheim berpendapat bahwa bentuk dasar arsitektur mesjid di Indonesia berasal dari bangunan gelanggang untuk menyabung ayam yang banyak ditemukan di Bali, maka Sutjipto Wirjosaputro berpendapat bahwa bentuk dasar arsitektur mesjid di Indonesia berasal dari bentuk rumah Jawa yang disebut pandapa, yaitu suatu bangunan yang berdenah persegi empat dan tak berdinding/suatu ruangan terbuka untuk menerima tamu. Menurutnya, apabila bangunan pendapa ini diberi tembok atau dinding, diarahkan ke Kiblat dan diberi Mihrab, maka akan terbentuk suatu bangunan mesjid.

Mengenai atap yang bertingkat, Sutjipto kemudian menunjuk rumah Jawa yang disebut joglo. Bentuk atap rumah joglo ini lah yang merupakan cikal bakal atap bertingkat (atap tumpang) dari bangunan mesjid. Selanjutnya, Sutjipto mengatakan bahwa alasan dibuatnya atap bertingkat pada bangunan mesjid, lebih bersifat teknis arsitektural. Yaitu untuk mengimbangi ukuran yang serba besar, seperti diperlihatkan oleh Mesjid Agung Banten, Mesjid Agung Yogyakarta, Mesjid Agung Surakarta, dan sebagainya.

Selain itu, bangunan yang memiliki atap bertingkat ini banyak dijumpai pada relief-relief candi di Jawa. Sebagai bukti, ia kemudian menyodorkan relief-relief bangunan bertingkat yang dipahatkan di candi Jawi, Jawa Timur. Begitu pula dengan bangunan-bangunan suci di Bali yang juga memiliki atap bertingkat. Dengan demikian, lanjut Sutjipto, atap mesjid yang bertingkat itu tumbuh berdasarkan atas prototipe atap bangunan Indonesia dan tidak ditiru dari India seperti yang dikemukakan oleh Dr HJ dr Graaf.

Sutjipto sendiri mengakui bahwa istilah pendapa berasal dari bahasa Sansekerta "mandapa" yaitu suatu bagian dari bangunan suci di India. Meskipun bangunan mandapa ini ditiru oleh orang-orang Indonesia sebelum agama Islam meruyak di negeri ini, namun bentuknya telah diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan perumahan di Indonesia, khususnya Jawa (didirikan langsung di atas tanah. Dengan demikian bentuk bangunan ini telah mengganti bangunan asli Indonesia yang didirikan di atas tiang/panggung, penulis). Di akhir tulisannya, Sutjipto Wirjosaputro mengatakan bahwa apabila terdapat persamaan antara bentuk mesjid di Indonesia (Gujarat, Malabar, dan Kashmir), itu lebih disebabkan adanya pertumbuhan yang sejajar dan persamaan ini berdasarkan atas akar yang sama yaitu bentuk bangunan mandapa dari kesenian Hindu di India.

Seorang sarjana Indonesia lainnya yang tidak sependapat dengan teorinya Dr HJ de Graaf adalah Irmawati M Johan. Dalam artikelnya yang berjudul "Mengapa Bentuk Mesjid Kuno di Indonesia Tidak Sama dengan Bentuk Mesjid Kuno di India?" dan dimuat dalam Monumen (1990), ia mengatakan bahwa terdapat perbedaan dalam hal bahan yang dipergunakan untuk mendirikan bangunan mesjid-mesjid kuno di Indonesia dengan mesjid-mesjid kuno di India. Pada masa yang sama (abad 16 M), bila bangunan mesjid-mesjid di Indonesia masih mempergunakan kayu sebagai bahan dasarnya dan memiliki arsitektur yang sangat sederhana, maka bangunan mesjid di India telah mencapai puncak keemasannya, yaitu terbuat dari batu dan arsitekturnya sangat indah.

Arsitektur mesjid di India (yang mulai dikenal pada abad 12 M dan berkembang pesat pada abad 13 M) banyak mendapat pengaruh dari Baghdad, Afghanistan, Turki, dan Persia. Atap mesjid ditutup dengan kubah dan bangunannya memiliki banyak pilar dan lengkungan, sehingga dapat tercipta ruang yang besar. Pada bagian penutup dari tulisannya, Irmawati mengatakan bahwa meskipun agama Islam di Indonesia berasal dari Gujarat (mengenai hal ini pernah penulis kemukakan di harian ini dengan judul "Sejarah Islamisasi di Indonesia", Suara Karya edisi 9-12 Maret 1993), namun tidak ada bangunan mesjid kuno di Indonesia yang mengikuti gaya mesjid-mesjid di Gujarat.

Mesjid Jami'

Sebenarnya, keberatan/sanggahan atas teorinya HJ de Graaf telah dikemukakan oleh GF Pijper pada tahun 1947. Dalam artikelnya yang berjudul "The Minaret in Java" dan dimuat dalam India Antiqua, Pijper mengatakan bahwa bentuk mesjid-mesjid kuno di Indonesia tidak memperlihatkan bentuk arsitektural asing tetapi merupakan tradisi asli Indonesia. Sedangkan tanggapannya mengenai bentuk atap yang bertingkat, Pijper berpendapat bahwa hal ini mungkin bisa dihubungkan dengan konsep gunung Meru, yaitu suatu pandangan kosmis yang telah dikenal oleh orang-orang Indonesia pra-Islam.

Seperti halnya Dr WF Stutterheim yang menelusuri ornamen-ornamen bangunan mesjid kuno di Indonesia dari arsitektur candi (pra-Islam) di Indonesia, GF Pijper pun melakukan hal yang serupa. Masih dalam tulisannya yang sama, selain atap bertingkat yang telah dikemukakan di atas. Pijper kemudian melihat bentuk fondasi yang masif serta tinggi pada bangunan mesjid kuno di Indonesia. Menurutnya, fondasi yang demikian, merupakan bentuk yang tetap dipertahankan dari kaki candi yang juga masid dan tinggi. Selanjutnya, Pijper menguraikan ciri-ciri mesjid kuno di Indonesia, antara lain; denahnya berbentuk persegi empat (seperti denah candi), fondasinya masif, atapnya berbentuk atap tumpang seperti meru, dan seterusnya.

Dalam tulisannya yang lain, G. F. Pijper (Beberapa Studi tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950/terjemahan, 1984) dan C. Snouck Hurgronje (Islamisasi di Hindia Belanda/terjemahan, 1973) memberikan gambaran bahwa mesjid kuno di Indonesia terdiri dari sebuah bangunan induk dengan sebuah serambi. Pada dinding sebelah barat terdapat sebuah mihrab yang letaknya berhadapan dengan pintu masuk. Di samping mihrab, biasanya terdapat sebuah mimbar, yaitu tempat khatib menyampaikan khotbah pada setiap hari Jumat. Atap mesjid bertingkat yang terdiri dari 2 sampai 5 tingkat dan ujung atap berbentuk runcing. Pada beberapa mesjid yang besar terdapat menara. Di halaman mesjid terdapat emperan untuk menempatkan bedug dan kolam.

Sementara itu, JH Kramers dalam tulisannya yang berjudul Over de Kunst van de Islam mengatakan bahwa banyak mesjid di Jawa yang terbuat dari sebuah perumahan kayu dengan serambi di bagian depannya, tidak memiliki lapangan dan sebagai corak tertentu memiliki atap yang bertingkat. Selain itu, jarang dijumpai adanya menara dan hal yang cukup menarik adalah bahwa mesjid-mesjid Jami' (agung) umumnya terletak di sebelah barat alun-alun.

Pada masa pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di nusantara, mesjid Jami' (agung) merupakan unsur yang mutlak ada di suatu kota. Ia merupakan salah satu bagian terpenting dari suatu tata kota. Komponen-komponen kota terpola menjadi keraton, mesjid, pasar, dan alun-alun. Umumnya, mesjid Jami' terletak di sebelah barat, keraton di sebelah timur, alun-alun di tengah, sedangkan di arah utara dan selatan terdapat pasar. Ini merupakan pola tata kota umum yang hampir dijumpai di seluruh kota di Indonesia pada masa lalu dan bahkan di banyak tempat, pola tata kota serupa ini masih bertahan hingga sekarang.

Terlepas dari perdebatan para ahli tentang asal-usul arsitektur mesjid di Indonesia, yang terang bahwa mesjid--yang kini banyak terdapat di sekitar kita--telah hadir sebagai karya arsitektur yang melengkapi khasanah budaya bangsa kita. Namun permasalahannya kini, mengapa para pendahulu kita tidak mempergunakan batu sebagai bahan untuk mendirikan bangunan mesjid? Padahal, teknologi mendirikan bangunan (keagamaan) dengan mempergunakan bahan batu telah dikenal pada masa sebelumnya (candi).

Apakah perbedaan bahan ini disebabkan adanya perbedaan agama (Hindu-Buddha dan Islam). Dengan kata lain, permasalahan terakhir ini menjurus ke pertanyaan: Bagaimanakah konsep pemahaman masyarakat muslim di Indonesia (terutama pada masa lalu) dalam memandang bangunan suci keagamaan yang terbuat dari batu? Kita tunggu penelitian dari para ahli. (Hasanuddin).

 

Sumber: Suara Karya, 9 Maret 1994 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Soetomo: Himpun Persatuan dan Kesatuan Berdasarkan Irama Gamelan

"Tujuh puluh delapan tahun yang lalu, 20 Mei 1908, Dokter Soetomo telah membuat percikan api kebangkitan nasional di Gedung Stovia. Dan sampai kini nyalanya tetap memberi jiwa dan semangat untuk mengisi cita-cita kebangkitan nasional!" begitu antara lain sambutan Menteri Penerangan H. Harmoko, ketika meresmikan monumen Dokter Soetomo di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur. Monumen itu diresmikan pada tanggal 6 Mei yang lalu, di atas tanah seluas 1,75 hektar. Memang sepantasnya dibuat monumen agung untuk mengenang jasa-jasa beliau sebagai salah seorang pendiri Boedi Oetomo . Suatu wadah yang merupakan organisasi modern pertama lahir di Indonesia, bertujuan untuk memajukan pengajaran dan kebudayaan bangsa Indonesia. Sejak adanya Boedi Oetomo  bangsa kita bangkit, untuk membebaskan diri dari penjajah. Itulah yang membuat Soetomo pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA. Tapi dia tidak gentar. Soetomo dan kawan-kawannya terus melebarkan sayap Boedi Oetomo demi kemajuan bangsa Ind...

Pendidikan Itu untuk Rakyat ....

Oleh: INDIRA PERMANASARI S ekitar 70 tahun lalu, tepatnya 1927, seorang anggota Volksraad (dewan perwakilan rakyat buatan Belanda dalam rangka politik etis) Meyer Ranneft, berpidato tentang pendidikan di Hindia Belanda. " ... Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun lebih cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, mempunyai dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini adalah suatu masyarakat yang mempunyai pertentangan-pertentangan yang tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin. Bilamana meneliti sistem pendidikan, kita melihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan kita turut mempertajam kontras sosial ekonomi, sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? ...." Cuplikan pidato itu dibacakan Dr Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang dalam forum diskusi 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah di Bandung pekan lalu. Menurut Mestika, pada masanya Ranneft me...

JEJAK NASIONALISME DI BOVEN DIGOEL (1) Penjara yang Memerdekakan

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme mencoba menginventarisasi warisan bangsa yang menjadi energi perjuangan yang membebaskan negeri ini. Jejak-jejak itu terserak sepanjang bentangan Nusantara. Setelah laporan jejak nasionalisme di Banda, Maluku, diturunkan bulan lalu, bulan ini "Kompas" menurunkan laporan jejak nasionalisme di Boven Digoel, Papua, yang di masa lalu menurunkan tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa. Dalam catatan historis, nama Boven Digoel tentu tidak asing lagi. Pemerintah Hindia Belanda pernah menjadi Boven Digoel di pedalaman Papua sebagai salah satu tempat pengasingan bagi para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Walaupun teralienasi, mereka tetap menyalakan suluh perjuangan. Oleh KORANO NICOLASH LMS P ada awalnya, menurut Andrianus Moromon, sarjana sejarah Universitas Cenderawasih, Papua, Boven Digoel dijadikan Belanda sebagai tempat tahanan sekaligus pengasingan baru akibat tempat tahanan dan pengasingan lainnya sudah penuh. Salah satu sebabnya, Be...

Arti Bhinneka Tunggal Ika

Arti kata per kata dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sering disalahartikan, termasuk oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpendidikan tinggi. Kesalahan terakhir dilakukan oleh Bung Harry Roesli dalam artikelnya berjudul: Kaus Partai dan Baju Besi (Kompas , 15/5/99). Walaupun isi artikel enak dibaca, namun mengandung kesalahan fatal menyangkut semboyan di atas. Di artikel tersebut Bung Harry menulis bahwa saat ini Bhinneka Tunggal Ika telah dipelesetkan menjadi Bhinneka tidak Ika, atau Bhinneka susah Ika, atau juga Bhinneka lawan Ika. Jelas di sini Bung Harry berpikir, bahwa kata Ika-lah yang mengandung arti bersatu/satu. Kesalahan serupa juga telah banyak dilakukan oleh kaum terdidik di negeri ini. Padahal dalam semboyan ini, arti kata satu (atau bersatu) dikandung dalam kata tunggal. Sedangkan kata Ika, kalau saya tidak keliru, artinya kira-kira adalah atau begitu adanya. Secara lengkap artinya adalah berbeda-beda (Bhinneka), namun satu (Tunggal) adanya (Ika). Kemungkinan ...

Manusia Pincang dari Pacitan

Fosil manusia Punung dan sejumlah peralatannya telah selesai diteliti. Ada kesinambungan kehidupan sejak zaman pletosin di sana. D IA ditemukan dalam keadaan utuh dari ujung kepala sampai kaki. Terkubur dalam sebuah gua di daerah Punung, Pacitan, Jawa Timur, tangan kirinya mencengkeram tengkorak monyet. Ada lubang yang cukup besar di gigi bawah bagian kirinya, tembus sampai ke gusi. Ini pertanda bahwa manusia gua itu, yang hidup sekitar 9.000 tahun lalu, pernah mengalami sakit gigi yang parah. Fosil "manusia Punung" ini diperbincangkan lagi di kalangan arkeolog setelah Francois Semah membeberkan temuan ini pada pertemuan ilmiah arkeologi di Kediri, akhir Juli silam. Bersama kawan-kawannya, arkeolog dari Prancis ini baru saja selesai mengurai fosil yang ditemukan pada 1997 ini. Hasilnya cukup memuaskan. Apalagi bersamaan dengan manusia Punung, ditemukan juga sejumlah peralatan yang menggambarkan berbagai era kehidupan manusia. "Ini temuan luar biasa," ujar Semah, ilm...

Kami

Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas?  (Bung Karno, 1 Juni 1945) S EBUAH negara tak pernah didirikan di atas kecerdasan. Uni Soviet, sebuah percobaan pertama untuk menerapkan "sosialisme ilmiah", dimulai dengan sebuah pemerintahan yang bekerja di atas 170 juta petani, yang, seperti kata Bung Karno, umumnya buta huruf. Begitu juga Amerika Serikat. Thomas Jefferson dan para pendiri republik itu memang pintar, dan negara yang mereka rancang berdasarkan ide-ide filsafat yang mutakhir, tapi ada benarnya kalimat lucu penulis Inggris Malcolm Bradbury: "Sejarah Amerika seluruhnya adalah cerita tentang orang yang membenci ayah mereka dan mencoba membakar tiap hal yang dilakukan ayah itu." Sebuah kemerdekaan lahir lebih karena kemarahan, bukan karena kedahsyatan pikiran. Perasaan dizalimi, perasaan tertindas, bukan datang dari otak, tapi dari seluruh pengalaman, termasuk tubuh yang tertekan. Itu juga yang dapat dikatakan tentang Indonesi...

Karena Kasih Sepanjang Jalan

Betawi mempertemukan Mohammad Hatta dengan Mak Etek Ayub Rais, anak sahabat kakeknya. Saudagar perantau Minang ini mengabaikan rasa takutnya sendiri untuk Hatta. T AHUN baru 1908. Mohammad Hatta datang dari sekolah dengan menimang sebuah kapal-kapalan dari kaleng bekas--hadiah tahun baru dari Sinterklas di sekolahnya. Sepulang sekolah, ia mengajak sahabatnya, Rasjid Manggis, melayarkan kapal kecil itu di tebat kecil sembari menunggu jam mengaji di surau Inyiak Djambek tiba. Di hari yang lain, waktu lowong Hatta diisi dengan menyepak bola rotan. Kapal-kapalan dan bola rotan adalah mainan yang membuat Hatta begitu riang di masa kecil. Selebihnya, hari-hari Hatta adalah belajar. Sejak berumur lima tahun, siang hari ia belajar di Sekolah Melayu Paripat dan les bahasa Belanda pada Tuan Ledeboer di waktu petang. Alhasil, Hatta tak menemukan kesulitan ketika ia akhirnya bersekolah di Europeesche Lagere School, sekolah dasar khusus untuk anak-anak Belanda, di Bukit Tinggi. Orang-orang tua di B...