Langsung ke konten utama

Peristiwa Bandung Lautan Api : Tonggak Perjuangan Rakyat Jawa Barat

Oleh E KARMAS

MEMASUKI bulan Maret 1946, Kota Bandung khususnya dan Provinsi Jawa Barat umumnya, terlibat ke dalam kancah pertempuran sengit antara pejuang Indonesia melawan pasukan Inggris/Belanda. Telah banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Perbedaannya sangat jelas, pihak Indonesia berkeyakinan berjuang dengan ridla Allah mempertahankan haknya sesuai dengan hak asasi manusia yang tertuang dalam Atlantic Charter yang menghapuskan penjajahan di muka bumi ini; sedangkan Inggris/Belanda didasari nafsu serakah ingin mencengkeramkan kuku penjajahannya ke haribaan Pertiwi Republik Indonesia.

Tanggal 6 Maret hari Kamis pukul 17.00, satu pasukan serdadu Gurkha melewati batas jalan kereta api di Jl. Garuda, kemudian menduduki rumah-rumah rakyat dengan kekerasan senjata. Mereka membuat gaduh di sana, mengganggu dan memperlakukan kaum wanita sebagai binatang. Perbuatan mereka segera diketahui oleh para pejuang Indonesia yang segera mengadakan penyerangan. Pihak Gurkha bersama beberapa serdadu Belanda menyinarkan lampu sorot sambil menembaki pihak kita. Di samping itu Belanda membakar rumah-rumah penduduk, tapi terus diserang oleh para pemuda kita hingga pukul 24.00. Akhirnya pihak Belanda mundur dengan menderita banyak korban. Pihak Indonesia menderita kerugian atas hancurnya beberapa rumah, namun tidak terdapat korban jiwa. 

Menurut catatan Jenderal A. H. Nasution, pada tanggal 8 Maret 1946 Jenderal Hawthorn, Panglima Tentara Sekutu, berpidato melalui radio mengatakan bahwa ribuan interniran Belanda dan Jepang telah dibunuh oleh para ekstremis Indonesia. Divisinya telah bertindak untuk menyelamatkan interniran itu di Semarang dan Surabaya. Selanjutnya dikatakan bahwa anggota divisinya telah jatuh korban sebanyak 1.200 orang, suatu jumlah yang lebih besar dari korban perang Imphal ketika melawan Jepang dahulu.

Tanggal 10 Maret 1946 satu batalyon tempur Inggris dari Bandung Utara dengan dilindungi beberapa pesawat udara, menyerbu Lembang dan berhasil menerobos ke Ciater mengambil interniran AL Jepang di bawah Laksamana Maeda. Sesudah itu satu batalyon Inggris dari Bogor menyerbu ke Sukabumi untuk mengambil interniran Jepang di Ubrug. Di sepanjang jalan mereka mendapat serangan dari pihak pejuang bersama TRI Resimen III di bawah komando Letkol Edy Sukardi. Setelah selama satu setengah hari mendapat serangan dari pihak kita, pasukan Inggris baru bisa sampai di Sukabumi dengan menderita korban jiwa 26 tamtama tewas, 2 orang perwira ditawan kita, 9 buah truk, dan 2 buah jeep dirampas pihak Indonesia. Dari pihak kita gugur sebanyak 90 orang.

Pertempuran berlanjut di mana pasukan Inggris mundur ke Cianjur, dan setelah mendapat bantuan konvoi dari Bandung dan Bogor, terjadilah pertempuran sepanjang jalan antara Bandung - Bogor.

Pemerintah Pusat RI bersama Markas Besar Inggris memerintahkan penghentian pertempuran di Sukabumi, namun tidak berhasil. Rakyat memperluas serangannya terhadap Inggris di Sukabumi, sehingga Inggris mendatangkan bantuan lagi dari Bandung dan Bogor. Pertempuran makin besar, di mana menimbulkan korban 3 orang perwira Inggris, seorang perwira India dan 37 orang tamtama.

Inggris mengeluarkan ultimatum: jika serangan tidak dihentikan, Inggris akan menggerakkan segala kekuatannya dengan tidak ampun lagi.

Sejak itu terjadi serangan Inggris dari udara terhadap rakyat di sepanjang jalan Cibadak - Sukabumi. Pasukan Inggris menuju Ciaanjur dan mendapat serangan dari pihak Indonesia di Sukaraja, sehingga terpaksa bermalam di selatan kota dan baru keesokan harinya masuk Kota Cianjur. Bantuan Inggris dari Bandung diserang di Cisokan, Citarum, dan Purabaya, demikian juga bantuan yang melalui Puncak dihadang di Cugenang.

Inggris menewaskan sepuluh orang pihak kita di Gedeh, dan di Padalarang menawan beberapa orang termasuk Kepala Staf Resimen 9.

**

TANGGAL 17 Maret 1946 Panglima Besar Inggris mengundang Pemerintah Pusat RI di Jakarta untuk merundingkan pengantaran konvooi antara Bogor - Bandung.

Terjadilah pertempuran setiap hari di Jl. Garuda antara pasukan TRI bersama pelbagai kesatuan, melawan konvoi Inggris maupun batalyon Punjab.

Pasukan Inggris tidak bisa menerobos barikade di persimpangan Jl. Garuda - Jl. Sudirman yang dibuat pihak kita, yang bertahan sekuat-kuatnya.

Tanggal 18 Maret 1946 pasukan Inggris menerobos daerah Andir maksudnya merampok gudang KA dan merampok penduduk. Terjadilah pertempuran sengit yang makin berkobar karena Inggris mengirimkan pesawat pemburu concor merah dan bomber. Sebuah tank musuh hangus dibakar kita di depan Pasar Andir, (baru setelah tahun lima puluhan rongsokan tank tersebut diambil). Pertempuran menjalar hingga man to man, saling berhadapan di antara rumah-rumah dan di kebun singkong. Seorang anggota Hizbullah gugur dan diamankan langsung di tempat kejadian saat itu juga. Seorang serdadu Gurkha terbunuh dan dipenggal kepalanya, kemudian dijinjing oleh Susilowati seorang perwira PT Pajagalan, di sepanjang jalan pulang ke markasnya.

Tanggal 19 Maret 1946 Inggris mengirim pasukan yang dipelopori tiga buah tank raksasa, beberapa jeep dan puluhan truk menyerang dan mencoba mendobrak barikade di persimpangan Jl. Garuda - Jl. Sudirman, namun selalu dihadang pihak Indonesia sekuat tenaga, sebuah tank raksasa berdiri gagah dengan moncong kanon mengarah timur sepanjang Jl. Sudirman, tidak sedikit pun membuat pejuang kita menjadi gentar. Meledaklah sebuah kanon ditembakkan ke arah timur, menghancurkan sebuah toko potret di Jl. Sudirman sebelah barat Gang Durman. Pertempuran berjalan hingga malam hari setelah pihak Inggris mundur kembali. Pihak kita menderita beberapa orang tewas antara lain Nana, beberapa orang luka berat antara lain Mulyono dan luka ringan antara lain Husen Wangsaatmaja.

Tanggal 20 Maret 1946 kira-kira pukul 07.25 sekonyong-konyong tentara Inggris melakukan bombardemen dan penembakan mitraliur oleh pesawat udara B 25 dan pesawat pemburu F 50 terhadap penduduk dan rumah-rumah di sepanjang Jl. Tegallega Selatan, menyebabkan 17 orang penduduk tewas seketika dan 18 orang luka-luka. Segera ditanyakan oleh Walikota Bandung kepada pihak Sekutu yang memberi jawaban bahwa bombardemen itu sebagai "reprisal" (pembalasan) atas tembakan mortir dari pihak Indonesia, katanya telah mengorbankan banyak wanita dan anak-anak (Belanda).

Tanggal 22 Maret 1946 pukul 13.25 Walikota Bandung menerima telepon dari head quarters bahwa Mayor Jenderal R. Didi Kartasasmita, Komandan Komandemen dan Wakil Menteri Keuangan Mr. Safrudin Prawiranegara telah tiba di Bandung untuk menyampaikan amanat Pym. Perdana Menteri St. Syahrir. Amanat tersebut menyampaikan amanat tentara Inggris supaya daerah 11 km sekeliling Kota Bandung dihitung dari tengah-tengah kota harus dikosongkan dari semua orang dan pasukan Indonesia yang bersenjata. Pihak Indonesia dan Pemerintah sipil, TRI dan Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MDPP) mengambil keputusan, bahwa akan membicarakan terlebih dahulu dengan Perdana Menteri St. Syahrir. Pihak Inggris menyetujuinya, Komandan TRI Divisi III Kol. A. H. Nasution turut bersama  dengan kedua utusan tadi untuk memberikan keterangan kepada perdana menteri.

**

TANGGAL 23 Maret 1946 di Bandung diadakan pertemuan yang dihadiri oleh utusan dari Komandemen TRI, Wakil Perdana Menteri, Komandan Divisi III, Walikota, Residen, utusan dari MDPP dan orang-orang terkemuka lainnya. Mereka memperbincangkan ultimatum Inggris agar semua orang dan pasukan bersenjata harus ke luar Kota Bandung sejauh straal 11 km. Jika kehendak Inggris itu tidak dikabulkan, maka Kota Bandung akan digempur habis-habisan. Jika ada orang yang masih bersenjata tinggal di Kota Bandung, akan ditembak mati. Sementara semua orang termenung, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan para pemuda: "Tidaaak! Tidak bisa!"

Pertemuan selesai, beberapa orang utusan terbang ke Jakarta untuk menyampaikan putusan kepada Markas Besar Tentara Inggris bahwa rakyat Bandung menolak kehendak Inggris.

Hari Minggu, 24 Maret 1946, Kol. A. H. Nasution datang kembali di Bandung memberi penerangan kepada Pemerintah Sipil, Polisi, Badan-badan Pekerja, KNI Priangan, dan badan Eksekutif Kota Bandung, telah diputuskan oleh Pemerintah Pusat RI di Jakarta, setelah diadakan bertukar pikiran antara Perdana Menteri St. Syahrir dengan Komandan TRI Divisi III Kol. A. H. Nasution, bahwa buat kepentingan diplomasi yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Pusat RI, semua orang dan pasukan bersenjata selambat-lambatnya tanggal 24 Maret 1946 harus keluar dari kota dan tidak boleh mengadakan pembumihangusan atau lain-lain kerusakan.

Menurut keterangan Pak Didi Kartasasmita selaku Panglima Komandemen Jawa Barat yang berkedudukan di Purwakarta, pada tanggal 22 Maret 1946, beliau dipanggil oleh Perdana Menteri St. Syahrir ke Jakarta untuk pergi ke Bandung berunding dengan Jenderal Hawthorn mengenai ultimatum Inggris tentang pengosongan Kota Bandung dari orang-orang dan pasukan bersenjata. Pak Didi minta Komandan Polisi Tentara Achmad Sukarmadidjaya untuk mendampinginya.

Dengan kapal terbang Inggris--fasilitas diplomatik--mereka terbang dari Kemayoran ke Andir Bandung. Mereka dibawa keliling di Bandung Utara di mana Inggris memperlihatkan kekuatan persenjataannya yang telah siap menyerbu Bandung Selatan.

Mereka tidak diperkenankan pergi ke Bandung Selatan, karena pihak Inggris khawatir kalau Pak Didi bertemu dengan pihak Indonesia akan mengetahui keadaan sebenarnya. Sore harinya Pak Didi dibawa ke markas Jen, Hawthorn, di mana telah ada Pak Syafrudin Prawiranegara yang diutus Perdana Menteri St. Syahrir ke Bandung Selatan untuk membicarakan dengan pemerintah Sipil dan TRI. Ketika Jen. Hawthorn melontarkan ultimatumnya bahwa hari Minggu 24 Maret 1946 pukul 12.00 Bandung Selatan harus ditinggalkan oleh orang-orang bersenjata, Pak Didi menjawab dengan nada ketus: "Do as you like but we will not retreat" lalu meninggalkan ruangan tanpa memberi salam kepada Jenderal Hawthorn.

Sepanjang pengetahuan Pak Achmad Sukarmadidjaya, bahwa Komandan Divisi III Kol. A. H. Nasution menerima dua perintah:

1. Yang pertama dari Perdana Menteri St. Syahrir harus mundur;

2. Yang kedua dari Panglima Komandemen Jawa Barat Mayor Jenderal Didi Kartasasmita dan dari MBT (Markas Besar Tentara) di Yogjakarta, harus mempertahankan Bandung sampai titik darah penghabisan.

Seusai pertemuan dengan Hawthorn tersebut di atas, Nasution turut naik kapal terbang ke Jakarta. Malamnya Nasution diterima oleh PM Syahrir di tempat kediamannya di Jl. Pegangsaan Timur, di mana PM Syahrir menasihatkan untuk melakukan saja sebagaimana dipesankan sebelumnya melalui Menteri Muda Syafrudin Prawiranegara. Kepada Panglima Komandemen Jawa Barat Didi Kartasasmita, Kol. Nasution meminta keputusan, yang dijawab supaya bertindak menurut keadaan, kalau pecah pertempuran supaya beliau diberi tahu dan beliau akan datang.

Kol. Hidayat di Purwakarta yang baru menyelesaikan peristiwa pertempuran di Sukabumi, menelepon kepada Kol. Nasution: "Nas, kamu mulai ikut diplomasi?" Keesokan harinya Kol. Nasution pulang ke Bandung dan sempat mendengar dentuman-dentuman artileri Inggris menghadapi pertempuran di Jakarta Timur jurusan Klender.

Hari Minggu 24 Maret 1946 pukul 10.00 Kol. A. H. Nasution tiba di Bandung. Sesampainya di Pos Komando, oleh Kepala Staf diperlihatkan Kawat dari Yogja tanpa alamat pengirim, yang berbunyi: "Tiap sejengkal tumpah darah harus dipertahankan!" Maka mulailah perundingan dengan pemerintah Sipil, Komandan Resimen VIII, MDPP serta pelopor.

**

PIHAK Sipil minta penangguhan waktu, Wali Kota Samsyurizal mengemukakan bahwa pemerintah Sipil mentaati instruksi pemerintah Pusat dan akan tetap berada bersama rakyat di dalam kota. Let. Kol. Sutoko menyarankan keluar bersama rakyat. Let. Kol. Omom Abdurachman Komandan TRI Resimen VIII menyatakan bahwa Tentara resmi taat perintah, tapi sebagai rakyat berjuang terus.

Komandan Polisi Tentara, Mayor Rukana mengusulkan untuk membumihanguskan Kota Bandung dan meledakkan terowongan Sungai Citarum di Rajamandala, supaya kita membuat "Bandung Lautan Api dan Bandung Lautan Air". Keadaan amat emosional.

Pukul 14.00 dengan resmi disiarkan perintah Divisi III:

1. Semua pegawai dan rakyat harus keluar kota sebelum pukul 24.00;

2. Tentara melakukan bumi hangus terhadap semua bangunan yang ada;

Sesudah matahari terbenam, supaya Bandung Utara diserang dari pihak utara dan dilakukan pula bumi hangus sedapat bisa. Begitu pula dari selatan harus ada penyusupan ke utara.

Seluruh rakyat menyambut dengan penuh semangat. Batalyon-batalyon dari Resimen VIII dan IX, Resimen Pelopor dan MDPP punya sektor masing-masing mulai dari Padalarang sampai Cicadas. Pos Komando Divisi III diperintahkan pindah ke Kulalet sebelah Selatan Dayeuhkolot. Dari sana Kol. Nasution bersama Mayor Rukana sekira pukul 20.00 mendengar dentuman-dentuman di kota yang diikuti kebakaran-kebakaran; api makin berkobar, sehingga langit mnjadi merah dari Cimahi sampai Ujungberung. Serangan ke Bandung Utara dilakukan di sekitar KMA, Ciumbuleuit, Sukajadi dan lain-lain. Pukul 21.00 mereka masuk ke Kota Bandung untuk melihat pelaksanaan pembumihangusan dari dekat.

Sungguh mengharukan bagaimana seluruh lapisan masyarakat Kota Bandung, pasukan dan kesatuan bersenjata baik TRI maupun badan-badan perjuangan, Lasywi, Palang Merah, Dapur Umum, pegawai Sipil, KNI, rakyat jelata dari kakek-nenek, kanak-kanak, hingga bayi yang baru lahir, demikian pula hewan ternak, ayam, dan kambing ataupun hewan kesayangan, kucing atau anjing peliharaan, semua terlibat dalam satu keadaan. Tumbuh rasa saling kasih mengasihi, saling bantu-membantu, saling tolong menolong antara sesama manusia tanpa melihat dan membedakan status dan golongan. Semua senasib dan seperjuangan, rela meninggalkan rumahnya; harta kekayaannya, segalanya dikorbankan demi kepentingan Kemerdekaan bangsa dan tanah air Indonesia. Sejak disiarkan keputusan hasil rundingan, hingga Bandung menjadi Lautan Api, akan merupakan kisah tersendiri yang tak pernah terjadi sebelum dan sesudahnya, yang kini tinggal menjadi kenangan perjuangan.***



Sumber: Pikiran Rakyat, 24 Maret 1992



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Soetomo: Himpun Persatuan dan Kesatuan Berdasarkan Irama Gamelan

"Tujuh puluh delapan tahun yang lalu, 20 Mei 1908, Dokter Soetomo telah membuat percikan api kebangkitan nasional di Gedung Stovia. Dan sampai kini nyalanya tetap memberi jiwa dan semangat untuk mengisi cita-cita kebangkitan nasional!" begitu antara lain sambutan Menteri Penerangan H. Harmoko, ketika meresmikan monumen Dokter Soetomo di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur. Monumen itu diresmikan pada tanggal 6 Mei yang lalu, di atas tanah seluas 1,75 hektar. Memang sepantasnya dibuat monumen agung untuk mengenang jasa-jasa beliau sebagai salah seorang pendiri Boedi Oetomo . Suatu wadah yang merupakan organisasi modern pertama lahir di Indonesia, bertujuan untuk memajukan pengajaran dan kebudayaan bangsa Indonesia. Sejak adanya Boedi Oetomo  bangsa kita bangkit, untuk membebaskan diri dari penjajah. Itulah yang membuat Soetomo pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA. Tapi dia tidak gentar. Soetomo dan kawan-kawannya terus melebarkan sayap Boedi Oetomo demi kemajuan bangsa Ind...

Pendidikan Itu untuk Rakyat ....

Oleh: INDIRA PERMANASARI S ekitar 70 tahun lalu, tepatnya 1927, seorang anggota Volksraad (dewan perwakilan rakyat buatan Belanda dalam rangka politik etis) Meyer Ranneft, berpidato tentang pendidikan di Hindia Belanda. " ... Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun lebih cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, mempunyai dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini adalah suatu masyarakat yang mempunyai pertentangan-pertentangan yang tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin. Bilamana meneliti sistem pendidikan, kita melihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan kita turut mempertajam kontras sosial ekonomi, sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? ...." Cuplikan pidato itu dibacakan Dr Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang dalam forum diskusi 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah di Bandung pekan lalu. Menurut Mestika, pada masanya Ranneft me...

JEJAK NASIONALISME DI BOVEN DIGOEL (1) Penjara yang Memerdekakan

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme mencoba menginventarisasi warisan bangsa yang menjadi energi perjuangan yang membebaskan negeri ini. Jejak-jejak itu terserak sepanjang bentangan Nusantara. Setelah laporan jejak nasionalisme di Banda, Maluku, diturunkan bulan lalu, bulan ini "Kompas" menurunkan laporan jejak nasionalisme di Boven Digoel, Papua, yang di masa lalu menurunkan tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa. Dalam catatan historis, nama Boven Digoel tentu tidak asing lagi. Pemerintah Hindia Belanda pernah menjadi Boven Digoel di pedalaman Papua sebagai salah satu tempat pengasingan bagi para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Walaupun teralienasi, mereka tetap menyalakan suluh perjuangan. Oleh KORANO NICOLASH LMS P ada awalnya, menurut Andrianus Moromon, sarjana sejarah Universitas Cenderawasih, Papua, Boven Digoel dijadikan Belanda sebagai tempat tahanan sekaligus pengasingan baru akibat tempat tahanan dan pengasingan lainnya sudah penuh. Salah satu sebabnya, Be...

Arti Bhinneka Tunggal Ika

Arti kata per kata dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sering disalahartikan, termasuk oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpendidikan tinggi. Kesalahan terakhir dilakukan oleh Bung Harry Roesli dalam artikelnya berjudul: Kaus Partai dan Baju Besi (Kompas , 15/5/99). Walaupun isi artikel enak dibaca, namun mengandung kesalahan fatal menyangkut semboyan di atas. Di artikel tersebut Bung Harry menulis bahwa saat ini Bhinneka Tunggal Ika telah dipelesetkan menjadi Bhinneka tidak Ika, atau Bhinneka susah Ika, atau juga Bhinneka lawan Ika. Jelas di sini Bung Harry berpikir, bahwa kata Ika-lah yang mengandung arti bersatu/satu. Kesalahan serupa juga telah banyak dilakukan oleh kaum terdidik di negeri ini. Padahal dalam semboyan ini, arti kata satu (atau bersatu) dikandung dalam kata tunggal. Sedangkan kata Ika, kalau saya tidak keliru, artinya kira-kira adalah atau begitu adanya. Secara lengkap artinya adalah berbeda-beda (Bhinneka), namun satu (Tunggal) adanya (Ika). Kemungkinan ...

Manusia Pincang dari Pacitan

Fosil manusia Punung dan sejumlah peralatannya telah selesai diteliti. Ada kesinambungan kehidupan sejak zaman pletosin di sana. D IA ditemukan dalam keadaan utuh dari ujung kepala sampai kaki. Terkubur dalam sebuah gua di daerah Punung, Pacitan, Jawa Timur, tangan kirinya mencengkeram tengkorak monyet. Ada lubang yang cukup besar di gigi bawah bagian kirinya, tembus sampai ke gusi. Ini pertanda bahwa manusia gua itu, yang hidup sekitar 9.000 tahun lalu, pernah mengalami sakit gigi yang parah. Fosil "manusia Punung" ini diperbincangkan lagi di kalangan arkeolog setelah Francois Semah membeberkan temuan ini pada pertemuan ilmiah arkeologi di Kediri, akhir Juli silam. Bersama kawan-kawannya, arkeolog dari Prancis ini baru saja selesai mengurai fosil yang ditemukan pada 1997 ini. Hasilnya cukup memuaskan. Apalagi bersamaan dengan manusia Punung, ditemukan juga sejumlah peralatan yang menggambarkan berbagai era kehidupan manusia. "Ini temuan luar biasa," ujar Semah, ilm...

Kami

Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas?  (Bung Karno, 1 Juni 1945) S EBUAH negara tak pernah didirikan di atas kecerdasan. Uni Soviet, sebuah percobaan pertama untuk menerapkan "sosialisme ilmiah", dimulai dengan sebuah pemerintahan yang bekerja di atas 170 juta petani, yang, seperti kata Bung Karno, umumnya buta huruf. Begitu juga Amerika Serikat. Thomas Jefferson dan para pendiri republik itu memang pintar, dan negara yang mereka rancang berdasarkan ide-ide filsafat yang mutakhir, tapi ada benarnya kalimat lucu penulis Inggris Malcolm Bradbury: "Sejarah Amerika seluruhnya adalah cerita tentang orang yang membenci ayah mereka dan mencoba membakar tiap hal yang dilakukan ayah itu." Sebuah kemerdekaan lahir lebih karena kemarahan, bukan karena kedahsyatan pikiran. Perasaan dizalimi, perasaan tertindas, bukan datang dari otak, tapi dari seluruh pengalaman, termasuk tubuh yang tertekan. Itu juga yang dapat dikatakan tentang Indonesi...

Karena Kasih Sepanjang Jalan

Betawi mempertemukan Mohammad Hatta dengan Mak Etek Ayub Rais, anak sahabat kakeknya. Saudagar perantau Minang ini mengabaikan rasa takutnya sendiri untuk Hatta. T AHUN baru 1908. Mohammad Hatta datang dari sekolah dengan menimang sebuah kapal-kapalan dari kaleng bekas--hadiah tahun baru dari Sinterklas di sekolahnya. Sepulang sekolah, ia mengajak sahabatnya, Rasjid Manggis, melayarkan kapal kecil itu di tebat kecil sembari menunggu jam mengaji di surau Inyiak Djambek tiba. Di hari yang lain, waktu lowong Hatta diisi dengan menyepak bola rotan. Kapal-kapalan dan bola rotan adalah mainan yang membuat Hatta begitu riang di masa kecil. Selebihnya, hari-hari Hatta adalah belajar. Sejak berumur lima tahun, siang hari ia belajar di Sekolah Melayu Paripat dan les bahasa Belanda pada Tuan Ledeboer di waktu petang. Alhasil, Hatta tak menemukan kesulitan ketika ia akhirnya bersekolah di Europeesche Lagere School, sekolah dasar khusus untuk anak-anak Belanda, di Bukit Tinggi. Orang-orang tua di B...